07-ghost © Yuki Amemiya & Yukino Ichihara

Title : The curse of forbidden love

Summary : "Hmm? Kau mengatakan sesuatu, Xing lu?" tanya Ilyusha sembari menoleh kearah Xing lu.

"Ah, tidak ada apa-apa kok," ujar Xing lu seraya tersenyum dipaksakan Ilyusha hanya menaikkan alisnya heran sebelum mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada jalanan yang di lewatinya.

Yah… sepertinya ia memang harus mengubur perasaan itu dalam-dalam…

Pairing : Castor x Labrador

Rated : T

Genre : Romance & Tragedy

Created by : Claraferllia Freylux

Kelopak mata seputih bengkoang itu perlahan terbuka menampilkan hazel yang kemudian menyipit ketika merasakan sinar mentari yang merasuk kepenglihatannya. Si empunya mengerang ketika merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya terutama dibagian kepala dan punggungnya.

"Ah! Syukurlah kau sudah siuman," seru seseorang yang berada di sebelahnya dengan nada penuh kelegaan. Pria yang tengah terbaring itu menoleh kearah sumber suara tadi dan mendapati sang mentor tengah bersimpuh dihadapannya dengan sebuah mangkuk berisi ramuan ditangannya, dan ia baru sadar kalau ia tengah terbaring diatas rerumputan di kebun milik mentornya.

"Apa yang terjadi?" tanya pemuda brunette itu seraya bangkit dengan tangan yang tengah memegangi kepalanya yang terasa pening dibantu oleh pemuda berambut sewarna lilac di sampingnya.

"Kau terjatuh dari atas pohon ketika mau mengembalikan seekor anak burung yang terjatuh dari sarangnya," pemuda berparas cantik itu menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Kau harusnya lebih hati-hati Xing lu! Kau tidak tahu betapa takutnya aku ketika mendengar berita dari anak-anak yang bermain denganmu kalau kau terjatuh dari atas pohon. Syukur lukamu tidak serius, kalau saja kau sampai gegar otak, apa yang harus aku katakana pada Xing fa-Dono?" omel pemuda berparas cantik itu, sementara pemuda yang dipanggil Xing lu itu hanya tertawa geli menanggapi omelan sang mentor yang menurutnya tidak cocok marah-marah dengan wajahnya yang terlampau lembut.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya pemuda berambut lilac itu.

"Hump… kau tahu Ilyusha, kau tidak cocok marah-marah dengan wajahmu yang seperti itu."

"Memangnya ada apa dengan wajahku? Dan bisakah kau bersikap lebih sopan pada orang yang lebih tua darimu? Terlebih lagi aku ini mentormu!"

"Fuhh… mulut cerewetmu tidak cocok dengan wajah cantikmu."

"Xi—Xing lu!"

"Ha'i, ha'i, tsumannai, Ilyusha-Sama!" ujar Xing lu seraya tersenyum menahan tawa. Ilyusha hanya menghela nafas lelah seraya mencoba menjadi dirinya yang biasanya, entah kenapa ia jadi sering out of character kalau sudah berhadapan dengan pemuda brunette di depannya ini.

"Ya sudah, ayo kita keasrama. Tidak baik tiduran di sini, tubuhmu sudah tidak apa-apa 'kan?"

"Yah… cuman agak nyeri di bagian punggung tapi tidak apa-apa kok."

"Ya sudah sini biar aku bantu kau berjalan," ujar Ilyusha seraya mengaitkan tangan Xing lu kebahunya.

"Ah, maaf merepotkan," ujar Xing lu seraya tersenyum tidak enak kepada pemuda yang tengah memapahnya.

"Tidak apa, lagi pula ini sudah menjadi kewajibanku sebagai mentormu," ujar pemuda berparas cantik itu seraya balas tersenyum lembut pada Xing lu.

"Mentor… ya…" gumam Xing lu dengan nada kecil namun tersirat penuh kekecewaan ia sebenarnya sedikit banyak mengharapkan sang mentor merasakan perasaan yang sama seperti apa yang ia rasakan terhadap pria yang sebenarnya sudah berkepala tiga di sebelahnya ini, tapi sepertinya tidak mungkin, melihat umur mereka yang terlampau jauh, ia yang baru saja menginjak usia 15 tahun, sedangkan pria itu sudah berumur 31 tahun. Terlebih lagi mereka berdua sama-sama… ah, lupakan. Lebih baik ia menyimpan dalam-dalam perasaannya kepada mentornya itu di lubuk hatinya yang paling dalam.

"Hmm? Kau mengatakan sesuatu, Xing lu?" tanya Ilyusha sembari menoleh kearah Xing lu.

"Ah, tidak ada apa-apa kok" ujar Xing lu seraya tersenyum dipaksakan Ilyusha hanya menaikkan alisnya heran sebelum mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada jalanan yang di lewatinya.

