Seluruh karakter dalam fic ini milik Konami


Tale 3 : Let It Snowe

Baru kali ini Lazlo terbangun ditengah kerumunan orang yang dia tidak kenal, ia merasa perutnya mual, sangat mual. Ia ingin segera memuntahkan isinya secepat mungkin.

"Ehem." Seseorang berdahem.

Lazlo dengan susah payah mengangkat kepalanya dari atas meja, melihat sosok Kika di sana. Berdiri dan menatapnya seolah seorang petugas keamaan yang tengah menangkap pencuri.

"Aku pikir semalam, aku menyuruhmu untuk tidur, Lazlo, bukan untuk minum."

"Aaah..." Lazlo memijit keningnya. Jadi begini rasanya bangun pagi setelah semalaman, tunggu, apa!? "Ak, aku... Tidak minum..." Lazlo mengedipkan mata berkali-kali, mencoba untuk memfokuskan pandangannya ke Kika.

Kika menghela nafas panjang. "Kalau begitu aku yang harus minta maaf. Nampaknya anak buahku mengajakmu minum, dan kau, entah terlalu baik untuk berkata tidak atau karena memang ingin minum, menerima ajakannya." Kika memberikan segelas air putih. "Minum ini, lalu mandi. Kau harus sadar seratus persen jika ingin menjadi kapten."

"Um, terima kasih..." Lazlo menerima gelas berukuran besar itu. "Bagaimana...caramu?"

"Hum?" Kika menaikan sebelah alisnya.

"Kau, apa kau tidak minum?"

Kika mengendus. "Aku minum hanya jika ada acara, itu saja."

Lazlo menenguk habis air putih pemberian Kika. Sampai-sampai wanita itu memperingatkan Lazlo untuk pelan-pelan, dia takut pria berambut cokelat itu akan tersedak. "Apa rencana kita selanjutnya?"

"Itu tugasmu, 'kan?" Kika duduk di kursi dekat Lazlo. "Aku akan tetap di sini, berjaga-jaga. Kau boleh membawa Hervey dan Sigurd. Sementara Dario," Kika melirik pria bertubuh pendek yang masih tertidur pulas. "Aku rasa, kau tidak perlu membawanya. Mereka berdua sudah lebih dari cukup. Dan kau boleh membawa kapal kami."

"Tapi itu kapalmu."

"Dan kau, pemimpin dari pasukan ini," Kika menyilangkan kakinya. "wajar 'kan jika seorang pemimpin membawa kapal seorang kapten?"

Lazlo masih ingin membantah jika Lino tidak muncul dengan wajah kaget. "Lazlo, kau minum?!"

"Antara diajak atau dipaksa minum oleh anak buahku," Kika menjawab. "Maaf. Aku akan pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi."

"Ya, baiklah. Cepat kau mandi, Lazlo. Kita harus pergi, mencari orang yang ingin bergabung dengan kita untuk melawan Kooluk."

Tubuh Lazlo masih sempoyongan, dia nyaris jatuh jika Kika tidak menahannya. Baru kali ini Lazlo melihat Kika dari jarak dekat. Wanita ini begitu catik, dan kuat disaat yang bersamaan. Sorot matanya memancarkan ketegaran. tapi juga terlihat sangat rapuh. Namun kau harus melihatnya dari dekat, untuk bisa melihat kerapuhan itu. Rambut panjang berwarna pink itu tergerai, sebuah kalung dengan motif... Ah, Lazlo tidak bisa melihatnya dengan jelas, kepalanya masih pusing.

"Kau ini, payah sekali. Kau tidak bisa minum." Suara Kika terdengar berbeda, lembut. Dan, Lazlo bisa merasakan sapuan nafas Kika disekitar lehernya. Ya ampun, jarak mereka ternyata begitu dekat. Lazlo bisa menghirup aroma tubuh Kika, harum. Wangi yang enak dan beda ditengah aroma alkohol dan keringat pria.

