a/n: Halo semua~ Miss16Silent datang hanya untuk meng-edit chapter-chapter berikut wkwkwk. Lama ya updatenya? Gomen ne T^T. Semoga saja ada readers yang tertarik lagi dengan cerita ini^^. Ya semoga saja. Sekarang tidak perlu basa-basi lagi silahkan membaca~^^~. Dan uhh.. maaf ya sepertinya karena waktu mepet jadi saya sebutkan saja nama-nama reviewers nya?^^

Jadi terimakasih banyak sudah me-ripiuw cerita ini yang gaje dan entah apa menurut anda, intinya saya berterimakasih dan maaf update lama T^T, terimakasih yang sudah kasih saran yah, terus terus fav. jugaa, terus yang me-review jugaa, Sweet Crystal, , Ayu.p, Nindya, daisy-san, grace, Chang Mui Lie, RI ichi kane, dan amell. Terimakasih sudah menjadi penyemangat saya menulis ceirta ya semuanya, saya terharuuu T^T.. oke cukup sekian.

Huruf 'miring' menandakan dalam pikiran, kata-kata asing, dll lah ya.

Selamat membaca~^^~


Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Looking for freedom*~


Di depan aula Karin diam sejenak dan melihat pada orang-orang yang akan ikut lomba cerdas cermat. Terlihat rata-rata peserta cerdas cermat kali ini adalah murid perempuan, tapi ada juga murid laki-laki. Karin mengakat kepalanya tegap, menandakan ia sudah siap untuk menghadapi lomba cerdas cermat itu.

.

[*Karin Pov*]

Aku merasa ada aura yang menyeramkan dibelakangku. Entah instingku terlalu kuat atau apapun itu, merasa tidak enak aku segera membalikan badan, dan terlihat seorang gadis sepantaran denganku berjalan menghampiriku.

"Hmm, Hanazono-san. Senang bertemu denganmu. Apa kau berniat untuk mengikuti lomba ini?" ucap gadis itu yang merupakan salah satu anggota grup Kazune-z .

"Iya," jawabku dengan senyum, aku tidak mau mencari masalah dengan mereka, maka aku bersikap baik pada mereka. Namun, sepertinya mereka tidak mempedulikan baik atau buruknya orang-orang, karena ia selalu ketus pada perempuan lain.

"Aku peringati saja ya Hanazono-san. Kalau kau menang dalam lomba ini. Jangan harap kau bisa tersenyum seperti itu lagi," ujar mereka dengan dingin dan segera pergi. Aku masih diam berdirri disana mencerna kata-kata mereka.

"Hah? Apa maksudnya? Apa salahku?" tanyaku pada diri sendiri.

Daripada memikirkan hal seperti itu, aku berniat untuk segera masuk ke aula dan siap mengikuti lomba. Perasaan tegang sudah mulai menyelimutiku sejak pertama menginjakkan kaki di dalam aula, karena aura di dalam ruangan ini seperti persaingan yang sangat ketat antara murid pintar.

Perlombaan pun dimulai. Peraturan dalam lomba ini sangat ketat, dan kemenangan ditentukan oleh skor yang paling besar.

Ronde demi ronde terlewati dengan mudah olehku. Dalam ronde ke 3 para peserta hanya tinggal tersisa 4 peserta, dan dalam ronde ini peraturannya adalah 2 lawan 2.

'Uhh, aku tidak terlalu suka yang seperti ini' pikirku.

Yang paling sial, aku dipasangkan dengan Nishikiori Michiru, sang artis di sekolah juga, namun aku belum begitu mengetahui kemampuannya. Sedangkan lawanku adalah Yuuki dan murid perempuan yang merupakan salah satu grup Kazune-z.

Ronde 3 dimulai dan tentunya kelompokku yang menang. Tinggal 1 ronde lagi.

"Ronde terakhir Karin Hanazono dengan Michiru Nishikiori!" ucap Sensei

Dalam ronde ini aku melihat sejenak ke arah Kazune-z dan mereka melihatku dengan sinis. Mungkin karena tadi aku mengalahkan teman mereka, namun mereka mengisyaratkan ku sesuatu.

