Catatan: tertarik dengan penjelasan Kushina mengenai Mito Uzumaki dan Hashirama si Shodai Hokage, alhasil mau juga satu kisah buat mereka. Soal penggambaran karakter Mito dan suaminya tercinta Hashi di fic ini mungkin agak sedikit menyimpang apalagi temanya perjudian, tapi penafsiran setiap orang 'kan berbeda-beda, ehehehe. Sudahlah, tanpa banyak bicara, selamat membaca~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Peringatan: penafsiran karakter yang warped, tema perjudian, kata-kata kasar


.

.

.

Bonsai Guy and His Pretty Gambler

.

.

.

Siapapun di Desa Uzushiogakure mengenal Mito Uzumaki sebagai gadis cantik yang anggun berwibawa, berpendirian, dapat dipercaya, dan juga pandai mengerjakan segala sesuatu dengan hasil terbaik. Meski berasal dari keluarga paling terpandang dengan jumlah kekayaan yang tidak sedikit, Mito tidak pernah sekalipun menyombongkan latar belakangnya, maupun memanfaatkan statusnya untuk memperoleh apa yang dia inginkan. Di samping ketidaksombongannya itu, Mito pun kerap menolong dan membantu baik para warga desa maupun anggota desa lain di kala terjadi keributan dan kekacauan besar dengan kemampuannya sebagai pengguna fuin jutsu—jurus penyegel, sekaligus shinobi medis.

Banyak pemuda yang mengelu-elukan kecantikan Mito, dan berharap Mito kelak akan menjadi pengantin mereka. Sementara para ibu berharap Mito akan menjadi menantu tersayang yang akan mereka cintai dan sayangi. Tidak terhitung seberapa banyak jumlah pengikut maupun penggemar Mito di Uzushiogakure maupun desa-desa sekitarnya, sebanyak buih di lautan luas.

Tapi yah, semua hal di atas hanyalah sedikit gambaran dari seorang gadis bernama Mito Uzumaki. Gadis berambut merah yang kadang pelit senyum itu kini sedang sibuk mengocok dadu di dalam tabung pengocok, sembari berteriak dengan penuh semangat, "angka yang keluar pasti kecil!"

"Tidak, angkanya pasti besar, dan kau akan kalah menggenaskan, Mitoru!" seorang pria gendut yang berada di hadapan Mito yang tengah menyamar menjadi lelaki itu menggeram marah, menggoncangkan meja judi.

Benar, meja judi, tidak salah baca.

Setelah menjalankan misi yang diterima dari ketua klan alias ayahnya sendiri, Mito biasa mengasingkan diri dari kamar, lantas berpakaian pria dan menyelinap ke berbagai kedai judi. Tidak ada seorangpun yang tahu. Lagipula, siapa yang mau percaya bahwa gadis seanggun dan setangguh Mito ternyata kecanduan judi?

GLUNDUNG GLUNDUNG GLUNDUNG

Angka yang keluar dari dadu adalah 2, 1, dan 4, yang berarti kecil. Para penjudi yang memasang angka kecil sontak berteriak senang, lantas meraup koin kemenangan masing-masing dengan senyum puas tersungging di wajah mereka, termasuk Mito. Sementara para pecundang yang kalah segera menjauh dari meja.

"Sial!" si pria gendut tadi menendang kolong meja sebelum berbalik arah dengan muka kusut. Bingung dia bagaimana caranya menjelaskan uang belanja bulanan yang mendadak hilang ditelan kegelapan meja judi kepada istrinya di rumah.

"Jadi, masih ada yang berani menantangku?" Mito memamerkan wajah penuh kemenangannya ke segala penjuru, berharap akan ada penantang selanjutnya. Kadang selalu beruntung itu membuat kemenangan terasa begitu hambar dan tidak menyenangkan. Kadang Mito ingin sesekali kalah atau apalah. "Baiklah kalau tidak ada…"

"BAJINGAN TENGIKKK! MATI KAUUUU!" muncul segerombolan pemuda yang kemarin telah kalah telak di tangan dingin Mito datang menyerbu. Berbagai kunai, katana, dan shuriken beracun siap sedia di tangan mereka.