"Ma, maaf..."

"Sini, biar aku bantu." Lino memapah tubuh Lazlo. "Bagaimana kalau aku menceburkanmu langsung ke laut? Jadi kau tidak perlu repot-repot buka baju dan..."

"Lino..." Kika menatap Lino seolah tidak percaya bahwa ada raja yang bicara seperti itu.

Yang ditegur hanya tertawa. "Aku bercanda kok. Mana mungkin aku tega menceburkan kaptenku sendiri. Iya kan, kapten?"

"Di belakang ada kamar mandi. Atau kau bisa memakai kamar mandi di kamar Sigurd, atau kamarku. Aku yakin Hervey belum bangun, jadi percuma mengetuk kamarnya."

Sigurd yang baru keluar dari kamar sedikit bingung kenapa namanya dibawa-bawa. Tetapi setelah melihat sosok Lazlo, ia mengerti. "Silahkan pakai kamar mandi ditempatku."

"Baiklah, terima kasih..." Lino memapah Lazlo masuk ke dalam kamar Sigurd.

"Bangunkan Hervey, dan suruh semua kru bersiap-siap. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok."

"Apa maksud anda, Lady Kika?"

"Aku akan tetap di sini, sementara kau dan Hervey pergi bersama Lazlo." Kika bangkit berdiri. "Ayo cepat, atau kita akan dikalahkan oleh Kooluk."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Nah, sekarang kita butuh seorang Rune Master!" Jewel menepuk kedua tangannya.

"Dimana kita bisa menemukan Rune Master...?" Keneth berpikir sejenak.

"Hei, apa kita boleh berkunjung ke Na Nal sebentar?" Suara Chiepoo menghentikan pertanyaan mengenai Rune Master.

"Eh, memangnya di sana ada Rune Master?" Jewel bertanya.

"Tidak juga sih..." Chiepoo terlihat ragu. "Tapi aku dengar pemandian terbukanya sangat..."

"Chiepoo!" Keneth menepuk keningnya. "Kau masih sempat memikirkan..."

"Tidak apa-apa, Keneth." Potong Lazlo. "Semua pasti lelah. Aku rasa ide untuk ke pemandian umum ide yang bagus."

"YES!" Chiepoo terlihat girang.

"Lazlo, kau terlalu baik, kau tahu itu?" Jewel geleng-geleng kepala.

Lazlo hanya tertawa. Ia memerintahkan kapal untuk berlayar menuju Na Nal.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kika mengamati jubah berwarna merah dan hitam dipangkuannya, ia tersenyum. "Dia, sangat mirip denganmu, Edgar... Gampang mabuk, heh. Seseorang harus ada disisinya dan memastikan dia tidak minum sampai pingsan."

Kika mendesah pelan, dipeluknya jubah milik Edgar seerat mungkin. "Edgar... Kenapa..."

"Lady Kikaaaa! Ada seorang ksatria Razril yang hanyut ke sini!" Teriak anak buahnya dari luar.

Jantung Kika seperti berhentik sejenak, tapi berfungsi lagi. Jika yang dimaksud adalah Lazlo, pasti anak buahnya akan menyebut nama Lazlo. Jadi itu bukan dia. Lantas, siapa? Setelah menyimpan jubah Edgar di dalam sebuah peti kayu, Kika keluar untuk mencari tahu siapa yang dimaksud.

Wajahnya langsung pucat saat melihat sesosok perempuan tergeletak di bibir pantai. "DIA..." Kika berlari mendekati sosok itu, menyentuh lehernya untuk merasakan detak jantungnya. Masih hidup, bagus. Batin Kika. Ia pun mengangkat tubuh wanita berambut cokelat kemerahaan itu. "Kenapa kalian bengong saja?! Bantu aku!"

Anak buahnya segera membantu.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Chiepoo, jangan berlari sendirian!" Pekik Keneth kesal.

