(Beta: shinseina)

A.N : Maaf. Chapter sebelum ini mungkin agak membingungkan bagi kebanyakan reader, tapi Omake (6 Tahun Berlalu) itu penting untuk konklusi di chapter terakhir... ^^ Semoga dengan ini nggak ada kesalahpahaman lagi soal alur yang 'loncat-loncat'. Ah, masih bakal 'to be continued' sebelum saya kasih tanda 'completed'. Ok?! Yak, langsung ke cerita~!


Usahakan Bunshinmu Steril

NARUTO dan karakter milik Kishimoto Masashi-sensei

Enam ke Tujuh : Balada Onsen dan Nasehat Kurenai


Naruto merasa perutnya semakin membesar dengan kecepatan yang mengerikan dan, hey, dia punya payudara!

Bukan jenis payudara yang dihasilkan dari Oiroke no Jutsu, tidak sebesar itu, mungkin sedikit lebih kecil dari punya Sakura tapi tetap bisa dibilang payudara (ketika Naruto tanpa sadar mengungkapkan pemikirannya ini, Shizune harus tiga kali mengingatkan dan menghela Sakura bahwa dia tidak hanya akan membunuh seorang shinobi pirang idiot tapi juga janin tak berdosa).

Walaupun begitu Naruto masih bisa menyembunyikan perubahan fisik tersebut di balik overall 2-pieces kebanggaannya...

"Aku lebih pengen nangis ketimbang ketawa melihat wujudmu seperti itu... dan tolong tutupi dadamu."

...kecuali saat telanjang di pemandian umum.

"Kalau begitu jangan lihat, Yamato-taichou!" Naruto menggerutu dari deretan keran mandi, membiarkan Sai menggosok punggungnya setelah pemuda itu menawarkan diri.

"Tak apa membiarkan dirimu terekspos begini? Walau aku tahu Hokage sudah memesan seluruh tempat ini selama seminggu."

"Tanyakan itu pada dia," Naruto menunjuk perutnya, "Aku cuma bisa bersyukur kali ini permintaannya cukup normal," dia menambahkan sebelum Sai bisa membuka mulut, "Jangan tanya apa yang dimintanya setelah anggrek, Sai... jangan tanya! Semua ini juga karena seseorang nggak bisa membuat onsen padahal dia punya elemen air!"

"Kalau kau bisa menemukan shinobi yang memiliki kemampuan seperti itu, " Yamato membalas, agak sedikit galak, "Aku akan langsung jadi pengikutnya dan membuat desa ninja sendiri!"

Naruto cukup bijaksana untuk tidak memperpanjang perdebatan tersebut.

"Naruto... sudah selesai."

"Oh, thanks, Sai... ah, nggak perlu mengguyurku—"

"Kenapa? Sekalian..."

"Bukan begitu, aku bisa sendiri!"

Sai mengangguk dan membiarkan Naruto meraih ember berisi air dari tangannya. Lalu dia ikut berdiri bersama Naruto dan menggandeng tangannya sebelum shinobi pirang itu sempat melangkah lebih jauh.

"Uuhh... Sai? Ada apa ini?!"

Sai menjawab tenang namun semakin mengeratkan genggaman tangannya, "Hati-hati licin."

"Aku nggak butuh digandeng!"

"Bulan keenam adalah masa kritis untuk pertumbuhan organ-organ penting. Harus selalu waspada; itu yang kupelajari dari buku."

"Hentikan! Geli tahu..."

Tapi Sai masih memegang tangan Naruto walau yang bersangkutan sudah mulai mengibaskannya dengan liar. Mereka baru berhenti bergulat tangan ketika Yamato bicara dari balik uap onsen, "Sudah~ biarkan saja dia... Itu juga demi kebaikanmu, Naruto. Lagipula di sini cuma ada kita bertiga."

Pada akhirnya Naruto hanya memasang wajah cemberut dan membiarkan Sai menuntunnya hingga masuk ke dalam air.


Sebenarnya ini semua dimulai dari ke-ngototan Shino dan upaya monopoli Hokage.

Kiba sering menyaksikan Shino mengalah, tapi dia lebih sering melihat Shino berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Terutama hari ini setelah mereka baru saja pulang dari misi, kotor, capek, ditambah emosi yang meluap karena misi mereka bisa dianggap belum berhasil... Anggota tim delapan yang paling mudah terprovokasi dalam situasi kali ini memang hanya Shino.

"Dia bilang tutup seminggu," Shikamaru memberitahu Shino dan Kiba (dan Akamaru) setelah bertanya pada resepsionis di pintu masuk. Setelah Kurenai cuti hamil, Shikamaru sering menggantikan peran sebagai pemimpin komando mereka.

