Catatan: weh, ternyata banyak juga yang baca dan mengomentari fic Usahakan Bushinmu Steril berkat fic iklan ini. Benar, tidak salah, emang ini fic iklan lantaran sangat terpesona dengan fic Usahakan Bushinmu Steril karya justaway00. Pokoknya itu fic keren banget sampe kebawa mimpi, kalau sempat tolong dibaca. Yup, selamat menikmati chapter terakhir fic ini, semoga terhibur~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Peringatan: kata-kata kasar, kalimat yang sugestif, M-preg, shonen-ai lawakan.


.

.

.

Baby Bunshin

-Bagian Akhir-

.

.

.

Wajah tampan dengan tatapan dingin yang menusuk-nusuk hati, disertai dengan senyuman penuh keangkuhan itu tengah menatap kedua mata Naruto dengan lekat-lekat lantas berkata tanpa keraguan, "akulah yang paling pantas menjadi ayah bayi itu, Dobe."

Bisa dibayangkan betapa sangat terkejutnya Naruto mendengar pernyataan yang sangat menggemparkan seluruh dunianya, yang belakangan ini menjadi sangat tidak indah lantaran menghamili bushin sendiri. Ditambah dia pula yang hamil dan mengalami berbagai cobaan tidak putus-putus. Tapi yang benar saja, masa sampai Sasuke juga ingin menjadi ayah bayinya, sih? Apa benar selama ini Sasuke menolak cinta Sakura lantaran…

lantaran Sasuke seorang penyuka sesama jenis-ttebayo?

"Apapun yang berada di dalam pikiranmu, harusnya kau yang paling memahamiku, Dobe-koi." Sasuke menambahkan, lalu berjalan mendekati ranjang Naruto. Semua bulu kuduk Naruto berdiri tegak, mirip kucing saat akan dimandikan saat mendengar tambahan –koi yang amat sangat tidak familiar. Seringai nakal menghiasi wajah tampan si Uchiha, kedua belah matanya berkilat tajam.

"Itachi telah mengatakan semuanya kepadaku, bahwa kau menganggapku lebih penting dari apapun. Kau yang akan menerimaku sekalipun seluruh dunia menolakku. Kau akan membawaku kembali setelah aku lelah berlari…"

Kalau kata-kata romantis yang kelewat parah bisa membuat keguguran, pasti saat ini bayi dalam kandungan Naruto sudah tewas, berhenti tumbuh dan bernapas.

"Sa-sa-sakuke…"

Naruto susah payah menyebut nama mantan rekannya di tim tujuh tersebut. Eh, rasanya tadi dia salah sebut saking terkena tekanan batin. Siapa yang tidak saat mendadak diserang dengan kata-kata seperti itu? Kalau yang mengatakannya Hinata, Sakura, Ino, Temari, Shizune, Anko, atau bahkan si nenek tua Tsunade, Naruto mungkin masih bisa bertahan. Sasuke terus berjalan mendekatinya. Tubuh mereka begitu dekat, bahkan Naruto dapat mencium aroma tubuh Sasuke yang membius. Eeeh, aroma membius apa-ttebayo?

"Jadikan aku ayah bayimu, kita hidup bersama berdua dan aku akan memberi apapun yang kau inginkan…"

"Sa-sa-sa-saruke…"

Naruto mendesis, kehilangan suara. Tubuhnya gemetaran. Bulu kuduknya meremang. Napasnya sesak. Hatinya berdebar. Wajahnya pias. Jantungnya berloncatan. Darahnya membeku.

"Aku. Akan. Memberimu. Apa. Saja." Sasuke kembali berkata, lantas mengelus pipi Naruto dengan sangat hati-hati dengan jemarinya yang ramping. Dada Sasuke yang bidang terlihat dari balik kostum putih aneh yang menerawang itu. Pemandangan yang sungguh mengasyikkan untuk manusia dengan kecenderungan seks menyimpang. Orochimaru contohnya. Gaara sih tidak mungkin… mungkin saja.

Sialnya, Naruto tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali, seakan ada rantai tak terlihat yang membelenggu. Sungguh, betapa ingin ia melarikan diri sejauh-jauhnya dari tempat tidur, lantas kabur ke pelukan Hinata—atau minimal Sakura.

