Catatan: sekali lagi terima kasih atas tanggapan kalian semua, senang loh bacanya ampe terharu. Maaf banget buat yang gak login karena gak bisa dibalas reviewnya, habis gak tahu harus dibalas ke mana (/^.^/). Buat yang masih belum akrab dengan para tokoh di timeline 80 tahun lampau ini, kalian bisa membaca manga Naruto volume 43 dan 53, khusus bagian Madara dan Hashirama, ehehe. Okelah, selamat membaca, ya~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Peringatan: tema peperangan, perjudian, kata-kata kasar bergelimpangan


.

.

.

Bonsai Guy and His Pretty Gambler part 3

.

.

.

Sepanjang delapan belas tahun belakangan ini, Mito tidak pernah merasakan perasaan iri yang amat sangat menyiksa seperti apa yang kini ia rasakan saat menatap Hashi, dan memikirkan apa yang baru saja diungkapkan oleh suami dan sang adik ipar. Dadanya dipenuhi oleh api besar berkobar yang entah darimana asalnya, terus membakar akal sehat, membuatnya sulit berpikir. Apa maksud Tobirama dengan berkata bahwa kakaknya telah berubah? Kakaknya membuang cinta? Jadi benar dulu Hashirama pernah menjalin hubungan dengan seseorang? Siapa wanita itu? Apa wanita itu jauh lebih cantik daripada dirinya?

"Siapa yang dimaksud oleh Tobi, suamiku?"

Hashi mengalihkan pandangannya ke arah Mito. Dalam cahaya pagi, kulit Hashi yang basah kecokelatan setelah latihan, wajahnya yang sangat maskulin, dan kedua matanya yang sangat gelap itu terlihat sangat memesona. Mito yang paling tahu bahwa di balik pakaian latihan yang membosankan itu, tubuh Hashi amatlah sempurna. Otot perut maupun otot dadanya kencang dan padat, hasil dari latihan dan pertarungan secara rutin.

Sialan, kenapa justru di saat-saat begini Bonsai Menyebalkan itu malah terlihat semakin tampan? Apa dia sudah terkena virus mata akut yang membutakan? Dengan cepat Mito segera menghapus pikiran yang tidak lurus itu dari benaknya, lalu membalas tatapan suaminya.

"Mungkinkah kau cemburu?" Hashi mendadak membuka suara. Diusapnya peluh yang menetes di dahinya, lalu tersenyum tipis sambil memperhatikan perubahan raut wajah Mito. "Kau cemburu kepadaku?"

Cemburu? Apa maksud makhluk menyebalkan ini? Jangan bercanda, siapa yang cemburu? Mungkin kalau pengertian cemburu adalah perasaan kesal karena merasa dipermainkan oleh pria bermuka dua yang tidak punya pengertian sama sekali, ia akan mengaku bahwa ia tengah merasa cemburu.

"Lebih baik kita bicarakan nanti saja, bagaimana? Perutku sudah lapar sekali." Dengan santai Hashi menghampiri Mito, lalu tersenyum tanpa dosa. "Apa yang kau masak hari ini?"

Ingin sekali Mito menendang dan menghancurkan semua koleksi bonsai Hashi yang jumlahnya puluhan dan sangat unik dalam sekali hantam. Hei, seenaknya menanyakan masakannya? Lantas apa jawaban pertanyaannya tadi? Kenapa pria sinting dengan sifat jelek begini bisa-bisanya menjadi suaminya, sih?

"Jangan coba-coba mengalihkan permasalahan, apa yang tadi kalian bicarakan?" Mito bersikeras, masih menatap Hashi dengan tajam. "Jawab aku, Hashirama-san…"

"Sudah kubilang, kita bahas nanti saja."

SETTT

Lantas sebelah tangan Ketua Senju satu itu memeluk pinggang Mito dengan erat, mendekatkan tubuh mereka dalam sekali hentakan.

"EEEEHHHH…"

Mito menjerit tertahan dengan wajah memerah bak kepiting rebus. A-apa yang tengah diperbuat oleh Hashirama-san? Berani-beraninya dia berbuat begitu! Mana tuduhan yang tadi masih belum terjawab! Mito menggeliat kesal, berusaha melepaskan diri dari dekapan Hashi. Tapi semakin ia memberontak, semakin kuat pula kungkungan suaminya itu. Mito mencoba memutar, namun perbuatannya itu malah mendekatkan tubuhnya ke dalam pelukan Hashi.

DEG!

Mendadak jantung Mito berdebar dengan amat sangat kencang. Dipeluk erat oleh Hashi pagi itu membuat tubuhnya mengkhianati perasaannya. Aroma keringat yang bercampur dengan bau badan yang khas membuat kesan suaminya yang tampan itu semakin kuat dalam otak Mito, mengingatkan dirinya akan malam pertama mereka. Tubuh dan aroma suaminya yang kokoh dan hangat, kata-katanya yang mesra, ciumannya yang menggairahkan. Seharusnya ia marah, bukannya berdebar tidak karuan seperti ini!