"Biarlah, Keneth. Chiepoo bukan anak kecil, 'kan?" Lazlo menepuk pundak sahabatnya. "Tenang saja."

Lino merenggangkan tubuhnya. "Jadi, apa alasan kita ke sini, kapten?"

"Relaksasi," jawab Lazlo singkat. "Semua orang pasti..."

"Hei, kau!" Bentak Hervey dari atas kapal Kika. Pria itu langsung loncat dan berlari ke arah Lazlo, dan mencengkram kerah baju Lazlo. "Kau, sempat-sempatnya beristirahat! Sementara Lady Kika..."

"Hervey, hentikan!" Perintah Sigurd. "Kita tidak boleh menyerang kapten kita."

"Kaptenku hanya satu, yaitu Lady Kika! Bukannya bocah ini!"

"Ya, tapi Lady Kika sudah menyerahkan segalanya kepada bocah ini!" Sigurd berjalan cepat menuju Hervey. "Lepaskan dia, Hervey. Atau kau hanya akan mencoreng nama baik Lady Kika."

Semenit kemudian baru Hervey melepaskannya. "Cih, menyebalkan..." Hervey menjauh sambil memaki-maki dan menendang-nendang tidak jelas.

"Tolong maafkan dia," ucap Sigurd.

"Tidak perlu. Dia tidak salah, dia benar." Lazlo menatap punggung Hervey. "Tujuanku ke sini tentu saja untuk mencari orang yang ingin bergabung dengan kita. Dan kebetulan di sini ada pemandian umum, jadi kenapa kita tidak sekalian beristirahat sejenak? Mungkin saat di pemandian nanti, kita akan mendapatkan informasi mengenai orang yang ingin bergabung dengan kita."

"Seharusnya kau mengatakan hal itu langsung," Sigurd mencibir.

"Maaf."

Lino menepuk punggung Lazlo dengan keras. "Sudah-sudah. Yang penting kita sudah di sini, kenapa kita tidak menikmatinya saja?"

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Tidak, Snowe. Apa yang kau lakukan?!"

"Aku Komandan sekarang. Aku berhak melakukan apa pun."

"Apa pun?! Apa itu termasuk menjual Razril kepada Kooluk demi sebuah jabatan baru yang tidak berguna?!"

"Wakil Komandan Katarina, apa anda mempertanyakan keputusan Komandan anda?"

"Kau seharusnya malu, Snowe! Aku salah, ternyata kau... Lazlo JAUH lebih baik darimu!"

"CUKUUUUP!"

"Tidaaaaak!" Teriakan nyaring menggema di dalam ruangan tempat ia berada. Asing, dia belum pernah ke sini sebelumnya. "Aku, dimana...?" Perlahan, Katarina memperhatian setiap sudut ruangan – yang ternyata adalah kamar tidur seseorang. Seseorang...yang tengah duduk tidak jauh dari kasur tempat ia berbaring. Katarina sudah sering mendengar namanya, namun baru kali ini ia melihat sosok wanita itu secara langsung, dan dalam jarak yang dekat.

"Kau sudah siuman?" Tanya wanita berambut pink. Ia menyodorkan segelas air putih. "Minumlah, kau akan baikan."

"Terima kasih, Lady Kika..."

"Hah," Kika mengendus sambil membuang muka. "Setelah Lazlo, sekarang Wakil Komandan ksatria Razril memanggilku dengan sebutan Lady. Apa lagi selanjutnya?"

"Tadi kau bilang, Lazlo...?" Katarina mengigit bibir bawahnya.

"Ya, ksatria yang kalian usir. Dia masih hidup," Kika menyilangkan kaki kirinya. "Dan sekarang dia menjadi kapten dari pasukan yang dibentuk setelah Obel jatuh ke tangan Kooluk."

Katarina lega mendengar berita bahawa Lazlo masih hidup, namun disisi lain dia menjadi merasa bersalah. "Dimana dia sekarang?"

