AN : Oke, ini apdet terakhir sebelum saya hiatus lagi. Banyak selipan lagu lama dan parodi produk. Kalau anda mengerti, berarti :

1. Anda fans band tua, atau

2. Anda generasi tua.

Oh ya, cerita yang dibuat Akashi itu sebenarnya cerita game horror saya, Cuma karena saya gaptek rpgmaker jadi yah… (dan aslinya nggak sejayus di sini kok, lebih ke angst gitu)

Seluruh lirik yang ada di sini adalah milik Jamrud dan Dewa.

p.s.: oke, ternyata saya salah beberapa hal di sini orz salah sendiri nggak diperiksa dulu!

Warning: Cerita aneh. CRACK. Alay. OOC. Diambil dari pengalaman nyata saat latihan teater.

Standard Disclaimer Applied


.

.

.

Saikyou Ichiban!

.

.

.

Waktu pementasan tinggal tiga bulan lagi.

Mengingat jangka waktu yang sempit ini, pada hari Minggu usai latihan dasar, Akashi Seijuuro selaku ketua tim mengumumkan daftar peraturan baru yang menguncang jiwa para anggota:

SETIAP HARI LATIHAN SAMPAI MALAM. Izin hanya diberikan pada anggota yang berhalangan hadir karena sakit atau hamil. Izin sakit harus disertai surat dokter. Izin hamil harus disertai foto USG.

DILARANG MINUM ES DAN MAKAN APAPUN YANG DIGORENG.

DILARANG MAKAN CEMILAN BER-MSG TINGGI. (yang ini sangat mengguncang jiwa Murasakibara)

DILARANG BEGADANG.

Dan sederetan DILARANG lainnya yang sempat menimbulkan protes pihak terkait. Saking kesal dengan banyaknya kata DILARANG dalam peraturan baru itu, Midorima berdebat dengan Akashi di mimbar terbuka, Momoi sebagai juri. Tentu saja dia kalah debat 2-0, dan pada akhirnya, semua terpaksa menurut di bawah ancaman gunting sakti.

Kise tidak berani bercerita bahwa dia yang memberi Akashi gunting sewaktu kecil. Takut dihajar.

.

.

Setelah beberapa hari melakukan latihan dasar yang intensif dengan keringat, darah, dan air mata (Kuroko sempat koma), semua anggota tim drama dihadapkan pada masalah baru : naskahnya sudah selesai. Artinya, tentu saja, latihan berlanjut ke level selanjutnya.

Pemahaman orang awam terhadap latihan teater adalah, semakin tinggi levelnya, semakin susah latihannya.

Kenyataan sebenarnya adalah, semakin tinggi levelnya, semakin GALAK pelatihnya.

Akashi menjadi galak. Atau lebih tepatnya, Akashi menjadi ringan tangan. Atau lebih tepatnya lagi, Akashi menjadi ringan gunting. Sedikit-sedikit, dia menyodorkan gunting. Aomine telat satu menit, disodori gunting. Kise lupa membawa baju latihan, disodori gunting. Kuroko tidak bisa membuka bungkus chiki, disodori gunting untuk membuka chiki.

Selain kenyataan Akashi menjadi tidak terkendali, latihannya juga semakin rumit.

Pada hari di mana naskah dibagikan, Akashi mengimbau mereka untuk meresapi naskah tersebut dalam-dalam. Baca baik-baik, mengerti jalan ceritanya, mengerti karakter yang akan dibawakan. Mengapa ia begini dan begitu. Mengapa ia berkata begini dan memakai baju model begitu. Setelah membagi-bagikan naskah yang di-print Midorima, Akashi memerintahkan semuanya untuk membaca naskah selama dua jam, sementara ia kembali ke laptop, membuat proposal drama untuk panitia.

Tentu saja dia tidak bisa membuat proposal dengan tenang. Sedikit-sedikit pertanyaan diajukan.

.

"Akashicchi, naskahku kok hilang!"

"Fotokopi di koperasi depan." Jawabnya minimalis sambil mengetik.

.

"Akashi-kun, Dai-chan kentut lagi!"

"Beri dia tendangan."

