"Naruto Shippuuden?! Kenapa harus pakai namaku?" tanya Naruto lagi pada diri sendiri untuk yang ... errrrrrr mungkin sudah kesepuluh kali dalam satu menit ini.

"IYYYAAAA karena pemeran utamanya memang anda, Namikaze-san! Ayolah, aku yakin film ini akan meroket di Jepang. Jarang sekali film action bertema 'ninja tradisional' dibumbui efek 3D animation!" hasut sang sutradara pada artis berkulit tan di depannya.

"Maksud loh? Film laga kolosal yang lawan naga-nagaan gitu? Yang bener aja gue maen pelem begituan! Ngaco nih!" tolak Naruto yang mulai ilfeel sama khayalannya sendiri. Si sutradara makin memutar bola matanya bosan. Ternyata bayangannya beda jauh dengan yang ada di kepala Naruto.

"Tolonglah, rumah produksi sudah setuju syuting akan dimulai minggu depan. Pemeran lainnya pun sudah saya berikan script-nya masing-masing untuk dipelajari. Tinggal Anda, pemeran utamanya!" raut wajah kesal mulai terpampang di wajah keriput sang sutradara.

"Ck, memangnya siapa lawan mainku?"

"Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura."

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Behind The Scene

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

AU (canon dikit), OOC, EYD dipertanyakan xD

Scene 1 : Cinta Lokasi

.

.

.

.

BRAAKK!

"INI KONYOL!" Sasuke mengacak rambut raven-nya sendiri kala membaca script film terbarunya nanti. Sebenernya bukan masalah, karena dalam film baru itu dia akan memakai nama aslinya yang eksis, karakternya juga ga jauh-jauh amat dari image dia sebagai cowok ganteng+dingin. Bener-bener pas lah. Tapi apa yang dibilangnya konyol tadi?

"Kenapa, sih? Udah deh gausah lebay... lu juga pasti demen maen berantem-beranteman, apalagi ntar lawan gue! Kalah lagi guenya, seneng kan lu!" Itachi mengompori Sasuke yang hampir menolak job itu. "Mana katanya ntar kita punya mata sharingan lagi, beeuuuuh macam apa pula itu kekuatan? Bisa nembakin laser kagak yak?"

"Bukan itu, Aniki!" teriak Sasuke frustasi. Itachi hanya memiringkan kepalanya pertanda tak mengerti maksud kemarahan Sasuke yang nggak jelas juntrungannya. "Males aja syuting sama ni cewek, dia kan kelasnya film emak-emak cengeng. Masa iya mau ikutan film action? Yang ada ntar kena cut mulu!" gerutu Sasuke menunjuk-nunjuk nama Haruno Sakura di kertas script-nya.

"Elaaaah cewe doang, si mami kan demen banget tuh ame die. Sakura si queen of sinetron, udah season berape ya tu sinetron? Duitnya banyak kali dibayar per episode gitu. Cakep lagi! Lu aturan seneng dipasangin sama dia. Sapa tau cinlok gitu kan? Hm hm?" godanya sambil nyikut-nyikut pinggang Sasuke di samping.

"Cih, sorry. Aktor professional gak bakalan gitu." Sasuke melanjutkan kegiatan membaca plus ngedumelnya. "Ni lagi nih, biasanya juga maen film rating M. Tumben-tumbenan dapet peran pemalu!" gerutunya (lagi) begitu ngeliat nama Hinata di script.

"Woooow Hinata? Yang body-nya ngalahin jupe depe itu? Sadaaapp~ feeling gue sih, ni film bakalan bagus. Yang maen aja bukan sembarangan artis, apalagi pemeran utamanya. Lawannya lu lagi! Ajegilee." Itachi berspekulasi ria tentang film yang akan dibintanginya bersama sang adik. Sementara Sasuke cuma bisa pasrah membayangkan syuting yang akan dimulai minggu depan. Ini pertama kalinya dia main film action, biasanya dia nampil di drama-drama ABG love story, FTV, kadang reality show juga dia hajar tiap lagi free. Bikin penggemarnya makin bertambah dari hari ke hari.

.

.

#####

.

.

*Enam Bulan Kemudian*

*Syuting Naruto Shippuuden Episode 139 – The Mystery of Tobi*

*Take 1*

.

.

ZRAASSHHH

Hujan buatan kru film yang super deras membasahi sekujur dada telanjang Sasuke dan Itachi yang tepar.

