Sebetulny udah agak lama mau bikin fic Lazlo X Kika, cuma entah kenapa moodny selalu ilang. Dan sekarang akhirny balik lagi! Ehm, fic pertama di fandom ini, mohon RnR. Karakter original milik Konami.

Enjoy.


Tale 1 : First Encounter

Siang yang tenang di perairan Middleport, para ksatria Razril masih melakukan patroli rutinnya. Kapal dipimpin oleh kapten Snowe Vingerhut, dibantu dengan Lazlo, sahabatnya dari kecil. Setelah kemarin mereka berhasil mengalahkan Komandan Glen, semangat semua awak kapal menjadi lebih tinggi. Meskipun yang berjasa adalah Lazlo karena telah menang melawan Komandan Glen dalam duel, tapi Snowe yang mendapatkan pujiannya.

Seorang awak kapal yang bertugas mengamati keadaan menggunakan teropong melihat sesuatu yang aneh. "Kapten, ada sebuah kapal mendekati kita."

Snowe mengambil teropong dari tangan si awak kapal yang tertubuh agak pendek. Mulut Snowe terbuka lebar begitu menyadari siapa pemilik kapal tersebut. "Itu..."

"Bajak laut!" Teriak seorang awak kapal yang berada di tiang pengawas.

"Mu, mungkin itu Komandan Glen lagi... Dia pura-pura menjadi bajak laut... Ya, pasti..." Snowe berkata dengan nada bergetar.

Lazlo berlari mendekati Snowe. "Apa perintahmu? Kita harus mendekati mereka dan menjaga agar mereka tidak mendekati Middleport."

"Tenang, Lazlo. Itu pasti Komandan Glen..." Snowe menelan ludah, tangannya gemetaran.

"Itu bukan Komandan Glen, Snowe! Itu bajak laut asli!" Lazlo Berteriak. Membuat beberapa awak kapal melihat ke arahnya. Lazlo menunduk sedih. "Maaf, aku tidak bermaksud berteriak kepadamu, Snowe. Hanya saja, kita harus melakukan sesuatu!"

Snowe kembali menelan ludah, dan sebuah tembakan berhasil menggoyangkan kapal mereka. Untungnya tembakan tadi melesat ke dasar laut. Tembakan kedua berhasil membuat semua yang ada di atas kapal terjatuh karena guncangan yang cukup besar.

"Lakukan sesuka hatimu, Lazlo!" Snowe bangun dengan terburu-buru, begitu juga ketika ia berlari.

"Snowe, tunggu!" Lazlo berusaha menghentikan temannya, namun ia sudah masuk ke dalam kabin.

"Lazlo, sekarang bagaimana?" Tanya seorang pria. "Mereka terus menembaki kita!"

Lazlo menggertakkan giginya. "Siapkan Rune Cannon! Kita akan melawan mereka."

"Apa? Kita mana mungkin bisa, Lazlo! Ini bajak laut asli, sementara senjata yang kita miliki hanya pedang kayu..."

"Di kabin ada sebuah peti yang berisi senjata asli. Berikan senjata itu kepada para awak kapal lainnya. Dan perintahkan nahkoda untuk membawa kapal lebih dekat ke kapal bajak laut itu." Lazlo berdiri dan mengambil alih komando kapal. "Kau yang di sana, cepat bantu yang lain mempersiapkan Rune Cannon! Kau, kau dan kau, bantu aku untuk melawan bajak laut yang nanti naik kapal. Dan kau, pergi menggunakan sekoci dan segera minta bantuan kepada Komandan Glen. Kami akan menahan bajak laut ini semampu kami."

Seluruh awak kapal langsung bergerak sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Lazlo. Mereka yang tidak mendapat perintah ada yang mengawasi pergerakan musuh, ada yang menyuruh kapal nelayan untuk kembali ke Middleport.

"Kapten, apa anda yakin ingin mendekat?" Tanya kstaria yang terpilih untuk menemani Lazlo untuk melawan bajak laut secara langsung.

"Tentu saja. Kita tidak boleh membiarkan mereka mendekati Middleport."

"Kapten, ini senjata yang tersisa," awak yang tadi bertugas membagikan senjata sudah embali ke sisi Lazlo. Memberikan lima pedang yang tersisa.

"Ada lima pedang?" Lazlo menaikkan alisnya.

Orang itu tersenyum. "Saya tahu kalau anda selalu menggunakan dua pedang, kapten."

Lazlo ikut tersenyum. "Kau begitu perhatian, terima kasih." Ia mengambil pedang tersebut. "Sebentar lagi keadaan tidak akan aman. Kau pergi ke kabin, dan lindungi Snowe."

"Baik, kapten!"

"Bersiap-siap, semuanya!"

