Catatan: maaf agak lama, maklum lagi sibuk banget banyak kerjaan. Sekali lagi, terima kasih untuk para pembaca yang telah membaca dan mengomentari fic ini. Maaf banget buat yang tidak login terpaksa tidak dibalas, soalnya bingung mau dibalas di mana dan ke mana. Kalau ada pertanyaan atau apapun lebih baik login, deh, 'kan sekalian ngobrol bareng yang nulis, ehehehe. Okelah, selamat membaca, ya~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto


.

.

.

Memiliki Bayi Uchiha Part 3

.

.

.

Seumur hidupnya, Sai pertama kali mengenal arti sebuah pertemanan dari Naruto dan Sakura ketika mereka berdua mengejar Sasuke yang berada dalam bahaya—sekalipun yang bersangkutan malah menolak untuk ditolong. Kedua rekan setimnya itu rela mengorbankan nyawa demi teman—sekalipun yang bersangkutan justru malah membuang persahabatan itu mentah-mentah, bahkan mengancam akan membunuh siapapun yang menghalangi jalannya. Kali ini Sai pertama kali mengenal arti cinta sejati dari Sakura. Pertama kali ia bertemu Sakura, gadis itu sangat menyayangi Sasuke dengan seluruh perasaannya. Walaupun Sai tidak tahu apa itu rasa sayang ataupun cinta, ia dapat mengerti bahwa hanya Sasuke yang berada baik di benak maupun hati Sakura. Dan kini, sekali lagi ia menyaksikan betapa besar perasaan Sakura untuk Sasuke.

The Imperfect Newborn Jutsu, jurus yang dapat menghadirkan kehidupan baru sekaligus menggerogoti chakra kunoichi korbannya. Ia tidak menyangka Sakura akan mengandung bayi Sasuke, dan sepertinya Sakura tidak akan mengaborsi janin yang kini berada di dalam tubuhnya, walau nyawa gadis itu yang kini menjadi taruhan. Sebenarnya, apa sih daya tarik Sasuke Uchiha sehingga banyak sekali yang mau mengorbankan nyawa untuknya? Sepertinya Sasuke hanyalah pemuda tampan biasa yang sangat pendiam dan dipenuhi oleh dendam. Bukankah lebih baik Naruto yang periang bagaikan matahari ketimbang Sasuke, lantas…

"Aduhh…" mendadak Sai merasakan kepalanya dihantam oleh benda keras yang tumpul. Ketika ia berbalik, Sakura sudah berdiri di hadapannya, lengkap dengan pakaian yang biasa dikenakan rekannya itu untuk berperang. Rasanya Sai tidak tahu harus berkata apa.

"Aku tahu kau pasti memikirkan sesuatu yang jelek-jelek mengenai Sasuke." Sakura menatap Sai dengan tajam. "Gambar memuakkan macam apa itu yang berada di tanganmu?"

"Oh, rupanya tanpa sadar aku menggambar Sasuke yang digantung, lalu dipotong-potong kunai, ya." Sai berkata dengan datar, lalu menambahkan kumis di wajah Sasuke dalam lukisannya. "Ini kunamai Sasuke Kumisa—"

PLAAKKKKK!

"Cepat singkirkan lalu bakar! Awas kalau kau seenaknya menggambar Sasuke seperti itu lagi!" Sakura tidak bermain-main dengan ancaman itu, membuat Sai urung melanjutkan ide nakal yang semula bergelayutan dalam otaknya. Lagipula, hawa membunuh yang kejam pun keluar dari sekujur tubuh Sakura, membuat Sai bergidik. "Ayo, lekas kita perg—"

"Memangnya kau mampu pergi dengan tubuh selemah itu?" Sai bertanya tanpa pikir panjang. Tunggu, apa Sakura memang lemah? Sepertinya dua hari lalu Sakura masih dirawat secara intensif di Ruang Perawatan Konoha, jadi perkataannya tadi bisa dibenarkan. Mengapa perempuan ini begitu nekad ingin masuk ke medan perang?

Sakura menghela napas dengan kesal, lalu menjawab dengan nada tinggi. "Aku menguasai kemampuan medis, dan setiap detik amat berharga sekarang, ketika setiap nyawa berada dalam bahaya perang. Hanya karena kondisiku kemarin lantas aku bisa seenaknya beristirahat?!"

"Keras kepala sekali kau, selebar jidatmu..." Tanpa sadar Sai mengatakan itu keras-keras, lalu mundur sejenak. "Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan itu keras-keras…"

"Ughh, kau ini…"

Sai sangat mengkhawatirkan rekan setimnya, apalagi ia yang dititipi Sakura. Jujur saja, sebenarnya ia tidak ingin mencari masalah dengan gadis itu, tetapi Sakura kini tanggung jawabnya. "Bagaimana dengan janin yang berada dalam—"

BUAAAGHHH

Sai tidak dapat melanjutkan perkataannya, tubuhnya mental entah ke mana setelah menerima pukulan bertenaga sangat besar dari Sakura. Sementara itu sebagian shinobi yang mendengar kata 'janin' yang tadi diucapkan oleh Sai mulai bertanya-tanya. Sakura tersenyum sangat manis, "Kami baru saja mengoperasi seorang wanita dengan janin yang agak lemah, syukurlah, janinnya berhasil diselamatkan."

… dan penjelasan Sakura disambut dengan senyum penuh kelegaan.

.

.

