;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Near IS

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Story © Nekuro Yamikawa

Infinite Stratos © Izuru Yumizuru

Genre : General / undetermined yet

Rate : T

A/N : Jika sekiranya ada fic milik author lain yang hampir serupa dengan fic ini di fandom ini, atau bahkan sama dengan novel asli. Maka itu murni kebetulan dan tanpa disengaja karena author tidak memiliki novel asli dan hanya mengetahui IS dari anime-nya.

WARNING !

Kemungkinan typo, OOC, dan lain sebagainya karena saya hanya author biasa yang sekedar meluapkan imajinasinya melalui fic ini.

.

.

.


Chapter 2


Bersekolah memang menguras banyak energi untuk berkonsentrasi. Tapi dalam keadaan bosan atau jenuh, biar pun energi terisi penuh, seseorang bisa terlihat kelelahan. Kurang lebih itulah kesimpulan Shiroishino sesudah kesekian kali ia menguap lebar tanpa peduli pada reaksi teman-teman sekelasnya ataupun Yamada Sensei dan Orimura Sensei. Buku tebal sudah berkali-kali mendarat di kepalanya. Meskipun begitu, sepertinya menguap lebar tidak bisa menghilang dari dirinya begitu saja. Seperti memaksa seekor ikan untuk hidup di darat.

"Shiroishino San, jika kau memang tidak berniat mengikuti pelajaran, keluar dari kelas ini atau aku yang akan melemparmu dari jendela." ancaman khas dari seorang Chifuyu. Lelaki itu mengucek matanya, melirik Sensei yang sekarang berdiri di sampingnya dengan malas lalu tersenyum kecil.

"Mulutku menguap berkali-kali bukan karena aku tidak mau mengikuti jam pelajaran. Ia menguap dengan sendirinya tanpa kemauanku. Jadi, Sensei, apakah aku harus menerima hukuman?" ucap Shiroishino datar dan acuh, tanpa menoleh sedikit pun pada Chifuyu yang jadi lawan bicaranya.

Wanita itu menatap tajam ke arahnya dengan sedikit menggeram seperti harimau hendak menerkam mangsa. Tentu saja, Sensei yang juga idola para siswi ini terkenal berkepribadian tegas dan keras. Sekali ia berkata, ia tidak akan menarik kata-katanya dan pasti benar-benar melakukannya. Hampir saja Shiroishino akan terlempar melalui jendela begitu Chifuyu mencengkeram kerah bajunya saat dia tanpa sengaja membuat wanita satu ini kesal, bel tanda akhir pelajaran berbunyi. ─Seumpama bel itu telat berbunyi sekalipun, melempar laki-laki ini dari jendela bukanlah masalah, ia bisa terbang menggunakan Near IS miliknya.─

"Baiklah," Chifuyu melepas cengkeramannya "Karena jam pelajaran telah usai, maka aku akan memberimu hukuman lainnya, datang padaku setelah ini" dan kelas pun berakhir dengan selayaknya. ─Guru dan murid saling memberi salam hormat bergantian sebelum meninggalkan ruang kelas.─

x-X-x

"Oh, jadi, sekarang hukumannya IS battle? cerdik." gumam murid tahun pertama ini. Di depannya sekarang sudah berdiri Blue Tears dan Shen Long bersama kedua pilotnya yang sedang menggerutu karena keberatan dengan permintaan Sensei mantan juara dua Mondo Grosso mereka. Tapi akhirnya hanya bisa pasrah dan menurut begitu sang Sensei menampakkan taringnya.

"Jadi siapa lawan kami?" Huang Ling Yin, pilot dari Shen Long berkata penuh rasa kesal. Gadis berbadan kecil dan memiliki sepasang High-Side Ponytail berpita kuning ini sepertinya sedang terburu-buru. Begitu juga Cecilia Alcott, perwakilan inggris dengan Blue Tears miliknya.

