Boy VS Boy 2

:Re Battle Again!:

By: Mori Kousuke18

Inazuma Eleven GO © Level-5

Rate: T

Genre: Friendship, little adventure(?), romance (maybe), dll.

Chapter 3: Mission?

.

.

.

Don't Like, Don't Read!


"Nee, sudah ya Kyousuke~" Fey langsung melambaikan tangannya pada pemuda berambut navy itu. Setelah itu, pemuda berambut kelinci itu sudah benar-benar menghilang dari ruang musik.

Sedangkan Kyousuke masih terkejut atas ucapan Fey tadi. Ia masih benar-benar tidak percaya kalau Tenma masih hidup. Walau begitu, jauh di lubuk hati pemuda berambut navy itu sangat senang, namun, entah kenapa, ia merasa akan ada suatu hal yang besar setelah semua kejadian rumit itu terungkap.

Bukan soal pertarungan, atau-pun soal perasaannya pada Tenma. Melainkan, seperti sebuah api kecemburuan yang sepertinya akan melanda hatinya sebentar lagi.

'Kenapa aku berpikir, kalau Tenma sudah dimiliki orang lain ya?'

Kaze yang pasalnya di tinggalkan oleh Fey tadi, tetap melanjutkan berjalan. Walau-pun, dia tidak tahu ia akan berjalan kemana sekarang ini. Tapi, entah apa yang membuat pemuda berambut cokelat itu berjalan menuju ruang musik saat ini.

Langkah Kaze terhenti di depan sebuah ruang musik. Bukan karena ada sesuatu yang ia pikirkan, melainkan, ia mendengar ada seseorang yang sedang memainkan sebuah grand piano dari dalam sana. Bukan ingin menebak, namun jujur saja, Kaze sangat familiar dengan suara tersebut.

'Rasanya aku sering mendengar seseorang memainkan alat musik ini. Aku sangat mengenal suara-suara ini,'

Akhirnya, dengan rasa penasaran Kaze langsung menuju ruang musik itu. Setelah ia masuk ke dalam sana, benar saja, ia menemukan sesosok pemuda berambut navy blue yang sedang memainkan sebuah lagu dengan sebuah grand piano.

Perlahan namun pasti, Kaze langsung mendekati sosok itu, dan mulai menyapanya dengan ramah.

"Halo~ kau sedang apa?" sapanya dengan nada ceria. Sontak, sosok yang sedang memainkan grand piano itu langsung berbalik dan memasang tampang dinginnya. Namun, sesaat sesudah itu, sosok yang diketahui adalah Kyousuke itu langsung terbelalak tak percaya.

"Maaf, aku sedang sibuk, dan sepertinya aku sama sekali tidak me-"

DEG…

"Te-Tenma…,"

Merasa tidak asing dengan suara orang itu, Kaze segera bertanya.

"Hm, maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu? Kenapa aku merasa kalau aku sudah pernah mengenalmu ya," Kaze langsung mendekati Kyousuke. Sementara pemuda berambut navy blue yang sedang memainkan grand piano itu langsung bangkit berdiri dan berkata dengan perlahan,

"A-apa benar kau adalah Tenma…?" Kyousuke langsung menyentuh pipi Kaze. Sedangkan anak berambut cokelat itu memegang tangan Kyousuke yang menyentuh pipinya.

"Hm, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," ucap Kaze sambil tersenyum tulus. Kyousuke kembali terbelalak, ia sangat ingat jelas dengan senyuman itu. Sebuah senyuman milik seseorang yang ia sukai hingga saat ini.

"Tsurugi, terimakasih ya,"

"Iya, tidak apa-apa"

"Haha, kau memang temanku yang paling baik!"

"Lucu sekali,"

"Hm, terimakasih lagi ya Tsurugi."

"Kau manis, Tenma."

DEG…

'Senyumannya, sama seperti yang waktu itu. Ternyata memang benar, dia adalah Tenma,'

"Hei, kenapa kau malah di-"

HUG!

Tanpa sadar, Kyousuke langsung memeluk Kaze dengan sangat erat. Tanpa Kaze sadari-pun, pemuda berambut navy blue itu menangis. Ya … ia menangis.

"T-ternyata … kau memang Tenma yang dulu. A-aku senang, bisa … bertemu denganmu lagi," ucapnya dengan tulus. Kyousuke semakin mengeratkan pelukannya pada Kaze.

Sedangkan Kaze langsung mengerjap-ngerjapkan matanya karena heran, bercampur, sedikit malu karena tiba-tiba dipeluk oleh seseorang yang tidak ia kenal saat ini.

