Halo minna~

Author gaje bin ajaib ini kembali lagi dengan fic nista dengan pairing (tetep) AkaKuro.

.

Kuroko milik Fujimaki Tadoshi

Rated T (tenang aja~)

Genre: Family and Romance(?)

Pairing: AkaKuro

Teen Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya

Chibi Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Aomine Daiki, Midorima Shintarou dan Murasakibara Atsushi.

Warnig: Gaje, Abal, Aneh, Menyebabkan Ngantuk, Flat, Membosankan, Typo, Misstypo, EYD cacat, dan super OOC

Don't like don't read

Selamat membaca~

.

Summer telah tiba! Akashi berencana mengajak Kuroko untuk berlibur ke Kyoto, selagi ia akan menghadapi pertandingan finalnya. Awalnya liburan mereka sangat menyenang, tapi semua berubah saat mereka menemukan empat anak tersesat.

Baby and Us

Mentari mulai menyusup dari bali bukit yang berjajar apik. Mengintip dunia sebelum akhirnya duduk di singgahsannya.

Cahayanya yang jingga menyeruak masuk dari celah kecil ke sebuah kamar. Membangunkan seorang pemuda yang tengah terlelap. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangun. Rambut light blue-nya tampak berantakan. Matanya yang memang sayu, menjadi tambah sayu karena masih mengantuk.

Ia meregangkan badannya yang kaku. Dengan mengaitkan jari-jarinya, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kini sudut matanya teralihkan pada sejumput rambut merah yang menyembul dari balik selimut.

Ia tersenyum senang, saat tangan kecilnya menarik selimut dan mendapati wajah tenang sang pemuda. Kecupan kecil ia berikan dipipi pemuda merah itu. Erangan terdengar dari pemuda itu, merasa tertanggu.

Melihat respon itu, pria light blue itu segera menyingkir dari kasur. Takut membangunkan pemuda yang malam itu berbagi tempat tidur dengannya. Ia pun berjalan keluar kamar untuk membuat sarapan.

(~-,-)~

Akashi membuka matanya, dan medapati Kuroko tak berada disisinya. Dengan sigap ia bangkit dari kasur dan berjalan ke dapur.

Bingo! Dan disanalah ia menemukan sang pemuda light blue.

"Pagi Tetsu~" sapa Akashi seraya memeluk Kuroko dari belakang. Ia menyandarkan kepalanya dengan manja.

"Pagi Akashi-kun," balas Kuroko. Kuroko memutar badanya, sehingga ia berhadapan dengan Akashi. Kecupan kecil dipipi Kuroko menjadi hadiah selamat pagi yang biasa diberikan Akashi. "Kau mau sarapan, Akashi-kun?"

Akashi mengangguk setuju. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan ke meja makan. Kuroko mengambil sebuah nampan berisi secangkir kopi, segelas vanilla milkshake dan dua piring roti bakar.

"Hari ini aku akan membawamu ke Neverland," jelas Akashi semangat. Ia sibuk membulak-balik peta yang sekarang menutupi wajahnya. "Kau bisa bermain sepuasnya disana,Tetsu. Dan malam harinya kita bisa menikmati pertunjukkan kembang api," lanjutnya lagi.

Kuroko hanya menatapnya dengan bingung. Mulutnya terlalu sibuk makan, hanya untuk sekedar memberikan sebuah respon.

Akashi menurunkan peta yang menutupi wajahnya. Ia mengambil cangkir kopi dan menyesapnya. "Ada apa, Tetsu? Atau kau ingin pegi ke tempat lain?" tanyanya heran karena sejak tadi tidak mendapatkan respon dari Kuroko.

"Tidak Akashi-kun. Aku senang pergi kemana saja, asalkan Akashi-kun bersamaku," jelas Kuroko dengan senyum manis dibibir mungilnya. Mendengar itu, Akashi tidak dapat menyembunyikan rona merah dipipinya.

