"Sasuke? Tumben bangun pagi?"

Sasuke mengucek kedua matanya malas seraya bergumam pelan—sepertinya ia masih mengantuk. Dengan piyama biru muda yang masih melekat di atas tubuhnya ia membuka pintu geser kaca yang ada di dalam kamarnya, kemudian berjalan pelan menuju balkon.

Ia sama sekali tidak menggubris pertanyaan sang tetangga yang kebetulan memiliki kamar berseberangan dengan kamarnya dan juga sekolah yang sama dengannya selama ini. Ia hanya diam.

"Pagi yang indah, 'kan?" tanya seorang gadis dari arah seberang balkon kamar Sasuke seraya menghirup dalam-dalam udara sejuk di pagi hari. Mata hijau hutannya memandang takjub hamparan bukit luas dari atas balkon kamarnya dengan beberapa rumah kecil yang bermukim di sekitar bukit tersebut.

Sasuke mengacak-acak pelan rambut raven kebanggannya dan menoleh ke arah timur. Benar juga, matahari sedang terbit—membiaskan cahaya berwarna kemerahan di hamparan atap dan dedauan di sekitarnya.

"..."

"Lain kali, bangunlah pagi seperti ini. Udara pagi sangat menyejukkan, lho!"

"..."

"Apalagi kalau jogging, pasti tambah segar."

"..."

Sasuke mendengus pelan seraya menggaruk perutnya yang terasa gatal. Kapankah gadis cerewet ini akan berhenti mengoceh? Tiap hari tidak ada habisnya—rutuk Sasuke dalam hati.

"Ah ya, aku lupa." Gadis berambut merah muda itu mengerjap sesaat seolah mengingat sesuatu yang penting. Ia memiringkan kepalanya dan berkata, "Selamat pagi, Sasuke!" ucapnya seraya memasang senyum paling manis yang dia bisa.

"..."

"..."

"..."

"... Hn."

Sakura tertawa ringan.

Satu kata pertama yang digumamkan Sasuke pada pagi hari ini—untuk Sakura Haruno. Sahabat sekaligus tetangganya sejak lahir.

"Ayo, siap-siap ke sekolah!"

"..."

WEDDING MASK

Naruto © Masashi Kishimoto

Dark Silverous Proudly Present

The SasuSaku FanFiction

Enjoy!

.

.

.

Begitulah keseharian Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno selama lima belas tahun belakangan. Bangun pagi, berangkat sekolah bersama, telat bersama, kelas yang sama, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dilakukan secara bersama-sama—tidak dalam semua kegiatan tentunya.

Di samping karena mereka bertetangga dan bersahabat, orang tua mereka juga sudah lama mengikat tali persahabatan sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Jadinya ya, seperti ini.

"Tidak makan dulu?" tanya ibu Sakura yang kini sedang berada di meja makan. Ibu satu anak itu menatap anaknya dengan wajah setengah mengantuk.

Sakura menggelengkan kepalanya cepat seraya memasang High heels miliknya dengan terburu-buru. "Tidak Kaa-san, aku harus segera berangkat ke rumah sakit. Ada pasien yang harus kutangani segera ..."

Belum sempat ibunya berkata apapun, Sakura sudah melesat keluar pintu dengan salamnya seperti dulu-dulu.

"Aku berangkat, Kaa-san, Tou-san!" pekik Sakura saat melewati pintu utama kediaman rumahnya.

"Hati-hati!"

"Iyaaaa!" Balas Sakura terdengar sayup-sayup karena Sakura sudah menjauh dari kediaman rumahnya.

Ibu Sakura hanya bisa menghela napas berat. Tangannya memutar-mutar sendok di cangkir teh miliknya yang masih terisi penuh."Anakmu itu, dari dulu tidak pernah berubah ..." gumam Ibu Sakura—Mebuki Haruno, memandang suaminya dengan tatapan; ini-semua-salahmu.

Kizashi Haruno, menatap malas sang istri. Kemudian ia hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali sibuk berkutat dengan sarapannya.

Ckk … Dasar suami tidak pedulian.

~.~.~.~.~

Demi apapun di dunia ini, Sakura sedang tidak punya banyak waktu! Pasiennya sedang sekarat di ruang UGD sementara dirinya masih setia berdiri di depan halte bus—menunggu, barangkali ada bus atau taksi yang lewat.

Tapi sama sekali nihil.