"H-hentikan. Aku bukan Tenma," tanpa sadar, Kaze langsung mengatakan hal itu. Membuat Kyousuke terdiam sejenak.

"Namaku adalah Kaze Samui. Dan, aku bukan orang yang kau panggil Tenma tadi," katanya sambil masih menatap Kyousuke dengan canggung. Sementara Kyousuke, langsung terbelalak tak percaya.

"K-Kaze? Ta-tapi, bukankah kamu Tenma!? Iya 'kan, kamu Tenma yang dulu, benar-"

"Cukup! Aku tidak mengenalmu. Dan satu lagi, jangan pernah memanggilku dengan nama Tenma! Aku muak mendengar nama itu. Terkutuk!" Kaze berkata dengan ketus. Setelah itu, ia langsung bergegas meninggalkan ruang musik itu.

Hening…

Tak ada suara apapun. Saat ini, hati Kyousuke bagaikan ditusuk ribuan jarum. Bagaimana tidak, orang yang dia sukai selama ini, orang yang selalu ia idam-idamkan, ternyata … tidak mengingatnya, dan berani berkata ketus padanya.

Kyousuke langsung kembali terduduk di kursi meja Grand piano hitam itu. Matanya memandang geram ke depan. Tangannya terkepal kembali, kemudian, dia langsung menundukkan kepalanya.

'Kenapa, kau tidak mengingatku, Tenma?!'

'Padahal selama ini, aku … tidak pernah bisa melupakanmu!'

'Lagipula, kau adalah orang yang paling dekat denganku dulu!'

'…tapi kenapa? Kenapa sekarang kau tidak bisa mengingatku?'

Kyousuke semakin menundukkan kepalanya. Awalnya, ia ingin marah saat itu juga, ia ingin membunuh sosok barusan yang ia sebut-sebut sebagai 'Tenma'. Tapi entah kenapa, kali ini perasaannyalah yang mengalahkan semua pikirannya. Jujur saja, Kyousuke sudah sangat bisa mengendalikan perasaannya, bahkan, ia bisa mengendalikan perasaannya agar tidak bisa menang dari pikirannya, tapi … entah kenapa, sekarang ini sungguh berbeda rasanya.

Kyousuke langsung kembali memainkan Grand Piano hitam itu. Dan tanpa sadar, ia mulai bernyanyi.

"Ima kimi ni tsutae tai tsunagat ta kokoro ga aru koto aruki dashi ta yume o hanasa nu you dakishime te mune no oku ni hime ta kizuato ni ha
todoka nai omoi furue ta ashioto furikaera zu ashita ni ichi ho aruki dashi te ima kimi ni tsutae tai daijoubu kono te o nigit te koko
kara mata hajimeyo u nan do mo negau ano mirai he
itsuka fure ta omoi tonari ni mada kanji te ta
kobore te yuku kokoro ano toki ni ha kiduka nai namida…"


SREK!

"Wah, jatuh!"

Hikaru langsung mengambil buku IPA-nya begitu buku tebal itu terjatuh. Namun, sebelum tangannya sampai ke bawah, tiba-tiba saja, buku IPA miliknya itu sudah dipegang oleh seseorang. Sontak, Hikaru langsung menengadah ke atas, mencoba melihat siapa orang yang barusan mengambilkan bukunya itu.

"Lho, Kariya…," ucapnya singkat, begitu mengetahui kalau seorang pemuda berambut tosca yang mengambilkan bukunya.

"Ini bukumu!" pemuda tadi—Kariya Masaki—, langsung memberikan kembali buku IPA Hikaru. Dengan enggan, Hikaru langsung menerimanya.

"Sedang apa kamu di sini? Katanya tadi kelasmu ada Ulangan Sejarah," Hikaru berkata dengan heran, sambil sedikit memiringkan kepalanya.

Sementara Kariya hanya tertawa kecil mendengar ucapan temannya yang satu itu.

"Hihi, aku sudah selesai mengerjakannya kok! Lagipula, ada hal yang lebih penting dari itu," ucap Kariya. Hikaru bertambah heran.

"Hal yang lebih penting? Apa itu?"

"Hikaru~ tolong ajari aku Fisika lagi ya~" tiba-tiba saja, Kariya langsung sedikit memohon pada Hikaru. Sementara Hikaru hanya memicingkan matanya, bertambah heran.

