Semua makanan sudah siap sedia di meja. Mulai dari makanan kampung sampe makanan modern, semua lengkap tinggal ngambil kayak di warteg.

"Baiklah, sebelum makan kita berdoa dulu. Berdoa mulai." Fugaku memimpin doa di antara mereka semua yang memejamkan mata. Lihatlah, pasangan SasuSaku kita yang baru aja baikan itu bukannya berdoa malah saling lempar wink genit. Beberapa saat setelahnya Fugaku kembali bersuara. "Selesai. Nah, Itadakim—"

JLEP!

"..…?"

Fugaku menghentikan ucapannya sesaat.

Seluruh pandangannya menggelap gulita tiba-tiba, dan semua orang menjadi hening karena shock—sebelum akhirnya mereka semua berteriak serempak.

"MATI LAMPUUUUUUU!"

"Astajim pas banget sih! Baru aja mau nyuap!" protes Itachi.

"Ck, mana gelap banget lagi..."

"Tapi tetangga depan pada nyala tuh, apa rumah kita aja yang konslet?"

"…..oiya Pah, Mama lupa bayar listrik." Mikoto nepok jidat anggun.

"WOOOOOO PANTESSAAAAN!" semua yang ada di ruanganpun kompak nyorakin Mikoto.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Behind The Scene

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

AU+canon, OOC, EyD dipertanyakan, beracun (?)

Scene 4 : Raja Galau is back

.

.

.

.

Keluarga Uchiha malam itu harus menanggung malu, terutama Mikoto. Bahwasannya mereka yang terkenal tajir melintir kaya tujuh turunan turun temurun, bisa-bisanya lupa bayar listrik sampe kena pemadaman paksa PLN. Yang lebih parah lagi adalah, tragedi ini terjadi tepat di depan keluarga Haruno yang spesial diundang makan malam. Fugaku yang ga kehabisan akalpun memutuskan untuk menggotong si meja makan ke halaman luar dibantu dua putra malesnya.

Itachi—yang emang dasarnya paling males—cuma bantu angkat-angkat piring sama gelas minum.

Sisanya? Sasuke.

Sasuke harus rela membawa panci sop, steak plate, mangkok besar asparagus, loyang lalapan, ayam kalkun panggang segede gaban, cobek ulekan sambel, bakul nasi, dan apapun itu hidangan-hidangan berat lainnya. 'Brengsek, gue dipermainkan!' Sebenernya dia pengen banget marah-marah udah ditindas secara gak langsung gini sama Itachi, tapi berhubung ada Sakura di sini—semua itupun ditahannya baik-baik.

"Naah, gini kan enak. Adem makan di luar, madep kolem renang, menatap bintang di langit, ditambah lilin-lilin romantis di atas meja. Cakep..." Fugaku berlebihan sendiri memulai acara makan. Tapi, ada yang kurang sepertinya...

"Sendoknya mana, nih? Masih di dalem apa?" Itachi mencari-cari sendok dengan matanya tapi nihil, "Sas, ambilin cepet ke dapur! Udah laper nih!" perintahnya menghentak-hentak meja yang membuat kesabaran Sasuke menembus batas garis toleransi.

"Daritadi lo nyuruh-nyuruh gue aja, sana ke dalem sendiri!" Sasuke menolaknya dengan pelototan. Itachi melirik rumahnya yang gelap gulita sejenak, kemudian merinding sendiri dan kembali menatap adiknya yang melotot.

"Gelap ah, serem. Elu kan lebih pemberani orangnya." Itachi ngenye.

"Ga mau, cape." Sasuke membantah.

"Oh? Sekarang lu berani ya ngelawan gue? Jangan mentang-mentang lu udah ngalahin gue di film terus semena-mena nolak perintah!" Kini mereka berdua malah berdebat tidak penting mengundang deheman keras Fugaku. Akhirnya oh akhirnya, si bapak ini juga yang gerak ngambil sendok ke dalem. Itachi dan Sasuke kembali anteng pasang muka ganteng.

Baru beberapa saat lalu Fugaku masuk ke dalam rumahnya yang gelap, tiba-tiba saja... suaranya menggelegar hebat. "Kyaaaaaaaaaa! Ada putih-putih!"

