Boy VS Boy 2

:Re Battle Again!:

By: Mori Kousuke18

Inazuma Eleven GO © Level-5

Rate: T

Genre: Friendship, little adventure(?), romance (maybe), dll.

Chapter 1: Terungkapnya Misteri Menghilangnya Arion Sherwind.

Mori: Hello minna, setelah kemarin saia bikin Boy VS Boy, sekarang saia memutuskan untuk bikin yang ke dua .w. soalnya, banyak yang minta sekuel-nya (termasuk saia sendiri pengen lanjutin sih/plak/). Sedikit pemberitahuan, sepertinya di B VS B yang ke dua ini, dub name Kyousuke ganti (soalnya di wiki juga berubah), termasuk Kirino, dan Shinsuke juga Shindou. Selebihnya engga kok .w. Tenma tetap~Ok enjoy reading~BTW Minna, ini MultiChapter ya .w. jadi bersambung ^^ (padahal udah ada tuh di atas -,-).

Don't Like, Don't Read!


~Boy VS Boy 2~

"Riccardo-san! Kapan aku akan dapat misi pertamaku?" tanya gadis dengan rambut cokelat panjang di depan Shindou. Sedangkan sang pemimpin kepolisian Inazuma Junior itu hanya memandang Kinako –gadis berambut cokelat itu-, dengan tatapan datarnya, lalu segera berkata;

"Bersabarlah sebentar lagi Kinako. Aku memintamu untuk bergabung dengan tim hanya untuk menggantikan posisi Arion. Jadi, kau hanya perlu bergerak saat ada kasus yang benar-benar sulit saja," jelas Shindou kemudian.

"Tapi … kenapa aku hanya menggantikan posisi Arion? Bukankah dia sudah tidak ada?" Kinako kembali bertanya, kali ini, dengan menunjukkan mimik muka seriusnya.

"Ya, Arion memang menghilang semenjak ia bertarung dengan Ken Castle … akan tetapi, sampai saat ini, semenjak terjadi ledakan terakhir itu, masih belum diketahui kalau dia masih hidup atau sudah mati. Jadi untuk saat ini, masih belum pasti," Shindou langsung memejamkan matanya sejenak, setelah itu membuka matanya kembali dan menatap Kinako dengan tatapan tajam.

"…oleh karena itu, untuk saat ini, kau hanya diperbolehkan untuk menggantikan posisinya. Karena, menurut perkiraanku, Arion masih hidup … jika Arion sudah ditemukan, maka aku akan segera mengganti posisimu," Shindou kembali melanjutkan perkataannya. Setelah itu, tanpa menunggu jawaban lain dari Kinako, ia langsung meninggalkan ruangan itu dan tidak menatap Kinako lagi.

"Tapi, kenapa kau begitu yakin kalau Arion masih hidup? Riccardo-san?" tanpa memperdulikan Shindou yang sudah meninggalkannya, Kinako tetap bertanya pada pemuda berambut cokelat itu.

"Karena, saat Arion bertarung dengan Ken Castle, ia hanya membawa satu Gelel Stone. Jadi, sisa ke tiga Gelel Stone masih ada di Markas ini. Kemungkinan besar, walau-pun Gelel Stone direbut oleh Ken Castle, batu suci itu akan melindungi Arion, karena dari awal, maksud dan tujuan kita ini untuk melindungi Gelel Stone, bukan untuk kejahatan. Jadi, sudah bisa dipastikan, walau-pun Arion ikut meledak dalam duel maut itu, Gelel Stone masih akan tetap melindunginya, dan kemungkinan dia masih hidup sekarang," Kirino langsung menggantikan Shindou untuk menjawab pertanyaan Kinako, sedangkan Kinako hanya menatap pemuda berambut pink itu dengan canggung.

"…Posisiku, akan segera dipindahkan, kalau Arion … sudah ditemukan ya … sulit juga,"


Inazuma Hospital

Pemuda dengan rambut oranye cerah itu melangkahkan kakinya menelusuri lorong Rumah sakit yang sangat ramai itu. Wajahnya yang menunjukkan keceriaan hanya tersenyum ramah pada setiap orang di rumah sakit itu yang ia kenal. Pemuda yang mengenakan jaket tebal dan membawa tas yang cukup besar itu terus berjalan menuju pintu utama rumah sakit.

Tap…

…meletakkan tas besar miliknya di lantai, tepatnya di samping kirinya. Ia menyandarkan dirinya di dekat pilar putih rumah sakit itu. Sedangkan matanya hanya menatap sekeliling, layaknya menunggu sesuatu.

Tak lama kemudian, ada sebuah mobil sedan hitam yang melaju tepat ke arahnya, dan berhenti tepat di depannya. Dengan tatapan senang, pemuda berambut oranye itu segera menenteng kembali tas besar miliknya, dan segera masuk ke dalam mobil sedan hitam itu.

"Maaf ya, membuatmu menunggu, Taiyou-kun…," kata seorang wanita yang berada di dalam mobil itu. Wanita dengan rambut ungu panjang yang sangat manis itu langsung tersenyum pada pemuda bernama Taiyou itu. Sedangkan pemuda bernama Taiyou itu hanya tersenyum lalu segera menanggapi ucapan wanita tadi;

"Nee, daijoubou … Fuyuka-nee," jawabnya singkat. Setelah itu, mobil sedan hitam tersebut langsung melaju ke suatu tempat.

"Bagaimana keadaanmu, Taiyou-kun?" Fuyuka mengawali pembicaraan mereka di pagi hari yang cerah itu.

"Haha, seperti biasanya, Dokter bilang, hari ini aku boleh pulang ke rumah. Walau begitu, tetap saja mereka melarangku untuk bermain sepakbola," jawab Taiyou sambil sedikit menggembungkan pipinya. Tentu saja kejadian tersebut sangat lucu bagi Fuyuka. Ia hanya terkekeh geli mendengar penjelasan pemuda berambut oranye yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya itu.

