xxXxx

Sapphire Blue

Series 2

Cast :: Super Junior Member.

Rate :: T.

Warning :: Genderswitch, OOC, AU, and Typos.

Disclaimer :: This story is mine. Casts in here were their own. And casts in here I'm just borrow their name. So you easily imagine the story. Don't bash the casts. Last, Kim Jongwoon a.k.a Yesung is mine.

xxXxx

Bab 17

Why I Like You

Kyumin

Kyuhyun menghela nafasnya lelah. Mata bulat berwarna cokelat muda nan jernih itu agak lelah karena terus-terusan memandang layar komputer karena sibuk menghitung. Setiap hari sepertinya tidak ada hari tanpa menghitung dihidupnya. Mungkin namja kurus yang mempunyai kulit lebih pucat dibanding manusia normal itu akan mati jika tidak mengerjakan satu soal matematika.

Tapi wajahnya kembali cerah ketika otaknya mengingatkan sesuatu padanya. Dengan senyuman khasnya, Kyuhyun mengambil ponselnya dan memotret dirinya. Dia bergaya aegyo dengan bibir yang dikerucutkan dan wajahnya dibuat terlihat semenderita mungkin. Setelah ia merasa foto itu cukup, dia mengirimkan foto itu pada kontak bernama Minnie dengan tanda love diakhir nama itu.

Ya, Minnie. Lee Sungmin miliknya.

Setelah mengirim foto itu, Kyuhyun tersenyum sambil menimbang-nimbang ponselnya. Tak sabar menunggu balasan yang akan masuk ke ponselnya itu. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar singkat. Kyuhyun tersenyum makin lebar dan membuka pesan balasan dari Sungmin. Foto Sungmin membentuk angka dua dijarinya dan memajukan bibir plum-nya.

'Apa ini sudah cukup?'

Kyuhyun terkikik pelan dan mengangguk-angguk. Setelah mengetik singkat, namja itu kembali menaruh ponselnya dan kembali bekerja. Sudah cukup bersemangat setelah melihat foto terbaru Sungmin yang sangat aegyo. Kyuhyun selalu berkirim foto dengan yeojyachingunya yang berumur beberapa tahun lebih tua darinya.

"Ah… kau benar-benar yeojya yang paling mudah dirindukan, Minnie!" Geram Kyuhyun gemas.

xxXxx

"Sudah menunggu lama?"

Kyuhyun menengadah dan mendapati Sungmin sudah berdiri dihadapannya. Senyum menghias diwajah pucat namja itu. "Aniyo. Kajja, aku sudah lapar."

Kyuhyun menunggu yeojya itu masuk ke mobilnya baru setelah itu ia menjalankan mobil Hyundai-nya dengan kecepatan sedang dijalanan Seoul yang ramai itu. Setelah cukup emosi karena melewati jalanan macet, Kyuhyun menepikan mobilnya didepan café bernama Sapphire Blue itu.

Setelah memarkirkan, Kyuhyun dan Sungmin keluar dan berjalan menuju café favorit mereka. Café itu cukup ramai dan bising karena dua artis saat ini sedang mengunjungi café itu. Siwon dan Yesung, beserta yeojyachingu masing-masing. Kibum yang bekerja dan Ryeowook yang menyender santai dilengan kekar namja bermata sipit itu.

"Kyu! Sungmin noona!" Sapa Siwon pada kedua orang yang baru datang itu.

Disudut, Donghae sedang menggoda Hyukjae yang bekerja dengan seragam maid yang menempel ditubuh langsing namun seksi itu. Disamping meja Donghae tadi, tak kalah menarik dari gambaran disini. Leeteuk, Kangin, dan Taemin juga sedang asik memakan makan malamnya.

"Oh, Hangeng oppa!" Sapa Sungmin pada Hangeng yang memakai celemek biru lucu.

Hangeng melambaikan tangannya dari balik meja kasir. Semuanya terlihat senang dan mesra, apalagi Yesung dan Ryeowook yang sibuk suap-suapan. Tidak peduli pada Clouds –sebutan untuk fans Yesung- yang memandang iri sambil menusuk-nusuk makanan naas.

"Kita mau duduk dimana?" Bisik Sungmin pada Kyuhyun.

Mata Kyuhyun melirik Donghae yang menopang dagunya sambil terus-terusan memandangi Hyukjae yang berkeliling untuk mengantar pesanan pelanggan. "Yang jelas aku hanya ingin berdua denganmu."

Oke, duduk dengan Donghae. Coret.

Sungmin merona dan menarik Kyuhyun ke tempat duduk sofa yang cukup nyaman untuk berduaan. Tempatnya juga berada disudut siku-siku yang langsung mengarah ke jendela transparan yang memisahkan café dengan jalan setapak diluar.

"Annyeong Sungmin eonnie," Hyukjae menyerahkan buku menunya pada kakak dari namjachingunya itu. "Eonnie bisa panggil aku ketika sudah siap memesan."

"Aku sudah siap kok, sama dengan biasa saja." Ujar Sungmin cepat, ia sudah menentukan pesanan sebelum buku menu itu ia lihat.

Hyukjae mengangguk dan mulai mencatat pesanan Sungmin. "Strawberry hot coffee dan hot muffin blueberry."

Kyuhyun menutup buku menu itu dan tersenyum jahil pada Hyukjae. "Aku pesan hot Sungmin fresh from the oven."

Sungmin memukul lengan Kyuhyun cepat dengan wajah memerah. "Ya! Cho Kyuhyun! Kau pikir aku kue apa ditaruh dioven?"

Seketika Hyukjae tertawa bersama Kyuhyun, membiarkan Sungmin yang merona karena terus-terusan digoda olehnya. Kyuhyun memang jahil, dia tidak akan pernah berhenti membuat Sungmin merona. Dengan alasan, dirinya sangat menyukai wajah imut Sungmin yang memerah padam karena malu.

"Hot black coffee dan beef lasagna." Ujar Kyuhyun setelah selesai tertawa.

"Cha, tunggu ya."

Hyukjae melangkah pergi meninggalkan meja Kyuhyun dan Sungmin. Sementara Sungmin masih diam karena ucapan Kyuhyun yang menurutnya keterlaluan, Kyuhyun malah mengeluarkan PSP dari tas Sungmin. Ya, PSPnya dibawa Sungmin supaya namja itu tidak bermain ketika kerja.

"Kyu…"

"Hm?" Jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari PSP berwarna hitam itu.

Sungmin memainkan ujung rambut pirangnya dengan malu-malu. "Seminggu lagi Christmas Eve."

"Lalu?"

"Apa kau sudah punya rencana?" Sungmin menunduk dan merasakan wajahnya memanas.

Kyuhyun memencet tombol pause dan memandang Sungmin yang menunduk, tangannya mengangkat wajah yeojya imut itu perlahan. Wajah Sungmin terlihat jelas kalau ia merona saat ini. Mata Kyuhyun tak henti-hentinya menatapi bibir menggemaskan milik Sungmin.

"Kau ingin menghabiskan Christmas Eve bersamaku?" Tanya Kyuhyun to the point.

