Title :: I'm Your Biggest Fan

Genre :: Romance/Friendship

Rating :: T

Cast ::

Wu Fan aka Kris,

Huang Zitao aka Tao,

Zhang Yizing aka Lay,

And other EXO-K, EXO-M & f(x)'s members.

Pairing(s) : RisTao/Taoris, KrisYeol, LayTao, etc.

Warning : AU, OOC, Yaoi, Shonen-ai, BL, BoyxBoy, Typo(s), Gaje, Don't like? Don't read.

Disclaimer : They belong to themselves, SMent, and God. The script is belong to me.

Summary : "Aku, Huang Zitao, dengan bangga menyatakan bahwa diriku adalah seorang KrisYeol shipper."

RnR please.

Last word, happy reading~


Tao's POV

"Haaaaah! Akhirnya selesai!" Aku meregangkan otot-otot punggungku yang agak kaku setelah berjam-jam duduk.

"Tao, bagaimana? Apa sudah selesai?" Tiba-tiba dari belakang sebuah tangan menepuk lembut pundakku. Aku menoleh dan mendapati seorang yeoja dengan wajah cantik khas miliknya sedang tersenyum.

"Sudah, hanya saja belum ku edit. Mungkin sepulang sekolah nanti aku akan mengeditnya." Aku mengacak-acak kecil rambutku. Untung saja jam pelajaran terakhir hari ini kosong, sehingga aku dapat menyelesaikan pekerjaanku ini dengan cepat.

"Kenapa lama sekali? Cepat edit sekarang juga, aku sudah tidak sabar untuk membaca ceritanya." Yeoja itu pun langsung duduk dan berusaha merebut laptopku.

"Tidak bisa! Aku harus mengeditnya dulu. Kecuali kau ingin mentraktirku ramen, mungkin aku akan memikirkannya lagi." Aku pun tersenyum evil kearah yeoja tadi. Seenaknya saja ia ingin membaca cerita ini tanpa seijinku.

"Baiklah, aku akan menunggu sampai ceritanya selesai diedit. Kalau begitu, aku pergi dulu. Bye Tao." Yeoja itu pun bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya meniggalkanku. Fuuuh, akhirnya ia pergi juga.

Yeoja tadi adalah Choi Jinri atau lebih sering dipanggil dengan nama Sulli. Ia adalah teman sekelasku sekaligus tetanggaku sejak kecil. Kami memiliki hobi yang sama, yaitu membaca cerita fiksi. Ya, tebakan kalian itu memang benar, aku adalah seorang fudanshi dan Sulli adalah seorang fujoshi. Memang kedengarannya aneh, tapi begitulah kenyataannya, aku adalah seorang fudanshi.

Dan sebagai fudanshi, tentu saja aku memiliki pair favorit. Pair favoritku adalah KrisYeol—Kris Wu dan Park Chanyeol. Mereka adalah 2 artis yang sedang ramai-ramainya dibicarakan oleh banyak yeoja di kelasku. Dan bisa dibilang aku adalah fanboy dari mereka berdua.

Park Chanyeol adalah seorang aktor yang sangat tampan. Sudah hampir belasan bahkan puluhan piala penghargaan ia bawa pulang karena prestasinya di dunia akting. Ia juga sangat handal dalam hal bela diri.

Dan Kris Wu, ia juga adalah seorang aktor sama seperti Park Chanyeol. Meski usianya lebih tua dibandingkan dengan Park Chanyeol, tapi pengalaman aktingnya masih kurang. Sebenarnya, tanpa harus menjadi artis pun, Kris Wu masih akan tetap terkenal seperti sekarang ini. Tentu saja, karena ia adalah satu-satunya pewaris perusahaan ayahnya yang sangat terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia itu.

Di mata seorang fudanshi sepertiku, mereka terlihat sangat serasi. Ya, serasi dalam sudut pandang manapun. Entah itu saudara, teman, sahabat, atau bahkan sampai pasangan sekali pun, mereka terlihat sangat serasi.

Tapi jujur saja, aku lebih tertarik dengan Kris Wu. Park Chanyeol memang keren, tapi faktanya Kris Wu memang terlihat lebih menarik di mataku. Ia selalu ramah terhadap wartawan, fans, atau siapa pun yang bertemu dengannya. Seandainya aku mempunyai gege sepertinya, aku pasti akan merasa sangat senang.

