CHAPTER 1

NORMAL POV

Roxanne DéLacour tanpa sengaja menemukan seorang pria terhanyut di sungai Saint Luca. Pria berambut kuning itu tak sadarkan diri dan nafasnya hampir terputus. Terbesit perasaan terkejut ketika ia melihat wajah pria itu. Tanpa pikir panjang, ia membawa tubuh pria itu ke rumahnya dan merawat pria itu sampai pria itu kembali membuka matanya.

Senja yang temaram menghampiri desa kecil Saint Luca. Angin malam mulai berhembus bergiliran.

"Mia, kau diam disini ya. Aku akan ke kamar sebentar," ucap Roxanne.

"Tentu," jawab Mia. Gadis kecil yang baru saja berumur 5 tahun.

Roxanne memutuskan untuk memeriksa keadaan pria yang ia temukan di sungai beberapa hari yang lalu. Belum ada perubahan.

Roxanne terduduk di kasur, di samping tubuh pria itu. Roxanne memandangi wajah pria itu. Tenang. Tanpa ekspresi.

Sebuah bekas luka berbentuk petir terbentuk di mata kirinya. Matanya jauh menerawang ke masa lalunya, 2 tahun yang lalu.

Beberapa menit Roxanne terhanyut dalam lamunannya. Lamunannya buyar ketika ia mendengar gumamam seorang pria.

Pria disampingnya itu bergumam pelan. Kelopak matanya berlahan terbuka. Ketika pria itu membuka kedua matanya, Roxanne semakin terkejut dan perasaan sedih perlahan menyelimuti hatinya.

"Dimana aku?" Tanya pria itu. Roxanne terdiam. "Kau siapa?"

Roxanne tersenyum kecil. Matanya membentuk bulan sabit dan mulai memperkenalkan diri.

"Aku Roxanne. Aku menemukanmu terhanyut di sungai beberapa hari yang lalu," jawab Roxanne ramah.

Pria itu terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak. Tangannya bergerak menyentuh kepalanya. Sekujur tubuh pria itu penuh dengan luka. Kepalanya terbalut perban putih dan ada beberapa plester kecil di wajah pria itu.

"Jangan banyak gerak dulu. Beristirahatlah. Lukamu akan segera sembuh," ucap Roxanne mencoba menghentikan gerakan tangan pria itu.

Pria itu tak bergeming ketika Roxanne menyentuh tangannya. Mereka berdua terdiam. Pria itu merasakan sakit disekujur tubuhnya. Namun seluruh hati Roxanne terasa amat pilu melihat pria itu kesakitan.

"Disini tidak ada dokter ataupun rumah sakit. Hanya ada tabib dengan obat-obatan tradisional. Tapi tenanglah, luka-lukamu sudah ditangani," ucap Roxanne.

"Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?" Tanya pria itu.

"Ini hari ketiga," jawab Roxanne.

"Apa?! Aku harus segera pergi," ucap pria itu tiba-tiba. Ia berusaha bangun namun ia malah teriak kesakitan. "Ah!"

"Jangan bergerak dulu. Tubuhmu masih lemah," ucap Roxanne mencoba membaringkan pria itu.

"Tapi aku harus pergi," ucap pria itu bersikeras. "Dunia dalam bahaya!*

"Kau tidak akan bisa menyelamatkan dunia dengan keadaan seperti ini!" Tanpa sadar suara Roxanne ikut meninggi. "Setidaknya tunggulah sampai matahari terbit."

Pria itu terdiam melihat Roxanne. Ia pasrah. Keheningan terselip diantara mereka berdua. Roxanne cukup emosi dan ia seharusnya tidak perlu seperti itu. Sedangkan pria itu mulai berpikir kalau apa yang dikatakan gadis di depannya ini ada benarnya juga.

"Kau tinggal sendiri?" Tanya pria itu tiba-tiba.

"Ya. Aku hanya seorang diri disini," jawab Roxanne pelan.

"MOMMY!" Teriakan seorang gadis kecil terdengar dari luar kamar Roxanne.

"Mommy?" Ucap pria itu pelan dan menatap Roxanne tajam.

"Tu... Tunggu dulu. Itu tidak seperti yang kau bayangkan," ucap Roxanne cepat-cepat. Ia tahu apa yang terpikir oleh pria itu.

Roxanne melesat dengan cepat menuju ruang tengah rumahnya. Mia, gadis kecil itu sedang berada dalam dekapan hangat ibunya.

"Clara, kau pulang lebih cepat," ucap Roxanne menyambut Clara hangat.

"Pekerjaanku selesai dengan cepat jadi aku juga bisa pulang lebih cepat," jawab Clara Wyatt, 26, tersenyum dengan lebar.

"Mommy, ayo kita pulang. Aku ingin bercerita denganmu," ucap Mia menggemaskan.

"Baiklah, ayo kita pulang. Rox, aku pulang dulu. Terimakasih telah menjaga, Mia. Besok aku kembali lagi," ucap Clara tersenyum kepada Roxanne.