Itachi yang paling kasihan, di satu sisi dia harus pura-pura mati di episode ini, tapi yang bikin dia kesel adalah kenapa matinya harus dengan mata melek? Sementara air hujan terus menggenangi matanya yang diberi efek darah-darahan akibat penggunaan jurus susano'o setelah melawan Sasuke. Perih? Buanget! Tapi ya tahan aja, namanya juga acting.

CTAARRR

Senasib dua sodara, Sasuke juga matanya diberi efek darah mengalir bagai tangisan setelah ngeliat aniki-nya mati. Ia sempat memasang wajah sendu sebelum memejamkan mata dan akhirnya ikut tumbang tepat di samping tubuh Itachi.

BRUKH

Camera-man nge-shoot mereka dari atas untuk menambah efek dramatisir duo Uchiha kehujanan disertai petir-petiran hasil jurus kirin Sasuke. Dikelilingi puing-puing kehancuran bangunan dan amaterasu yang masih on fire padahal user-nya udah mati. Terus seperti itu untuk beberapa detik.

.

.

"Yak! Cut! Take 1 finish!" sutradara berteriak di bawah payung. Sontak kru langsung mematikan air dan berhentilah hujan buatan itu. Sasuke dan Itachi segera bangkit dari posisinya menuju tenda dimana sutradara bernaung. "Gimana?" tanya Itachi to the point.

"Bagus. Feel-nya dapet. Dah sana ganti baju. Untuk take kedua semuanya harap bersiap! Kita pindah ke hutan sebelah sana!" titah sang sutradara.

"Sasuke-kun, nih handuknya." Sasuke agak kaget begitu Sakura menyodorkan handuk untuk ngelap badannya yang basah. Ga bisa dipungkiri lagi, mereka berdua emang lagi kena cinta lokasi setelah syuting sama-sama, latihan gerakan taijutsu sama-sama di studio, makan sama-sama di lokasi syuting, kadang Sasuke juga menyempatkan diri nganter Sakura pulang kalo syuting kelewat malem.

"Arigatou, Sakura. Kamu ga siap-siap? Kan bentar lagi shoot take dua. Mau aku temenin?" tanyanya sok perhatian. Sakura cuma senyum-senyum ngeliat Sasuke yang kuyup. Sesekali tangan lentiknya dipake buat ngerapiin anak rambut di muka Sasuke yang lagi dan lagi berhasil bikin Sasuke sport jantung. 'Astajiim cakep bener ni cewe, kalo gada orang dah gue apain kalii!' batinnya nanggepin sikap anget Sakura.

"Cihh, Sasuke kuyup aja dikasiin anduk. Giliran gue, mandi keringet juga gada yang peduli!" gerutu Naruto di belakang mereka.

"Apaan si lu ngiri aja!" bales Sasuke ga kalah tajem.

"Udah ah ga usah ira-iri. Masalahnya tadi 'kan adegan keujanannya lama, Sasuke-kun bisa sakit kalo kedinginan terus..." Sakura mulai khawatir. Sebenernya sih gausah khawatir karena Sasuke udah dipastikan anti sakit. Justru Itachi lah yang lebih mengkhawatirkan, udah mah lagi batuk, disuru ujan-ujanan lagi. Lengkap sudah penderitaan.

"Sakura..." panggil Sasuke yang langsung bikin Sakura menoleh refleks. Ga ngomong apa-apa, Sasuke melancarkan jurus gombal tersiratnya dengan memegang tangan Sakura disertai tatapan dalem khas onyx-nya. Seakan bicara lewat mata, Sakura mengangguk ngerti,

"Iya, aku akan hati-hati..." ucapnya lembut a la cewek sinetron.

"Aduuuh topeng gua mana nih kok ilang?! Mampus mampus!" Tobi a.k.a Obito ngider satu ruangan kostum nyari-nyari topengnya yang bentar lagi mau dipake. Semua kru udah pindah ke lokasi syuting selanjutnya, termasuk Sasuke. "Bisa digampar sutradara nih kalo ilang lagi. Huhuhuu..."

.

.

#####

.

.

Berkat topeng Tobi yang ilang, syuting adegan selanjutnya pun ditunda. Entah sudah berapa kali sutradara berkoar-koar dan ngancem untuk mengganti Obito dari perannya sebagai Tobi. "Ya kan mumpung penonton belom tau muka elo di balik topeng, kapan aja bisa diganti kali artisnya!" teriaknya lagi di depan Obito. Walaupun kayak topeng biasa, tapi sebenernya itu mahal. Dan ini bukan kedua kalinya Obito ngilangin itu topeng.