SETTTTT

"Ehhh, apa yang kau sentuh, Teme!" Naruto berteriak dengan nada tinggi yang tidak wajar saat Sasuke mengelus bibirnya dengan saaaangaaaat perlahan, seakan ingin melumat bibirnya habis-habisan.

"Semuanya. Tubuhku. Cintaku. Jiwaku. Untukmu." Sasuke menegaskan sekali lagi, masih mengunci semua gerakan Naruto. "Apa kau tidak bisa merasakan hatiku yang sudah kau rebut?"

"Gyaaaaaahhhh, hentikan!" Naruto panik sekali, jiwanya tegang. "Aku masih normal-ttebayo!"

Sebenarnya kalau dilihat-lihat Naruto sama sekali tidak tampak normal, apalagi dengan perut membuncit seperti layaknya wanita hamil 7 bulan. Ditambah lagi belakangan ini ia meminjam pakaian longgar milik ibunya Sakura yang Tsunade saja tidak sudi mengenakannya, seperti yang tengah ia kenakan saat itu.

"Apa susahnya membelokkan takdir demi cinta?" Sasuke menatap Naruto sharingan merah menyala dan dengan tidak sabaran, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Sepertinya setuju atau tidak setuju Naruto tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Sasuke. "Sudahlah, lebih baik kau cepat ikut dengan—"

"Ja-jangan seenaknya merebut Naruto-kun dariku!" Hinata muncul dari balik pintu, wajahnya memerah. "Ka-kalau ada yang berhak memberikan cinta maupun tubuh kepada Naruto-kun, a-aku yang paling berhak!"

"Hinata!" Naruto nyaris berteriak, berhasil menemukan suaranya yang sempat hilang. Ia tidak pernah mengira bahwa bertemu Hinata bisa menjadi salah satu hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. "Syukurlah kau ada di sini-ttebayo!"

"La-langkahi dulu mayatku bi-bila kau mau menculik Narutoku!" Hinata menghampiri keduanya, lalu mengambil ancang-ancang mau menyerang dengan wajah sangat serius. "Da-dan jangan pikir aku lemah! De-demi Naruto-kun aku akan menjadi kuat!"

Sasuke mengabaikan segala peringatan dan ancaman Hinata dan memeluk tubuh Naruto yang entah bagaimana masih tidak bisa bergerak. Dengan gaya yang sangat meyakinkan Sasuke berkata, "apapun katamu, Naruto dan bayi ini adalah milikku."

"Na-naruto-kun hanya milikku! Kami telah berjanji sehidup semati bersama!"

"Apakah janji itu dibuat sewaktu kekasihku ini merampas keperawananmu?" Sasuke bertanya dengan dingin kepada gadis cantik itu, kemudian ia tersenyum sinis ke arah Naruto. "Kau ini licik sekali, Dobe?"

"Aku tidak keberatan sekalipun semua itu hanya trik saja, karena aku sangat mencintai Naruto-kun!" Hinata menggigit bibirnya dengan keras sampai berdarah. Darah Hinata mulai bercucuran mengaliri bibir dan dagunya. "Lepaskan ta-tangan kotormu darinya!"

"Kenapa harus? Naruto dan bayi dalam perutnya adalah mi~lik~ku~!"

Tu-tunggu sebentar. Kok sepertinya ada yang tidak beres-ttebayo? Kenapa Sasuke bisa menjadi genit begini? Kenapa bibir Hinata bisa berdarah sebegitu parah?

"Lebih baik kita berbagi Naruto saja!"

Sakura mendadak muncul dengan membawa sebilah katana panjang nan mengkilap, ekspresinya datar tapi aura di sekeliling gadis merah jambu itu luar biasa hitam. Muncul ekor oranye dari balik roknya. "Hinata dapat bagian kepalanya, Sasuke-kun bagian kakinya, dan aku sisanya."

"A-aku setuju! Aku sangat suka kepala Naruto-kun!"

"Kau kakinya, dan aku sisanya." Sasuke memprotes, lalu mengeluarkan pedang dari balik kostumnya yang unik itu. "Biar aku saja yang melakukannya, bagaimana?"

Eh, eh, sejak kapan Sakura memiliki ekor? Kenapa Hinata menjadi sadis? Mengapa Sasuke ingin memotongku-ttebayo?

"TEBASSSSS!"

.

.

.