Dan yang cerita yang baru ku buat tadi adalah salah satu fiksi tentang pair favoritku itu, KrisYeol. Ya, aku suka sekali menulis, meski kadang-kadang imajinasiku terlalu berlebihan. Untung saja aku memiliki sahabat seperti Sulli yang seorang fujoshi, jadi aku dapat bertukar pikiran dengannya dalam hal ini.

"Tao…" Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Sebuah suara dari orang yang sangat ku kenal.

"Ne…" Aku pun menolehkan kepalaku menuju asal suara itu.

"Sepertinya kau sedang sibuk. Apa aku bisa membantumu?" Orang itu pun melangkah menuju kursi yang ada di sebelahku dan duduk di sana.

"Aniyo, Lay-ge. Aku hanya sedikit lelah." Orang itu adalah Zhang Yizing, atau sering di panggil Lay. Ia adalah sunbae-ku, dan ruang kelasnya tepat berada di samping ruang kelasku ini. Sepertinya hari ini jam pelajaran di kelasnya juga kosong, ya aku bisa mengatakan hal itu karena sekarang ia mengunjungiku di saat jam pelajaran.

"Kau membuat fiksi lagi ya? Hahaha, kau ini tidak pernah lelah ya membuat cerita seperti itu." Lay-ge pun terkekeh saat menatap layar monitor laptopku.

"Hey! Jangan dilihat." Dengan cepat aku menutup layar laptopku.

"Hahaha. Oh ya, apa kau punya waktu luang sore ini?"

"Waktu luang? Sepertinya tidak ada." Aku pun memasukkan laptopku ke dalam tas.

"Jinjja? Sayang sekali." Lay-ge terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Eh? Waeyo? Apa ada hal yang penting?"

"Aku ingin mengajakmu menonton drama musikal terbaru Kris Wu yang akan premier sore ini." Seketika Lay-ge mengeluarkan 2 buah tiket berwarna biru dari dalam sakunya.

"Astaga! Aku sampai lupa kalau hari ini adalah premier drama musikal terbaru Kris Wu!" Aku pun melebarkan mataku sambil menatap 2 buah tiket yang ada di tangan Lay-ge.

"Hahaha, bagaimana? Apa kau mau menemaniku menonton drama musikal ini? Kebetulan aku membeli 2 tiket, kau boleh mengambil salah satunya."

"Tentu saja! Aku tidak mungkin melewatkan ini." Aku pun tersenyum sambil merebut tiket itu dari tangan Lay-ge.

"Karena drama musikal itu dimulai jam 4 sore, maka aku akan menjemputmu sekitar jam 3 sore. Kau jangan pergi kemana-mana agar aku mudah menjempumu."

"Tentu saja, aku pasti akan menunggumu. Xie xie Lay-ge." Aku pun tersenyum lebar kearah Lay-ge.

"Bu yong xie, Tao." Lay-ge pun tersenyum kearahku.

Yes! Akhirnya aku bisa menonton langsung drama musikal Kris Wu. Sudah sejak lama aku menunggu hari ini, dan sekarang aku bisa menontonton secara langsung. Aku sudah tidak sabar untuk segera pergi ke sana.

Tao's POV end

.

.

.

Author's POV

"Tao…" Kata Lay sambil menyuapkankan es krim ke mulutnya.

"Emm?"

"Kau yakin bisa menghabiskan semua itu?"

"Tentu saja. Jika aku tidak bisa menghabiskan semua ini, biar aku yang membayar semuanya." Jawab Tao seraya masih terpaku pada PSP di tangannya.

"Hahaha, tidak usah, hari ini aku yang mentraktirmu."

"Xie xie, Lay-ge." Tao pun tersenyum kearah Lay.

Kali ini mereka sedang bersantai di salah satu kedai es krim yang ada di tengah kota Seoul. Lay mengajak Tao untuk makan es krim di sini sebelum mereka menonton drama musikal itu.

