Disclaimer: The Big Bang Theory adalah milik CBS. Makanan-makanan lezat adalah hasil karya manusia yang patut dilestarikan. Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dari fanfiksi ini, juga nggak sekalian jualan gorengan kok.

Summary: Sheldon punya jadwal khusus untuk setiap acaranya sepanjang minggu, termasuk aturan-aturan bagi makanannya. Untuk challenge Infantrum: MAKANAN.

Notes (nggak akan diulang lagi di chapter berikutnya):

*Semua makanan sampai ke detail-detailnya yang tercantum di fanfic ini sebagian besar sifatnya canon, tidak dikarang sendiri melainkan sudah ada di dalam cerita. Yang saya lakukan adalah meringkas semua makanan itu, menambah deskripsi sejarah, pengolahan dan rasa, dan numpang pasang pairing Shenny #plak. Dan btw, ya ampun, setelah saya riset, baru sadar bahwa referensi kuliner di sitkom ini lengkap amat...

*Semua jadwal dan semua aturan Sheldon juga merupakan buatan Sheldon sendiri, bukan karangan saya.

*Sumber yang sangat membantu dalam penyusunan fanfic ini adalah sebuah blog kuliner yang sempat memuat deskripsi lengkap makanan di TBBT. Judul artikelnya "Food in The Big Bang Theory" di blogspot dengan id: sexymoodswings. Jadwal Sheldon didapatkan dari Google Calendar yang dirilis oleh para penulis skrip TBBT, judul kalendernya adalah "Sheldon's OCD Calendar". Link nggak bisa saya tercantum karena doc FFN menyebalkan. #plak

That's it. Mari, selamat makaaaaan! Khusus buat Ambu, hayoloh, jangan sampe kekenyangan dan eneg ya! #plak ^^


.

Sheldon's Food Schedule

.

Merayakan Hari Pangan Internasional 16 Oktober

Untuk Challenge Infantrum: Makanan

.

Chapter 1: Oatmeal Day

.


"All right, want some French toast?"

"It's Oatmeal Day."

"Tell you what, next French Toast Day, I will make you oatmeal."

"Dear Lord, are you still going to be here on French Toast Day?"

...

"Boy, that does smell good. Too bad it's Monday."

[Penny & Sheldon Cooper, S03E03 – The Gothowitz Deviation]

.

Bagi Dr. Sheldon Cooper, hari Senin adalah Oatmeal Day. Yang artinya, dia tidak akan makan apa pun untuk sarapan kecuali oatmeal. Dan itu juga berarti, tidak peduli apakah Penny datang dan membuat roti panggang, atau Leonard tiba-tiba membuat pai, Sheldon tidak akan memakannya. Hari Senin adalah untuk oatmeal, titik.

Hal itu langsung memicu pertengkaran di dapur apartemen 4A di 2311 Los Robles, Pasadena, pada jam setengah tujuh pagi.

"Kau membuang roti panggangku?"

"Sudah kukatakan bahwa hari ini adalah Oatmeal Day!"

"Tapi kau tidak perlu membuang roti yang sudah kubuat dengan susah payah!"

"Tidak ada yang mau memakan rotimu, terutama aku!"

Leonard, yang diam-diam bersyukur karena dia hanya membuat pai untuk satu orang, pergi ke kamarnya untuk sarapan sendirian, sementara Penny dan Sheldon berdiri berhadap-hadapan di ruang tengah seperti siap untuk terjun ke ring tinju.

"Dasar kau si brengsek keras kepala!" pekik Penny.

"Dan kau punya memori yang payah, karena selama bertahun-tahun aku sudah memberitahumu bahwa Senin adalah Oatmeal Day," balas Sheldon tenang, namun wajahnya berkedut-kedut kesal.

"Kau dan jadwal sialanmu!" teriak Penny lagi. "Dunia tidak akan hancur hanya kalau kau makan roti panggang di hari Senin!"

"Itu adalah pendapatmu," kata Sheldon lugas. "Bagiku, melanggar jadwal makan akan menciptakan kekacauan di duniaku yang diatur dalam susunan sistematis. Jadwal itu adalah satu-satunya hal yang memberi pemisah antara hidupku dan chaos."

Penny menggerutu kesal dan menyambar cangkir kopinya sampai bertumpahan ke lantai, lalu menghilang di balik pintu. "Terserah kau, Sheldon!" teriaknya dari koridor luar.

"Good Lord," Sheldon memperhatikan percikan-percikan kopi di sepanjang lantai yang ditinggalkan Penny. Wanita satu itu memang kacau sekali. Tidak ada hal tentangnya yang tidak berantakan. Mulai dari furnitur dan benda-benda di apartemennya sampai pekerjaannya, semuanya kacau. Dan selain tingkat intelegensinya sangat jauh di bawah Sheldon, Penny gemar sekali mencetuskan hal-hal spontan. Tiba-tiba dia akan mengajak mereka semua piknik di akhir pekan, atau mencoba restoran baru di ujung jalan.

Sheldon benci spontanitas. Hal itu mengerikan dan bisa mengancam nyawa.

Setelah ia membersihkan noda kopi di lantai, Sheldon mulai membuat oatmeal-nya yang nyaris terlupakan. Bau roti panggang masih tercium jelas di dapur, membuat Sheldon merasakan sepercik emosi aneh dalam dirinya.