"Akan aku beri pelajaran siapapun dia karena sudah berani mengusik waktu senggang yang berharga milik Cecilia Alcott ini," seperti biasa, gadis berambut panjang, sedikit blonde dengan keriting kecil di ujungnya yang membuat tampak indah mengembang itu berbicara bak putri serta penuh percaya diri. "aku pastikan dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran di sekolah selama tiga hari berturut-turut." imbuhnya. Sepertinya dia benar-benar marah.

"Dia sudah ada di sini, idiot!" hardik sang Sensei sambil mengarahkan pandangan pada murid yang sejak tadi ia bawa bersamanya, sekarang tengah membelakangi mereka sambil mengamati sekeliling. Tapi segera menoleh saat ia merasa dua pasang mata menusuk dirinya.

"K-Kau?!" teriak kedua pimilik IS perwakilan Negara tersebut bersamaan begitu mengenali wajah Shiroishino. Shiroishino hanya tersenyum hingga kedua matanya menyipit.

"Hai Senpai, kita bertemu lagi." sapanya santai, namun kedua lawan tadi malah saling berpandangan dengan muka cemberut lalu bertanya pada Chifuyu.

"Orimura Sensei, apa benar ia akan…"

"Jika ia telah berkata bahwa ia akan satu kamar dengan Orimura Ichika? jawabannya adalah iya." potong Chifuyu cepat seperti bisa membaca isi kepala mereka. Wajah Cecilia dan Ling Yin pun sontak menjadi muram tanpa sempat berpikir mengapa?.

"Tapi kalau kalian bisa mengalahkannya, aku akan mengubah keputusanku dan sebagai gantinya, salah satu dari kalian yang akan satu kamar dengannya." mendengar kata-kata itu, seketika keduanya menjadi berbinar-binar. Kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini? "Ingat, salah satu" Chifuyu menekankan sekali lagi.

Akhirnya battle pun berubah menjadi sistem royal, siapapun pemenangnya, ia akan menjadi teman sekamar Ichika dalam satu tahun ini, dan itu hanya berlaku bagi mereka bertiga saja. Dua gadis yang sudah satu tahun mengejar Ichika pun tanpa menghiraukan sang Sensei yang hendak mengatakan sesuatu, segera melesat lebih dahulu ke arena. Mereka berpikir, melawan murid kelas satu bukanlah hal sulit, jadi selama take off dari zona control, mereka sepakat akan menyingkirkan anak kemarin sore yang siang tadi berkata seenaknya tentang Ichika bahkan menertawakan mereka karena tersipu di depan adik laki-laki semata wayang Sensei paling galak di akademi.

"Sistim royal ya? Tapi tidak di sangka, Orimura Sensei akan menjadikan adiknya sendiri sebagai pialanya." kritikan hambar Shiroishino, yang hanya mendapat senyuman sinis Chifuyu.

"Sebaiknya tunjukkan semua kemampuan Near IS milikmu dalam pertarungan ini, gadis-gadis itu tidak akan segan melukai jika sudah menyangkut Ichika." katanya. Anak laki-laki ini hanya menghela napas merespon peringatan Sensei-nya tersebut, dan selanjutnya ia segera mengaktifkan Near IS di lehernya yang selalu dalam kondisi siaga.

Tidak seperti Personal IS yang memunculkan cahaya dan menyelubuingi pilot saat diaktifkan, Near IS lebih mirip kepingan-kepingan logam yang termaterialisasikan lalu membungkus beberapa bagian tubuh pilot. Prosesnya sendiri berlangsung tidak kalah cepat dari pengguna IS pro, Shiroishino hanya butuh 0,3 detik.

