Catatan: terima kasih atas dukungan kalian, benar-benar menyenangkan rasanya kebersamaan kita dalam fic ini. Sebisa mungkin gak akan ada OC, apalagi kisah Naruto punya banyak karakter. Tapi kalian boleh juga tuh menyarankan anak Hashi/Mito bakalan laki-laki atau perempuan untuk chapter depan, ditunggu loh. Okelah, selamat membaca, semoga terhibur~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Peringatan: lemon implisit, perjudian, peperangan, kata-kata kasar bergelimpangan


.

.

.

Bonsai Guy and His Pretty Gambler part 4

.

.

.

Klan Senju dikenal sebagai klan yang terdepan di antara klan-klan lain karena penggunaan jurus dari berbagai elemen dan pemanfaatan cakra mereka yang besar. Selain itu, kebanyakan dari mereka pun memiliki kemampuan regenerasi sel tubuh yang lebih cepat dalam waktu singkat. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, nama Klan Senju semakin terkenal sejak dipimpin oleh Hashirama—Ketua Senju yang mampu memaksimalkan penggunaan dan pengkombinasian jurus dari banyak elemen, dan juga memiliki sifat pembela kebenaran yang lebih tinggi daripada siapapun.

Sore itu langit terlihat begitu merah, menyinari sisa-sisa pertempuran yang baru saja berlalu di kaki bukit. Puluhan mayat saling tumpang tindih, wajah penuh kesengsaraan para shinobi yang selamat, dan bau anyir darah segar menarik perhatian para penikmat bangkai sama sekali tidak mengubah ekspresi gadis kecil itu, Toka Senju.

"Toka-nee, masih ada sisa darah di wajahmu…" Hashi melangkah maju dan menyerahkan secarik sapu tangan untuk sepupunya. Hashi, Tobi, dan sepupu-sepupu mereka terbiasa bertempur dalam medan perang sejak masih sangat belia, dan tidak jarang nyawa mereka menjadi taruhan. "Ehmm, agak sedikit kotor, tapi hapus saja dengan ini, Toka-nee…"

"Sudah kubilang jangan panggil aku neesan lagi, berapa kali harus kuperingatkan?" Toka sejenak mengerutkan keningnya dengan tidak sabaran, lalu mengambil sapu tangan itu dengan wajah memerah. "Kalau kita terus memanggil satu sama lain seperti itu, nanti kita tidak bisa menikah tahu."

"Me-menikah?" Hashi nyaris terpleset mendengar perkataan Toka. Apa menikah itu sesuatu yang enak dimainkan?

"Tidak bisa menikah dengan Toka-nee?" Tobi yang ikut muncul belakangan terlihat sangat terkejut, kedua tangannya dengan cepat menutup mulutnya sendiri. "Maaf, Toka-nee eh, eh Toka-nee… ehh…"

"Toka-san! Panggil aku Toka-san!" Toka menegaskan sekali lagi. "Pokoknya kalian berdua harus memanggilku begitu, dan ingat, kita bukan keluarga dekat. Kita ini cuma sesama Klan Senju saja."

"Me-memang ada apa sampai Toka-nee, ehh, To-toka memutuskan begitu?" Tobi tidak terlalu suka memanggil sepupunya yang sangat manis walau sedikit lebih tua dengan panggilan yang tidak akrab begitu.

Toka terdiam sejenak, teringat kejadian sewaktu ia menguping percakapan antara para paman dan ayahnya sewaktu mereka berlatih minggu lalu. Ayah Hashi berencana memperluas keluarga inti, menikahkan kedua putranya dengan keluarga di luar Klan Senju. Selama ini keluarga inti selalu menikahkan sesama anggota keluarga, dan Toka pun sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saudara sepupu sekaligus teman sepermainannya itu akan menikahi gadis lain yang tidak pernah ia kenal. Rasanya dadanya terasa tertusuk-tusuk oleh shuriken tanpa wujud.

"Tapi rasanya aneh…" Tobi tidak setuju, lalu menggeleng-geleng. "Lebih baik 'kan tetap memanggilmu—"

"POKOKNYA KALIAN TIDAK BOLEH MEMANGGILKU TOKA-NEESAN LAGI!"

Hening sejenak.

Dari kejauhan terdengar terompet perang mengaung keras, tanda dimulainya peperangan yang lain. Padahal mereka baru saja selesai bertarung, dan tenaga mereka sudah terkuras habis. Toka menunduk, menguatkan ikatan sepatunya. Bodoh, kenapa dia bisa semarah itu, bagaimana kalau Hashi membencinya?

"Toka-san!" Hashi tersenyum ceria, "Mulai sekarang, aku akan memanggilmu begitu, ya?"

