ATTENTION: This story belongs to Zephyr Seraphim. I am just translate this fanfic into Bahasa Indonesia. You can go to Zephyr Seraphim's page to read the ORIGINAL one (in English).


Author: Zephyr Seraphym

Translated by Ciel Pockyhive.

Disclaimer: semua karakter milik J.K Rowling. Ide cerita fanfic ini milik Zephyr Seraphim.


Why We Fight (Indonesian version)

.

PART 1:

Evil?

.

.

Hermione Granger melotot pada pasangan kerjanya. Ia tahu bahwa Severus Snape kejam... tapi ia tidak pernah menganggapnya jahat. Tidak, ia tidak berpikir ia jahat sampai sekarang. Sekarang, gadis berambut tebal itu yakin bahwa Master Ramuan itu jahat. Ia telah menggegerkan semua orang ketika ia mendapat nilai O pada ujian OWL di setiap kelas yang ia ambil (terutama pada pelajaran Snape. Ia bahkan mendapat nilai O pada OWL Ramuannya) dan telah memutuskan untuk mengambil pelajaran Ramuan Tingkat lanjut pada tahun ke-enam. Ia telah berhasil meyakinkan Ron dan Harry (yang berharap untuk menjadi Auror) bahwa mereka butuh mengikuti kelas Ramuan Tingkat lanjut dan mereka dengan enggan menyetujuinya. Hanya Harry, Hermione, dan Ron yang mengambil pelajaran Ramuan Tingkat lanjut dari Gryffindor; beberapa anak Ravenclaw; kebanyakan Slytherin; dan tidak ada anak Hufflepuff.

Ketika Snape tahu Hermione mengikuti pelajaran Ramuan Tingkat lanjut, ia melakukan hal yang paling sadis yang bisa dilakukan. Jauh dari dari kata 'jahat', ia telah menjadikan Draco Malfoy sebagai pasangan kerja Hermione. Ini baru permulaan tahun ajaran ke-enam, tetapi sudah membuat perut Hermione melillit sakit mengingat bahwa pasangan kerjanya adalah seorang Draco Malfoy. Ia harus belajar dengannya dan duduk dengannya. Tahun ke-enam bisa menjadi 'arti' neraka yang sebenarnya.

Draco merengut pada Hermione dan kemudian pada Guru Ramuannya. Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku? Seorang Malfoy? Malfoy tidak bekerja dengan Darah-lumpur! pikirnya marah. Dia menyilangkan tangan di depan dada dengan jengkel saat Hermione menambahkan bahan ke kuali mendidih dengan teliti. Dia mengerutkan kening, berpikir. Kita sedang membuat apa?

Mencoba untuk menjaga pikirannya pada tugas, ia melihat catatan dan menambahkan beberapa bahan dengan pikiran kacau. Ia mengerutkan kening ketika ramuan yang mereka buat berwarna merah muda, bukan hijau sebagaimana mestinya. Ia melirik catatan Hermione dan melihat tanda cek pada tiap-tiap langkah. Ia mengerang ketika menyadari telah menambahkan hellebore dua kali lipat dan wolfbane sebagai bahan yang dibutuhkan dalam ramuan. Dia melirik langkah berikutnya dan melihat tangan Hermione bergerak di atas ramuan dengan sejumput thistledown dicampur dengan thyme.

"Jangan!" seru Draco saat thistledown dan thyme dimasukkan ke dalam ramuan tersebut. Terlambat. Ramuan itu bergolak, membuat mereka ketakutan. Gelembung bermunculan di seluruh permukaan ramuan bewarna merah muda itu. Hermione dan Draco menyambar tas mereka cepat untuk melindungi diri saat ramuan itu meledak ke arah mereka.

Hermione menjatuhkan tasnya. "Apa yang kau lakukan pada ramuanku?" bentaknya.

"Ramuanmu, Granger?" Draco mengerutkan kening, "Seingatku ini juga ramuanku."

