Hallo, senpai fandom Hunter x Hunter. Ini fic pertama Rizu di fandom Hunter x Hunter. Rizu minta tolong sama senpai untuk memberi komentar dan pendapat kalian. Soalnya dengan begitu Rizu bisa tau apa keinginan pembaca dalam fic Rizu. Entah itu dalam bentuk apa. Soalnya keinginan Rizu menulis fic adalah agar pembaca bisa menikmati fic yang Rizu buat.

.

.

.

Disclaimer : Hunter x Hunter by Togashi Yoshihiro

Warning : AU, OOC, tidak sesuai EYD, membosankan, typo (masih ada dimana2), humor garing, aneh, dll yang ada dalam cerita ini yang perlu di perhatikan.

Genre : General, Romance and Hurt/Comfort

Pairing : Kurapika x Neon

Don't Like Don't Read

.

.

.

Selamat membaca ^_^

.

.

.

Cewek atau cowok?

Pagi yang cerah di Yorkshin city ada seorang gadis err~ maksudnya seorang lelaki berambut pirang tengah berjalan di pinggiran jalan kota tengah membawa bungkusan berisi makanan menuju ke sebuah hotel yang megah. Lelaki itu terus berjalan dengan santai, sesekali mata sapphire miliknya melirik secarik kertas yang ia pegang. Setelah menemukan kamar yang ditujunya. Lelaki itu mengambil sebuah kartu dan menggeseknya di samping atas pintu. Setelah memasukkan password lelaki itu langsung masuk dan menaruh belanjaannya dekat meja –yang kebetulan ada didekatnya.

"AKU BOSAN BOSAN! MAU MAIN! BOOOOOOOSSAAAAAAAAANNN" teriakkan seorang gadis menggema di dalam apartemen tersebut. Lelaki itu sedikit kaget tapi dia seberusaha mungkin untuk terlihat tenang.

'Ah, lagi-lagi nona Neon buat keributan' batin lelaki pirang.

Lelaki itu akhirnya memilih untuk berjalan menuju kamar bossnya. Dia sedikit lelah menjadi bodyguard keluarga Nostrad. Tapi gak ada pilihan lain karena demi mencapai tujuan utamanya mengumpulkan bola mata merah milik suku Kuruta dan menghambisi Genei Ryodan. Dia harus melakukan 'tugas' ini. Mau gak mau harus di jalankan.

"BOSAN! AKU MAU KELUARRR~" gadis itu terus berteriak dan meraung-raung di kamarnya.

"Tapi nona anda harus tetap disini. Diluar berbahaya" kata gadis berambut coklat berusaha menenangkan putri tunggal Nostrad.

"Gak mau! Aku mau keluar! Disini BOSAN!" gadis itu masih saja meraung-raung.

Krek

Tiba-tiba ada seorang laki-laki memliki postur tubuh tinggi dan tegap. Tapi sayang wajah dan potongan rambutnya membuatnya tidak seperti laki-laki sejati melainkan perempuan yang manis.

"Ada apa ribut-ribut?" tanyanya tenang.

"Nona ribut bosan terus Kurapika. Padahal tadi saya dan nona sudah main kartu" jawab perempuan cantik berambut coklat panjang.

Lelaki bernama Kurapika melihat kondisi kamar tuannya yang sangat berantakan seperti kandang ayam. Kejadian begini sih tidak, tidak terjadi baru kali ini. Malah berkali-kali tiap hari bossnya selalu mengeluh bosan. Kadang bossnya itu juga suka bersikap seenaknya dan manja.

"Diam nona!" ucapnya tegas. Entah keajaiban dari mana tiba-tiba putri Nostrad yang tadi meraung-raung sekarang jadi berhenti dan diam.

"Ayah anda melarang nona untuk tidak keluar dari apartemen ini. Nona tau sendiri kalau di luar sangat berbahaya" katanya tenang.

"Tapi aku bosan. Aku mau main seenggaknya" cibir putri Nostrad.