Memang cuaca di kota Seoul saat ini terbilang cukup panas, sehingga itulah yang menjadi alasan Tao memesan 5 mangkuk es krim ukuran jumbo untuknya dirinya sendiri. Tao harus bersyukur karena Lay mau mentraktirnya, jika tidak, mungkin ia akan kehilangan uang sakunya selama seminggu untuk membayar semua es krim itu.

"Haaaaaaaaaah. Akhirnya habis." Tao menghela napas panjang sambil menepuk-nepuk perutnya.

"Ayo kita berangkat." Lay pun berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Tao untuk segera pergi menuju gedung tempat drama musikal itu dilangsungkan.

"Tao, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Kata Lay saat baru saja mereka masuk ke dalam mobil.

"Tentu saja. Waeyo?"

"Kenapa kau sangat mengagumi seorang Kris Wu?"

"Emm… Entahlah, mungkin karena ia itu aktor yang sangat baik, ya ku pikir ia memang pantas dikagumi."

"Benar hanya itu alasannya?"

"Maksud gege?"

"Hahaha, tidak, bukan apa-apa. Abaikan saja." Lay pun terkekeh kecil. Tao hanya mengangkat bahunya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke PSP yang masih setia berada di genggamannya.

Tapi tanpa Tao sadari, Lay diam-diam terus mencuri-curi pandang kearah Tao. Entah mengapa ada sesuatu yang terus menarik mata Lay untuk memperhatikan Tao. Bahkan Lay sendiri pun tidak tahu apa itu.

.

"Nah, kita sudah sampai."

"Eh? Cepat sekali." Tao pun memperhatikan sekelilingnya. Sekarang mereka sedang berada di area parkir gedung pertunjukkan drama musikal itu.

"Kau terlalu sibuk dengan PSP-mu sampai-sampai kau tidak sadar jika kita sudah sampai. Ayo cepat, drama musikalnya akan dimulai 15 menit lagi. Kau tidak ingin melewatkannya 'kan?" Kata Lay seraya keluar dari mobilnya.

Dengan cepat mereka pun masuk ke dalam gedung pertunjukkan itu. Tao sedikit tercenang, karena gedung tempat pertunjukkan drama musikal kali ini sangat besar, dan dapat dipastikan sangat banyak penonton yang akan datang.

"Kita duduk di bangku paling depan, nomor 3 dan 4." Kata Lay seraya membuyarkan lamunan Tao.

Tao hanya mengangguk kecil. Ia masih sedikit kagum dengan tempat ini. Jika ia ingat-ingat, bangku bagian depan adalah bangku VIP yang harganya sangat mahal. Tao sedikit merasa canggung, karena Lay sudah rela mengeluarkan uangnya hanya untuk mengajak Tao menonton drama musikal ini.

"Lay-ge, xie xie."

"Untuk apa?" Tanya Lay.

"Kau rela menghabiskan uangmu untuk membelikanku tiket drama musikal ini. Aku janji, jika nanti aku punya uang lebih, aku akan menggantinya."

"Hahaha, kau tidak usah menggantinya. Anggap saja dengan kau menemaniku menonton drama musikal ini, kau sudah melunasinya."

"Hehehe, sekali lagi xie xie Lay-ge. Aku—"

KRIIIIIIIIIIIIIUUUUUUUK!

Tiba-tiba ucapan Tao terputus. Matanya melebar lebih dari biasanya. Ia terlihat seperti tertusuk ribuan jarum, dan ekspresinya pun terlihat sangat aneh.

"Kau kenapa Tao?" Tanya Lay saat menyadari ekspresi Tao yang berubah.

"Sepertinya aku harus ke kamar kecil." Tao pun berdiri dari tempat duduknya.

"Sudah ku bilang 'kan, harusnya kau jangan terlalu banyak makan es krim."

"Ya, ya, ya… Pidatonya nanti saja, aku harus pergi ke belakang dulu." Dengan cepat Tao pun meninggalkan Lay yang masih duduk di tempatnya.

"Sial, aku terlalu banyak makan es krim. Aku juga baru ingat, tadi aku belum makan siang." Gerutu Tao dalam hatinya seraya keluar dari area penonton.

