Kon'nichiwa, all! Hehehe, kembali di fandom Doki-doki Tamatan bersama Chang-san...! XD Lama tidak bertemu di fandom ini :D Nah, silahkan baca, semoga suka!

Doki-doki Tamatan © Koge Donbo

Princess Bunny Girl, Tamae © Chang Mui Lie

Character: Tamae Nishikiori, Tsukiakanemiko, Hanae Matsudaira, Nozomi Kazama, Miharu Misora, Tsukiyoi No Miko

WARNING: GAJE, TYPO, KEPO, OOC, OOT, DLL

AUTHOR NOTE:

1. Di fanfic ini, marga Nozomi di ubah menjadi 'Misora'.

2. Di fanfic ini, Hanae adalah adik Tsukiakanemiko & Tsukiyoi No Miko.

3. Nama Hanae di ubah menjadi 'Tsukihanaemiko'

.

.

.


Tamae membersihkan halaman depan rumahnya yang penuh dengan daun. Sehabis membersihkan halaman depan, Tamae harus mencabut rumput-rumput yang ada di halaman belakang. Sehabis mencabut rumput, Tamae harus mencuci semua piring dan gelas yang ada di bak cuci. Setelah mencuci piring, Tamae harus membeli sayuran yang ada di kota. Rumah Tamae dengan jarak kota sangatlah jauh. Sungguh banyak pekerjaan Tamae.

Tamae tinggal bersama dengan bibi dan sepupunya. Tamae adalah anak yatim-piatu sehingga ia harus di rawat oleh bibi dan kakak sepupunya yang jahat. Bibinya bernama Miharu Misora dan kakak sepupunya adalah Nozomi Misora yang biasanya di panggil 'Nonnon-nee' oleh Tamae.

"Tama-tan! Tama-tan!" panggil bibinya, Miharu.

"Ah, iya! ada apa, bi?" tanya Tamae.

"Pekerjaanmu sudah selesai belum? kalau sudah, cabut rumput-rumput yang ada di halaman belakang. Ingat! jangan sampai aku melihat ada sisa-sisa rumputnya!" kata bibi Miharu.

Tamae tidak membalas perkataan bibinya. Ia hanya menghela napas dan terpaksa harus menerima nasibnya yang seperti 'babu'. Tamae kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu menyapu daun-daun yang berserakan.

"Hahh... kenapa nasibku harus seperti ini?" tanya Tamae.

Selesai Tamae menyapu halaman depan, ia segera pergi menuju halaman belakang. Tamae mencabut rumput-rumput yang ada di halaman belakang hingga habis dan tak ada yang tersisa. Selesai mencabut rumput, Tamae masuk ke dalam rumah dan segera mencuci piring. Setelah itu, Tamae mengambil daftar belanja.

"Biᅳ"

"Jangan panggil aku bibi. Panggil aku nyonya" suruh bibi Miharu.

"NyoᅳNyonya, aku... pergi belanja dulu" pamit Tamae.

"Hn. Jangan pulang sampai kau mendapatkan semua yang ada di daftar belanjaan itu" kata bibi Miharu.

"BaᅳBaik..., nyonya..." balas Tamae.

Tamae segera pergi menuju kota dengan jalan kaki. Ketika melewati hutan, Tamae tiba-tiba merasakan hembusan angin yang cukup kencang. Tamae mendongak ke atas. Ia melihat ufo yang terbang dengan cepatnya menuju ke kota.

"HaᅳHahh?! ada ufo?!"

Tamae kaget ketika melihat ufo yang sudah terbang jauh. Ia pun mempercepat langkahnya menuju ke kota. Sampai di kota, Tamae membeli semua barang yang ada di daftar belanjaan.

"Perhatian! perhatian! akan di adakan sayembara untuk mencari tuan putri pendamping pangeran Tsukiakanemiko! Jika mau mendaftar, harap segera kesini!" teriak seseorang menggunakan toa.

"Huh?"

Tamae melihat segerombolan gadis-gadis yang berteriak histeris berlari menuju tempat pendaftaran. Tamae menjadi bingung akan hal itu. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melihat tempat pendaftaran itu. Namun, karena banyak gadis-gadis yang mengerumuni tempat itu, Tamae pun terjebak dalam tempat pendaftaran tersebut.

Tamae yakin ia akan di marahi oleh bibinya jika pulang terlambat. Karena Tamae terjebak dalam segerombolan gadis-gadis di tempat pendaftaran itu, ia pun memutuskan untuk mengikuti sayembara itu.