Tentu saja, siapa juga yang akan naik bus maupun taksi pada pukul setengah enam pagi seperti ini? Jam segini semuanya masih dalam alam mimpi atau minimal masih sarapan pagi. Bukannya berangkat beraktifitas.

"Menyebalkan," gerutunya sebal.

Dan pada saat itu juga, hujan pun turun membasahi bumi. Sakura selalu suka hujan. Hujan dapat membuat pikirannya menjadi lebih tenang dan bersih, tapi tidak untuk sekarang ini.

Ia harus, harus cepat sampai ke rumah sakit apapun caranya.

Bagaimana? Jalan kaki?

Gila! perjalanan dari halte ke rumah sakit itu sepanjang 10 kilometer. Kalaupun ia berhasil sampai ke rumah sakit, pasiennya dipastikan sudah—ya kau tahulah apa.

Dan yang bisa Sakura lakukan hanyalah menunggu sambil mondar-mandir di bawah guyuran gerimis di pagi hari. Titik-titik air kecil yang membasahi kepalanya membuatnya makin gusar.

Tiin tiiin

Sakura memicingkan matanya sesaat. Rasanya ia tahu mobil siapa ini.

Kaca mobil tersebut terbuka secara otomatis, menampilkan sesosok pemuda tampan berpakaian seadanya—menatapnya datar dan memberikan isyarat padanya agar segera masuk ke dalam mobil.

"Sasuke, kau datang pada saat yang tepat!" seru Sakura senang dan langsung melompat masuk ke dalam mobil hitam si pemuda.

Sasuke tidak membalas perkataan Sakura. Ia hanya memutar setirnya agar mobil itu berbalik memutar arah dan mengendarainya dengan cepat.

"Apa yang kau lakukan di pagi hari seperti ini dengan—enggh—kaos dan celana pendekmu?" tanya Sakura seraya menggaruk pipinya kaku.

Sasuke menggaruk lengan tangannya dengan wajah datar. "—Jalan-jalan?" jawabnya asal-asalan.

Sakura tertawa kecil, "Jalan-jalan seperti itu sama saja 'mengundang', Sasuke." Ia menggetok kepala Sasuke main-main.

Sasuke mendengus. "Jadi, menurutmu aku ini, 'menggairahkan'?" tanya Sasuke dengan datarnya.

Sakura memutar kedua bola matanya malas saat mendengar kata-kata 'menggairahkan' terlontar dari mulut pemuda stoic tersebut.

"Jangan ge-er, deh," bantah Sakura dengan wajah pura-pura muntah. Ia menurunkan pelindung sinar matahari di ujung atas mobil dan bercermin dengan kaca yang terselip di sana.

"Itu kenyataan," kilah Sasuke enteng. Ia membelokkan mobil dengan kecepatan kilat, menyebabkan genangan air yang tumpah di jalan raya terciprat kencang.

"Kenyataan yang pahit," balas Sakura asal. "Ayo percepat jalannya, pasienku sedang merenggang nyawa!" perintah gadis itu dengan penuh semangat.

"Hn."

.

.

.

Selesai jam kerja, Sakura segera bergegas mengambil tas kerjanya dan berjalan pulang. Ia tidak sabar untuk sampai ke rumah dan berendam dalam bak air panas.

Tapi nyatanya ada seekor ayam—ehm! Maksudnya sesosok manusia seperti ayam menghalangi jalannya menuju rumah.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya sang gadis berambut merah muda itu bingung. Tidak biasanya Sasuke kemari—pasti ada maunya.

Waktu menunjukkan jam lima sore dan Sakura menemukan Sasuke tengah terduduk di ruang tunggu rumah sakit—dengan pakaian formal pastinya. Masa Sasuke masih tetap dengan kaos dan celana pendek tidurnya?

Sasuke berdiri dan berbalik memunggungi Sakura. "Kita disuruh pergi untuk makan malam," katanya singkat.

Sakura menaikkan alis. "Maksudmu, kita sekeluarga?" tanya Sakura lagi. Ia mengejar langkah Sasuke yang mendahuluinya dan merapikan kemeja merah mudanya sebaik mungkin.

"Hn, kau pikir hanya kita berdua dengan candle light dinner, begitu?" ejek Sasuke masih terus berjalan ke depan. Ia melirik sekilas sahabatnya dengan tatapan datar.

Sahabatnya ini, tidak berubah. Menanyakan dan menyatakan hal-hal yang tidak penting.