"HAH?!"

Sontak semua yang di luar ikut deg-degan tanpa niat menolong Fugaku yang masih menjerit tak karuan, semua berkeringat dingin memandangi rumah besar Uchiha yang kelewat horror dalam kondisi mati lampu itu.

"Tuh kan, apa gue bilang. Gelap itu serem. Kalo aja si Sasuke yang ke dalem, setan juga ga bakal berani nampil!" Itachi mulai nyemilin nasi di piringnya pake tangan, kelamaan nunggu Fugaku ngambil sendok.

"Emang Sasuke-kun ga takut hantu ya? Bohong ah." Sakura terkikik geli ikutan ngeledek pacarnya yang keliatannya santai-santai aja.

"Hn."

Itachi mendadak nyengir, "Sasuke tuh... cuma takut sama yang namanya Pocong, untungnya belom pernah ada di sini." bongkarnya pada rahasia besar Sasuke, kemudian semua refleks menoleh ke arah Fugaku yang lari terbirit-birit keluar rumah dengan tergesa. Napas bapak gondrong itu ngos-ngosan akut, tangannya mengepal tujuh sendok makan dengan gemetaran yang ekstra lebay. Keringat mengucur dari pelipis membasahi jambangnya. "Ada apaan sih di dalem? Heboh banget Papa nih." tanggap Itachi polos.

"ITU! Tadi ada p-pocong di depan pintu kamar Sasuke! Serem banget matanya!"

GLEK!

"Hah?! Nah loh ... mampus lu, Otoutou!"

"….."

Well, dan kita bisa tahu sekarang siapa yang paling ketakutan.

'Sialan, kenapa mesti di depan kamar gue sih! Banci banget tuh setan!'

.

.

#####

.

.

Kenistaan Fugaku mulai terlupakan ketika mereka semua sudah menikmati hidangan maknyus buatan Mikoto. Masuk ke tahap inti, para orang tua saling melirak-lirik ingin membicarakan apa sebenarnya tujuan mereka kumpul-kumpul begini.

"Ehm... Sasuke, Sakura..." tegur Fugaku halus.

"Ya, Ji-san?" sahut Sakura ramah, sementara Sasuke diem aja sibuk misahin tulang ikan di tangannya.

"Begini, kalian kan udah lama banget ya pacaran...," tutur Fugaku seraya ngedipin mata penuh maksud ke arah Kizashi dan Mebuki, "semua orang juga udah tahu hubungan kalian seperti apa. Kalian saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Makanya... kami selaku para orang tua memutuskan agar kalian segera—"

"—ke KUA," Itachi nyeletuk.

JLEK!

"Auwh! Sakit, Pah!" Itachi meringis kesakitan begitu kakinya diinjek keras lewat kolong meja. Sepertinya pembicaraan ini memang serius, dan hanya Sasuke serta Sakura yang tidak tahu apa rencana kedua orang tua mereka. Sasuke mulai mencium adanya bau-bau pertunangan di sini, iapun kesemsem sendiri dan menatap Sakura, mengangguk penuh keyakinan.

'Pasti gue mau dijodohin nih! Yes yes yes!'

"Tadi sampe mana, ya?" Fugaku lupa lagi, "oh iya, putusan! Begini... karena kalian udah lama banget pacaran... semua orang juga udah tahu 'kan hubungan kalian seperti apa. Kalian saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Makanya... kami selaku para orang tua memutuskan agar kalian segera—"

"Ngapain sih diulang-ulang?! Udah lah intinya aja, Pah!" Sasuke semakin gelisah tak sabaran menunggu kata 'tunangan' meluncur dari bibir seksi milik ayahnya.

Errrrr, tunggu dulu, seksi?

"Iya, makanya dengerin Papa dulu dong!"

"Hng!"

"Sekarang 'kan udah liburan musim panas, nih. Sakura libur sekolah, Sasuke juga kuliahnya bolos mulu. Syuting Naruto Shippuuden juga diliburin mulai minggu depan. Intinya, kalian 'kan free nih, Papa rasa sekarang waktu yang tepat untuk kalian berdua memperdalam hubungan lagi. Kemaren juga 'kan udah dijelasin soal keluarga kita mau berangkat umroh bareng, terus pulangnya kita mau ke..."