"Lepaskan," pinta Mito dengan suara tertahan. Ia yang tadinya berani menatap Hashi malah menghindar. "Lepaskan aku sekarang juga atau kau akan tahu akibatnya."

Sedikit menyeringai, Ketua Senju itu lalu membalas bisikan maut Mito. "Apa akibatnya?"

"SHANAROOOO!"

Angin kencang langsung berhembus mengelilingi pasangan itu, beberapa bonsai Hashi pun terpelanting lumayan jauh, dan jatuh berkeping-keping. Beberapa anggota keluarga yang penasaran bermunculan satu persatu, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Apa yang terjadi, Mito-san? Hashirama-san?"

"Kenapa tanamannya jadi berantakan begitu?"

Mito rupanya memukul sebelah tangan Hashi dengan serangan shanaro sekuat tenaga, namun entah bagaimana, sebelah tangan suaminya yang nakal itu masih terus menempel di pinggang istrinya.

"Ternyata pinggangmu sensual, ya."

.

.

Siang itu Hashi sengaja mengosongkan semua jadwalnya khusus untuk menemani istrinya tercinta berkeliling desa, dan melimpahkan semua urusannya kepada Tobi, adiknya. Meskipun selama sebulan ini Mito tinggal dengan keluarganya, tapi Hashi sama sekali tidak sempat menemani istrinya ke mana-mana. Dan jujur saja, Mito pun lebih memilih menghabiskan waktu di kediaman Senju dengan menyiapkan pernikahan mereka, memasak, menjahit, beramah-tamah dengan semua anggota keluarga maupun para tetua Senju, serta hal-hal yang sifatnya anggun dan tidak membahayakan.

Semua penduduk desa terpukau ketika melihat Hashirama Senju berjalan berdampingan dengan Mito, istrinya yang sangat cantik dan memesona. Mito memang sengaja memakai kimono putih dengan sedikit corak sakura di ujung lengan dan bagian bawahnya, pakaian termanis yang ia miliki. Sementara Hashirama dengan cuek malah memakai pakaian berwarna gelap, tidak manis, dan tetap saja terlihat tampan. Meski berat mengakuinya, tapi Bonsai Menyebalkan itu terlihat berwibawa.

"Ketua, selamat atas pernikahannya, ya!" sepanjang jalan semua penduduk menyapa Hashi dan Mito, mengucapkan selamat. "Semoga kalian cepat memperoleh keturunan!"

"Ketua, semoga ketua panjang umur dan diberkahi keluarga yang bahagia!"

"Kuharap pernikahan ketua dilimpahi oleh kebahagiaan!"

Begitulah, di mana-mana Hashi selalu disanjung dan didoakan, dihormati serta dikagumi. Setiap ucapan itu selalu dibalas Hashi dengan sopan. Walau wajahnya masih saja terlihat datar, tapi semua orang dapat memahami kebaikan hati Ketua Senju mereka, dan berharap ketua yang mereka sayangi dan hormati itu berbahagia.

"Apa kau bermaksud memamerkanku kepada semua orang?"

"Aku lebih suka mengurungmu di kamar ketimbang memamerkanmu," Hashi tersenyum tipis dengan ekspresi yang sulit diterka. Kemudian ia melanjutkan, "tidak semua orang sempat datang ke pernikahan kita. Sebagian orangtua menolak datang karena sibuk menjaga anak mereka, sementara para pemuda menganggap pesta kita terlalu formal dan malas datang. Jadi, kupikir tidak ada salahnya mengenalkanmu kepada seisi desa."

Mengenalkanmu kepada seisi desa, yang benar saja. Mito agak uring-uringan berjalan mendampingi Hashi berkeliling desa, secara literal. Mereka telah melewati banyak sekali rumah dan bermacam-macam kedai, tapi Hashi terus saja berjalan tanpa henti bahkan mengajaknya menaiki gunung. Tidak salah baca, mereka tengah menaiki gunung sekarang ini. Entah apa tujuan Bonsai Menyebalkan itu, Mito mendongkol dalam hati. Lagipula harusnya dia lihat-lihat situasi, masa naik gunung ketika terik matahari?

"Nah, coba sekarang kau lihat ke bawah sana."

Pemandangan seluruh Desa Senju yang indah terlihat dengan sangat jelas dari kaki gunung tempat mereka berada sekarang, sawah dan berbagai ladang terhampar luas. Rumah-rumah penduduk terlihat sangat kecil, tersusun rapi di sekitar sungai yang mengalir sepanjang desa.

"Mungkin ini saat-saat terakhir kita menikmati pemandangan seperti ini, sawah, ladang, dan hutan Senju." Hashi menatap pemandangan di bawah sana dengan penuh perasaan. "Desa Senju yang telah lama kudiami ini akan segera dipindahkan dan bergabung dengan Klan Uchiha, beserta klan lain yang mendukung aliansi kami di Negara Hi sebagai desa baru, Desa Konohagakure."