"Hei, kenapa kau malah tertawa, Fuyuka-nee?! Memangnya lucu apa," Taiyou langsung memalingkan wajahnya dari Fuyuka. Sedangkan wanita dengan rambut ungu itu hanya menatap Taiyou dengan canggung, dan kembali berkata,

"Tidak apa-apa. Yang penting, kamu 'kan sudah lumayan pulih, Taiyou-kun," kata Fuyuka singkat. Taiyou hanya tersenyum lalu mengangguk.

BRUK!

Tiba-tiba saja, mobil sedan mereka berhenti dengan di rem mendadak. Sontak, Fuyuka segera bertanya pada supir mereka.

"Ada apa Pak supir? Kenapa berhenti?" tanya Fuyuka yang setengahnya agak panik. Takut-takut ada segerombolan Preman yang akan memalak mereka.

"A-ada … mayat," jawab supir mereka sambil menatap horror pada objek di depannya. Sedangkan Taiyou dan Fuyuka yang sudah penasaran segera ikut memperhatikan objek yang dibilang mayat tadi.

"Sebaiknya kita cek dulu. Bisa saja dia hanya pingsan," kata Taiyou yang hendak turun dari mobil.

"Ta-tapi Taiyou-kun, mana mungkin dia masih hidup, kau tidak lihat sudah banyak darah di sekujur tubuhnya," jelas Fuyuka sambil menatap Taiyou dengan cemas. Namun, pemuda berambut oranye itu tidak menghiraukan perkataan Fuyuka, dan segera turun dari mobil sedan hitam mereka.

Taiyou langsung mendekati objek yang dibilang mayat tadi, dan segera menyentuh tangannya.

"Tuh 'kan, dia masih hidup! Denyut nadinya saja masih ada," kata Taiyou yang langsung tersenyum. Setelah itu, ia segera mengintruksikan pada Fuyuka agar membawakan jaket miliknya padanya.

"Fuyuka-nee, tolong ambilkan jaketku di tas! Anak ini masih hidup," kata Taiyou setengah berteriak. Sementara Fuyuka hanya mengangguk dan segera mengambil barang yang dibutuhkan Taiyou.

"Anak yang manis…," tanpa sadar, Taiyou semakin memegang erat tangan anak berambut cokelat manis itu, dan tersenyum lembut ke arahnya, walau-pun sudah jelas anak berambut cokelat itu tidak akan bisa melihatnya.

"Ini dia jaketnya, Taiyou-kun!" Fuyuka segera memberikan jaket itu pada Taiyou.

"Kalau dia masih hidup, berarti ini darah siapa?" Fuyuka langsung menyentuh benda merah itu, dan langsung memperhatikan tubuh anak tadi dengan seksama.

"Luka yang ia alami seperti tebasan pedang," ujar Fuyuka sambil menatap Taiyou. Sedangkan Taiyou hanya mengangguk dan ikut memperhatikan tubuh anak itu.

"Iya, dan lukanya tidak terlalu parah. Tapi, kenapa darahnya bisa banyak sekali ya?" Taiyou langsung menyentuh darah yang berada disekeliling anak itu.

"Mungkin saja ia dipukuli oleh segerombolan orang jahat, dan mungkin saja, ia sudah lama tergeletak disini, jadi darahnya juga sudah mulai banyak," Taiyou langsung memakaikan jaket miliknya pada tubuh anak tadi. Lalu ia segera menggendong anak tadi ala bride style dan membawanya ke mobil.

"Setelah ini, kita rawat dia," kata Fuyuka lalu ikut masuk ke dalam mobil.

Setelah itu, mobil milik mereka-pun segera melaju kembali.


.

.

.


"CEPAT PERGI DAN TINGGALKAN TEMPAT INI! KALAU TIDAK…," pemuda berambut Red Violet itu segera mengarahkan pedangnya pada seorang wanita paruh baya.

Permasalahannya adalah, si wanita tidak mau meninggalkan gubuknya, padahal, tempat itu akan segera digusur dan akan dibangun markas rahasia –karena letaknya yang sangat jarang ditemukan oleh banyak orang-.

"T-tuan, kumohon …kalau aku pergi darisini, hiks … aku ti-tidak punya tempat tinggal lagi … hiks…," isak wanita paruh baya itu. Namun, dengan begitu kejam dan tidak ada belas kasihan, pemuda berambut Red Violet tadi langsung menebas tubuh wanita paruh baya itu.

SETTT!

"Gyaaaaaaaaaaa!"

Dengan satu tebasan, tubuh wanita itu langsung bersimbah darah dan ambruk seketika. Pemuda itu ternyata lebih memilih untuk membunuhnya daripada berlama-lama.

"Itulah balasan karena kau tidak mau menuruti perintahku!"

"Hei! Sudah jangan bermain-main terus! Kita sudah dipanggil oleh Reiji-sama," kata seorang pemuda berambut Dark Brown dengan tatapan sinis khas-nya. Sementara si pemuda Red Violet hanya sedikit mendengus kesal, namun segera mengangguk cepat.

Mereka-pun berjalan menuju Markas rahasia.

"Kenapa kau selalu mengaturku! Padahal aku 'kan sedang bersenang-senang," si pemuda Red Violet sepertinya tidak senang karena acara 'bersenang-senang'-nya terganggu atas kehadiran pemuda Dark Brown itu.

Sementara si pemuda Dark Brown hanya menatap jengkel pada lawan bicaranya, lalu memalingkan wajahnya.

"Sudah jangan banyak bicara kau! Kita sudah sampai bukan," katanya sambil menatap si Pemuda berambut Red Violet dengan sinis. Mereka berdua-pun langsung masuk pada sebuah markas besar yang bertulisan 'Dark Chaos', lalu segera menemui sang pemimpin organisasi.