Sasuke menatap kepergian Itachi dengan hati yang mencelos. Itachi menjelaskan semua harapan dan impiannya, berharap Sasuke mampu meneruskan rasa cinta Itachi terhadap Konoha, bahkan melebihi keluarga, klan, dan dirinya sendiri. Itu semua gila, Sasuke mendesis kesal, tapi ia sendiri tidak bisa membantah apapun—bagaimanapun semua sudah terjadi, dan kakak yang paling ia sayangi sudah tidak lagi berada di dunia ini. Pemuda itu tidak peduli dengan dirinya sendiri demi membalas dendam terhadap Konoha, akan tetapi mengapa Itachi justru mengisyaratkan hal yang sebaliknya? Atas dasar apa ia harus melindungi Konoha?

Mendadak Sasuke teringat senyuman Sakura, cengiran Naruto, dan berbagai pengalamannya di Konoha. Setelah kehilangan semuanya, ia masih memiliki teman yang tidak memedulikan nyawa mereka demi dirinya—bahkan setelah menegaskan bahwa ialah iblis pembalas dendam. Mereka teman yang sangat bodoh. Apa boleh buat, ia pun sama bodohnya dengan mereka.

"Apapun keputusanmu, kami akan terus mendukung, Sasuke!" Tim Taka beserta Orochimaru berada di pihaknya, mendukung apapun keputusan yang ia pilih. Mereka adalah orang-orang yang memercayainya, dan bersedia memberikan apapun untuknya. Walau, Sasuke agak ragu dengan alasan Orochimaru, dan desas-desus penyuka sesame jenis yang sempat menerpa mantan sensei-nya itu.

Baiklah… ia akan bertarung, bertarung demi Konoha. Sasuke akan bertarung demi melihat tangisan Sakura, dan cengiran Naruto. Ia akan bertarung demi apa yang ia anggap berharga.

.

.

Perasaan aneh apa yang kini menyelimuti sekujur tubuhnya, rasanya ia tidak asing dengan perasaan ini, desis Sakura saat ia melihat Sasuke memainkan rambutnya, lalu mengelus pipinya dengan perlahan. Sasuke? Apa yang sedang ia lakukan? Pria itu tentu saja Sasuke, dengan raut wajah yang tidak asing, sentuhannya yang sangat lembut namun penuh gairah, dan mulai menciumi wajahnya.

Sakura berusaha menepis sentuhan Sasuke, tapi ia tak kuasa bergerak. Tubuhnya terasa sangat berat, dan chakranya seperti terkunci. Ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hal terakhir yang ia ingat adalah menolong para korban perang bersama kawan tim lain, lalu tidur di tenda, namun mengapa hal ini bisa terulang kembali? Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan dirinya?

"Sakura, aku merindukanmu, aroma tubuhmu, sentuhanmu padaku, semuanya…" Sasuke berbisik pelan, lalu menggigit telinga Sakura dengan sangat perlahan. "Aku sangat merindukanmu…"

Ciuman Sasuke terasa sangat basah, dan cengkraman kedua lengannya erat dan kuat, seakan itu bukanlah mimpi. Sakura mendesah dan mengerang saat Sasuke mulai mengecup bibirnya, lalu membuka jaketnya—tidak ada gerakan yang terbuang.

"Kurasa kau sudah mengandung, bukan?" Sasuke tersenyum pongah, meraih beberapa jumput rambut Sakura, lalu menciumnya dengan penuh perasaan. "Ini belum cukup, kau harus mendapatkan lebih banyak lagi chakra dariku, atau semua akan sulit dikendalikan…"

"Ahh, apa… apa maksudmu… ahh…" Sakura sulit mengatur napasnya saat Sasuke kembali memasuki dirinya, menyatukan tubuh mereka dengan keras. Meskipun kali ini tidak sesakit yang pertama beberapa hari yang lalu, tapi Sakura masih belum terbiasa. Tubuhnya masih terlalu peka dengan sentuhan pria. Ia menjerit kecil, berusaha memberontak. Sayangnya, dekapan pria itu begitu kuat, begitu penuh kendali.

"Sasuke, hentikan…" Sakura meratap, memohon. "Kau sedang… kau sedang dikendalikan, kau tidak paham… ahh, Sasuke…"

Sasuke mencium Sakura sekali lagi, lalu mencibir, "jangan terlalu mempermasalahkan hal ini…"

Gadis itu masih ingin protes saat Sasuke menghujam tubuhnya semakin dalam, dan semakin kuat—membuatnya kehabisan napas. Sensasi kenikmatan yang timbul membuat Sakura tidak bisa protes, dan ia menyukai hal itu. Ia tidak sadar bahwa Sasuke yang bersamanya bukanlah Sasuke yang sebenarnya, walau ia bagian dari Sasuke sendiri.

Jutsu terlarang yang menghabisi wujud ibu yang mengandung janin, sekaligus menyerap chakra sang ayah. Sebelumnya wujud ayah tidak pernah ada, akan tetapi, bagi pasangan yang masih hidup, maka bayi itu akan menjadi petaka bagi keduanya.

.

.

Senyum kecil muncul di wajah tirus yang pucat Orochimaru saat melihat kondisi tidur Sasuke yang sangat tidak nyaman, seperti tersiksa. Ia tahu mengenai apa yang terjadi, dan itulah alasan ia mau menuruti Sasuke. Ia tahu Kabuto tidak akan melepaskan kesempatan mendapatkan tubuh Uchiha yang mampu menguasai berbagai makhluk magis, maupun kekuatan tanpa batas. Di tangannya, tubuh Uchiha yang berharga akan menjadi sumber kekuatan tanpa batas.

"Baiklah, Sasuke, selamat menikmati hari-hari terakhirmu…"

Tidak jauh dari tempat Orochimaru berdiri, Suigetsu mematung—dan mengawasi.

.

.

.


Sorry banget klo sudah lama gak dilanjutin, gw sibuk banget sama urusan kerjaan sih. Semoga gw bisa update cepat ke depannya. Terima kasih sama kalian yang sudah memberikan berbagai dukungan, ya. Sampai jumpa di bagian selanjutnya~!