"Ingat kata-kataku tadi Hanazono-san!"

Setelah menerima sinyal-sinyal itu aku langsung memalingkan wajahku dan berkonsentrasi pada soal yang di berikan Sensei. Malas berurusan dengan mereka.

.

~Skip Time~

Lama perlombaan dimulai, kini hanya tinggal penentuan skor siapa yang paling besar. Apakah aku ataukah Nishikiori Michiru. Aku berdiri di depan semua bersama Michi di sebelahku menunggu hasil keluar. Pada saat Sensei selesai menentukan siapa pemenangnya, akhirnya Sensei berbicara di mikrofon.

"Pemenang dari lomba cerdas cermat kali ini adalah.." ucap Sensei dengan menggantungkan kalimatnya. Semua orang di dalam aula ini sangat terlihat menunggu hasilnya dengan tegang. Apalagi aku dan Michi yang menjadi kontestannya.

Semuanya menunggu akhir dari kalimat Sensei dengan penasaran, dan dengan sigap Sensei menucapkan nama pemenang lomba ini.

"Hanazono Karin!"

.

"Wahh! Selamat ya Hanazono-san!" teriak murid murid yang menyaksikan perlombaan dengan gembira.

Aku pun merasa terhenyak pada saat mendengar namaku disebutkan. Itu adalah hal yang paling mengejutkan. Senyum pun terpampang di wajahku dengan indahnya. Michi yang berada di sebelahku meskipun tidak menang, ia tetap bijaksana menerima hasil. Ia tersenyum dan memberi ucapan selamat padaku. Dengan senang hati aku tersenyum kembali padanya.

"Iya terimakasih!" ucapku tersenyum. Michi juga masih akan menjadi anggota OSIS, karena sudah masuk ronde ke empat tadi.

Lama aku berdiri disana, terdengar seseorang memanggil namaku dari jauh. Aku segera mencari sosok yang memanggilku itu dan akhirnya aku temukan di depan aula. Dengan segera aku pergi menghampirinya.

"Karin-chan!" teriak seseorang dari depan aula.

"Karin-chan!" ternyata yang memanggilku Miyon dan Himeka. Ia terlihat begitu ceria, wajah mereka berseri-seri melihatku. Aku pun hanya tertawa kecil melihat mereka.

Mereka berlari ke arahku dan memelukku seperti teddy bear.

"Selamat Karin-chan! Aku senang kau bisa menang!" ujar Himeka dengan tersenyum.

"Iya Karin-chan! Kau memang hebat!" seru Miyon bahagia.

"Terimakasih," jawabku tersenyum pada sahabat-sahabatku itu.

.

Lalu setelah ada pemberitahuan bagi pememang untuk pergi menemui Sensei di depan aula. Aku pergi menemui Sensei dan ternyata disana juga terlihat Kazune yang menungguku.

"Hanazono-san, selamat ya! Aku tahu kau pantas memenangkan lomba ini," ucap Sensei padaku. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan, lalu dilanjut dengan Kazune.

"Selamat ya Hanazono-san. Kau tahu kan bila kau memenangkan lomba ini—" dengan segera kata-kata Kazune dipotong olehku.

"Aku tahu. Aku akan menjadi Wakil Ketua OSIS," ucapku. Kazune terlihat dingin, seperti biasa. Lantas ia membereskan rambutnya dengan sebelah tanganya membuat murid perempuan yang melewat menjerit histeris.

"KYA! Kujyo-kun sangat tampan!"

Namun Kazune tidak mempedulikan mereka dan meneruskan kata-katanya yang tadi sempat kupotong.

"Ya betul, dan itu berlaku mulai dari sekarang," ujar Kazune dengan santai.

Aku tersentak terkejut mendengar kalimatnya, ia bilang sekarang? Tapi itu tidak adil!

"APA? Sekarang?" tanyaku terkejut.

"Iya, ada masalah?" tanyanya kembali masih dengan nada dingin.

"Ehh tapi—" ucapku dan segera terpotong oleh Sensei.

