Usahakan Bunshinmu Steril

NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi-sensei

Tiga Bulan Pertama: Penemuan


Kenyataannya, tak bisa dipungkiri lagi, Uzumaki Naruto hamil.

Tsunade meletakkan kepalanya yang mulai terasa berat di telapak tangannya yang tidak memegang kertas hasil analisa laboratorium. Seakan dia memerlukannya saja! Dia Sannin medis legendaris! Tanpa kertas itupun dia sudah tahu bagaimana menentukan kehamilan seseorang dari informasi visual. Tapi mau tak mau dia harus memastikannya lagi dengan data autentik tersebut karena fakta ini sangat mengerikan dan tidak mungkin.

"Memangnya iklan fertilitas Hi untuk warganegara di bawah umur tak mempan untukmu, hah?! Pakai selalu pengaman saat melakukan seks!" Bahkan Tsunade tahu kalimatnya itu tidak relevan, jadi dia mulai menggantinya dengan, "Tunggu... tak ada seks sebelum berumur duapuluh!" Waktu Shizune memberinya pandangan aneh, dia kembali mengoreksi ucapannya, "Demi Kushina di alam sana, Naruto... Kau seharusnya menghamili orang, bukan dihamili!" Lagi-lagi kalimat tersebut masih terasa aneh baginya, dia menyerah untuk menaikkan nada suaranya dan mencoba untuk tidak ambruk di lantai hanya untuk menghela nafas panjang, "Oke, Naruto, siapa yang membuatmu begini?"

Jawaban Naruto selanjutnya, membuat Tsunade harus bersandar di dinding terdekat.

"Mulai sekarang kau akan tinggal denganku," Tsunade memberi perintah singkat itu dengan rahang terkatup rapat. Tak tahu lagi apa yang bisa dia katakan.


Haruno Sakura adalah satu dari shinobi yang mengetahui informasi kesuburan Naruto yang ambigu. Sebenarnya memang karena dia ninja medis pertama yang melakukan scan medis pada kondisi fisik jinchuuriki kyuubi itu saat yang bersangkutan mengeluhkan mual-mual dan 'mudah sekali kehabisan chakra'. Awalnya dia menanggapi hasil diagnosanya sendiri dengan lelucon.

"Kau tahu, Naruto... kalau kau bukan cowok aku akan langsung menganggapmu sedang hamil," kalau diingat lagi tampang Naruto saat itu berubah pucat, tapi dia membalas lelucon Sakura dengan tertawa garing.

Lalu Sakura menelan kembali leluconnya saat dia menyadari satu hal mengenai fisiologi Naruto yang tak seharusnya ada bila dia adalah seorang pria. Dia bisa mendeteksi organ dalam, tentu saja, itu keahlian medis dasar yang sudah dia kembangkan sejak tiga tahun lalu. Dan tentu saja, terakhir kali Sakura memeriksa Naruto, rekan satu timnya itu belum punya rahim. Dengan agak panik, dia membicarakan masalah ini dengan mentor medisnya sebelum mencerca Naruto dengan berbagai pertanyaan—bahkan menahan diri untuk tidak berkata, "Hei, bagaimana caramu melakukan henge sebagian organ dalammu, Naruto? Apa ini termasuk oiroke-jutsu yang kau kembangkan? Karena ini tidak lucu Naruto... apalagi kalau hal ini membuatmu hamil. Ah, kau pasti sedang membuat lelucon 'kan?! Ayo ngaku saja, shanarooo!"

Tapi dua hari kemudian dia tahu kalau itu bukan salah satu lelucon bodoh yang dibuat Naruto hanya untuk membuatnya panik. Berita itu tak lain datang dari mentornya sendiri.

"Ya, Sakura. Aku sudah melakukan pengecekan; kadar hormon, fisiologis, fluktuasi chakra, scan organ dalam... tubuh Naruto memang sedang memelihara suatu organisme baru."

Tsunade masih belum mau memakai istilah 'janin', tapi Sakura bisa menerima dan maklum. Mereka terlalu shock. Bahkan ilmu modern fertilisasi masih belum bisa merancang skenario praktis tersebut: membuat laki-laki hamil. Sakura menggumamkan hal yang pasti akan dikatakan oleh kebanyakan orang dalam situasi seperti itu.

"Tapi bagaimana...?"

"Aku punya asumsi, dan setelah mengobrol secara langsung dengan bocah itu semua jadi semakin jelas."

"Saya mendengarkan, Tsunade-shisou."

Dilihatnya Tsunade mengatupkan kedua belah tangannya di atas meja, matanya lurus memandang Sakura, "Pertama, aku akan memberitahumu cerita Naruto bagaimana dia bisa terjebak dengan kondisinya sekarang. Tapi ini akan terdengar brutal bagimu, Sakura."

Sakura mengangguk. Apa lagi informasi yang lebih buruk dari mendengar rekan laki-laki satu tim-mu hamil?

