Catatan: terobsesi dan sangat terinspirasi oleh fic Usahakan Bunshinmu Steril yang ditulis oleh justaway00 dengan sangat menakjubkan, akhirnya ide fic ini muncul juga. Kalau sempat kalian bisa membaca fic dia, pokoknya keren sangat dan sangat menarik. Okelah, semoga kalian bisa menikmati fic yang sekali lagi terinspirasi oleh Usahakan Bunshinmu Steril. Iklan banget nih tapi sudahlah, selamat membaca~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: kata-kata kasar, kalimat yang sugestif, M-preg.


.

.

.

Baby Bunshin

.

.

.

.

Sudah bukan rahasia lagi bila Hinata menyatakan seluruh perasaannya kepada Naruto saat ia melindungi pemuda yang sangat dicintainya itu dari serangan Pain. Dan bukan rahasia lagi bila Naruto pun membalas perasaan Hinata sekalipun kadang perasaan si pirang masih suka bercabang—memikirkan si merah jambu sesekali. Meski agak pedih, tapi Hinata tidak terlalu memedulikan hal itu. Keberadaan Naruto di sisinya sudah lebih dari cukup, dan ia yakin suatu saat hati Naruto akan sepenuhnya menjadi miliknya. Yah, apalagi belakangan ini mereka selalu menghabiskan waktu bersama-sama di kamar Naruto, melakukan hal ini dan itu, tentu saja tanpa sepengetahuan Neji-niisan maupun ayahnya yang super protektif.

Hinata, ayolah…" Naruto memeluk punggung Hinata dengan erat, mengecup pundak gadis Hyuuga itu perlahan, berharap Hinata berubah pikiran. Hinata tanpa jaket tebalnya yang berwarna biru terlihat sangat seksi, membuat semua darahnya serasa naik semua ke kepala. "Aku tidak sabar lagi-ttebayo…"

"Ta-tapi Naruto-kun… aku bukannya tidak mau, tapi tidak bisa…" Hinata menjawab dengan susah-payah sambil membetulkan tali pakaian dalamnya, wajahnya sangat merah. Selama ini ia selalu menuruti kemauan Naruto, tapi kali ini ia sungguh tidak dapat mengabulkan keinginan pemuda yang paling dicintainya itu. "Sebentar lagi sudah sore, dan aku harus ikut latihan bersama Hanabi dan ayah—"

Naruto mendorong Hinata dengan pelan ke sisi ranjang, berusaha mengubah pikiran gadis itu agar menurutinya. "Tidak masalah, lima menit juga cukup…"

"Ta-tapi kemarin kau juga berkata begitu… dan… dan ter-ternyata kita melakukannya le-lebih dari li-lima jam…" Hinata berargumen, membuang wajahnya ke samping. "A-aku takut ayah curiga, apalagi belakangan ini aku sering pulang agak malam…"

"Ahhhhh…" Naruto menghela napas panjang sambil mengacak-acak rambutnya, tidak tahu harus berkata apa. Kacau juga kalau hubungan mereka sampai ketahuan oleh ayah Hinata, apalagi ia belum siap mental menghadapi Hiashi yang sangat, sangat keras dengan segala hal yang berhubungan dengan para putrinya. Waduh, bisa-bisa benda kesayangannya yang paling berharga itu dipotong sampai habis kalau Hiashi tahu sejauh apa hubungannya dengan sang kekasih.

"Uhhmm, be-besok saja, ya?" Hinata berusaha menghibur Naruto, tersenyum manis. Gadis itu dengan sigap berjalan menjauh ke arah pintu keluar, lantas mengambil gulungan yang sebelumnya ia kerjakan bersama Naruto. Mereka memang biasa memakai alasan belajar bersama sebagai alibi, dan hal itu lumayan berhasil. "Besok a-aku akan melakukan apa saja yang kau m-mau…"

Sambil tersenyum kecut Naruto memandang kepergian Hinata dari apartemennya, bingung bagaimana melampiaskan hasratnya yang sudah menggila. Tega sekali pacarnya itu pergi saat otaknya hanya dipenuhi oleh berbagai pikiran liar, yang hanya bisa diselesaikan oleh—tunggu sebentar.

Kenapa ia bisa bertindak bodoh sekali?

Mendadak muncul bayangan Sasuke yang dengan dingin memandang dirinya, lalu mengatainya bodoh. "Kau itu bodoh, Naruto. Kau orang terbodoh yang pernah kutemui."

