(a/n)Diclaimer: All Characters Belong to SDK Author, om KAmijyo Akimine :3

Disini ceritanya Akira matanya kebuka dan bisa melihat. Temen Sekelas Tokito waktu SMA

summary: Tokito had decided. Which One's she choose?

Sambil tergesa-gesa kutatap jam tanganku, sudah seperempat jam lewat dari waktu janjian, arhg!. Aku memang termasuk perfeksionis termasuk soal waktu. Aku benci menunggu karena itu sebisa mungkin aku pun tidak mau membuat orang lain menunggu. Khususnya kalau orang itu Akira. Yah, kemarin aku memang mengutarakan lewat telepon kalau aku sudah memutuskan dan dia langsung meminta ketemu besoknya ditaman. Katanya dia ingin mendengar jawabannya langsung dari mulutku.

Gara-gara ada perbaikan jalan mendadak dijalan, jadi aku pun harus menempuh jalan memutar dimana jaraknya menjadi dua kali lebih panjang. Nafasku mulai tersengal-sengal karena capeknya. Saat aku berlari, kulihat pintu rumah Kyoichiro yang masih tertutup selama 12 tahun. Aku menghentikan langkahku sejekan dan menatapnya. 'Kyoichiro...' Batinku. Cepat-cepat kukeluarkan diriku dari pikiranku sendiri. Aku harus cepat ke taman.


"Hei Tokito" Sapa Akira. Aku berpegangan pada tiang lampu terdekat sambil berusaha mengatur nafasku.

"Ma...af..hh...hh...aku..telat...hh...jalan...nya...hh...dibenerin" Kataku akhirnya berhasil mengucapkan kata-kata itu diantaran sengalan nafasku. Akira tersenyum tipis, ia pergi sebentar kearah mesin penjual minuman tak jauh dari situ lalu kembali lagi padaku.

"Nih, minum dulu" Katanya menyerahkan sekaleng jus jeruk padaku. Aku menerimanya lalu langsung meminumnya. Hanya perlu waktu beberapa detik sampai jus kaleng itu kosong tak berisi. Yah, aku memang benar-benar haus. Kau pikir lari-lari seperti tadi tidak menguras tenaga?. Ditambah tatanan ramburtku pun rusak, aah aku pasti terlihat seperti gadis desa buatnya (ToT).

Akira terdiam, tidak mengucapkan sepatah katapun. Apa dia tegang dengan jawaban apa yang akan kuberikan padanya?. Kugigit bibir bawahku, otakku tengah memilah kata yang tepat untuk kuucapkan padanya. "A...akira" Panggilku yang sukses membuatnya menatap padaku. "Tentang waktu itu, kau tanya apa aku mau denganmu?" Tanyaku. Ia mengangguk pelan. "Aku mau...sama Akira. Tapi...Akira jangan pernah niggalin Tokito, janji" Kataku menyodorkan jarikelingkingku. Akira tertawa kecil lalu menyambut jari kelingkingku dengan miliknya.

"Janji" Katanya. Saat itu kulihat blir bening mengalir melalui sudut matanya.

"Eh, kau nangis?" Tanyaku terkejut. Akira terkaget, ia cepat-cepat mengelap air matanya itu.

"Hehe maaf, aku tegang tadi. Takut kau menolakku. Habis, aku kan sudah lama menyukaimu" Katanya. Senyuman tipis terlukis diwajahku. Dengan lembut kuusap air matanya yang masih saja bercucuran itu. Akira, walau dia lelaki, tapi tetaplah dia manusia biasa.

"Yeee...Akira ternyata bisa nangis juga" Ledekku.

"Hei, aku juga punya perasaan" Protesnya seraya mencubit gemas kedua pipiku. Selanjutnya tak ada lagi air mata yang menetes. Kami sudah hanyut dalam canda tawa bersama ditengah taman ditemani birunya langit.

.

.

.

Tbc