'Duileeehh bertele-tele banget ni orang! CEPETTAAAAANNN!' inner Sasuke sudah menggeram gusar menatap ayahnya yang gak berenti nyerocos. Kapan kata 'tunangan' itu terucap? Fugaku kini malah tertawa-tiwi membahas persiapan pesta entah apalah itu. 'Wait wait wait … pesta?'

"...ya gitu, kita semua sepakat untuk mestain ulang tahun Papa bareng-bareng. Ini sebagai bentuk apresiasi kami sekeluarga dalam merestui hubungan kalian. Berdoa bersama untuk hari khusus Papa seorang." ujar Fugaku pada akhirnya.

"Ulang tahun ... Papa? Itu 'kan udah lewat kemaren." Sang bintang film antagonis Uchiha Sasuke sontak memasang muka asem. Jadi... ini bukan soal... pertunangan? SYIT! Mendadak Sasuke kehilangan seluruh nafsu makannya, ia menjatuhkan tengkorak ikan yang sejak tadi dipegangnya di piring yang sudah bersih dengan amat lemas. Lalu dilanjut mengambil dua ikan berikutnya dan menambah nasi lagi.

"Hihihi, Sasuke-kun, nanti kita buatin surprise sama-sama, ya!" Sementara di pihak Sakura, gadis itu kesenengan dengan keputusan kedua orang tuanya yang ikut ambil peran dalam acara ulang tahun calon mertuanya. Dengan antusiasnya ia menyerukan kesenangannya pada Sasuke yang galau. Ya, galau lagi... ternyata prediksi pertunangannya salah total. Padahal doi udah ga sabar pengen segera ngasi cincin ke Sakura dengan mantra 'Kau lah cinta terakhirku ma beybeh'. Tapi... yah, memang sepertinya masih harus menunggu waktu untuk mewujudkan semua impian indahnya.

.

.

.

.

Di lokasi syuting, making of Naruto Shippuuden Episode 213-214

.

.

Moncong kamera tengah menyoroti langkah Sasuke yang berlenggak-lenggok angkuh, sepatu ninjanya kini ternoda oleh suatu cairan kental merah pekat seperti darah-darahan. Pemuda itu menghampiri Karin yang tergeletak tak berdaya di tengah lantai jembatan batu. Sang gadis Uzumaki berambut merah terus merintihkan sakit sesuai peran—ia sudah sekarat karena kehabisan chakra.

Habis manis sepah dibuang, begitulah sebutannya. Karin yang sudah sukarela membantu Sasuke melawan Danzo, me-recharge chakra-nya di saat pemuda itu ngos-ngosan pegel, nyatanya kini akan dihabisi oleh Sasuke sendiri karena dianggap tak lagi berguna. Bah, kejam kali kau Sasuke.

Dan tanpa ragu Sasuke menyalakan chidori di tangan kirinya.

Bzzt, cip cip cip cip cip(sfx chidori segera dinyalain tim kreatif)

Entah bagaimana perasaannya sekarang, Sasuke tak menunjukkan raut belas kasihan sedikit pun pada gadis di depan matanya. Karin menggunakan sisa waktu yang ada untuk mengenang pertemuan pertama dengan si bungsu Uchiha ini. Ia meraup nafas pelan-pelan, mengambil kacamatanya demi melihat wajah Sasuke untuk yang terakhir kali. Keadaan ini mengingatkannya pada memori lama. Saat itu ujian chuunin, Karin sempat ditolong oleh Sasuke ketika semua rekan setimnya menghilang. Ia ingat betul perkataan Sasuke pertama kali waktu itu adalah….

"Jaa na,"

"….."

… sama seperti kata-kata penutupnya kini.

Sasuke sudah memantapkan hati, chakra pada chidori-nya semakin bertambah kuat. Ia hampir saja menghunus Karin saat itu ketika sebuah pekikan yang amat tak asing menginterupsinya.

"SASUKE-KUN!"

Deg!

Sasuke kehilangan segala konsentrasinya sejenak. Niat membunuh Karin telah lenyap entah kemana.