"Nona kan bisa main kartu sama Eliza" kata Kurapika masih dengan tenangnya.

"Aku sudah bosan main kartu" ucapnya mencibir.

"Kalau gitu kamu aja yang temenin aku main" putri Nostrad itu tersenyum jahil.

"Maaf tapi saya tidak bisa. Saya masih harus menghadap ke Tuan Nostrad" kata Kurapika dan ia berjalan keluar kamar dengan tenangnya.

Neon Nostrad merupakan putri tunggal keluarga Nostrad hanya memandang punggung Kurapika dengan tatapan sebal. 'Kenapa sih dia? Aku kan cuman ngajak main. Kenapa dia gak pernah mau? Dasar cewek aneh' batin Neon sebal.

'Andai saja Daltzorne masih hidup gak akan sebosan ini' batin Neon sedih

.~~~~~~~~~~~~~.

Di ruangan yang cukup besar. Dengan fasilitas yang terbilang mahal. Seorang pria paruh baya tengah duduk di sebuah kursi besar dengan wibawanya. Dia memperhatikan dan mendengar ucapan lelaki pirang di depannya. Setelah lelaki itu selesai dengan laporan perkembangan tentang putri tunggalnya. Pria paruh baya itu hanya mengangguk paham.

"Baiklah. Terus awasi Neon dengan baik Kurapika. Setelah Daltzorne di bunuh oleh Genei Ryodan dan posisinya digantikan olehmu. Aku sangat berharap kepadamu Kurapika agar kau bisa menjaga putriku dengan baik" kata tuan Nostrad terdengar bijaksana.

"Baiklah tuan" kata Kurapika sedikit membungkukan badannya hormat.

"Ok, seterusnya kuserahkan kepadamu. Sekarang kau pergi!" perintah tuan Nostrad.

Mendengar perintah itu Kurapika membungkuk badan sedikit sekedar memberi hormat dan berjalan pergi dari ruangan itu.

.~~~~~~~~~~~~~.

"Nee, Eliza" panggil Neon kepada wanta berambut coklat.

"Ada apa nona memanggil saya?" Tanya Eliza sopan.

"Setelah kematian ibuku aku merasa kesepian karena ayah tidak pernah mau menemuiku. Hanya pekerjaan saja yang diurusinya. Ditambah aku terus dikurung dan diawasi oleh bodyguard-bodyguard yang menurutku mengganggu sekali. Aku hanya ingin bebas dan hidup layaknya gadis biasa" kata Neon menatap langit-langit kamar.

Eliza hanya diam dan membiarkan bossnya bicara. Dia hanya bisa menjadi pendengar curahan hati nonanya.

"Tapi setelah bertemu kau dan Daltzorne hidupku tidak merasa terkurung dikadang. Aku justru memiliki sebuah keluarga. Bermain kartu bersama dan bercanda ria bersama. Kalian berdua sudah kuanggap keluargaku sendiri" kata Neon. "Jadi aku mohon jangan tinggalkan aku Eliza. Cukup aku di tinggal Daltzorne, aku gak mau ditinggal olehmu juga" lanjutnya tersenyum tulus kepada Eliza.

Eliza tertegun mendengar ucapan bossnya itu. Dia yang awalnya berfikir ingin berhenti karena situasinya berbahaya bagi nyawanya harus berfikir ulang dulu. Dia baru menemuka sisi lemah bossnya di depan matanya. Kesepian dan kesedihan yang terpancar dimatanya.

'Sepertinya aku memang harus tetap disini' batin Eliza dan memberi senyum tulus kepada Neon.

Neon yang melihat senyuman Eliza beranggapan kalau senyumanya itu adalah jawaban 'Iya' dari Eliza.

"Arigato Eliza" gumam Neon berbisik.

"Entah kenapa setelah terbunuhnya Daltzorne dan di gantikan sama cewek berambut pirang. Aku merasa pengganti Daltzorne benar-benar membosankan. Padahal cewek tapi sikapnya dingin banget kayak cowok" kata Neon yang tadinya suasana sempat hening.