"Mungkin sistem satu desa besar dengan satu negara terbilang sangatlah idealis, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengakhiri semua pertumpahan darah tanpa alasan selama ini," lanjutnya.

"Menyatukan banyak klan dalam satu negara bukan berarti menghentikan perang." Mito berpendapat dengan lancang, "kau pikir semua orang akan menyetujui ide ini?"

"Awalnya aku juga meragukan semua hal senaif itu," Hashi menatap Mito dan tertawa pelan. "Setelah bertemu dan berperang, saling membunuh dan membalas dendam. Dalam hati kecilku sendiri aku sulit menerimanya."

Mito mengerutkan keningnya sejenak. Bagaimana orang yang mempertanyakan idenya sendiri dapat menjalankan semua itu dengan maksimal? Apakah Bonsai Menyebalkan selama ini hanya menipu dirinya sendiri?

"Apa kau sedang mengejek pendapatku lagi?" Hashi kini tertawa, diraihnya sebelah tangan Mito. "Katakan, hal apa yang bisa membuatmu bahagia?"

Wajah Mito seketika langsung memerah ditanyai begitu, jantungnya berdebar dengan keras. Sebelah tangan yang digenggam oleh Hashi terasa dingin, dan kepalanya terasa pusing. Dengan gugup ia menjawab, "a-aku… hal yang membuatku bahagia?"

"Ya, katakan hal seperti apa yang bisa membuatmu bahagia." Hashirama Senju kembali menanyai istrinya, wajahnya yang sendu terlihat sangatlah memesona.

"Mana bisa aku menjawab kalau ditanya mendadak begitu!" Mito membuang wajahnya ke samping, tapi dengan cepat Hashi menarik Mito ke dalam pelukannya. Wajah mereka begitu dekat satu sama lain, bahkan Mito dapat merasakan debaran dada Hashi yang sama keras seperti debaran dalam dadanya.

"Kenapa?" suara Hashi terdengar parau, kedua matanya yang gelap mengunci kedua mata Mito. "Katakan apa saja, dan aku akan berusaha memenuhinya."

Rasanya seluruh akal sehat Mito mendadak macet, dan tidak bisa berkerja dengan baik. "Me-memangnya apa hubungan antara kebahagiaanku denganmu?" Mito sulit sekali bernapas dalam pelukan Hashi. "Aku… aku tidak butuh orang lain untuk mewujudkan kebahagiaanku sendiri!"

Sejenak keduanya terdiam, waktu seakan terhenti sesaat.

"Jawaban yang sangat memuaskan…" sambil berkata begitu, Hashi memutar, menarik Mito ke bawah dan menempatkan gadis itu ke atas pangkuannya. Karena tahu bahwa menolak—memberontak juga tidak akan berhasil, Mito pun mengikuti kemauan Hashi.

"Kau memang seperti yang selama ini aku perkirakan."

"Apa maksudmu—"

"Banyak sekali definisi kebahagiaan, tergantung bagaimana setiap orang bisa menyingkapinya… dan aku percaya bahwa banyak orang yang bisa menemukan lebih banyak kebahagiaan dalam suasana damai, jauh dari peperangan." Mendadak raut wajah Hashi berubah. "Dan aku akan berbuat apa saja demi menghentikan perang, Mito."

Ini pertama kalinya Mito mendengar Hashi menyebut namanya.

"Mungkin di depan akan banyak sekali rintangan, dan juga perang—tapi perang demi kedamaian layak diperjuangkan, demi kebahagiaan semua orang, baik yang awalnya musuh maupun teman tidak ada bedanya." Hashi menekankan suaranya. "Itu yang orang itu pernah katakan kepadaku…"

"Orang itu?" mendadak perasaan panas muncul lagi di hati Mito. Apa sekarang Hashi akan membahas gadis yang pernah dia sukai?

"Izuna Uchiha, adik Madara Uchiha, dia yang awalnya meyakinkanku bahwa suatu saat Klan Senju dan Klan Uchiha dapat bersatu, tanpa mengindahkan berbagai lembaran kelam di antara kedua belah pihak." Hashi mengeratkan pelukannya, suaranya terdengar begitu pilu. "Sayang sekali, dia tidak sempat melihat bahwa impiannya akan menjadi kenyataan…"

Mito hanya pernah mendengar nama Izuna Uchiha, adik kandung Madara Uchiha yang mengorbankan kedua matanya demi sang kakak. Banyak desas-desus yang berpendapat bahwa Madara membunuh adiknya sendiri demi kekuatan, tapi ia tidak mempercayai hal itu.

"Apa kau sudah lapar?" suara Hashi di dekat telinga Mito membuat wajah gadis itu kembali memerah. "Aku tahu tempat yang bagus untuk istirahat di dekat sini, Mito."

.

.