Sialan Sasuke!

Dengan cepat Naruto menghempaskan Sasuke dalam bayangannya, lalu mengangguk-angguk pelan. Rencana yang sangat cerdas, yang bahkan dapat mengalahkan kejeniusan siapapun. Ia memang seorang shinobi jenius yang layak menjadi hokage.

Tanpa Hinata ia dapat melampiaskan nafsunya, dan ia pun tidak memiliki batas waktu serta kekhawatiran apapun. Ia tidak perlu takut dihajar Neji atau Hiashi. Ia tidak perlu memikirkan apakah Hinata setuju dengan posisi yang ia mau. Kenapa selama ini hal sejenius itu tidak pernah muncul di benaknya?

Semua keinginannya dapat dipenuhi oleh sedikit modifikasi kage bunshin. Ia cukup memodifikasi kage bunshinnya dengan oiroke no jutsu, lantas akan tercipta tiruan dirinya yang seksi tanpa busana, yang pastinya mau melakukan apa saja yang ia inginkan.

Semuanya. Yang. Ia. Inginkan. Tanpa. Kecuali. Sungguh. Cerdas.

Sambil terkekeh-kekeh mesum, Naruto pun segera berteriak dengan penuh semangat, "Kage bunshin no jutsu~! Oiroke no jutsu~!

.

.

.

Tsunade sampai pingsan dan menampilkan wajah aslinya yang selama ini nyaris tidak pernah terkuak ke khalayak umum ketika mendengar hasil pemeriksaan Naruto yang sangat, sangat keterlaluan. Dengan sangat terkejut Shizune menyeret gurunya, lantas beranjak meninggalkan ruangan pemeriksaan itu dengan sangat cepat. Entah ketakutan ataupun takjub masih tidak jelas. Tinggallah Naruto dengan perasaan campur aduk, antara bingung dan takjub melihat dua garis strip yang menyatakan bahwa ia positif.

Ia positif hamil.

Tidak salah baca, Uzumaki Naruto benar-benar mengandung bayi dalam tubuhnya. Okelah, kalau Naruto berkelamin wanita hal ini pasti bukan masalah besar, apalagi ia sangat aktif secara seksual. Masalahnya ia 'kan pria sejati yang berdarah panas, bagaimana bisa ia hamil? Dan siapa pula yang menghamili dirinya? Masa ia menghamili dirinya sendiri? Memangnya ia amuba?

Tenang, pasti ada kesalahan.

Si Nenek Tsunade 'kan bukan kunoichi yang sempurna. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti terjatuh pula. Pasti Nenek tua itu rabun ayam sewaktu memeriksa dirinya. Lagipula, pingsan, mual-mual, dan bahkan tidak nafsu memakan ramen itu pasti efek samping melihat Sai dan Kakashi telanjang sewaktu mandi bersama di onsen kemarin. Ukuran mereka berdua memang mengerikan.

Mendadak Naruto teringat kejadian itu, persisnya malam tiga hari yang lalu sewaktu ia dengan sangat bernafsu bermain-main dengan bunshinnya yang sangat seksi dan menggiurkan. Bunshin buatannya dengan rambut pirang panjang sepinggang dan ukuran dada melebihi normal itu sangatlah menarik, sekalipun tidak bisa dibandingkan dengan Hinata.

"Ka-kau yakin kita tidak mau memakai kontrasepsi-ttebayo?" bunshinnya bertanya dengan wajah memerah. Belakangan ini ia semakin pintar menciptakan bunshin perempuan dengan sifat malu-malu yang nyaris menyerupai Hinatanya. "Ko-kondisiku sedang tidak enak..."

"Lebih enak tanpa apa-apa, lagipula kau 'kan aku, mana mungkin ada efek samping." Naruto dengan tenang menyatukan tubuh mereka, lantas merebahkan tubuh bunshinnya ke atas lantai. Dengan nafas terengah-engah ia tersenyum. "Tuh, benar 'kan…"

Benar-benar gila.

Jujur saja, sebenarnya sejak tiga hari lalu ia pun sudah merasakan pancaran chakra lain dalam dirinya, tapi ia terus mengabaikan hal itu. Yah, tentu saja, tidak logis menyangka dirimu yang pria normal untuk bisa hamil, bukan?

Mendadak pintu kamar periksa itu kembali terbuka, Tsunade yang pucat diiringi oleh Shizune kembali masuk. Naruto tertegun melihat Hokage Kelima itu menatapnya seolah-olah ia makhluk paling menarik sekaligus paling menjijikkan yang pernah ada di seluruh negeri.