"Sakura, dia membuahi dirinya sendiri."

Perlu beberapa detik bagi otak Sakura untuk mengolah informasi itu. Dia membuka dan menutup mulutnya beberapa kali sebelum memilih untuk mengutarakan satu hal yang menurutnya paling normal.

"Eh... jadi Naruto hermaprodit? Eh... apa saluran telur dan ves—"

"Maksudku... dua Naruto."

Dari tempatnya berdiri, Sakura mengawasi mentornya mengerang lemah dan meletakkan kepalanya di kedua tangannya yang masih bertautan. Tsunade menambahkan, "Rahim tak akan tumbuh sendiri dalam tiga bulan, Sakura... kau sendiri bilang padaku kalau organ dalamnya masih normal tiga bulan lalu?"

"Si bodoh itu melakukan henge," suara Sakura bergetar, "... lalu dia, dia..."

"Melakukan seks dengan bunshinnya," Tsunade menyelesaikan kalimat Sakura.

Guru dan murid itu menghela nafas berbarengan.

"Tapi apa hal itu mungkin, shisou? Setelah jutsu terlepas, harusnya semua bagian dari tubuhnya kembali seperti semula. Tapi kalau dipikir lagi, buat apa dia melakukan henge sampai detail begitu?! "

"Kau sendiri tahu mengenai bunshin Naruto dan dia punya banyak chakra untuk mempertahankan henge untuk waktu yang sangat lama. Dan kupikir itu bukannya Naruto tidak berusaha melepaskan jutsunya. Itu karena dia tidak sadar, dan ini semua hanyalah reaksi biologis," Tsunade sekarang mengangkat kepalanya, "Ketika ada organisme asing yang berusaha tumbuh dalam dirimu, kau tak bisa dengan mudahnya membatalkan kehidupan organisme tersebut hanya dengan melepaskan jutsu. Lagipula waktu tercepat sel sperma bergerak mendekati sel telur hanyalah duapuluhempat jam."

"Dan dia tak sadar punya rahim padahal usia kandungannya sudah hampir mencapai enambelas minggu?"

"Naruto bukan ninja medis seperti kita, dan dia juga bukan perempuan, Sakura... Selain itu dia tetap tidak memiliki vagina. Rahim yang terbentuk adalah manifesto henge-nya yang menolak hilang karena ada organisme baru yang terbentuk. Dia tak tahu kalau tindakannya memiliki probabilitas seperti itu."

"Saya tak percaya anda membelanya, Tsunade-shisou. Dia bodoh karena melakukan oirokeno jutsu dalam kondisi subur! Lagipula... masturbasi dengan bantuan bunshin?! Yuck!"

"Aku penasaran apa Jiraiya yang mengajarkan itu padanya."

"Jadi sekarang Naruto ada di mana?" Sakura akhirnya bertanya dengan suara yang sangat tenang.

"Aku menyuruh Shizune mengawasinya di rumahku."


Naruto setengah berharap akan mendapat cercaan dan pandangan kejam dari Sakura saat kunoichi itu mengunjunginya di rumah pribadi Tsunade. Tapi Sakura hanya menanyakan kondisinya dan apakah dia sudah makan. Naruto menjawab kalau dia sudah makan ramen cup dan Shizune memaksanya minum jus yang rasanya sangat tidak enak. Sakura kedengarannya tidak puas dengan semua itu.

"Ramen cup?! Kau harus mengubah dietmu! Mau kuingatkan lagi kalau kau sedang ha—," Sakura melanjutkannya dengan bisikan, entah kenapa wajahnya memerah, "...hamil."

"Ah, tak ada yang salah dengan ramen cu—"

Sakura mendelik kejam, "Tsunade-shisou menyuruhku jadi ahli medis pribadimu, dan itu berarti juga sebagai penasehat gizimu! Mulai sekarang kau hanya akan makan makanan yang kusiapkan."

Naruto memikirkan asumsi makanan tersebut rasanya tak akan beda jauh dengan jus buatan Shizune. Tapi dia mengangguk juga pada akhirnya. Mungkin sekali-sekali bisa mencuri waktu untuk menikmati ramen.

"Anu... Sakura?"

"Ya..."

"Melahirkan itu... sakit nggak ya?"

"Bayi tidak lahir dalam tiga bulan, Naruto. Masih ada enam bulan lagi, itu pun kalau janin," Sakura agak mengernyit, "janin... mu bisa bertahan selama itu."

Naruto memandangi perutnya selama beberapa saat.

"Aku akan membuatnya bertahan. Tenang saja."

Sakura memandang Naruto lama dan dalam. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh shinobi berambut pirang itu, bagaimanapun mereka sudah berpartner cukup lama. Dia merasa bisa membaca tingkah Naruto yang memang tak pandai menyembunyikan sesuatu.

Namun Sakura memutuskan, dia memilih untuk menunggu saja. Bagaimanapun kejadian ini pastilah menimbulkan shock tersendiri bagi Naruto...