"Memangnya ada renovasi?"

"Kantor Hokage menyewa seluruh tempat ini."

"Kok?! Itu sih curang! Woi, Shino—"

Shino tidak menoleh saat berjalan melewati mereka dan berkata keras, jelas, "Aku mau mandi," dan Kiba hanya bisa mengangkat bahu saat Shikamaru memberinya pandangan tanya.

Singkatnya tiga shinobi itu menghiraukan peringatan pemilik onsen, yang mana sang pemilik agaknya cukup tegang saat Shikamaru memberi penjelasan bahwa mereka juga termasuk dalam daftar 'shinobi yang diperkenankan masuk'.

"Tapi cuma ada empat orang di daftar ini dan tiga dari mereka sudah masuk!"

"He? Siapa saja?"

Si pemilik membaca, "Yamato-san, Sai-san, Uzumaki Naruto-san... mereka sudah masuk. Jadi yang tersisa cuma Hattake Kakashi-san...?"

"Ya, itu aku. Tapi bukannya masih ada lagi?" Shikamaru menunjuk tiga nama lain yang tercantum di daftar tersebut.

"Hehehehehh... mana mungkin nama kalian," dia menunjuk Shino, "Haruno Sakura-san," menunjuk Kiba, "Shizune-san," terakhir pada kembaran Kiba (Akamaru), "Hokage-sama?"

Shino bergumam, "Ya. Itu kami," dan dia melakukan henge, meniru fisik Sakura dengan sempurna.


Naruto berharap dia bisa kembali ke masa lima menit lalu untuk menghentikan Sai mengatakan kalimat yang baru saja meluncur melalui ekspresi datarnya.

"Di buku disebutkan... karena wanita cenderungmengalami gangguan fisik selama kehamilan, maka harus ada laki-laki yang mendampingi secara emosional."

Naruto mengerut dari posisinya berendam dan merasakan wajahnya memanas yang samasekali bukan berasal dari suhu onsen.

"Wanita? Kau bilang aku wanita?"

Sai memandangnya tak mengerti saat berkata penuh keraguan, "… kau hamil."

"Apa aku kelihatan seperti wanita bagimu?!" Naruto berteriak frustasi.

"Ratapanmu seperti wanita."

Yamato menambahkan sambil mendengus, "… dan kau nyaris punya dada, kecenderungan merengek semakin meningkat, tambah cengeng… Ah, malah mirip deskripsi bocah perempuan belum akil baliq."

Naruto memandang kapten timnya sambil cemberut dan menggeleng, "Salahkan hormon!"

"Kau itu jenius, Naruto. Tapi entah kenapa sebagian besar ide jeniusmu itu selalu menjurus pada kebodohan."

"Ini bukan ide jenius, Taichou!"

Sai nimbrung, "Menurutku, upaya konvensionalmu untuk menyalurkan birahi menggunakan bunshin adalah ide jenius. Tak banyak shinobi yang bisa memecahkan masalah pe-"

"Aku nggak butuh omonganmu, Sai. Serius. Sudah banyak kudengar dari Baa-chan, Sakura-chan, dan Kakashi-sensei. Trima kasih."

Sai dan Yamato hanya saling berpandangan saat Naruto kembali bersungut-sungut. Kali ini pada sebongkah batu besar di hadapannya.

Namun tak jauh dari ruang ganti dan pintu masuk, Shikamaru dan Kiba menyaksikan dialog itu dengan mulut ternganga. Untunglah mereka memutuskan untuk mengagetkan rombongan Naruto dengan masuk secara diam-diam lalu menyerukan protes mereka keras-keras. Untunglah Shino memiih masuk kolam perempuan sehingga pemilik onsen memutuskan untuk mengejarnya, bukan mencegah anggota dari klan Nara dan Inuzuka ini masuk seenaknya ke dalam kolam yang telah dipesan Hokage.

Shikamaru yakin otak Kiba sudah berhenti berpikir sejak Sai menyebutkan dua kata absurd itu.

"Sai bilang apa? Dia hamil? Aku sudah curiga kalau dari dulu kalau Sai itu memang banci…."

Shikamaru hanya bergumam sebagai balasan, "…kalau kau juga bilang begitu berarti aku memang nggak salah dengar. Bedanya, yang kudengar itu Naruto yang hamil."

Kiba melongo.

Lalu dia tertawa keras.

Tiga shinobi yang tengah berendam langsung mengedarkan pandangan mereka pada sumber suara.

"Oh, sialan kau Kiba," Shikamaru hanya bisa mendesah lelah.