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Lady Kika, aku tidak ingin mempertanyakan hal ini, tapi bisa kau jelaskan kenapa kita menyerang Middleport?" Hervey menatap Kika yang berdiri membelakangi dirinya.

"Karena Reinbach menangkap beberapa sahabat kita, dan sekarang kita akan membebaskan mereka."

"Ada ksatria Razril. Apa kita harus melawan mereka, Lady Kika?" Kali ini Sigurd yang bertanya.

"Kita sudah menembak mereka dua kali sebagai peringatan, kalau mereka melawan, mau tidak mau kita harus melawan." Jawab Kika tegas. "Suruh para awak kapal bersiap-siap untuk bertempur."

Hervey melindungi matanya menggunakan telapak tangan. "Lady Kika, mereka nampaknya ksatria baru. Dan hei, ada pengguna dual-sword seperti anda juga."

"Menarik," Kika bertolak pinggang. "Kalau begitu kita tidak perlu membuang amunisi Rune Cannon. Serang langsung."

"Hruaaah!" Teriak para awak kapal Kika.

Kedua kapal semakin mendekat dengan kecepatan sama, hingga nampaknya hanya ada satu cara untuk menghentikan kapal musuh. Menabraknya.

"Bersiap-siap untuk benturan!" Perintah Lazlo dan Kika bersamaan.

'Blam!'

"Ah, apa yang terjadi?" Snowe berpegangan erat kepada sebuah tiang kapal.

"Nampaknya mereka sudah mulai bertarung melawan para bajak laut," si awak kapal menatap ke temannya yang berdiri di dekat tangga yang menuju ke ruang Rune Cannon. "Kau, tolong suruh mereka untuk menembak! Dari jarak sedekat ini, kita pasti bisa menenggelamkan mereka!"

Asap mulai mengepul dari kedua kapal, para bajak laut mulai menaiki kapal Razril. Pertempuran pun tidak terelakan lagi.

"Keluar dari perarian Middleport, kau bajak laut menyebalkan!" Seorang bajak laut yang bertugas untuk menemani Lazlo langsung menyerang salah satu bajak laut yang memakai scraf warna merah dilehernya.

"Heh, kau mau buru-buru mati?!" Pria yang dikenal dengan nama Hervey itu menjadi bersemangat.

"Jangan bunuh siapa pun!" Perintah seorang wanita yang menggunakan baju warna merah. "Jika ada yang membunuh, maka dia akan aku bunuh, menggunakan tanganku sendiri!"

"Nampaknya Hervey tidak mendengarnya, Lady Kika. Aku meminta izin untuk menghentikan Hervey dengan cara apa pun bila dia sudah keluar batas," muncul seorang pria berwajah tampan.

"Baiklah, Sigurd. Kau punya izinku." Wanita yang dipanggil Kika itu kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Sigurd, membisikan sesuatu, si pria mengangguk, kemudian meninggalkan Kika dengan Lazlo.

"Nampaknya hanya tinggal kita saja, bocah."

Lazlo memasang kuda-kuda. "Jangan panggil aku bocah!"

"Ho, kuda-kudamu boleh juga," Kika mengeluarkan senjatanya. "tapi apakah kau bisa bertarung sebaik kuda-kudamu?"

Keduanya tidak segera menyerang, mereka berputar dalam lingkaran sambil terus mengawasi gerakan lawan dan bertahan.

"Kau boleh juga. Paling tidak kau tahu prinsip awal dalam sebuah pertarungan, bila ingin menang, jangan menyerang terlebih dahulu. Pelajari pola serangan lawan, cari celah, baru serang balik." Kika tersenyum sinis. "Akhirnya ada juga yang bisa menerapkan latihan yang diberikan oleh Glen."

Lazlo terkejut. Wanita ini kenal dengan Komandan Glen? Tapi bagaimana mungkin? Seorang Komandan Razli bisa mengenal bajak laut. "Kau, kau kenal dengan Komandan Glen?"

"Jika definisi kenal untukmu adalah mengetahui nama dan jabatannya di pihak musuh kau anggap sebagai 'kenal', maka aku kenal dengan Glen." Kika berhenti, "Maaf, tapi aku tidak punya banyak waktu!" Dengan cepat Kika menyerang Lazlo yang masih terkejut.

'Traaang!'

"Kau punya keahlian, aku akui itu." Kika tersenyum ketika Lazlo berhasil menangkis serangan dadakannya.

"Tadi kau sendiri yang bilang, kalau ingin menang, jangan menjadi penyerang pertama. Hah!" Lazlo mendorong tangannya, hingga kedua mundur beberapa langkah. "Aku hanya mengikuti arahanmu saja, Lady Kika."

"Padahal tadi kau bisa menendang perutku, kenapa kau tidak melakukannya?" Tanya Kika.