"BERHENTI SAMPAI DI SITU! JANGAN BERGERAK DAN BIARKAN AKU KEMBALI MEMERIKSAMU!" Tsunade berteriak dengan kencang, lantas mengurung dirinya dengan Naruto selama berjam-jam. Ia tidak memedulikan apapun lagi selain kondisi Naruto yang melewati batas kewajaran.

Naruto mengaku tiga hari lalu ia sama sekali tidak memakai pengaman, dan berbuat gila dengan bushinnya berjam-jam kala ia senggang. Ia pun mengaku bahwa selama tiga hari belakangan moodnya berubah-ubah dan kerap marah-marah. Dan masih banyak lagi hal yang tidak mampu terbayangkan oleh Tsunade. Waktu pun bergulir dengan cepat, tanpa terasa matahari terbenam, lalu kembali menampakkan wajahnya kembali.

.

.

.

"Ini gila, tidak bisa dipercaya…" desis Tsunade sambil menggeleng-geleng, terus memantau chakra lain yang memancar dari perut Naruto. Si empunya perut diam saja tidak berani berpendapat. "Kemarin janinnya masih berusia—seperti layaknya tiga bulan—tapi sekarang mendadak menjadi empat bulan. Pertumbuhan selnya sangat cepat, perkembangan yang sangat luar biasa dalam waktu 24 jam. Kalau terus seperti ini, rasanya dalam waktu singkat kau dapat melahirkan, entah lewat mana…"

Naruto langsung berkeringat dingin. "Ehmm, aku 'kan bisa berubah menjadi perempuan saat itu tiba. Tapi yang benar nih aku hamil? Pasti ada kesalahan atau apalah-ttebayo?"

Tsunade melemparkan wajah mengerikan yang sama sekali membuat Naruto tidak dapat berkutik lagi. Darah pemuda rubah itu langsung membeku. "Pokoknya, selama seminggu ini kau dilarang pergi ke—"

BRAKKKKKK

Pintu kamar tempat Naruto diperiksa mendadak terbuka lebar, muncul sesosok gadis dengan wajah sangat khawatir dari sana disusul oleh kawan-kawan lain di belakangnya. "Tsunade-shishou sudah memeriksamu, 'kan? Apa kondisimu sudah baikan?" Sakura bertanya terlebih dahulu, memandang Naruto dengan penuh perhatian. "Shishou, apa Naruto baik-baik saja?"

"Orang seperti Naruto mana mungkin bisa jatuh sakit semudah itu?" Kiba menyahut dari belakang. "Hei, jangan lupa janji kita untuk pergi ke belakang bukit besok, dan jangan lupa hadiah untuk pemenangnya."

"Naruto, seharusnya kau lebih rajin lagi melatih tubuhmu agar tidak gampang sakit!" Rock Lee berkata berapi-api. Wajahnya memancarkan sinar yang memilaukan mata. "Jangan buang-buang semangat masa muda kita!"

"Kau kurang makanan bergizi." Chouji mendadak berkata. "Belilah banyak makanan ringan."

Naruto bingung tidak tahu harus berkata apa, wajahnya pucat saat memandang semua teman yang datang menjenguknya. Apalagi saat mencium aroma makanan ringan Chouji. Rasanya ia ingin sekali muntah.

"Ehehe, aku—" calon hokage itu kelimpungan saat ditanyai bertubi-tubi begitu. Membuka aib di depan umum dan kehilangan muka? Mana sanggup?

PAKKKK DUGGGG BRAGGG BUGGGHHHH

Mendadak rasa sakit yang amat sangat menyerang perutnya lantas menyebar ke seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang amat dahsyat, yang tidak pernah ia rasakan. Amukan bagai badai, menghempaskan seluruh sel-selnya sampai tidak terperi. Sial, Kyuubi mengamuk.

"Ughhhh…"

"Naruto?" Tsunade dengan cepat menghampiri Naruto, duduk di sebelahnya, lantas memeriksa perubahan tubuh Naruto dengan sebelah tangannya. Terasa amukan Kyuubi dalam tubuh murid Jiraiya itu. "Ini… amukan Kyuubi?"

Naruto mengangguk. Chakranya melemah belakangan ini, sementara tubuhnya terasa lemas. Teman-temannya pun dengan cemas memerhatikan Naruto tanpa bicara apa-apa. Teman mereka itu kelihatan sangat kepayahan, menderita sekali.