"Sedang keluar, merekrut orang untuk bergabung dengan pasukan kami. Nanti dia juga akan kembali ke sini, dan kalian, bisa bercakap-cakap lagi."

Katarina tertawa miris. "Jika dia mau berbicara denganku..."

"Percayalah, Lazlo pasti mau bicara denganmu. Meski kondisimu sehat, dia pasti akan bicara denganmu." Kika mengendus, menekuk dagunya. "Karena begitulah sifatnya."

"Kau, berbicara seperti sudah mengenal Lazlo cukup lama," Katarina tersenyum. "Apa kau, menyukainya?"

Wajah Kika terlihat aneh, sebab emosi yang muncul disana cukup banyak. Kaget, bingung, malu, marah, heran... Mulutnya terbuka lebar, butuh waktu cukup lama bagi Kika untuk mengendalikan diri. "Omonganmu kacau, Wakil Komandan."

"Aku sudah bukan Wakil Komandan lagi," Katarian meralat. "Panggil aku Katarina."

"Ya, baiklah. Jika kau mau memanggilku dengan nama saja, aku akan melakukan hal serupa kepadamu."

"Baik, Kika."

Kika mengangguk puas.

Apa aku, menyukainya...?

Coba jelaskan kepadaku,

Edgar...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Sebagai bukti bahwa tujuan mereka ke sini bukan hanya sekedar bermain-main, Lazlo berkeliling desa untuk mencari orang yang ia rasa bisa memperkuat pasukannya. Tadinya Keneth dan Jewel ingin membantu Lazlo, tetapi pria itu melarangnya, dan mengizinkan mereka untuk pergi ke pemandian umum. Hervey memutuskan untuk pergi bersama Lazlo, sementara Sigurd bertanya-tanya kepada penduduk desa. Lino dengan Chiepoo sudah pergi ke pemandian sebelum Lazlo sempat membagi tugas.

"Hei, ummm..." Hervey berjalan agak jauh dari Lazlo.

"Ya, kenapa?"

"Aku..."

"Kau tidak perlu minta maaf." Lazlo mengerti kemana arah pembicaraan Hervey. "Kau tidak salah. Tapi aku juga tidak benar. Jadi kita anggap saja impas, ok?"

"Ya, baiklah..." Hervey mengangguk bingung.

"Lazlooooo!" Jewel melambaikan tangannya.

Lazlo menatap wanita berkulit cokelat itu dengan tatapan bingung. "Jewel? Aku kira kau sudah ke pemandian..."

"Memang, tapi ada seorang wanita yang berhasil mengalahkan Raja Lino dalam duel!"

"HAH?!" Teriak Hervey. "Kau serius?!"

Jewel mengangguk cepat. "Iya, makanya, ayo ikut aku!"

Tanpa basa basi lagi, Lazlo berserta Hervey berlari mengikuti Jewel ke pusat kota.

Penduduk desa sudah berkumpul di sana, mana mungkin mereka melewatkan tontonan gratis macam ini? Sosok Lino tergeletak tidak berdaya di tengah-tengah. Lazlo berteriak dengan panik dan menghampiri Lino.

"Hei, kau masih hidup kan?" Lazlo merogoh kantongnya, mencari-cari Item untuk menyembuhkan Lino. "Jangan mati dulu! Kita belum mengalahkan Kooluk. Kalau kau tewas, apa yang akan aku katakan kepada Flare? Ayolah, ayolah..."

Lino langsung terbatuk-batuk, tanda Item yang diberikan Lazlo berfungsi.

"Syukurlah..." Baru kali ini Lazlo menunjukan wajah yang begitu lega dan bahagia. "Kau sudah tidak apa-apa, 'kan?"

Lino yang masih lemas meninju pundak Lazlo. "Sial, aku ditolong oleh bocah macam dirimu..."