"Hashi… Hashi-san…"

Wajah Toka bersemu merah, membalas senyuman Hashi. Tinggal Tobi yang kebingungan dengan ulah kedua saudaranya, tidak tahu harus mengatakan atau bersikap seperti apa. Tapi melihat raut wajah Toka yang memerah saat melihat Hashi, sekalipun cemburu, ia mengerti betapa besar arti kakaknya itu di hati Toka.

.

.

Tahun semakin berlalu, dan korban peperangan semakin bertambah. Masing-masing desa terus saja merebutkan wilayah, jurus, ataupun harga diri. Nyawa yang seharusnya berharga kini tak ada ubahnya dengan sampah belaka. Entah, kapan semua ini akan berakhir.

Hashi dipanggil oleh ayahnya langsung ke ruangan rapat Senju, membicarakan tentang perjodohannya dengan putri sulung Ketua Uzushiogakure sebagai salah satu aliansi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ayahnya sangat memuji pengantin pilihannya, dan berkata bahwa tunangan Hashi adalah gadis terbaik yang pernah ada, cantik, anggun, dan pemberani.

"Ayah tahu bahwa selama ini kau dekat dengan Toka, tapi sebagai calon pemimpin berikutnya, ayah tahu kau pasti mengerti mana yang harus kita dahulukan." Ketua Senju yang bijak itu berkata perlahan, lalu melanjutkan sambil memandang kedua mata anaknya. "Ini demi memperkokoh kedudukan klan kita."

Hashi sebenarnya ingin menggebrak meja dan memberontak, berkata bahwa ia tidak suka diatur. Akan tetapi ia memiliki banyak beban di pundaknya, dan alih-alih malah berkata tertahan, "aku mengerti, ayah."

Pernikahan politik dengan putri Klan Uzushiogakure bukanlah persoalan bagi Hashi. Sejujurnya, ia tidak memiliki masalah menikah dengan siapa saja karena jujur saja, ia tidak peduli. Toka memang jelas-jelas menaruh hati dan menunjukkan perasaan kepada calon Ketua Senju itu, tapi Hashi tidak pernah membalas perhatian sang sepupu. Dan lagi, Ia sudah pernah beberapa kali melihat gadis itu, Mito Senju. Mito Senju, gadis cantik yang pendiam, berbakat, dan tidak memiliki cela. Mungkin Mito adalah gadis idealnya. Ya, Mito adalah gadis impiannya…

Siapa yang sedang ia tipu sebenarnya?

Baiklah, meski Hashi sudah berkali-kali membatin bahwa siapapun yang ia nikahi bukanlah masalah, dan mungkin hidup membosankan dan tanpa hasrat kelak akan menjadi bagian dalam hidupnya, tapi tentu saja ia berharap—sedikit berharap—bahwa istrinya kelak seseorang yang memiliki jiwa menarik yang bebas seperti halnya dirinya sendiri. Ia menginginkan wanita yang mampu membicarakan apa yang ia pikirkan, wanita yang mampu mengimbangi semua pemikirannya. Sepertinya Mito Senju bukanlah wanita seperti itu.

Wanita baik-baik dan berkelas seperti Mito adalah tipe istri baik hati yang akan menuruti semua kemauannya tanpa membantah. Wanita seperti itu bagaikan bunga yang terawat dengan indah, siap dipetik bila sudah waktunya. Tapi semuanya berbalik saat ia tengah meminum sake di suatu warung judi.

Kala itu, Hashi yang tengah menunggu kedatangan beberapa rekannya sambil sesekali mencoba peruntungannya di meja judi dikejutkan oleh kedatangan seorang pemuda berambut merah.

.

.

Malam berkabut itu Hashi tengah meminum sake di tangannya dengan penuh rasa bosan, lantas beberapa kali ia memerhatikan perubahan cuaca yang buruk, hujan deras yang seakan tidak ada akhirnya, suara guntur yang memekakkan telinga terdengar berkali-kali. Ia tidak terlalu suka bermalam di daerah Amegakure, tapi rekan sekaligus informannya sudah berjanji untuk menemuinya di sana. Hiburan malam itu hanyalah beberapa orang payah yang berjudi dengan kemampuan seadanya. Bodoh sekali, berani melawan dirinya, mempertaruhkan beberapa jumlah uang yang cukup lumayan. Yah, tidak apa untuk menambah jumlah uang di saku, pikir Hashi singkat.

Dari beberapa orang yang ia perhatikan, sesosok pemuda berambut merah yang paling menarik perhatiannya. Pemuda itu beberapa kali memenangkan banyak ronde, lalu mengantongi semakin banyak uang. Tatapan tajam dan kata-kata pemuda itu saat mempecundangi lawannya sempat membuatnya tertawa.