"Memalukan, apa yang telah kau perbuat, Naruto?" suara yang dipenuhi dendam itu bertanya dengan lantang, namun nada suara Kyuubi seperti mengejeknya. "Pancaran chakra yang aneh dalam tubuhmu, ini sangat menggelikan, wahahahahahahaha…"

Brengsek. Naruto susah payah menahan amukan di perutnya. Kenapa harus di saat begini sih? Ke mana Kyuubi sebelumnya? Kenapa menambah bebannya di depan semua orang?

"Masa kau bisa sampai begini?"

"Diam kau! Berhentilah mengamuk!"

"Aku tidak tahu kau bisa sebodoh ini, wahahahaha…" Kyuubi tertawa menggelegar dalam perutnya, menyiksa Naruto tanpa ampun. Naruto hanya bisa mengaduh sambil terus memegangi perutnya yang sakit.

Tsunade dengan lantang pun meminta para pengunjung untuk segera membiarkan Naruto sendirian, karena kondisi Naruto yang belum stabil. Para rekan-rekan yang penyayang itu pun kecewa, apalagi kondisi Naruto sama sekali tidak dijelaskan.

"Kami datang untuk melihat apakah Naruto—"

"Tsunade-shishou…"

"Pokoknya Naruto belum bisa menerima tamu, jadi sebaiknya kalian pergi sebelum—"

Muncul rombongan resmi dari balik pintu, rombongan para shinobi Suna yang dipimpin langsung oleh Gaara sang Kazekage membawa banyak sekali buah-buahan maupun obat-obatan. Wajah Gaara yang datar itu agak sedikit mengeluarkan emosi saat melihat wajah pucat Naruto. Ia memang sangat memedulikan si pemuda rubah, apalagi Naruto amat berjasa dalam hidupnya. Dengan cepat Gaara melangkah maju, lalu bertanya dengan penuh wibawa, "Naruto, aku mendengar bahwa kau jatuh sakit. Bagaimana dengan kondisimu?"

Mati. Musnah. Mampus.

"Ah, aku cuma kecapean saja-ttebayo!" Naruto berlagak ceria dengan wajah yang sangat dipaksakan. Kawan-kawannya pun masuk kembali mengikuti Gaara. "Tidak ada yang perlu dicemaskan, oke?"

"Wajahmu pucat…" Gaara mengerutkan wajahnya yang malah jauh lebih pucat ketimbang Naruto. "Apa kau mau diperiksa di Suna?"

"Seperti yang Naruto katakan, ia baik-baik saja, kumohon kalian keluar, ya. Naruto butuh istirahat. Satu lagi, pengobatan di sini tidak jauh berbeda dengan pengobatan di Suna. Mungkin lebih baik daripada di Suna, Kazekage muda." Tsunade berkata dengan sangat tegas, bahkan ia memaksa Gaara keluar. Bagaimanapun, berita bahwa Naruto mengandung harus disembunyikan serapat mungkin. "Kumohon kalian semua keluar, secepatnya."

"Naruto-kun…" suara halus nan lembut terdengar tidak jauh dari posisinya. Secara naluri Naruto menengok ke arah pintu masuk. Hinata kekasihnya telah tiba di sana, memandang Naruto dengan sangat risau. Wajah Hinata terlihat seperti menahan tangis. "Naruto-kun… "

Sial, mata byakuugan Hinata tidak bisa ditipu.

.

.

.

Selama beberapa hari ke depan Hinata menolak meninggalkan Naruto dan terus menemani kekasihnya itu bersama Sakura. Benar, sejak mendengar kabar bahwa rekan setimnya itu mengalami perubahan hormon dan memiliki janin, Sakura pun amat memerhatikan nasib Naruto. Naruto sih senang-senang saja memiliki kedua gadis yang paling ia sukai di sisinya, tapi hal ini amat sangat tidak menyenangkan bagi Hinata dan Sakura.

"Ka-kau mau kusuapi bubur lagi?" Hinata perlahan mengelap bibir Naruto dengan amat perhatian. Kedua matanya yang biru keabu-abuan itu tidak melepaskan Naruto sesaat pun. Mengetahui kekasihnya hamil akibat kebodohan dalam pemakaian bunshin dan kealpaan dalam menggunakan kontrasepsi sama sekali tidak mengurangi kadar cinta Hinata. Malah bisa dibilang Hinata sangat senang bahwa mereka akan memiliki bayi. Bayi Naruto-kun pasti lucu sekali.