"Untuk apa Kariya? Bukannya kamu jago Kimia? Masa Fisika harus minta ajari padaku," jawab Hikaru dengan canggung. Kariya langsung menggeleng.

"Yang ini berbeda~ tugas Fisika kali ini masa aku harus menghitung Alpha dan Beta sebanyak 108 kali. Kamu tahu 'kan Matematika-ku itu tidak bagus," jelas Kariya kemudian. Jujur saja, Hikaru sangat heran dengan perkataan temannya satu itu. Masa iya dia bilang kalau Matematika-nya itu tidak bagus. Padahal jelas-jelas, Kariya sangat jago Kimia.

"Hah? 108 kali? Aku tidak mengerti deh! Lalu … selama ini kamu menghitung rumus Kimia pakai apa kalau bukan Matematika? Hm," tanya Hikaru kemudian.

"Pakai perhitunganku sendiri! Aku 'kan seperti Peramal, hahaha~" Kariya malah mencandai Hikaru. Tetapi, Hikaru malah tetap serius dengan masalah temannya itu.

"Jangan mencandaiku! Cepat katakan, ada apa sebenarnya?" tanya Hikaru lagi, kali ini dengan nada agak jengkel.

"Hm … bagaimana menjelaskannya-"

"Dicari sampai berapa kali-pun, kau tidak akan bisa menemukan Alpha dan Beta," tiba-tiba saja, Fey langsung masuk ke dalam pembicaraan 2 orang itu. Sontak, Hikaru dan Kariya langsung menoleh secara bersamaan.

"Lho, Fey! Sedang apa kau di sini?!" Hikaru langsung bertanya begitu sang pemuda kelinci datang menemuinya.

"Hikaru, dia ini siapa?" sementara Kariya hanya memandang heran ke arah Fey. Sebenarnya tidak sepenuhnya heran, namun juga … curiga.

"Kau tenang saja Kariya. Dia ini Fey Rune, yang bekerja di bawah pimpinan Pamanku~" jelas Hikaru dengan santai. Fey hanya mengangguk lalu tersenyum tipis.

"Oh begitu ya. Kalau begitu kenalkan, namaku Kariya Masaki," jelas Kariya kemudian. Fey kembali mengangguk.

"…um, apa maksudmu soal Alpha dan Beta yang tadi? Tidak bisa ketemu. Aku tidak mengerti," Kariya kembali berucap, masih ditujukan pada Fey. Sementara Fey langsung menyenderkan tubuhnya di dinding, dan kembali berkata;

"Alpha dan Beta sudah tidak ada di dunia ini. Kau tidak akan bisa menemukan mereka berdua," jelas Fey, Kariya makin bingung dibuatnya.

"Maksudmu? Aku sama sekali tidak menger-"

BUAAAAK!

Dengan gerakan cepat, Fey langsung memukul perut Kariya, membuat anak berambut tosca itu ambruk seketika.

Hikaru langsung membelalakkan matanya, agak panik dan heran.

"Kenapa Fey?" tanya Hikaru takut-takut. Fey langsung memandang dingin ke arah Hikaru, lalu menyeringai.

"Khihihi … kau tenang saja Hika-chii, menurutku, anak ini menarik juga. Sekarang, kita akan membawanya ke Markas!" jelas Fey masih memasang seringai liciknya. Biasanya, Hikaru akan langsung mengangguk ketika Fey berhasil mendapatkan 'mangsa' baru, namun kali ini justru berbeda, Hikaru langsung membantah perkataan Fey, dan berani memukul anak berambut kelinci itu.

"AKU TIDAK MAU FEY! KAU BOLEH SAJA TERUS MENJADIKAN MURID-MURID DI SINI SEBAGAI SASARANMU. TAPI TIDAK UNTUK KARIYA!" Hikaru langsung berteriak dengan kencang, sudah tidak tahan akan perlakuan Fey. Sementara Fey hanya memasang wajah heran, dan kembali menyeringai.

"Hei hei, kau sudah lupa ya? Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, maka…," Fey semakin mendekatkan wajahnya pada telinga Hikaru, dan berbisik pelan,

"…aku akan membunuhmu-"

BUAAAAKK!

Dengan gerakan kilat, Hikaru langsung memukul wajah Fey dengan keras, membuat anak berambut kelinci itu mundur secara perlahan-lahan. Bisa dilihat jelas, saat ini darah mulai keluar dari sudut bibir dan hidungnya. Hikaru semakin menatap geram ke arah Fey.