Kurenai tak akan pernah melupakan momen tersebut. Ya, momen dimana dia tengah menunggu proses persalinan anak pertamanya. Di atas kasur ruang VIP rumah sakit Konoha, ditemani seorang Nara dan Uzumaki dan Hyuuga. Sebenarnya kombinasi trio yang aneh, tapi dia bisa mengerti kenapa.

"Nona Hinata menitipkan ini," Neji mengangsurkan talisman pink bermotif kuil Konoha sambil menambahkan, "Semoga bisa melahirkan dengan selamat."

Diucapkan oleh seorang Hyuuga bertampang stoic dan tanpa malu-malu, adalah salah satu dari dua hal yang membuatnya tak akan pernah melupakan peristiwa hari ini. Yang lainnya adalah kalimat Naruto. Juga wajah memerah Shikamaru setelah kalimat Naruto tersebut diucapkan.

"Kurenai-sensei… melahirkan itu sakit nggak?"

Shikamaru mencegah dirinya untuk tidak melancarkan kagekushibari pada sosok (yang disamarkan menjadi) gempal Naruto dalam balutan trademark overall-nya itu. Ada alasan mengapa dia mendadak menjadi sangat jengkel dan salah tingkah sepanjang sore sejak pertemuan dengan Kurenai tadi. Bahkan menatap mata Neji pun dia tak sanggup.

Bermula dari antusiasme Naruto untuk mengunjungi Kurenai yang telah menjalani persiapan persalinan. Shikamaru akan menganggap permintaan Naruto untuk menemaninya menemui Kurenai sebagai hal yang aneh kalau saja dia tidak mengalami kejadian di onsen seminggu lalu. Peristiwa mencuri-dengar di onsen itu diakhiri penjelasan panjang lebar oleh Sakura dan Shizune hingga membuat mulut Kiba nyaris berbusa saking seringnya terbahak. Shikamaru berani bersumpah kalau Kiba, setengil apapun dia, tak akan meracaukan berita kehamilan absurd Naruto kepada siapapun bila berada di bawah ancaman Hokage. Jadi dia sangat yakin berita ini tak akan menyebar pada para mantan rookie seangkatan mereka terutama pada Hinata maupun Shino (yang waktu itu tak ikut terlibat karena nyaris sekarat dihajar Sakura setelah sengaja melakukan henge dengan meniru fisiknya). Tapi sekarang Shikamaru berharap berita itu menyebar hingga telinga Neji sehingga dia tak perlu mengalami atmosfir tak menyenangkan seperti tadi.

Singkatnya, perbincangan yang terjadi antara Naruto dan Kurenai adalah sebagai berikut:

Naruto : Kurenai-sensei… melahirkan itu sakit nggak?

Kurenai : (tertawa) Aku belum pernah melahirkan, Naruto. Tapi kupercayakan saja sepenuhnya pada ninja medis.

Naruto : (mengangguk semangat) Sensei, apa kakimu membengkak? Sampai sakit kalau dipakai berdiri lama-lama?

Kurenai : (dengan tampang heran) Kakiku bengkak kalau kupaksakan untuk tidak istirahat teratur.

Naruto : Kalau sudah begitu, gimana mengatasinya?

Kurenai : (masih dengan tampang heran) Iori-san punya minyak bagus, baunya juga enak. Diurut pakai minyak itu saja dan kurangi berdiri….

Naruto : (mengangguk-angguk lagi) Iori-san itu yang mana?

Kurenai : Naruto… apa kakimu bengkak?

Naruto : (mulai tersipu) Eh, nggak…

Kurenai : (pandangan penuh selidik, mengamati Naruto dari atas ke bawah, lalu menempelkan tangannya secara tiba-tiba ke perut Naruto yang tertutup trademark overall-nya) Kau… ini bukan lemak. Ini… janin? Yang ada di perutmu?

Naruto : Aaahhh…

Neji : Eh?

Shikamaru : …dasar payah.

Kurenai : (agak panik) Naruto… kau, hamil?!

Naruto : (menggaruk kepalanya yang tidak gatal) Hehehe….

Kurenai : Bagaimana bi-? Astaga…!

Naruto : (melirik Shikamaru)

Kurenai dan Neji : (mengikuti lirikan Naruto)

Shikamaru : (menunjuk dirinya sendiri) Eh…? Aku..?

Naruto, Kurenai, dan Neji : (masih menatapnya tanpa ampun)

Shikamaru : (teriakan inilah yang membuatnya menyesal sudah bersedia mengantar Naruto menemui Kurenai) BUKAN AKU!

Naruto tiba-tiba memutuskan untuk pamit pulang tanpa berusaha meluruskan kesalahpahaman itu.