"Maaf telah membuat anda menunggu lama, Reiji-sama," si pemuda Dark Brown segera berlutut hormat di depan pemimpin mereka, Kageyama Reiji. Sedangkan Reiji hanya tersenyum licik seperti biasanya, lalu menatap ke dua anak buahnya itu.

"Kenapa bisa terlambat?" Reiji segera bangkit berdiri dari kursinya, dan segera menanyai anak buahnya itu.

"Cih! Ini gara-gara anak berambut Red Violet itu! Dia hanya menghabiskan waktunya untuk membunuh orang. Dan hal itu, ia sebut sebagai 'bersenang-senang'," jelas si Dark Brown dengan nada penuh amarah. Namun tentu saja ia ucapkan dengan sebaik dan sesopan mungkin di depan pemimpinnya.

"Kau tidak usah munafik begitu deh~ dasar payah!" kata seorang pemuda dengan rambut kelinci yang berdiri di samping Reiji. Sementara pemuda berambut ungu di dekatnya hanya diam saja. Si Dark Brown tersentak begitu ia dibilang payah. Namun, ia segera menahan amarahnya.

"Habisi saja kelinci brengsek itu!" si pemuda berambut Red Violet hanya menyeringai dan memanas-manasi si Dark Brown. Namun, pemuda berambut Dark Brown itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Diam kau!"

"Wah wah, ternyata kerja sama tim kalian buruk sekali ya. Bagaimana kalau kalian memperbaiki hubungan kalian dulu," Reiji langsung kembali duduk di kursinya. Ia hanya tersenyum licik dan menatap ke tiga anak buahnya yang ada di sana.

"Kenapa kalian hanya diam saja?! Reiji-sama 'kan mengharapkan jawaban yang memuaskan dari kalian~ bukankah kalian ditugaskan untuk mencari sisa ke tiga Gelel Stone? Benar 'kan," kata si pemuda kelinci sambil menyeringai tipis. Sementara si pemuda berambut Red Violet dan pemuda berambut Dark Brown itu hanya menatap si kelinci dengan tatapan tajam.

"Tutup mulutmu, Fey! Kau sendiri 'kan tidak bisa apa-apa," si Pemuda berambut Red Violet langsung menyeringai lebar, sambil menatap Fey penuh arti.

"Yare yare~ jangan begitu minna, apa kalian tidak berpikir kalau aku ini hebat? Ayolah, kalau aku tidak bisa melakukan apa-apa, mana mungkin Reiji-sama mengangkatku sebagai tangan kanannya. Itu benar 'kan, Reiji-sama?" Fey langsung menyeringai dan menatap pimpinannya itu.

"…kalau aku payah, mana mungkin aku bisa mempertemukan Reiji-sama dengan Kyousuke,"

"…kalau aku payah, mana mungkin aku tahu seluk beluk Gelel Stone dengan jelas!"

"…kalau aku payah, mana mungkin … aku TIDAK MATI dalam kejadian perang seminggu yang lalu itu,"

Si Dark Brown dan si Pemuda berambut Red Violet tersentak kaget mendengar penjelasan dari Fey. Sementara Fey hanya tersenyum penuh kemenangan setelah menang berdebat adu mulut dengan dua sejoli itu.

"Reiji-sama, aku ingin bertanya. Kenapa anda memilih dia sebagai tangan kanan anda? Bukankah dia baru saja menjadi pengikut anda selama 1 minggu ini?" si Pemuda berambut Red Violet segera bertanya. Namun, pimpinannya itu hanya menatap ketiganya dengan santai.

"Hei, bukankah kau juga baru bekerja 2 minggu dengan Reiji-sama!" Fey segera berteriak sambil menunjuk si Pemuda berambut Red Violet.

"Akan kuceritakan. Kejadiannya memang terjadi begitu singkat, dan Fey … kuminta kau tenang dulu! Aku akan menceritakan pertama kalinya bertemu dengan kalian bertiga,"

Flashback.

Kejadiannya bermula, saat keponakanku, Hikaru, mengikuti sebuah lomba Karate tingkat SMP, dan menang menjadi juara pertama.

"HYAAAAAAA! ! !"

"KYAAAAA, bagus sekali Hikaru! Kau memang berbakat soal ilmu karate,"

"Reiji, siapa anak berambut ungu itu?" tanya Kira, salah seorang teman baik Reiji.

"Dia adalah keponakanku," jawab Reiji singkat.

"Kudengar kau membuka bisnis baru ya? Lalu bagaimana dengan pencarian Gelel Stone? Bukannya kau sangat menginginkan batu keramat itu?" tanya Kira kemudian.

Reiji tersentak kaget. Dia tidak bisa bicara apa-apa. Memang, pada awalnya, Reiji hanya tertarik pada pada Gelel Stone karena sering dibicarakan banyak orang. Namun, ketertarikannya itu berubah menjadi kecintaan, dari saat itu, Reiji menjadi sangat menginginkan kekuatan Gelel Stone, bahkan ia rela mengorbankan banyak nyawa untuk mendapatkan batu keramat itu. Akan tetapi, sampai saat ini, dia masih belum tahu dimana batu keramat itu disimpan. Walau-pun ia sudah banyak meminta anak buahnya untuk menyelidikinya, tetap tidak ada hasil.

"Reiji, kalau kau menggunakan kekuatan anak itu, kau mungkin bisa mendapatkan Gelel Stone! Hikaru sangat kuat, kau bisa menggunakan anak itu," jelas Kira sambil sedikit tersenyum licik.

"A-apa kau bilang?" Reiji terbelalak tak percaya. Kenapa tidak dari dulu saja ia menggunakan cara ini. Mungkin kalau dari dulu ia menggunakan Hikaru sebagai alat, Gelel Stone pasti sudah ada di tangannya saat ini.

"Bagaimana?"

"Kau benar, Kira."

Lalu kemudian, aku membujuk Hikaru untuk melakukan hal itu. Namun, dia langsung menolaknya. Aku tidak bisa melakukan banyak hal, karena saat itu, ayahku sudah memintaku untuk kembali berbisnis. Mulai sejak saat itu, aku mulai melupakan Gelel Stone. Setiap aku bertemu Hikaru, aku tidak pernah membicarakan hal itu lagi padanya.