"Kalian semua terlalu membosankan, terlalu lemah! Siapa lagi yang berani menantangku?" Pemuda itu berteriak dengan gagah, lalu mengentakkan sebelah kakinya ke atas meja. "Kupertaruhkan semua uang yang berada di sini!"

BRAKKKK

Sekantung uang yang mungkin terdapat beberapa ratus ryo, dan itu bukan tawaran yang yang mungkin ia lewatkan begitu saja. Hashi bukanlah seorang penjudi amatir, ia tahu beberapa peraturannya, dan sejauh ini ia selalu beruntung dalam mengadu nasib.

Hashi tersenyum kecil dan maju, sementara banyak orang yang memerhatikan dia. Hashirama Senju bukanlah pria mencolok, dan dalam penyamaran ia terlihat seperti pria biasa. Tapi, mendadak ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak bisa ia duga sebelumnya. Tidak mungkin, keluh Hashi dalam hati, pancaran cakra ini bukankah berarti dia adalah…

"Apa pemuda membosankan ini berani menantangku, Uzumaki Mitoru?"

.

.

Hashi tidak bisa mengatakan bahwa malam dulu itu ialah pria membosankan yang telah mengalahkan Mito secara menyedihkan di meja judi, tidak mustahil Mito meminta pertandingan ulang. Bukannya ia tidak mau berjudi, tetapi yang benar saja, kedudukan dan posisinya tidak bisa dipertaruhkan di meja judi seenaknya. Tapi satu hal yang pasti, malam itu ia menyikap wujud asli Mito, jiwanya yang menggelora dan panas. Malam berkabut itu, ia telah jatuh cinta kepada Mito, istrinya kini. Ya, malam itu Mito telah mendekap jiwanya.

"Jadilah milikku, Mito…" Hashi mendesah pelan, sebelah lengannya memeluk Mito dengan kuat. Ia tidak tahan melihat Mito yang bicara dengan sangat akrab dengan Madara, hatinya tidak tenang. Ia tahu Mito bukan wanita yang mudah terpikat oleh keramahan yang dibuat-buat maupun kekuasaan, tapi ia jelas paham Madara memiliki daya tarik tersendiri. "Jadilah milikku malam ini…"

"Hashi…" Mito menggigit bibirnya. Apa mungkin Hashi membayangkan tubuh Toka sebagai dirinya selama ini? Apa selama ini Hashi menyentuhnya karena mengira dirinya adalah wanita lain? Oh, betapa menyedihkan nasibnya berakhir seperti…

"Mito, Mito sayangku…" Hashi menarik ikatan rambut Mito, mengurai rambut kemerahan yang tebal dan panjang itu dengan jemarinya. Semua Uzumaki berambut merah, tapi baginya, rambut merah Mitolah yang paling indah, dan menarik, bagaikan sinar mentari pagi yang menyilaukan dan membius matanya. Perlahan ia mengecup pipi, dagu, dan leher wanita yang ia cintai. Apapun yang ia lakukan, semuanya terasa tidak pernah cukup. Setiap kali ia menyentuh Mito, ia ingin terus menyentuh wanita itu, lagi dan lagi. "Mito, aku sangat, sangat menginginkanmu, hanya dirimu…"

Mito mengerang pelan. Sentuhan Hashi terasa sangat panas di kulitnya, dan dadanya berdegup semakin kencang. Setiap kali Hashi menyentuhnya, ia tidak tahu harus melakukan apa, maupun berpikir apapun. Kepalanya mendadak kosong, tapi ia tahu bahwa ia pun menginginkan Hashi. Ia sangat menginginkan Hashirama Senju.

"Hashi-san…"

Mendadak Mito merasa tanah di sekeliling mereka runtuh, dan entah bagaimana tubuhnya terasa terapung ke atas. Hashi tersenyum penuh arti menatapnya, bibirnya membentuk seringai nakal.

"Mungkin lebih romantis dengan ruangan di atas gunung sana, sayang?"

Mito belum sempat membalas apapun ketika Hashi memeluknya dengan erat, lalu membungkam bibirnya dengan ciuman yang sangat lembut, dan terasa sangat manis. Ia tidak tahu apalagi yang terjadi, ciuman Hashi kini menghujani seluruh tubuhnya.

Seketika Mito merasa sangat malu, dan membuang pandangannya ke samping. Ia tidak berani melihat apa yang kini dilakukan suaminya. Rasanya sangat mendebarkan sekaligus menakutkan. Bukan, ia bukan penakut, tapi… tangan Hashi meraih wajahnya, lalu kedua mata yang gelap itu menatap kedua mata Mito dalam-dalam.

"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu… ah… betapa… betapa aku sangat menginginkanmu…" Hashi berkata lamat-lamat. "Mito, aku sangat mencintaimu…"

Mito tidak ingin percaya dengan apa yang dikatakan suaminya yang sangat menyebalkan dan membosankan, tapi kedua mata Hashi terlihat sangat jujur, dan betapa kedua mata itu seolah mengatakan jutaan kata cinta untuknya. Tatapan pria itu bukanlah kebohongan. Hashi memang sangat mencintainya. Oh, ia pun sangat, sangat mencintai Hashi.