Sesuai namanya, Near IS hanya menyerupai saja. Tak seperti IS yang hampir semuanya memiliki sayap atau pelindung berukuran besar yang menempel atau melayang di sekitar badan pilot. Near IS satu ini tidak memiliki satupun. Bagian lengan atas terbuka lebar sehingga bisa menjadi sasaran lawan. Bagian kaki juga jauh lebih kecil dari IS yang pada umumnya berukuran besar-besar. Jadi secara teori, ia akan rentan terhadap serangan, atau sebaliknya, lawan sulit menyerang karena ukuran yang tidak jauh berubah dari sebelumnya

Tapi secara keseluruhan, Near IS milik murid crossdesser ini berwarna hitam legam kecuali celah antar metal yang menyatu terlihat menyala hijau metalik, juga memiliki bentuk lengan dan kaki yang berukuran lebih kecil dari IS. Khususnya bagian kaki, bagian tersebut lebih seperti lapisan yang melindungi kaki dari pada kaki sebuah IS. Telapak kakinya menjinjit dengan kuku-kuku tajam dan sebuah tanduk melengkung ke bawah di bagian tumit.

Untuk bagian armor, ia memiliki pelindung dada berbentuk tulang rusuk, menyatu pada bongkahan metal seperti ransel kecil di punggung. Dan di bawah ransel tersebut terdapat tulang punggung yang melekat mengikuti lekuk tulang belakang dan memanjang hingga seperti ekor serta bisa di gerakkan. Bagian kepalanya, sebuah diadem bertanduk satu tepat di atas mata kiri bertengger di sana, seolah menyisir rambutnya agar tidak menghalangi mata tersebut.

"Nama Near IS ini Beelzebub, Sensei," ucap Shiroishino datar, suaranya berubah. Dari mirip seperti seorang perempuan, menjadi suara ganda perpaduan suara maskulin laki-laki dan gadis remaja, bahkan terkesan robotik. Chifuyu sedikit mengerjap saat mendengarnya, apalagi setelah mengamati mata anak itu. Bulatan putihnya berubah menjadi hitam pekat layaknya Near IS yang dia kenakan, bahkan di tengah iris biru menyala terdapat titik merah terang. Terkesan seperti monster dalam beberapa film fiksi fantasi. "satu dari tujuh hasil karya ayahku." lanjut bocah itu.

Kemudian, akhirnya ia melesat menyusul kedua Senpai yang telah menunggu di depan sana. Suara gemuruh udara bercampur desing metal beradu dalam lorong panjang terdengar liar begitu ia melaju dalam kecepatan tinggi. Dan pertarungan antara IS melawan Near IS pun segera dimulai.

x-X-x

Ling Yin dan Cecilia menunggu dengan muka masam. Masing-masing siap dengan Starlight MK. III pada Blue Tears dan Souten Gagetsu yang terpisah di kedua tangan Shen Long. Jika saja penanda battle dibunyikan saat ini, mereka berdua pasti akan segera melancarkan serangan satu sama lain karena tidak tahan lagi. Khususnya Ling Yin, hampir sepuluh detik diam melayang dalam kondisi mengenakan IS tentu membuat tubuh gadis hiperaktif ini seperti kesemutan. Ia bahkan hampir melepas teriakannya ke udara untuk mengusir kesal jika saja terlambat mendengar suara seperti mesin jet dari bawah kakinya.

"Itu dia!" seru Cecilia seraya memperbesar objek yang dia lihat hingga sepuluh kali, sebelum akhirnya berdiri di depan mereka. Kedua gadis yang tadinya hampir meledak dan melempari Kohai mereka dengan umpatan dan ungkapan kesal malah terbengong setelah melihat penampilan gadis ini saat berdiri di depan mereka.

"IS macam apa itu? ukurannya kecil sekali." ungkapan seperti ini jika bukan Ling Yin tidak ada lagi.

"Ia… melayang dengan cara yang tidak biasa." pengamatan yang bagus untuk seorang pilot IS penyerang jarak jauh, Cecilia. Wajah perwakilan dari inggris tersebut terlihat curiga dengan lempengan cahaya berbentuk segi enam yang menjadi pijakan lawannya selain bentuk yang tidak biasa dari IS tersebut. Sementara di ruang monitor, dua Sensei dan sang jenius memperhatikan Near IS tersebut dan mulai menganalisa.