Dalam keremangan cahaya kamar rumah sakit dan bau obat desinfektan yang sangat menusuk hidung, dengan penuh kesabaran Hinata mengelap kening Naruto yang basah, menjaga pemuda itu. Wajah tidur Naruto sangat lucu dan memiliki beragam ekspresi. Entah mimpi buruk apa yang tengah dialami oleh pemuda itu sampai-sampai wajah yang biasa riang itu nyaris menangis. Tapi, yah, Hinata tidak sampai hati untuk membangunkan Naruto. Naruto sangat susah tidur dengan perut sebesar itu, jadi ketika pemuda itu terlelap, Hinata memilih menjaga Naruto ketimbang mengganggu tidurnya.

"WOOOAAAAKKKKHHHH!"

Naruto membuka mata secara tiba-tiba, kedua matanya memerah. Entah bagaimana caranya tapi ia mengalami mimpi buruk yang sangat mencekam. Mungkin lantaran kemarin Sakura membicarakan kemunculan Sasuke di Hutan Konoha. Mungkin lantaran kemarin ia salah makan ramen. Mungkin ini pertanda buruk-ttebayo…

"Naruto-kun, apa kau tidak apa-apa?!" suara manis Hinata terdengar merdu di telinga Naruto. Wajah gadis itu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaannya. "Kenapa kau—"

"Hinata~!" Naruto merentangkan kedua tangannya, lantas memeluk Hinata erat-erat. "Hinata~!"

Mereka berpelukan untuk beberapa waktu lamanya.

Naruto terus memeluk Hinata, seolah pelukan adalah obat yang mampu membuat semua keresahan dan penderitaan yang ia alami menghilang dalam sekejap mata. Sementara Hinata paham bahwa dengan kondisi yang sangat memalukan, memilukan, sekaligus memprihatinkan, Naruto sangat membutuhkan dukungan. Dan tentu saja, ia akan memberikan semua yang diinginkan oleh Naruto.

"Naruto-kun…" Hinata berbisik pelan di telinga kekasihnya, "me-memangnya ada apa? Apa kau bermimpi buruk? Apa Kyuubi kembali memberontak di bawah sana?"

Perhatian Hinata dan kata-katanya yang lembut membuat hati Naruto menjadi lumer seperti salju di atas perapian saat musim dingin. Betapa bahagianya dia memiliki kekasih sebaik dan sepengertian itu. Betapa beruntungnya dia memiliki Hinata di sisinya.

"Tidak apa-apa, kok…" Naruto menjawab dengan enggan. "Tidak ada yang serius-ttebayo…"

CUP

Mendadak Hinata mengecup kepala Naruto, lantas kembali memeluk pemuda pirang itu. "Tidak perlu ma-malu kepadaku, katakan apa saja dan ceritakan apa saja, Naruto-kun…"

Serius deh, kalau perut Naruto tidak sebesar itu Hinata pasti sudah habis diterkamnya habis-habisan, mungkin dimakan sampai tidak bersisa. Bagaimana mungkin Hinata berkata semanis itu dengan wajah merah malu-malu yang luar biasa imut? Bagaimana mungkin nafsunya tidak bangkit ketika melihat hal itu? Tunggu sebentar, sepertinya seks ketika hamil itu penting demi memperlancar persalinan?

"Hinata…" Naruto dengan serta-merta mencium bibir kekasihnya, lalu melumatnya tanpa ragu. Kemanisan dan kenikmatan yang sempat ia lupakan lantaran semua kegilaan seminggu ini kembali membuatnya terbang, bahagia setengah mati. "Hinata, suki da…"

"Aishiteru, Naruto-kun…" Hinata mendesah pasrah ketika jemari nakal Naruto membuka restleting jaketnya. Ciuman kekasihnya itu juga semakin lama semakin dalam, menjelajahi rongga mulutnya. Hinata mulai menutup kedua matanya, lalu mengalungkan kedua tangannya ke tubuh Naruto. "Aishiteru…"

JELEDUAARRRRRRRRRRR!

Dari balik pintu kamar muncul dua sosok yang paling ditakuti oleh Naruto dan Hinata, menatap mereka dengan pandangan penuh kebencian. Hinata yang lebih dulu menyadari kedatangan mereka, lantas menarik napas dengan wajah pucat. Naruto yang merasakan tubuh Hinata berubah kaku pun memalingkan wajahnya ke belakang.

Hancur lebur. Musnah seketika. Hilang tanpa sisa. Lenyap dari peredaran.