"Iya benar Hanazono-san. Kau akan menjadi wakil Ketua OSIS mulai dari sekarang, dan sekarang aku serahkan Hanazono-san padamu Kujyo-san," ujar Sensei sembari pergi meninggalkan kami.

"Kau dengar? Tugasmu mulai dari hari ini, atau tepatnya sekarang," ujarnya lantas Kazune segera meninggalkanku yang masih diam terkejut.

Saat sudah beberapa langkah menjauh dari tempatku berdiri. Kazune berbalik lagi,

"Hey ayo! Tugasmu bukan untuk berdiri diam disitu saja! Ikuti aku!" perintah Kazune padaku.

"A-ah iya!"aku segera berlari ke arah Kazune.

Namun baru saja beberapa langkah aku mengejarnya, tiba-tiba ada yang muncul dihapanku. (muncul?)

"Hm hm hm Hanazono-san. Ternyata kau sudah berani ya membantah perkataanku," seru seseorang yang muncul di hadapanku itu, yang merupakan salah satu dari Kazune-z

"Sejak kapan aku menuruti perkataanmu? Toh, aku bukan siapa-siapamu," jawabku dingin.

"Apa? Kau tahu, kau itu satu-satunya orang yang berani melawan kata-kata kami!" seru mereka bersamaan.

"Lalu? Apa masalah kalian?" ujarku sembari mengacuhkan mereka dan pergi meninggalkan mereka ke arah Kazune tadi pergi.

Mereka terdengar mendecak kesal dan mengataiku aneh-aneh. Aku tidak mempedulikan mereka dan tetap berjalan.

.

Aku mengikuti Kujyo yang sepertinya pergi ke ruang OSIS, dan benar Kujyo pergi ke ruang OSIS. Aku sedikit ragu-ragu untuk menyapanya, karena aku tahu ia akan marah besar.

"E-eh Kujyo-kun?" tanyaku di depan ruang OSIS itu.

"Ah, akhirnya kau datang. Kemana saja kau? Aku kan sudah bilang ikuti aku," pekik Kujyo dengan nada agak marah dan menyilangkan tangannya di depan dada. Aku sudah bergidik ngeri melihatnya seperti itu, lantas aku segera mencari alasan utuk menutupi keterlambatanku.

"Ehh- tadi aku bertemu seseorang dulu," ujarku berbohong. Namun sepertinya ia tidak mempedulikan alasan apa yang aku berikan, ia masih saja melihatku dengan sinis. Aku hanya tersenyum kecil merasa bersalah.

"Hah, yasudah. Ayo masuk!" ujar Kazune sembari masuk ke dalam ruang OSIS dan aku mengikutinya. Terlihat di dalam sudah ada beberapa anak OSIS, dan salah satunya adalah Nishikiori Michi.

Kazune berdiri di depan ruangan dan aku berada di sampingnya. Sejenak aku melirik pada Kazune, ia terlihat seperti pemimpin, dan bila dilihat-lihat.. Kazune itu terlihat ehemtampanehem.

"Semuanya, mulai hari ini dia yang akan menjadi wakil Ketua OSIS yang baru," ujar Kazune pada semua memperkenalkanku pada semuanya.

"Perkenalkan namaku Hanazono Karin, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik!" aku tersenyum pada mereka sembari memperkenalkan diri. Terlihat mereka tersenyum padaku, sepertinya mereka akan menerimaku di OSIS.

Juga diantara mereka, terlihat beberapa anak laki-laki yang wajahnya bersemu merah. Dengan sekejap mereka maju dan memperkenalkan diri mereka sembari menjabat tangan denganku, (mencari kesempatan dalam kesempitan). Lalu selesai mereka memperkenalkan diri, hanya tinggal orang-orang penting yang belum memperkenalkan dirinya.

"Salam kenal Hanazono-san, namaku Nishikiori Michiru," ujarnya sembari tersenyum. Aku senang bisa melihat Michi di OSIS, karena ia memang orang yang baik.

"Ehh kalian bisa memanggilku Karin saja," ujarku sambil tersenyum, namun dengan sekejap.. aku berbisik pada Kazune,

"Tapi tidak untukmu Kujyo-kun," dengan senyuman licik.

