Gadis berambut merah muda pucat itu melangkah menyusuri lorong-lorong gelap dan berbau lembab di penjara bawah tanah Sunagakure itu—tempat para kriminal maupun mantan missing-nin ditahan. Aura suram dan tanpa kehidupan menyeruak kuat disini. Meski dikawal dengan penjagaan Anbu di kiri kanannya, Sakura masih merasa bergidik sedikit.

Kriminal itu—entah kenapa, tidak benar-benar mati seperti yang Sakura dan Nenek Chiyo kira sebelumnya. Seperti saat pertarungan mereka dulu, ia begitu tangguh dan sulit dikalahkan—bahkan ketika tubuh imitasinya sudah hancur berkeping-keping. Bahkan ketika satu-satunya organ yang tersisa, sekaligus pengingat kalau ia masih manusia telah remuk berdarah-darah, ia masih sanggup bertahan hidup.

Mungkin ketika ia ditinggalkan sendirian di gua itu bersama-sama dengan ratusan pasukan bonekanya –yang kini sudah remuk disana-sini— ,sepertinya ia hanya sekarat. Belum mati.

Temari sebelumnya memberitahu, bahwa pasukan Anbu Sunagakure yang datang ke gua bekas markas Akatsuki beberapa waktu lalu untuk membawa pulang mayat missing-nin itu dan melakukan pengecekan pada sisa-sisa pertarungan—menemukan tubuhnya yang ternyata masih berdenyut sekalipun lemah. Ia belum mati. Hanya sekarat.

Dan bukan sesosok boneka yang mereka jumpai, melainkan manusia sempurna. Dengan kulit, bola mata, dan rambut asli. Tanpa kayu maupun siikon imitasi.

Sakura tak sanggup menahan keterkejutannya ketika mendengar fakta ini.

Reaksi petinggi-petinggi Sunagakure begitu mengetahui fakta ini berbeda-beda. Para tetua ingin agar missing-nin sekaligus kriminal tingkat tinggi itu segera dieksekusi begitu menginjak pasir Sunagakure. Gaara ingin menahannya dulu untuk sementara waktu untuk menginterogasinya sebelum dieksekusi. Kankuro—sangat kontras dengan dua pendapat sebelumnya, melihatnya sebagai aset Sunagakure yang perlu dimanfaatkan untuk membangkitkan kembali pasukan pengguna kugutsu Sunagakure yang kini telah lumayan surut pamornya—karena tak adanya Master yang benar-benar menguasai ilmu itu untuk mengajarkannya kepada generasi muda. Kakak Kazekage itu yang agak nyentrik itu sedikit banyak terlihat antusias dengan fakta ini—lebih kepada kekagetan kedua saudaranya.

Dan setelah berjalan beberapa waktu, mereka pun berhenti di lorong paling ujung. Dasar dari penjara bawah tanah yang mirip labirin ini. Sebuah pintu logam tebal terdiam di ujung lorong itu.

Anbu yang berada di sebelah kiri Sakura membuat beberapa segel tangan yang cepat dan rumit—sebelum akhirnya pintu logam itu bergerak membuka, menyingkap sebuah sel gelap yang berada di baliknya. Mereka berjalan memasuki pintu itu perlahan. Sang ninja medis berambut merah muda itu dapat merasakan setetes keringat dingin turun mengecup dahinya.

Ketika pintu sel dibuka, tampak sebuah ruangan gelap dan berbau rayap. Sesosok badan —hampir tak terlihat— tengah duduk membelakangi pintu jeruji itu. Aura dingin menguar dari sekelilingnya.

"Jika kalian datang untuk menjemputku ke tempat interogasi, itu sia-sia. Apapun yang kalian lakukan, aku takkan buka mulut," katanya datar—namun dengan nada menusuk. Sakura tersentak. Suara itu..


Katalis

A SasoSaku (maybe..) fanfiction

Genre: Drama/Hurt/Comfort

Rate: T

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Setting canon yang dimodifikasi, OOC (mungkin), romance gagal.