"Sudah cukup aku menuruti semua perintahmu Fey! Kau boleh saja bertindak secara leluasa di bawah pengawasan Pamanku! Tapi, jika kau berani memaksaku, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu pada Pamanku!" Hikaru semakin berteriak dengan kencang. Perlahan, Fey mulai bangkit kembali, dan kembali menanggapi ucapan anak shouta di depannya itu.

"Cih! Ternyata pukulanmu boleh juga. Sekarang aku baru tahu kenapa Pamanmu tidak membuangmu! Ternyata kau cukup hebat juga," Fey kembali berjalan ke arah Hikaru, dan tepat berdiri sejajar dengannya. Setelah itu, ia kembali berjalan, hingga bahunya, dan bahu Hikaru—yang pasalnya tinggi mereka tidak terlalu jauh—, langsung bertubrukan dengan pelan.

"…dengar ya … kau harus tahu Hika-chii! Reiji-sama, tidak membuangmu, karena kau bisa dijadikan alat olehnya, bukan karena dia kasihan padamu. Lagipula … seberapa mungkin kau akan mengadukanku pada Pamanmu, hah? Kukira, dibandingkan kau, dia jauh lebih percaya padaku! Karena menurutnya, kau tidak lebih dari sampah terpuruk yang tidak pernah mau bangkit!" Fey langsung mengatakan kata-kata sarkasmenya tepat di depan Hikaru. Setelah itu, ia langsung berjalan pergi meninggalkan Hikaru dengan membawa Kariya—tepatnya menjabak rambutnya dan menyeretnya dengan kasar—.

"TUNGGU!" namun, Hikaru langsung menghentikan langkah pemuda kelinci itu, dan sempat menoleh ke arahnya kembali.

"Ada apa lagi, hm? Kau mau menangis dan memohon-mohon di depanku, agar Pamanmu mau mengakuimu, hah?" tanya Fey dengan acuh tak acuh.

Hikaru semakin mengepalkan tangannya, geram.

"Lepaskan Kariya!" Hikaru berkata dengan tegas.

"Tidak akan," Fey hanya menjawab dengan nada malas.

"Kalau kau tidak mau melepaskan Kariya…," Hikaru langsung berbalik dan menatap Fey dengan geram.

"Ada apa Hika-"

"AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Hikaru langsung menatap Fey dengan—sangat— tajam. Membuat sang pemuda kelinci terhenyak dengan ucapannya barusan. Namun, sesaat setelah itu, Fey langsung kembali menyeringai.

"Coba saja kalau bisa!"

Hikaru langsung maju dengan gerakan sangat cepat. Bahkan, Fey-pun tidak menyangka kalau anak itu mempunyai kekuatan seperti itu.

"Kejadiannya bermula, saat keponakanku, Hikaru, mengikuti sebuah lomba Karate tingkat SMP, dan menang menjadi juara pertama."

DEG!

Fey langsung terbelalak begitu teringat ucapan Reiji. Memang benar, selama ini, di Arakumogakuen, Hikaru adalah siswa yang tergolong pendiam, dan menyukai sepakbola. Tapi … sepertinya, Fey sudah lupa akan masa lalu Hikaru, masa lalu yang mengatakan bahwa ia adalah seorang karateka muda berbakat. Dengan cekatan dan mencoba untuk tenang, Fey langsung mengeluarkan Death Scythe miliknya, lalu menggeletakkan Kariya di lantai. Dengan cukup tenang, ia langsung berlari ke arah Hikaru dan memandangnya dengan tajam.

TAP! TAP! SREEET!


.

.

.


"Reiji-sama, setelah ini, apa yang akan kita lakukan?" si Dark Brown langsung berlutut hormat di hadapan pimpinannya itu. Sementara Reiji, langsung duduk tenang di kursinya, dan memandang ke arah anak buahnya itu.

"Hm … hm, karena kita sudah mempunyai Gelel Stone yang pertama, maka…," Reji langsung menatap tabung air yang ada di ruangan itu, yang berisi seorang pemuda manis bermata sapphire blue.

"Kenapa anda menatap ke arahnya, Reiji-sama?" tanya si Red Violet, menatap sinis ke arah tabung air itu.

"Hei, bukannya kalian pernah bilang padaku, kalau anak itu mempunyai kemampuan meramal, benar?" tanya Reiji pada kedua anak buahnya yang setia itu. Sementara yang ditanya langsung saling berpandangan, dan mengangguk singkat.