"BERANINYA KAU MENGHAMILI PUTRIKU! APA KAU MENCARI MATI, HAH?!" suara Hiashi Hyuuga menggelegar seantero Rumah Sakit Konoha. "NEJI, BAWA HINATA DARI SINI. JANGAN SAMPAI IA MELIHATKU MENGHABISI—MENGHABISI CECUNGUK BAJINGAN INI!"

"Ehhh, ayahnya Hinata…" Naruto susah payah berkata, masih memeluk Hinata. "Ini tidak seperti yang ayah pikirkan-ttebayo…"

"JANGAN PANGGIL AKU AYAH!" Hiashi kembali meraung keras penuh dengan amukan. "LEPASKAN TANGAN HINAMU DARI TUBUH PUTRIKU! NEJI! APALAGI YANG KAU TUNGGU?"

"Ayah, aku…" Hinata pun berada dalam situasi sulit. "Maaf ayah, aku tidak bermaksud…"

"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?"

"Ehhmmm, paman… sepertinya ada yang aneh…" Neji yang mengaktifkan byakuugan sedari tadi mencoba menahan pamannya. Kemarahan dan kekecewaan yang sempat menyarang di dadanya seketika berubah saat menatap Naruto. Yang benar saja, masa yang hamil…

"TIDAK ADA YANG BISA MENCEGAHKU UNTUK—UNTUK MEMBUNUH…" Hiashi pun berhenti mengucapkan lanjutannya saat menatap Naruto. Sang pemimpin Klan Hyuuga yang bijak dan dingin itu bahkan berhenti bernapas sesaat, tidak tahu harus mengatakan atau bertindak apa. Tunggu, apa ini nyata? Kenapa justru yang mengandung…

Kedua Hyuuga itu berbalik kembali ke belakang pintu, lalu menutup pintunya rapat-rapat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Naruto dan Hinata menahan napas.

Hening sesaat.

"BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH … AHAHAHAHAHAHA…" baik Neji maupun Hiashi tertawa dengan amat sangat keras di depan kamar setelah menyaksikan kehamilan Naruto. Perut keduanya terasa sangat kencang dan nyeri melihat pemuda dengan wajah bodoh itu mengandung, apalagi pakaian yang tengah dikenakan Naruto adalah gaun longgar panjang dengan motif bunga-bunga yang norak. "BWAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHA…"

Untuk beberapa saat lamanya Kedua Hyuuga tampan itu keluar karakter, tertawa-tawa tak terkendali bak korban genjutsu. Tentu saja, mana pernah mereka menyaksikan hal sebodoh itu, pria hamil? Bagaimana pria bisa mengandung? Apa dunia sudah terbalik?

Tunggu sebentar.

Hiashi kembali ke ruangan Naruto, lalu menunjuk pemuda itu dengan sangat kesal. "Mana ada pria bisa hamil begini! Benar-benar menjijikkan! Apa yang kau lakukan di tempat ini, Hinata?!"

Sementara Neji memilih diam. Sebenarnya sih dia ingin sekali ketawa cekikikan menertawakan Naruto, tapi ia tidak mau merusak citranya yang selama ini dikenal sebagai pemuda pendiam yang kalem dan lurus dengan berbuat hal kekanak-kanakan seperti itu.

"Ayah, a-aku…"

"Cepat pulang!" Hiashi memerintah putrinya. "Sekarang juga!"

"Ayah, aku tidak ma-mau. A-aku harus berada di sini untuk menemani Naruto-kun. Saat ini Naruto-kun sangat membutuhkanku." Hinata berani membantah Hiashi, ia menggenggam kedua tangan Naruto rapat-rapat. "Saat ini Naruto-kun sangat membutuhkanku, dan aku tidak mau meninggalkan dia sedetik pun."

Hiashi tidak paham bagaimana putrinya bisa membantah perintahnya demi seorang Naruto, tapi tentu saja ia tidak rela Hinata bersama-sama dengan pemuda seperti itu. Meskipun Naruto telah menyelamatkan Desa Konoha, berjasa sangat banyak, dan bertindak sangat luar biasa hebat, tapi itu bukanlah alasan yang cukup untuk menyerahkan putrinya.