Eliza merasa geli mendengar ucapan nonanya itu. Ya bagaimana tidak geli orang yang dimaksud itu kan cowok bukan cewek tapi nonanya mengira kalau pemimpin bodyguard itu cewek.

"Tapi nona dia bukan cewek" kata Eliza tersenyum geli.

"Ah, masa dia bukan cewek? Mana mungkin kalau dia cowok. Aku gak percaya" sangkal Neon. "Dia itu cewek yang menyamar jadi cowok agar bisa jadi pemimpin disini. Kayak difilm drama itu loh yang judulnya He's beautifull"

"Kasih bukti atuh kalau dia itu cewek yang menyamar jadi cowok" canda Eliza. Tapi sayang Neon Nostrad menganggap perkataan Eliza sebagai tantangan buatnya.

"Ok, akan kubuktikan" kata Neon bersemangat. 'Entah kenapa suasana yang tadinya sedih menjadi hangat begini' batin Neon.

.~~~~~~~~~~~~~.

Di pagi yang cerah. Seorang pemuda berambut pirang sedang berdiri di beranda hotel sambil memandang dan menikmati angin pagi di Yorkshin. Tiba-tiba saja hp miliknya bordering. Tanpa menunggu lama lelaki pirang itu langsung mengangkat telpon genggamnya.

"Moshi-moshi" kata Kurapika kepada orang yang disebrang.

"Kurapika ini aku Gon. Aku sekarang sudah punya handpone baru. Jadi kita bisa berhubungan. Hm Kurapika seperti janji kita sewaktu selesai ujian hunter. Aku, Killua dan Leorio sedang berada di Yorkshin. Kalau ada waktu kita bisa berkumpul kan?" kata Gon yang berada disebrang.

"Tentu. Tapi tidak untuk sekarang. Aku lagi banyak urusan. Kau tau kan Gon" kata Kurapika mengukir senyum tipis.

"Aku tau. Hm ngomong-ngomong kamu bekerja jadi bodyguard ya? Bagaimana rasanya?" Tanya Gon.

"Cukup merepotkan. Apalagi aku memiliki boss yang sangat manja"

"Wah pasti berat juga ya. Hm sudah dulu Kurapika. Killua dan Leorio memanggilku terus. Jaga dirimu baik-baik ya"

"Un" Kurapika langsung mematikan sambungan telepon dari Gon. Setelah itu dia melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda.

Di balik tembok ada seorang cewek berambut pink sendari tadi memperhatikan dirinya. Kurapika sadar kalau dia diperhatikan. Tapi dia membiarkan bossnya mengikuti dia toh lama-lama pasti bossnya akan bosan dan pergi (menurutnya)

.~~~~~~~~~~~~~.

'Huh, ternyata membuntuti dia membosankan juga. Dari tadi cuman berdiri diam di beranda. Ah, tapi aku penasaran dia itu cewek atau cowok' kata Neon dalam hati.

Hampir seharian penuh Kurapika selalu dibuntuti sama bossnya itu. Bodyguard –yang kebetulan melihat merasa aneh. 'Kenapa nona Neon terus membuntuti Kurapika?' batin wanita yang memiliki ukuran tubuh yang pendek.

'Lama-lama risih juga diikuti. Sebenarnya apa sih tujuannya?' pikir Kurapika.

'Sampai sekarang kegiatan dia kayak cowok. Apa dia cowok tulen? Ah, sudahlah Neon itu hanya tipuan dia aja. Tetap ikuti dia' batin Neon bersemangat.

'Kalau aku ke kamarku pasti gak akan diikuti. Baiklah kalau gitu' pikir Kurapika dan ia berjalan menuju ke kamarnya. Tapi sayang pikirammu salah Kurapika. Neon tetap mengikutimu ke kamar.