Sungmin mengalihkan pandangannya lalu mengangguk. "Itupun kalau kau tak ada rencana. Appa dan umma menghabiskan Christmas Eve di Jepang tahun ini, sekalian Bulan Madu Kedua. Donghae… dia bilang mau kerumah Hyukie dan merayakannya bersama keluarga Hyukie."

Kyuhyun tersenyum penuh arti. "Kalau begitu aku akan jemput dan kita akan menghabiskan Malam Natal dirumahku."

Sungmin melotot dan membulatkan matanya. "Jeongmal? A-aku saja belum bertemu dengan kedua orangtuamu, Kyu."

"Tidak masalah, kau bisa bertemu kapan-kapan sebelum Christmas Eve tiba."

Kyuhyun kembali berkutat dengan selingkuhannya, PSP. Sedangkan Sungmin masih belum puas dengan jawaban Kyuhyun. Meskipun ia senang karena akan bertemu keluarga namjachingunya. Tapi jawaban Kyuhyun yang sedikit membuatnya bingung. Jawaban Kyuhyun tadi seperti tak tegas, seolah namja itu tak peduli dan tak mau tahu.

Kyuhyun, apa serius berhubungan dengannya?

xxXxx

"Noona…"

Sungmin menoleh dan mendapati Donghae yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Sungmin. Namja tampan itu berjalan masuk dan memeluk Sungmin erat, sedangkan Sungmin hanya mengelus rambut cokelat Donghae dengan sayang.

Sungmin menutup laptopnya. "Wae geurae, Hae-ah?"

Donghae beringsut menjadi menopang kepalanya dipaha Sungmin dan merebahkan tubuhnya diranjang berukuran besar itu. "Aku sayang noona, tapi aku lebih sayang Hyukie. Apa itu wajar? Noona tidak marah? Kalau dulu dengan Yoona, aku lebih menyayangi noona dibanding Yoona."

Sungmin terkekeh dan memencet hidung mancung Donghae. "Mungkin kau lebih menyayangi Hyukie lebih dari apapun didunia ini, Hae. Wajar saja kok, noona juga tidak marah. Untuk apa noona marah…"

"Lalu apa noona juga lebih menyayangi Kyuhyun daripada aku?"

"Eung, untuk saat ini noona memang lebih menyayangi Kyu dibanding kau." Jawab Sungmin jujur.

"Kalau begitu aku juga tidak boleh marah ya? Masa noona lebih sayang Kyuhyun dibanding namdongsaeng noona yang tampannya luar biasa ini? Andwaeyo!"

Sungmin tertawa kali ini. "Kalau begitu, noona juga akan marah kalau Hae lebih sayang Hyukie. Eottokhae?"

Donghae mengerucutkan bibirnya. "Hajima, karena aku memang lebih menyayangi Hyukie. Jadi Minnie noona tidak boleh marah."

"Kalau begitu kau juga tidak boleh marah, karena noona memang lebih menyayangi Kyu."

Donghae menghela nafasnya kesal. "Arraseo, aku kalah sama Kyuhyun."

Sungmin tertawa geli dan mengacak rambut cokelat Donghae. "Noona juga kalah sama Hyukie, kan? Nah sekarang kirimi Hyukie pesan singkat, bilang kalau kau lebih menyayanginya dibanding noona."

Donghae mengangguk dan tersenyum. Namja itu memakai sandal rumahnya dan berlari keluar kamar Sungmin, tapi tak lama Donghae kembali. Donghae berlari cepat kearah Sungmin dan mengecup pipi Sungmin

"Gomawo, Minnie noona. Saranghae!"

Sungmin hanya geleng-geleng kepala dan kembali mengutak-atik laptop putih yang masih menyala. Hari ini yeojya itu tak bertemu Kyuhyun karena namja itu kerja lembur dikantornya. Sebagai atasan dia juga tidak berleha-leha. Kyuhyun namja yang mengerti bagaimana harus bertindak.

Drrttt drrttt.

"Loh? Hyukie? Ada apa telefon eonnie?"

Suara dentuman musik yang terdengar ujung telefon sana membuat suara Hyukjae terputus-putus dan tak terdengar. "Sungmin eonnie? Yeoboseyo?"

Sungmin mengerutkan keningnya. "Uhh, Hyukie… Aku tidak bisa mendengar suaramu."

Setelah jeda beberapa lama, akhirnya suara musik mulai tidak terdengar. Dari penalaran Sungmin, ia menyimpulkan kalau Hyukie sedang berada disebuah bar. "Ne Sungmin eonnie, eonnie bisa mendengarku?"

"Ne, waeyo? Kau dibar? Tidak berkerja?"

"Uhm shift-ku selesai sore tadi, aku sedang dibar dengan teman-temanku," Jelas Hyukjae sebelum Sungmin salah paham. "Mian sebelumnya, eonnie. Apa eonnie sedang bersama Kyuhyun-sshi atau bertukar pesan dengan Kyuhyun-sshi?"

Sungmin menggeleng, meskipun tahu Hyukjae tak akan melihatnya. "Aniyeyo, Hyukie-ah. Dia sedang lembur, jadi aku tidak ingin menganggunya. Ah wae? Aku penasaran."

"Uhh begini, aku melihat seseorang yang mirip dengan Kyuhyun dibar. Dia bersama yeojya lain. Orang yang mirip Kyuhyun juga masih memakai jas rapi sama dengan yeojya yang memakai blazer kerja. A-aku curiga dan langsung saja kutelefon eonnie. Tapi semoga saja itu hanya mirip, eonnie."

Sungmin terdiam, mencerna kata demi kata yang diucapkan Hyukjae tadi. Ketakutan terbesarnya sekarang kembali terngiang dipikirannya. Matanya menatap dinding dengan tatapan kosong, mulutnya terlalu kaku untuk menjawab Hyukjae.

"Sungmin eonnie?"

Badan Sungmin terlonjak kecil ketika kaget karena lamunannya dibuyarkan Hyukjae. "Ne, Hyukie. Uhm… aku akan bertanya padanya. Gomawoyo, Hyukie-ah."

Gumaman singkat Hyukjae menutup percakapan lewat telefon mereka. Sungmin menutup laptop putih itu dan menyingkirkannya. Yeojya itu merebahkan tubuhnya diranjang dan menarik selimut berwarna soft pink yang agak tebal itu.

"Aniya, Hyukie. Kyuhyun tidak akan main dibelakangku. D-dia sangat menyayangiku kok, dia juga berjanji ingin mengenalkanku kepada orangtuanya," Sungmin tersenyum pedih dan meneteskan air matanya. "A-aku tahu Kyu tidak akan begitu."

Tidak, meskipun yeojya itu terus mengucapkan kalimat itu berulang kali diotaknya. Dengan tidur, dia pikir bisa menghilangkan rasa penasarannya. Tapi dalam hati Sungmin tahu kalau didalam hatinya ia masih ragu pada Kyuhyun.

Ya… ragu, sangat ragu.

xxXxx

"Dokter Lee!"

Sungmin menoleh dan melihat namja kecil berlari dan memeluk kedua kakinya. Sungmin tersenyum senang dan mengusap rambut pasiennya, Kim Jonghyun. "Kau sudah mau pulang, ya?"