"Dan kau menghancurkannya," balas Hermione. Ia mengernyit ke seluruh ruangan kelas ruang bawah tanah itu ketika menyadari bahwa tak ada tanda-tanda dari ramuan... atau Snape... atau siapapun murid-murid yang seharusnya ada. Ruangan itu sangat gelap dan lebih suram daripada biasanya dan jelas-jelas kosong. Bahan-bahan ramuan masih berada di tempatnya seakan belum pernah disentuh. Draco melihat Hermione yang menatap keseluruh ruangan dengan pandangan aneh, mata kelabunya pun mengikuti. "Apa yang kau tambahkan pada ramuan itu?"

"Terlalu banyak hellbore, terlalu banyak wolfbane." jawab Draco.

"Berapa banyak?" tanya Hermione.

"Masing-masing dua." Draco merengutkan keningnya.

"Dan kau membiarkanku menambahkan thistledown dan thyme?!"

"Aku sudah berusaha mencegah!" Draco merengut, menghembuskan rambut pirang-pucatnya dari alis. Ia menatap meja—tempat dimana kuali mereka dan membayangkan hal apa yang telah mereka ciptakan dengan tidak sengaja. Apa pun itu... mengapa menghasilkan ledakan? Dan mengapa semua orang menghilang?

Bel berbunyi dan Hermione mengumpulkan barang-barangnya. Ia akan memikirkan hal ini nanti; sekarang ia ada kelas Arithmancy Tingkat lanjut. Ia merengut; Draco juga mengikuti kelas Arithmancy Tingkat lanjut dengannya. Dua kelas sekaligus dengan Malfoy, apa yang lebih buruk? pikirnya.

Keduanya meninggalkan ruang bawah tanah dan menuju ke kelas Profesor Vector. Banyak siswa lewat di lorong, tapi tak ada satu pun dari mereka yang terlihat familiar seperti biasanya. Hermione melirik melalui kerumunan, mencari orang berambut merah atau hitam di lautan cokelat dan pirang. Ia tahu bahwa Draco sedang mencari Crabbe, Goyle, atau/dan Pansy Parkinson. Mereka berjalan dalam diam ke kelas Arithmancy, keduanya mengambil tempat duduk bersebrangan sesuai dengan asrama masing-masing. Hermione memandang sekeliling kelas, tampaknya... berbeda. Ia tidak dapat menjelaskan kejanggalan itu. Dari sudut mata coklatnya, ia melihat Draco juga menyadari keanehan itu.

Murid-murid berhamburan memasuki kelas dan Hermione hampir terjatuh dari kursinya ketika melihat seseorang berambut hitam... identik dengan Harry kecuali mata birunya, bukan hijau, dan dia tidak memakai kacamata. Dia diapit oleh dua anak laki-laki lain... tinggi tegap, berambut gelap dengan mata biru keperakan dan satu lagi lebih kecil, kurus dengan mata keemasan. Dia-yang-mirip-dengan-Harry memiliki lencana "Kepala Murid" yang berkilau pada jubahnya dan anak laki-laki yang berambut coklat memiliki lencana prefek pada jubahnya. Anak laki-laki tanpa lencana menggoda Kepala Murid. "Nah, nah, Prongs. Kita tidak mau kau menjadi besar kepala, ya kan?" ejeknya.

Prongs memutar kedua bola matanya. "Padfoot, mate, kau cemburu." ucapnya.

"Kau tidak akan membiarkan semua kesenangan-memanjakan kami itu pergi seperti yang Moony lakukan, kan?" tanya Padfoot, menjentikkan lencana prefek. Moony melototi Padfoot.

"Padfoot, Padfoot, Padfoot," desah Moony, meletakkan lengan di bahu Padfoot. "Seseorang harus merusak rencanamu sebelum kau masuk ke dalam masalah karena telah mematahkan banyak hati." Hermiona terjatuh dari tempat duduknya (tepat di depan trio) ketika menyadari julukan: James Prongs Potter, Sirius Padfoot Black, Remus Moony Lupin.