Akhirnya diapun sampai di kamar pribadinya. Setelah masuk dia memutuskan untuk berbaring sebentar toh tidak ada kabar pergerakan Genei Ryodan untuk saat ini.

.~~~~~~~~~~~~~.

Neon POV

Aku terus berada di depan kamar cewek berambut pirang itu. Menyebalkan kenapa dia masuk ke kamar? Aku jadi semakin yakin kalau Kurapika itu cewek yang menyemar jadi cowok.

Dia gak keluar juga. Apa dia tidur? Apa lebih baik aku masuk saja? Tapi kalau masuk ke kamar orang gak sopan juga. Apalagi dia itu super dingin kayak es di kutub utara.

Apa aku lebih baik kembali ke kamarku aja? Ya sudahlah lebih baik kembali. Masih ada hari esok untuk mengungkapkan penyamarannya.

Waktu aku hendak berjalan menuju kamar. Tiba-tiba ada suara orang yang berteriak dari apartemen sebelah. Kurang jelas sih. Tapi yang pasti teriakan itu seperti orang kesakitan. Mendengar teriakan tadi tubuhku jadi kaku dan kakiku gemetar hebat. Udah aku di depan kamar Kurapika sendirian. Dia juga gak balik.

Tap tap tap

Suara langkah kaki dari apartemen sebelah. Sepertinya ada orang lagi –yang sepertinya pelaku penyiksaan tadi menuju ke apartemen yang lain. Memang di apartemen ini banyak sekali bodyguard yang berjaga. Tapi tetap aja aku merasa takut.

Tiba-tiba saja ada orang yang mendekap mulutku. Sontak aku kaget dan mukaku menjadi horror. Dia menarikku ke ruangan yang gelap. Aku berusaha memberontak dan berteriak. Tapi orang itu semakin mendekap mulutku kencang. Rasanya aku ingin menangis.

.~~~~~~~~~~~~~.

Normal POV

Tap tap tap

Suara langkah kaki seseorang yang baru keluar dari kamar. Lelaki itu memiliki postur tubuh yang besar dan tinggi tanpa mengenakkan pakaian atas. Dia baru saja membunuh salah satu penghuni apartemen tadi. Kurang puas dengan informasi tentang si pengguna rantai. Tapi dia tau kalau si pengguna rantai bekerja menjadi bodyguard keluarga Nostrad. Seenggaknya dia minta tolong teman di Ryodan untuk mencari tau siapa saja bodyguard keluarga Nostrad.

"Tunggu saja pembalasanku si pengguna rantai" gumamnya berseringai.

.~~~~~~~~~~~~~.

Kurapika POV

Lampu yang ada ruangan itu kembali menyala karena nen milik anggota Ryodan sudah tidak terasa lagi. Akhirnya aku melepaskan dekapan mulut Neon tadi. Aku bisa melihat ekspresi ketakutan darinya. Sungguh membuatku merasa geli sendiri. Aku berbalik membelakanginya sambil melihat ke luar jendela. Sebenarnya agar tidak terlihat nona Neon aku tertawa. Saatku memandang ke luar. Tanpa sengaja aku menangkap sosok anggota Ryodan yang sempat kutangkap sebelum ia melarikan diri dan membunuh Daltzorne.

"Sekarang sudah aman nona. Lain kali jangan ngebuntuti orang sendirian. Untung saja saya tidak keluar dari apartemen ini. Kalau sampai saya keluar nyawa anda mungkin tidak akan selamat" tegurku. Aku tau kalau nona Neon sekarang sedang cemberut dan mencibir seperti biasa.

"Kenapa alasan nona mengikuti saya?" Tanyaku tanpa melihat wajah nona Neon hanya menatap jendela luar.

"Hanya curiga aja. Ngaku aja kau itu perempuan yang menyamar jadi laki-laki kan!" jawab Neon kesal.

Mendengar jawaban dari mulut nona Neon. Membuatku berkedut kesal. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang toh aku bukan tipe orang memperlihat beribu ekspresi. Aku menghela nafas dan berfikir kalau nona Neon gak salah kalau mengira aku perempuan toh gak hanya dia, beribu orang selalu mengira aku wanita gara-gara aku memiliki wajah gadis manis.