.

"Aka-chin, aku lapar!"

"Coba ditahan."

.

"Akashi, aku nggak bisa logat Osaka!"

"Nanti latihan."

.

"Akashi, ini cerita homo?"

"…bukan."

.

.

Karena Akashi menggunting (baca: menyodorkan gunting)kepada mereka untuk tidak mengganggunya lagi, akhirnya anak-anak ini berusaha memahami naskah dengan kapasitas otak masing-masing.

Mereka semua tengah berkumpul di ruangan kelas kosong, membaca naskah sambil tiduran di lantai, tas sebagai bantal darurat. Bangku dan meja di kelas itu sudah digeser ke samping, sehingga di tengahnya terdapat ruang yang kosong untuk tidur-tiduran. Akashi sendiri duduk bersandar di bawah papan tulis, tengah mengetik, sementara Kuroko tidur sore di sampingnya. Kuroko tidak mendapat naskah karena dia belum bisa membaca. Jangankan menulis, membaca saja dia sulit.

Kuroko tidur berbantalkan paha Akashi, dan dia terlihat agak menderita. Mulutnya menganga dan tangannya menggapai di udara, seakan meminta pertolongan. Semua orang mengira itu semua karena paha Akashi isinya tulang semua. Setelah ditanya ke ibunya lewat telepon, ternyata pose tidur Kuroko memang begitu. Semuanya pun meminta maaf telah menuduh (paha) Akashi.

"Aku bingung dengan ceritanya." Kise mengakui sambil menaruh naskah ke lantai.

"Bingung bagian mana?"

"Nah itu, Momoicchi. Aku bingung bagian mana yang membuatku bingung."

"Aduh Ki-chan, kamu bikin aku bingung juga."

Mereka berdua melanjutkan menjadi bingung.

.

Naskah buatan Akashi Seijuuro adalah cerita berbumbu horor. Sebenarnya si penulis naskah bersikeras kalau ini sejenis psychological thriller, tapi dengan kapasitas otak anak SD, para pemain mendubbing cerita psychologycal thriller sebagai bunuh-bunuhan. Jadi, mereka akan mementaskan bunuh-bunuhan. Ratingnya ditulis dewasa, padahal pemainnya belum ada yang pubertas.

Ceritanya simpel saja, seorang bocah SD bernama A(Aomine), melihat teman sekelasnya B (Kise) bunuh diri di depan matanya. Si bocah SD bertanya-tanya kenapa temannya bunuh diri, lalu dia mampir ke toko membeli es krim. Tamat.

Oke, tentu saja tamatnya tidak seperti itu. Beberapa hari kemudian, si bocah SD ditawari seorang pria berpenampilan dandy yang menggendong seorang anak kecil (Akashi dan Kuroko) untuk membuat kontrak dan menyusul temannya ke neraka. A, yang ingin mengetahui isi hati si doi (maksudnya B) , setuju melakukan kontrak dan ia pergi menyelamatkan B ke akhirat. Namun, A tidak tahu kalau ia baru saja melanggar peraturan hidup aman di dunia fiksi misteri :

JANGAN PERNAH MEMBUAT KONTRAK APAPUN YANG DITAWARKAN OLEH KARAKTER MISTERIUS!

A kemudian menyusul temannya ke kehidupan kedua, yang ternyata berlatar mirip kota tempat mereka tinggal. Namun tidak ada satupun manusia di sana, kecuali monster-monster menyeramkan. Ia bertemu B yang tengah diserang monster. A, dengan kekuatan cinta dan keadilan, menolong B dan membantai mahluk-mahluk ganas itu. Lalu A dan B jatuh cinta, mereka jadian, dan kencan pertama di Majiba.

Oke, sekali lagi, ceritanya tidak seperti itu. A dan B semakin dekat. A terus membunuhi monster-monster, tanpa tahu kalau yang ia bunuhi adalah teman-teman dan keluarganya sendiri. Misalnya C dan D(Momoi dan Murasakibara), temannnya, atau D (Midorima) guru sekolahnya. Benar, A tidak pergi ke neraka dan bertemu temannya. Ia hanya berdelusi di dunia nyata. Singkatnya : dia gila.