"Sakura, ka?" ia menoleh dengan kerennya menatap sang gadis Haruno, "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin. Kamerapun langsung nge-zoom wajah si ganteng yang sangat serius dalam aktingnya kini.

Sakura terkesima dengan wujud Sasuke yang awut-awutan pasca bertarung melawan Danzo. Tampak aliran darah merah segar membekas di sekujur pipi kiri Sasuke—yang juga gagal dalam melunturkan komposisi ketampanan lelaki itu.

"Sasuke-kun!" panggilnya lagi dengan lantang, "Aku ikut denganmu sekarang, aku meninggalkan Konoha!" Sakura berkata tanpa takut. Sasuke refleks mengernyitkan alisnya pertanda curiga. Ia tak percaya gadis baik-baik itu mau meninggalkan desa hanya untuknya.

"Kenapa kau ingin bergabung denganku? Apa yang kau rencanakan?"

"Aku tak merencanakan apa pun. Sejak Sasuke-kun meninggalkan Konoha, aku menyesal waktu itu tidak pergi bersamamu!" Sasuke kegeeran sesaat mendengar kalimat ini terlontar dari mulut kekasihnya. Namun kedua sudut bibir Sasuke ditahan baik-baik untuk gak terangkat. "Aku akan melakukan apa saja untukmu, Sasuke-kun! Aku tidak mau menyesal lagi."

'Melakukan apa saja? Waw,' Fokus pikiran Sasuke mulai berpencar ke arah yang tidak-tidak tapi menyenangkan. Biasa, sejenis bayangan nyuruh Sakura macem-macem yang selalu diidamkannya. Kapan lagi kan bisa begini... 'Duuhh! Fokus, fokus! Jangan melenceng sekarang!' Sasuke kembali coba mengingat apa dialog berikutnya. "Melakukan apa pun untukku?"

"Aku tak peduli apa pun itu! Apa pun perintah Sasuke-kun akan kulakukan!"

Pffffftth, Sasuke tertawa keras-keras dalam hati. Setan dalam pikirannya mulai membangkitkan passion untuk berakting lebih garang.

"Menghancurkan Konoha!"teriaknya bersemangat 45, "Itulah keinginanku... apa kau benar bisa mengkhianati Konoha untukku?" ia mengombang-ambing perasaan sang kunoichi muda. Sasuke sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan Sakura meskipun ia tak melihat script dialog gadis itu. Memahami karakter Sakura yang cinta mati padanya di film betul-betul membuatnya besar kepala sebagai lelaki. Udah pasti, jawabannya…

"Demi Sasuke-kun aku bisa..."

Ahh... bener-bener tipikal cewek impian.

"Begitu. Buktikan ucapanmu," syaratnya, "bunuh dia sekarang juga!" tunjuk Sasuke langsung pada tubuh Karin yang tergeletak di belakang. "Dengan begitu aku akan percaya padamu."

Suasana mulai tegang. Untuk beberapa saat Sakura nampak gugup dan ogah-ogahan mengeluarkan kunai dari balik jubahnya, tangannya gemetar memegang benda tajam itu. Harusnya yang dibunuhnya saat ini adalah Karin—sesuai perintah Sasuke. Namun tujuan Sakura sebenarnya ke sini adalah demi menghentikan aksi gila lelaki itu, yang mana artinya juga harus membunuh Sasuke jika tak ada cara lain tersisa.

Sakura menggigit bibirnya tak yakin mampu melakukan ini. Membunuh Sasuke...? Ini tentu terdengar sinting. Bagaimanapun Sasuke adalah cinta pertamanya yang masih amat ia harapkan. Orang bodoh mana yang tega membunuh sosok idamannya sendiri? Mungkin Sakuralah satu-satunya yang berpikir demikian. 'Jika aku menusuk Sasuke-kun sekarang ... semuanya akan berakhir.' tangannya makin gemetaran menyadari Sasuke kini berdiri tegak di belakangnya. Ini kesempatan besar, pikir Sakura, karena pertahanan Sasuke sedang terbuka lebar. Kunai beracun ini akan segera menghunus perut Sasuke tanpa cacat.

"H-Hentikan... Sasuke..." Karin tiba-tiba merintih.