Yah… sepertinya ia memang harus mengubur perasaan itu dalam-dalam…

.

.

.

Bulir coklat dalam itu perlahan menyeruak terlihat ketika kelopak mata seputih bengkoang itu meninggi, si empunya mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba menghapus kabut yang menyelimuti pandanganya.

"Akhirnya kau sadar juga," ujar sebuah suara yang entah kenapa terasa familiar di telinganya.

"Aku di mana?" tanya Castor seraya memegangi kepalanya yang berdeyut nyeri.

"Kau di rumah sakit sekarang," jawab pemuda yang berada di sebelahnya.

"Rumah sakit?" beo Castor.

"Yah… kau berlari kearahku dan mendorongku kembali ketrotoar sesaat sebelum sebuah mobil menabrakmu dan membuatmu terpental sejauh lima meter dari tempatmu mendorongku," jelas pemuda itu dengan nada bersalah terselip dikalimatnya. Ah ya, ia tahu sekarang alasan ia terbaring di sini, agak tidak percaya juga kalau ia masih bisa diselamatkan melihat cara ia tertabrak, ia pikir kalau tidak tewas di tempat pasti sekarang ini ia sedang koma, dan keadaannya sekarang ini hampir bisa di nyatakan baik-baik saja, yang terdapat luka hanya pada bagian kepalanya yang agak bocor dan tangan kirinya yang digif.

"Hei… aku ingin bertanya padamu, kenapa waktu itu kau menolongku? Padahal 'kan kita tidak saling mengenal, kalau saja waktu itu kau tidak menolongku keadaanmu tidak akan semenyedihkan ini," tanya pemuda itu seraya menatap Castor.

"… Entahlah aku juga tidak mengerti, tubuhku bergerak sendiri tanpa dikomandoi oleh otakku. Lagi pula apa salahnya menolong orang, ya 'kan?"

"Baka! Kau hampir saja tewas di tempat kalau saja orang-orang tidak cepat-cepat membawamu kerumah sakit," bentak pemuda itu dengan nada kekhawatiran terselip dikalimatnya.

Castor mengerjap sekali, entah mengapa ia merasakan déjà vu saat mendengar pemuda itu memarahinya, seperti… ia pernah mengalami kejadian yang seperti ini sebelumnya.

"Memang apa bagusnya menolong orang sepertiku! Seharusnya kau biarkan saja aku mati," ujar pemuda itu lagi yang kali ini terdengar menyerupai lirihan.

"…Kenapa kau ingin mati?" tanya Castor heran.

Pemuda berambut lilac itu terdiam sejenak seraya meremas kerah kemejanya sebelum berujar, "Karena keberadaanku hanyalah sampah bagi dunia."

Castor menatap lawan bicaranya itu dengan intens, meneliti penampilan pemuda itu dari ujung rambut sampai kekaki.

"Kenapa kau menganggap dirimu sebagai sampah?"

"… Karena… aku…"

"Apa ini berhubungan dengan apa yang kau lakukan sebelum bertemu denganku?" tanya Castor seraya menatap tajam kearah pemuda lilac yang sekarang ini tengah menundukkan kepalanya.

Dengan diamnya pemuda itu Castor sudah bisa mendapatkan kesimpulan tentang apa yang diperbuat pemuda di sampingnya itu.

"… Jadi… kau…" rasanya Castor sudah tidak perlu lagi jawaban ketika melihat pemuda itu makin menundukan kepalanya ia tahu bahwa dugaannya itu benar adanya.

"Begitu. Maaf kalau aku terkesan ingin ikut campur dengan kehidupan pribadimu. Tapi boleh aku tahu kenapa kau melakukan semua itu?"

"Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan itu, aku hidup sebatang kara di dunia ini dan ayah baptisku terlalu banyak meninggalkan hutang untukku tanggung seorang diri, aku harus melakukannya kalau aku ingin tetap punya tempat berteduh."

"Jadi kau hidup sebatang kara?"

"… Ya…" jawab pemuda itu lirih.

Castor terdiam sejenak sebelum kemudian seulas senyuman lembut terlukis di wajah tampannya.

"Hei… bagaimana kalau kau tinggal di tempatku?"

.

.

.

TBC

Author note : Hiho~ ketemu lagi sama Ferl~ yosh~ akhirnya chapter 2 selesai juga! Maaf ya agak lama Ferl memang bukan author yang bisa fast update soalnya, jadi mohon di maklumi.

Oh ya buat ShizuharaS89 yang udah mau-maunya ngereview fic abal Ferl ini, Ferl mau ngucapin terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaannya dan tentang tebakan anda yang Frau suka sama siapa itu, yup! Anda benar sekali, orang yang disukai Frau memang Teito*Give applause*.

Udah dulu deh gak tau lagi harus ngetik apa lagi, dimohon reviewnya ya~