"DASARRR LICIKKK! BERANINYA KAU MENCURANGI UANGKU KEMARIN!"

SETT SETT SETT

Berbagai kunai beterbangan di udara, menancap ke berbagai tempat-tempat yang kurang menyenangkan seperti bokong pemilik kedai maupun pelayan di belakang meja judi. Sementara target sebenarnya malah dengan santai menepis serangan itu, lantas menghela napas. Hal ini memang sering terjadi, bukan sesuatu yang layak dijadikan pikiran.

"HAJAR SI RAMBUT MERAHHHH!"

"BUNUUHHHHHHHHHH!"

"SHANARO!"

BRAKKKKK! BRUGGGG! DAAARRRRR!

Tidak butuh banyak tenaga sebelum Mito mematahkan semua serangan mereka dalam sekali hentakan kuat, membuat tubuh para pemuda itu terpelanting ke udara. Mau bagaimana lagi, level para shinobi rendahan itu jauh di bawahnya, shinobi unggulan Uzushiogakure.

"AAAAAAHHHH!"

"LENGANKU PATAH!"

"KAKIKU JAMURAN!"

Dengan segala kekacauan itu, Kedai Judi Iwagakure terpaksa ditutup. Terpaksa lantaran semua meja judi luluh lantak, pemiliknya patah tulang dengan bokong tertancap shuriken, sementara banyak penjudi jatuh korban. Alhasil, si rambut merah berangasan satu itu langsung masuk dalam daftar hitam.

Dengan ekspresi malas Mito berjalan keluar dari kedai judi, menyeruput isi sebotol kecil sake dari tangannya. Entah ke mana lagi kakiku ini akan melangkah? Apa sebaiknya aku segera kembali ke Uzushiogakure?

Jarang sekali Mito bisa merasa galau lantaran kehilangan tujuan, dan ia malas bila langsung kembali ke rumah. Peraturan Uzushiogakure yang ketat terkadang terasa sangat menyebalkan, dan ia butuh pelampiasan. Sudahlah, katanya dalam hati. Mungkin sudah waktunya pulang…

BRUUKK

Sake Mito tumpah dan mengenai sebagian celananya, tembus sampai ke bawah. Lengkap sudah, diusir dari tempat judi dan pakaian samarannya rusak. Benar-benar hari yang sempurna. Kesal sekali rasanya, sudah gagal berjudi, sakenya tumpah lagi.

"Maaf…"

"Sial, kalau jalan hati-hati!" Mito mengumpat dengan kencang ke arah serombongan pria dan wanita berjubah gelap yang tengah memasuki kedai di sebelahnya, lantas segera menyingkir dari mereka. "Dasar tidak punya mata!"

Serentak semua mata mendelik lebar ke arah Mito. Darah mereka mendidih mendengar ketua mereka, yang rupanya tertabrak oleh Mito tadi, dikatai yang tidak-tidak oleh bocah sembarangan.

"Apa kita harus memberi pelajaran untuk bocah rambut merah itu?" salah satu dari mereka bertanya kepada pria tinggi dengan rambut hitam menjuntai. "Berani sekali dia berkata begitu kepadamu, kak."

"Tidak usah, Tobi." Pria itu menatap sosok berambut merah yang mulai menghilang dalam keramaian pasar, kemudian menatap tempat itu keluar sebelumnya. Kita pasti bertemu lagi.

.

.

Sekembalinya Mito dari misi penting di Iwagakure, ia langsung dihadapkan dengan masalah yang sangat pelik, sesuatu yang lebih parah dan menyebalkan daripada melihat ayahnya yang malas mencukur jenggot panjangnya yang putih lebat itu selama bertahun-tahun. Keluarganya baru saja memberitahukan dirinya bahwa ia harus menikah sebulan lagi dengan pria pilihan mereka.

Pernikahan, ya, PERNIKAHAN, sesuatu yang amat sangat penting dalam hidupnya—dengan seenaknya telah ditentukan, bahkan sampai ke tanggal pastinya segala. Sudah lama sekali ayah dan keluarganya ingin menjalin hubungan yang jauh lebih akrab ketimbang persahabatan dengan Klan Senju di daerah Barat, dan apalagi kalau bukan dengan pernikahan politik seperti ini?