Tapi … 1 bulan kemudian, orangtua Hikaru yang bekerja di luar negeri, mengalami kecelakaan pesawat, dan ditemukan tewas. Akhirnya, Hikaru tinggal bersamaku. Beberapa minggu kemudian, aku mendengar berita tentang seorang pembunuh yang mengincar Gelel Stone. Lalu, keinginanku untuk mendapatkan Gelel Stone kembali lagi. Akhirnya, aku menghapus sebagian ingatan Hikaru. Aku menghapus ingatan tentang teman-temannya. Tapi, aku tidak menghapus ingatannya tentang Ayah dan Ibunya juga tentang Sekolahnya. Akhirnya, dari sejak saat itu, Hikaru mulai menuruti perintahku. Tapi, aku tidak akan menggunakannya sebagai alat.

Lalu, aku bertemu dengan kalian berdua…

.

.

.

"Hei, ayo cepat serahkan semua barang-barangmu!" pemuda berambut Red Violet itu terus memaksa beberapa anak perempuan untuk menyerahkan barang-barang mereka.

"Jangan bermain-main terus! Kalau tidak, kita tidak akan mendapatkan uang hari ini," kata salah seorang lagi yang berambut Dark Brown.

"Apa maksudmu! Aku tidak sedang bermain-main! Kau lihat 'kan!" si Pemuda berambut Red Violet tidak mau kalah.

"Hei kalian berdua~ sudah jangan bertengkar! Aku sudah mendapatkan makanan untuk kita makan malam ini," ujar salah seorang pemuda dengan mata sapphire tiba-tiba. Dengan senyuman khas-nya, ia segera berlari dan mendekati kedua temannya itu.

"Darimana kau dapat itu?" tanya si Dark Brown.

"Aku mendapatkan makanan ini karena tadi membantu seorang Ibu yang sedang kesulitan untuk mengangkat barang," jawab si mata sapphire masih sambil tersenyum.

"Kau! Kenapa kau selalu saja berbuat hal seperti itu! Pantas saja kita selalu di cemooh dan di cacimaki oleh gelandangan lain. Ternyata kau lah penyebabnya!" kata si Pemuda berambut Red Violet, lalu segera mengarahkan tinjunya pada si sapphire.

BUUK!

"Ke-kenapa kau memukulku? Aku 'kan hanya menggunakan cara yang baik! Kita ini memang gelandangan, tapi, gelandangan seperti kita ini justru harus membantu sesama, bukan mencuri!" kata si mata sapphire dengan nada bicara lantang.

"…kalau kalian masih saja mencuri, kapan ada orang yang akan peduli pada kita?! Kita hanya akan dipandang sinis dan dibenci oleh orang yang derajatnya lebih tinggi dari kita, hanya karena kita sering mencuri, sehingga mereka tidak akan pernah percaya pada kita!" lanjutnya, masih dengan nada bicara lantang.

"Kalau kau tidak setuju dengan ide kami, lebih baik kau tidak usah bersama kami lagi! Cepat pergi sana, dasar pengecut!" kata si Dark Brown, dan langsung mendorong si mata sapphire.

Sementara si mata sapphire hanya menundukkan kepalanya, dan berjalan pergi darisana.

"Baiklah, kalau itu memang mau kalian…,"

BRUUK!

Si mata sapphire menabrak seseorang. Namun, ia segera meminta maaf pada orang itu.

"Ma-maaf, aku tidak sengaja,"

"A-ah, iya! Tidak apa-apa kok," kata anak berambut ungu itu sambil tersenyum. Si mata sapphire hanya membalas senyuman itu dengan senyum miliknya.

Si mata sapphire segera melanjutkan jalannya, namun…

TEP…

"A-ada apa, Tuan?" tanyanya begitu iya menabrak Reiji. Sementara Reiji hanya memegang tangan anak bermata sapphire itu.

"Kau, dan kalian berdua! Ikutlah bersamaku. Kalian tidak usah bekerja lagi. Aku akan memberikan kalian banyak uang," jelas Reiji sambil menatap ketiganya yang tidak berjarak terlalu jauh. Si mata sapphire tersentak kaget. Namun, si Dark Brown dan si Pemuda berambut Red Violet hanya tersenyum penuh kemenangan dan mengangguk.

"Baiklah, kami bersedia ikut bersamamu Tuan-"

"Reiji. Itulah namaku."

"Baiklah. Reiji-sama."

Setelah itu, kalian berdua menjadi anak buahku. 2 minggu setelahnya, aku mendengar banyak kabar tentang Ken Castle. Aku tersentak, ternyata, ada orang lain yang mengincar Gelel Stone selain aku. Lalu, aku berpikir, kalau aku bisa mengajaknya bekerja sama denganku, maka aku pasti bisa mendapatkan Gelel Stone itu. Dan akhirnya, aku mendengar pertarungan sengit antara Arion Sherwind dan Ken Castle. Setelah aku mendengar bahwa Ken Castle mendapatkan Gelel Stone yang pertama, aku langsung mencari tahu lebih lanjut.

Kemudian, saat aku menyelidiki semuanya, aku menemukan Fey yang ternyata masih hidup. Akhirnya, aku membawa Fey ke sini, dan setelah Fey sadar, aku dan Fey langsung melakukan penyelidikan tentang Ken Castle. Untungnya, Ken Castle masih hidup, dan dia belum tertangkap oleh para polisi itu karena terlempar cukup jauh dari lokasi ledakan.

Dan sekarang … aku sudah mempunyai Ken Castle, dan Gelel Stone yang pertama.

End Of Flashback.

"Jadi begitu ya," si Dark Brown langsung menyilangkan ke dua tangannya, lalu menatap Fey dengan sinis. Sementara si pemuda kelinci itu hanya tersenyum lebar.