"Memang benar, dia mempunyai kekuatan meramal yang hebat. Makannya itu, saat kami masih di jalanan, dia lebih banyak disukai oleh banyak orang dibanding kami, karena … orang-orang menganggap kemampuan meramalnya itu sangat hebat. Dan, yang membuat kami kesal…," si Red Violet langsung memandang kembali tabung air itu—dengan penuh tatapan kebencian—.

"…dia membantu seorang Polisi, untuk menangkap Penjahat, dengan kemampuan meramalnya. Dan menurut informasi yang kami dapatkan, Polisi itu adalah kerabat dekat dari Police Inazuma Junior!" lanjut si Dark Brown, si Red Violet mengangguk setuju.

"Kalau begitu, cukup berbahaya juga! Apalagi kalau dia adalah Polisi yang hebat," Reiji menatap tabung air itu dengan serius. Mengamati setiap inci tubuh anak yang ada di dalam sana.

"…sebenarnya menurutku, dia bisa digunakan sebagai alat yang hebat, tapi…," Reiji kembali menggantungkan kalimatnya, kali ini langsung menatap kepada kedua anak buahnya.

"MARCO! GIANLUCA! CEPAT KALIAN KUMPULKAN INFORMASI TENTANG POLISI ITU! LALU…,"

"…Setelah itu, mintalah bantuan pada Tim 'Zankoku na'!"

"BAIK! REIJI-SAMA!"

-To Be Continue-


~Question 2~

2. Siapa Polisi misterius yang dimaksud di chp ini? Karena jawaban case 1 sudah terjawab, maka kalian bisa tahu siapa Polisi itu dengan pertimbangan dari jawaban case 1!

Mori: Halo minna~ maaf saia telat update T.T, tugas sekolah kembali numpuk -_- makannya, saia juga usahain update tahun ini terus(?), soalnya tahun depan udah ujian TAT/DL/. Eh, iya, soal yang case kemarin, yang benar adalah MARCEL VINDER ^w^ selamat-selamat ^^ anda langsung kepikiran kalau mereka Orpheus ya ^^ hehe, sebenarnya kalau kalian yang bingung, saia ada kata2 tambahan lho(?), yang Dark Brown, 'kan punya tatapan sinis (dan Gianluca itu rada sinis), soal si Sapphire, 'senyumannya' itu ^^ kalau bisa nebak dengan cekatan 2 orang itu, yang satunya pasti udah jelas Marco :D. Ok, bales review~

Marcel Vinder

Halo lagi ^^ makasih anda udah sempetin review fict gak bermutu ini :3 *terharu kayak Larva(?)*. Eh, dan … JAWABAN ANDA BENAR! SELAMAT ^W^ maaf saia gak bisa kasih hadiah TAT, maunya sih yang jawab boleh request chara yang mau dimunculin, tapi… karena fict ini akan sangat rumit banget kalau charanya kebanyakan, nanti fictnya jadi kacau T.T, sekali lagi maaf (_ _). Yok, ini chp3~ semoga suka~

Kimagure 'Aya' Author

Halo Aya-san :3 eh… kependekan ya? .w./plak/ wah maaf, soalnya, itu BARU PERTAMA KALINYA(?) saia bikin 1 chp dengan word kurang dari 4k+ :3. Dan, di sini Kyou udah ketemu Tenma walau cuman sebentar (dan Tenma jadi galak gara2 dia bingung sama ingatannya sendiri). Yok, ini chp3nya~

Lunlun Caldia

Halo Lunlun-nee ^^. Iya-iya~ trio yg di case itu dari IE, dan sudah terjawab :D mereka trio Orpheus~/plak/. Nah, ada case lain muncul lagi ^^/plak/, silahkan kalau tau jawab aja~ ini chp3nya ^^

MidoPikoSendoTenma

Ya, halo Ina-san yang masih bertahan dengan ava Boboiboy *I love Boboiboy*/shotdead/. Eh, emang anda belum nge-cek wiki? O_O, ah! Kan di wiki katanya Ina-san generasinya kurang baik(?), jadi, itu penname bisa berubah lagi ya 0_0 *Gabinya itu*. Nah, ada yang nyadar, kalau adegan di ruang musik itu rada gaje. Soalnya pas saia ketik juga kayaknya ini malah nyambung ke music o.o/slap/. Dan, mungkin mulai chp ini musik gak terlalu melajalela(?). Yok, ini chp 3nya~

Segini curcol gaje Author. Soal case-nya, pasti taulah kalau Polisi itu dari IE *karena trionya juga*, dan polisinya sekitar 15 tahun ^^. Silahkan jawab, and, see you in next chp…xDD.

-Mori Kousuke18-