"Jika kalian datang untuk menjemputku ke tempat interogasi, itu sia-sia. Apapun yang kalian lakukan, aku takkan buka mulut," katanya datar—namun dengan nada menusuk. Sakura tersentak. Suara itu..

Suara yang sangat dikenalnya. Suara yang sanggup membuat bulu romanya berdiri sekalipun ia hanya berbisik. Suara yang..uh, begitu banyak kenangan buruk dari sang pemilik suara itu.

Sakura dapat merasakan kedua Anbu di sebelahnya mengernyitkan kening ketika mendengar kata-kata lelaki itu barusan.

"Jaga mulutmu, Akasuna-san," desis Anbu itu sambil menggertakkan gigi. "Kami disini bukan untuk menjemputmu, tapi untuk memeriksa keadaanmu. Seorang ninja medis akan melakukannya. Kazekage-sama meminta kerjasama Anda."

Hening sesaat. Hanya terdengar helaan nafas yang memburu dari Sakura, serta suara gemerincing kunci di genggaman tangan salah satu Anbu.

"Hmm? Ada apa dengan bocah berambut merah itu sampai mau repot-repot mengkhawatirkan keadaanku?" gumamnya hampir tanpa suara dengan sarkasme yang tidak ditutup-tutupi. Sakura menaikkan alis mendengar kata-kata tajamnya. Sepertinya dalam keadaan apapun, sifatnya yang agak blak-blakan itu tidak terlalu berubah.

Anbu di sebelah Sakura terlihat menahan kepalan tangannya. "Tunjukkan sedikit rasa hormatmu pada Kazekage-sama, Akasuna-san." Ancamnya tegas. Lelaki di sudut ruangan itu tak bergeming—entah dia tak mendengar atau memang tak mau repot-repot membuang waktu untuk merespon. "Haruno-san, kami akan berjaga di depan," kata kedua Anbu itu, sebelum beranjak pergi meninggalkan Sakura.

Meninggalkan gadis berambut sewarna harummanis itu seorang diri dengan salah satu kriminal paling berbahaya di dunia ninja.

Hening yang tak mengenakkan menyelimuti ruangan sel itu sekali lagi. Sakura ragu sesaat, sebelum berjalan ke sudut menghampiri calon 'pasien' (uhm, pasien?) yang akan diperiksanya sambil membawa kotak obat.

Tangan gadis itu terjulur ke depan dengan ragu, sebelum menepuk pundak sang narapidana untuk meminta perhatiannya. Bunyi 'tuk' pelan bergema di ruangan sel itu.

Setelah semenit yang terasa begitu lama bagi seorang Haruno Sakura, terdengar suara gumaman serak yang memecah kesunyian di udara.

"Siapa?"

Sakura menelan ludah sesaat. "Uhm, ini aku, ninja medis yang akan memeriksamu. Mohon kerjasamanya..uhm, Aka—"

"Sasori. Panggil aku Sasori." perintahnya serak.

"Uhm..mohon kerjasamanya, Sasori." Tak perlu disangkal, frasa nama itu terasa aneh di ujung lidah gadis berambut merah muda itu. "Tolong telentangkan badanmu."

Tak ada respon. Sakura mengernyitkan kening, inner-nya sudah berteriak-teriak konyol tak sabar di dalam kepalanya. Tanpa disangka-sangka, kepala merah di depannya itu menoleh ke belakang—

—Iris anggur hijau yang berkilau milik Sakura bertemu dengan sepasang iris hazel pucat itu.

Sakura menahan napas.


Sakura menahan napas.

"Kau..?" si pemilik iris hazel berbisik serak, sebelah alisnya terangkat. "Biar kutebak. Kau kemari untuk meracuniku, huh, bocah?"

Gadis berambut merah muda itu menahan senyum geli yang hendak terukir di bibirnya mendengar untaian kalimat yang diucapkan dengan nada datar barusan. Inner Sakura membisikkan sesuatu di dalam kepalanya, memutuskan untuk berbasa-basi sebentar dengan calon 'pasiennya'.