Namja kecil itu mengangguk. "Eung! Umma menyuruh Jjong untuk pamit pada Dokter Lee."

"Keuraeseo? Uhh, dokter akan merindukanmu…"

Sungmin memeluk namja kecil itu dan melirik kebelakang, Kyuhyun sedang tersenyum dan melipat kedua tangan didadanya. Sungmin mengalihkan pandangannya dan melepas pelukan Jonghyun. Setelah Sungmin mengecup puncak kepala Jonghyun, namja kecil itu berlari kepelukan ummanya.

Sungmin merunduk kecil pada Nyonya Kim –umma Jonghyun- yang sempat beradu pandang. Tak lama punggung Nyonya Kim dan Jonghyun memudar. Kyuhyun mendekatinya dan merangkul Sungmin, sedangkan yeojya itu tak menghiraukan Kyuhyun.

"Terkejut tidak aku tiba-tiba datang?" Tanya Kyuhyun sambil nyengir.

Sungmin menatap Kyuhyun datar. Tanpa berkata apapun Sungmin melangkahkan kakinya menuju ruangannya yang berada diujung lantai 1 rumah sakit itu. Kyuhyun yang bingung atas perlakuan Sungmin padanya pun membuntuti Sungmin.

Setelah masuk keruangannya, Sungmin membiarkan Kyuhyun masuk dan menutup pintu ruangannya lagi. Yeojya imut itu berpura-pura kalau Kyuhyun tidak ada disana, berpura-pura kalau dia hanya sendiri diruangan ini. Yeojya itu begitu marah, sangat marah.

Kyuhyun mendengus. "Wae geurae? Aku salah apa?"

Sungmin masih diam, sampai akhirnya Kyuhyun tak tahan dan berdiri sambil menghentakkan kakinya. Kyuhyun melangkah kearah balik meja kerja Sungmin dan memaksa yeojya itu menatapnya. Sungmin masih tidak mau menatap Kyuhyun, tentu membuat Kyuhyun semakin kesal.

"Lee Sungmin," Geram Kyuhyun. "Aku salah apa?"

Sungmin menatap Kyuhyun dengan tajam. "Kau sungguh lembur kemarin?"

Kyuhyun mengerutkan keningnya. "Ne, sampai jam delapan."

"Setelah itu? Kau ke bar 'kan? Bersama yeojya, eh?" Tanya Sungmin panas.

"Eh? Kau tahu dari siapa?" Kyuhyun kali ini mengerutkan keningnya. "Ah! Jangan salah paham, Minnie chagi. Yeojya itu Kim Taeyeon, dia salah satu klienku. Ah… kau mengira aku selingkuh ya?"

"Klien? Membawamu ke bar?! Oh ya, Cho Kyuhyun. Alasan yang logis, sangat logis malah," Kali ini Sungmin yang geram. "Yeojya itu klienmu atau kau yang jadi kliennya?"

Kyuhyun melotot. "A-apa maksudmu? Ya! Lee Sungmin! Aku tidak akan pernah menyewa seorang yeojya murahan hanya untuk memuaskan nafsu semata, arra?! Aku hanya mencintaimu seorang, Minnie! Ah yang benar saja."

Sungmin balas melotot pada Kyuhyun. "Oh ya? Buktikan sampai aku percaya padamu!"

Kyuhyun tersentak ketika mendengar bentakan Sungmin. Dengan senyum licik, namja yang sudah keburu kesal pada yeojyachingunya sendiri itu akhirnya memutuskan untuk membuktikannya. Dia yakin Sungmin tidak akan meragukannya lagi.

Kaki jenjang Kyuhyun melangkah menuju pintu ruangan Sungmin, tangannya mengunci pintu itu sampai ia rasa sudah terkunci. Kyuhyun menarik Sungmin untuk berdiri, sedangkan tenaga Kyuhyun yang lebih besar dari Sungmin mampu membuat yeojya itu berdiri sekejap.

Dengan agak kasar Kyuhyun mendorong Sungmin ketembok dan mengunci Sungmin dengan kedua tangannya. Kyuhyun mencium bibir Sungmin kasar, tapi yeojya imut itu tak menolak. Malahan Sungmin menikmati perlakuan kasar Kyuhyun. Kyuhyun biasanya menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia tak ingin Sungmin sakit karena perbuatannya.

Suara kecipak akibat permainan mereka mengisi ruang kosong itu. Pipi Sungmin merona hebat ketika tangan Kyuhyun mulai naik dan meraba kedalam jas dokternya. Kyuhyun memindahkan bibirnya ke perpotongan leher Sungmin dan bermain sebentar disana.

"Ngh, Kyu…"

Desahan Sungmin membuatnya sadar kembali, ia melepaskan tangannya dari dada Sungmin dan memegang tengkuk Sungmin. Sedangkan bibirnya sudah kembali melumat bibir kenyal tipis milik Sungmin. Permainan mereka mulai melembut dan Kyuhyun melepas kecupannya.

Sekali dua kali Kyuhyun mengecup bibir yang berwarna kemerahan itu. "Aku tidak akan bermain dibelakangmu, Minnie chagi. Kau sudah lebih dari cukup. Percaya padaku…"

Sungmin menunduk, ia merasa bodoh karena meragukan namja yang baru beberapa bulan ini ia kencani. Ia juga malu karena membiarkan tangan Kyuhyun meraba bagian sensitifnya, sehingga ia mendesah tadi.

"Argh, mianhae Kyu." Sesalnya sambil menunduk dalam.

Kyuhyun terkekeh dan mengangkat wajah Sungmin, mengecup bibir Sungmin lagi untuk yang terakhir kalinya. "Gwaenchana, aku tak menyangka ini akan menjadi pertengkaran pertama kita."

Sungmin mengangguk. "Pertengkaran yang bodoh."

Kyuhyun memeluk yeojya itu dan menenggelamkan kepalanya dileher Sungmin. Menghirup dalam-dalam aroma manis dari parfum yang dipakai yeojya imut itu. Kyuhyun selalu menyukai wangi Sungmin yang menyegarkan.

"Asal kau tahu, aku lebih memilih yeojya aegyo tingkat tinggi yang sekarang kupeluk ini. Belum lagi kau termasuk yeojya seksi, chagiya." Ujar Kyuhyun blak-blakan.

Sungmin mendorong Kyuhyun sehingga melepaskan pelukannya. "Kyu…"

Kyuhyun kembali terkekeh dan menatap Sungmin dengan wajah memerah, senyumnya terlihat aneh. Agak… menjijikan. "Bukan, bukan seksi. Kau lebih dari sekedar seksi, chagi. Apa ukuranmu 34 B?"

"Ya! Cho Kyuhyun mesum!"

xxXxx

Semburat jingga nan indah itu menghiasi langit senja dihari Sabtu itu. Kyuhyun mendendangkan sebuah lagu nge-beat berjudul Sorry Sorry dimobilnya sambil menyetir. Beberapa kali ia menirukan gerakan yang dilakukan member boyband yang menyanyikan lagu itu.

