a/n: Halo semua~ Miss16Silent datang hanya untuk meng-edit chapter-chapter berikut wkwkwk. Semoga saja ada readers yang tertarik lagi dengan cerita ini^^. Ya semoga saja. Sekarang tidak perlu basa-basi lagi silahkan membaca~^^~. Oh iyaa, Happy birthday untuk story Looking for Freedom! sudah 1 tahun lebih 2 hari ternyata cerita ini bertahan (alaaaah) semoga saja bila di edit jadi banyak yang review. (Eh)

Huruf 'miring' menandakan dalam pikiran, kata-kata asing, dll lah ya.

Selamat membaca~^^~


Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Looking for freedom*~


[Normal Pov]

Kicauan burung menyambut pagi dengan cerah. Terlihat seorang gadis manis bernama Karin Hanazono yang sedang termenung di kamarnya. Ia tinggal di rumah besarnya ditemani para maid yang setia pada keluarga Hanazono.

Gadis berumur 10 tahun ini yang sering dipanggil dengan nama Karin, selain manis ia pun anak yang pintar dalam pelajaran, apalagi pelajaran musik. Karin paling senang dengan pelajaran musik seperti orangtuanya. Namun, sayangnya orangtua Karin meninggal dalam kecelakaan saat pulang dari konser, dan Karin terpaksa tinggal berdua dengan Kakak tercintanya Lisa Hanazono, Lisa sebagai kakaknya pun sangat perhatian Karin.

Keluarga Hanazono terkenal dengan kekayaannya, orangtua mereka adalah musisi dan pemilik perusahaan besar. Karena Lisa anak tertua, Lisa lah yang memegang kendali dalam keluarga Hanazono. Lisa berusaha keras untuk mengendalikan perusahaan milik orangtuanya. Dan sejak saat itulah sifat Karin berubah, Karin menjadi pendiam, agak pemarah, prestasinya menurun, dan tidak menuruti kata kata kakaknya.

.

~Skip Time~

.

Sudah 4 tahun Karin kehilangan orangtuanya. Sekarang Karin sudah berumur 14 tahun. Seiring berjalannya waktu, Karin berpikir dan berpikir sampai akhirnya ia tersada, ia sudah banyak merepotkan orang dengan sifatnya itu, apalagi kepada kakaknya, Lisa. Perlahan demi perlahan, Karin mulai bisa menerima kenyataan yang menimpadirinya dengan merubah sifatnya, tidak mengeluh dan meringis lagi pada siapapun. Sebaliknya, sekarang Karin banyak membantu kakaknya dengan menurut pada kata-katanya, bekerja di Cafe Family untuk mengisi waktu luang dan menambah uang saku. Disana Karin hanya menjadi kasir yang tugasnya menghitung, menghitung, dan meeenghitung, jadi Karin tidak akan kelelahan karena bekerja. Selain itu Karin juga meningkatkan lagi pendidikannya atau lebih tepat prestasinya di sekolah.

Tapi saat ini,karena Karin terlalu memaksakan dirinya bekerja keras,Karin menjadi sakit dan sayangnya penyakit itu lama untuk sembuh. Saat pertama Karin merasakan penyakit itu, Karin hanya menganggapnya kelelahan, tapi ternyata Karin salah, penyakit itu bisa berakibat fatal baginya. Setiap hari pasti saja ada obat yang harus Karin minum, itu semua harus Karin lakukan agar kondisinya tidak melemah saat beraktivitas di sekolah.

.

Dan disinilah kisahnya dimulai

.

Karin seperti biasa menyambut pagi dengan ceria.

"Karin! Sarapan sudah siap! Cepat turun kebawah!" Lisa memanggil adiknya yang sedang bersiap siap pergi ke sekolah.

"Iya kak! Aku kebawah!" Karin memakai seragam sekolahnya, rambutnya yang berwarna blonde diikat ponytail tinggi, matanya berwarna hijau emerald membuatnya semakin manis, dan tidak lupa membawa kacamata bacanya.

DRAP DRAP DRAP!

Terdengar suara langkah kaki turun di tangga kayu bercorak itu.

"Ohayo!" Karin menyapa kakaknya dan tentu saja Lisa menjawabnya "Ohayo Karin!".

"Sarapan hari ini apa, Kak?" tanya Karin pada kakaknya yang sedang membereskan meja, Karin mengambil tempat duduk berhadapan dengan kakaknya

"Ini kesukaanmu loh! Pancake strawberry!" seru Lisa sembari menghidangkan pancake strawberrynya di depan Karin, Karin melihat pancake itu dengan mata yang berbinar-binar.