Shikamaru bisa merasakan sorotan tajam yang diarahkan Neji padanya. Kalimat Kurenai yang terlontar setelah Naruto beringsut menjauh pun tak bisa dia balas.

"Bertanggungjawablah…."


Omake : (Hanya iseng)

Ini adalah berbagai pengakuan dan reaksi gaje dari beberapa tokoh. Samasekali tak ada hubungannya dengan cerita inti.

*NaruHina

"Pa-Papa... a-aku," dia membatin, "hamil."

"Hm?"

"Kuatkan dirimu!" Hinata mengulang, "A-aku... ha-hamil."

Reaksi Papa-nya sungguh di luar dugaan, "Oohh, dengan siapa?"

Hinata mengerahkan segenap keberaniannya dan berdoa semoga hari ini yang bersangkutan tidak berada dalam jangkauan Byakugan milik Hyuuga Hiashi, "Na-ru-to."

"UAPPPAAAA?! KUKIRA DIA HOMO!"

Hanabi berkicau di latar belakang, "Papa kita idiot."

*TenNeji

"Tenten... aku- hamil! Hayo tanggungjawab!"

"Kebalik woi!"

*SasuSaku

Di suatu bukit, langit cerah, burung-burung bernyanyi di latar belakang, dan angin semilir berhembus tenang... Sakura mengungkapkan kabar gembira itu dari atas bangku lapuk berbau jamur.

"Sasuke, aku hamil, dengan ini tolong lupakan dendammu pada Konoha. Ayo kita bangun kembali klan Uchiha!"

Sasuke meliriknya curiga, "Kau bercanda, yakin itu anakku?"

"Dengan siapa lagi aku melakukannya?!"

"Eh... Kakashi?"

"Kenapa nggak sekalian Orochimaru?!"

"Dia homo, bisa kupastikan itu."

Sakura tersentak kaget, "Jangan-jangan, Sasuke... Orochimaru pernah...?!"

Sasuke tidak menjawabnya, dia hanya menatap langit di kejauhan dengan ekspresi sedih. Di sampingnya, Sakura mulai memasang tampang horror sambil mengelus perut.

"Nak... sekarang aku berharap ayahmu Kakashi."

*TenLee

"Tenten... aku hamil..."

"Woooiiii! Siapa nuker naskah pairing gue ngakuuu?!"

*SasuNaru

Sasuke tahu ada sesuatu yang tidak beres saat Sakura memegangi tangan Naruto di salah satu bangku Ichiraku. Ada semacam konspirasi yang bisa terbaca jelas dari sikap tubuh keduanya; ada semacam obsesi tertentu dalam ekspresi keduanya; Sakura dan Naruto yang memutuskan untuk bekerjasama adalah pertanda buruk.

Tapi mereka tidak sedang berkonspirasi, sepertinya. Mereka sedang berusaha memberitahunya sesuatu, sepertinya.

"Sasuke... aku mengandung anakmu."

Sasuke berusaha agar mulutnya tidak terbuka terlalu lebar, tapi dia gagal untuk tidak berteriak.

"EH? Kau ini laki-laki mana bisa hamiiilll!"

Sakura langsung menjelaskan soal henge sebagian organ dalam, chakra kyuubi, dan teori biologi sederhana yang menurut Sasuke agak logis. Agak.

"Kalian bercanda 'kan?"

"Apa tampangku kurang serius?"

"Maksudku... dia laki-laki..."

Sakura hendak mengulang penjelasannya lagi tapi Sasuke segera mengangkat tangan, "Tunggu, Dobe. Kita selalu menggunakan pengaman saat melakukannya!"

"...mungkin ada kebocoran," wajah Naruto bersemu merah, Sasuke berharap Naruto tidak memberinya ekspresi seperti itu.

"Mana mungkin! Aku nggak se-sembrono itu tahu!"

"Tapi aku nggak pernah melakukannya selain denganmu."

"Tapi kita masih enambelas!"

"...dan menurut tingkat kematangan hormon, kalian sudah bisa membuat anak."

"..."

"..."

"..."

"TERUS GIMANA DOOONG?"

'Sakura', dengan wajah sangat merah, berbisik pada 'Naruto', "Gue... gue nggak tahan lagi Ahahahaa... Gue nggak tahaaann! Udahan ah, udahaaannn! Ahahahaaaa!"

'Sakura' berubah wujud menjadi Kiba yang tertawa bergulingan sambil memegangi perut dan Shino mengambil posisi duduk yang sedetik tadi ditempati 'Naruto'.