"Bocah macam diriku yang kau tunjuk menjadi kapten," Lazlo tersenyum.

"Terima kasih..."

Setelah menyerahkan Lino kepada Sigurd, Lazlo menantang orang yang berhasil mengalahkan Lino barusan dalam duel. Yang ditantang tertawa.

"Dia saja tidak bisa menang melawanku! Apa yang membuatmu berpikir kalau kau bisa menang dariku?"

Lazlo menarik dual sword miliknya. "Jadi, kau tidak rugi kan kalau bertarung denganku? Toh kau pasti bisa menang dengan mudah."

"Grrrr, bocah menyebalkan!" Wanita berambut silver itu segera menyerang Lazlo.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kika membuka tirai yang menutupi kamar tidurnya dengan perlahan karena tidak ingin membangunkan Katarina. Wanita itu masih tertidur. Kondisinya sudah agak membaik dibandingkan saat anak buahnya menemukan Katarian di pantai. Paling tidak Kika bisa bernafas lega, dia tidak perlu menyodorkan mayat seorang ksatria Razril kepada Lazlo nanti jika pria itu sudah kembali.

"Komandan Glen..." Katarian berbicara dalam tidur.

Kika menatap Katarian dengan sedih. "Kita...sama-sama kehilangan seseorang yang sangat spesial untuk kita, huh?"

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Jangan kabuuur!" Teriak Hervey kepada sosok berambut silver. Dia bergerak cepat, sudah menghilang ditelan kerumunan orang. Hervey tidak sempat melihat ke arah mana dia kabur. "Cih, sial!"

Lazlo mengangkat bahu. "Biarkan saja, Hervey. Toh aku menang."

"Kau bisa menang tanpa terkena satu goresan sedikit pun," Lino sudah bisa berdiri sekarang. Berkat Item itu dia sudah pulih seratus persen. "HEBAT!"

"Nah, untuk merayakan kemenanganku, bagaimana kalau kita semua ke pemandian?" Lazlo tersenyum.

"Lazlo, Lazlo," Jewel geleng-geleng kepala.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Wajah Hervey memerah, semakin merah, warna merah sudah mencapai batas maksimal! Tubuhnya panas, keringat dingin mengalir deras dari pori-porinya. Dia sudah tidak tahan lagi. Sebagai penutup, Hervey mimisan sebelum jatuh pingsan.

"Ouy, Hervey!" Panggil Sigurd yang menahan tubuh Hervey dari belakang.

Lazlo menelan ludah berkali-kali. Terang saja Hervey sampai pingsan... Apa yang dia lihat sekarang, benar-benar... Seksi... Tubuh tinggi semampai, rambut berwarna silver yang dikuncir kebelakang namun masih menyisakan sedikit untuk menjadi poni, dan... Pakaiannya itu loh! Entah apakah yang dikenakan wanita bernama Jeane ini bisa disebut pakaian atau tidak. Karena setahu Lazlo, pakaian itu ya, harus menutupi seluruh bagian tubuh, tapi ini... Hanya menutupi daerah terlarang wanita itu saja. Keputusan yang tepat ketika Lazlo melarang Lino untuk ikut masuk ke dalam. Dia tidak bisa membayangkan apa reaksi pria itu.

"Nah, apa yang bisa saya bantu, tuan-tuan?" Tanya Jeane dengan ramah.

Lazlo menelan ludah sekali lagi, sampai-sampai rasanya sudah tidak ada ludah lagi didalam mulutnya. Entah apa dia harus bersyukur atau tidak dengan informasi mengenai Rune Master yang satu ini. Ketika ia dan rombongan memutuskan untuk pergi ke pemandian, seorang pria membicarakan Rune Master yang ada di pulau ini. Penasaran, Lazlo pun bertanya lebih detail. Dan memutuskan untuk merekrutnya. Merekrut... Rune Master yang cantik ini...

"Apa anda bersedia untuk bergabung dengan kami?" Tanya Lazlo setelah mengendalikan detak jantungnya.