"Baiklah, aku rasa kita harus segera besrsiap-siap," seru Akasi dengan semangat. Ia berdiri dari kursinya. "Atau kau ingin aku mandikan, Tetsu?" goda Akashi pada pemuda di depannya itu. Kini wajah Kuroko sudah sewarna dengan rambut Akashi.

"Hen..hentikan Akashi-kun!" (berhubung masih rated T, jadi kita skip aja bagian ini *kedipmesum)

~(-,-)~

Siang itu udara cukup panas. Akashi yang mengenakan kaos tanpa lengan dengan celana selutut tampak terlihat sedang mengantri tiket masuk. Sedangkan Kuroko? ia tengah duduk di kursi taman dengan segelas vanilla milkshake di tangannya.

"Anou..."

Merasa kaosnya ditarik-tarik, Kuroko mengengokan kepalanya, dan mendapati empat bocah berdiri berjejer sambil menangis sesegukan. "Ka-kalian kenapa?" tanya Kuroko sweatdrop.

"Kaa-cchi...dan...Tou-cchi...ilang," jawab bocah berambut blonde.

"Aku kehilangan orang tuaku," sahut bocah berambut hijau.

"Tou-chin hilang." Kali ini bocah berambut ungu yang berbicara.

"Aku ditinggalkan orang tuaku. Mereka bilang mereka ingin berduaan!" teriak bocah berkulit tan dengan rambut dark blue.

Kuroko makin sweatdrop mendengar jawaban satu itu. Ia menghela napas panjang. Dipandangnya satu persatu wajah bocah-bocah itu. "Baiklah. Aku akan membantu kalian menemukan orang tua kalian," kata Kuroko akhirnya. Jiwa 'uke' nya yang mirip jiwa emak-emak itu merasa tidak tega mengabaikan bocah-bocah yang masih berumur antara lima sampai enam tahun itu.

"Namaku..Kise...Ryouta." bocah blonde itu membungkuk hormat. Yang lain pun mengikutinya.

"Midorima Shintarou. Mohon bantuannya."

"Murasakibara Atsushi."

"Aomine Daiki."

"Kuroko Tetsuya."

Kuroko mengalihkan kepalanya saat nama itu disebut. Kini Akashi sudah berdiri disamping nya. "Tetsuya, bisa kau jelaskan siapa mereka?" tanya Akashi dengan aura gelap mengelilinginya.

"Kaa-cchi. Aku takut...~" Kise berlari bersembunyi di balik tubuh Kuroko.

"Kaa-cchi?" tanya Akashi dengan aura yang semakin gelap.

"Tu-tungu dulu A-Akashi-kun. I-ini bisa a-aku jelaskan," kata Kuroko gugup melihat Akashi yang sudah masuk dark mode.

"Jelaskan!"

"I-ini semua anak-anaku-eh ma-maksudnya mereka a-anak-anak kesasar A-akashi-kun," jelas kuroko makin gugup. Tangannya bergetar hebat, wajahnyapun semakin pucat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

Akashi tidak menggubris penjelasan Kuroko. Dengan sekejap mata, gunting merah sudah berada disela jari-jarinya. Ia mengacungkan gunting itu didepan wajah Kuroko.

"KYAKK! KAA-CCHI/SAN/CHIN/CHAN DIA SANGAT MENYERAMKAN!" teriak keempat bocah itu bersamaan. Tangis mereka semakin menjadi-jadi.

"TETSUYAA!"

"SUMIMASEN AKASHI-KUN!"

~(-,-~)

Akashi memijat kepalanya yang sakit. Ia menghela napas panjang. Kuroko di sampingnya masih sibuk menghabiskan segelas vanilla milkshake yang baru dibelinya. Jejak airmata masih terlihat diwajahnya yang putih.

"Jadi, mereka benar-benar anak yang tersesat?" tanya Akashi memulai pembicaraan. Kuroko hanya mengangguk pelan.

"Dan kau berniat membantu mereka menemukan kembali orang tuanya?" tanya Akashi lagi.