"Energy Shield untuk pijakan?" gumam Yamada Sensei dengan ekspresi bingung seraya memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit menurun. Dua orang lain, Chifuyu dan Tabane, hanya diam menonton layar monitor.

"Jangan salahkan aku kalau kalian menunggu lama, Senpai." Shiroishino berkata dengan suara barunya yang tentu saja membuat semua orang sedikit terkejut kecuali si jenius dan temannya yang disebut-sebut iblis sekolah. "Karena kalian sendiri yang meluncur ke arena mendahuluiku." lanjut anak laki-laki ini disambung senyum menyeringai. Kedua Senpai mereka tertegun. Berbagai pertanyaan muncul di kepala mereka sebelum mereka menyimpulkan lawan satu ini tak bisa di anggap remeh.

Memantapkan genggaman pada senjata masing-masing, Cecilia dan Ling Yin pun segera mengambil ancang-ancang tanpa berkomentar lebih jauh. Yamada Sensei di ruang monitor yang juga sudah bersiap-siap, segera membunyikan alarm tanda pertarungan di mulai setelah Chifuyu memerintahkannya.

Tidak menunggu lebih lama, Ling Yin menerjang maju meskipun gema alarm belum sepenuhnya menghilang dari arena. Di belakangnya, empat buah Drone milik Cecilia mengekor. Sedangkan pemiliknya segera mengambil posisi yang menguntungkan. Di pihak lain, Shiroishino mengambil kuda-kuda, cara bertarung yang tak satupun para murid pernah berpikir untuk melakukannya.

Ling Yin menganggap itu adalah hal yang konyol, tanpa ragu menebasnya menggunakan sebuah Schimitar miliknya. Begitu mata senjata hampir menggoreskan kerusakan pada lawan, Shiroishino segera memindahkan tubuh ke samping, cukup membuat gadis berkuncir dua itu terkejut bercampur kesal. "Ce-cepat sekali" pikirnya sembari menyabetkan Schimitar yang satunya secara horizontal. Tapi lagi-lagi, serangannya gagal. Kali ini, karena lawan berambut perak itu menahan pergelangannya.

Shiroishino tersenyum sinis melihat bagaimana reaksi Ling Yin, gadis itu sendiri semakin kesal. Rahangnya mengatup rapat dan ekspresi yang terbaca di wajahnya hanya kalimat Awas Kau!

Untuk sepersekian detik, keduanya pun terpaku di tempat masing-masing setelah serangan itu gagal. Tidak menyia-nyiakan kesempatan dalam waktu yang sempit tersebut, ke empat Drone Cecilia membentuk formasi dan menembakkan lasernya setelah muncul tiba-tiba dari punggung Ling Yin.

Hal tak terduga kembali terjadi. Ekor Beelzebub telah melingkar di perut Ling Yin pada saat ke empat Drone membentuk formasi sebelum menembak. Dan saat ke empat senjata itu melepas partikel cahaya dari moncong masing-masing, Shiroishino membuang diri kebelakang. Secara otomatis menarik Ling Yin menggantikan posisinya, dan ke empat senjata otomatis itu pun menghujani punggung yang tertutup oleh bagian metal Shen Long berkali-kali. Cukup membuat energi IS berwarna merah jambu itu menurun sepertiga dari awalnya.

Reaksi tadi sangat cepat dan mengalir begitu saja dalam hitungan detik. Ini baru permulaan, tapi salah satu dari tiga petarung sudah kehilangan cukup energy shield. Bagian buruknya, tag-team dalam royal battle ini, antara Cecilia dan Ling Yin, kelihatannya sudah buruk di awal-awal. Gadis cina itu sekarang melirik tajam pada pemilik Drone yang sekarang terlihat gugup sambil mengulang kata "maaf" dan "tidak sengaja" di monitor hologram yang muncul di samping kepalanya.