Ia mendekat padaku dan berbisik kembali, terlihat sekilas ia tersenyum devil juga,

"Siapa yang mau memanggilmu dengan nama itu, bodoh,"

Aku tersentak pada saat ia memanggilku bodoh, dengan segera aku memalingkan wajahku dan mendecak kesal.

"Baiklah Karin-san, namaku Kuga Jin, salam kenal," aku tersenyum pada artis itu (Jin). Dilanjut dengan seorang perempuan yang manis di sebelahnya.

"Hai Karin-san! Namaku Kujyo Kazusa, kau bisa memanggilku Kazusa," seru anak perempuan dengan rambut blonde seperti Kazue itu, tetapi rambutnya panjang dan dia sangat manis!

Saat kucerna namanya, aku sejenak teringat.

'Tunggu dulu, dia bilang Kujyo Kazusa? Apa mungkin—'

"Aku adik Kak Kazune," serunya menjawab kebingunganku, mungkin dia melihat wajahku yang bingung.

"Oh, ternyata adiknya, salam kenal Kazusa-chan!"aku tersenyum pada Kazusa dan ia membalas senyumanku. Ia memang sangat manis.

Setelah lama kami memperkenalkan diri, sudah saatnya kami menjalankan tugas masing-masing. Kazune menyuruhku untuk selalu melapor bila ada suatu hal yang aku bicarakan dengan guru, karena mulai sekarang aku adalah tangan kanan Ketua OSIS Kazune Kujyo.

"Baiklah, sekarang karena kau masih baru sebaiknya kau mengisi dulu data diri, setelah itu serahkan padaku. Aku ada di perpustakaan," ucap Kazune memberi kertas formulir itu padaku. Aku melihat formulir itu sejenak, lalu mengangguk mengiyakan.

"Bagus," ujarnya sembari berjalan keluar ruangan. Namun setelah berpikir, aku lebih baik pergi dengannya, karena mungkin saja aku ada yang tidak mengerti pada saat mengisi data diri ini.

"Ehm Kujyo-kun, aku juga ke perpustakaan saja ya?" tanyaku sedikit ragu. Kazune sendiri langsung terdiam dan berbalik menghadapku,

"Hm? Terserah, dan jangan panggil aku Kujyo, Kazune saja," jawabnya dan langsung pergi ke perpustakaan.

Tanpa sadar aku tersenyum mendengarnya ia memperbolehkanku untuk memanggil nama depannya. Tapi, apa maksud dari perasaanku ini? Aku merasa senang bisa dekat dengannya.

Aku melihat punggung Kazune yang semakin lama semakin menghilang, dan tiba-tiba saja aku merasakan aura jahat dari belakangku, sama seperti tadi di depan aula. Aku melihat ke belakang dan ternyata mereka lagi (Kazune-z).

"Hanazono-san!" mereka memanggil namaku dengan sinis, dan sebelum mereka mendekatiku, aku sudah lari duluan menyusul Kazune. Bukannya aku takut, tapi aku sedang malas berusan dengan mereka.

.

~Perpustakaan~

Aku mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Kazune, tapi aku duduk di seberang meja. Lalu mulai melihat formulir itu dengan seksama. Setelah melihat semua yang ada di dalam formulir itu, dengan segera aku mengambil pulpen yang tersedia di meja ini. Sesaat aku mulai menekankan pulpen itu pada kertas formulir, rasa ngilu membuatku terkejut dan melepaskan pulpen itu.

Mataku seketika membulat, tanganku yang terasa ngilu pun begetar. Aku baru teringat, bahwa tangan kananku terluka dan belum sembuh sejak kemarin. Aku berpikir bagaimana caraku agar bisa mengisi formulir itu dengan tangan seperti ini.

Dengan terpaksa aku memaksakan diri untuk mengisi formulir itu.

Tik tok tik tok tik tok...

Jam di perpustakaan serasa terdengar sangat keras di telingaku, detik demi detik terlewati, kemudian menit demi menit, dan akhirnya aku Baru menyelesaikan nama panjangku setelah beberapa menit yang lalu.