"Bergabung?"

"Ya, aku sedang mengumpulkan orang untuk melawan Kooluk, dan ummm," Lazlo menelan ludah. "apakah anda mau bergabung dengan kami?"

"Huuum," Jeane berpikir sejenak. "Baiklah."

"Hah?" Lazlo bergumam.

"Aku terima tawaranmu." Jeane tertawa ramah. "Kelihatannya lebih baik aku pergi dari sini, sebelum aku menyebabkan masalah lain."

"Miss Jeane, aku..."

"Ssssh," Jeane menghentikan kalimat pemilik toko Rune tempat ia bekerja. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Nah, aku pergi sekarang."

Jeane melenggang, dan berhenti tepat di sebelah Lazlo. Dia gugup berdiri berdekatan dengan Jeane, sehingga tidak bereaksi apa-apa.

"Kau, punya Rune yang unik... Atau boleh aku katakan, True Rune?" Bisik Jeane tepat ditelinga Lazlo.

Mata Lazlo membesar dan mulutnya terbuka lebar. "Kau, kau tahu darimana?!"

Jeane terkekeh, disentuhnya pipi Lazlo menggunakan telunjuknya. "Katakan saja, itu keahlianku sebagai Rune Master..."

Lazlo masih berdiri di tempat yang sama cukup lama sampai teriakan Keneth membuatnya tersadar.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Huwaaaa, sungguh perjalanan yang melelahkan!" Jewel memutar-mutar pundaknya.

"Sangat. Melelahkan." Keneth memberikan penekanan dalam ucapannya.

Anak buah Kika berlari ke arah Lazlo yang baru mendarat. "Hei, Lazlo! Kau ada tamu! Katanya dia ksatria Gaien."

"Kstaria Gaien?" Keneth menaikan alisnya.

"Kira-kira siapa yah? Apa mungkin... Snowe...?" Tebak Jewel.

"Dimana dia sekarang?" Lazlo bertanya.

"Di kamar Lady Kika. Kondisinya sudah agak baikan, jadi aku rasa kalian semua bisa mengunjunginya."

Lazlo pun segera pergi ke kamar Kika.

"AH!" Pekik Lazlo, Keneth dan Jewel bersamaan. "Wakil Komandan Katarina!"

Yang dipanggil tersenyum. "Kalian... Lazlo... Syukurlah kau masih hidup..."

"Apa yang terjadi kepada anda, Wakil Komandan?" Tanya Jewel prihatin.

"Dan kalian, kenapa kalian ada di sini?" Katarina balik bertanya. Walau sakit, nampaknya wibawa beliau belum berkurang.

"Kami, kami hanya ingin membantu Lazlo membuktikan bahwa dia tidak bersalah!"

"Ya, Jewel benar, Wakil Komandan." Tambah Keneth.

"Aku rasa, sudah tidak ada lagi yang peduli apakah Lazlo bersalah atau tidak..."

"Maksud anda?" Jewel mengeritkan kening.

"Razril..." Katarina menghela nafas. "Razril berhasil diduduki oleh Kooluk. Dan Snowe, yang merupakan Komandan baru, dia," Katarina menunjukan rasa kebencian sekaligus marah ketika membicarakan Snowe. "dia menjual Razril kepada Kooluk! Dan diangkat menjadi kapten pasukan Anti-Bajak Laut Kooluk."

Seharusnya Lazlo tidak perlu terkejut mendengar berita semacam itu. Hal itu, memang tipikal Snowe. Tapi tetap saja, dia tidak bisa percaya bahwa Snowe benar-benar melakukannya! Dan yang terparah, tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Lazlo menarik sebuah bangku dan duduk didekat kasur. "Siapa yang melakukan ini kepada anda, Wakil Komandan?"

Katarina mengeluh. "Kau, kau membenciku, 'kan? Kalau kau mau, kau bisa membunuhku sekarang..."