Ia sangat mencintai Hashi. Itulah sebabnya ia sangat cemburu dengan Toka yang besar bersama suaminya. Ia benci karena tahu Hashi begitu mendedikasikan dirinya untuk desa sekaligus menempatkan dirinya di posisi sekian. Ia membenci Hashi, karena ia tahu Hashi mengisi dirinya, dan pikirannya.

Mito membalas ciuman Hashi, mengusap dada Hashi yang bidang dan selalu mendebarkan hatinya. Terasa degupan yang tidak beraturan di sana. Suaminya pun gugup, pikirnya. Hashi-nya pun gugup.

"Diam-diam kau menertawakanku, ya?" Hashi menekuk wajahnya sesaat, lalu mengelus pipi Mito dengan pelan. "Lihat apa setelah ini kau masih bisa tertawa…"

Mito mendesah saat Hashi menempatkan dirinya di bawah tubuhnya, lalu kembali menciumi bibirnya dengan lembut. "Aku tidak sabar lagi, Mito…" bisik Hashi dengan suara yang agak berat, mulai dikuasai oleh nafsu. "Aku ingin kau sepenuhnya menjadi milikku…"

Mito mengangguk pelan, "jadikan aku milikmu, Hashi… aku… aku… aku pun…"

"Hmmm…" Hashi menatap Mito sekali lagi, tersenyum singkat. "Aku tahu…"

.

.

Pertemuan yang sangat membosankan, batin Tobirama dengan wajah sangat kesal. Beraninya Hashi meninggalkan tugasnya seenaknya seperti ini lagi. Lain kali akan kuhajar dia, pikir Tobi, semakin kesal. Sekalipun Hashi pemimpin yang bertanggung jawab dan berbakat, tapi kakaknya itu terkadang bisa menjadi sangat seenaknya. Apa Hashi bertualang dan bermain judi di desa terdekat? Bukankah ia sudah bersumpah takkan bermain judi lagi setelah menikah?

"Ah, Senju-sama!" seorang kakek tua menghampiri Tobi, lalu menyeretnya ke pertemuan lain yang berkisar di pembagian air dan wilayah desa berdasarkan latar belakang keluarga dan umur tiap keluarga. Tobi tahu pertemuan semacam itu takkan pernah berlangsung dalam waktu sejam maupun dua jam. Paling sedikit empat jam, dan itu pun bila ia beruntung. Malam yang sial, dan semua itu salah Hashi…

"Marilah kita berkumpul, Uchiha-sama sudah menunggu."

Semakin sial, bahkan pria brengsek itu sudah berada di pertemuan, Tobi menghela napas dengan sangat berat. "Baiklah…"

.

.

Malam semakin larut saat Mito menggigit bibirnya dengan keras, lalu menatap Hashi dengan susah payah. Rasanya menderita sekali setiap kali Hashi bergerak di dalam tubuhnya. Ia ingin berteriak, tapi ia tak sanggup. Hashi tahu itu, tapi ia tidak bisa berhenti.

"Mito…" Hashi memanggil namanya pelan sekali. "Kau tidak tahan, ya? Apa—"

Mito menggeleng lemah, lalu mengusap wajah pria yang sangat ia cintai itu. Penyatuan tubuh mereka, cinta fisik yang disertai luapan emosional seperti ini membuatnya sangat bahagia. Ia tidak tahu harus berkata apa, tapi seluruh dunianya terpusat kepada Hashi, dan setiap sentuhan Hashi bagaikan seperti menyentuh jiwanya. "Teruskan saja… aku bisa menahannya… lagipula… lagipula ini membuatku… membuatku sangat senang…"

Hashi tersenyum lirih, "kau… kau yakin tidak apa…?"

"Bisa… bisa kau cium aku sekali lagi?" Mito meringis pelan, dan kembali mengerang. "Oh, Hashi…"

Mito nyaris kehilangan kesadarannya saat mendadak tubuhnya terasa sangat panas, membuat akalnya hilang. Hashi merengkuhnya demikian erat, memeluk dirinya. Mito tahu, ia telah membuat Hashi menjadi pria yang paling bahagia di muka bumi—begitu juga dirinya. Entah takdir apa yang menunggu mereka nanti, tapi yang pasti, mereka saling memiliki.

.

.

.


Sekali lagi, terima kasih sudah membaca, ya. Maaaf banget klo pendek, nih. Kalau sempat silahkan tinggalkan komentar atau apalah juga boleh, ahahaha. Sampai jumpa di karya berikutnya~!