Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 6 : Rainbow After Rain

"Tunggu sebentar, teman-teman" kata Bossun kehabisan napas. Raut kecapaian tergambar jelas di wajahnya.

Sudah sejak chapter sebelumnya sampai sekarang mereka berlari. Berlari ke mana? Hanya Tuhan dan Switch yang tahu. Tapi sepertinya hanya Bossun saja yang terlihat kelelahan. Himeko, karena memang sudah terbiasa olahraga, tidak menunjukkan tanda-tanda lelah. Dan Switch, yang biasanya lebih mudah lelah daripada Bossun, malah terlihat masih sanggup berlari 10 km lagi.

Tiba-tiba, hujan rintik-rintik mulai turun.

"Switch, apakah tempatnya masih jauh?" tanya Himeko.

"Sudah tidak terlalu jauh. Sebentar lagi juga sampai" jawab Switch.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Hujan malah turun semakin deras. Meskipun begitu, tetap saja tak ada satu pun di antara mereka yang berhenti, bahkan juga Bossun.

Akhirnya, setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di sebuah bukit kecil. Bau tanah basah mencolok di hidung mereka. Ada cukup banyak pepohonan di sana, tapi ada sebuah pohon besar yang berdiri sendiri di tepi bukit. Dan ada sosok orang di sana.

Pandangan mereka kurang jelas akibat hujan, tapi sudah dapat dipastikan sosok orang itu...

Kimiko. Orang yang sedang mereka cari-cari saat ini.

"Sudah kuduga dia akan kemari" pikir Switch. Tempat ini menyimpan banyak kenangan baginya. Bagi mereka.

Karena hujan yang semakin deras, akhirnya Switch memutuskan untuk menyimpan laptopnya dan diberinya laptop itu pada Himeko. Himeko menerima laptop itu dengan bingung.

"Eh, Switch? Apa yang akan kau..." Sebelum Himeko selesai, Switch sudah keburu pergi. Himeko langsung maju mengikutinya, tapi Bossun menahannya.

"Kurasa untuk yang ini kita serahkan saja pada Switch. Kita hanya akan mengamati dari sini" kata Bossun. Himeko ingin membalas. Tapi, melihat mata Bossun yang begitu yakin, dia pun membatalkan niatnya.

Lagipula... Memang hanya Switch yang benar-benar mampu mengerti perasaannya.

Perasaan bersalah yang begitu mendalam.


Kimiko sedang duduk di bawah pohon. Tangannya memeluk kedua kakinya. Matanya tampak menerawang.

"Gara-garaku... Semuanya gara-garaku... Kalau bukan karena aku, pasti saat ini Otousan, Okaasan, dan Misao... Mereka semua masih hidup..." pikir Kimiko.

"Baka" kata suara yang sudah tidak asing lagi, mengusik pikirannya. Suara yang sudah tak didengarnya lagi sejak kepindahannya. Suara yang biasanya digantikan oleh laptop. Kimiko menolehkan kepalanya, terperangah akan orang yang ditemuinya.

"Kazu-kun..." kata Kimiko lirih. Switch menatapnya tajam, lalu duduk di sampingnya.

"Apa yang ada di otakmu? Menghilang seminggu, handphone-mu sama sekali tidak bisa dihubungi, bahkan tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu?!" seru Switch marah. Kimiko meringis. Switch yang marah adalah hal yang jarang, dan itu adalah sesuatu yang patut disyukuri. Satu hal penting tentang Switch yang dipelajari Kimiko setelah menjadi teman sejak kecilnya adalah, jangan pernah membuat Switch marah.

Tapi di sinilah dia. Dengan sukses membuat Switch marah besar padanya.

"Kau sudah membuatku khawatir. Tiba-tiba menghilang begitu saja" kata Switch, dengan nada yang lebih rendah. Terbayang jelas wajah Sawa dan Masafumi di benaknya.