Sungmin, yang duduk manis dikursi yang berada disampingnya hanya mendesah melihat kelakuan Kyuhyun. Yeojya terlihat cantik dengan riasan natural yang membingkai wajah imutnya. Dengan baju terusan selutut berlengan panjang berwarna hijau tua berbahan satin itu ia terlihat jauh lebih muda dari umurnya yang menginjak 27 tahun itu.

Ketika Kyuhyun menyadari dia sudah tepat ditujuan, namja itu mematikan mesin mobilnya dan merapikan rambutnya. "Kau mau menginap dimobil?"

Sungmin menoleh dan menatap Kyuhyun datar. "Apa menurutmu aku akan menginap dimobilmu?"

Tawa Kyuhyun meledak seketika. Namja itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Sungmin. Kyuhyun mengambil alih sebuah paper bag yang Sungmin bawa dari rumah. Isinya hanya beberapa kue jahe dan hadiah Natal untuk kedua orangtua Kyuhyun.

Padahal sudah dilarang habis-habisan oleh Kyuhyun untuk tidak memberi hadiah, tapi yeojya itu bersikeras membelikan keduanya hadiah Natal. Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin yang tertutup sarung tangan dan menuntun yeojya itu masuk kerumahnya.

Rumah Kyuhyun tak seperti rumahnya yang mewah, rumah Keluarga Cho ini lebih mirip rumah Korea jaman Joseon dari luar. Unik dan artistic. Namun ketika sudah melangkah lebih dalam, kalian akan menemukan perabot yang begitu down to the earth. Semuanya berbahan kayu dan bambu, benar-benar rumah yang nyaman untuk bersantai.

"Appa, umma…"

Dada Sungmin bergemuruh, walaupun beberapa hari lalu ia sudah bertemu kedua orangtua Kyuhyun. Sungmin masih gugup jika bertemu dengan Tuan dan Nyonya Cho yang sebenarnya sangat ramah. Keduanya juga sangat senang ketika baru bertemu dengan Sungmin.

"Ah! Sudah datang ternyata," Nyonya Cho masih memakai celemek langsung menyambut Sungmin, ia memeluk yeojya itu erat. "Selamat Hari Natal, Sungmin-ah."

Sungmin tersenyum. "Selamat Hari Natal, ahjumma."

Setelah itu bergantian, Tuan Cho yang memeluk Sungmin. Dengan ucapan yang samapun Sungmin membalasnya. Sungmin menyerahkan bungkusan kue jahe yang ia buat sendiri, setelah memaksa koki café Sapphire Blue untuk membantunya.

"Ahjumma memasak kimchi?"

Nyonya Cho mengangguk. "Kimchi Rusuk Belakang, uhh pokoknya sedap. Kau mau menyicip? Kajja!"

Nyonya Cho yang excited langsung menarik tangan Sungmin dan membawa yeojya itu kedapur. Sedangkan Kyuhyun hanya geleng-geleng dan mengambil alih dua kotak hadiah. Sedangkan Tuan Cho yang sudah penasaran malah mengintip kedalam bungkusan, tapi ditepis oleh Kyuhyun.

"Appa! Belum waktunya membuka kado." Kyuhyun buru-buru memindahkan paper bag itu ketempat yang lebih aman.

Tuan Cho merengut lalu mengunci Kyuhyun dengan satu tangannya, membawa Kyuhyun duduk disofa yang berada diruang tv. Namja berusia hampir setengah abad itu terkekeh kecil ketika Kyuhyun mengaduh minta dilepas.

Tuan Cho melepas kunciannya dan menyalakan tv. Sedangkan Kyuhyun mengembungkan pipinya dan ikutan memandang tv yang masih digonta-ganti oleh appanya.

"Kyuhyun-ah," Gumaman appa Kyuhyun membuat namja itu menoleh. "Apa kau sungguh-sungguh dengan Sungmin?"

Kyuhyun menerawang. "Aku sih sungguh mencintainya, tapi untuk urusan kedepannya aku masih belum kepikiran."

Tuan Cho menghela nafasnya. "Kalau kau tidak serius, jangan dengan Sungmin. Dia yeojya cantik, baik, sopan, penyayang, terlebih ia tipe yeojya yang sudah cocok jadi umma. Kasihan jika dia terombang-ambing denganmu. Apalagi dia sudah menginjak umur yang cukup untuk menikah."

"Appa, aku serius kok. Hanya jika ditanya apa aku ingin menikah dengannya, tentu saja aku ingin. Tapi tidak sekarang, aku belum mempunyai modal yang cukup untuk membina rumah tangga. Aku berjanji akan menikahinya suatu saat nanti."

Tuan Cho tersenyum puas mendengar jawaban Kyuhyun. Dari penuturan Kyuhyun dan wajah Kyuhyun yang tidak tampak tanda-tanda dusta, Tuan Cho tahu anak semata wayangnya itu sudah terikat dengan yeojya bernama Lee Sungmin ini.

"Appa tak menyangka secepat itu kau menemukan pasangan benang merahmu," Ujar namja yang lebih tua itu bangga. "Bahagiakan dia, Kyu."

"Pasti, pasti aku akan berusaha membahagiakan yeojya itu."

xxXxx

Sungmin menyeruput latte-nya yang masih hangat, dia ditemani Hyukjae saat ini. Berhubung café juga tak ramai, kalaupun ada pelanggan pasti Sungmin mengijinkan Hyukjae untuk bekerja lebih dulu. Mereka sedang bertukar cerita tentang pengalaman Christmas Eve kemarin sembari menunggu Kyuhyun dan Donghae yang akan datang untuk makan siang bersama.

"Donghae menghadiahi umma gaun Channel beserta sepatu Jimmy Choo dan beberapa aksesori lainnya yang harganya selangit itu. Sedangkan appa dibelikan dua bungkus ayam beku impor dari luar negeri saja sudah girang setengah mati. Hah… keduanya sangat senang." Jelas Hyukjae disertai desahan.

"Bagus dong, berarti Donghae melakukan itu semua agar diterima keluargamu," Balas Sungmin. "Mungkin beberapa tahun lagi kau akan menjadi adik iparku."

Sungmin mendapati wajah Hyukjae yang memerah padam. "Eonnie!"

"Yah… Donghae itu anaknya serius sih, sekalinya ia benar-benar mencintai yeojya, dia akan melakukan apa saja. Namdongsaengku yang kyeopta itu, ah…"

Sungmin dan Hyukjae terus bercerita sampai akhirnya kedua namja itu datang berbarengan. Sedikit berlari, Donghae menghampiri Hyukjae dan mengecup bibir yeojya itu sekilas. "Ya! Kan ada Sungmin eonnie."

Donghae malah nyengir. "Tak apalah, kuyakin Minnie noona juga sudah sering berbuat yang lebih parah dari kita, chagiya."

Kyuhyun yang beru saja duduk juga mengecup pipi Sungmin. Layaknya tak bertemu beberapa tahun, kedua pasangan itu tampak berlomba-lomba untuk memenangkan Siapa-Yang-Paling-Mesra. Dan dilihat sekilas, sepertinya pasangan Haehyuklah yang menang.

Tapi tak lama, Hyukjae mulai ngambek pada Donghae dengan alasan yang tak jelas. Entahlah… pasangan itu memang tak jelas. Kadang manja-manja, mesra-mesra, dan marah-marah. Hyukjae menyilangkan tangan didadanya.