Sirius tersenyum menggoda padanya. "Butuh sedikit bantuan, love?" tanyanya seraya menawarkan tangannya. Hermione meraih tangannya dengan hati-hati dan ia membantunya berdiri.

James menyeringai. "Seseorang harus membuatnya tetap pada jalan... semua gadis jatuh di kakinya." ucap James pada Remus. Keduanya menyeringai.

Sirius memutar matanya meskipun kedua temannya tampak gembira. "Jangan pedulikan James dan Remus, mereka idiot," kata Sirius. "Kau anak baru? Aku belum pernah melihatmu. Namaku—"

"Sirius Black," kata Hermione, tersipu-sipu ketika laki-laki itu menjabat tangannya. James dan Sirus sudah meninggal! Dan sekarang mereka seusiaku. Bagaimana? Hermione bertanya dalam hati. Dia tampak berbeda dari Sirius yang ia kenal pada musim panas sebelum tahun ajaran ke-lima. Matanya penuh dengan kehidupan dan nakal dan kulitnya kecoklatan.

"Reputasimu baik, Padfoot." goda James sembari menjabat tangan Hermione. "James Potter... dan ini teman kami, Remus Lupin."

Remus menjabat tangan Hermione. "Her-hermione." gagap Hermione.

"Kau punya nama belakang, Hermione?" tanya Remus.

"Err... tidak." ucap Hermione. James menyeringai, ia bisa melihat putranya dalam diri lelaki itu.

"Nah, Hermione-tanpa-nama-belakang, senang berkenalan denganmu." Sirius mengedipkan mata seraya berjalan kembali ke tempat duduk bersama teman-temannya.

Hermione mengambil tempat duduk di sebelah gadis berambut merah dengan lencana Kepala Murid. Dia memutar kedua bola matanya. "Kulihat kau sudah bertemu dengan James, Sirius, dan Remus." ucapnya. Si rambut merah tidak menyadari pandangan dari James sebelum kembali berbincang pada kedua sahabatnya.

"Yeah," jawab Hermione. "Mereka... menarik."

"Mereka menyebalkan," kata gadis itu. "Aku Lily Evans."

"Li—Lily?" Hermione tergagap dan Lily mengangguk pelan seakan Hermione gila. Seorang pria tua memasuki kelas dan Draco akhirnya mencatat semua kejanggalan itu. Hermione bangkit dari duduknya. "P-Profesor. Tiba-tiba saya merasa kurang enak badan. Bisa kah saya... ke perawat?" ia tidak begitu yakin Madam Promfey ada.

"Uh.. ya, Miss...?"

"Um... de Lioncourt?" Hermione tergagap. Dia akan memberikan apa saja untuk memiliki salah satu snack kabur milik Fred dan George sekarang.

"Ya, Miss de Lioncourt," kata sang profesor.

"Aku akan menemani Miss... de Lioncourt," seru Draco. "Saya juga tidak merasa begitu baik."

"Baiklah," kata sang profesor, tampak kewalahan. Sirius mengangkat tangannya dan profesor memelototinya. "Tidak, anda tidak bisa pergi ke perawat, Mr Black."

Draco dan Hermione keluar kelas Arithmancy dan seketika itu Hermione menyeretnya menaiki tangga ke Menara Astronomi yang kosong. Menara Astronomi hampir tidak pernah digunakan kecuali sebagai pertemuan bagi pasangan yang mencari liburan yang tenang. Di situ terdapat karpet lembut dan tempat tidur kecil milik Profesor Sinastra yang sering jatuh tertidur pada larut malam ketika melakukan penelitian dari langit. Ruangan itu digunakan sebagai kantornya sekali-kali.

Draco menatap gadis di depannya. "Kenapa, Granger? Kencan pertama?" ia mengejek.

