Prolog

Disclaimer : Kuroshitsuji © Yana Toboso

Warning : Typo(s) Yaoi, BL, Sebastian MichaelisxCiel Phantomhive

Genre : Angst/Romance

Rating : T

Fic ini menceritakan tentangperasaan Sebastian dan Ciel saat mereka meninggalkan mansion Phantomhive.

Seperti pagi-pagi yang biasa dijalani sang pemuda bersurai kelabu setiap harinya, sang butler abadinya membangunkannya dari tidurnya, serta membawakan sarapan seperti biasanya. Tapi kaliini tidak bisa disebut biasa, karena hari ini adalah hari pertamanya tidak mendengar kekacauan seperti biasa. Hari ini begitu tenang tidak ada tangisan si tukang kebun yang idiot, teriakan si maid ceroboh, dan ledakan yang dilakukan si koki bodoh. Hari ini begitu tenang, karena sekarang pemuda kelabu ini tidak berada di mansion kesayangannya. Ya sekarang dia bukanlah manusia, dan sekarang dia juga tidak berada di dunia manusia lagi.

"Pagi, Tuan muda" sapa pria tinggi berpakaian serba hitam padanya, kali ini juga tidak seperti biasanya. Bukan senyuman yang menghiasi wajah sang butler abadi.

"Pagi" jawab pemuda kelabu itu.

Lama mereka terdiam sampai sang majikan mebuka mulutnya untuk memulai parcakapan.

"Sebastian, bagaimana kabar 'mereka'?" tanya sang majikan pada butlernya.

"Maaf, Tuan saya tidak tahu" jawab sang butler.

Ciel –si pemuda kelabu– hanya bisa menghela nafas, bukan jawaban yang dia inginkan yang diterimanya dari sang butler, entah kenapa dia ingin mendengar gurauan sang butler. Tapi mungkin 'Sebastian'-nya marah padanya, dada Ciel sakit saat mengingat kenyataan itu, kenyataan bahwa Sebastian-nya membencinya.

"Keluarlah Sebastian, aku sudah selesai" katanya pelan.

Tanpa harus mengulangi perkataan sang majikan Sebastian segera membereskan sarapan sang tuan muda.

"Saya permisi" katanya seraya mendorong trolinya.

Sebartian menutup pintu kamar Ciel dengan pelan, saat itulah bulir-bulir asin mengalir di pelupuk mata Ciel, yang dirasakannya sekarang sangat berbeda dari biasanya. Biasanya dia selalu merasakan kehangatan yang menyelimutinya, tapi sekarang yang dia rasakan kepedihan yang melebihi dari biasanya, sakit dan sepi yang menyelimutinya.

"Maaf, Sebastian" entah kenapa saat menyebut nama 'Sebastian' hatinya terasa sangat sakit, air matanya 'pun semakin deras mengaliri pipi porselennya.

~OoO~

Setelah menutup pintu kamar sang master Sebastian langsung menuju dapur untuk mempersiapkan keperluan sang tuan, tapi ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.

Sakit? Ya sakit, hatinya sakit saat melihat tuan muda-nya bersedih. Kenapa? Kenapa disaat seperti ini dia tidak bisa tersenyum seperti biasanya. Tidak bisa bersendagurau, atau menghibur master-nya seperti biasa.

"Maaf, Tuan Muda" gumamnya.

To Be Continued

Ehehehe, saya update cerita baru lagi nih –plak–

Maaf ya kalau masih pendek, soalnya ini baru prolog

Ehehehe

Tetap minta kritik dan sarannya ya ^^