"Your dream!" bentak Sakura yang memukul pundak Sasuke kecil. Wajahnya mengerut-ngerut kesal. Sejak kapan sahabat dan tetangganya ini jadi mengidap penyakit narsis tingkat akut?

"He, masa aku pakai baju kerja untuk makan malam di restoran?" tanya Sakura dengan tatapan sebalnya. Mereka sudah masuk mobil dan Sasuke sudah mengemudikan mobilnya dengan santai—tidak seperti tadi pagi.

Sasuke memutar kedua bola matanya bosan. Ia membatin seraya mengejek, 'Dia pikir kita akan mengadakan perjamuan kudus apa.'

Sakura yang tidak mendengar respon apapun dari Sasuke mulai sebal. "Hei, Sasuke!"

"..."

"Sasukeeeeeee!"

"..." Dia tetap diam tak memberi respon.

"Bumi pada Sasuke, bumi pada Sasuke! Harap jawab!"

"..."

"Sasuke Uchihaaaa!"

"..."

"Sasuke-kuuuuun~! Kau—"

"Berhenti memanggilku seperti itu, menggelikan," potong Sasuke cepat. Wajahnya mengkerut begitu mendengar dirinya dipanggil dengan suffix-kun oleh sahabatnya.

Sakura tertawa. Ia jelas tahu mengapa Sasuke tidak menyukai suffix-kun yang diucapkannya tadi.

Dahulu, dahulu kala—oke ini berlebihan—si pemuda Uchiha ini selalu dikerubuti oleh para gadis-gadis yang memanggilnya dengan sebutan 'Sasuke-kun'. Panggilan itu mengingatkannya akan keganasan para perempuan-perempuan di sekitarnya.

Oh ya, kecuali Sakura.

Sasuke bahkan tidak yakin kalau Sakura itu perempuan.

Sakura Haruno tidak pernah memujanya. Ia tahu itu. Walau tiap hari bersama dirinya; pagi, siang sore, malam—gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda memujanya. Atau setidaknya belum. Entahlah, Sasuke tidak tahu.

Kau ingin Sakura juga ikut memujamu, eh, Sasuke?

Sakura Haruno tidak pernah memperlakukannya istimewa. Dia selalu memperlakukan Sasuke layaknya teman biasa, seperti yang lain. Tidak seperti perempuan-perempuan lain yang memperlakukannya layaknya dewa. Dan Sasuke bersyukur atas hal tersebut.

"Sushi Kaji?" pekik Sakura membuat Sasuke kembali tersadar akan pikirannya yang tidak jelas.

"..."

Sakura berdecak kagum. Gila, restoran bintang lima dengan ikan paling segar sudah ada di depannya.

Seumur-umur, Sakura baru pertama kali ke sini. Ada angin apa orang tua mereka sampai mengajak ke restoran mewah seperti ini?

Masih dengan mata berbinar kagum, ia dan Sasuke berjalan memasuki restoran tersebut. Begitu keduanya masuk, Sakura dimanjakan akan kumpulan Sushi yang berderet memanjang di sekitar etalase dan background akuarium ikan-ikan segar di belakangnya.

"Ah, Sasuke! Sakura-chan! Kalian datang juga," panggil Mikoto Uchiha seraya melambaikan tangannya lembut. Senyum manis terpancar dari wajah cantiknya.

Sakura tersenyum sopan sembari memberi salam. Ia melirik ibunya yang memberinya isyarat untuk duduk di sampingnya segera.

"Perjalanan lancar?" tanya Kizashi basa-basi. Ia menyesap sake di gelas kecil miliknya kemudian tersenyum sekilas.

Sasuke mengangguk dan menjawab, "Ya." Ia segera memanggil seorang pelayan agar membawakan daftar menu untuk mereka.

"Yokatta, kupikir Sakura-chan akan lembur kerja hari ini." Mikoto Uchiha mendesah lega dan menerima buku menu yang diberikan seorang pelayan padanya.

"Untungnya tidak, Baa-chan. Untungnya tadi tidak terlalu banyak pasien yang perlu dirawat apalagi di operasi," jawab Sakura seadanya. Ia membuka buku menu dan mulai memilih Sushi.

"Kalaupun Sakura lembur, aku akan seret dia segera ke mari," sembur Mebuki Haruno seraya melirik putrinya dengan senyuman.