Puncaknya, ia membunuh bos monster (bos monster : paling jelek, paling kuat, paling besar) dalam suatu adegan yang sangat seru, ditambah jatuh-bangun sebelum mengeluarkan kekuatan kamehameha. Kelar membunuh monster dengan suatu kekuatan yang imba, ia berbincang sambil memegang tangan B dalam adegan yang mesra. Lalu A bertanya mengapa B bunuh diri.

Sambil menatap mata A dalam-dalam, B tersenyum dan berbisik: "Karena dirimu."

Dramatis.

Antiklimaks. A rubuh dan terkapar di tempat dengan perut berdarah—B telah menusuknya dengan cutter. Lalu kebenaran pun terungkap. Alasan sebenarnya B mati bunuh diri karena suatu perbuatan yang dilakukan oleh A di sekolah. A sendiri sebenarnya sudah tahu hal itu, tapi dia tsundere, jadi tidak mau mengakuinya. Intinya, perjalanan membunuh monster melambangkan penyesalan A yang destruktif karena membuat B bunuh diri. Tamat.

Kali ini benar-benar tamat.

Moral dari cerita ini : Berhati-hatilah dengan penyesalan, karena penyesalan dapat menghancurkan seseorang.

Moral sebenarnya dari cerita ini : Jangan berbicara dengan om-om tak dikenal.

Sebenarnya ceritanya lumayan, tapi berhubung para pemainnya masih SD, tidak ada yang paham. Bahkan Midorima saja salah paham, menyangka ini cerita homo. Habisnya ada adegan pegangan tangan.

.

.

"Sudah membaca semua?"

Semuanya menjawab datar, sudah pak guruuuu.

"Kalau begitu, ayo kita latihan reading. Semuanya sini merapat." Semuanya pun merapat ke Akashi sambil membentuk lingkaran.

Mereka pun mulai berlatih dialog dengan naskah. Beberapa orang sempat bertanya kepada Akashi perihal perannya. Aomine bertanya bagaimana caranya bicara dengan logat Osaka, dan Akashi menjawab dia harus latihan bicara dengan orang yang bisa logat Osaka. Murasakibara bertanya apakah dia boleh makan cemilan di atas panggung, Akashi menjawab tidak boleh makan cemilan di atas panggung. Kise bertanya apakah mereka benar-benar harus pegangan tangan, dan Akashi menjawab mereka harus pegangan tangan. Kise pun menangisi nasib.

Latihan reading berlangsung dengan cukup damai, sebelum Yang Mulia Akashi Seijuuro menghancurkan kedamaian tersebut : "Oh iya, besok kalian harus hapal mati dialognya."

"HAAAH?" Semua kaget. Suasana menjadi panik, terutama Aomine si tokoh utama, dan Kise yang harus bermonolog. "Kalau nggak hapal, gimana?"

"Kubilang hapal mati. Kalau nggak hapal, mati." Akashi kalem.

Tidak ada yang bertanya lebih lanjut.

.

.

Selesai berlatih reading, mereka beristirahat sebentar. Kecuali Akashi, semuanya sudah kehabisan nafas dan berkeringat, padahal mereka baru membaca pakai naskah. Membayangkan esok hari rasanya jadi suram. Aomine berencana bolos tapi niatnya sudah ketahuan, sehingga ia dibuat pitak oleh Akashi.

Akashi membuat pengumuman. "Besok aku akan datang agak terlambat."

"Aka-chin kena denda, dong?" Murasakibara langsung diam di bawah ancaman gunting.

"Kenapa memangnya, Akashi?"

"Aku mau menjemput tim musik kita."

"Eeeh? Kita sudah dapat tim musik?" tanya Momoi. Berhubung sang pelatih sangat perfeksionis dalam urusan drama ini, maka tim musik mereka pasti terjamin kualitasnya. "Siapa?"

"STK48."

Semua terhenyak.

.

.

.

STK48, sebuah band anak yang sedang naik daun.