"Ya! Kalian berdua menganggu saja." Desis Kyuhyun.

Hyukjae masih mengembungkan pipinya. "Hae sih…"

Donghae memeluk Hyukjae erat. "Mianhae, Hyukie chagi. Kalau begitu Hae punya cara ampuh untuk membuat Hyukie chagi tidak marah lagi."

"A-apa?"

Hyukjae, termasuk Kyuhyun dan Sungmin kali ini memperhatikan tingkah aneh Donghae. Namja tampan bertubuh kekar itu berdiri diatas kursi café. "Ehem… Yeorobun!" Teriak Donghae kencang. "Yeojyachinguku sedang marah, aku ingin dia memaafkanku. Kalian harus bantu aku."

Pelanggan café itu mulai riuh dan terlihat tertarik dengan ajakan Donghae. Sedangkan Donghae tersenyum puas ketika melihat respon dari pelanggan café.

"Lee Hyukjae, saranghaeee!"

Kyuhyun dan Sungmin melongo, keduanya membuatkan mulutnya karena perbuatan Donghae tadi. Sedangkan Hyukjae menepuk keningnya dan memijitnya pelan, seolah ia tidak mengenal Donghae. Sedangkan namja ikan itu, ah… dia memang tak punya malu.

Donghae berterimakasih pada pelanggan café dan duduk kembali. "Hyukie chagi sudah memaafkanku?"

Hyukjae menatap Donghae datar. "Kau ini benar-benar ya, memalukan."

Ah, tinggalkan saja pasangan Haehyuk dan kembali pada Kyumin. Kyuhyun dan Sungmin bertatapan singkat dan tertawa geli setelah itu. Kelakuan Donghae membuat semua pelanggan tertawa dalam sekejap, ada juga yang kagum karena berani malu untuk mendapatkan maaf dari yeojyachingu sendiri.

"Kalau kau, berani?" Tantang Sungmin.

Kyuhyun menyeringai. "Kau menantangku? Aku berani mengatakan pada dunia kalau aku mencintaimu."

Sungmin tersenyum riang. "Jinjja? Kalau begitu buktikan."

Mata bulat berwarna cokelat milik Kyuhyun berputar. Kyuhyun berdiri dan menyiapkan diri, tapi setelah itu namja kurus itu duduk kembali dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sungmin. Tapi berbelok, Kyuhyun berniat membisiki Sungmin.

"Lee Sungmin, saranghaeyo." Bisik Kyuhyun ditelinganya.

"Katanya mau mengatakan pada dunia kalau kau mencintaiku? Masa hanya membisikiku?" Sungmin mengerucutkan bibirnya.

Kyuhyun tersenyum. "Buat apa aku berteriak seperti Donghae hyung? Asal kau tahu, Lee Sungmin. Kau… kau adalah duniaku, segalanya untukku. Sudah cukup aku memberitahu duniaku kalau aku mencintaimu."

Seketika Sungmin tak mampu berkata lagi untuk menantang namja yang ia cintai itu. Wajahnya memanas dan membuat rona kemerahan. Bisa-bisanya Kyuhyun mengatakan kalimat semacam itu.

"Kau," Sungmin tersenyum perlahan. "Kau juga duniaku, Kyu."

Kyuhyun tersenyum dan mengecup bibir Sungmin sekilas. "Kau tahu kenapa aku menyukaimu? Karena kau selalu berpendapat sama denganku. Saranghae, Minnie-ah."

"Nado, Kyu. Nado saranghaeyo, Cho Kyuhyunnie."

xxXxx

Bab 18

Marry U

Hanchul

"Dokter Tan…"

Dokter tampan yang nyaris sempurna itu menoleh dan mendapati pasiennya berjalan perlahan kearahnya. Kim Ryeowook berjalan perlahan kearah Hangeng sambil tersenyum manis. Kondisi tubuh yeojya yang mengidap leukemia itu terlihat membaik semenjak chemotherapy, walaupun memang efek sampingnya cukup berat.

"Mana Yesung?" Tanya Hangeng ketika yeojya itu tepat berada dihadapannya.

Ryeowook langsung mengubah senyuman manisnya menjadi wajah yang merengut. "Ah, aku malas membicarakan namja berkepala besar itu. Dokter Tan sibuk?"

Hangeng melipat kedua tangannya didada sambil menatap Ryeowook sebal. "Sudah kubilang panggil saja aku Hangeng oppa. Tak masalah jika dirumah sakit atau diluar rumah sakit, Ryeowook-ah."

Yeojya mungil itu nyengir. "Aku tidak biasa, Dokter Tan."

"Makanya dibiasakan," Hangeng menyentil kening Ryeowook gemas. "Kau sudah selesai therapy?"

"Bahkan belum dimulai, membuatku bosan menunggu disana. Jadi kuputuskan jalan-jalan eh ternyata bertemu dokter disini." Jelas Ryeowook.

Hangeng mengangguk paham. "Tapi lebih baik kau menunggu saja disana sampai kau dipanggil nanti. Daripada kau diselak orang lain yang mau chemo juga, kan?"

"Bosan! Sudahlah, aku ingin jalan-jalan lagi. Annyeong Dokter Tan…"

Hangeng menatap punggung Ryeowook yang mulai menjauh darinya. Kepala Hangeng menggeleng-geleng melihat kelakuan yeojyachingu dari adik yeojyanya itu. Ryeowook menurut Hangeng merupakan yeojya bunglon. Dia bisa berubah sesuai dimana ia berada, makanya disebut bunglon.

Tangan Hangeng merogoh kedalam saku celana bahan berwarna hitam yang ia kenakan. Setelah ia menemukan barang itu, Hangeng mengeluarkan kotak transparan berbentuk diamond yang sangat elegan. Senyum aneh terkembang diwajahnya ketika ia menatap apa yang ada didalam kotak itu.

"Will you marry me, Heenim?"

xxXxx

"Tentu saja aku mau, babo."

Yesung tersenyum lebar dan memeluk yeojya yang lebih tua dua tahu darinya itu. "Gomawo noona! Ah… aku tidak sabar ingin menunggu hari Jumat ini."

Heechul menopang dagunya. "Memang sebenarnya apa yang ingin kau belikan untuknya? Dalam rangka apa?"

"Hari jadi kami yang ke 2 bulan," Ujar Yesung bangga. "Aku ingin mengejutkannya, tapi aku bingung harus memberinya apa. Dan berhubung noona itu yeojya seperti Wookie "

"Ya! Tentu saja aku yeojya! Sejak kapan aku berubah gender jadi namja, idiot!" Bentak Heechul pada namja bermata bulan sabit itu kencang.

"Noona! Jangan berteriak begitu kenapa sih? Aku kan hanya mengatakan apa yang kupikirkan."

Heechul mendengus. "Sejak kapan kau berpikir kalau mau bicara, eh?"

Yesung memutar bola matanya. "Sudahlah, kalau kuteruskan noona akan terus mengatakan hal-hal jelek yang sebenarnya bukan aku."

"Ya ya terserah kau sajalah."

