Character: Tenten
Rate: K
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Comedy&Romance

~Balas Review~

KangTeuk : Arigatou udah review :D iya ini udh lanjut kok... Yaaa, aku coba deh OvO soalnya aku ini author abal kalo nulis yg komedi -v-" Sip deh, nnti boku mampir XDd. Ikutin terus ya

Mizu Kanata : arigatou udah mau repot" mampir ke Fic ku ini T^T/ souka? Aku coba pertahankan^^ oho gitu ya itu membantu sekali! Arigatou udah di kasih tau :D. Ikutin terus ya

kryscopter96 L : Arigatou udah review :D Nani? Apa iya? X3 Wah, coba kamu baca aja cerita ku ini, yang bener tebakanmu/tebakan ku(?) ksih tau gak ya? #digaplok# aku ikutin aja ceritanya ;)

WARNING: AU,OOC,TYPO,EYD berantakan, Kata-kata gak Baku, GaJe, DLL.
RnR Please?

-BAB 1: Keanehan-
Ready? Set... GO!

"Lihat teman-teman! Aku mendapatkan majalahnya lagi!" Ucap Tenten senang sambil mengacungkan majalahnya ke atas, seperti habis mendapat kan piala emas dari ajang perlombaan.

Ino dan Sakura malah terlihat sibuk membaca majalah yang baru saja diberikan Hinata, yang menanggapi ucapan Tenten hanya suara jangkrik.

"A-Ano... Tenten-chan ... Kurasa mereka sedang sibuk membaca majalahnya, ah... Berarti kamu punya dua majalah sekarang ne, Tenten?" Tanya Hinata sambil tersenyum khas Hinata Hyuuga.

"A-Ah, iya... Memang hanya kamu yang mengerti perasaan ku Hinata..." Ucap Tenten tidak semangat.

"Souka? Hihi. Oh ya Tenten-chan ini majalahmu, jangan sampai lupa," ucap Hinata sambil mengulurkan tangan kanan nya untuk memberikan majalah nya.

"Terima—" Ucapan Tenten terhenti, bukan karena dipotong kalimatnya oleh orang lain, namun Tenten terpaku oleh benda yang melingkar ditangan kanan Hinata, jam berwarna putih.

Tenten belum menyentuh majalah itu, tangannya masih menggantung disana, Hinata terlihat bingung.

"Tenten?" Hinata mencoba memanggil Tenten.

"Tidak mungkin... Bukan hanya warna nya saja yang sama, tapi bentuknya juga, sampai kepaling detail juga sama," ucap Tenten dalam hati. Masih tidak percaya, Tenten masih terpaku dengan jam itu.

BUG!

"A-Aduh! Apa-apaan sih Ino!" Protes Tenten sembari mengusap-usap kepalanya yang tadi dipukul dengan majalah oleh Ino. Hinata meletakkan kembali majalah itu ke samping kanannya dengan bingung.

"Heh, kau bisa kesambet tau!" Tegas Ino tanpa bersalah.

"Huh, kau orang kedua yang memukul kepala ku dengan majalah yang sama!" Umpat Tenten masih kesal.

"Ha? Maksudmu?" Tanya Ino bingung. Hinata hanya diam, tidak mengerti.

"Begini, sebenarnya yang beli majalah ini bukan aku, tapi seorang laki-laki aneh yang ku kira adalah penjahat telah membelikan majalah ini untuk ku. Dan anehnya lagi dia memakai jam yang sama persis seperti Hinata," ucap Tenten sambil memandang ke arah jam Hinata.

DEG

Hinata terlihat terbelalak dan juga salah tingkah.

"A-ah... Mungkin hanya perasaan mu, Tenten-chan..." Elak Hinata.

"Tidak! Aku pasti benar, pasti ada hubungannya dengan kamu ya Hinata? Karena... Barang-barang mu itu kan tidak pernah ada yang ngembarin, secara, kamu selalu memesan barang-barang rancangan sendiri?" Tanya Tenten menyelidiki, sudah seperti detektif profesional, bahkan sekarang sudah memakai pakaian seorang detektif sambil membawa kaca pembesar dan sebuah rokok ala detektif. Tunggu, yang terakhir itu tidak boleh di tiru.

"Hei-hei! Aku semakin tidak mengerti," tanya Ino yang terlihat polos.