Sakura mendelik sebal. Ibunya tidak berubah, seperti biasa—keras dan tegas. Mebuki hanya terkekeh pelan saat mendapati sang putri sedang menatapnya sebal, begitu pula dengan Mikoto, ia juga ikut terkekeh pelan.

Sasuke, Fugaku, dan Kizashi hanya bisa memasang wajah cuek dan datar seraya terus memilah-milah makanan apa yang tersaji dalam buku menu tersebut.

Setelah puas mengutarakan pesanan mereka kepada sang pelayan, mereka kembali berbincang-bincang—lebih tepatnya hanya Sakura, Mebuki, dan Mikoto yang berbincang-bincang. Sesekali Mebuki dan Mikoto tertawa kencang karena melihat ekspresi Sakura.

Sakura merutuki kedua wanita tua yang saat ini tengah ada di samping dan juga hadapannya. Kenapa mereka selalu saja senang menggoda Sakura dengan hal-hal yang membuatnya menjadi salah tingkah?—Oh, dasar orang tua.

"Jadi, dalam rangka acara apa ibu mengajakku makan malam di tempat mewah seperti ini?" tanya Sakura pada sang ibu, berusaha mengalihkan pembicaraan tentunya. Ia tidak mau menjadi lelucon para orang tua karena pertanyaan-pertanyaan aneh mereka.

"Maaf—pesanan anda, tuan, nyonya," ucap sang pelayan memotong pembicaraan kedua keluarga tersebut. Dengan gerakan sigap dan anggun, pelayan itu mulai meletakkan pesanan-pesanan tersebut di atas meja. Iris hijau Sakura berbinar saat mendapati makanan yang ia pesan sudah tersaji rapi di depannya.

Sasuke yang melihat tingkah laku Sakura hanya bisa mencibir pelan. Untung saja Sakura tidak mengetahuinya.

"Selamat menikmati," ucap pelayan tersebut membungkuk sopan sebelum ia berlalu meninggalkan kedua keluarga tersebut.

Mikoto mengangguk dan tersenyum lembut kepada sang pelayan sesaat sebelum sang pelayan itu pergi. "Terima kasih," ucapnya lembut.

.

.

.

"Jadi?" ucap Sakura di tengah-tengah kegiatan mereka yang saat ini sedang menikmati pesanan sushi masing-masing. Seluruh kepala menoleh ke arah Sakura tak terkecuali Sasuke. Sepertinya juga ia penasaran dengan jawaban para orang tua. Sasuke tahu apa yang akan ditanyakan oleh Sakura. 'Jadi, sebenarnya malam ini ada acara apa?' begitulah kira-kira yang Sasuke pikirkan.

Mikoto menatap Sakura lembut. "Ada apa, Sakura?" tanyanya seraya menyumpit sepotong ikan segar yang ada di dalam piringnya.

Umm … Sakura terihat ragu-ragu untuk mengatakannya. Haruskah ia bertanya di saat seperti ini? Mengingat beberapa peraturan tentang tata cara makan yang benar. Tapi hatinya berkata lain, ia ingin sekali menanyakan perihal ini.

"Jadi—"

Sasuke menatap Sakura datar. Walaupun sejujurnya ia juga sangat penasaran. Karena jarang sekali orang tua mereka mengajak mereka makan malam bersama di sebuah restoran mewah seperti ini.

"—bolehkah aku tambah sushi-nya?"

GUBRAK!

Oh, Tuan Uchiha Muda, ternyata pemikiranmu salah total! Sasuke merutuki kebodohan gadis yang ada di sampingnya. Tidak tahu malu!—Batinnya bersungut-sungut.

Mikoto tertawa pelan saat mendapati sang gadis bersurai merah muda itu kini tengah menunjukkan cengirannya kepada sang ibu. Mebuki mendengus melihat kelakuan anak semata wayangnya. "Ya, tentu saja," jawab Mebuki seadanya.

Sakura tersenyum sumringah saat mendapati jawaban dari sang ibu. Sasuke mendengus pelan.

~.~.~.~.~

"Kenyang—" ucap Sakura menepuk-nepuk pelan perutnya.

"Jadi, Sakura, Sasuke," panggil Mikoto lembut, membuat Sakura dan Sasuke menatap Mikoto. Kizashi—ayah Sakura berdehem pelan setelah meneguk sedikit dari segelas ocha miliknya.