Apa ini? Rasa bersalah?

Namun karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 8.20, Sheldon harus bergegas. Ia harus ke kamar mandi pada jam 8.20 tepat, tanpa terlambat sedetik pun. Ini adalah bagian dari jadwalnya juga. Dan jadwal adalah hukum.

Maka, secepat kilat, Sheldon memasukkan dua per tiga cangkir havermut yang sudah digiling sendiri ke dalam panci. Dia selalu memilih untuk menggiling havermutnya sendiri ketimbang membeli oatmeal instan, karena jelas oatmeal asli lebih kaya serat, zat besi, dan vitamin B. Dan Sheldon tidak menyukai tekstur oatmeal instan yang mengandung bahan aditif mubazir sehingga terasa aneh di lidah, dengan rasa yang tidak menyenangkan, dan penampilan yang jelek. Belum lagi kadar glukosa dan sodiumnya yang tidak ramah tubuh.

Ia menuang susu murni yang jumlahnya tiga per empat cangkir (sudah diukur dengan teliti olehnya, tentu saja), dan mulai memanaskannya dengan hati-hati. Ia menjaga temperatur kompornya selalu sama setiap hari Senin, sehingga oatmeal-nya akan selalu sama dari minggu ke minggu. Kesamaan rasa dan proses pengolahan makanan sangatlah penting dalam ilmu kuliner dasar, dan Sheldon menjunjung tinggi peraturan itu. Menurut Leonard, dia gila. Menurut Sheldon, Leonard-lah yang gila.

Setelah lima menit mengaduk (benar-benar lima menit, tentu, Sheldon sudah menyetel stopwatch untuk itu), dia mematikan kompor dan mulai mengitari dapur untuk memilih penambah rasa alami. Apa yang harus dia pilih hari ini? Kismis? Buah kering? Pisang? Bluberi? Stroberi? Kacang? Kayu manis? Sirup mapel? Madu? Semuanya enak, namun Sheldon tak mungkin memasukkan semuanya. Maka ia menggunakan memori eidetiknya untuk menyetel jadwal topping.

"Senin minggu lalu aku menambah stroberi," dia menggumam. "Senin sebelumnya kismis. Sebelumnya madu..." Dia menghitung-hitung dalam hati, dan menemukan bahwa dia belum menggunakan sirup mapel dalam sembilan kesempatan berbeda selama dua bulan terakhir. Jangan harap dirinya akan memilih topping secara acak, karena apa pun di Bumi ini bisa diselesai dengan matematika sederhana demi keteraturan dunia.

Maka ditambahkannya topping itu. Oatmeal-nya sudah siap. Segera saja Sheldon melupakan insiden roti panggang tadi. Ia duduk di meja makan sementara Leonard muncul lagi dengan piring painya yang sudah kosong.

"Penny marah, huh?" tanyanya.

"Kau sudah tahu itu," gerutu Sheldon.

"Minta maaflah padanya."

"Seharusnya dia yang minta maaf karena membuat roti panggang pada Oatmeal Day."

"Kau gila."

"Aku tidak gila. Ibuku sudah memeriksakanku."

Sheldon mengunyah sendok pertama oatmeal-nya, dan melenguh kecewa. Waktu perebusannya kurang lama, sehingga teksturnya lebih lembek dari normal. Namun Sheldon hanya bisa memberi waktu memasak lima menit karena dia sudah terlambat. Diliriknya jam dinding: masih ada tiga menit lagi sebelum pukul 8.20. Ia berusaha menelan sebanyak mungkin sarapannya selama tiga menit itu, dan ketika jarum panjang sudah menyentuh angka empat dan jarum pendek menyentuh angka delapan lebih sedikit, ia bangkit dari kursinya, membuang oatmeal yang tersisa, dan pergi ke kamar mandi.

Leonard melongok ke sisa sarapan Sheldon di bak cuci, yang sebetulnya hanya tinggal dua atau tiga sendok saja, namun ditinggalkan karena jadwal ke toilet pun harus diatur seperti robot tanpa bisa fleksibel sedikit pun. "Sheldon betul-betul gila, ya," gumamnya.

Sepanjang pagi, Sheldon merengut terus karena jadwal sarapannya berubah waktunya. Biasanya ia sarapan pada pukul 8 tepat, namun gara-gara Penny, ia terpaksa sarapan pukul 8.10. Leonard sudah terbiasa dengan ocehan-ocehan sinting itu sehingga dia mengabaikannya dan tak pernah menanggapi keluhan-keluhan Sheldon. Pukul 8.45, mereka mengambil tas kerja dan berjalan keluar dari apartemen untuk berangkat ke kantor bersama.

Saat itulah Sheldon tertegun di depan pintu, karena di seberang sana, Penny baru keluar dari apartemennya sendiri, mengenakan seragam pramusaji Cheesecake Factory, siap berangkat kerja juga.

"Hai, Penny," sapa Leonard.

Penny diam saja; ia menatap Sheldon dengan tatapan penuh dendam selama beberapa detik. Lalu ia menuruni tangga lebih dulu dan tak bicara apa-apa.

Dan selama sisa hari itu, Sheldon tak bisa melupakan ekspresi Penny tadi.


.

tbc

.