"Ya," jawab Kuroko pelan.

Akashi kembali menghela napas. "Maafkan sikapku tadi, Tetsu." Tangan putih itu mengelus pelan rambut Kuroko.

"Tidak apa-apa kok, Akashi-kun," jawab Kuroko lega. Ia senang bisa melihat kembali senyum pemuda itu.

Kini mata Akashi menatap ke arah empat bocah yang duduk disamping Kuroko. "Baiklah, kita akan segera mencari orang tua kalian. Kita bisa meminta tolong bagian informasi untuk mengumumkan kehilangan kalian," kata Akashi akhirnya. Ia berjalan mendahuli kelima orang itu ke arah pintu gerbang Neverland.

"Maaf, tiket anda," sahut seorang petugas berambut merah dengan alis bercabang. Akashi merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua lembar tiket.

"Nih!" kata Akashi kesal.

"Maaf, tapi tiket anda kurang," jelas petugas itu.

"Hah? Maksudnya?" tanya Akashi dengan tampang bloon. (*di tujah gunting sama Akashi).

Petugas itu melongokkan kepalanya, melihat ke belakang Akashi. "Itu anak-anakmu 'kan?" tanyanya.

Akashi ikut menghadap ke belakang. Keempat bocah tadi sudah berbaris rapih di belakangnya. Bagaikan anak bebek yang mengekori induknya. "Mereka bukan anak saya," protes Akashi pada petugas itu.

Petugas itu hanya menaikkan alisnya. "Mau anak siapa kek, tetep harus beli tiket buat mereka!"

"Ta-tapi mereka bukan anak saya!" protes Akashi. Petugas itu hanya diam. Ia mengangkat sebelah tangannya dan mengibas-ibaskan. Menandakan ia mengusir Akashi dan big familynya.

Cklik!. Satu perempatan muncul di kepala Akashi. Dengan kesal Akashi keluar dari barisan. Ia berjalan menuju loket tiket. Dan..

JENGGG!

Panjang antrian itu kini sudah sepanjang lima ratus meter. Akashi menatap barisan itu frustasi. Tubuhnya semakin memutih, seiring roh yang keluar dari tubuhnya.

~(-,-)~

Setelah hampir tiga jam mengantri tiket, mereka pun masuk ke Neverland. "Baiklah! Sekarang kita segera ke tempat informasi," seru Akashi yang sudah mencapai batas kesabarannya.

Mereka berjalan terburu-buru ke tempat informasi. "Akashi-kun, jalannya pelan-pelan dong," pinta Kuroko yang merasa kakinya sudah mau putus. Akashi menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Kuroko.

Grep! Ia menarik tangan Kuroko. "Sudah tidak ada waktu lagi, Tetsu!"

Di pusat informasi, Akashi mulai melaporkan keempat bocah itu.

"BAGI ORANG TUA YANG MERASA KEHILANGAN ANAK DENGAN CIRI_CIRI BERAMBUT KUNING, BERAMBUT HIJAU DENGAN KACAMATA, BERAMBUT UNGU DAN BERAMBUT BIRU GELAP. HARAP SEGERA KE TEMPAT INFORMASI!"

Akashi tersenyum bangga mendengar pengumuman itu menguar di udara. Ia yakin, keempat orang tua dari bocah itu akan segera datang.

1menit...

10menit..

20menit...

Setengah jam...

Satu jam...

Dan beberapa jam kemudian, sampai author lelah menghitungnya.

"Jadi, kenapa orang tua kalian tidak ada yang datang?" tanya Akashi menahan kesal. Keempat bocah itu menggeleng bersamaan.

"Kalian benar-benar terpisah disini kan?" tanyanya lagi, dengan penekanan yang membuat pertanyaan itu terkesan menjadi pernyataan.

"Sebenarnya aku terpisah di parkiran," aku Kise.

"Kalau aku terpisah saat Kaa-san sedang sibuk berbelanja di pasar depan." Kali ini Midorima yang mengaku.