Sakura menatap sang ayah bingung. Suasana tiba-tiba berubah menjadi serius, membuat bulu kuduk Sakura meremang. Beda dengan Sasuke yang masih terlihat tenang dengan ekspresi wajah datarnya.

"Malam ini, Tou-san ingin memberitahukan sesuatu kepadamu dan juga Sasuke," ucapnya tegas. Sakura dan Sasuke mengerutkan alis bingung. Serius sekali …

Sakura menatap Sasuke sejenak sebelum ia kembali mengalihkan seluruh perhatiannya kepada sang ayah. "Apa?" tanyanya penasaran.

"Kami—Kizashi, Mebuka, Fugaku, dan juga Mikoto sudah memutuskan—" jeda sejenak, Kizashi merasa was-was untuk mengatakan hal ini. Haruskah ia yang memberitahukan hal penting semacam ini?

Sakura menatap Kizashi lekat-lekat. Mata hijaunya nampak serius mendengarkan ucapan sang ayah. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang, ditambah karena sang ayah menjeda kalimatnya sejenak. Membuat jantungnya berpacu cepat, takut-takut ada kabar buruk yang akan ia sampaikan.

"—aa, biar mereka saja yang menjelaskan," lanjut Kizashi seraya mengalihkan perhatiannya kepada sang istri dan juga dua sahabatnya. Mebuki mendelik saat mendengar ucapan Kizashi.

Sasuke dan Sakura semakin mengerutkan alisnya bingung. Hei—ada apa dengan para orang tua ini? batin mereka bertanya-tanya.

Merasa gerah akan hawa yang tiba-tiba saja memanas, Sakura meyeruput segelas jus jeruknya dengan sopan. Satu tegukan, sukses melewati kerongkongan Sakura. Membuatnya merasa lebih lega.

Mikoto tersenyum lembut, "Biar aku yang menjelaskan."

Fukagu, Kizashi, dan Mebuki mengangguk setuju. "Kami, para orang tua telah memutuskan perihal ini sejak jauh-jauh hari," kata Mikoto santai.

"Berhubung karena kalian sudah cukup umur. Kami, sekeluarga berencana untuk—"

"…"

"…"

"—menjodohkan kalian berdua."

Hening …

Hening …

Hening …

Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi, "Apa?" tanyanya dengan nada biasa, ia merasa seperti ada salah dengan indera pendengarannya.

Sakura kembali meneguk jus jeruknya kembali.

"Kami, menjodohkan kalian berdua," ucap Mebuki lembut namun nadanya menyiratkan ketegasan.

"…"

"…"

"…"

BRUSHHHH—

Sakura menyemburkan seluruh isi jus jeruk yang sempat bermukim di dalam mulutnya. Membuat cairan itu mengenai wajah Fukagu, Mikoto dan juga Kizashi.

"APA?" tanya Sasuke dan Sakura secara bersama-sama, membuat para orang tua memandang mereka kaget.

Sasuke mendelik jijik saat melihat beberapa cairan manis itu menetes dari sudut bibir Sakura. Lupakan soal itu! Yang terpenting saat ini adalah mengenai apa tadi katanya? Perjodohan? What?!

Mikoto mengambil beberapa lembar tissue di dalam tasnya. Mencoba membersihkan wajahnya dengan gerakan yang telaten dan anggun. Sedangkan Fugaku dan Kizashi masih nampak cuek-cuek saja.

"Kalian—" ucap Mebuki menghela napas panjang, "—dijodohkan."

To Be Continued

Yosha! Akhirnya kelar :P maap banget nih ya buat Silver karena hasilnya malah jadi abal gini setelah aku lanjutin. Pertama-tama kita mau mau kenalan dulu nih. Ini akun collab kita (Dark and Silver) penggil saja begitu. Identitas asli disembunyikan karena ya begitulah (?) *sok misterius*

Ide keseluruhan cerita ini semua berasal dari Silver saya hanya mengikuti alurnya saja. Beberapa kata-kata ada yang saya permak dan juga tambahkan setelah mendapatkan ijin dari dia. Mungkin hasilnya kurang memuaskan? maklum ya -.- *lirik tumpukan utang di akun sebelah*

Gak banyak omong…

Bagi kalian yang bersedia baca cerita ini jika berkenan, bolehkan kami meminta kalian untuk meninggalkan beberapa jejak-jejak berupa review, concrit, dan saran? :D

Sebelumnya, kami ingin mengucapkan Terima Kasih bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca fic gaje ini.

Sign's

Dark and Silver