"Makannya, jangan bilang kalau aku tidak bisa melakukan apa-apa," kata Fey lalu menaruh jari telunjuknya di bibir. Dia-pun hanya kembali tersenyum tipis ke arah dua sejoli itu.

"Oleh karena itu, aku mau kerja sama tim kalian diperbaiki!" jelas Reiji kemudian.

"Tapi Reiji-sama, kalau hanya bertiga, mana mungkin kita bisa melawan para polisi itu?" tanya si Pemuda berambut Red Violet.

"Ingatlah, mereka hanya tinggal bertiga! Karena 'dia', masih ada di pihak kita," Reiji kembali berdiri dari kursinya.

"Pertama, kita temukan dulu Arion, lalu kita Sandra dia…,"

"Ke dua, kita harus habisi para polisi itu!"

"Ke tiga, kita akan segera mengambil sisa ke tiga Gelel Stone."

"Kalau soal Polisi, aku pasti akan mengalahkan Pikachu itu!" kata Fey sambil sedikit mendengus kesal.

"Lalu, bagaimana dengannya, Reiji-sama?" tanya si Dark Brown sambil menunjuk sebuah tabung air yang cukup besar.

Di dalam tabung itu ada seseorang bermata sapphire, memandang mereka dengan tatapan sayu. Ia sudah 2 minggu berada di sana. Tanpa makan, atau-pun minum, ia juga hanya diberi sedikit oksigen.

"Biarkan saja dia! Aku tidak suka kalau ada orang yang membangkang perintahku! Jangan berikan dia apapun," kata Reiji lalu meninggalkan ruangan itu.

"Aku mau kalian bertiga segera bergerak. Ayo Hikaru!" Reiji langsung meminta Hikaru untuk ikut dengannya.

"Baiklah Paman," Hikaru hanya mematuhi perintah Pamannya itu, lalu ia ikut meninggalkan ruangan bersama Reiji.

SETT! CRIINGG!

Si Dark Brown langsung mengarahkan pedangnya pada Fey, namun, pemuda kelinci itu segera menepisnya dengan sebuah kunai.

"Jangan terburu-buru! Kalau tidak ... aku akan membunuhmu," ucap Fey lalu mengeluarkan sebuah Death Scythe. Si Dark Brown tersentak kaget, lalu segera mundul beberapa langkah.

"Kukira senjata itu sudah tidak kau miliki lagi!" kata si Dark Brown. Kemudian, si Pemuda berambut Red Violet segera mendekati si Dark Brown, lalu menepuk pundaknya.

"Sudahlah, kau juga hanya membuang-buang waktu saja. Ayo, kita laksanakan perintah dari Reiji-sama," katanya lalu segera berbalik. Si Pemuda berambut Red Violet langsung berjalan melewati Fey dan segera keluar dari ruangan itu.

Sementara si Dark Brown hanya mengikuti si Pemuda berambut Red Violet, dan ikut meninggalkan ruangan itu.

"Cih! Andai saja kau bukan tangan kanan Reiji-sama. Aku pasti akan membunuhmu!"

"Dasar orang-orang tidak berguna! Lebih baik sekarang aku menemui Kyousuke saja," kata Fey lalu segera bergegas.

Sesaat, ia sedikit mengamati 'Objek' dalam tabung air tadi, dan hanya tersenyum misterius.

'Anak yang lumayan menarik.'


"Fuyuka-nee, bagaimana keadaan anak itu?" tanya Taiyou begitu Fuyuka selesai mengobati luka anak tadi.

"Dia sudah selesai kuobati. Sepertinya sebentar lagi, dia akan sadar," kata Fuyuka lalu segera meninggalkan Taiyou.

Pemuda berambut oranye itu-pun segera bergegas untuk menemui anak tadi.

Crek!

Pintu-pun terbuka, dan menampakkan seseorang yang sedang terbaring lemah di ranjang. Taiyou langsung mendekati anak itu, dan memegang erat tangannya.

"Cepatlah sadar. Aku ingin tahu banyak tentangmu," ucap Taiyou dengan lirih.

Tanpa sadar, tiba-tiba saja, tangan anak tadi mulai bergerak.


.

.

.


Di sebuah ruangan gelap, yang merupakan ruangan rahasia, tampak seseorang yang tengah berbaring. Orang yang diketahui adalah Kyousuke itu-pun sedikit meringis kesakitan –mengingat semua lukanya yang belum pulih-. Perlahan, Fey segera mendekati Kyousuke.

"Yare yare, bagaimana kondisimu? Kyousuke," tanya Fey dengan nada datar.

"Seperti yang kau lihat! Aku belum pulih sepenuhnya," jawab Kyousuke singkat.

"Kudengar, anak bernama Tenma itu belum ditemukan lho, Kyousuke," kata Fey sambil kembali meletakkan jari telunjuknya di bibir. Sementara yang ditanya hanya menundukkan wajahnya, lalu berkata dengan lantang.

"AKU SUDAH TIDAK PEDULI LAGI PADANYA!" katanya sambil menatap Fey dengan sinis.

"Apa itu benar, tuan Tsurugi?" Fey kembali memanas-manasi Kyousuke.

Pemuda berambut navy itu langsung memalingkan wajahnya, tak mau menatap wajah si pemuda kelinci.

"Sudahlah tidak usah sungkan. Aku sudah tahu semuanya kok, kau menyukai Tenma, benar 'kan?"

"Itu bukan urusanmu!"

"Kenapa kau selalu bertingkah seperti itu Kyosuke?! Bisakah kau lebih sopan sedikit saja?!" Fey langsung mengeluarkan Death Scythe miliknya, membuat Kyousuke langsung memicingkan matanya.

'Cih! Kalau saja keadaanku sedang pulih, sudah kupatahkan tulang anak kelinci ini!'