"Senpai, jangan hanya mengomel, seriuslah sedikit. Aku bahkan tidak bersenjata sama sekali." ledek Shiroishino setelah menjaga jarak dari Ling Yin. "Ini sudah hampir jam makan malam, apa kita akan bertarung hingga pukul 08.00 PM?" imbuhnya dengan ekspresi tak acuh. Taktik mengetes tingkat kesabaran lawan. Ling Yin bukanlah tipe orang yang bisa bertahan dari serangan seperti ini.

"Diam Kau! Aku tahu itu dan itu mengapa aku menjadi semakin kesal!" teriaknya diimbangi serangan Ryuhou mendadak, dan secara bergantian antara sayap kanan dan kiri pada anak laki-laki yang berdiri hanya lima meter darinya. Lagi, bocah crossdesser itu menghindari setiap proyektil tak kasat mata yang sebagian besar targetnya kesulitan untuk melakukan hal itu. Bahkan cara ia menghindarinya hanya menggerakkan tubuh saja."A-Apa?!" sontak kaget si pilot.

Melihat rekannya tercengang seperti itu, Cecilia segera melepas tembakan untuk mengantisipasi serangan balik dari lawan. Menggunakan Starlight MK. III, ia menggiring IS aneh yang dikenakan gadis itu hingga ia melesat mengitari arena demi menyelamatkan diri.

"Kerja sama mereka lumayan juga, aku masih ingat bagaimana mereka dengan bodohnya jatuh dalam satu kali serangan saat berlatih di lapangan saat tahun pertama oleh wakil wali kelas mereka." komentar Chifuyu dari ruang monitor disusul wajah tersipu khas dari Maya.

"Uuuhn, Near IS bernama Beelzebub itu belum mengeluarkan semua kemampuannya," ucap Tabane dengan nada kecewa bercampur suara dan tingkah imut. "yang di lakukannya hanya menghindar selama lima menit ini." lanjutnya.

Chifuyu melipat kedua lengan di dada, pandangannya menatap tajam jalannya pertarungan. Memang, sejak tadi Shiroishino hanya menangkis pedang Shen Long dan menghindar dari setiap proyektil. Tapi itu bukanlah hal yang bisa dikatakan biasa. Ia bisa disebut mahir. Near IS yang minimalis, kemampuan beladiri yang diperlihatkan, semua saling melengkapi. "Apa jadinya jika seorang master beladiri, memiliki IS yang mendukung keahliannya?" gumamnya.

Kembali ke arena, Near IS itu sekarang bergerak lebih gesit dari sebelumnya. Itu karena ia terus dihujani tembakan, sedangkan sang penyerang jarak dekat berusaha memberi pukulan telak dari depan secara tiba-tiba. "Rin! Sekarang!" seru sang penembak dari atas langit pada rekannya yang menahan Near IS itu agar tetap berada dalam jangkaun tembak dan tidak bisa meraihnya.

"Rasakan ini!" pekik Ling Yin seraya melempar Souten Gagetsu yang menyatu sehingga berputar-putar layaknya baling-baling ke arah Beelzebub, tepat saat Near IS itu melompat ke samping karena dihadang empat Drone dalam kondisi siap tembak. "Kali ini… kau habis." gumam Ling Yin, ekspresinya berubah bak algojo yang tengah mengeksekusi.

Mendapat serangan balasan seperti itu. Shiroishino tentu terkejut, apalagi Energy Shield-nya juga berkurang selama pertarungan. Jika sampai terkena serangan masif seperti itu, tentu saja ia akan kalah. Ia pun menggertakkan gigi.

Bermain-main dengan mereka ternyata memang pilihan yang salah. Blue Tears selalu menjaga jarak tiap kali Beelzebub berhasil melesat ke arahnya dari kepungan Drone. Ditambah Shen Long yang siap menerkam jika perhatiannya terfokus pada IS biru langit itu, membuat Shiroishino semakin kesulitan. Sepertinya mereka benar-benar murka karena kejadian siang tadi, sehingga kedua pilot yang terkadang suka berseteru ini bisa berkolaborasi dengan apik dalam pertarungan royal battle. "Sangat berbeda saat awal tadi."