"Kenapa kau tidak melakukannya? Kau juga bisa melakukannya, bukan?" Lazlo balik bertanya. "Menendangmu mungkin bisa memberikan sedikit keuntungan bagiku, tapi itu curang. Dan aku tidak mau menang dengan cara seperti itu. Walau jelas, nampaknya aku yang akan menang."

Kika tersenyum, namun tidak jelas emosi yang terpatri dalam senyum itu. Apakah kemarahan, senang, sebal...? Tapi yang pasti, senyum itu berhasil membuat beberapa pria menatap Kika. Sigurd dan Hervey menunjukan ekspresi tidak percaya, sementara yang lainnya, termasuk Lazlo, terkesima melihat senyum tersebut. Begitu indah, menawan, namun pucat dan sedih.

"Jangan senang dulu, bocah. Aku memang tidak mempunyai niat untuk menang," Kika menunduk, lalu menggunakan Rune miliknya, membuat Lazlo terpelanting jauh ke belakang.

"Kapten Lazlo, anda tidak apa-apa?!" Tanya seorang awak kapal dengan panik.

Lazlo memegangi perutnya sambil menahan sakit. "Ya, aku baik-baik saja." Dengan susah payah ia bangkit, lalu mengambil pedangnya. "Tadi itu, Falcone Rune, bukan?"

"Ah, nampaknya kau sudah mengerjakan pekerjaan rumahmu, Kapten Lazlo."

"Tentu saja. Dan kau salah, aku bukan kapten kapal ini. Aku hanya, awak kapal seperti yang lainnya. Sang kapten tidak mempunyai waktu untuk melawan bajak laut seperti kalian."

Diluar dugaan, Kika tertawa. Lazlo menatapnya bingung, lalu beralih ke awak kapal yang tadi bertanya kepadanya. Ia pun hanya menggeleng.

"Usahamu untuk melindungi sang kapten sia-sia. Untuk apa melindungi seseorang yang ditunjuk menjadi pemimpin, namun disaat yang dibutuhkan, dia tidak bisa berdiri di paling depan?" Kika memasukan kembali pedangnya. "Kau punya kekuatan, jangan malu untuk menunjukannya. Cepat atau lambat, akan ada orang yang menyadari betapa besarnya kekuatan yang kau miliki, dan ketakutan karenanya. Kau pun harus bersiap-siap untuk melindungi mereka yang kau cintai, sebab biasanya mereka yang menjadi target. Atau mungkin, kekuatanmu sendiri yang akan menghancurkan mereka yang kau cintai."

Lazlo terdiam. Rasanya suara-suara disekitarnya tidak terdengar, yang ia dengar hanya suara Kika. Sosok yang ia lihat hanya Kika yang berjalan menuju ke pinggir kapal.

"Tugas kita sudah selesai, semuanya, ayo kita kembali!" Perintah Kika. Sebelum ia loncat, Kika melirik Lazlo. "Senang berkenalan denganmu, Lazlo. Aku harap kita bisa bertemu lagi dilain waktu. Hanya saja, aku tidak memastikan apakah kita akan berdiri di sisi yang sama, atau tetap berseberangan."

"Aku tidak mungkin berteman dengan bajak laut!" Teriak Lazlo.

"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kapten." Kika meloncat ke kapalnya.

"Sudah aku katakan, aku bukan kapten!" Lazlo berteriak lantang.

"Kapten, mereka berhasil membebaskan tawanan Middleport! Dan nampaknya mereka adalah bajak laut." Seorang awak kapal menghampiri Lazlo, tangan kirinya berdarah, oleh sebab itu ia harus menekan lukanya. "Apa perintah anda, kapten?"

"Aku bukan kapten..." Bisik Lazlo lirih. "Tanyakan apa yang harus dilakukan selanjutnya kepada kapten Snowe."

"Tetapi sekarang andalah kapten kapal ini!" Ia berteriak. "Snowe memang ditugaskan menjadi kapten, tapi dia tidak bisa melakukan tugasnya. Apa yang kau harapkan dari seseorang yang tidak bisa memberikan perintha disaat seperti ini?!"

Lazlo terhenyak, lalu menghela nafas panjang. "Apa ada kerusakan berarti di Middleport?"

"Tidak, mereka juga tidak melukai para warga setempat. Nampaknya tujuan mereka ke sini hanya untuk menjemput teman mereka."

Kalau memang itu tujuan mereka, untuk apa menggunakan kapal mereka? Mereka bisa menggunakan kapal penumpang biasa. Resikonya terlalu tinggi... Sebetulnya, apa target mereka? Lazlo bertanya dalam hati.