"Kau sudah berhasil mendapatkan Gelel Stone yang pertama. Tapi bagi Reiji-sama, itu masih belum cukup. Sama seperti Alpha, Reiji-sama juga menginginkan sisa ke tiga Gelel Stone itu," jelas Fey kemudian.

"…lagipula, kau juga masih menyukai Tenma bukan? Kau menginginkan Gelel Stone itu, benar 'kan?" Fey kembali menyeringai tipis dan menanyai Kyousuke.

"Lalu? Apa kau harus merebut Gelel Stone itu sendirian?" tanpa memperdulikan ucapan Fey barusan, Kyousuke langsung bertanya, dia sudah cukup tenang.

"Tidak! Reiji-sama punya anak buah yang jauh lebih kuat dari Alpha, ya setidaknya, mereka berdua lebih berguna dibandingkan Beta," lanjut Fey.

"Fey … aku bisa selamat dari bom itu karena pedang Knight Sword dan Gelel Stone itu sejodoh. Tapi,itu mustahil bagi Tenma 'kan? Karena saat itu, Gelel Stone berada di tanganku, ditambah lagi, aku sudah handal menggunakan Knight Sword," jelas Kyousuke. Fey langsung memandang Kyousuke dengan tatapan serius.

"Kau benar. Kau bisa selamat karena kedua benda keramat itu sejodoh. Kalau saja saat itu kau tidak mempunyai Gelel Stone, kau pasti sudah mati sekarang! Tapi, kemungkinan besar Tenma selamat, karena selama ini dia sudah melindungi Gelel Stone, jadi dengan kata lain, Gelel Stone masih berada di pihaknya bersama dengan Police Inazuma Junior. Jadi, tidak mustahil juga kalau dia selamat," Fey langsung menyandarkan tubuhnya di tembok.

Kyousuke berusaha mencerna kembali ucapan Fey, lalu dengan cepat, ia-pun mencoba untuk bangkit berdiri.

"Ukh … aku sudah tidak apa-apa!" katanya lalu segera mengambil pedang miliknya. Ia sedikit memegangi bahu kanannya yang masih terasa nyeri. Namun, Kyousuke sudah memaksakan tubuhnya untuk bergerak.

"Ceritakanlah, kenapa kau bisa selamat dari ledakan yang mematikan itu tanpa terluka sedikitpun?" tanya Kyousuke.

Fey hanya menyeringai tipis lalu kembali berkata;

"Hey, siapa bilang aku tidak terluka! Aku juga terluka sama sepertimu. Hanya saja tidak separah kau, karena Jurang yang waktu itu. Dibawah Jurang itu terdapat sebuah danau kecil, jadi pada saat bom itu meledak, aku langsung berenang ke dalam danau itu. Walau sebenarnya tetap saja terkena, untungnya aku sudah melepaskan benda kecil itu dari tubuhku, dan melemparnya. Jadi, lukaku tidak separah lukamu yang menghindar di udara. Karena, di air aku bisa lebih leluasa bergerak," jelas Fey panjang lebar.

"…lagipula, apa kau tidak sadar, itu 'kan hanya sebuah bom kecil! Ternyata kau juga punya kelemahan ya,"

Dibilang seperti itu, Kyousuke langsung memalingkan wajahnya dengan jengkel. Tapi tak lama kemudian, pemuda berambut navy itu kembali menatap Fey.

"Ternyata, kau hebat juga ya Fey!" kata Kyousuke lalu tersenyum licik ke arah Fey. Sementara Fey hanya ikut tersenyum tipis.

"Sudahlah, lebih baik sekarang kita menemui Reiji-sama. Kuharap sudah ada info lain tentang Tenma,"


.

.

.


Anak berambut cokelat itu mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga penghilatannya sepenuhnya jelas.

Taiyou yang menyadari hal itu langsung tersenyum senang.

"Syukurlah, akhirnya dia sadar," gumam Taiyou pelan.

"Di-dimana ini…?" anak berambut cokelat itu langsung bertanya begitu ia melihat pemandangan yang sangat asing baginya.

"Hei tenanglah. Aku bukan orang jahat kok, hahaha. Namaku Amemiya Taiyou. Kau panggil saja aku Taiyou. Ini di rumahku, tadi aku menemukanmu pingsan dengan luka yang cukup parah, di dekat taman yang berada kurang lebih 1 KM dari gedung Rumah Sakit Inazuma," jelas Taiyou masih sambil tersenyum.

Perlahan, anak itu langsung mendudukkan dirinya di ranjang –mengingat lukanya yang tidak terlalu parah-, ia masih menatap sekeliling lalu kembali bertanya.

"Rumah sakit Inazuma? Apa itu? Aku kenapa?" tanyanya secara bertubi-tubi.

"Eh, rumah sakit Inazuma! Itu lho, rumah sakit terbesar di kota ini, memangnya kau bukan orang dari kota ini ya? Dan, soal kau yang terluka, aku juga tidak tahu. Memangnya tidak ada hal yang kau ingat?" Taiyou malah balik menanyai anak itu.

"Aku tidak ingat apapun! Aku … siapa aku?!"

"He-hei, kau tidak apa-apa 'kan?!"

"Kejadian terakhir yang aku ingat … ledakan … s-suka, G-gelel, Ina-Inazu … ma… K-K … ARGHH! AKU TIDAK INGAT! Semua yang terjadi buruk sekali … hiks …," anak itu langsung menangis sembari memegangi kepalanya.

"Hei, tenanglah. Kau tidak usah khawatir, aku pasti akan membantumu," jelas Taiyou dengan nada lirih. Kemudian, dia langsung memeluk anak berambut cokelat tadi.

"Kalau kau tidak bisa mengingat apapun, apa kau benar-benar tidak mengingat satu nama-pun?" Taiyou kembali bertanya.