"A-Aku—" Hinata terlihat gugup dan seperti biasa memainkan jari-jari telunjuknya.

"Siapa dia Hinata-chan? Apa dia teman mu? Saudara mu? Apa jangan-jangan laki-laki itu pacarmu?! Ayolah Hinata, kau menyukai Naruto dan gosip itu sudah menyebar keseluruh sekolah. Tapi, itu pasti pacar gelap mu ya? Pakai acara kembaran jam tangan segala? Hm..." Cerocos Tenten lagi.

Tenten meniup rokok ala detektif nya itu, dan keluar gelembung-gelembung yang aneh. Ingat, jangan ditiru.

BLUP...BLUP...PYAR...PYAR...

"Tunggu! Tunggu! Aku semakin, semakin tidak mengerti! Kenapa tiba-tiba Tenten berubah jadi detektif? Hei, dan harusnya rokok itu dihisap, bukan ditiup—" Ucapan Ino terpotong.

"Hah... Kalau aku hisap, yang ada aku akan keracunan! Yang benar saja, ini kan rokok yang isinya sampo, bukan tembakau," jelas Tenten sambil 'meniup' rokok nya kembali.

"Tenten," panggil Ino.

"Nani?" Tanya Tenten polos.

"Hinata kemana?" Tanya Ino tanpa ekspresi.

"Aku—HAH?" Tenten terlihat kaget, benar-benar detektif yang amatir.

Ino hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Tenten ini.

"Tenten, bicaramu tadi terlalu keras. Kau menuduh kalau laki-laki itu pacar gelap Hinata? Oh My... Keterlaluan sekali, bisa-bisa kau tidak diberi majalah oleh Hinata," ucap Ino kesal.

"Hee... Mulutku ini yang berbicara sendiri, aduh... Tapi yang terakhir itu tidak mungkin Ino, majalahnya ada disitu," ucap Tenten seraya menunjuk majalah yang masih tergeletak indah disana.

"Ya, ya... Setidaknya kau tidak akan dikejar-kejar hingga kembali ke jaman edo dulu oleh Inu milik keluarga Hyuuga itu karena sudah membuat Hinata menangis," ucap Ino enteng.

"HAH! Aku memang bodoh!" Teriak Tenten frustasi, dia lupa tentang Inu milik keluarga Hyuuga itu.

:3 :3 :3 :3 :3 :3 :3 :3 :3

"Hah... Hah... Gawat..." Ucap Hinata terengah-engah. Sekarang Hinata sedang berada toilet tentunya toilet wanita. Habis 'acara' nya dengan detektif amatir itu, Hinata langsung berlari lebih tepatnya bersembunyi.

To:-someone91421sk-

Gommenasai! Apakah aku harus tetap memakai jam ini? Begini, aku hampir saja ketahuan oleh sahabat ku... Mohon dibalas!

SEND...

Hinata tampak bingung, apakah dia harus memberitau Tenten ataupun sahabatnya yang lain? Ah, tidak, mungkin dia harus bertanya dulu kepada nya.

DRRRT... DRRRT...

Ah! Hinata tampak kaget, tidak biasanya membalas secepat ini.

From:- someone91421sk-

Hrs pakai.

Hinata tampak kecewa dengan jawabannya, Hinata mungkin sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu. Hinata hanya mendesah.

To: -someone91421sk-

Begitu ya... Eng,apa... Aku beritau saja mereka?

SEND...

Hinata tampak gugup, padahal hanya mengirim sms namun ada rasa yang aneh bagi Hinata.

Sudah hampir 15 menit Hinata menunggu balasan dari seseorang yang ia kirimi sms. Dan keseluruhan dari awal, sudah setengah jam lebih Hinata di dalam toilet wanita, mungkin dia akan terlambat dipelajaran Gai-sensei, tak apa, sesekali terlambat juga tidak masalah.

Sengaja atau tidak? Tidak, dia tidak mungkin sengaja, sudah 17 menit. Apa tidak punya pulsa? Ayolah, dia orang yang sangat mampu.

Hinata menggigit bibir bawahnya, takut. Takut jika sahabatnya itu menginterogasi nya lagi. Hinata sudah muak, namun di lain sisi, jika Hinata memberitau sahabatnya itu, dia akan membencinya. Memang kalau jadi orang `tengah` itu posisi yang merugikan.

