(Beta: shinseina)

Usahakan Bunshinmu Steril

NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi

Empat! : Antara Ramen dan Rambut Neji


Naruto tidak tahan dengan mi dan uap mi.

Sebelum ada janin di dalam tubuhnya, dia selalu tidak tahan untuk segera mendatangi sumber uap dan memakan mi yang menjadi sumber uap tersebut. Setelah ada janin di dalam tubuhnya, dia tak tahan untuk segera menghindar sebelum muntah. Sementara Naruto sangat tersiksa dengan kondisi tubuhnya ini, Sakura menanggapinya dengan gembira dan luar biasa sinis. Setidaknya dia berhasil membuat Naruto menjalani diet ketat penuh gizi darinya walau pemuda itu tampak menderita dengan kenyataan segala yang dia makan terasa hambar. Tapi memang Naruto tak bisa menelan apapun yang memiliki rasa yang menyengat. Dia menghabiskan tiga minggu terakhir dengan menggerutu sambil mengunyah wortel setengah matang dan seledri mentah; dua sayuran inilah yang saat ini menjadi cemilan favoritnya karena tubuhnya tak pernah menolak dua substansi tersebut.

Naruto pernah diam-diam menyiapkan sendiri porsi ramen cup, lalu menyesal karena dia tak berhenti muntah hingga pagi menjelang. Setelah itu dia mencoba makan nasi untuk mengganti kalori yang hilang, tapi ternyata dia tak bisa makan nasi juga. Ketika mulai putus asa dengan kenyataan dia akan jadi manusia kelinci hingga lima bulan kedepan, Sakura menjadi penyelamatnya dengan menyusun menu kalori yang lebih menggembirakan. Tapi dia harus bersabar dengan rasanya juga...

Karena tingkahnya yang serba moody dan lumayan janggal ini, dia berhasil menarik perhatian orang-orang yang peduli. Dan orang keempat yang tahu mengenai kehamilannya setelah Sakura, Tsunade, dan Shizune adalah Kakashi Hattake.


Tsunade telah membebaskannya dari misi shinobi dengan alasan skorsing. Tak ada seorangpun yang curiga karena toh Naruto sering membuat masalah. Mereka hanya akan bertanya-tanya kali ini masalah apa yang membuatnya kena skors... memberi ejekan berlebihan pada Hokage, mungkin. Berita tentang kehamilannya hanya akan dianggap lelucon, jadi menurut Tsunade tak penting mempermasalahkan itu saat ini. Padahal dia sendiri agak khawatir bagaimana menjelaskan pada semua orang saat perut Naruto membesar nantinya (walau dia sendiri mengajukan opsi genjutsu untuk menyembunyikan bagian itu).

Tentu saja teori membuahi diri sendiri agak tidak etis bila menjadi bahan pembicaraan seluruh Konoha, apalagi kalau obyek pembuahan itu yang akan menjadi Hokage nantinya. Naruto membuat semua ini menjadi rumit, memang.

Jadi dengan alasan-alasan tersebut, dan demi kesehatan mental Tsunade sendiri, dia memerintahkan Shizune, Sakura, dan tentu saja Naruto, untuk bertingkah normal hingga waktu melahirkan tiba. Tapi memang memberi perintah jauh lebih mudah.

"Baik-baik saja, Naruto?"

"Kakashi-sensei, bisa tolong abaikan saja aku?"

Kakashi menatapnya melalui satu matanya yang tak tertutup, ekspresi tertarik dan heran bisa dilihat dari tatapannya yang sekilas tampak malas. Naruto berhasil dipojokkan di gang kecil dekat toko bunga Yamanaka. Dia bisa mendengar Ino melayani pembeli dari tempatnya berdiri. Naruto menyangga tubuh melalui lengan kanannya yang menyandar tembok sementara tangan kirinya mengelap mulutnya dari bekas muntahan. Sudah lima kali, sejak tadi pagi. Dan itu hanya karena dia berulang kali lewat di depan Ichiraku.

"Hm... apa aku perlu mengantarmu ke rumah sakit?"