Heechul kembali berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan dimeja kerjanya. Meskipun ia sibuk menghitung pengeluaran dan pemasukan uang, tapi pikirannya melayang. Sabtu minggu ini ia juga punya acara dengan Hangeng.

Jemari lentik Heechul menyambar ponselnya dan memeriksa pesan masuk dari Hangeng. Terakhir, Hangeng bilang kalau dia sedang bersama pasien. Heechul sudah mengerti kalau namjachingunya itu sibuk mengurusi kesehatan orang lain.

"Bogoshipeo…" Gumam Heechul pelan.

xxXxx

Hangeng memainkan stir mobilnya sambil menunggu Heechul keluar dari café yang sudah gelap itu. Tak lama, siluet bayangan Heechul terlihat dan semakin jelas. Pintu mobil Hangeng dibuka dari luar dan Heechul buru-buru masuk kedalam. Kecupan singkat keduanya berikan dengan tulus.

"Bogoshipeoseoyo…" Tutur Hangeng setelah melepaskan bibirnya dari bibir Heechul.

"Nado bogoshipeoseoyo, Hannie."

Hangeng tersenyum singkat dan mulai menjalankan mobilnya menuju keapartemen Heechul. Berkali-kali Heechul menguap selebar-lebarnya. Hangeng melirik Heechul sekilas lalu kembali menyetir. "Lelah sekali ya?"

"Eh? Uhh, ne…"

"Oh ya rencana hari Sabtu yang mau makan diluar, lebih baik kita makan malam dirumahmu saja," Tutur Hangeng. "Aku tahu kau pintar memasak, jadi buatkan aku makan malam yang lezat."

Tiba-tiba malam di Musim Dingin ini terdengar petir dan gluduk. Tidak, Hangeng tidak mendengarnya. Hanya dipikiran Heechul yang terdengar bunyi petir dan gluduk yang bersahut-sahutan itu. Mimpi buruk, pikir Heechul panik.

Hangeng hanya senyam-senyum melihat perubahan Heechul. Sebenarnya Hangeng tahu kalau Heechul tak bisa memasak. Namja berkebangsaan China itu ingin mencicip hasil masakan yeojychingunya itu. Hangeng ingin Heechul berjuang belajar memasak untuknya.

Heechul tersenyum canggung. "Ne, pasti akan kumasakan. Apa makanan kesukaanmu?"

"Filet salmon asam manis."

xxXxx

Heechul menggaruk kepalanya brutal. Yeojya itu sudah mengambil resep dan cara membuat makanan pesanan Hangeng itu. Tapi cara membaca takaran saja ia tak mengerti, bagaimana mau membuat makanan semacam ini.

"Kenapa noona tidak minta bantuan Wookie saja? Dia pintar memasak loh. Atau Shindong, kokimu." Yesung yang terganggu ketika menyetir mencoba menghentikan kegiatan noonanya.

"Hangeng hanya ingin memakan masakanku, bukan orang lain."

"Untung saja aku punya yeojya yang pintar memasak," Gumam Yesung pelan, namun Heechul masih bisa mendengarnya. Heechul segera menggeplak kepala besar Yesung. "Ya! Noona! Kalau kita kecelakaan bagaimana?

"Masa bodoh, mati saja sana." Cibir Heechul marah.

Yesung terkekeh. "Ya sudah, aku mati saja. Tapi tidak sekarang, karena aku masih harus membeli hadiah."

Yesung memarkirkan mobilnya dibasement dan turun dari mobil, begitu pula Heechul. Keduanya memasuki gedung yang memiliki ratusan toko dari merek terkenal. Kebanyakan artis-artis Holliwood yang memakai barang-barang bermerek disini.

"Wookie memang suka barang-barang bermerek?" Tanya Heechul ketika melangkah masuk ke Channel.

Yesung hanya mengangkat bahunya dan mulai mencari barang yang kira-kira Wookie suka. "Aku belum pernah berbelanja bersamanya."

Heechul menghela nafasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, terheran dengan sifat Yesung yang luar biasa abstrak. Heechul juga bingung kenapa yeojya mungil manis dan imut itu mau menjadi yeojyachingu Yesung. Heechul tidak tahu saja berapa banyak yeojya yang tergila-gila akan Yesung karena ketampanan dan suara emasnya.

"Ini bagus tidak?"

Heechul menoleh dan melihat Yesung yang memperlihatkan sebuah gaun biru tua yang super mini itu. Dengan gelengan Heechul menjawab pertanyaan Yesung. Yesung mengerucutkan bibirnya dan menaruh kembali gaun itu.

"Kenapa tidak beli barang yang samaan?" Yesung menoleh dan menunggu penjelasan dari Heechul. "Ini kan dalam rangka hari jadi kalian, kenapa tidak beli barang seperti gelang? Kau beli dua yang sama, kau pakai satu dia pakai satu."

Wajah Yesung berbinar. "Noona pintar! Kenapa tidak bilang daritadi?"

Heechul memutar bola matanya. "Kau yang terlalu bodoh."

Yesung tak peduli dengan cibiran pedas dari Heechul. Namja itu menarik Heechul keluar dari sana dan kembali ke mobil. Yesung membawa Heechul ke Myeongdong yang super-super ramai itu. Disana banyak barang-barang lucu yang dijual dengan harga terjangkau, lagipula kualitasnya bagus. Walau sebenarnya Yesung agak takut datang kesini, takut banyak fans yang membuntutinya.

"Lalu kau mau beli apa?" Tanya Heechul setelah sampai di Myeongdong.

"Jam tangan, gelang, cincin, kaus, dan bando lucu yang bisa dipakai untuk berfoto." Yesung nyengir.

Heechul melotot. "Banyak sekali! Kalau banyak begitu kapan pulangnya, Jongwoon-ah?"

"Tentu saja setelah semua barang dibeli!"

xxXxx

Hangeng terkekeh pelan ketika ia mendengar cerita Heechul tentang menemani Yesung membeli barang di Myeongdong. Namja itu sedang berkunjung ke apartemen yeojyachingunya itu setelah menjemput Heechul di café.

"Lelah rasanya…" Keluh Heechul sambil menyenderkan tubuhnya ke dada bidang Hangeng.

Namja itu tak menolak, ia justru senang Heechul semakin lengket padanya setelah hampir empat bulan bersama-sama. Kedua tangan Hangeng melingkar didepan perut Heechul. Hangeng menunduk dan mencium bibir tebal Heechul.

Heechul perlahan ikutan mengulum bibir Hangeng seirama dengan permainan yang namja itu berikan. Tidak, keduanya sudah berjanji untuk tidak melakukan hal-hal lain yang lebih intim. Hangeng ingin merasakan tubuh Heechul nanti, begitu pula Heechul.

Hangeng mengendurkan pelukannya dan menjauhkan bibirnya dari bibir Heechul setelah merasa kalau itu sudah cukup. Ia tidak ingin lepas kendali, apalagi tubuh Heechul yang menggoda itu sulit ditolak.

"Sudah malam," Gumam Hangeng ketika melirik jam dinding yang menggantung tak jauh dari tempatnya berada. "Aku pulang ya."

Heechul menghela nafasnya dan mengangguk. "Aku benci ketika kau harus pulang."