"Ini misi, Hiashi-san." Tsunade dan Shizune berada di pintu kamar Naruto. "Putrimu Hinata sedang menjalankan misi kelas S yang sangat penting, dan hanya dia yang bisa menjalankannya. Saat ini aku sedang mengadakan percobaan, dan Naruto dengan berbaik hati mau meminjamkan tubuhnya sebagai eksperimen. Putrimu Hinata menjadi penjaga sekaligus pengawas percobaan ini—byakuugan adalah jawaban yang paling tepat, sebenarnya."

Hiashi mengerutkan keningnya sedikit. "Maksudmu, Hinata sedang menjalankan misi saat ini?"

"Mungkin Hinata terlihat sedang berpacaran, memeluk, mencium, dan bahkan berbuat hal yang lebih intim lagi dengan Naruto, tapi yang sebenarnya terjadi ia sedang meneliti perubahan yang ada di tubuh Naruto—sekaligus menenangkan kondisi fisik dan mentalnya."

"Dari yang kulihat Hinata memang hanya berpacaran dengan Naruto, aduuhhhh…" Tsunade langsung menginjak sebelah kaki Shizune agar berhenti memberikan komentar yang tidak perlu.

"Percayalah kepada putrimu, Hiashi." Tsunade menutup penjelasannya dengan diplomatis. "Dan tolong, lain kali tolong jangan tertawa sekeras itu."

Begitulah, Hiashi Hyuuga dan Neji berhasil dihentikan berkat campur tangan Tsunade. Dengan wajah merah mereka pulang tanpa Hinata. Waktu pun terus berjalan sampai tiba saatnya Naruto melahirkan. Bahaya yang berada di depan jauh lebih berat, amukan Kyuubi.

.

.

.

Berita kelahiran itu sangat dirahasiakan, tapi karena kurangnya tenaga medis serta penjagaan yang memadai, maka Kakashi Hatake, Yamato, Neji, Shikamaru, bahkan Gaara yang sejak minggu lalu tetap tinggal di Konoha lantaran penasaran dengan kondisi Naruto terpaksa diikutsertakan. Saat itu Naruto dengan susah payah mengubah dirinya menjadi perempuan berambut panjang dengan wajah sangat memikat, bahkan menggunakan nama samaran Naruko demi amannya. Tapi tentu saja, mana ada sosok lain yang memiliki segel Kyuubi di perut selain Naruto, dan memiliki chakra yang sama?

Kakashi yang jarang berekspresi tersenyum geli mengetahui kehamilan Naruto akibat bermain gila dengan bunshinnya. Ia memerhatikan perut Naruto yang menggelembung dengan seksama, lalu kembali terpingkal-pingkal bareng Yamato. Neji tidak berkomentar apapun, apalagi Shikamaru yang malas berkata-kata.

Gaara pingsan.

.

.

.

"Ugghhh…" Naruko terus berteriak saat geliat Kyuubi semakin liar dalam tubuhnya, membuatnya sangat tersiksa. Hinata yang berada di sampingnya dengan sabar mengelap dahi kekasihnya, lalu memberi semangat. Sakura dan Tsunade yang membantu persalinan itu menahan napas saat melihat betapa banyaknya darah yang mengalir dari celah kaki Naruko, sementara kepala bayinya sama sekali belum tampak.

"Kesakitan, bukan?" Kyuubi terkekeh-kekeh dengan jahat, lalu menendang-nendang dan berniat melepaskan diri dari segenap belenggu tubuhnya. "Bebaskan aku, Naruto!"

"Naruto-kun, ber-bersemangatlah!" Hinata menggigit bibirnya kuat-kuat, ngeri juga melihat kondisi Naruko yang sedemikian parah. Melahirkan memang mengerikan, pikir gadis cantik itu dalam hati. "Aku tahu kau bisa melakukannya!"

"Berisik! Kau mengganggu konsentrasiku!" Sakura cemberut melihat kedekatan Hinata dan Naruto. Ia kesal sekali melihat keduanya yang masih mesra, bahkan di saat-saat segenting itu. Menyebalkan.

"A-apa maksudmu?" Hinata kesal juga selalu ditekan oleh Sakura, apalagi kemarin Sakura mengadakan pemeriksaan yang sangat menyeluruh terhadap tubuh kekasihnya. Entah apa yang akan terjadi bila ia tidak menemani Naruto.

"Bisa berhenti bertindak seolah-olah kau ayah bayi Naruto, tidak?"

"Me-memangnya kau tidak bersikap begitu?" Hinata tidak mau kalah.

"Naruto hanya mencintaiku!"