"Tak apa, Sensei. Aku bisa sendiri," Naruto baru akan melompat ke beranda terdekat saat sensasi mual itu melandanya lagi. Dia bisa merasakan tangan Kakashi mengelus punggungnya dengan lembut dan dia agak merinding ketika memikirkannya. Tapi kali ini dia tak bisa apa-apa, Naruto membiarkan Kakashi mengurus punggungnya untuk beberapa saat hingga serangan itu berhenti. Dan di saat seperti itu, Ino memutuskan untuk nimbrung.

"Kakashi-sensei?! Ada apa dengan Naruto? Apa dia sakit?"

Naruto merasakan mualnya semakin parah.

"Sepertinya begitu..."

"Sudah tak apa kok," Naruto kembali bersikeras.

"Apa dia terlalu keras latihan?" Ino memberi tatapan menuduh pada Kakashi.

"Aku belum ketemu dengannya selama seminggu," Kakashi membela diri, "Naruto, apa kau masuk angin?"

Naruto mengangguk, "Ya, seperti itulah... aku mau istirahat saja deh."

Dia melompat menjauh, meninggalkan Ino yang mengerutkan kening pada Kakashi sambil menunjuk muntahan Naruto di dekat pintu belakang tokonya. Beberapa puluh lompatan kemudian, Kakashi telah berada tepat di belakang. Mungkin memastikan dirinya benar-benar istirahat, atau mungkin akan memaksanya ke rumah sakit. Naruto pura-pura tak peduli.

"Naruto... ini bukan arah apartemenmu maupun rumah sakit 'kan?"

Naruto tak menoleh saat menjawab, "Saat ini aku tinggal dengan nenek Tsunade."

"Oi, apa itu ada kaitannya dengan perintah skorsing-mu? Sebenarnya apa yang telah kau lakukan?"

Dia tak menjawab Kakashi. Selain rasa mual dan capek, Naruto juga jadi sangat mudah mendongkol.

"Sudahlah Kakashi-sensei, bisa biarkan aku sendiri saja?!" Naruto merasa air matanya akan segera mengalir, tenggorokannya sangat sakit dan suaranya agak bergetar saat menambahkan, "Pergi sana!"

Walau dia bisa dikatakan sudah lebih cepat daripada gurunya, tapi Naruto bisa dikatakan belum siap bereaksi saat Kakashi menarik punggung bajunya. Dia agak tersedak ketika kerah bajunya tertarik ketat ke leher, tapi Kakashi dengan sigap menangkap tubuhnya yang tertarik mundur.

"Woi, apa masalahmu? Kenapa kau kena skors? Kalau punya masalah setidaknya bicarakan dengan—," Kakashi berhenti bicara setelah menangkap ekspresi Naruto yang hampir menangis. Bulir airmata sudah terkumpul di sudut matanya, dia sempat mendongak sebentar untuk menatap Kakashi lalu mengalihkan perhatian pada sandal ninjanya.

"Tak ada apa-apa Kakashi-sensei... sori, aku cuma—bburrph..."

Kakashi bersyukur dia punya refleks yang bagus.


Sakura-lah yang memberi penjelasan pada Kakashi mengenai kondisi Naruto, tapi itu atas persetujuan yang bersangkutan dan atas aksi protes Kakashi tentang Icha Icha Tactics yang terkena muntahan rebung dan wortel.

"Aku akan menggantinya!" Naruto berteriak frustasi setelah diantar dengan berbagai gumulan tak penting dari gurunya itu. Tapi memang setidaknya dia harus menceritakan kondisinya ini pada Kakashi…. Dan reaksi shinobi pemilik sharingan itu?

"Naruto... aku tak pernah mengajarkan bunshin untuk hal-hal seperti itu. Tapi karena semua sudah terjadi dan aku tak suka mengungkit-ungkit kesalahan muridku... oi, setidaknya beritahu gurumu setelah kau melakukan hal aneh!"

Naruto membalas lemah, "Kakashi-sensei... kau memang hebat. Menanggapi semua ini seolah aku baru saja gagal menyelesaikan misi level D."