Ling Yin juga, ia akan menggeliat melepaskan diri setelah memberinya serangan kejutan. Melesat dalam satu tebasan penuh dengan Ryuhou dalam kondisi siap tembak untuk berjaga-jaga. Sehingga bocah itu tidak akan mudah menangkap Shen Long ataupun gadis itu menggunakan ekornya, atau juga menjepit golok besar menggunakan kedua tangan, ─karena pada saat itu terjadi, Ryuhou akan memuntahkan amunisinya dan memberi Beelzebub kerusakan─.

Sangat tidak diharapkan, mau tidak mau salah satu kelebihan Near IS miliknya pun terpaksa di aktifkan. "Partial Ignition Boost!" bisik Shiroishino. Secepat kilat, seluruh celah metal Beelzebub menyala merah dari sebelumnya yang berwarna biru. Kecepatan mengelaknya pun meningkat drastis. Tapi yang dilakukannya bukanlah mengelak, melainkan menangkap Souten Gagetsu tepat di tengah dan tetap mempertahankan perputaran senjata itu.

Kedua lawannya pun tercengang untuk kesekian kalinya. "Mana-mana mungkin ia bisa…" gumam Ling Yin, yang kemudian secara tiba-tiba dilempari balik menggunakan senjatanya sendiri. Tapi segera ia tangkap dan kuasai. Tepat setelah itu, ia mendengar seseorang telah berada di belakangnya.

"Maaf Senpai, Senpai sekarang sudah kalah." dan setelah mendengarnya, sepasang tangan mencengkeram kedua lengannya, disusul benda berwarna hitam melilit perutnya. Ia hendak membentak orang yang tak lain adalah si bocah crossdesser itu dan melepaskan diri, namun mesin IS miliknya tak bisa beroperasi dan sebuah kotak warning menunjukkan bahwa energy shield-nya telah nol.

"A-Apa?"

"Terima kasih buat camilannya, Senpai." lanjut suara itu. Ling Yin yang emosi karena berhasil dikalahkan dengan cara yang tidak ia ketahui, segera memalingkan wajah untuk mengumpati gadis ini. Namun ia tak mendapati apapun kecuali suara "Kyaaa! ! !" dari atas langit. Ia pun mendongak dan terbelalak melihat Cecilia bersama IS miliknya sudah bergelayut di ekor IS aneh milik Shiroishino. Kondisi mesin mati total.

"Apa yang barusan terjadi?" Chifuyu yang melihat kejanggalan dalam pertarungan itu segera menghampiri layar monitor di hadapan Maya. Mengamati dengan seksama tampilan rinci di bawah dua kotak warning dari dua IS yang sudah berhenti bergerak lalu membandingkannya dengan Near IS yang masih aktif.

"Uuuhn, sepertinya mesin ini serakus namanya," ucap Tabane yang ikut mengintip layar monitor. "Beelzebub adalah nama dari salah satu iblis yang melambangkan kerakusan, bukan?" lanjutnya. Chifuyu dan Maya pun mengalihkan perhatiannya pada sang jenius yang tak pernah berhenti tersenyum riang.

x-X-x

Jam digital menunjuk pukul 08.10 PM. Ichika yang sedang meringkuk di balik selimut berusaha memejam mata dan menembus dunia mimpi. Sebenarnya sekarang sudah masuk jam belajarnya, tapi karena tubuh yang serasa remuk berkat ulah kelima temannya, khususnya Cecilia dan Rin yang tiba-tiba memarahinya tanpa sebab yang jelas setelah jam makan malam tadi, membuat satu-satunya lelaki yang bisa mengendarai IS ini tak sanggup lagi menyangga kesadaran. Daripada ia membaca buku panduan dan tanpa sengaja menggambar peta jepang di atasnya, bukankah lebih baik tidur sekalian? Lagipula memaksakan diri berlebihan bisa memperpendek usia.