Beberapa minggu berikutnya Hashi kembali disibukkan oleh rencana pembangunan Desa Konohagakure yang seakan tidak ada habisnya. Ketua Senju itu selalu sibuk rapat dengan banyak tetua klan lain, para Pembesar Negeri Hi, dan masih banyak lagi. Belum lagi sebagian penduduk Desa Senju pun masih tidak sepenuhnya menyetujui perpindahan desa, dan bersikeras tinggal di Hutan Barat. Satu hal lagi yang amat sangat memusingkan Hashi, pemilihan pemimpin Desa Konohagakure.

Meskipun banyak pihak yang mendukung dirinya—termasuk Klan Uchiha sendiri, tetapi Hashi tahu betul bahwa Madara tidak akan membiarkannya menang semudah itu dan waktu yang ia miliki semakin menipis.

Malam itu bulan purnama bersinar amat terang, bayangan awan tebal yang sebelumnya menggelantung di langit sudah lama sirna. Sekalipun demikian, cuaca malam itu terasa membeku sampai ke tulang.

"Kenapa kita harus pergi sampai sejauh ini?"

Mito mengusap-usapkan kedua tangannya yang dingin dengan cepat. Padahal jaket merah yang dipakainya sudah tebal tapi tetap saja tidak banyak berpengaruh, tubuhnya masih sedikit gemetar. Sehari sebelumnya Hashi mengajaknya pergi ke perbatasan Kirigakure, katanya ingin berunding mengenai perpindahan desa dengan Klan Kiri, tapi sepertinya itu hanyalah alasan semata.

"Ada sesuatu yang ingin kupinta darimu," Hashi menghela napas dalam-dalam. Raut wajahnya sangat serius, berbeda dengan biasanya. Tidak bisa, ia tidak bisa mundur lagi. Semua ini demi kedamaian.

"Tidak ada seorang pun yang boleh tahu mengenai hal ini, atau semua akan berantakan."

Mito menaikkan sebelah alisnya, penasaran akan maksud Hashi. "Katakan saja."

"Aku ingin kau mengajariku berbagai Fuin Jutsu, Mito, termasuk jutsu yang dapat menyegel bijuu—monster berekor—dalam tubuh manusia." Hashi berkata terus terang. "Aku tahu hanya kau yang dapat melakukannya."

Mito tahu betul apa resiko mempelajari Fuin Jutsu bagi orang di luar Klan Uzushiogakure, terutama jurus untuk menyegel bijuu dalam tubuh.

Nyawa.

Ya, selain Klan Uzushiogakure yang rata-rata memiliki cakra khusus dan berlimpah, semua jinchuuriki—wadah manusia pemilik bijuu—akan tewas jika bijuu mereka dikeluarkan dari tubuh, atau saat bijuu dalam tubuh mereka memberontak dan terlepas dari tubuh jinchuuriki. Selama puluhan tahun ini Fuin Jutsu yang berhubungan dengan penyegelan bijuu terkunci rapat dan hanya diwariskan secara turun temurun dalam keluarga inti Uzumaki dan beberapa orang dalam klan yang dinilai mampu mengusai jurus tersebut.

Wajah Mito seketika berubah pias, tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimanapun perasaannya terhadap Hashi, ia sama sekali tidak menginginkan pria itu mati. Ia tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada suaminya. Bibir Mito gemetar saat ia akhirnya berkata, "kau… kau tahu apa yang harus kau bayar dengan menjadi jinchuuriki, bukan? Lebih baik kita lupakan semua ini dan kembali ke Senju—"

"Mito, aku paham sepenuhnya dengan apa yang kau maksud, tapi aku tetap harus melakukannya." Kata-kata Hashi terasa lebih dingin ketimbang cuaca beku di Kirigakure. "Kumohon, ajari aku."

"Maksudmu, kau berniat… ahhh…" Mito menggigit bibirnya. "Kau sudah tahu dan tetap ingin melakukannya?"

Hashi mengangguk pelan, lalu mengeluarkan gulungan besar dalam sekejap mata. "Apa kita bisa mulai dengan Shukaku?"

Hashirama Senju selain tidak bisa ditebak juga ternyata pria sinting.

.

.

Tobirama berjalan tergesa-gesa ke arah kamar kakaknya, wajahnya menyimpan ketakutan yang sangat besar, seperti dikejar-kejar oleh sesuatu. Dengan gelisah ia mengetok pintu kamar Hashi, tidak memedulikan bahwa kakaknya baru saja pulang dari perjalanan panjang bersama istrinya dan saat itu tengah malam.

TOK! TOK! TOK! TOK!