"Wah! Kalau begitu ayo makan!" Karin dengan semangat melahap sarapannya, sampai sampai ada cream yang menempel di pipinya, mulutnya pun penuh dengan makanan. Lisa yang memperhatikannya sampai tertawa kecil.

"Hey hey, jangan terlalu cepat makannya, nanti kau tersedak. Lagi pula kau terlihat seperti be-ru-ang dengan mulutmu yang penuh itu hahaha!" Lisa tertawa puas meledek adiknya itu.

Karin menatap kakaknya dengan jengkel, "Uhh! Aghu han happar haa!" ucap karin dengan terburu-buru dan tidak jelas. Karin bicara dengan mulutnya yang masih penuh dengan pancake, jadi suaranya terdengar sepeti aghu han happar haa!

"Hah? Apa? Aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas karena mulutmu yang masih penuh begitu!" Lisa hanya tertawa melihatnya. Dengan segera Karin mengambil segelas air yang sudah tersedia di hadapannya.

GLUP

Karin dengan cepat menelan makanannya dan menjelaskan kata-katanya tadi yang tidak terlalu jelas didengar oleh Lisa.

"Aku kan lapar, Kak!" pekik Karin sembari menggembungkan pipinya.

Lisa mengangguk tanda mengerti sembari menahan tawa. Lisa hanya menuruti saja apa kata adiknya , Lisa teringat akan keadaan Karin, 'Padahal kau anak yang ceria Karin..' Lisa tersenyum sedih melihat ke arah Karin.

Setelah selesai Karin siap untuk berangkat ke sekolah.

"Sudah mau berangkat?" tanya Lisa

"Iya," jawab Karin singkat

"Ayolah, ini kan baru jam 6, kau masih bisa santai dulu kan?" ujar Lisa seraya membereskan piring-piring yang kotor. Ia khawatir karena Karin sudah berniat untuk pergi ke sekolah sendiri, dan itu hal yang selalu Lisa larang.

"Aku sengaja ingin datang agak pagi, jadi aku bisa mengembalikan dulu buku yang dipinjam dari perpustakaan sebelum masuk kelas. Aku kan tidak sepertimu, dulu kakak tidak pernah mengembalikan buku yang dipinjam dan akhirnya harus di panggil ke perpustakaan oleh guru, benar bukan?" jawab Karin meledek kakanya itu sembari mengeluarkan lidahnya.

"Eh! Daripada kau Karin, selalu tertidur di kelas dan akhirnya dipanggil ke ruang guru!" pekik Lisa membalasnya.

"Itu kan dulu! Sekarang aku sudah tidak seperti itu lagi!"

Dan ... yahh beginilah pagi hari di rumah Hanazono.

Tak lama kemudian..

"Kak,aku pergi!" Karin berteriak dari pintu depan rumahnya

"Tunggu Karin!" Lisa berlari dari arah dapur membawa sesuatu di tangannya. Ia terlihat begitu tergesa-gesa.

"Ini obatmu tertinggal, jangan lupa meminumnya ya? Ohiya, pulang sekolah kau harus langsung pulang kerumah, kalau ada apa apa telfon padaku atau ke rumah," Lisa menasehati Karin secara bertubi-tubi dan mendetil membuat Karin diam.

"Iya Kak, aku tahu aku tahu. Aku bukan anak kecil lagi," Karin mengambil obat itu dari tangan Lisa sambil menggembungkan pipinya kesal

"Hihi, kau terlihat lucu kalau sedang marah. Oiya dan satu lagi, aku akan pulang larut jadi jangan menungguku saat makan malam, makan malam disiapkan oleh Rika," Lisa tersenyum melihat adiknya yang lucu itu (Read : Rika pelayan pribadi Karin)

"Sampai malam? Hahh..yasudah aku pergi dulu kak!" Karin berjalan keluar rumah

"Benar kau tidak mau diantarkan?" tanya Lisa dengan nada khawatir

"Tidak, Kak. Lagipula sekolahku tidak terlalu jauh dari sini kan?" ujar Karin.

Lantas Karin berjalan meninggalkan Lisa berangkat ke sekolah. Lisa melihat sosok karin dari belakang, ia menatap sosok Karin dengan sedih.

"Semoga kau baik baik saja. Aku merasa ada firasat buruk yang datang..."