"As always, Clare. Bye, Mia!" Ucap Roxanne melambaikan tangannya.

"Bye, Auntie Roxanne!" Balas Mia menyengir.

Roxanne menatap beberapa saat sampai Clara dan Mia menghilang di ujung jalan. Roxanne menutup pintu rumahnya dan jantungnya hampir copot ketika ia berbalik. Pria itu sudah berdiri di pintu kamarnya dengan tatapan tajam.

"Kenapa bangun dari kasurmu? Istirahatlah. Kau akan lebih cepat sembuh," ucap Roxanne melangkah menuju dapur.

"Jadi, dia bukan anakmu?" Tanya pria itu.

"Tentu saja bukan. Aku hanya menjaganya sampai Clara pulang dari kantornya. Dia gadis yang sangat manis," ucap Roxanne.

Hening. Tidak ada respon dari pria itu namun Roxanne tau pria itu masih berdiri di pintu kamarnya.

Tangan Roxanne sibuk membolak-balik dua buah irisan daging sapi diatas panggangan. Ia memotong beberapa sayuran lalu mematikan kompor. Makan malam dengan beef steak cukup dibilang 'mewah' untuk kawasan Saint Luca.

Roxanne berjalan membawa dua buah piring dengan beef steak ke meja makan lalu menaruhnya.

"Kau akan mematung seperti itu terus?" Ucap Roxanne menatap pria di pintu kamarnya itu. "Ayo, makan dulu."

Pria itu terdiam sejenak. Tiga hari tidak makan cukup membuat badannya lemas. Ia melangkahkan kakinya menuju meja makan berbentuk persegi.

Gadis itu duduk di hadapannya dan siap untuk menyantap makan malamnya.

Mereka mulai menyantap beef steak buatan Roxanne. Namun, ketika pria itu pertama kali memasukkan potongan beef steak ke dalam mulutnya, ia berhenti mengunyah dan terdiam sesaat.

"Kenapa? Tidak enak ya? Mau aku buatkan masakan yang lain?" Ucap Roxanne gelegapan.

"Ini... Sangat enak. Sungguh," ucap pria itu. Roxanne terdiam sesaat. Matanya sedikit melebar.

"Kau yakin?" Tanya Roxanne memastikan.

"Tentu," ucap pria itu melanjutkan makannya.

Roxanne mnghmbuskan nafas lega. Mereka melanjutkan acara makan malam mereka dengan tenang. Beberapa perbincangan singkat terjadi, namun hening kembali. Seterusnya seperti itu hingga piring mereka kosong.

"Waaaah aku kenyang sekali," ucap Roxanne menyandarkan kepalanya di kursi makan.

"Kusarankan sebaiknya kau membuka restoran," ucap pria itu.

"Sungguh? Akan aku pikirkan," ucap Roxanne tersenyum.

Roxanne bangkit dari duduknya dan mulai membereskan piring-piring makan mereka. Ketika Roxanne mengambil piring pria itu, pria itu menatap jemari tangan kanannya.

"Kau sudah menikah?" Tanya pria itu.

Gerakan tangan Roxanne terhenti. Air mukanya berubah dariastis. Ada rasa sedih yang tiba-tiba menyembur keluar. Matanya mendadak panas dan berair. Pertanyaan pria itu... Tidak, dia tidak boleh sedih. Dia tidak boleh menyalahkan pria itu atas pertanyaannya. Bagaimanapun juga, pria itu tidak tahu apa-apa.

"Seharusnya," jawab Roxanne pelan. Bibirnya menarik senyum tipis, namun itu terasa sangat berat.

Roxanne melangkah menuju bak cuci piring dan mulai mencuci bekas makan mereka. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke kamar Roxanne. Ketika ia berjalan, langkahnya terhenti. Sebuah buffet panjang setinggi pinggangnya menarik perhatiannya. Bukan karena bentuk buffet-nya, namun beberapa pajangan foto diatas buffet itu.

Foto pertama, mungkin itu foto keluarga Roxanne. Ayah dan ibu Roxanne duduk di kursi, Roxanne berdiri dibelakang mereka dan diapit oleh dua orang saudara prianya, yang kembar.

Ada beberapa foto keluarga berjejer disana. Namun satu foto yang membuat mata langsung membesar. Foto Roxanne bersama seorang pria. Gadis berambut perunggu itu memeluk seorang pria dari belakang dan tersenyum bahagia. Bukan karena wajah Roxanne yang rupawan terlihat jelas disitu, tetapi pria yang dipeluk Roxanne. Pria itu...

"Kau tidak istirahat?" Ucap Roxanne tiba-tiba. Pria itu terkejut setengah mati dan menegakkan punggungnya.

Ia berbalik hadap dan melihat Roxanne dengan mata abunya yang menyipit.

"Lalu kau tidur dimana?" Tanya pria itu.

"Aku bisa tidur di sofa. Kau sebaiknya istirahat saja," balas Roxanne.