"Orimura-Kun, Orimura-Kun, Orimura-Kun." baru saja mata pemuda ini tertutup rapat. Suara seseorang yang memanggil namanya tiga kali seperti sedang memanggil Jin dalam cerita seribu satu malam membuatnya terpaksa untuk menampakkan diri di depan pintu. Ia pun bangkit dari ranjang setelah menyingkap selimut, duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawa yang masih berceceran bahkan tertinggal di belakang pelupuk matanya, lalu mulai berdiri dan berjalan menuju pintu seperti kakek tua yang terkena encok.

"Tidak bisakah aku menikmati rasa lelahku selama satu hari ini?" ia mengeluh sambil menguap lebar, lalu membuka pintu kamar yang terkunci. Untuk tiga detik, ia tidak bisa mengenali siapa wanita berambut hijau terang yang sudah berdiri di depannya saat ini. ia hanya berkata "Oh, rupanya Yamada Sensei." lalu terantuk berkali-kali karena kepalanya terasa berat. Guru yang dia sebut tadi hanya bisa tersenyum pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa untuk membuat Ichika terbangun sepenuhnya.

Suasana seperti ini berlangsung hampir tiga menit. Cukup untuk Shorishino menjadi ikut mengantuk memperhatikan tingkah laku guru dan murid di depannya. Sepertinya, mitos bahwa kantuk bisa menular berlaku di sini, anehnya hanya Shiroishino yang merasakan efeknya. Mungkin, karena hanya dia laki-laki selain Ichika yang ada di sini, ah kesampingkan semua itu. Gadis jadi-jadian ini mulai kesal sekarang. Ia pun meminta sang Sensei untuk mundur selangkah dan membiarkannya mendekati Ichika.

"Tak satupun laki-laki yang masih bisa tertidur pulas setelah wanita melakukan ini padanya." ucapnya dengan senyum menyeringai dan terkesan nakal saat melirik sang Sensei. Sang sensei hanya tersentak sambil tersipu mendengarnya dan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan kamu lakukan, Shiroishino San?! Dan laki-laki ini pun mulai memperagakan. Ia sedikit berjinjit, mendekatkan mulutnya ke telinga anak laki-laki lainnya. Menjilat bibir bawahnya sendiri yang entah kenapa bisa terlihat begitu merah alami, lalu menghela napas panjang. Dan… "Idiot! Bangun kau!"

Serasa gendang telinganya dirobek, Ichika pun gelagapan. Hampir-hampir ia terjungkal dan mungkin akan menimpa Yamada Sensei jika kerah bajunya tidak ditarik ke belakang oleh seseorang yang tak sempat ia perhatikan. Suara sedikit gaduh disusul orang mengaduh segera mengisi ruangan yang lebih dari cukup untuk ditempati lelaki itu sendirian. Shiroishino lalu bersandar di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada dan satu telapak kaki menempel di kusen pintu. "Aku yakin, dosisnya sudah pas untuk bisa membangunkan seekor sapi, Senpai." sindirnya bernada sarkastik seperti biasa. Pernah mendengar istilah "jika tidur sehabis makan, lama-lama kau akan menjadi sapi"? itu yang ia maksud.

Ichika yang sudah memperoleh kembali fungsi kelima inderanya setelah membentur lantai, mulai mengamati sebuah kaki jenjang bersepatu hitam dalam balutan kaos kaki putih hampir selutut yang ia dapati saat membuka mata. "Huh?"

"Dasar genit, siang tadi kau sudah memperhatikan wajahku, sekarang kaki ku, selanjutnya apa? kurasa terlalu sering berinteraksi dengan wanita membuatmu semakin berani, Senpai." lelaki itu pun terperanjat mendengar suara pedas yang mulai dia kenali meski baru satu hari ini berjumpa, "K-Kau?!" Ichika menuding-nuding crossdesser itu dan membuatnya terlihat marah.

"Orimura Kun, mulai hari ini, Shiroishino San akan menjadi teman sekamarmu selama di akademi." sela Yamada Sensei diikuti sambaran petir di luar jendela, lalu disusul hujan deras yang secara tiba-tiba dan suhu ruangan yang turun tajam. Untuk yang terakhir tadi, sepertinya hanya Ichika yang merasakan. Maklum, sekamar dengan lawan jenis sudah cukup memberinya kesan buruk pada mereka selama tahun pertama di akademi.