Sakura tak mungkin salah dengar. Begitu ia menoleh ke belakang, tangan Sasuke sudah standby dengan chidori-nya (yang tentu saja boongan). Iris emerald Sakura kian membesar manakala tangan kekar Sasuke makin dekat ke lehernya dan—

Grep!

"AAAKH! S-SAKIT, BAKA! LEPAS-KHAN, UHUK!"

—adegan tak berjalan sesuai skenario lagi. Harusnya, Kakashi datang mencegah serangan Sasuke dan melindungi Sakura. Tapi nyatanya pria bermasker itu belum muncul juga sampai sekarang, hingga tanpa sengaja tangan Sasuke malah mencekik leher Sakura alih-alih terkena chidori.

"CUT CUT CUT! Kacau!"

"Ukh... sakit, Sasuke-kun! Kenceng banget sih nyekeknya! Kamu sengaja, ya?!" Sakura melayangkan tatapan murka pada kekasihnya yang masih tak percaya atas perlakuannya barusan. Bagaimana bisa, dengan tenaga sekuat itu Sasuke kebablasan gak bisa ngerem laju tangannya sendiri.

"M-Maaf, Sayang. Sakit, ya? Aku gak sengaja, beneran!" Sasuke segera menyentuh leher Sakura lembut-lembut, memastikan tak ada luka segores pun di sana.

"Alah! Gak sengaja dari Hongkong!"

"Iih, serius. Mana mungkin aku nyakitin kamu sengaja-sengaja? Aku tuh sayang sama kamu." Sasuke menegaskan ucapannya ala-ala FTV, tatapan tajamnya mulai mengintimidasi Sakura yang barusan menuduhnya tidak-tidak. "Sakit ya lehernya?" sekali lagi ia mengelus permukaan kulit leher gadis itu.

"Hu-um... sakit," Sakura merajuk aleman.

"Sini, aku cium yang sakitnya."

"WOOOOOOYYY!" Romantisme Sasuke dan Sakura langsung bubar begitu diteriakin sutradara, "Jangan out of script deh, ini Kakashi ke mana? Aturan dia muncul, nih! Bikin kacau aja!" omel Tuan Kishimoto sambil membanting kertas script.

"Saya di sini, Pak."

Sasuke langsung noleh tajam ke arah suara baritone Kakashi berasal. Jeng jeeeng ini dia biang keroknya, Sasuke tanpa dikomando langsung memasang muka segahar mungkin pada Kakashi. "Heh, kemana aja lo? Bukannya standby!" Sasuke nyindir keras, "Gak di film, gak di RL, lo sama aja ngaretnya. Mau jadi apaan lo?" softlens eternal mangekyou Sasuke makin berkilat-kilat penuh amarah.

Situasi lokasi syuting kian jauh dari kata kondusif berkat perdebatan Sasuke dan Kakashi. Syuting kembali dilanjutkan pasca permintaan maaf Kakashi diterima semua crew. Adegan berikutnya adalah pertarungan taijutsu one on one antara murid dan guru; Sasuke dan Kakashi. Sasuke menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan kekesalannya, setiap pukulan dan tendangannya pada Kakashi mengandung tenaga dan kutukan jahara dalam hati. Beruntungnya Kakashi gak kalah jago, berantem asli pun dia gak bakal keleh sama youngster macem Sasuke gini.

Di sisi kiri, Uzumaki Naruto sudah siap siaga lantaran adegan kemunculan dirinya semakin dekat. Sebentar lagi, Naruto akan melakukan aksi heroik menyelamatkan Sakura dari Sasuke dengan gendongan penganten style. "Naruto, siap-siap masuk." bisik nona astrada di samping.

"Yosh!"

Dasar Sakura yang malang, dalam adegan ini ia harus rela dicekik Sasuke sekali lagi. Kali ini cekik betulan, malah hampir ditusuk kunai juga oleh Sasuke. 'Maaf, Sakura. Tahan sebentar.'

Dash!

Sasuke mencekik Sakura betulan. Kakashi langsung berlari hendak melerai mereka.

"Aaaaaaakkkh!"

"Hentikan, SASUKE!"

Crassshhh!