"Kalau iya, memang kenapa?"

"Hoh, bagus," ia menyeringai tipis. "Kalau begitu, cepat lakukan. Aku benci menunggu."

Kata-kata familiar itu lagi. Sakura tersenyum tipis sedikit ketika mendengarnya. Hoo, beberapa saat yang lalu mereka berdua tengah berada di medan pertempuran, dengan tujuan untuk membunuh satu sama lain—sementara sekarang mereka berdua sedang duduk 'santai', dengan sedikit 'obrolan' formal tanpa kunai maupun satetsu yang saling beterbangan di sana-sini.

Takdir memang aneh.

"Tentu saja tidak," gumam Sakura sambil tersenyum tipis. "Aku disini untuk menjalankan perintah Kazekage-sama untuk memeriksamu, berhubung dengan adanya program kerjasama pertukaran ninja medis antara Suna dan Konoha."

Hening sekali lagi.

"Sebelumnya kupikir kau akan langsung membunuhku ditempat begitu melihatku," lanjut Sakura dengan tawa yang agak dipaksakan—untuk mencairkan suasana.

"Tadinya aku mau begitu."

"..Apa?!" sergah Sakura, langsung dalam posisi kuda-kuda—siap meremukkan sosok di depannya ini dalam satu kepalan tangan.

"Tentu saja tidak, bodoh." gumamnya datar sambil melempar pandangan merendahkan ke arah Sakura. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai tipis. Gadis berambut merah muda itu menghela napas, antara lega dan tetap waspada.

"Tak kusangka kau punya sedikit rasa humor." Desis Sakura dengan nada yang menyiratkan sedikit kelegaan.

"Sebaiknya kau belajar untuk tidak terlalu memperlihatkan emosimu, bocah."

"Itu lebih baik, daripada tak mempunyai emosi sama-sekali seperti—" Sosok berambut merah itu mendelik. Sakura tak melanjutkan kata-katanya, merasakan bahwa sepertinya ia telah mengatakan sesuatu yang salah. Ia menggigit lidah perlahan.

Setelah beberapa menit keheningan yang terasa menyesakkan, Sakura memutuskan untuk langsung menjalankan tugasnya. Ia maju sedikit mendekati lelaki di depannya, tangannya meraih kancing piyama lusuh tipis (mungkin benda itu lebih tepat disebut kain lap yang dijahit saking lusuhnya..) khas baju penjara yang dikenakan Sasori, hendak membukanya untuk memudahkan pemeriksaan. Tangan milik sang narapidana tetap diam di samping kedua tubuhnya, tak menepis gerakan tangan Sakura.

"Hidup seperti ini..memang lebih mudah," gumamnya serak hampir tanpa suara—Sakura sesaat tak yakin apakah ia benar-benar berbicara barusan atau tidak.

" Apa, Sasori?" tanya Sakura agak ragu—berharap ia masih ada sedikit kesabaran untuk mengulang kata-katanya barusan. Cahaya redup kebiruan tampak di telapak tangan kanan gadis itu, bersiap untuk melakukan pemeriksaan.

Jeda sesaat sebelum sosok berambut merah itu menggerakkan bibir pucatnya lagi. Gumaman serak yang diucapkan perlahan terdengar memecah sunyi di udara.

"Hidup seperti ini..tanpa emosi, memang lebih mudah.."


.

.

Bersambung..

.

A/N: Newbie. Uhm *tarik napas*. Akhirnya jadi juga fanfiksi SasoSaku nan gaje ini. Percobaan pertama saya nulis SasoSaku. Maaf kalau hasilnya OOC dan kurang dapet feel-nya. 0.o

Semoga fanfiksi ini bisa turut meramaikan pairing SasoSaku di fandom Naruto Indonesia. ^^ (kalau diperhatikan, penggemar pairing ini sepertinya tidak sebanyak penggemar pairing-pairing lain, ya?)

Terimakasih sudah membaca, saya harap anda menikmati fanfiksi (gaje) ini. Kritik, jika berkenan? :)