Selama di Akademi? Apa kau bercanda? Ya, kurang lebih seperti itulah yang ada di pikiran adik lelaki satu-satunya dari sang instruktur neraka. Semua berjalan cepat begitu kedua matanya terbuka lebar. Sampai-sampai ia hanya bisa mengucapkan huruf vokal saja karena informasi yang ia dapat seperti menghantam kepalanya lebih keras dari lantai sekaligus membuatnya sedikit mengalami gangguan fungsi motorik pada tubuh, yang mana terlihat jelas pada mulut yang komat-kamit untuk mengucapkan sepatah dua kata.

"Shiroishino Hikari." gadis jadi-jadian ini dengan ketus memperkenalkan diri, melenggang masuk begitu saja sambil menarik sebuah koper besar berisi barang-barang pribadinya, tanpa mempedulikan bagaimana kondisi mental Senpai sekaligus teman sekamarnya sekarang.

"Maaf kalau mengganggu waktu istirahatmu, Orimura Kun. Mulailah berakraban pada teman satu kamar sekaligus Kohai-mu. Jaa." sang guru mulai berpamitan. Ichika yang merasa hari-harinya akan kembali menjadi mimpi buruk hanya bisa terpaku saat pintu kamarnya ditutup oleh wanita berambut hijau itu.

.

.

.


A/N : Hints :

-If "IS" is like angels or you can say valkyries, then "Near IS" is the demons. (don't scolded me, its just my imagination #sobbing)

-The way Beelzebub moves is similar with creating multiple layer of "A.T. Field". The size of its "A.T. Field" can be adjusted to any size as pilot desire or combined to make it bigger, for example, how Beelzebub floating in the first battle. Shooting it from behind when it moves using a big size one will be futile. (its different from Energy Shield).

-Than flying or just floating in air, it more seem using the "A.T. Field" as a step tile for those act. in flying case, it's just like a ninja leaping from one spot to another spot, the difference is just the tiles can become like a hyper thruster , thats why it can perform "Partial Ignition Boost" and make a sharp turn even in hi-speed velocity. (Yes, it can throwing Beelzebub like a rock in catapult. Thinking it similiar with Sun Wo Kong's super salto from Journey to the West that can reach a long distance in one leap #scracthinghead. What a troublesome, it more difficult to handle than an original IS, the owner of this machine must be a flying squirrel)

-As it name, Beelzebub is the sin of Gluttony, absorbing energy shield should become its "One-Off Ability", and it's "A.T. Field similiar thing" would become Belphegor "One-Off Ability" (hope I can make it until the seven Near IS clashed)

-If you get difficult to imagining how Beelzebub appearance. its arms and legs inspirated form Beowulf, a Devil Arm in Devil May Cry 3, its armor almost like metal-verse of Summoned Skull from Yu-Gi-Oh! Trading Card Game and its horned diadem and eye make Shiroishino some what look like a character in Naruto (i'm forget his name, #drysmile) except the horn that sprouting from diadem resemble to a bison horn. May be, if i'm using this as description, someone would say "it's not an IS! it's more like a mechanical armor Saint Saiya or sort". i know, IS itself have unique shapes, the most recognized is the wings and over-sized legs and arms, but, if you entering the "universe of IS", anything that similiar to that metallical armor sometimes called IS, that's why i call it "Near IS",

(if you ask me, "are you didnt like the leg shape of IS?" honestly, some of them look like didn't match with the IS appearance for me, he he he, so, i can't say that i didn't like)


Terima kasih bagi yang telah menyempatkan diri untuk membaca fic ini dan untuk review yang diberikan, (flame tanpa dasar akan saya abaikan. Jika membangun, saya akan berusaha memperbaiki meskipun tidak bisa menjamin 100%).

m(_ _)m