Sakura mengisi waktu dengan membuka account jejaring sosialnya. Makin jelas, anti-fans nya bertambah seiring terkuaknya gossip hubungan antara dia dengan Uchiha Sasuke sang idola ABG-ABG Jepang. Sasuke yang ngeliat langsung ngambil HP Sakura dan buru-buru exit dari aplikasi itu. "Jangan dengerin apa kata orang, terserah mereka mau bilang apa. Yang perlu kamu tau cuma aku yang selalu ada buat kamu. Sebanyak apa pun orang benci kita, itu ga akan bikin aku goyah." tuturnya mantap bin serius.

"Halah, gombal." celetuk Naruto yang sebenernya jealous dengan kedekatan keduanya. Terang aja, cowok-cowok fans Sakura juga ga seneng sama hubungan mereka. Ga jarang mereka nerima cercaan dari orang gak dikenal, wal hasil membuat hubungan mereka terpaksa harus backstreet demi menjaga kelancaran syuting Naruto Shippuuden.

.

.

"Semuanya siap! Naruto Shippuuden Episode 139 Take 2. Action!"

Kamera on, topeng itu ketemu juga dan Obito langsung stay diatas pohon. Sementara Sakura, Naruto, Kakashi, Sai, Kiba, Akamaru, Shino, Hinata, dan Yamato stand by di bawah ngeliatin Tobi.

"Maju, Akamaru!" Kiba dan Akamaru lari menyerang Tobi.

"Yamato!" Kakashi mengkomando kouhai-nya untuk menggunakan mokuton no jutsu. Kayu-kayu besar pun muncul dari dalem tanah. Semua tampak serius dalam adegan itu, kecuali Tobi yang emang ceritanya nganggep remeh serangan mereka.

"GATSUUGA!" duet Kiba-Akamaru menyerang tapi gagal. Dilanjut serangan Naruto—"RASENGAN!"—yang kemudian diberi efek seolah menembus tubuh Tobi.

SIIIIINNGG

"Wooow keren..." gumam Itachi yang menonton dari layar monitor kru efek animasi.

Adegan pengeroyokan Tobi terus berjalan penuh editan efek animasi, serangan Yamato dan Shino juga hasilnya nihil. Dijamin membuat penonton bertanya-tanya sebenernya Tobi itu apa? Siapa? Kok ini kok itu blablabla. Hingga serangan terakhir Kiba muncul menandakan berakhirnya take kedua ini.

"TSUUGA!"

SWIIINGG

DHUAARRRR!

Lagi-lagi Tobi lolos hanya dengan satu gerakan ngeles. "Heh, Kiba! Jangan bergerak seenaknya sendiri!" bentak Sakura padanya. Acting Sakura yang galak ini merupakan tantangan baru, setelah di sinetron-sinetron sebelumnya cuma modal nangis, akhirnya di Naruto Shippuuden dia bisa berperan jadi cewek kuat nan galak meskipun suka galau tiap inget hal berbau Sasuke.

Sasuke agak ngeri ngeliat alat semacem bor terbang muter-muter menembus batang pohon dan tanah. Tak lain dan tak bukan itu adalah properti yang dipake untuk jurus Tsuuga milik Kiba tadi. Ngeri takut kena gadis kesayangannya, Sakura. Gak lucu dong kalo terjadi kecelakaan selama syuting yang harus mengorbankan kemulusan kekasih tercinta! Sasuke bakal nuntut kalo itu terjadi.

Gak lama kemudian, Zetsu keluar lengkap dengan embel-embel batang aloe vera yang always mengelilingi kepalanya. "Sasuke menang. Uchiha Itachi sudah mati." Ia mengabari Tobi. Kalimat Zetsu begitu mengejutkan para Shinobi dari Konoha. Mereka semua terkaget-kaget begitu mengetahui Sasuke telah berhasil membunuh Itachi. Sekuat itukah Sasuke sekarang? Itachi yang hebat itu ... mati? Ih waw bangeet.