"A-Apa... Artinya... Iya?" Tanya Hinata dalam hati.

-Di Lain Tempat-

"Hei, Ino. Kok rasanya sepi ya?" Tanya Tenten. Sekarang di kelas hanya tinggal Ino dan Tenten. Kalian pasti tau kan apa yang akan di jawab Ino? Ya, tepat sekali.

"Tentu saja, Sakura dan Hinata menghilang di telan Fuji-Yama," jawab Ino bosan.

"Hah, benar, sepertinya aku harus meminta maaf kepada Hinata. Sejak tadi, Hinata belum kembali, dan yang kesini hanya maid nya Hinata yang mengambil tas-Hinata untuk dibawa pulang. Berarti Hinata sudah pulang sekarang," jelas Tenten.

"Iya, mungkin teori mu sekarang benar Ten. Dan... Kapan kau berganti pakaian lagi?" Tanya Ino.

"Entahlah... Semuanya terjadi secara ajaib, tiba-tiba aku sudah berganti pakaian dengan baju sekolah ini lagi. Ah, sayang sekali rokok ala detektif ku juga entah ada dimana," jawab Tenten terlihat sedih.

"Besok, kau harus minta maaf sama Hinata-chan lho Ten!" Teriak Ino dengan latar aura ungu pekat.

"I-Iya iya, aku tau kok. Oh ya, Sakura kemana?! Dari awal cerita ini Sakura tidak ber-dialog?!" Tunggu, anggap kalimat Tenten tadi tidak ada. Tenten terbawa suasana.

"Ah... Saat kau melamun tadi pagi, Sakura pamit pulang, katanya ada urusan mendadak. Mukanya terlihat serius tadi," ucap Ino sambil melipat kedua tangannya.

"Hm... souka. Kenapa Hinata dan Sakura bertindak aneh ya, Ino?" Tanya Tenten sambil memandang keluar cendela.

"Entahlah, yang paling aneh sepetinya kau, Tenten. Ah, ya sudah ayo kita pulang, dan tanyakan semuanya besok kepada Hinata dan Sakura," ucap Ino lalu pergi seraya menarik tangan kanan Tenten.

"Un! Oke," jawab Tenten dengan ceringan khas nya.

"Tapi, aku merasa akan terjadi sesuatu. Apa ya?" Gumam Tenten dalam hati.

:3 :3 :3 :3 :3 :3 :3 :3 :3

"...Mungkin kau akan tidak masuk sekolah untuk beberapa hari," ucap seorang wanita paruh baya.

"Un, ba-baiklah Tsunade-sama, " ucap Sakura agak ragu.

"Tidak apa-apa, walaupun kata-katanya menusuk, dia sebenarnya baik kok," jelas wanita paruh baya yang bernama Tsunade.

"Iya... Baik..." Jawab Sakura dengan senyum yang dipaksakan.

Tsunade tetap bersikeras untuk membuat Sakura tenang, karena kalau tegang, pekerjaan apapun akan menjadi kacau.

"Sakura, kau akan menjadi pengganti ku, karena hanya kau orang yang menurutku pantas. Sikapmu itu, hampir sama denganku, kau hanya perlu `tegas` kepada mereka. Aku sudah terlalu tua untuk ini Sakura, ya walaupun tidak terlihat namun usia ku sudah 50 lebih. Tenang saja, aku akan selalu ada di belakangmu ," ucap Tsunade dengan senyuman nya.

Sakura terlihat lebih tenang, "Haik, watashi wa ganbarimasu!"* Ucap Sakura semangat sambil tersenyum.

"Aku sangat senang dengan pekerjaan ini, siapa yang tidak mau menerima pekerjaan ini? Aku, akan mencoba berteman dengan dunia baru ini," sumpah Sakura dalam hati.

-Bersambung/Tsuzuku-

:3 Pojok Author :3

Ohayou! (karena disini masih pagi) Gomen lho kalo ada kesalahan EYD/ada Typo, author juga manusia sih~
Gak banyak bicara, arigatou yang udah baca fic ini^^ ikuti terus ya ceritanya!
Boleh dong, yang mau protes,curhat(?) DLL... kotak REVIEW selalu tersedia untuk kalian.