Sebilah kunai telah menggores lapisan kulit tan wajah Naruto. Darah segar bercipratan di udara, semua terjadi dengan begitu cepatnya. Onyx Sasuke membelalak seketika—terkejut. Gak nyangka bakal satu scene lagi bareng sohibnya si Naruto. Mata sharingan Sasuke yang sudah buram sedikit-sedikit mulai menangkap bayangan wajah Sakura yang ketakutan. Kalau saja Naruto tidak muncul... mungkin nyawa gadis itu sudah melayang di tangan Sasuke sendiri.

"Sasuke ... Sakura-chan juga masih sesama anggota tim tujuh."

.

.

#####

.

.

Syuting hari ini tak seluruhnya berjalan mulus. Ada saja gangguan dari awal sampe akhir kerjaan. Gangguan terbesar bagi Sasuke adalah rasa bersalahnya pada Sakura yang belum juga pudar. Ya iya lah. Pacar sendiri dicekek, dua kali lagi. Ajaib kalo Sakura gak ngambek.

Sasuke sudah mengajak Sakura bicara baik-baik di ruang make up, namun gadis itu hanya menjawab seperlunya. Jengah dikacangin terus, Sasuke keluar sebentar keliling lokasi syuting. Berharap nemu udara seger, di persimpangan gang ia justru berpapasan dengan Karin yang lagi meluk mukena. "Eh, Sasuke… udah solat Ashar?"

"Udah kok," Sasuke ngejawab, 'kemaren.' lanjutnya dalam hati.

"Oh, ya udah. Jangan boong ya." Karin sengaja ngeledek, segera menohok Sasuke di sanubarinya yang terdalam. Gadis berkacamata itu melanjutkan jalannya lagi ke musola terdekat, lain dengan Sasuke yang masih terdiam di pinggir jalan desa terpencil yang menjadi lokasi syuting hari ini. Sasuke bingung harus apa sekarang, harus mengemis maaf macam apa lagi pada Sakura? Sakura sudah ngancem minta putus segala. Kadang Sasuke ngerasa capek juga diambekin ceweknya terus-terusan. Cuma udah kepalang cinta, mau gimana lagi?

"Gue telepon Itachi aja dah, biasanya saran dia makjleb." Sasuke ngeluarin hapenya dan mencet menu call pada kontak kakaknya. Begitu panggilan diangkat Itachi, dahi Sasuke refleks mengernyit tak karuan. Entah lagi di mana Itachi sekarang, suara di teleponnya amat sangat bising, Sasuke jadi ilfeel mau curhat kalo suasananya aja udah begini duluan. "Chi, lu lagi di mana? Rame banget sih itu?"

"Hah?! Apa?! Gak kedengeran, Sas!"

"Ck," Sasuke masih berusaha sabar, "lo lagi di mana? Lagi jadi supporter bola, hah?!" ia mengeraskan volume suaranya.

"Ngomong apaan, sih?! Sms aja sms! Suara lo gresek-gresek!"

Dengan kurang ajarnya Itachi mematikan telepon Sasuke secara sepihak. Dia nggak tahu jika kelakuannya ini justru bikin adiknya tambah bete. Akhirnya Sasuke menempuh jalan sms, diketiknya isi curhatan sepanjang mungkin. Mulai dari Sakura ngambek, salah paham, ngajak putus, dan ngegalau-galau di akun twitternya. Sasuke menceritakan semua secara rinci, berharap kakaknya itu bisa memberikan solusi tepat sasaran. Sasuke tahu jika Itachi takkan asal memberikan tips soal cinta, gak heran jika sekarang si sulung Uchiha itu lama banget bales sms Sasuke aja. 'Dia pasti lagi mikir, sama pusingnya kayak gue.' Sasuke membatin yakin. Penuh harap.

Pip pip!

Balesan sms Itachi masuk juga setelah lima belas menit lamanya. Demi apa pun, Sasuke ingin sekali membelah hapenya jadi dua lantaran balesan sms Itachi kayak orang ngajak berantem. Nyeleneh abis.

'Ya udah yg sabar aja ya sas. Ini pulsa terakhir gue, gak usah bls lagi dah percuma.'