Aku menggerutu kesal dan hampir saja melemparkan pulpen itu. Namun tertahan karena aku melihat Kazune yang memperhatikanku dengan wajah kebingungan. Aku langsung terdiam dan menatap Kazune balik. Ia terlihat sedikit kesal, lalu berjalan menghampiriku. Dengan ancang-ancang, ia sudah akan mengambil kertas formulir itu, namun dengan segera aku mengambilnya dan segera berdiri menjauh darinya. Menyembunyikan kertas formulir itu di belakangku.

"Ah Kazune-kun. Anu, itu. Aku belum selesai mengisinya, hehehe. Lebih baik kau ambil setelah selesai saja ya? Sekarang kau duduk saja, aku juga akan mengsiinya kembali, ayo cepat~" ujarku sembari tersenyum tidak jelas kepadanya.

Kazune hanya menatapku aneh, mungkin sekarang ia sedang berpikir apa yang kusembunyikan, karena ia orang yang pintar, aku harus pandai-pandai juga menutupinya. Lantas kami kembali ke tempat duduk masing-masing. Aku kembali mulai mengisi data diri itu. Tapi tanganku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Aku tidak bisa mengisi data diri itu lebih jauh lagi, keringat dingin sudah mulai bercucuran dari pelipis. Aku menghela nafas panjang meratapi nasib tanganku ini.

Tanpa sadar, seseorang tiba-tiba menarik kursi di sampingku dan duduk disampingku. Saatku lihat orang itu—

"Bodoh, jangan paksakan dirimu untuk mengisinya. Tanganmu belum sembuh total, bisa-bisa luka yang kemarin terbuka lagi," ujar seseorang yang ternyata adalah Kazune.

Aku sedikit terkejut dan menatapnya tidak percaya. Ia mengambil kertas itu dan pulpennya. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan, tapi ia sudah siap menulis. Aku hanya diam memperhatikannya. Ia pun sama, ia hanya diam menatapku. Tak lama kemudian.

"Hey. Kau mau mengisinya tidak? Aku akan menuliskannya untukmu, cepat, aku tidak punya banyak waktu," ujarnya masih dengan nada dingin.

Aku kembali terkejut dengan sikapnya kali ini. Entah mengapa aku merasakan perasaan senang lagi seperti pada saat ia membantuku membersihkan tanganku yang terluka. Tanpa sadar aku tersenyum kecil, tidak bisa dipugkiri lagi aku hanya merasa bahagia.

Setelah itu Kazune menuliskan data diri itu untukku. Tak lama kemudian kami pun selesai dan ia tiba-tiba sedikit terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu tiba-tiba saja Kazune mengambil sesuatu di sakunya.

"Ini ambillah," ucapnya sembari memberikan kacamata yang hampir sama dengan kacamataku yang pecah kemarin. Aku pun semakin terkejut dengan tingkahnya hari ini.

"Eh? Tapi kan kau tidak perlu menggantikannya," ujarku menolaknya. Aku tidak mau membuat orang susah hanya karena kacamataku yang pecah.

"Sudah jelas itu salahku melempar bola padamu. Ya kalau tidak mau pun tidak apa apa," jawabnya dengan dingin dan sedikit mengejek. Ya dengan terpaksa aku harus mengambilnya.

"Aghh, iya yasudah, tapi benar ini tidak bayar?" tanyaku memastikan. Aku masih ragu apa bila ada seseorang yang tiba-tiba memberi barang yang tidak kuminta.

"Iya, aku kan baik hati," dengan polosnya ia berkata seperti itu dan sembari memampangkan senyum liciknya dia kembali ke tempat duduknya.

Aku hanya mendecak kesal dengan kata-katanya yang terakhir itu. Kemudian aku beranjak dari kursi menuju keluar perpustakaan.

"Aku harus keluar, bila kau mencariku, aku ada di kelas," ujarku sembari berjalan pergi. Namun terhenti dengan kata-katanya yang mencibir.