"…Ts-Tsurugi…,"

Hanya itu yang diucapkan olehnya. Taiyou sedikit tersentak kaget. Ia kembali mengingat-ingat sesuatu. Dan … ia mengingat Yuuichi, pasien Rumah Sakit Inazuma itu bermarga Tsurugi,

'A-apa mungkin, dia mengenal Yuuichi-nii,'

"Apa kau pernah bertemu dengan seorang pemuda berambut navy blue?" Taiyou langsung kembali bertanya.

"A-aku tidak ingat," anak berambut cokelat terang itu kembali menjawab.

CLEK…

Pintu kamar itu terbuka, lalu Fuyuka sudah berdiri di dekat sana, sambil membawakan senampan makanan.

"Nee, kau sudah bangun ya," wanita berambut ungu itu langsung menghampiri mereka yang sedari tadi berada di ranjang –tepatnya Taiyou yang berada di pinggir ranjang-.

"I-iya," anak itu menjawab singkat.

"Bagaimana kondisimu? Oh iya, tadi aku menemukan PIN ini di saku jaketmu!" kata Fuyuka lalu memberikan sebuah PIN berlogo Inazuma. Ia-pun langsung memberikannya pada anak itu.

"A-apa ini?" sementara anak berambut cokelat itu hanya bertanya dengan polos.

"Fuyuka-nee, sepertinya dia amnesia," kata Taiyou sepelan mungkin.

"A-amnesia? K-kalau begitu, sepertinya akan cukup sulit untuk mengetahui asal-usul anak ini," kata Fuyuka sambil sedikit menunduk.

"PIN ini berlogo angin," ucap anak itu tiba-tiba. Sontak, Taiyou dan Fuyuka segera menoleh mendengar hal itu.

"Apa kau mengingat sesuatu dari PIN ini?" tanya Fuyuka kemudian. Si rambut cokelat hanya menggeleng.

"Hm, bagaimana … untuk sementara waktu, namamu Kaze saja! Mungkin saja dari logo angin itu menyiratkan sesuatu yang besar," ucap Taiyou sambil menepukkan kedua tangannya. Anak berambut cokelat itu hanya menatap Taiyou dengan heran. Namun tak berapa lama kemudian, anak berambut cokelat terang itu langsung mengangguk mantap.

"Kaze … nama yang bagus," katanya sambil tersenyum.

"Bagaimana kalau Kaze Samui?!" kali ini, Fuyuka ikut masuk ke dalam pembicaraan itu. Tanpa pikir panjang, anak yang sudah menyetujui nama barunya itu mengangguk lagi.

"Nah baiklah Kaze, kalau begitu untuk sementara waktu, lebih baik kau tinggal di sini saja dulu!" ujar Taiyou sambil menunjukkan senyum khas-nya. Kaze hanya mengangguk.

"Terimakasih ya…," jawab Kaze singkat. Fuyuka dan Taiyou hanya saling berpandangan dan tersenyum kecil.

Keesokan harinya.

"Nah Kaze-kun, hari ini kau sudah kudaftarkan di SMP Arakumo, kuharap kau bisa belajar dengan baik di sana bersama Taiyou-kun. Tapi, apa keadaanmu sudah pulih? Kalau masih belum pulih, lebih baik kau masuk 2 atau 3 hari lagi," jelas Fuyuka sambil membawakan makanan ke kamar Kaze.

Sedangkan Kaze hanya menggeleng pelan dan berkata;

"Tidak apa-apa Fuyuka-nee, aku sudah pulih kok," Kaze berkata seraya turun dari ranjang. Kakinya sudah bisa berjalan dengan normal, dan tubuhnya sudah pulih seutuhnya. Fuyuka sedikit kaget mengetahui hal itu, namun semua rasa kagetnya itu langsung hilang begitu mengingat kalau ia dan Taiyou menemukan Kaze sudah bersimbah darah. Dan lagi-lagi, pemikiran buruknya tentang Kaze kembali lagi.

'Apa mungkin, anak ini … adalah seorang penjahat?'

"Nah Kaze, ayo kita berangkat sekarang! Aku sudah tidak sabar ingin mengenalkanmu pada teman-teman yang lain!" ucap Taiyou dengan begitu bersemangat. Setelah itu, Kaze hanya mengangguk singkat, dan mereka-pun segera berangkat menuju Arakumo Junior High.

~Arakumo Gakuen~

Sesosok pemuda dengan rambut ungu tengah membaca sebuah buku di lorong Sekolah. Lorong yang masih Nampak sepi itu –mengingat hari masih terlalu pagi-, tak berpenghuni siapapun terkecuali dia seorang. Pemuda yang diketahui adalah Hikaru itu langsung menutup buku Fisika yang ia baca, dan menghela nafas singkat.

"Huft, membosankan sekali … andai saja masih ada Ayah dan Ibu. Sekarang ini aku pasti masih bersekolah di SMP Raimon," gumamnya pelan.

Memang sih, Hikaru bisa saja menyebutkan tentang 'Raimon', atau-pun semacamnya tentang Sekolah elit itu. Namun anehnya, dia tidak bisa mengingat bagaimana rupa dan sifat orang-orang yang ia kenali di sana. Karena, semenjak orangtuanya meninggal, Pamannya menyekolahkannya di Arakumo Junior High, dan dia tidak bisa berinteraksi cukup baik di Sekolah ini. Terkadang, ia sering di cemooh atau di ejek karena sudah tidak mempunyai orangtua atau-pun karena sifatnya yang kelewat pendiam. Akan tetapi, dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Yang penting, dia bisa belajar dan berprestasi di Sekolah elit itu.

Tap tap…

Terdengar suara derap kaki yang cukup tenang. Perlahan, Hikaru langsung menoleh ke arah sumber suara itu, tepat di belakangnya. Ia-pun menoleh dengan sempurna, dan mendapati Fey yang sudah bersandar di tembok lorong.

"Yare yare~ sedang apa kau disiniHika-chii? Bukankah Pamanmu sudah melarang agar kau berinteraksi dengan orang lain selain aku, Kyousuke, dan 2 sejoli yang tidak berguna itu, hm?" tanya Fey sambil menyunggingkan senyum 'licik' miliknya.