Terlintas ide jahil untuk mengerjai nona Neon. Salah sendiri dia meragukan genderku sebagai laki-laki

Aku langsung berbalik menghadap nona Neon. Aku sengaja mendorong tubuh nona Neon ke tembok. Mengurungnya dengan badanku dan kedua tanganku memegang kedua tangan nona Neon sejajar dengan posisi kepalanya.

Kalau dilihat dari jarak sedekat ini. Wajah nona Neon semakin bertambah manis apalagi dengan rona merah dipipinya. Benar-benar membuatku bertambah ingin mengerjainya lebih lama.

.~~~~~~~~~~~~~.

Neon POV

"Hanya curiga aja. Ngaku aja kau itu perempuan yang menyamar jadi laki-laki kan" jawabku kesal.

Kulihat Kurapika berbalik menghadapku. Dia mendorongku ke tembok dan mengurungku dengan tubuhnya dan tangannya memegang tanganku. Kalau posisinya begini aku tidak bisa lari.

Jantungku menjadi berdebar-debar melihat wajahnya yang hampir dekat dengan wajahku. Sebelumnya aku hanya bisa melihat dari jarak jauh aja. Mungkin dia kesal dengan omongakku tadi. Ya tuhan, kalau begini jadinya aku gak usah mengikutinya saja.

"Jadi nona Neon berfikir aku ini perempuan manis begitu?" Kurapika sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahku sampai hidung kami hampir aja bersentuhan 5 cm lagi.

Aku tak bisa jawab. Mukaku menjadi semakin panas dan jantungku menjadi semakin berdetak lebih cepat seolah-olah mau keluar. Aku jadi merasa tersihir. Tidak bisa berpaling dari mata sapphire Kurapika. Ya tuhan, kalau posisinya begini terus bisa gawat.

"I-iya" aku memberanikan diri menjawabnya. Kulihat Kurapika sedang berseringai tipis. Tapi aneh kenapa seringainya itu merasa kalau Kurapika jadi tampan?

'Oh, Neon apa yang kau pikirkan. Singkirkan pikiran anehmu ini' runtukku pada diri sendiri.

"Baiklah" Kurapika langsung menjauhkan badannya dariku. "Yokatta" gumamku. Gak baik buat jantungku kalau posisinya begitu terus. Tapi aku punya firasat buruk.

Kurapika langsung membuka bajunya. Eh, APA? Mau apa dia? Jangan-jangan dia . . . pikiranku mulai kusut sekarang.

"Ku-ku-kurapika ka-u ma-mau a-pa?" tanyaku terbata-bata.

"Mau mandi" jawabnya polos. "Bukannya nona berfikir kalau aku itu cewek yang menyama jadi cowok. Berarti nona pasti yakin kalau jenis kelaminku itu perempuan bukan laki-laki. Jadi gak apa-apa dong aku buka baju dengan sesama cewek" kata Kurapika yang memberi penekanan kalimat terakhirnya.

Aku menelan ludahku sendiri. Perasaanku tercampur aduk antara malu, kesal, takut, dan terpesona. Kalau begini senjata makan tuan.

"CUKUP! Aku mengerti. Maafkan aku kalau aku sudah membuntutimu dan meragukanmu sebagai cowok, Kurapika. Jadi tolong jangan diteruskan" ucapku malu. Aku yakin kalau sekarang mukaku sudah jadi semerah apel.

.~~~~~~~~~~~~~.

Kurapika POV

"Baiklah" aku langsung menjauhkan diri dari nona Neon.

"Yokatta" gumam nona Neon yang masih terdengar olehku. Wah-wah nona Neon berfikir kalau aku akan melepaskannya begitu saja. Oh, tentu tidak. Aku belum puas mengerjaimu nona.