"Kak, ada yang ingin kubicarakan, penting sekali…" mendadak wajah Tobi berubah saat melihat Hashi yang keluar kamar dengan celana terbalik dan tubuh penuh keringat. Lupa dia bahwa kakaknya sudah menikah dua bulan lalu. "Ma-maaf, tapi…"

"Apa ini sehubungan dengan misi kita di Suna? Kukira kau sudah menangani—"

"Hanya Toka yang tersisa dari tim 3, dan setiap shinobi medis yang mengobatinya langsung meninggal seketika. Sekarang ini ia menolak diobati dan mengurung diri…" suara Tobi bergetar hebat saat mengatakan semua itu. "Apa tidak ada yang bisa kita lakukan…"

"Hmmm…" Hashi menyeka keringat yang menetes dari keningnya, lalu dengan cepat ia kembali masuk kamar dan menggandeng Mito keluar.

Jelas sekali bahwa Hashi akan membawa Mito bersamanya.

"APA MAKSUD KAKAK?" Tobi setengah berteriak, protes dengan tindakan kakaknya. Ia tahu Toka tidak akan suka melihat Hashi bersama wanita lain, sekalipun wanita itu istrinya. Masih terbayang wajah dingin Toka saat melihat undangan pernikahan Hashi dan Mito. Meski Toka tidak mengatakan apa-apa, tapi sewaktu upacara dan pesta pernikahan ia tidak datang.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, dan tenagaku sekarang tidak cukup." Hashi menegaskan, memegang tangan Tobi kuat-kuat. "Mito akan membantuku."

Tobi sulit mempercayai bahwa kakaknya yang sangat kuat dan hebat itu sedang kehabisan cakra. Belakangan ini kakaknya memang sering melimpahkan tugas kepadanya dan pergi secara mendadak bersama istrinya, tapi bagaimana bisa cakra kakaknya berkurang drastis?

.

.

Kediaman Toka Senju masih berada dalam wilayah Klan Inti Senju, hanya saja berada di dekat bukit. Memang sedikit menyusahkan, tapi primadona Senju yang dingin dan tegas itu lebih menyukai suasana yang sepi. Bila dilihat dari hubungan darah, ibu Toka masih satu darah dengan ayah kedua bersaudara itu.

Malam itu Tobi bersama kakak dan kakak iparnya langsung menuju kamar Toka yang terletak di ujung lorong. Dari gerak-gerik mereka, Mito menyadari bahwa kedua bersaudara itu pasti sudah sering bertandang ke sana, apalagi Hashi yang dengan seenaknya masuk lebih terlebih dahulu ke tempat tidur Toka. Perlahan Mito memahami alasan keterkejutan Tobi dan raut wajah Hashi ketika memintanya pergi.

Toka Senju pasti wanita yang dulu sempat disinggung oleh Tobi.

Kamar Toka nyaris sama suramnya dengan kamar Hashi, tapi terdapat sentuhan yang lebih eksentrik lagi. Terdapat kaligrafi dan lukisan naga hijau yang melintasi bukit berukuran besar di tengah, sementara terdapat banyak tumpukan buku di kiri dan kanan kamar.

"Siapa yang—" Toka membuka sedikit matanya ketika ketiga shinobi itu masuk, wajahnya pucat bagai kapas terutama saat menatap Hashi. "Pergilah, aku tidak mau diperiksa, nanti…"

Tanpa mengindahkan keberatan Toka, Hashi langsung menarik sebelah tangan Toka dan memeriksanya. "Racunnya sudah menyebar separah ini… bisa kau murnikan cakranya, Mito?"

"Jangan, nanti kau yang akan celaka…" Toka menggeleng lemah, berusaha menarik lengannya. "Jangan lakukan, Hashi-san…"

Mito mengangguk, lalu dengan gerakan yang cepat ia membersihkan racun yang berada di dalam tubuh Toka. Pada awalnya tidak ada masalah, namun saat setengah jalan mendadak Mito memuntahkan banyak sekali darah segar dari mulutnya.

"Uhukk!"

"Mito! Tahan sebentar!" Hashi serentak memutuskan aliran cakra Mito dan Toka, lantas menahan tubuh istrinya itu. Aliran cakra Mito sempat kacau, tapi dengan cepat gadis berambut merah itu menyembuhkan dirinya. Menyadari bahwa Mito tidak memerlukan bantuannya, dengan gesit Hashi meneruskan pemurnian cakra Toka. "Jebakan dua arah seperti ini, tidak salah lagi, pasti Chiyo dari Sunagakure si ahli racun."

Hashi menggumamkan beberapa kata yang tidak jelas, sepertinya memang Chiyo dan dirinya sering pula bersitegang. Setelah semua proses memurnikan racun selesai sepenuhnya, Ketua Senju itu lalu bertanya kepada Mito, "kau baik-baik saja? Apa serangan tadi—"

"Aku tidak apa-apa, yang penting pergerakan racun dalam darahnya sudah terhenti." Mito mengelap darah dari mulutnya. "Dia butuh banyak sup bawang putih untuk menetralisir racun yang tersisa."