Hangeng tertawa dan mengusap puncak kepala Heechul, kecupan singkat ia berikan. "Nado, Chullie. Tapi besok kan aku kesini lagi dan menyicip makananmu."

Ah, kepala Heechul pusing lagi ketika namja itu menyebutkan makan malam yang Heechul sendiri tak tahu akan berjalan lancar atau kacau. Heechul menutupinya dengan senyuman terbaiknya. "Aku akan merindukanmu."

Hangeng berdiri dan memakai sweater-nya yang berwarna abu-abu muda itu. Heechul mengantar Hangeng sampai kedepan pintu apartemennya. "Langsung tidur, ne? Saranghae…"

"Eung! Nado, Hannie."

xxXxx

"Argh, shit!"

Umpat Heechul segera ketika ia tak sengaja mengiris ujung jarinya dengan pisau tajam yang ia gunakan untuk memotong salmon. Pinginnya sih ingin membuat filet salmon asam manis, tapi sepertinya menjadi filet salmon rasa darah.

Yeojya itu mengerang kecil ketika air melewati luka beset yang cukup dalam itu. Heechul ingin membuat makan malam yang romantis dengan Hangeng, mengingat perayaan hari jadi mereka yang menginjak bulan keempat. Niat baik malah terjadi bencana kecil seperti ini.

Setelah Heechul rasa cukup, ia mengeringkannya dengan kain bersih dan meniup-niup goresan yang masih terasa perih itu. "Kalau tahu begini aku akan menyuruh Shindong atau Ryeowook saja."

Mata bulat yeojya itu melirik jam dinding yang berada didapur, menunjukan jam empat sore. Hari ini Heechul tak bekerja hanya untuk membuat makan malam. Sekarang ia mengutuk dirinya kenapa harus mengiyakan permintaan bodoh Hangeng.

Ting tong.

Heechul mengerutkan keningnya. "Bukannya ini masih jam empat? Kenapa si China oleng itu sudah datang?"

Heechul mengelap tangannya lagi dan berjalan kearah intercom dan melihat siapa yang datang, ternyata yang datang Yesung dan Ryeowook. Heechul membuka pintu apartemennya secara otomatis. Kedua orang itu masuk dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

"Ya! Jangan pakai sandal bergambar naga itu!" Titah Heechul pada Yesung sambil memeluk Ryeowook yang sudah lama tak bertemu dengannya.

Yesung nyengir dan melepas sandal rumah bergambar naga dengan sandal rumah bergambar kura-kura yang lucu. "Ne ne arrayo. Aku lupa tadi."

Ryeowook terkekeh dan masuk lebih dalam keapartemen yang sebelumnya pernah ia datangi itu. "Aku tahu eonnie sedang kesusahan, jadi aku memaksa Yesung oppa untuk mengantar kesini. Mana masakannya? Sudah jadi?"

"Jangan mengejekku, Ryeowook-ah. Mem-filet salmonnya saja sampai membuat jariku beset segala," Gerutu Heechul dan menarik Ryeowook ke dapur. "Dapur agak kacau saat ini."

"Jangan khawatir, eonnie. Aku yang akan membantu." Ryeowook tersenyum tulus.

"Ah… gomawoyo, Ryeowook-ah. Kajja kajja."

xxXxx

Yesung menyicip satu potongan filet salmon yang sudah dibumbui asam manis itu. Harap-harap cemas Ryeowook dan Heechul menunggu komentar yang berharga dari Yesung. Namja itu masih mengunyah, tak berkata apapun sampai ia menelannya.

"Filetnya…"

Mata Heechul membulat sempurna, sama seperti mulutnya saat ini. "Eottokhae? Ya! Palli marhae!"

Yesung mengambil lagi satu potongan filet salmon itu. "Ini makanan terenak yang pernah kumakan. Kenapa umma tak pernah memasak filet dengan bumbu asam manis seperti ini ya?"

Ryeowook dan Heechul bertatapan dengan mata berbinar. Heechul memeluk Ryeowook dan berputar-putar seperti film Bolliwood yang diselingi lagu disetiap kegiatan pemainnya. Tapi mereka berputar tanpa iringan lagu. Mereka diiringi suara teriakan bahagia Heechul dan Ryeowook.

"Gomawo, Ryeowook-ah! Kalau kau tidak datang, aku tidak akan bisa menyelesaikan masakanku." Ujar Heechul senang.

"Cheonmaneyo, eonnie. Aku juga sebelumnya belum pernah menyoba memasak ini sebelumnya, jadi aku dapat pengalaman bagus," Ryeowook melihat jam dinding lagi. "Sudah jam enam. Sebaiknya aku dan Yesung oppa pulang, lalu eonnie bersiap-siap."

Yesung masih memakan filet itu, tapi sekarang dengan nasi. Sepertinya Yesung benar-benar kelaparan. "Wookie, oppa masih makan. Jangan buru-buru begitu."

Ryeowook menoleh dan mendapati namjachingunya sedang merengut. "Nanti Dokter Tan tahu loh kalau Heechul eonnie dibantu aku. Makanya kita harus menghilangkan jejak."

"Uhh, ya sudah."

Yesung buru-buru menghabiskan makannya dan menarik Ryeowook keluar apartemen Heechul. Sedangkan sang pemilik apartemen? Ah, Heechul sedang tersenyum senang melihat namdongsaengnya sekarang sedang berbahagia bersama yeojya mungil itu.

Heechul tiba-tiba melotot dan panik. "Ya! Aku kan harus buru-buru!"

xxXxx

Hangeng berdiri didepan apartemen Heechul dengan ragu. Bukan, bukan karena ia kurang rapi. Dia sudah sangat rapi dengan jas hitam dan celana jeans hitam, setengah formal dengan kaus polos berwarna hitam didalam jas itu. Tangannya menggenggam sebuket bunga mawar merah yang dicampur dengan mawar putih, cantik sekali.

Juga bukan karena ia kurang tampan hari ini. Hangeng sudah sangat sempurna sekarang. Rambut hitam pendek itu ditata rapi, poninya digel keatas. Wajah tampannya juga sudah siap, hanya kurang senyum saja. Tangan namja itu mengecek saku jasnya, ya… barang itu disana.

Sekarang ia tersenyum dan memencet tombol bel apartemen itu. Tak lama pintu apartemen itu terbuka dan menampakkan seorang malaikat yang tersasar di Bumi. Ah, salah… itu Heechul yang memakai baju terusan mini berwarna putih tanpa lengan.

"Bunga?" Suara jernih Heechul membuyarkan lamunan Hangeng akan kecantikan Heechul, dengan segera namja itu menyerahkan buket bunga itu pada Heechul. "Neomu yeppeoseo."

"Kau lebih cantik dari buket bunga itu."

Heechul mendongak dan mendapati Hangeng masih menatapnya tak berhenti dengan tatapan kagum. "Gomawoyo, masuk Hannie."

Heechul berjalan lebih dulu dan menaruh buket bunga itu dimeja depan tv. Hangeng mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang biasa ia gunakan, sandal rumah yang bergambar naga. Namja itu menghampiri Heechul yang berada didapur yang merangkap ruang makan itu.

"Kau sudah menyiapkannya?"