"Ini bukan pernikahan politik seperti yang kau kira, nak. Ayah hanya mencarikan pria terbaik untuk mendampingimu, dan Hashitama Senju adalah shinobi terbaik yang pernah ayah jumpai."

"Hashirama, ayah, bukannya Hashitama."

Mito berusaha keras menyembunyikan kekecewaan maupun kegundahannya dari ayah maupun ibunya. Apanya yang bukan politik kalau ia sama sekali tidak pernah berjumpa maupun berkenalan dengan pria yang kelak akan mendampinginya seumur hidup? Apanya yang bukan politik kalau semua ini ternyata sudah direncanakan sejak lama?

Rasanya ia ingin sekali berteriak sekencang mungkin saking kesalnya, tapi tentu saja, ia bukan gadis semacam itu. Sedapat mungkin Mito mengendalikan dirinya saat berhadapan dengan orangtua, keluarga, dan juga klannya. Di mata mereka ia gadis sempurna, dan Mito berusaha mewujudkan keinginan itu sebaik-baiknya.

"Kami sama sekali belum pernah bertemu, jadi—"

"Ayah akan meminta Senju-sama meluangkan waktunya untukmu bila hanya itu yang menjadi persoalannya."

Memangnya kalau sekali bertemu bisa langsung cocok? Memangnya dunia bisa seindah itu, apa? Mito menahan napas, perlahan menyadari bahwa lambat laun hal ini pasti terjadi. Bukankah selama ini ia telah dipersiapkan untuk itu? Apa dia sendiri memiliki pilihan lain?

"Mito, ibu berharap kau akan berbahagia dengan Senju-sama," ibunya berkata sambil menatap mata anak gadisnya dalam-dalam. Wanita yang telah melahirkannya ini telah mengalami nasib yang sama seperti dirinya, dan mampu berbahagia dengan caranya. "Senju-sama adalah pria yang cocok untukmu, pasangan yang akan memahami dirimu sepenuhnya."

Mito hanya bisa diam seribu bahasa, padahal hatinya menangis.

.

.

Sudah lama Mito mendengar ketenaran maupun nama baik Hashirama Senju. Pemimpin Klan Senju yang amat sangat berbakat dan sangat tampan itu—katanya sih—kini sedang merencanakan pembangunan desa baru dengan Klan Uchiha yang tidak kalah hebatnya. Setiap pemikiran dan pendapatnya mengenai kedamaian bukan hanya kata-kata kosong, melainkan tindakan, pemimpin sejati yang menaruh kepentingan klan dan orang banyak di atas kepentingannya sendiri.

Alaa, memangnya Mito peduli dengan semua klasifikasi itu?

Tidak mementingkan diri sendiri berarti dia orang plin-plan payah tidak berpendirian yang sok hebat, tidak punya keinginan sendiri. Memang tidak salah mementingkan orang banyak, tapi kepentingan sendiri harus lebih dulu dipenuhi.

"Katanya Hashirama itu pecinta bonsai…, padahal umurnya masih dua puluhan tapi sikapnya sudah seperti kakek-kakek berumur. Dan katanya lagi, dia jarang sekali tersenyum… wajahnya pasti datar dan tidak menarik—" Mito menyerocos dengan kesal sambil menyirami bunga-bunga kesayangannya ditemani oleh pengasuhnya sejak kecil di belakang kamarnya. Gadis itu biasa merawat bunga-bunga kesayangannya setiap sore. "Kenapa nasibku bisa sesial itu, bertunangan dengan pria semacam Hashirama Senju?"

"Ehmm, sebaiknya Mito-hime…" kata-kata pengasuhnya terdengar pelan dan terbata-bata, raut wajahnya pias. "Mito-hime, tidak baik jika Mito-hime bicara seperti itu, apalagi…"

"Pembawa kedamaian apanya, paling dia tidak suka jika badannya penuh luka… dan apa itu, gosipnya dia pecinta sesama jenis… gaya rambutnya yang panjang itu jelas sudah pasti—"

"Hime, Mito-hime, kumohon…"

"Satu lagi, kurasa orang seperti itu akan kalah telak bila bertarung melawan Madara Uchiha. Kau tahu, aku jauh lebih menyukai Madara Uchiha yang liar dan penuh ambisi ketimbang ulat pemalas semacam Hashirama—"

DEG!