"Kalau aku sengaja pisah karena tou-san tidak mau menemaniku membeli snack," Murasakibara mengaku dengan entengnya.

"Kalau aku, seperti yang kubilang tadi. Kedua orang tuaku sengaja meninggakanku karena mereka ingin pergi berduaan!" Dan Aomine mengakuinya tanpa ragu-ragu.

Ckilik! Tiga perempatan mucul dikepala Akashi. Merasa aura-aura tidak enak, Kuroko segera mencairkan suasana.

"Akashi-kun. Ayo kita makan siang dulu. Kali ini aku yang tertaktir deh," ajak Kuroko yang langsung menarik tangan Akashi,

~(-,-~)

Langit sudah semakin malam. Akashi dan keluarga barunya sudah duduk di sebuah tempat yang disediakan panitia untuk menonton pertunjukan kembang api. Karena malam itu sangat ramai, Akashi dan Kuroko pun harus memangku masing-masih dua bocah. Aomine dan Kise dipangkuan Kuroko. Murasakibara dan Midorima di pangkuan Akashi.

"Ne, kaa-cchi dingin," keluh Kise. Wajar saja, Kise hanya menggunakan kaos lengan pendek dengan celana selutut. Kuroko pun melingkarkan tangannya, untuk memeluk Kise dan Aomine.

Menyadari tubuh Murasakibara yang menggigil kedinginan, Akashi pun ikut melingkarkan tangannya. Memeluk kedua anak yang baru angkatnya hari itu.

BOOMM!

BOOMMM!

Pesta kembang api pun dimulai.

"Tou-chin. Kembang painya indahnya," sahut Murasakibara senang. Akashi hanya menanggapi dengan anggukan. Ia mengelus rambut ungu itu dengan lembut.

"Aku senang bisa menonton dengan Akashi-san. Maaf kalau hari ini aku banyak merepotkan," jelas Midorima sopan. Akashi tersenyum penuh arti mendengar itu.

"Ne, Kaa-cchi! Kembang apinya seindah wajah Kaa-cchi!" seru Kise senang.

"Maaf Kise-kun. Tapi aku ini laki-laki," protes Kuroko.

"Tapi kaa-chan memang indah kok. Yang walaupun lebih ke imut sih," tambah Aomine yang mendukung pernyataan Kise. Kuroko hanya menghela napasnya pelan. Kuroko menyadari tangan Akashi sudah menggenggam tangannya, dan ia pun membalas gengaman itu.

BOOMM!

Satu lagi kembang api meledak dengan indahnya, seindah hari mereka hari ini.

(~-,-)~

"Huwaaa aku ngantuk," keluh Akashi yang langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Tanpa sempat mengganti pakaiannya. Sedetik kemudian sudah terdengar desahan napasnya yang tertatur.

"Aku juga ngantuk." Bocah berambut ungu itu memanjat kasur dan tidur disamping Akashi. Midorima yang memang sudah lelah, ikut berbarig di samping Murasakibara. Melihat kedua temannya sudah tidur, Aomine ikut berbaring di samping Midorima.

"Kaa-chhi. Oyasumi." Dan Kise tidur disamping Aomine.

Kuroko tersenyum geli melihat pemandangan di depannya. Akashi benar-benar terlihat seperti seorang ayah dimatanya.

Setelah mematikan lampu, Kuroko pun ikut berbaring di samping Kise.

To be Continued...

Hhehehe- Selesai juga fic gaje dari Author. Maaf ya kalo fic nya geje bin aneh. Maaf juga kalo disini super OOC DX. Tapi Author masih mengharapkan sumbangan review dari pembaca sekalian, biar semangat buat Chapter 2 nya. *kedip mesum

Ohya, Author minta maaf kare belum sempat (atau ga mau) ngelanjutin fic yang Basket, Friend and Past-nya DX. Ntar deh, kalau dapat ilham bakal Author lanjutin XD

Seklai lagi, ayo tekan tombol review –nya *wink