"Siapa juga yang ingin mencarimu, Hanazono-san." Bisiknya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya. Dengan sigap aku berbalik dan berkata,

"Huh! Terserah kau saja. Ohiya, panggil Karin saja. Memanggil Hanazono itu terlalu kaku," aku mendengus kesal dan pergi.

.

[*Kazune Pov*]

Setelah Karin memberikan data diri nya, aku kembali ke ruang OSIS dan tidak mempedulikan dimana Karin sekarang.

~Ruang OSIS~

"Kak!" panggil Kazusa menghampiriku.

"Ada apa Kazusa?" tanyaku sambil menyimpan data diri milik Karin di mejaku.

"Ahh ini, aku melihat ada surat di meja Karin-san dan tertulis untuk Karin-san. Mungkin ini surat penting jadi aku akan memberikannya pada Karin-san. Tadi kakak bersama Karin-san kan?" tanya Kazusa.

"Surat? Iya tadi dia ada di perpustakaan, ada nama pengirimnya?" tanyaku lagi sembari melihat amplop surat itu.

"Tidak ada, tapi tulisannya seperti tulisan anak perempuan dan ditulis dengan tintai merah," jawab Kazusa. Aku tertarik pada saat mendnegar surat itu ditulis dengan tinta merah.

"Tinta merah? Hmm, ya sudah," jawabku dan langsung mengerjakan tugas sebagai Ketua OSIS lagi. Kazusa sendiri langsung pergi ke perpustakaan mencari Karin. Sejenak aku berpikir,

'Surat memakai tinta merah? Tinta merah itu jarang digunakan untuk menulis surat, apalagi ini langsung ke meja. Sepertinya aku harus menanyakannya nanti,'

.

[*Karin Pov*]

Sementara itu~

Aku sedang berjalan menuju kelas, namun ada seseorang yang memanggil namaku dari belakang. Dengan segera aku berbalik dan melihat siapa yang memanggilku itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut blonde panjang dan wajah manis sedang berlari ke arahku.

"Karin-san, ini aku melihat surat di mejamu. Tetrtuju untukmu jadi aku langsung ambil saja," seru Kazusa sambil memberikan surat itu padaku. Aku melihat surat itu sejenak dan kembali pada Kazusa.

"Surat? Ah terimakasih ya Kazusa sudah mengantarkannya," ujarku pada Kazusa dan aku pun tersenyum padanya.

"Iya sama sama, aku kembali ya!" Kazusa pergi melambaikan tangannya.

Tak lama setelah Kazusa pergi, aku membuka surat itu sambil berjalan kembali ke kelas. Terlihat tulisan anak perempuan dengan tinta merah. Aku semakin penasaran karena surat itu ditulis dengan tinta merah. Lagi pula tidak ada nama pengirimnya di surat maupun amplop itu.

.

"Kami peringatkan lagi Hanazono-san. Jangan berani-berani mendekati Kujyo-kun, kalau tidak kau akan tahu akibatnya seperti kejadian yang sudah pernah kami lakukan pada orang lain! Ingat itu! Kami tahu dan bisa membocorkan RAHASIAMU agar dikeluarkan dari OSIS!

Pergi ke belakang sekolah sepulang sekolah. Bila tidak, kau akan tahu akibatnya."

.

Saat aku membaca pada bagian RAHASIAMU, dengan seketika tubuhku serasa kaku. Jantungku berdegup kencang seperti akan meledak.

'Bagaimana mereka bisa tahu tentang penyakitku? Rahasia yang selama ini kusimpan, seingatku hanya Himeka dan Miyon yang tahu tentang penyakit ini,' pikirku.

Tanpa sadar surat itu sudah jatuh dari tanganku.

.

[*Kazune Pov*]

Aku berjalan menuju kelas sambil membawa berkas-berkas yang akan diberikan kepada guru. Namun sekilas aku melihat dari kejauhan, Karin berjalan membawa (atau tepatnya membaca) secarik kertas di tangannya.

'Mungkin itu surat yang tadi?' pikirku sambil terus berjalan ke arahnya.

Aku lihat Karin tiba-tiba diam, wajahnya terlihat terkejut dan pucat. Aku heran dengan tingkahnya, karena kertas itu dijatuhkan begitu saja dari tangannya. Aku semakin penasaran dan menghampirinya.