Mito mendadak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah berdiri tepat di belakang tubuhnya. Entah kenapa tapi darahnya berdesir dengan amat sangat kencang, bulir demi bulir membara panas, seperti terbakar. Gadis itu segera menoleh ke belakang, dan menemukan sesosok pria yang asing, sosok yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Hashirama Senju berada di belakangannya dengan wajah datar. Seperti kata gosip, pria itu tinggi dan luar biasa tampan, kedua matanya yang gelap tajam dan rambut hitamnya yang menjuntai di belakang punggung membuat keberadaannya memiliki efek yang sangat kuat bagi siapapun yang memandanginya, termasuk Mito.

Gadis berambut merah itu dapat merasakan bahwa lidahnya sesaat terasa kelu saat kedua matanya terpaku memandang pria di hadapannya. Dengan cepat ia mengendalikan keterkejutannya, lalu tersenyum dengan anggun. "Maaf, anda tahu, tempat ini tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang."

"Ayahmu mengatakan bahwa kau ingin menemuiku, Mito Uzumaki," suara si tampan berambut panjang terdengar tenang dan agak berat. "Jadi di sinilah aku berada."

"Maksudmu, kau ini… " dada Mito terus berdesir kencang tanpa henti, dan ia tidak berani meneruskan kalimatnya. SIAAALLLLL, MANA SEDARI TADI AKU TERUS MENJELEK-JELEKKAN DIA! SEJAK KAPAN DIA BERADA DI SINI? SUDAH SEBERAPA BANYAK YANG DIA DENGAR?

"Akulah ulat pemalas yang takut terluka, pecinta bonsai, pria yang memiliki wajah datar dan tidak menarik."

Kalau ada lubang, rasanya Mito ingin langsung terjun bebas di dalam sana. Gawat, bagaimana kalau pertunangan mereka gagal karena mulutnya yang semena-mena? Bagaimana kalau Hashirama tidak terima dengan semua yang ia ucapkan barusan?

Di luar dugaan, Hashirama Senju malah menyodorkan sebelah lengannya ke arah Mito. Wajah tampan itu tersenyum tipis ke arahnya. "Senang berkenalan denganmu, Mito Uzumaki."

"Se-senang berkenalan denganmu, Hashirama Senju." Mito menyambut lengan Hashi dengan muka bersemu kemerahan, nyaris sewarna dengan rambutnya. Oh, betapa malunya ia… untunglah, sepertinya Hashirama Senju orang yang baik dan pengertian…

SETTTTT

Dengan gerakan yang cepat Hashi menarik tubuh Mito ke sisinya, nyaris memeluknya. Sepintas tercium lembutnya rumput segar dari tubuh Hashi, bercampur dengan aroma tubuh pria itu. Sambil berbisik di telinga Mito, pria berwajah sendu itu memberitahu, "sayang sekali, sepertinya Madara kurang menyukai gadis berambut merah yang sangat suka bergosip."

Sial, rupanya dia sama sekali tidak pengertian.

.

.

Pesta pernikahan Mito Uzumaki dan Hashirama Senju dirayakan besar-besaran di daerah Klan Senju, mengundang banyak sekali ketua klan dan pemimpin desa lain, termasuk Madara Uchiha. Mito dapat merasakan sesuatu yang amat kompleks antara suami dan musuh bebuyutan suaminya itu ketika bertemu, tidak dapat dilukiskan oleh kata, namun dapat terbaca dengan sangat jelas.

"Beruntung sekali Hashi-san mendapatkan istri yang anggun dan cantik sepertimu." Madara berkata dengan sopan, malam itu ia mengenakan kimono resmi berwarna gelap. Pria itu memiliki raut wajah yang tampan dan rambut agak berantakan, menggambarkan kepribadiannya yang liar dan tidak bisa dikekang oleh siapapun. Sementara tatapannya yang serius seolah memberitahu bahwa ia bukan orang yang dapat dipermainkan, ataupun dibantah. "Andai saja aku tahu bahwa ada wanita sepertimu di Uzushiogakure, sudah pasti aku yang akan menjadikanmu pengantinku."