Heechul menoleh dan mendapati Hangeng berdiri tak jauh darinya. "Yah… aku tahu kau orang yang tepat waktu, jadi kau akan datang tepat jam tujuh. Sudah seharusnya aku menyiapkannya terlebih dahulu."

Hangeng terkekeh dan duduk dimeja makan. Namja itu menatap hasil makanan Heechul yang harumnya menggelitik perutnya yang lapar. "Kalau langsung makan, apa boleh?"

"Tentu saja boleh!"

Heechul duduk dikursi yang berada dihadapan Hangeng dan memberi Hangeng semangkuk nasi. Namja itu mulai memakan filet salmon asam manis itu dengan kimchi yang disediakan Heechul. Baru saja gigitan pertama, namja itu berhenti dan menatap Heechul.

"Masshiseoyo!" Puji Hangeng pada Heechul.

Heechul tersenyum. "Gomawo."

Keduanya mulai memakan kembali makan malam yang dibuat Heechul dengan sedikit bantuan dari Ryeowook. Ya, Ryeowook hanya membantu sedikit. Yeojya itu hanya menyuruh-nyuruh Heechul memasukan bumbu, mengaduk, menggoreng, dan sebagainya.

Heechul berdiri dan mengambil pudding dari dalam kulkas setelah keduanya selesai memakan makan malam mereka. Sebagai dessert, Heechul mengguyur pudding itu dengan vla. Lalu memberikannya pada Hangeng.

"Dessert-nya hanya ini, gwaenchana?"

Hangeng mengangguk. "Tak apa, Chullie. Ini sudah lebih dari cukup kok."

Mendengar jawaban Hangeng, Heechul kembali tersenyum. Sepertinya ia tidak akan berhenti tersenyum setelah ini jika Hangeng masih saja memujinya. Heechul menaruh semua piring kotor ketika keduanya sudah selesai. Setelah memakai apron, dia mulai membilas piring-piring kotor itu.

Hangeng berjalan pelan-pelan kebelakang Heechul dan memeluk yeojya itu dari belakang. "Semua makananmu enak, Chullie…"

Dan benar, Heechul tidak berhenti tersenyum. "Gomawo, tapi kau tidak usah terus-terusan memujiku begitu. Bisa-bisa aku melayang setelah ini."

"Tak apa jika kau melayang, aku akan menangkapmu. Terakhir, kau sangat cantik. Mungkin ini alasan kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu bahkan sebelum kita bertemu dulu."

Heechul mengerang. "Geumanhae, Hannie," Heechul memutar tubuhnya dan menatap Hangeng dalam-dalam. "Berhenti memujiku."

Hangeng terkekeh kecil. "Ne ne, aku berhenti."

Heechul memutar tubuhnya lagi dan menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya. Setelah itu ia dan Hangeng melangkah ke sofa dan mulai menonton acara tv yang seru. Ketika Heechul menggonta-ganti channel, ia menemukan acara reality show Strong Heart. Edisi artis SM Entertainment, ulangan.

"Ah, ada Jongwoon dan Siwon." Gumam Heechul dan mulai menonton.

Hangeng memeriksa lagi ke saku jasnya, benda itu masih disana. Mata tajam Hangeng melirik Heechul yang tertawa karena ocehan tak penting dari Yesung diacara itu. Hangeng melingkarkan tangannya kebelakang pinggang Heechul.

"Heenim…"

"Eung?" Jawab Heechul tanpa menatap Hangeng.

Hangeng menarik nafas dalam-dalam. "Apa kau serius berhubungan denganku?"

Heechul menatapnya. "Apa maksudmu?"

"Kau serius?" Ulang Hangeng.

"Tentu! Aku serius mencintaimu."

"Tapi kalau untuk menikah denganku," Hangeng berdiam diri sebentar. "Apa kau serius sampai kesana?"

Kali ini Heechul yang diam. Pertanyaan Hangeng sebenarnya mudah untuk dijawab, tapi dia tidak berani mengucapnya. Ia takut kalau Hangeng tidak satu pendapat dengannya. Heechul menunduk dan masih belum menjawab.

"Sudah kukira, kau memang tidak ingin sampai ke pernikahan."

Heechul melotot. "Maldo andwae! Aku ingin, Hannie. Aku ingin sampai ke jenjang itu, Demi Tuhan! Aku ingin menikah denganmu."

Hangeng tampak ragu, tapi akhirnya ia tersenyum perlahan. Dia berdiri dan melangkah menjauh, tangannya menarik Heechul untuk berdiri juga. Senyum maskulin Hangeng membuat Heechul bingung apa yang terjadi disini.

Duk.

Hangeng berlutut dihadapannya dan salah satu tangannya masuk kedalam saku jasnya. Namja itu mengeluarkan kotak kecil berbentuk diamond transparan. Mata Heechul bisa menerawang apa yang ada didalamnya, yeojya itu menutup mulutnya yang terbuka karena kaget

Hangeng membuka tutup kotak itu dan mengambil benda yang tersimpan indah didalamnya. Benda itu berbentuk lingkaran pipih berwarna putih dengan sebutir berlian besar diatasnya. Cincin itu berbahan emas putih yang sangat indah.

"Apa kau mau percaya padaku untuk menjagamu seumur hidupmu dengan ikatan pernikahan?" Tanya Hangeng sambil menengadah dan menatap mata Heechul dalam. "Nawa kyeoryeonae jullae, Kim Heechul?"

Heechul mengangguk. "Aku bersedia, Hannie. Aku bersedia…"

xxXxx

Chapter 3 is up!

Ah… capek juga ya ngetik buat Hanchulnya hanya beberapa jam kaya gini. Semoga aja pada seneng nih Hanchul dan Kyumin shipper. Author mau dateng ke pesta pernikahan Hanchul dulu ya, ikut ikut?

Habis ini ada satu chapter yang author buat untuk penutupan Sapphire Blue Series ini, readerdeul. Author bakal bahas setelah ini mereka ngapain sih. Nanti kita intip di Chap 4 buat penutupan.

Nggak nyangka juga ceritanya kelar secepet ini ya? Sekuel? Eung… masih dipikir dulu deh ya untuk sekuelnya. Author nggak berani janji bikin sekuel mereka haha. Author udah keburu tepar kalo bikin 3 stories sekuel.

Yang udah baca, tinggalin jejak ya. Kajja… jangan jadi silent reader. Author butuh penyemangat walaupun cuma satu review, itu cukup kok buat author hehe.

Buat yang udah review: Jang Taeyoung, vivooooo, Lya Clouds, ryeofha2125, yumiewooki, feykwangie, ressijewelll, aniimin, Freychullie, Beakren, mitade13, Andhisa Joyers, SSungMine, mitade13, YunieNie HanChullie, Kim Sooyeon, Angeleeteuk, amandhharu0522, wonniebummie, kyuqie, Let's KT, Rio, AngeLeeteuk, dan Kim Rae Sun.

Gamsa udah mau tinggalin jejak, yg nggak keketik mianhae juga ya author mungkin ketinggalan buat copas namanya. Tapi jangan ngambek ya hehe terus review ff ini.

Gomawo yang udah baca dan review dari series satu. Tunggu chap depan, ne?! Haja!