"Diam, Malfoy. Kita perlu bicara dengan Profesor Dumbledore," ucap Hermione.

"Aku tidak akan berbicara dengan kelelawar-setengah-cerdas-tua, dia sinting," rengut Draco.

"Profesor Dumbledore tidak sinting, Malfoy," kata Hermione. "Dia satu-satunya yang dapat membantu kita di sini."

"Kita tidak perlu bantuan," jawab Draco.

"Apa kau mengenali salah satu dari orang-orang di kelas itu?" tanya Hermione.

"Tidak, lagipula ini kelas Arithmancy Tingkat lanjut. Hanya ada satu kelas. Ravenclaw dan Hufflepuff di dalamnya." Draco mengangkat bahunya.

"Kau mungkin tidak menyadarinya tapi aku sadar," ucap Hermione. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah foto usang yang robek. "Semua orang yang kita lihat tadi, lihat foto ini." Sebagian besar orang hilang kecuali James, Sirius, Remus, dan Lily. Dia menunjukkan foto itu ke Draco.

"Jadi kau memiliki foto mereka," Draco memutar matanya. "Langsung ke intinya, Darah Lumpur."

"Itu James dan Lily Potter," ucap Hermione, mengabaikan komentar Draco seraya menunjuk pasangan bahagia di foto itu. "Mereka sudah mati selama lima belas tahun. Kau sudah bertemu Profesor Lupin, kau ingat... Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, guru kita yang sudah— salah satu yang dipecat karena ayahmu." Ia menunjuk Remus yang duduk di dekat pasangan tadi dan kemudian jarinya terbang ke Sirius Black. "Dan itu Sirius Black, dia meninggal awal tahun ini karena master ayahmu." Hermione melotot padanya.

Draco mengernyit pada Hermione. "Jadi intinya?"

"Damn it, Malfoy! Aku bertemu dengan orang-orang yang telah mati! Dan mereka hidup... dan.. dan.. seumuran denganku!"

"Oke, ku akui Dumbledore tidak sinting, tapi kau," kata Draco.

"Kau bisa mengatakan itu pada ayahmu," kata Hermione, menyadari seseorang di belakang Draco yang entah sejak kapan berada di situ. Ia melihat seseorang yang mirip dengan Draco kecuali rambut panjangnya yang dikucir kuda. Seorang wanita pirang telah membuka kancing bajunya dan kini sedang menciumi lehernya.

"Baiklah," gumam Draco.

"Well, ini kesempatanmu." Hermione memutar badan Draco. Draco terkejut ketika melihat lelaki yang bisa dibilang kembarannya. "Sekarang, kau percaya?"

Draco berbalik dan mengernyit, wajahnya tampak merona. "Astaga, Granger. Hal paling terakhir yang diinginkan seorang anak adalah melihat ayahnya seperti... itu." Draco bergidik.

"Mau bergabung dengan kami, hm?" suara Lucius Malfoy keluar.
"Father?" Draco merintih pelan sedangkan Hermione berhasil tetap tenang, tapi tersipu karena ucapan Lucius, sangat memalukan bagi Draco daripada dirinya sendiri.

"T-tidak, terima kasih, kami—eh... akan pergi. Mencari tempat sepi seperti kelas kosong, ruang bawah tanah, dan semacamnya..." ucap Hermione, wajahnya tampak seperti rambut seorang Weasley.

"My, my, love, aku tidak tahu kalau kau pemalu." kata Draco. Hermione memukul kepalanya saat keluar dari Menara Astronomi.

Bersambung


Note:

Cerita aslinya udah jauh banget.

Haruskah saya lanjut mentranslet? Let me know :)

Btw, baca cerita saya "Klasik: Breakaway" yaaa XDD Dramione juga :3

Thanks buat nyamuk dan semut (entah bagaimana bisa dateng) yang telah menemani saya semaleman :')

Credits: Zephyr Seraphym