Seketika wajah Mito terasa seperti terbakar. Rasanya senang sekali pria yang ia kagumi tengah memuji dirinya. Gadis berambut merah itu tersenyum anggun. "Terima kasih atas pujiannya, Uchiha-san."

"Dan kau bukan pria pertama yang mengatakan hal itu kepada istriku," Hashi turut masuk dalam percakapan istri dan musuh bebuyutannya. Ekspresi wajahnya masih datar seperti biasa.

Hashirama suaminya selalu tampak tenang, dan jarang berekspresi. Meskipun begitu, Mito tahu bahwa Hashi si Bonsai Menyebalkan—panggilan dia untuk Hashirama baru-baru ini—juga benci dibantah dan selalu menginginkan orang lain menuruti keinginannya.

"Apa mereka juga mengajakmu meninggalkan Hashi-san dan lari bersama sekarang juga?" Madara tersenyum nakal, lantas menatap Hashirama. "Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang tengah kau rencanakan, Hashi-san. Kau memang cerdas, cerdas sekali."

Madara melengkungkan bibirnya sedikit, lantas melanjutkan. "Memilih mempelai wanita dari Klan Uzumaki, memperoleh dukungan kuat, dan jangan pikir aku tidak tahu maksudmu yang sebenarnya…"

"Anggap aku tidak tahu apa yang kau maksud, dan silahkan menikmati pestanya." Hashirama berkata, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Sekilas ada sedikit keraguan dan ketakutan yang terpancar dari matanya. Madara hanya tertawa-tawa, lalu bergegas pergi. Ya, semua paham bahwa dia berada di sana hanya demi formalitas semata.

.

.

Malam sudah semakin larut, namun tamu yang hadir malah semakin banyak dalam pesta itu. Hal yang sangat wajar mengingat Hashirama Senju tokoh yang paling dikagumi, shinobi nomor satu pada saat itu. Dan tentu saja, pernikahannya adalah salah satu saat yang paling dinantikan. Sungguh sangat membuat hati panas…

Pernikahan mereka…

Bonsai Menyebalkan itu dengan seenaknya mempercepat tanggal pernikahan mereka, dan semua orang dengan patuh menuruti keinginannya. Bonsai Menyebalkan itu dengan seenaknya pula memindahkan lokasi pernikahan mereka ke tempatnya tinggal, dan memaksanya mengenakan gaun putih sutra halus yang dibordir oleh mendiang ibunya. Yah, sebenarnya Mito cukup menyukai gaun itu.

"Apa kau sedang menjelek-jelekkanku lagi?" suara Hashirama yang sendu itu terdengar agak sedikit sarkastis di telinga Mito. Rupanya pria itu masih ingat kata-kata Mito dua minggu lalu di kebun belakang kamarnya. "Kurasa tidak ada salahnya mempercepat pernikahan kita."

Mito tahu bahwa Bonsai Menyebalkan sengaja mempercepat pernikahan mereka demi kepentingan imej klannya, seperti apa yang dikatakan Madara tadi. Sejauh yang ia ketahui, pakta perdamaian antara Klan Senju dan Uchiha telah dirampungkan, dan mereka tengah memutuskan siapa yang nantinya akan menjadi kepala desa pertama yang kalau tidak salah akan dinamai Konohagakure. Imej pemimpin yang telah memiliki istri tentu saja akan memberi nilai plus, karena dinilai telah mengerti arti pentingnya keluarga dan tanggung jawab. Dan ia Mito Uzu—Mito Senju—telah menjalankan perannya sebagai pendamping pemimpin klan itu dengan baik.

"Kenapa kau diam saja, apa ada kucing yang telah mencuri lidahmu?"

Mito menghela napas. Ia benar-benar tidak menyangka dengan wajah setenang itu ternyata Hashirama memiliki kepribadian yang sangat, sangat menjengkelkan. Benar-benar tidak bisa diduga. Apalagi ia harus menemani pria seperti itu seumur hidupnya. Tragis sekali nasibnya.