Kesabaran Sasuke sudah habis pada Itachi, "Bangke! Gak bantu banget!" udah ngetik sms panjang-panjang dibales segitu doang. Gak peduli Itachi lagi di mana, Sasuke memutuskan nelepon abangnya sekali lagi. Dan lagi-lagi, bising riuh teriakan orang-orang menjadi backsound suara Itachi sekarang. Sasuke jadi makin yakin kalo Itachi lagi jadi supporter bola di stadion. "Chi, berisik banget sih sekitar lu, ini gue mau cerita penting!"

"Iya!"

"Udah baca kan di sms tadi? Gimana dong? Putus aja, apa? Gue capek sih gini-gini aja." terang Sasuke seraya menggesek-gesek sepatunya di atas tanah.

"Tidak, tidak!"

"Terus? Gue lanjut pacaran aja, nih?"

"Iya! Iya, iya, iya!"

"Apaan sih lu iya iya aja? Serius!" Sasuke mulai curiga, karena semakin Itachi teriak maka suara teriakan di belakangnya juga akan semakin berisik. "Gimana caranya gue dapetin maafnya Sakura? Dia udah ngegalau melulu di twitter, somehow ini jleb banget buat gue. Kokoro gue lelah, Chi. Gue kontroversi hati."

"Iya! Bisa jadi, bisa jadi!"

"….?" Kegalauan Sasuke seketika sirna begitu ngeh Itachi lagi ngapain saat ini. Pantesan berisik banget daritadi. Ternyata... Itachi lagi maen kuis tebak-tebakan di sebuah stasiun TV swasta. "Chi, berantem aja nyok! Kebetulan gue lagi kesel!"

"Bisa jadi, bisa jadi!"

"AAAAAAAARRRRGGHHHH! Diem lo, pakyuh!"

"Iya!"

Berkat Itachi, bahasa preman Sasuke mulai keluar tak terkendali. Sasuke merasa semua orang sama aja ngeselinnya. Mulai dari Kakashi, Sakura, Karin, Itachi apalagi. Selalu saja, lelaki ganteng berperangai cool ini menangis dalam hati meratapi ke-absurd-an orang-orang sekitarnya yang seolah kompak itu. Ne, bagaimana mau pacaran awet kalo cobaan terus datang bertubi-tubi?

"Hahh..." Sasuke mendengus pasrah, "resiko orang ganteng, pasti begini..."

.

.

.

To be Continued

.

.

.


Selesai dalam 3,082 words XD astagaaa kemajuan amat bisa ngetik segini di tengah WB yang parah. Yo, minna! Kuharap chapter ini memuaskan ya TuT habisnya Aya suka bingung gimana nyatuin scene canon dan AU di sini. Sementara hints SasuSaku di anime kan luangka banget. Chapter depan kalo beneran buntu aku loncat aja deh ke part perang dunia shinobi dimana SasuSaku ketemu lagi XDD semoga humornya tetep dapet, dan yg baca gak pernah bosen hihi. Terima kasih untuk review-nya di chap kemarin:

skyesphantom, crystallized cherry, Skypea Hime, Snow's Flower, Tsurugi De Lelouch, akasuna no ei-chan, sasa-hime, Rinko Mitsu, fa vanadium, Uchiha Hime is Poetry CeLemoet, Andromeda no Rei, FuRaHeart, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, Fallen Monster, YePeh, mako-chan, Ucucubi, Ritard S Quint, YoruChan Kuchiki, Chia males login, Ruru, uchihana rin, Kizuna Zoggakyuu, iya baka-san, Redsans Mangekyou, himeka mikori,

Lhylia Kiryu, Hoshi Ana, ponikadewi, RinUchiha-chan, Lin Narumi Rutherford, Kakashy thino, sexy love jiji, Dypa-chan, cinta, Pelecing, ocha chan, aitara fuyuharu, Ndah-savers, Melody of Sky, Rainbow sasusaku, aoi, chiikuu, Shaskeh, Uchiha No Selvie, Ahci, Hikari 'HongRhii, shawol21bangs, Utsukushii Haruhi, Erita, Shei-chan, Benrina Shinju, Nuria, AndiniLisaa, SuntQ, Uchiha Aimi, atta-chan, Sakura Secret, CherryYuuki, dan para Guest reader. Makasih all :* ketjup nih.

Well, sampai ketemu di chapter lima yaw~

.

Review?