Pintu kabin terbuka, suasana kapal yang tadinya ricuh langsung sunyi mendadak. Lazlo yang sedang merenung baru menyadari hal itu beberapa saat kemudian. Ia memutar tubuhnya ke belakang, dan mendapatkan sosok itu dalam keadaan pucat pasi. "Snowe! Kau tidak apa-apa?"

"Apa yang terjadi...?" Snowe tambah pucat ketika melihat kondisi kapal yang porak poranda, awak kapal banyak yang terluka. "Apa yang akan aku katakan kepada Komandan Glen nanti?!"

"Mungkin seharusnya kau..."

Lazlo menghentikan si awak kapal yang tangannya terluka untuk berbicara lebih jauh. "Kapal kita diserang oleh bajak laut, kita sudah melakukan segala usaha untuk menghentikan. Tidak ada kerusakan atau korban jiwa di Middleport. Tujuan mereka ke Middleport hanya untuk membebaskan teman mereka. Awak kapal kita juga tidak apa-apa. Mereka memang terluka, tapi luka mereka tidak begitu fatal, bisa disembuhkan." Tatapannya beralih ke Snowe. "Apa laporan itu cukup, kapten?"

"Kau, sengaja berkata seperti itu karena ingin menghinaku, kan?! Kau sengaja melakukan semuanya, karena ingin mengambil posisiku sebagai kapten!"

"Apa maksudmu, Snowe?" Kening Lazlo berkerut. "Kapal ini diserang! Bila kita tidak melawan, mungkin kapal ini tidak akan rusak parah, tapi sudah tenggelam ke dasar laut! Dan yang terlintas dibenakmu adalah sesuatu seperti itu." Lazlo menggeleng-geleng.

"Komandan Glen sudah tiba!"

Semua mata langsung tertuju kepada sebuah kapal besar yang tengah berlayar. Bendera Razril berkobar, Komandan Glen ditemani oleh Katarina, wakil komandan Knights of Razril.

"Katakan apa yang harus kau katakan, Snowe." Ucap Lazlo sambil berjalan melewatinya.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kehadiran awak kapal Komandan Glen membantu mengobati mereka yang terluka, sebagian mengangkut puing-puing kapal yang berserakan.

"Jadi begitu. Aku tidak menyangka kalau kalian akan berhadapan dengan bajak laut. Tapi untunglah ada senjata asli di kapal ini. Jika tidak, kalian akan melawan bajak laut menggunakan pedang kayu! Entah apa yang akan terjadi..." Komandan Glen berkomentar setelah mendengar seluruh laporan dari Snowe.

"Apa ada yang tahu nama bajak laut itu?"

"Apa itu penting, Komandan?" Tanya Snowe.

"Tentu saja penting, Snowe." Komandan Glen menatap Snowe. "Mengingat nama musuhmu itu sangat penting."

"Namanya, Kika. Dia pemimpinnya. Lalu ada Sigurd dan Hervey," jawab Lazlo.

"Kika...? Tentu saja. Teman dari Edgar dan Brandeau. Kalian harus bersyukur karena masih bisa hidup setelah melawan Kika."

"Nampaknya dia tidak memiliki niat untuk membunuh kami, komandan," kata Lazlo. "Tujuan dia hanya untuk membebaskan temannya yang ditangkap oleh Lord Reinbach."

"Tapi tetap, mereka bertiga adalah lawan yang kuat. Berhati-hati lain kali," ucap Katarina.

Pandangan Lazlo tertuju kepada laut biru dibelakang Komandan Glen, dia tidak mendengar jelas apa yang baru diucapkan oleh Komandan Glen. Pikirannya sedang berada memikirkan hal lain.

Kika... Entah kenapa aku memiliki firasat kalau kita akan berjumpa lagi...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Untung saja kita selesai sebelum pasukan Glen muncul!" Hervey sedikit lega karena tidak harus melawan pasukan Komandan Glen.

Sigurd yang berdiri di dekatnya menghela nafas. "Tumben, biasanya kau akan senang kalau ada musuh baru."

"Ya, aku sih senang, tapi Lady Kika..." Hervey mengecilkan suaranya sambil melirik ke belakang, ke arah Kika yang sedari tadi berdiam diri. "Bisa-bisa aku dibunuhnya kalau aku kelepasan."

Sigurd tertawa. "Bagus kalau begitu."

"Hei, kau!" Hervey mengepalkan tangan. "Tapi jujur, Lady Kika tidak berkata apa-apa setelah kita pergi. Aku takut dia kenapa-napa."

"Mungkin dia hanya kelelahan." Sigurd berusaha menjawab dengan alasan yang paling masuk akal.

Kika tetap tidak bergeming, meski angin membuat rambutnya berantakan. Perlahan ia beralih menatap langit biru yang cerah, tidak ada awan sama sekali.

Lazlo... Entah kenapa aku memiliki firasat kalau kita akan berjumpa lagi...