Berbeda dengan yang dituduhkan banyak orang, nama STK48 tidak berhubungan dengan grup musik tertentu. Mereka dinamai begitu karena didirikan di depan bimbingan belajar Shuutoku pada tanggal 4 Agustus.

STK48 terdiri dari empat personil; yaitu Takao sebagai vokalis, Miyaji memetik gitar, Otsubo bermain bass, dan Kimura bermain pianika—oh salah, Kimura bermain drum di belakang, karena wajahnya paling jelek sehingga harus disembunyikan. Ketua band ini adalah Otsubo, namun tak dapat diduga kalau Takao Kazunari adalah yang paling populer di antara semuanya. Selain dia vokalis dan wajahnya shota manis, dia juga suka gemar memberi fanservice. Seusai konser biasanya si vokalis membuka kausnya untuk dilempar ke penonton, atau membuka resleting celananya dan lari keluar panggung. Ternyata Takao kebelet pipis.

Akhir-akhir ini prestasi STK48 mulai melejit. Tidak hanya menggelar konser, mereka juga mendapatkan banyak tawaran iklan. Mulai dari iklan minuman bersoda, iklan sosis, sampai iklan layanan masyarakat. Yang terakhir ditayangkan adalah iklan biskuit Oreo.

Quote Takao, "Haaah, jaruuuk?" sempat menjadi perbincangan hangat.

Selain iklan, STK48 juga terkenal dengan merchandise yang beredar di pasaran. Mulai dari yang official seperti poster, kaus, mug, gantungan kunci, dan yang tidak official seperti doujinshi. Pairing paling terkenal adalah HaremMiyaji. Otsubo dan Kimura pernah iseng membaca yang di covernya berlabel KimuOtsu 17+. Otsubo trauma beberapa hari, namun Kimura sempat mempertanyakan orientasi seksualnya sendiri.

.

.

.

"Kok bisa, kita kerjasama dengan artis begini?" Kise girang karena akan dapat kenalan selebritis. Nanti dia ingin foto bareng dan minta tandatangan. Lumayan kalau dijual di internet, dia bisa dapat tambahan jajan.

"Aku kabari vokalisnya kalau Shintarou akan main, dan dia langsung mengiyakan." Akashi mengabaikan pelototan Midorima. "Takao Kazunari naksir Shintarou." Akashi menghindari naskah yang dilempar Midorima.

"EEEH? TAKAO KAZUNARI SUKA MIDORIMACCHI? KOK BISA?" Tidak hanya Kise, Momoi pun terlihat agak kaget. Sedangkan Aomine dan Murasakibara yang tidak tertarik dengan selebritis iklan sosis, memilih untuk keluar jajan di kombini. Kuroko diseret Aomine untuk ikut.

"Dulu mereka satu bimbingan belajar. Di situlah cinta berkembang."

"HAH BENERAN?" Kise kaget karena sepupunya itu tahu banyak. Entah dia yang kurang gaul, atau Akashi sering nonton infotaiment.

"Itu cuma gosip." Midorima mengelak dengan judes.

"Tahu lagu STK48 'Pelangi di Matanya', kan? Itu lagu yang dibuat Kazunari untuk ulang tahun Shintarou."

"TAHU DARI MANA?" Yang bersangkutan, Midorima, shock karena rahasianya ketahuan. Padahal wartawan gosip saja tidak tahu sejarah (kelam) dari lagu yang sedang populer tersebut.

"Aku kan baca diary kamu."

"..."

Midorima langsung pulang.

.

.

.

.

.

"Tidak ada apa-apa di antara kami."

Midorima Shintarou, 9 tahun, complicated.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, mereka kembali berkumpul untuk latihan di taman. Saking seringnya mereka berkumpul di taman, sempat terceletuk ide kalau mereka pasang tenda saja di sana. Tapi kalau memasang tenda takut disangka pengungsi lalu diusir pengurus taman, sehingga mereka tidak jadi memasang tenda.

Sambil menunggu Akashi, mereka semua berkutat dengan naskah, terus menghapal dialog peran masing-masing. Momoi dan Midorima komat-kamit tanpa suara. Aomine membaca dialognya keras-keras sambil berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Murasakibara menghapal sambil makan cemilan. Kise tidur-tiduran di bangku dengan naskah di tangan. Kuroko yang menganggur, mengejar kupu-kupu terbang.