"Okay." Pria itu mengangguk pelan dan berjalan menuju kamar Roxanne, namun ia berhenti sesaat, "Terimakasih untuk makan malamnya. Steak-mu sangat enak.," ucapnya mengulas senyum.

Roxanne hanya tersenyum kecil. Pria itu memasuki kamar Roxanne dan mematikan lampur kamar. Roxanne berjalan menuju sofa di ruang tengahnya.

Ia terduduk lemas dan menundukkan kepalanya. Tatapannya kosong menatap karpet di bawah kakinya. Begitu banyak hal yang berlalu lalang di otaknya. Ia menyandarkan lehernya di sandaran sofa. Kedua mata kelabunya menatap langit" rumah dengan kosong. Roxanne memejamkan matanya sejenak, untuk menenangkan pikirannya. Namun, tanpa ia sadari, jam terus berputar hingga matahari kembali muncul di ufuk timur.

Sinar matahari menembus celah-celah tirai jendela rumah mungil itu. Roxanne, terbaring di sofa ruang tengahnya dan berselimutkan kain tipis. Kedua kelopak matanya mengerut. Ia membuka matanya perlahan. Sudah pagi. Roxanne menyadari posisinya dan sebuah selimut. Bukannya semalam ia hanya terduduk sesaat?

Mata Roxanne terbelalak. Dengan cepat ia menyingkirkan selimut itu dan berlari menuju kamarnya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, ia menghela nafas panjang. Kakinya lemas. Matanya berair. Tidak ada siapa-siapa di kamarnya.

Ia berlari mengelilingi rumah kecilnya. Berlari ke dapur, ke halaman belakang, kamar mandi, ruang mencuci, dan akhirnya ia berlari menuju pintu depan.

Langkahnya ia percepat. Nafasnya memburu. Jantungnya berdebar-debar.

Ia membuka pintu kayu itu dengan cepat dan matanya semakin memanas juga berair. Tidak ada. Dia tidak ada. Pria itu tidak ada dimana-mana.

Roxanne menutup pintu dengan pelan. Badannya bergetar. Nafasnya memburu. Ia berjalan menuju kamarnya lagi. Secarik kertas kecil terselip diantara buku-buku Roxanne. Ia mengambil kertas itu lalu membacanya pelan.

Tangannya bergetar dan entah sejak kapan air matanya berjatuhan, perlahan sedikit demi sedikit hingga Roxanne terisak.

"Terimakasih untuk semuanya. Senang bertemu denganmu, Roxanne. Laxus Darieyar."

FLASHBACK ON

Laxus Darieyar terduduk diam. Kamar itu hening. Perutnya sudah lumayan terisi dengan beef steak buatan gadis itu. Roxanne. Entah apa nama belakang gadis itu. Roxanne gadis yang cukup baik. Mungkin sedikit aneh menolong orang asing dan merawat orang asing itu ke rumahnya, tapi itulah yang telah gadis itu lakukan pada dirinya.

Badannya yang besar dan kekar sudah lumayan membaik. Acnologia. Bagaimana bisa naga hitam seperti itu ada di dunia ini?

"Argh!" Laxus mengerang pelan ketika luka-lukanya mendadak sakit kembali. Ia membaringkan tubuhnya. Mungkin beristirahat sejenak adalah ide yang bagus.

Laxus menutup kedua matanya. Beberapa serpihan ingatan tentang pertarungannya dengan naga hitam buas itu kembali terlihat. Laxus mencoba untuk tetap tenang namun tidak bisa. Ia membuka kedua matanya dan terduduk dengan cepat. Hanya mimpi. Ia melirik ke arah jam dinding. Sudah tengah malam? Sepertinya waktu sangat cepat berlalu.

Ia berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. Sepi. Mata emerald-nya menangkap sosok seorang gadis yang sedang bersandar di sofa tengah. Gadis itu tertidur? Laxus mengambil selimut tipis dari kamar lalu berjalan menuju gadis itu. Laxus membaringkan tubuh gadis itu di sofa dan menyelimuti tubuhnya degan selimut.

Laxus terdiam sejenak. Matanya menatap Roxanne yang sedang tertidur pulas. Tenang. Laxus terdiam sejenak. Mencoba mencari keputusan yang bijak, untuknya dan tentu saja untuk Roxanne. Bagaimanapun juga gadis ini telah menyelamatkan hidupnya. Laxus berjalan menuju kamar Roxanne, memakai mantelnya, mengambil secarik kertas, dan mulai menggoreskan pena. Ia menyelipkannya di cela-cela tumpukan buku gadis itu.

Laxus melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Kakinya terhenti ketika matanya menatap gadis itu lagi.

Ia menyinggung senyum kecil lalu berkata pelan, "Thanks, Rox!"

FLASHBACK OFF

-TO BE CONTINUED-

Siapa sebenarnya 'Roxanne DéLacour' ?

Ada hubungan apa dia dengan pria berambut kuning itu?

Lalu, foto Roxanne bersama kekasihnya... Sepertinya bukan seseorang yang asing.

Berlanjut ke chapter 2~~