'Ada apa?' pikirku

Aku menghampiri Karin yang sedari tadi diam saja, sepertinya dia juga tidak sadar dengan kedatanganku. Aku dengan spontan mengambil surat itu, tapi saat akan membacanya-

"Jangan!" pekik Karin mengambil kertas itu dariku dengan kasar.

"Memangnya ada apa sampai disembunyikan begitu? Dan kalau penting kenapa kertas itu di buang?" tanyaku sedikit ketus.

"I-ini.. itu.. Aghhh! Kau tidak perlu tahu!" bentaknya sembari lari membawa surat tadi bersamanya.

Aku hanya bisa diam ditempat itu. Memperhatikan punggungnya yang kini mulai menghilang di antara kerumunan orang di depan sana.

.

[*Karin Pov*]

Bel pulang sudah berbunyi dan aku teringat akan surat tadi. Aku harus datang ke belakang sekolah. Dengan segera aku membereskan buku dan pergi ke belakang sekolah sendirian.

~Belakang Sekolah~

Saat sampai di belakang sekolah, aku sudah waspada bila terjadi apa apa. Aku melihat ke bawah pohon besar yang terkenal di sekolah ini karena sangat indah. Aku berjalan mendekati pohon itu dan tiba-tiba mereka (Kazune-z) datang di hadapanku.

"Ternyata kau berani datang ke sini sendiri Hanazono-san?" ujar salah satu dari mereka. Aku hanya bersikap dingin seperti biasa kepada mereka, mereka pun terlihat begitu kesal melihatku.

"Biasanya yang dipanggil kemari itu akan membawa teman, tapi ternyata kau tidak. Hebat sekali,"

"Apa mau kalian? Cepat katakan," tukasku dengan tegas. Mereka terdengar mendecak dan mendekatiku dengan perlahan.

"Keinginan kami? Yaitu menjauhkanmu dari Kujyo-kun!" seru mereka bersama dan diikuti dengan tangan yang melayang ke arah wajahku.

Aku jatuh karena tamparan itu sangat keras dan membuat bekas merah di pipiku. Aku memegangi pipiku yang masih perih, lantas aku menatap mereka dengan tajam. Mereka pun tidak kalah dan menatapku semakain tajam.

"Ini baru permulaan Hanazono-san!" sentak salah satu dari mereka dan mulai menamparku lagi.

Aku tidak berdaya melawan mereka bila sendiri. Aku berusaha melawan mereka, tapi karena mereka lebih banyak aku tidak bisa berbuat apa apa. Dimulai dari tamparan, pukulan, jenggutan, sampai injakkan pun mereka lakukan.

Setelah mereka puas menamparku dan memukulku berkali-kali. Mereka meninggalkanku yang luka-luka ini di bawah pohon besar tanpa rasa bersalah. Aku masih terduduk disana, diam membisu, tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya aku sendiri yang kena sial.

"Ukh.." rintihku, aku sudah tidak bisa membendung air mata ini lagi dan akhirnya air mata mulai jatuh satu persatu.

Aku mencoba berdiri dan menopang tubuhku dengan berpegangan pada pohon besar itu, namun apa daya. Semua tubuhku lemas dan sakit. Sejenak ide melintas di benakku, aku segera membuka handphoneku dan sialnya baterai nya habis.. lalu bagaimana aku pulang ke rumah?

'Ugh.. Kenapa mereka tidak sekalian saja membunuhku? Toh, aku akan bebas dari semua masalah disini..'

Air mata masih saja mengalir deras dari pelupuk mataku. Mencari harapan akan ada seseorang yang melintas di dekat sini. Namun pada saat itu terdengar suara seseorang dari jauh memanggil namaku,

"Karin-san?" sepertinya suara itu aku kenal, aku melihat siapa orang itu, namun tidak terlalu jelas karena pandanganku mulai kabur, aku bisa merasakan tubuhku jatuh, tapi tidak merasakan sakit pada saat jatuh itu.


.

.

To be continue

Please review^^