"Benar 'kan," Shino membetulkan letak kacamatanya dan luarbiasa puas, "...hubungan mereka sampai seperti itu. Aku menang."

*JiraTsuna

"Aku cuma penasaran apa nanti ukuran perutmu bisa melebihi ukuran dadamu..."

Satu pukulan telak, disusul robohnya belasan dinding.

*NaruHina (Bagian 2)

"Kaa-chan... aku... sebenarnya... Hinata... hamil."

"Buwahahahaaa... dengar Minato! Naruto-chan bilang dia menghamili anak orang, dan bukan sembarang anak orang! Anaknya Hiashi-san! Hahahahaaa...!"

Minato langsung gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"K-Kushina-chan... pertama-tama kita sembunyikan dulu Naruto, lihat potensi konflik, lalu minta tolong Sarutobi-sama melakukan negoisasi ke Hyuuga!"

Kushina mengernyit, "Kok seperti prosedur genjatan senjata sih?!"

*SasuSaku (Bagian 2)

Sasuke adalah shinobi penuh tanggungjawab. Saat ada gadis yang mengaku telah mengandung anaknya, dia merasa harus melakukan sesuatu. Apa saja.

Termasuk menemani di gadis melapor pada kedua orangtuanya.

"Haruno-san... aku akan menikahi anak Anda!"

Reaksi kepala keluarga Haruno mungkin tak jauh berbeda dengan kebanyakan ayah manapun; sedikit shock, mencoba tetap tenang, dan memberi tatapan menilai pada Sasuke yang duduk dalam posisi senza di depannya. Tapi reaksi yang satu ini agak aneh karena kepala keluarga Haruno ini mulai bersujud di depan Sasuke dan berteriak penuh haru,

"Tolong terima saja putriku yang brutal ini... Terima kasih, dan kuharap kau tak salah pilih 'nak Uchiha... Huwaaaa~!"

Sasuke bisa mendengar Sakura berbisik kejam, "Dasar orangtua nggak sopaaannn!"

*SasuNaru (Bagian 2)

(Setting: adegan akhir dari pertarungan epic Itachi-Sasuke)

"Sasuke... aku akan tetap menyayangimu... walau kau telah menyayangi orang lain, walau kau lebih suka rambut pirang dan mata biru dan oiroke no jutsu, bahkan ada gosip kalau kalian telah melakukan perzinaan... Pilihan tepat, Sasuke, karena bobot dosa incest leb—"

"Udaahh cepet mati saja sanaaa!"

*SasuNaru (Bagian 3)

Suatu pagi yang cerah, keluarga Namikaze-Uzumaki menjalankan aktivitas pagi seperti biasa kecuali satu kejutan kecil dari anggota keluarga termuda yang semalaman tak bisa tidur setelah tahu dia bisa hamil.

"Tou-san. Aku...," Naruto menelan ludah, ada garis hitam di bawah matanya yang bisa mengalahkan milik Gaara, "...hamil!"

"Tentu saja. Kau bisa lihat ibumu—"

Naruto, keheranan karena pengakuannya ditanggapi sambil lalu, ikut menoleh pada ibunya yang sedang menggoreng telur.

"—dia terlahir jantan dan bisa hami—" Minato tak bisa menyelesaikan kalimatnya setelah terkena hantam penggorengan.

"Enak saja! "

"Maksudku... aku cuma ingin menenangkan Naruto, sayaang... lagipula dulu aku kalah jantan darim—"

Kali ini kaki berselop milik Kushina sukses menghantam mulut suaminya. Lalu dia menunjuk Naruto dan berteriak, "Karena kau sedang hamil, aku akan menghajar si Uchiha dan dia akan menerima porsimu juga!" Kushina menghiraukan gerumbelan Minato, "...dan bukankah sudah kubilang tak ada seks sebelum jadi Hokage?! Dasar anak-anak jaman sekaraaang!"

*MinaKushi

Bulan keempat, ibunya tersenyum riang saat mengatakan hal itu,

"Naruto-chan! Kamu bakalan punya adik lho..."

Bulan ketujuh, kelamin adiknya sudah bisa diprediksi,

"Laki-laki! Naruto-chan, kamu bakal punya adik laki-laki!"

Bulan kesembilan saat kelahiran...

"Lihat Naruto-chan... adikmu imut-imut deh, kami memberinya nama 'Kamaboko'..."

...dan dia melihat, nyaris pingsan, karena itu memang benar-benar Kamaboko yang ada di pelukan ibunya.


Dia terbangun dengan keringat dingin dan nafas tersengal.

Akhir-akhir ini mimpinya semakin parah...

...dan Naruto benci harus muntah dulu sebelum bisa tidur lagi.