SEEEERRRRTTTT

"AAAAIIIIIIHH?!"

Mendadak Mito berteriak nyaring, membuat semua mata tamu memandang ke arahnya. Dengan cepat gadis berambut merah itu menguasai dirinya, lantas menebarkan senyum penuh pesona kepada semua orang. "Maaf, aku baru saja teringat bahwa kalian pasti belum mencicipi saku khas Uzushiogakure yang sengaja kubawa kemari, akan segera kusiapkan."

Para tamu langsung mengangguk-angguk gembira dan tertawa terbahak-bahak, senang karena mereka tahu bahwa sake Uzushiogakure merupakan sake putih dengan wangi yang khas, konon berguna untuk memperpanjang usia. Sungguh beruntung, pikir mereka.

"Kau… beraninya kau…" Mito memukul bahu suaminya dengan sekencang mungkin. Dadanya berdebar-debar saat kedua mata Hashi yang tajam itu menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diperkirakan, sulit sekali dibaca. "Bagaimana bisa kau seenaknya me-meremas bokongku? Dasar mesum?!"

Hashirama tertawa tertahan, bahkan sampai menggigit bibirnya.

"Dasar menyebalkan, kau ini memang pandai sekali berpura-pura. Ingin rasanya kurobek topengmu yang kalem itu dan kubongkar di hadapan orang banyak. Ketua Senju ternyata pria mesum yang berhati picik." Mito mengatakan semua itu dengan nada rendah, ia tidak mau ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. "Dasar munafik."

"Yah, mungkin aku tidak sebaik yang kau bayangkan—"

"Tidak, kau jauh lebih buruk dari apa yang pernah aku bayangkan."

"Tapi kau persis dengan apa yang aku bayangkan selama ini…" Hashi tersenyum, wajahnya yang kaku mendadak berubah hangat. Mito terkejut dan kehilangan kata-kata yang semula telah dipersiapkan untuk mengutuk suaminya. Ternyata bisa juga Hashirama memiliki ekspresi seperti itu, selain datar dan menyebalkan.

Mengapa mendadak hatinya serasa berdenyut kencang?

"Ini pertama kalinya kita membicarakan sesuatu setelah kau kubawa kemari, kau terus mengurung diri di kamar dan aku tak tahu apa yang berada di dalam benakmu. Bukannya aku mendiamkanmu, tapi belakangan ini tugasku semakin menumpuk."

Oh, jadi selama ini Hashi terus mencemaskannya? Hashi memikirkan dirinya yang terus mengurung diri di kamar? Apa-apaan ini, kenapa aku malah berpikir begini?

"Wajahmu memerah, apa kau sakit?"

Wajah Mito semakin memerah saat sebelah tangan suaminya yang besar memeriksa dahinya. Dengan cepat ia menepis tangan Hashi dengan keras. "Kau tahu aku bisa menyembuhkan diriku sendiri."

"Memangnya salah mencari alasan untuk menyentuhmu?"

.

.

Mito menatap kamar Hashirama yang telah disulap menjadi kamar pengantin mereka dengan hati-hati. Orang bilang kamar seseorang mencerminkan kepribadiannya. Hanya tertempel lukisan pegunungan dengan puisi tentang keindahan alam di dinding, beberapa keramik tua peninggalan zaman kuno tertata dengan rapi di lemari kayu berukir. Memang tidak salah jika banyak orang mengatakan bahwa Hashirama memiliki hobi seperti kakek tua yang membosankan.

Satu kata, suram.

Dua kata, sangat membosankan.

Tiga kata, Hashirama tidak menarik.

"Baiklah, sudah saatnya menjalankan tugas kita selanjutnya." Mito terkejut ketika kedua tangan suaminya memeluknya dari belakang, suara berat yang sendu itu terasa panas di sebelah telinganya. Jantung Mito serasa nyaris meledak kala bibir suaminya itu mengecup pipinya. "Aku sudah tidak sabar lagi."

Empat kata, Hashirama tidak bisa ditebak.

.

.


Terima kasih sudah membaca, ya. Kalau sempat silahkan tinggalkan komentar atau apalah juga boleh, ahahaha. Sampai jumpa di chapter berikutnya~!