"Begitukah?" wajah Hashi seketika berubah lega. Kelegaan yang menjadi racun bagi Mito. "Toka-san sudah selamat…"

Tanpa berkata apa-apa Mito segera beranjak dari kamar Toka, lalu menuju halaman luar. Hatinya terasa luar biasa panas. Tatapan Hashi yang penuh khawatir saat memandang Toka yang terluka, dan kelegaan Hashi saat mengetahui bahwa kondisi Toka sudah baikan bukanlah hubungan biasa. Tadi wanita ini memanggil Hashi-san? Hashi-san? Dan apa panggilan suaminya tadi? Toka-san?

Kenapa mereka tidak menikah saja? Kenapa harus menikahi dirinya?

Tanpa terasa air mata perlahan-lahan menetes dari wajah Mito, jatuh satu demi satu ke atas tanah. Gadis itu terus berjalan keluar, entah hendak pergi ke mana dia tidak tahu. Yang ia tahu, ia tidak mau terus berada di dekat Hashirama Senju. Menyebalkan, Hashirama si Bonsai Menyebalkan. Pria mesum. Idealis gila yang rela mengorbankan nyawa demi sesuatu yang bisa ia tidak pahami. Kebahagiaan semua orang apa?

.

.

Tanpa mengetahui kegundahan hati Mito, keesokannya Hashi mengajak istrinya pergi ke menengok Desa Konohagakure yang sudah setengah jadi. Sebenarnya Mito tidak mau turut serta, tapi Hashi memberitahukan bahwa di sekitar Negara Hi ada desa korban perang yang membutuhkan tenaga medisnya. Semarah-marahnya Mito, ia tidak tega membiarkan mereka semua terus menderita dan terluka. Jadilah ia pergi bersama Hashirama dan rombongan Senju ke sana.

Sepanjang perjalanan Mito terus berdiam diri tanpa mengatakan apapun, membuat Hashi bertanya-tanya apa masalah yang ada di antara mereka. "Apa kau sakit?"

Mito membuang wajahnya ke samping, lalu memerhatikan pemandangan tidak menarik yang ia lihat sepanjang jalan. Berbeda dengan Hutan Barat maupun Desa Uzushiogakure, Negara Hi yang memiliki cuaca cerah sepanjang tahun membuat perasaan Mito sedikit lebih ceria.

"Apa kau marah kepadaku?" Hashi menahan lengan Mito, tapi yang ia ajak bicara malah melengos, seolah tidak melihatnya. Sesabar-sabar Hashi, mana tahan kalau terus didiamkan seperti itu. "Lihat sini kalau aku mengajakmu bicara."

"Apa sih—"

DRAP DRAP DRAP

Mendadak pasangan suami istri itu terdiam saat melihat rombongan lain yang melintas, Klan Uchiha. Klan Uchiha mudah dikenali di antara banyak klan lainnya. Rambut gelap dengan kedua mata gelap yang menyala ketika bertempur, aura dingin sekaligus mencekam yang mengelilingi mereka tidak bisa dimiliki oleh klan manapun. Madara yang berada di barisan paling depan, tersenyum penuh makna ketika Mito dan Hashi menoleh ke arahnya.

Pemimpin Uchiha itu perlahan menghampiri mereka, "kebetulan sekali bisa bertemu dengan kalian di sini, apa kita sudah ditakdirkan untuk hidup bersama, Mito Uzumaki?"

Dengan segera Hashi menempatkan Mito di belakangnya, "Mito Senju, maksudmu?"

"Ah, aku tidak pernah tahu bahwa kau bisa menjadi seprotektif ini, Hashi-san, bahkan untuk sesuatu yang belum pasti akan menjadi milikmu." Madara tertawa renyah, lalu menambahkan dengan suara pelan. "Aku belum menyerah untuk urusan apapun."

Hashi tidak membalas perkataan Madara, tapi wajahnya mengeras. Sementara Mito yang berada di belakang Hashi, meskipun ia tidak bisa melihat wajah suaminya itu, tapi ia dapat memahami perasaan suaminya. Ada kesedihan terpendam di sana.

"Sampai bertemu lagi, aku pergi lebih dulu." Madara pamit, lalu kembali ke rombongannya. "Jangan lupa apa yang sudah kukatakan barusan, Hashirama Senju."

.

.

Baik rombongan Senju dan rombongan Uchiha tiba nyaris bersamaan di Konohagakure. Para tetua klan, Pemimpin Negara Hi, dan para bangsawan Hi yang telah tiba lebih dulu bersama dengan para pengikutnya segera menyambut Hashirama dan Madara dengan senyum lebar. Pesta penyambutan besar-besaran diadakan, terlepas dari isu kelaparan dan kekeringan yang parah di desa sekitar perbatasan sana. Mito dengan berat hati menyaksikan semua itu, politik aliansi pertama setelah perang saudara berkepanjangan, dan berharap semua dapat berjalan dengan lancar.