"Cih, kenapa disini sepi sekali? Dimana toiletnya?" Tao menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari di mana letak toilet. Tapi nihil ia tidak menemukan tanda-tanda toilet di manapun, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Cepat! Cepat! Aku sudah tidak ta—"

KRIIIIIIIIIIIIIUUUUUUUK!

Lagi-lagi Tao melebarkan matanya. Ia merasa sudah diambang batas. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Rasanya perut Tao sudah bergejolak bak goyangan penyanyi dangdut.

"Sial! Dimana toiletnya!" Tao terus berjalan tanpa memperhatikan kemana ia pergi. Yang ia inginkan hanya satu, menemukan dimana toilet sebelum ia ditemukan oleh orang lain—dalam kondisi memalukan tentunya.

Tap… tap… tap…

Dengan cepat telinga Tao menangkap suara langkah kaki dari lorong yang berada di depannya. Dengan cepat dan penuh pengharapan, Tao berlari sekencang mungkin agar bisa menanyakan dimana letak toilet pada orang itu.

GREB!

Tao pun menggenggam kerah baju orang yang baru saja lewat itu. Orang itu sedikit aneh, ia memakai sebuah topeng di wajahnya. Tapi itu tidak penting, yang penting adalah Tao harus segera menemukan toilet.

"Dimana… Toiletnya!?" Tanya Tao seraya semakin mengeratkan genggamannya pada kerah baju orang tadi.

"Bi-biar aku antarkan…" Jawab orang tadi dengan sedikit terbata. Sepertinya orang bertopeng itu adalah namja.

.

.

.

BYUUUUUUUUUUUUUR!

"Huah! Legaaaaaaaaa!" Tao pun keluar dari dalam toilet sambil mengelus-elus perutnya.

"Eh? Kau masih di sini ya? Gamsahamnida, sudah mengantarkanku. Mianhae, aku tadi sedikit kasar." Tao pun membungkuk ke arah namja bertopeng yang ternyata masih berdiri menunggu di depan toilet.

"Cheonmaneyo. Kebetulan aku ingin jalan-jalan." Jawab namja bertopeng itu.

"Ngomong-ngomong, mengapa kau mengenakan topeng seperti itu?" Tao pun menunjuk topeng namja tadi.

"Eh? Waeyo? Apa aku terlihat menyeramkan?" Namja bertopeng itu pun meraba-raba topengnya.

"Aniyo, hanya saja, kau terlihat aneh dengan to—"

"Kris-sshi! Ternyata kau ada disini! Cepat, drama musikalnya akan dimulai 5 menit lagi. Harusnya sekarang kau sudah ada di belakang panggung!" Tiba-tiba seorang namja datang dan memotong kata-kata Tao. Namja itu menarik tangan namja bertopeng tadi seakan-akan menganggap Tao tidak ada.

"Ne, aku mengerti Manajer-hyung." Jawab namja bertopeng tadi dengan santai.

"Cepat, aku bertanggung jawab 100% dengan apa pun yang terjadi padamu. Kalau kau sampai terluka di saat seperti ini bagaimana? Ayo cepat, yang lainnya sudah menunggumu." Namja tadi pun menarik pergelangan tangan namja bertopeng itu dan menjauhi Tao yang masih terlihat bingung.

"Sampai bertemu lagi." Namja bertopeng itu pun melambaikan tangannya kearah Tao. Sementara Tao hanya tersenyum canggung dan membalas lambaian pria bertopeng itu.

"Fuuuuh… Dasar orang-orang aneh." Tao pun berbalik dan melangkah menuju area penonton. Tapi…

"Tunggu sebentar… Kris-sshi? Jangan-jangan…" Tao pun menatap horror kearah perginya 2 orang tadi.

.

Author's POV end


TBC

a/n: Annyeong ^^

Kali ini author datang dengan ff multichapter baru. Maaf ya sebelumnya, author udah berani publish ff baru, padahal yg lain masih nunggak. Jujur aja, untuk saat ini author masih bingung gimana mau ngelanjutinnya. Tapi author akan berusaha semaksimal mungkin untuk ngelanjutinnya.

Dan kali ini author bikin ff dari pair kesukaan author lainnya, Taoris. Semoga readers semua suka ceritanya ya, hehehe...

Dan yang terakhir, author mohon reviewnya dari readers ya. Please, no silent readers... ^^v