"Aku... Tidak mau kehilangan orang penting lagi..." lanjutnya lirih.

"Gomenasai..." kata Kimiko lemah.

"Kenapa kau tidak melepaskan semuanya?" tanya Switch.

"Eh?" balas Kimiko. Matanya menatap mata Switch.

"Kejadian-kejadian akhir-akhir ini... Pasti cukup membebani pikiranmu, bukan? Keluarkan saja semua emosimu" kata Switch. Kimiko memandang Switch. Terdiam untuk sesaat. Seakan-akan menungguk kata Switch meresap. Tak lama kemudian, tangisan keras pun pecah darinya.

Switch memeluk Kimiko, tidak terlalu dekat seperti pasangan tapi cukup dekat bagi Kimiko untuk bersandar di bahunya. Tangan Kimiko memegang erat tubuh Switch. Dengan semakin derasnya hujan, semakin kencang pula tangisan Kimiko. Baju mereka berdua sudah seluruhnya basah kuyup. Switch bisa merasakan tubuh Kimiko gemetaran. Dia tidak bertanya apa tepatnya yang membebani pikirannya selama ini, meskipun memang ada beberapa dugaan yang sudah ada di otakny. Yang terpenting baginya sekarang adalah Kimiko sudah aman. Hal lainnya bisa menunggu nanti.

Mereka berdiaman pada posisi itu cukup lama. Perlahan-lahan, Switch merasakan Kimiko sudah mulai tenang. Hujan pun juga sudah mulai reda. Kimiko mengangkat wajahnya dari bahu Switch. Matanya bengkak, akibat menangis dan kurang tidur. Hidungnya juga merah. Mereka saling bertatapan. Tiba-tiba...

"Hua-Huaatchii!" bersin Kimiko. Switch tertawa kecil. Melihat Switch tertawa, Kimiko tidak tahan untuk ikut tertawa. Mereka berdua pun akhirnya tertawa terbahak-bahak. Himeko dan Bossun, yang ikut mengamati mereka daritadi, juga tidak sanggup menahan senyuman.

Sama seperti pelangi yang muncul setelah hujan.


"Memang dimana-mana paling enak itu di rumah sendiri" kata Kimiko begitu memasuki rumahnya.

"Kata orang yang kabur dari rumah selama tiga hari" kata Switch, yang sayangnya, sudah kembali menggunakan laptopnya. Himeko dan Bossun menatap kecewa laptop itu. Mereka sempat berharap Switch pada akhirnya melepaskan laptopnya dan berbicara normal. Dan mendengar suara asli Switch meskipun hanya sekadar tawa dan itupun dari jauh... Mereka sangat bersemangat. Tapi sepertinya mereka berharap terlalu tinggi.

Kimiko menatap Switch jengkel. Meskipun begitu, dia tidak berkata apa-apa. Bagaimana pun juga, tak peduli betapa menjengkelkannya kata-kata itu, apa yang dikatakan Switch benar apa adanya.

Setelah masing-masing mendapatkan handuk dan minuman hangat, Kimiko pun ikut bergabung bersama mereka. Dia menghela napas panjang.

"Kurasa... Aku berhutang penjelasan pada kalian, bukan? Tiba-tiba saja menyeret kalian dalam ini semua..." Kimiko meneguk minumannya.

"Aku... Mari kita mulai sejak aku pindah rumah" kata Kimiko, "Ini akan jadi cerita yang cukup panjang"

End of Chapter 6


Author's Note :
Cliff-hanger! Wohoo! The main reason why I ended this chapter *evilsmirk. And Switch do actually talk! Real talk you know, without his lovely laptop. Because it is raining and Kimiko is an important person for him... So... Well, he is so worried about her. Beside, there's always exception for everything. But there's no way I paired Switch with Kimiko. I'm already told you, didn't I? Their relationship is like brother and sister.

Anyway, review!

Lady of Gray