Lisa yang sudah berumur 20 tahun ini, tidak mau terjadi sesuatu pada Karin saat di sekolah. Karena Lisa melarang Karin untuk main keluar tanpa izin darinya, Karin menjadi orang yang jarang sekali keluar dengan teman, apalagi berkumpul untuk bercanda, dan hal lain yang sering dilakukan anak seumuran Karin. Karin tidak bisa meraksakan kebebasan untuk bergaul di sekitarnya. Namun Lisa pun mempunyai alasan, melakukan itu semua agar kondisi Karin tidak semakin memburuk.

Sementara itu...

.


[Karin Pov]

Yap! Aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, sambil membawa buku pinjaman ditanganku. Yah meskipun sebenarnya aku harus mati-matian memohon pada kakaku untuk tidak di antarkan ke sekolah. Kecuali bila kondisiku sedang agak buruk, aku mau saja ditawarkan untuk pergi diantarkan. Yahh, mungkin ini memang sudah takdirku. Berbicara tentang takdir.. tiba tiba perasaanku berubah. Aku terjatuh dalam pikiranku,

"Tapi... Aku juga ingin bebas... Seperti yang lainnya, pergi main dengan teman, berkumpul sambil mengobrol, menginap dirumah teman, dan hal lain yang biasa dilakukan anak seumuranku," ujarku pelan.

Aku melihat pada langit yang biru itu dengan tatapan kosong. Aku juga bicara pada diriku sendiri. Aneh bukan? Lantas aku berpikir kembali. Aku mendam perasaan ini sendiri. Tidak ada yang akan mengetahuinya. Aku berpikir dan terus berpikir mencari jawaban itu semua.

"Hahh.." aku menghela nafas. Aku ingin bebas.. bebas seperti mereka. Hatiku terasa lirih bila mengingat nasibku ini. Tanpa terasa air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

'Bebas? Kapan aku bisa bebas? Dari semuanya? Apa bisa aku menikmati kebebasan? Aku ingin seperti mereka yang tidak mempunyai beban sepertiku meskipun mereka mempunyai masalah yang lain..' ucapan itu sudah dari hatiku yang paling dalam. Aku sudah tidak bisa menahan air mata ini lagi, dadaku serasa sesak dan air mata satu persatu mulai membasahi pipiku.

Aku berusaha menghapus air mataku, tapi akhirnya air mataku terus membasahi pipiku. Kupikir aku termasuk salah satu yang tidak beruntung di pagi ini...

Tak lama aku berjalan sembari menghapus air mataku yang masih mengalir, karena tidak memperhatikan jalan dan akhirnya DUGH! Aku menabrak seseorang dan terjatuh, lumayan keras dan yang merepotkan adalah buku-bukuku berserakan jatuh. Sudah jatuh tertimpa tangga sepertinya ya (?)

"Ow. A-ah maaf, aku tidak lihat jalan," ujarku pada seseorang yang ditabrak olehku. Dengan sigap aku berdiri dan langsung membungkukan badan meminta maaf pada orang itu.

Aku tidak berani menatap orang itu karena bila seseorang itu melihatku, pasti aku akan ditanyai macam-macam pertanyaan -_-. Dengan diam aku hanya menunduk menyembunyikan wajahku dengan poni depanku.

"Ah tidak, aku juga tidak melihat jalan, maaf," terdengar suara berat dari seorang pemuda.

Sekilas aku melihat ia memakai seragam yang sama denganku, namun aku tidak pedulikan itu dan aku segera membereskan buku-buku yang berserakan, orang itu membantuku membereskan buku-bukuku itu.

Selesai aku membereskan buku-buku itu, kemudian aku berniat untuk berterimakasih pada pemuda itu. Namun pada saat kuangkat wajahku untuk menatapnya. Dengan seketika aku terdiam. Pertama kulihat sapu tangan berwarna biru tua, lalu terhadap wajahnya. Matanya seakan menghipnotisku, indah bagaikan permata biru safir.

.

"Pagi yang cerah tidak cocok untuk ditangisi,"

.

.

~To be continue~


a/n: chapter ini udah di edit ya^^. Soalnya asa gimanaa gitu ngeliat misstypo bertebaran -_-. Ya mungkin masih ada misstypo yang tidak ter-edit. Juga ada sedikit-sedikit yang ditambahkan dalam cerita ini. Namun semoga saja para readers menyukainya^^ dan review lagi (eh?) wkwkwk.