"Yaak! Cut! Istirahat semuanya!" titah sutradara. Semuanya bubar dan menuju kursi untuk beristirahat. Padahal baru sebentar adegan konfrontasi Tobi ini berlangsung, para kru sudah kecapean nge-shoot adegan berantem Sasuke-Itachi yang udah berjalan dari kemaren. Setelah istirahat ini agenda mereka adalah beres-beres make-up dan pulang. Take ketiga akan dilanjutkan besok dan semua artis berpamitan pada sutradara.

"Kuantar pulangnya." ucap Sasuke pada Sakura yang sudah selesai berganti kostum dan membersihkan semua make-up nya. Mereka berdua berjalan menuju mobil Sasuke dan langsung pulang ke Tokyo meninggalkan kru yang tersisa di lokasi syuting.

.

.

#####

.

.

"Si Sasori itu, masih suka nelpon?" tanya Sasuke tiba-tiba di perjalanan.

"Iya, kenapa? Kan nanti juga dia syuting lagi buat episode perang dunia shinobi keempat. Aah senengnya ntar dia diidupin lagi sama Kabuto! Jadi inget waktu episode lawan dia itu, hampiiir aja dia cedera. Untung dia ga kenapa-kenapa, hihihi." celoteh Sakura kegirangan, ga nyadar manusia di sampingnya udah ngebul cemburu.

"Seandainya dia kenapa-kenapa..." gumam Sasuke pelan. Tangannya mencengkeram kuat stir mobil. Bagaimana tidak? Sasori sangat dekat dengan Sakura, mereka bahkan saling mengajari saat latihan taijutsu di studio. Pegang-pegangan tangan pula, seorang rival yang harus diakui ganteng plus imut oleh Sasuke. Merupakan satu dari sederet artis yang mencoba menggaet hati Sakura. Ingin rasanya Sasuke mendeklarasikan hubungannya dengan Sakura, tapi tuntutan manager tetap menyuruh mereka backstreet sampai syuting film Naruto Shippuuden selesai. Nyesek. Mau sampe episode berapa lagi Sasuke harus tahan?

"Oiya, kemarin Gaara telepon. Dia nanyain kabar kamu tuh. Kapan ketemu lagi katanya." Sasuke hanya tersenyum kecut mendengar kalimat Sakura. Sudah jelas kalau Gaara juga cuma basa-basi belaka nanyain dirinya. Peduli amat Gaara sama Sasuke? Yang ada dia pengen ketemu Sakura lagi di syuting-syuting berikutnya. Kalo emang mau nanya kabar, kenapa ga nelpon Sasuke aja sekalian? Toh mereka juga udah tukeran nomer kan.

"Setelah episode lawan Hachibi, aku bakal lama absen dari syuting. Kamu ga apa-apa sendirian?" tanya Sasuke. Sakura langsung manyun denger hal itu, jujur ia bakal merasa kesepian kalo ga ada Sasuke. Selama ini Sakura selalu setia nemenin Sasuke syuting walau itu bukan episode bagian Sakura keluar. Tapi Sasuke? Dia cuma nemenin Sakura di saat syutingnya berbarengan aja, selebihnya? Nihil. Dia ga bakalan mau nemenin Sakura kalo dia gada keperluan di lokasi syuting. Maklum lah artis sibuk, banyak acara, banyak jumpa fans, banyak tugas juga di dunia perkuliahannya yang ga bisa dinomer duain itu.

"Ga apa-apa, udah biasa ditinggal sendirian juga. Kamu kan Mr. Sibuk." sindirnya pada Sasuke. Telak.

"Berapa kali lagi sih harus kubilang? Kerjaan aku bukan itu-itu aja, kuliah aku juga penting, ngertiin aku dikit napa." gerutunya Sasuke.

"Dikit? Selama ini aku udah cukup ngertiin kamu! Kapan aku ngeluh saat kamu ga ada? Pernah aku ganggu jadwal kamu yang lain? Aku juga ga ngelarang kamu kuliah. Harusnya kamu yang ngertiin aku! Aku selalu luangin waktu buat nemenin kamu, nahan emosi gara-gara fans kamu, dan harus rela ngeliat kamu deket-deketan sama artis laen di reality show. Dikira gampang apa kayak gitu?!" Sakura mulai naik pitam.