"Kau lebih hebat, bisa meniru alat reproduksi wanita dengan sangat sempurna."

Naruto tersenyum lemah dari tempatnya berbaring di salah satu sofa Tsunade, Kakashi membalas senyuman itu dengan tatapan riang yang bisa dia lakukan dengan sebelah matanya yang tidak tertutup. Di saat seperti itu Sakura ikut nimbrung, "Kalian guru-murid yang sangat hebat, dan mungkin pasangan guru-murid paling gampangan yang pernah kutemui."

Kakashi menghiraukan ucapan Sakura, dia berkata agak terlalu riang, "Lalu apa yang bisa kubantu?"

"Sensei bisa membantuku menjaga Naruto supaya tidak keluyuran sesukanya sendiri. Dia bisa saja sekarat hanya gara-gara hormonnya tak mau berkompromi dengan sistem pencernaannya saat ini dan aku masih belum tahu efek apa lagi yang akan dia terima."

Naruto berdehem untuk mengalihkan perhatian Sakura dan Kakashi, wajahnya merah dan dia agak berkeringat, dua tangan memegangi dadanya.

"Ehee... ngomong-ngomong soal efek samping. Sakura, sepertinya aku bakal punya payudara."


Sakura pernah bilang kalau ada kemungkinan dia akan memiliki obsesi yang tak normal. Sakura juga bilang kalau itu semua karena ulah hormon yang akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Naruto menerima informasi itu sambil lalu karena dia bukan tipe yang suka mempersiapkan, dan dia tidak mau berpikir terlalu serius mengenai tubuhnya. Jadi ketika Naruto menemukan dirinya sedang memainkan rambut Neji saat perayaan ulang tahun Kiba di Yakini-Q, dia masih belum bisa mengaitkannya dengan 'Obsesi' yang dibicarakan oleh Sakura itu.

"Kepanganmu bagus Naruto... tapi kenapa harus aku?!"

Kiba tertawa keras saat melihat kepangan sempurna rambut Neji. Naruto, entah bagaimana, berhasil mengepang rambut Neji menjadi dua bagian.

"Kalau ini semacam lelucon untuk membuat Kiba tertawa bagiku sih tak masalah."

Tapi ekspresi horor Naruto-lah yang membuat semua orang penasaran.


"Sakura... bisa tolong panggilkan Neji? Tolong..."

Sakura memandang wajah Naruto yang luar biasa merah, nafasnya pendek dan matanya berkilau penuh nafsu. Sakura hanya bisa menggeleng.

"Dari semua obsesi yang ada... kenapa harus rambut? Dan dari semua rambut yang ada... kenapa harus milik Neji?! Apa kau tak bisa menahannya dengan menyentuh rambut Kakashi-sensei saja?!"

"Sakura... tolong. Aku sekarat."

"Ja... jangan memberiku tatapan itu, Uzumaki!"

"Tapi—"

"Buat bunshin Neji saja!"

"Ide bagus Sakura, tapi aku bakal tahu kalau itu bukan Neji," suara Naruto sekarang terdengar merengek dan dia mulai menghentakkan kaki, "Aku mau Neji! Neji! Nee~jii!"

"Agh! Memang siapa kau ini, nak?! Neji itu apamu? Ayahmu?!"

"Samasekali nggak lucu Sakura," sekarang Naruto kelihatan akan menangis, "Bukan mauku begini... hik."

Sakura membatin, "Dia baru saja tersedu?! 'hik', katanya?! Ayolah Naruto... kau mulai membuatku merinding. Jadi ini pria yang mengalahkan Pain?!"

"Oke," Sakura mendesah lelah pada akhirnya, "Aku panggil Neji."

Akan tetapi Sakura menyuruh Kakashi melakukan henge dan berpura-pura jadi Hyuuga Neji hingga Naruto puas memainkan rambutnya, bahkan dia harus menahan tawa saat melihat wajah Neji-Kakashi dengan belasan kepang rambut di kepala. Kegiatan ini menjadi rutinitas selama sebulan, pada akhirnya Naruto bosan dan menemukan obsesi baru.