Ketika Tamae mendaftar, seorang berambut brown caramel yang bermata kuning emas melihat penampilan Tamae.

'Aneh sekali. Tidak biasanya ada gadis yang seperti dia mau mendaftar' Pikir orang itu.

Selesai Tamae mengisi formulir, ia di beri selembar kertas yang mirip dengan brosur.

"Jangan sampain kau tidak datang, ingat itu!" kata orang itu tegas.

"BaᅳBaik!" balas Tamae.

Tamae pun berhasil lolos dari kerumunan yang masih ramai itu. Alangkah terkejutnya dia ketika sekarang sudah mulai sore.

"TiᅳTidak! pasti bibi akan memarahiku!" kata Tamae langsung berlari.

Tanpa sengaja, ia bertabrakan dengan seorang gadis.

BRAKK!

"Ah!"

Tamae dan gadis itu terjatuh. Tamae segera bangkit, gadis itu pun ikut bangkit.

"GoGomen'nasai. Kau baik-baik saja?" tanya Tamae ramah.

Gadis itu memerhatikan Tamae dari kaki sampai kepala.

"AᅳAh... aku tak apa-apa, kok" jawab gadis itu.

Tamae memerhatikan gadis yang di tabraknya. Gadis itu memakai selendang biru muda di kepalanya yang terdapat 2 telinga kelinci putih dan mengenakan baju yang layaknya tuan putri yang roknya hanya selutut berwarna biru laut.

"Apa kau mengikuti sayembara itu?" tanya gadis itu.

"AᅳAh... iya. Shokai suru, watashinonamaeha Tamae Nishikiori desu. Onamaehanandesuka?" tanya Tamae.

"Watashinonamaeha Tsukihanaemiko desu, haikei!" jawab gadis yang bernama Tsukihanaemiko itu.

Hanae sekali lagi memerhatikan Tamae. Kemudian, Hanae mengeluarkan sebuah liontin kecil berbentuk bulan.

"Ini untukmu" kata Hanae.

"Hah? ini apa?" tanya Tamae.

"Ambil saja. Kau bisa meminta apa yang baik dari liontin itu. Jaga liontin itu baik-baik, ya" pesan Hanae.

Dengan ragu, Tamae pun menerimanya.

"Arigatogozaimasu, Haᅳ"

"Panggil aku Nya-chan saja. Oh iya, aku harus memanggilmu apa?" tanya Hanae.

"Ah, panggil aku Tama-tan saja. Sekarang sudah hampir malam, aku harus pulang. Arigatogozaimasu untuk liontinnya, Nya-chan!" kata Tamae sambil berlari pulang.

"Iya! doyo ni!" balas Hanae.

Tamae menyimpan liontin bulan itu di kantong bajunya. Tamae segera pulang ke rumah.


PLAKK!

Sebuah tamparan yang cukup keras jatuh ke pipi Tamae.

"Kau ini bagaimana, sih?! masa beli barang-barang segitu saja harus pakai lama! Dasar anak tak tau diri!" kata bibi Miharu.

"Kami kelaparan karena kau!" kata Nonnon.

"GoᅳGomen'nasai..." kata Tamae.

"Huh! dasar kau ini hanya menyusahkan kami saja!" bentak Nonnon.

"Itu benar sekali! pantas saja kau bisa menjadi anak pungut!" bentak bibi Miharu.

Tamae merasa sangat ingin menangis. Ingin sekali Tamae membalas perbuatan bibi dan kakak sepupunya itu. Namun, ia tetap bersabar.

"Bagaimana bisa kau lama membeli belanjaan yang harus kau beli?! hah?!" tanya bibi Miharu.

"GoᅳGomen'nasai, nyonya. Aku tadi terjeᅳ"

"Nee! mana mungkin okasanku mau memaafkanmu, mana mungkin?! itu tidak mungkin!" kata Nonnon.

"Pokoknya, malam ini kau tak boleh makan!" kata bibi Miharu.

"TaᅳTapi, nyoᅳ"

BRAKK!

Pintu kamar Tamae langsung tertutup dengan kerasnya. Akhirnya, air mata Tamae pun mengalir.

"Hiks... mengapa...? mengapa ini harus terjadi padaku...? hiks... mengapa...?" tanya Tamae.

Lama-kelamaan, Tamae merasa lapar dan haus. Sayangnya, bibi Miharu melarangnya untuk makan malam.

.

.

.

To Be Continued

Kon'nichiwa, readers!

Gimana ceritanya?

Gaje ya?

Mau tau kelanjutannya?

Kirim review kalian :D