"Wakil Komandan!" Teriak Jewel.

"Hentikan omonganmu, Katarina!" Bentak Kika. "Jika kau mengatakan hal itu lagi, sama saja kau tidak menghargai apa yang telah aku lakukan untuk menyelamatkan nyawamu."

Katarina tertawa miris. "Maaf... Aku lupa kalau aku berhutang nyawa kepadamu..."

"Apa yang terjadi kepada anda, Wakil Komandan...? Apa Snowe... Apa dia yang melakukan ini kepada anda?" Tanya Lazlo sambil menahan emosi.

"Aku rasa itu sudah cukup," Kika berinisiatif menghentikan percakapan. "Dia masih butuh istirahat. Aku rasa obrolan kali ini cukup sampai di sini."

Dengan terpaksa, Lazlo dan kawan-kawan meninggalkan Katarian untuk istirahat.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Lazlo melihat sosok Lino, Dario, Hervey serta Sigurd tengah duduk sambil membahas sesuatu. Jewel dan Keneth memberi tanda kepadanya untuk bergabung bersama keempat pria itu. Ternyata mereka sedang membicarakan Elenor Silverberg, tactician Scarlet Moon Empire. Lazlo tidak pernah mendengar nama itu, jadi dia memutuskan untuk mendengarkan percakapan dengan seksama. Jika memang mereka memerlukan bantuan dia untuk melawan Kooluk, Lazlo harus memahami siapa yang akan ia mintai bantuan bukan?

"Aku akan mengabarkan kepada Elenor. Jadi lebih baik kalian mengunjunginya." Suara Kika memotong diskusi.

"Eh? Kau kenal dia? Kenapa tidak bilang daritadi." Lino melirik Kika.

"Elenor, dia punya masalahnya sendiri." Kika menghela nafas. "Aku akan memberi kabar kepadanya mengenai kalian. Tapi selanjutnya aku serahkan kepadamu, Lazlo."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Tapiiii, apa dia mau bergabung dengan kita?" Jewel tampak ragu.

"Kita tidak akan tahu sebelum kita coba, kan?" Keneth menimpali.

"Kau benar sih..."

"Lazlo."

Yang dipanggil menoleh, ternyata Kika. "Ada apa?"

"Mungkin, akan lebih baik jika aku ikut bersamamu. Sigurd, Dario, tolong jaga tempat ini sampai aku kembali," Kika menepuk pundak Sigurd.

"Tapi tadi aku kira..."

"Aku cepat berubah pikiran," Kika menyela ucapan Lazlo. "Ayo berangkat."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Perairan sangat tenang, begitu juga dengan angin. Jika terus seperti ini, mereka pasti bisa sampai di tempat Elenor dengan cepat.

"Tunggu itu..." Keneth menunjuk dua kapal yang datang dari arah berlawanan dengan kapal mereka. "Itu kapal Razril..."

"Dengan bendera Kooluk ditiangnya!" Jewel menggeram.

"Snowe..." Lazlo menyadari siapa kapten kapal itu. Tangannya terkepal.

"Jangan emosi," Kika mengingatkan. "Kalau kau emosi, kau kalah."

"Bagaiman aku tidak emosi..." Baru kali ini, semenjak pertemenan mereka, Lazlo merasa sangat kecewa dan marah kepada Snowe. Dia pikir dia mengerti Snowe, tapi dia salah. Dia tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.

"Belum tentu yang melakukan semua itu kepada Katarina adalah Snowe," Kika menyentuh pundak Lazlo. "Jangan terbawa emosi, atau kesempatan kita untuk menendang Kooluk keluar dari rumah kita akan hancur sia-sia."

Lazlo menarik nafas sebanyak mungkin, membuangnya lagi perlahan. "Kau benar. Semua, bersiap untuk bertempur!"

Kika tersenyum melihat Lazlo yang berhasil mengendalikan emosinya.