Sementara Hikaru hanya menunduk sebentar lalu berkata,

"Aku tidak pernah berinteraksi dengan orang lain selai kau dan anak buah Pamanku yang lain, Fey," jelas Hikaru sambil menatap pemuda kelinci itu. Sang pemuda kelinci hanya terkekeh geli mendengar pengakuan pemuda shota di depannya.

"Apa itu benar?" tanya Fey dengan seringai yang cukup jahat.

"Aku tidak pernah berbohong, Fey," jawab Hikaru singkat.

"Kalau begitu bagus Hika-chii. Karena, di luar pengawasan Pamanmu, akulah yang bertanggung jawab atas apapun yang kau lakukan. Jadi…,"

Fey mulai beranjak dari tempatnya bersender. Perlahan, pemuda berambut kelinci itu langsung kembali melangkahkan kakinya, berjalan menuju Hikaru, hingga mereka berdiri sejajar.

"…aku tidak akan segan-segan melakukan kekerasan padamu, kalau kau berani menentang perintahku!" lanjutnya masih dengan seringai jahat. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan Hikaru. Sementara pemuda berambut ungu yang masih berdiri di lorong itu langsung berjalan ke arah yang berlawanan dengan Fey, sambil menundukkan kepalanya.

'Kapan aku akan mendapatkan kebebasan...?"

Kelas 1-A

Kinako menidurkan kepalanya di atas meja. Sementara ekspresi wajahnya menyiratkan kekecewaan terdalam. Matanya sudah berkaca-kaca. Kalau saja dia bukan salah satu anggota dari Police Inazuma Junior, mungkin gadis berambut cokelat panjang itu sudah menangis sekarang ini.

…permasalahannya adalah dimana Shindou menyuruhnya untuk menetap di Arakumo Junior High. Sebenarnya, Kinako sudah menolaknya, dengan alasan lebih mudah mendapatkan informasi tentang Tenma di Raimon. Akan tetapi, karena keputusan Shindou sudah mutlak, jadilah gadis berambut cokelat panjang itu kian melewati hari-harinya dengan kebosanan. Dia tidak punya satu teman-pun di Sekolah elit itu. Bahkan semua anak perempuan takut kepadanya karena dia sering memegang senapan, atau-pun benda-benda berbahaya lainnya. Walau begitu, Kinako tidak pernah memberikan tatapan dingin pada mereka. Justru sebaliknya, dia selalu tersenyum dihadapan mereka, walaupun sebenarnya, hatinya tidak menyuruhnya untuk melakukan hal itu.

"Kenapa Riccardo-san tega sekali sih padaku…," gumamnya pelan, sambil menenggelamkan wajahnya pada ke dua tangannya di atas meja.

Tak berapa lama kemudian, bel masuk-pun berbunyi. Anak-anak yang berada di kelas itu langsung masuk dengan tertib (biasalah, Sekolah elit =w=). Termasuk Hikaru, Taiyou, dan Fey. Selang beberapa menit kemudian, seorang guru berparas tampan langsung masuk ke sana dan membawa seseorang.

"Anak-anak, hari ini kalian kedatangan seorang murid baru…," ucap guru beriris emerald itu. Guru berparas tampan dengan rambut Pasir itu langsung menunjuk Kaze yang berdiri di sebelahnya.

Sementara semua murid yang ada di sana langsung bergantian memandangi Kaze. Begitu juga dengan Fey.

'Matsukaze Tenma. Yare yare, ternyata benar dia masih hidup,' batin Fey sambil menunjukkan seringainya kembali.

'A-Arion Sherwind…,' Kinako membulatkan matanya tak percaya. Ia terus memperhatikan Kaze yang berdiri di depan kelas.

'Akhirnya aku menemukan anak ini. Tapi, kenapa dia bisa ada di sini?'

"Mark-sensei! Dia pindahan darimana?" tanya Hikaru tiba-tiba. Guru yang dipanggil Mark itu-pun segera menjawab sambil tersenyum.

"Hm, soal itu, kau boleh bertanya langsung padanya Kageyama-kun," jawab Mark singkat. Masih sambil tersenyum.

"…nah Kaze, sekarang kau duduk di samping Amemiya-kun ya!" lanjut guru berparas tampan itu. Kaze-pun langsung berjalan menuju bangku Taiyou. Bangku yang berada tepat bersebelahan dengan bangku Fey.

Perlahan, kaze mulai menatap Fey sambil tersenyum canggung. Namun, sepertinya bukan senyum canggung karena baru pertama kali bertemu. Melainkan, sebuah arti lain.

Sementara Fey, hanya memandangnya dengan tatapan datar, dan membalas senyumannya itu.

'Sepertinya, aku mengenal pemuda berambut hijau terang ini,'

Kaze langsung duduk di bangkunya. Walau-pun, hatinya masih belum tenang. Perihal dengan bertemunya ia dan Fey beberapa menit yang lalu. Namun, Kaze berusaha untuk melupakan itu semua.

Namun tanpa disadari, di ujung sana tengah ada seseorang yang menyeringai lebar penuh kemenangan.

'Akhirnya, aku menemukan dia … Matsukaze Tenma.'

.

.

.

To Be Continue


Mori: Minna, ini chp satunya ^^ semoga senang. Btw, saia mau adain case(?) nih di setiap chp hanya satu pertanyaan. Gak ada ceritanya kok, cuman pertanyaan (kan ceritanya udah TBC di atas -,-)

~Question~

Siapakah 3 sejoli yang dimaksud di Chapter ini? (Pemuda berambut Red Violet, Pemuda berambut Dark Brown, dan pemuda bermata Sapphire)

Minna, tolong jawab lewat review ya nanti kalau ada yang jawab bener, di chp 2 nama mereka udah gak dirahasiain lagi ^^ nee, ok segini dulu curcolnya. Sampai jumpa di chp berikutnya ^^

Mori Kousuke18