"Sakura... apa maksudnya ngungkit-ngungkit itu semua? Kalo ga ikhlas ngelakuin itu ya udah buat apa diterusin! Dan satu lagi, kamu pikir aku juga seneng liat kamu deket sama temen-temen artis kamu, hah? Pake telponan segala, itu yang bikin aku males nemenin kamu syuting. Aku gak suka liat cowo-cowo itu deketin kamu. Batesin dong sikap kamu ke mereka!" eaaaa pertengkaran a la FTV gombal pun terjadi di dalam mobil. Selalu saja, yang diributkan masalah ini. Apa pun awal pembicaraannya, pasti mengarahnya ke masalah ini terus. Seakan masalah ini adalah klimaks dari segala masalah mereka.

"Ah udah lah! Capek debat sama kamu. Ga ada omongan laen apa." Sakura melipat kedua tangannya di dada. Kesel setengah mampus sama pacarnya sendiri.

"Ya lagian, aku nanya baik-baik dijawab kayak gitu. Salah siapa?" tanya Sasuke melempar kesalahan. Selebihnya mereka cuma diam di perjalanan. Sakura langsung keluar begitu mobil Sasuke berhenti di parkiran apartemennya. Dia udah empet ngeliat muka kusut Sasuke daritadi.

"Sakura, tunggu!" Sasuke mengejar langkah kekasihnya dan menarik lengannya.

"Ck, apa?"

"Jangan marah…" pinta Sasuke lesu. Ya, sekasar apa pun omongannya pada gadis ini, sebenarnya dia amat menyayangi Sakura. Ga ingin kehilangan gadis itu barang sedetik. Kemarahan gadis itu merupakan derita tersendiri buatnya. Dijamin gak bisa tidur semaleman, napsu makan menghilang, emosi meluap ga jelas, dan tentu saja jadi bergalau ria dibawah kucuran shower. Sasuke tidak ingin semua itu terulang lagi untuk kesekian kalinya, dan Sakura pun sudah malas meladeni ego Sasuke yang seenaknya memerintah 'jangan marah' tanpa ada permintaan maaf.

Tidak dihiraukan, Sakura tetap melengos pergi menaiki lift dan tetap diikuti Sasuke. Hingga pintu lift terbuka dan sampe di depan pintu apartemen Sakura pun Sasuke masih di sampingnya. 'Mau apa sih ni orang? Mau ikut nginep kali.' Inner Sakura makin empet. Dikeluarkannya key card dari tas Sakura, terbukalah pintu apartemen itu namun berhasil ditahan Sasuke saat akan ditutup lagi oleh Sakura. "Udah sana pulang! Aku mau tidur!" gertaknya pada Sasuke.

"Sakura… jangan seperti ini." Nada bicara Sasuke makin melirih, makin serius, makin galau di kuping Sakura. Mata emerald itupun berkaca-kaca melihat ekspresi kekasihnya yang seakan begitu tersiksa.

"Aku capek ngeladenin kamu! Aku mau sendiri dulu!"

BLAMM

Sasuke berdiam mematung di depan pintu apartemen bernomor 115 itu. Pandangannya seperti menerawang pintu. Tangannya mengerat kesal yang ditahan. Dengan gontai ia mulai meninggalkan apartemen Sakura. Perjalanan pulang ke rumahnya mendadak jadi ga mood. Segala lagu galau berputar-putar di mobilnya. Pikirannya hanya tertuju pada Sakura, Sakura, dan Sakura. Merasa tidak fokus, ia menghentikan laju kendaraannya di pinggir jalan. Ditatapnya lekat-lekat wallpaper ponsel berisi fotonya dengan Sakura. Sebuah foto yang amat disukainya, foto yang dilarang di upload di situs mana pun oleh managernya, foto yang selalu dipandanginya sejenak sebelum mengatakan 'oyasumi' pada gadisnya.

Diusapnya layar ponsel itu dengan ibu jari. Senyum kecil terpampang di wajah dingin Sasuke. Iringan lagu galau seolah mendramatisir kegiatan merenung kali ini. Beberapa bait lagu yang didengarnya pun menjadi inspirasi untuk mengupdate sesuatu di Twitter.

'Membuat aku frustasi dibuatnya...'

.

.

Jahh? Ko dangdut si bang?

.

.

.

To be Continued

.

.

.


Kekekekek bagaimana? Sudah terpenuhi kan request-nya. Eungg sebenernya aku ragu menuliskan kata TBC diatas =,=a apa diganti FIN aja? sukur-sukur pada mau review dan menyemangati untuk melanjuti XD kalau tidak yaa minimal tinggalkan kesan pesan kalian setelah membaca ini di kotak review. Hehehe see you later minna~ love you all ^^v