Suasana pesta semakin membosankan semakin malam, apalagi Mito terpisah dari Hashi. Entah apa yang pria itu tengah lakukan saat ini, ia berusaha untuk tidak peduli. Untuk apa memedulikan pria yang hatinya bercabang seperti Bonsai Menyebalkan, hanya membuat sakit hati saja.

"Kocok lagi dadunya! Aku tidak terima angkanya kecil, kali ini pasti menang!" terdengar sayup-sayup obrolan yang amat disukai oleh Mito beberapa langkah dari posisinya. "Aku mempertaruhkan semua uangku!"

"Bajingan tengik, bayar dulu tunggakanmu!"

"Cih! Kau pikir aku takut?" pria berambut pirang itu meludah sembarangan. "Seberapa besar tekadmu, hah?"

Terdengar gemerincing uang yang dilempar ke atas meja, juga bunyi dadu yang dikocok dengan keras. Harum sake yang segar ikut hadir, membuat Mito teringat akan semua kebebasannya sebelum masuk ke Keluarga Senju. Oh, betapa ia merindukan semua hal itu! Ingin sekali ia mengganti pakaiannya dan menyamar menjadi pria, bergabung dengan berandalan, mempertaruhkan semua pundi-pundi di kantungnya!

"Tidak kukira Mito-san menyukai hal seliar ini?" suara Madara yang santai terdengar di belakang Mito, membuat gadis itu terlonjak. "Maaf, apa aku boleh memanggilmu seperti itu?"

Mito mencoba tersenyum, tapi wajahnya terlalu kaku lantaran kaget. Dipergoki sedang memerhatikan para pria yang asyik pesta minum dan berjudi bukanlah sesuatu yang terjadi setiap hari, dan ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.

"Ah, terdiam berarti setuju, Mito-san?" Madara kembali berkata, lalu memandang ke arah kaki bukit yang sepi. "Maukah kau menemaniku berjalan-jalan sebentar? Atau kita perlu meminta izin dari suamimu terlebih dahulu? Aku rasa Hashi-san berada tidak jauh dari tempat kita—"

"Tidak perlu, aku tidak butuh izinnya untuk melakukan apapun yang aku mau." Mito langsung menjawab ketika Madara menyinggung Hashi. Rasa kesal masih menyelimuti segenap perasaannya. "Aku merasa terhormat bisa menemanimu, Madara Uchiha."

"Panggil aku Madara, seperti aku memanggilmu, Mito-san." Madara menyodorkan sebelah tangannya ke arah Mito. "Panggil aku Madara saja…"

Seperti kau memanggil kematian untuk Hashirama.

.

.

Madara Uchiha memang sesuai dengan apa yang selama ini dibayangkan oleh Mito, cakap, berpengetahuan luas, dan sama sekali tidak membosankan. Topik yang dibicarakannya selalu menyenangkan. Sekalipun terdengar arogan, tapi setiap kata yang diucapkannya begitu menarik. Bertolak belakang dengan Hashirama si pria membosankan.

"Apa kau pernah mendengar legenda kuno mengenai siluman rubah, Mito-san?" Madara mengangkat sedikit alisnya. "Siluman rubah yang berasal dari penjelmaan Dewi Bulan, lahir pada saat bulan purnama pada awal tahun. Sosoknya ditakuti, sekaligus dikagumi."

"Aku tidak pernah mendengar semua itu…" Mito sangat tertarik dengan penjelasan Madara. "Tolong lanjutkan, Madara."

Madara tersenyum sebentar, memamerkan seringai tipisnya yang memukau. "Ketika siluman rubah datang ke bumi, ia tidak memiliki perasaan maupun keinginan apapun, tapi ia sangat tertarik dengan para manusia, dan perkembangan emosi mereka. Siluman ini akan tersenyum ketika manusia merasa senang, dan bersedih ketika manusia menangis. Sayangnya, saat itu seluruh dunia diliputi oleh kepedihan, dan wabah melanda berbagai tempat."

"Menarik sekali." Mito ingin tahu lanjutannya. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"

"Tahun demi tahun, siluman rubah menyerap berbagai emosi negatif manusia, menjadikannya sebagai makhluk yang dipenuhi oleh dendam, dan kebencian terhadap manusia. Para manusia yang awalnya ia kagumi menjadi sumber kekuatannya—setiap kebencian membuatnya semakin kuat dan penuh dendam. Menurutmu, apa yang dilakukan oleh para manusia?"

Mito terdiam sesaat. "Apakah siluman ini siluman berekor—bijuu?"

"Aku menyukai instingmu yang cerdas, Mito-san." Madara memuji Mito, lalu menatap langit hitam cerah yang dipenuhi oleh bintang di atas mereka berdua. "Manusia menyegelnya, ketakutan jika siluman ini akan memangsa mereka, padahal awalnya mereka yang menjadikannya seperti itu. Apakah para manusia itu tidak merasa bersalah karena telah menyebabkan perubahan yang ada? Apa para manusia tidak layak mendapatkan hukuman atas kesalahan mereka?"