Tadi kau muntah lagi, Naruto-kun."

"Kalau dia muntah lagi, jangan diberikan bubur. Usus Naruto pasti masih tegang, jadi minuman hangat akan membantu mengembalikan daya tahan tubuhnya." Sakura berkata dengan sinis. Yah, sejak mendapatkan bocoran kondisi Naruto, apalagi melihat perut Naruto yang semakin menggelembung hari demi hari, Sakura pun mempercayai kegilaan rekannya itu. Entah kenapa, ia tidak suka melihat Hinata terus menempel di sisi Naruto.

"Aku tidak masalah menelan bubur atau meminum ramuanmu, Hinata, Sakura…" Naruto berkata takut-takut. Ini sih harem yang menyiksa, katanya dalam hati. Mana Kyuubi semakin liar semakin ke sini. Bahaya sekali kalau segelnya terlepas saat ia bersalin. Tapi ehmm, rasanya melihat perseteruan Hinata dan Sakura jauh lebih berbahaya-ttebayo…

"Ke-kenapa kau berkata begitu?" Hinata mulai berkaca-kaca, kedua tangannya memilin-milin bagian bawah jaketnya. "Jadi sebenarnya kau lebih menginginkan ramuan Sakura?"

"Bu-bukan begitu, kenapa kau berpikiran begitu?" Naruto menghibur Hinata dengan susah payah, mengelus kepala Hinata dengan lembut. "Tidak, aku pun menginginkanmu, Hinata."

"Maksudmu, keberadaanku di sini mengganggu kalian, iya, Naruto?" Sakura tampak akan mengamuk. Aura hitam kelihatan jelas mengelilingi tubuhnya. Mengerikan.

"Ti-tidak! Sakura-chan! Masa aku berpikir seperti itu? Aku senang dengan adanya dirimu di sisiku-ttebayo!"

"Drama cinta picisan, Naruto? Terjebak di antara dua pilihan?" suara sumbang Kyuubi kembali terdengar. "Aku akan menerobos dan menghancurkanmu pada saatnya nanti."

Asal tahu saja, hal ini berlangsung berjam-jam. Kecemburuan Hinata, kegalakan Sakura, dan ancaman Kyuubi yang silih berganti tanpa putus-putus. Belum lagi ketika janinnya menendang-nendang dengan sangat liar. Apa ini yang namanya karma-ttebayo?

"A-aku yang akan jadi ayah bayinya, karena aku o-orang pertama yang mendapatkan Naruto-kun!" Hinata mengatakan hal semacam itu dengan suara keras. "Ti-tidak ada orang yang lebih mencintai Naruto-kun selain aku!"

"Kau pikir selama ini aku tidak menyayangi Naruto? Dan apa maksudmu dengan mendapatkan Naruto? Selama ini Naruto hanya mencintaiku, bukan dirimu!" Sakura membalas dengan suara yang tidak kalah kencang. "Aku yang lebih pantas menjadi ayah bayi Naruto, tahu!"

Naruto menutupi wajahnya dengan bantal.

.

.

.

Kediaman Hyuuga yang biasanya adem ayem tanpa masalah mendadak dipenuhi oleh keributan yang sangat menggemparkan. Hiashi nyaris terkapar dengan jantung yang bermasalah saat ia mendengar kabar bahwa Hinata putrinya tercinta akan memiliki bayi dengan Naruto Uzumaki, entah ia mendengar kabar itu dari siapa—pastinya ia takkan melepaskan pemuda dalam ramalan itu tanpa mengoyak tubuhnya terlebih dahulu. Beraninya menyentuh Hinata, bahkan menghamili putrinya.

"Neji, bawa aku ke tempat mereka berada." Hiashi memerintah dengan wajah datar, padahal hatinya sangat bergejolak bagaikan suasana laut saat tsunami berlangsung. Pantas saja selama ini Hinata sering pulang larut malam, dan pantas saja Hinata menjadi lebih pendiam daripada sebelumnya.

Neji mengangguk dengan patuh. "Baik, paman."

.

.

.


Okelah, niat cuma bikin two-shots aja kok. Sekali lagi kalau ada komentar, uneg-uneg, atau apalah langsung kasih aja tidak usah malu-malu. Kalau sempat juga tolong baca Usahakan Bunshinmu Steril karya justaway00 yang sangat menakjubkan. Oke, sampai jumpa di chapter selanjutnya~!