Pertempuran di perairan Nest of Pirate pun tidak terelakan lagi. Semua orang tahu, untuk memenangkan sebuah pertempuran, yang dibutuhkan bukan hanya prajurit yang kuat atau peralatan yang canggih dan memadai, tapi juga seorang pemimpin yang bisa memimpin pasukannya dengan baik. Bahkan bisa dibilang, pemimpin adalah elemen terpenting dalam sebuah peperangan. Dan di sinilah, Snowe kalah dari Lazlo. Walau prajurit milik Snowe adalah prajurit terlatih, kapal yang kuat serta Rune Canon yang banyak, semua sia-sia karena Snowe tidak tahu cara memaksimalkan semua itu. Snowe dipaksa untuk mundur.

"Lazlo, kita harus mengejar Snowe!" Kata Jewel. "Kita harus bicara kepadanya..."

"Ya, kau benar." Lazlo memerintah awak kapalnya untuk mengejar kapal Snowe.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Tunggu, apa-apaan ini?!" Jerit Snowe ketika puluhan anak panah menghujani kapalnya. "Kenapa kalian melakukan ini kepadaku? Aku.. Aku hanya ingin menolong kalian, kita semua!"

"Ha, menolong kami katamu?! Apa kau tidak tahu bagaimana para Kooluk memperlakukan kami?!"

"Jangan pernah menginjakan kaki di sini lagi, Snowe!"

"Pergi! Enyah kau!"

Teriakan para penduduk Razril yang marah membahana. Snowe tidak bisa masuk ke pelabuhan, memutuskan untuk kembali ke laut. Tapi di sana, sudah menunggu kapal Lazlo.

"Lazlo..." Snowe mengepalkan kedua tangannya.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Snowe dan Lazlo berdiri hadap-hadapan.

"Apa yang akan kita lakukan kepadanya, Lazlo?" Tanya Lino.

"Aku kira tadi kau begitu emosi kepadanya," Kika yang berdiri tidak jauh dari Lazlo bicara.

"Ya, aku memang marah kepadanya tadi," Lazlo membuang nafas. "Tapi setelah apa yang terjadi kepadanya, aku, aku tidak bisa marah kepadanya..."

"Kau tidak dalam posisi untuk mengasihaniku, Lazlo!" Pekik Snowe kesal.

"Hei, padahal kau tawanan tapi mulutmu masih cukup besar juga yah," ejek Lino.

"Snowe... Aku tahu kau melakukan ini demi kebaikan Razril, hanya saja caramu salah." Lazlo menatap Snowe dengan sedih.

"Aku tidak mau mendengar apa pun dari mulutmu. Lebih baik kau bunuh saja aku."

Lazlo mendesah panjang. "Kau hanya punya satu kesempatan. Apa kau mau bergabung dengan kami?"

"Apa kau lupa? Posisiku sekarang ini apa?" Snowe menggeleng. "Aku tidak bisa bergabung denganmu. Jadi, yang bisa kau lakukan sekarang hanya membunuhku..."

Lazlo menggeleng. "Tidak. Aku, aku akan membiarkan laut yang menentukan takdirmu kalau begitu..."

"Jangan kau pikir aku berhutang kepadamu untuk ini!" Seru Snowe dari sekocinya.

"Kau tahu, kau benar-benar terlalu baik, Lazlo." Puji Lino sambil melihat sekoci yang membawa Snowe serta bahan makanan dan seorang prajurit Kooluk menjauh dari kapal mereka.

Lazlo tertawa pelan. "Aku tahu, jauh dilubuk hatinya, Snowe orang yang baik. Hanya saja, dia selalu memilih jalan yang salah. Aku hanya ingin memberikan kesempatan kedua baginya."

"Kau memang terlalu baik, Lazlo." Lino memberi tanda kepada pengemudi kapal untuk kembali berlayar. "Nah, waktunya menjemput Elenor..."