Aku langsung membuka bajuku di depan Neon. Jujur aku sendiri merasa malu harus memperlihatkan bagian atas tubuhku kepada Neon. Tapi aku tetap memasang pokerface di depannya.

Oh, lihat wajahnya yang panik dengan rona merah dipipinya. Sungguh manis ternyata tingkah laku bossku saat ini. Kuakui kalau aku berubah pandangan tentangnya yang setiap hari mengeluh 'bosan'.

"Ku-ku-kurapika ka-u ma-mau a-pa?" tanyanya terbata-bata. Ya, tuhan rasanya ku ingin ketawa lepas dan berguling-guling melihat ekspresi konyol bossku ini.

"Mau mandi" jawabku dengan nada dibuat innocent.

"Bukannya nona berfikir kalau aku itu cewek yang menyamar jadi cowok. Berarti nona pasti yakin kalau jenis kelaminku itu perempuan bukan laki-laki. Jadi gak apa-apa dong aku buka baju dengan sesama cewek" kataku sengaja member penekanan terhadap kalimat terakhirku. Ah, menyenangkan sekali mengerjainya.

"CUKUP! Aku mengerti. Maafkan aku kalau aku sudah membuntutimu dan meragukanmu sebagai cowok, Kurapika. Jadi tolong jangan diteruskan" katanya malu. Hm apa aku sudahi saja ya? Tapi aku masih belum puas.

Aku menarik tubuhnya ke tembok lagi dan memojokkannya. Sengaja aku tidak memakai atasanku. Hanya bertelanjang dada. Walaupun aku merasa malu. Aku yakin ada garis tipis pink di wajahku.

"Bukankah tadi kau menuduhku menyamar jadi cowok. Tapi kok nona malah marah waktu kubuka bajuku. Apa ada yang salah?" tanyaku sembari memegang salah satu tangan Neon dan menaruhnya di dadaku yang err~ tanpa menggunakan baju.

"Ha-habis mukamu meragukanku. Mu-mukamu kan cantik. Ja-jadi gak heran kalau aku berfikir seperti itu" Neon memalingkan wajahnya dariku. Huh, kenapa harus disembunyikan. Aku kan suka rona merah diwajahmu tau.

"Souka?" tanganku langsung memaksa wajah merah Neon untuk menatapku. Dan jari telunjukku mengangkat dagu nona Neon agar aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Entah kenapa ada daya tarik dimata emerald Neon. Tanpa sadar aku mendekatkan wajahku. Aku menutup mataku dan mencium bibir lembut Neon

"Nona Neon kau dimana?" teriakan seseorang menyadarkanku. Reflex aku langsung menjauh dari nona Neon. Huh, apa yang sedang kau pikirkan Kurapika? Kau mencium PUTRI KELUARGA NOSTRAD! Di mana harga dirimu sebagai laki-laki?

Aku melihat nona Neon hampir menangis? Bagus sekarang kau membuatnya menjadi takut sama kamu. Dia langsung menuju ke pintu. Reflex aku memegang tangannya agar berhenti.

"Tunggu dulu. Aku mi…"

"Jangan sentuh aku laki-laki menjijikan" ucapannya yang terisak memotong perkataanku. Entah kenapa hatiku menjadi sakit mendengar perkataannya. Aku langsung melepaskan tangannya dan membiarkan Neon berlari keluar kamarku.

"Gomennasai Neon" bisikku parau

.

.

.

Akhirnya fic gaje bin aneh hunter xhunter milik Rizu selesai. Gomen kalau ada kesalahan dalam penulisan dan gaya bahasa. Rizu gak pandai bikin fic bagus. Awalnya Rizu berfikir untuk ke rated M tapi mengingat umur Rizu masih dibawah umur 18 tahun. Gak jadi deh *ketahuan mesumnya*

Jangan lupa readers harus meninggalkan review setelah membaca ini. Boleh flame tapi yang membangun. Oia kritik dan sarannya juga.

R

E

V

I

E

W

P

L

E

A

S

E