"Naruto-kun milikku seorang!"

Tsunade dan Shizune yang menyaksikan pertengkaran itu hanya bisa menyeka dahi, tidak berkomentar apa-apa. Bagaimana bisa kedua gadis itu memperebutkan seorang pemuda gila yang sedang susah payah melahirkan saat ini dalam wujud wanita? Memangnya tidak ada pemuda yang lebih baik apa?

Di tempat lain, Sasuke Uchiha bersin dengan sangat kencang sampai-sampai Suigetsu berkata bahwa Sasuke sedang dibicarakan oleh para wanita. Sasuke hanya diam tanpa suara, lalu kembali berjalan ke arah lain.

"ARRRRGHHHHHH!" Naruko menjerit, sulit mengatur napasnya saat hentakan demi hentakan menyakitkan terasa merobek perutnya, membuatnya merasakan siksaan maha dahsyat. Sial, gara-gara main gila dengan bunshin-ttebayo!

"Aku yang mengubah struktur DNA bushinmu dengan chakraku, membuat semua proses kehamilan ini mungkin terjadi. Kau yang begitu bodoh dan bernafsu tentu tidak menyadarinya?" Kyuubi menjelaskan dengan nada sarkastis. "Akan kuakhiri penjara ini, manusia bodoh. Kalian semua akan kulumat habis, dan kujadikan kerak neraka. Menyerahlah, bocah!"

"I-ini semua ulahmu?" Naruko susah payah berkata saat tubuhnya tengah berkontraksi. "Jadi ini semua akibat perbuatanmu? Beraninya kau berbuat begitu-ttebayo?!"

"Aku melihat kesempatan dan memanfaatkannya."

"Hyaaaahhhhh!"

Dalam satu hentakan kuat Naruko mampu mengerahkan semua kekuatannya, dan mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Nyaris semua orang termasuk Hinata terkejut setengah hidup melihat bayi yang dilahirkan oleh Naruto. Wujudnya itu…

"KYUUUUUBIIIIIIIIII?"

.

.

.

Tentu saja, bayi bushin dengan bentuk Kyuubi mungil itu hanyalah manifestasi dari pemanfaatan DNA dan chakra bunshin yang tidak nyata sekalipun terkena hawa Kyuubi, yang langsung menghilang saat terkena udara luar. Kyuubi pun gagal meraih impiannya untuk hidup bebas dan membunuh semua manusia. Kasihan memang. Yah, meskipun agak kecewa, Naruto lega juga semua masalahnya berakhir dengan bahagia walau perseteruan Hinata dan Sakura masih juga berlangsung sampai sekarang. Sulit juga menjadi pria populer, pikir Naruto kepedean. Omong-omong, kenapa Hinata lama sekali?

Naruto dan Hinata berjanji akan menghabiskan malam itu bersama, dan sebelumnya Hinata pun telah membeli sebuah baju dalam cantik berwarna biru yang sangat serasi dengan warna mata dan rambutnya. Rasanya sangat tidak sabar menanti kedatangan kekasihnya itu.

Hinata muncul jam sembilan malam sambil meringis, sepertinya ia habis menangis berjam-jam. Naruto kaget sekali melihat Hinata sesedih itu, apalagi ia tahu Hinata gadis yang sangat tegar. "Naruto-kun, maafkan aku…"

"Kenapa?" Naruto memeluk Hinata, menenangkan kekasihnya. "Hinata…"

"Naruto-kun, aku hamil…"

.

.

.

FIN

.

.

.


Sekali lagi kalian bisa membaca fic Usahakan Bunshinmu Steril yang menjadi sumber penulisan fanfic ini. Banyak sekali ucapan terima kasih untuk yang telah memberikan komentar~! Terima kasih untuk scorpion vx, Cha KriMoFe Doujinshi, Tazkiya-JOE-Lawliet, chikara kyoshiro, Shena BlitzRyuseiran, Driving String, Ritard. , NaruSaku Venus, FuRaHeart, Aojiru no Sekai, Tsuzuka 'Aita, rexyrajak, skyesphantom, gece, amexki chan, aigiaNH4, Lolita kagamine, Roronoa D. Mico, Ciaxx, dan terutama justaway00 atas komentar dan inspirasinya.

Kalau ada uneg-uneg, komentar atau apalah jangan ragu-ragu, ya~! Sampai jumpa di fic lain~!