"Kesalahan?" Mito sulit memahami apa yang dimaksud oleh Madara.

"Tiga pilihan, Mito-san… pertama, para manusia menyadarkan siluman ini bahwa masih ada cinta, kebaikan hati tulus yang percaya akan satu sama lain, atau pilihan kedua, para manusia mengurung siluman ini selamanya, berharap siluman rubah akan lenyap, menghilang seiring berjalannya waktu."

Mito menggigit bibirnya. Apa maksud Madara membahas hal ini? Apa Madara mengetahui mengenai latihannya mengurung bijuu dengan Hashi?

"Pilihan terakhir, para manusia melepaskan siluman ini, membiarkan siluman ini memangsa semua keburukan yang ada, dan memulai semuanya dari awal, dunia baru yang ideal…"

"Madara…"

Mendadak Mito seperti tenggelam dalam kegelapan pekat yang hangat, sesuatu yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Ia tahu seharusnya ia merasa takut dengan apa yang tengah terjadi, tapi ia tidak merasakan hal itu. Di sebelahnya Madara tersenyum, menggenggam sebelah tangannya dengan erat. Pria tampan itu berbisik mesra, "jadilah milikku, kita bangun dunia kita bersama."

Mito tidak tahu harus menjawab apa, pikirannya terbagi antara kesetiaan dan kebenciannya terhadap Hashirama. Katakan, hal seperti apa yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan berbuat apa saja untuk menghentikan perang, Mito. Sekalipun nyawaku taruhannya, tapi aku tetap akan menciptakan kebahagiaan baru bagi semua orang.

Mendadak Mito melihat sebuah penglihatan yang berbeda, setiap orang yang tertawa bahagia. Dunia tanpa kekerasan, dipenuhi oleh kehangatan. Madara berada di sana, di antara mereka. Tersenyum ke arahnya.

"Kita wujudkan kebahagiaan kita sendiri, Mito-san."

.

.

"Terima kasih telah menjaga istriku selama aku sibuk, Madara." Hashirama muncul secara tiba-tiba di sebelah Mito. Sekalipun kata-katanya tenang dan datar, tapi dari deru napasnya yang belum teratur, tampak sekali bahwa Hashi telah mencari-cari mereka dengan tergesa-gesa. "Terima kasih telah menjaga Mito-ku."

"Hmm, sepertinya penjagamu sudah datang, Mito-san." Madara tersenyum kecil menatap Hashirama, lalu kedua matanya berpindah kepada Mito. "Jangan lupa apa yang telah kukatakan tadi. Baiklah, sepertinya sudah saatnya aku pergi."

Setelah Madara pergi, Mito pun segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan Hashi tanpa penjelasan apapun. Sejak menolong Toka seminggu lalu, mereka memang perang dingin. Ia menolak bicara dengan Hashi, sementara Hashi yang sibuk pun malas memedulikan mood Mito yang buruk. Akibatnya hubungan keduanya merenggang.

"Genjutsu macam apa yang telah dia perlihatkan kepadamu?" suara Hashi yang biasanya datar terdengar kasar. Kalau Mito tidak mengenal suaminya dengan baik, pasti ia akan menyimpulkan bahwa Hashi cemburu terhadapnya. Yang benar saja, masak pria seperti Hashi bisa cemburu?

"Katakan, ilusi apa yang dia tunjukkan?"

"Apa urusanmu?"

"Apa urusanku?" Hashi balik bertanya, wajahnya memerah. Mito sulit percaya bahwa Hashi—Hashirama Senju bisa menunjukkan ekspresi demikian. "Kau lupa kita sudah menikah? Apa kau sudah melupakan kewajibanmu terhadapku?"

"Memangnya kau tidak punya kewajiban untukku? Lebih baik urus saja Toka-san sana!" Mito tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi. "Urus saja wanita yang benar-benar kau sukai—"

SETT

Hashirama mencium bibir Mito dengan ganas, seakan menyatakan bahwa Mito adalah miliknya, wanitanya. Mito merasa sangat kesal, dan berusaha menghindari ciuman demi ciuman Hashi, namun ia tak kuasa menolak sentuhan yang sangat familiar dan disukainya. Meskipun awalnya ia menolak, tapi perlahan kedua tangannya mulai menggelantung di leher suaminya.

Mito mendesah pelan saat ciuman Hashi mulai melibatkan permainan lidah, membuainya. Belum lama ini ciuman mereka memang menjadi semakin intens, walaupun Hashi masih juga belum menyentuhnya.

"Jadilah milikku malam ini, Mito…" Hashi berbisik penuh hasrat di telinga istrinya, pelukannya semakin erat. "Jadilah milikku…"

.

.

.


Sekali lagi, terima kasih sudah membaca, ya. Kalau sempat silahkan tinggalkan komentar atau apalah juga boleh, ahahaha. Apabila ada pertanyaan lebih baik login biar langsung dibales. Sampai jumpa di karya berikutnya~!