"TENANG SAJA, KAWAN! AKU AKAN MELINDUNGIMU, KAWAN! TAKKAN KUBIARKAN KAU MATI, KAWAN!" Aomine meneriakkan dialognya keras-keras. Beberapa orang melemparinya dengan batu karena berisik.

"..." Midorima dan Momoi fokus pada dialog mereka masing-masing. Midorima memakai syal hijau motif kodok yang jadi benda keberuntungannya hari ini.

"Nyam nyam nyam..." Murasakibara asyik makan stick jagung sambil menghapal naskah. Atau lebih tepatnya memelototi naskah, karena dari tadi ia hanya membaca kalimat yang sama.

"Pelangi adalah noda tubuh." Kise membaca monolognya dengan puitis, tangan mencengkram dada. "Pelangi adalah dosa yang kotor. Karena itu, aku benci pelangi. Mengingatkanku pada kau dan aku... Ini dialog apaan sih?" Kise bingung.

.

Setelah beberapa lama dan Akashi belum juga tiba, Midorima menghimbau teman-temannya untuk mulai ganti baju dan pemanasan. Merasa bebas karena tidak ada si raja setan, semua anggota sepakat untuk curang. Lari keliling yang seharusnya sepuluh putaran, dipotong jadi lima. Pemanasan lima belas gerakan, dipangkas jadi sepuluh.

Saat mereka sedang latihan sendiri-sendiri, Akashi datang membawa empat orang teman baru. Benar sekali, itu adalah para personel STK48 yang menyamar dengan topi, hoodies, dan kacamata hitam.

Salah satu dari empat orang tersebut, Takao, langsung berlari menerjang Midorima. "SHIN-CHAAAAN!"

"Takao—" Midorima menyambut sambil merentangkan kedua tangannya. Bunga-bunga bermekaran di taman.

"SHIN-CHAAAAN!"

"Takao—"

"SHIN-CHAAAAN!"

"Takao—"

BUAG

Midorima menendang wajah Takao hingga terpental. "Tapi bohong."

.

"KYAA ITU STK48!" Kise langsung heboh sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas. "Tandatangannya dong!"

"Kise, kamu penggemar STK48?" tanya Aomine heran.

"Nggak, sih."

Aomine meluncur dari tempatnya berdiri.

.

.

Selanjutnya, para anggota tim teater dan STK48 pun mulai bersosialisasi. Sementara Otsubo dan Akashi terlibat perbincangan seru mengenai konsep musik untuk teater ("Nanti saya mau lagu penutupnya bernuansa balada, pakai shakuhachi di bagian reff." "Akashi-san, kami anak band, bukan pemain enka.") , anak-anak yang lain kenal-kenalan, saling bertukar nomor handphone dan alamat e-mail. Suasana menjadi manis, terutama karena Miyaji membawa durian. Durian tersebut langsung dibelah oleh Kimura dan dimakan oleh semuanya, terutama Kuroko dan Murasakibara. Kuroko jadi suka durian.

"Salam kenal, Takaocchi! Namaku Kise Ryouta, usia sembilan tahun, keahlian minum air putih! SHARARA GOES ON!"

"Salam kenal, Kise-san! Namaku Takao Kazunari, golongan darah O, keahlian mata setajam elang! CAN DO IT!"

Karena merasa cocok, keduanya langsung berjabat tangan dengan semangat.

"Wah, Kise-san tangannya halus amat!" puji Takao.

"Hehehe makasih, banyak yang bilang begitu." Kise narsis.

Setelah mereka berbincang beberapa saat, Kise pun mempertanyakan hal yang dari dulu membuatnya penasaran : "Takaocchi suka sama Midorimacchi ya?"

"Iya, kok tahu?" Takao tersipu malu-malu, tapi mukanya mau. Mereka berdua melirik Midorima yang pura-pura konsentrasi membaca naskah.

"Kok bisa? Cerita, dong!" Kise mencolek-colek bahu Takao. "Memang sih bulu matanya bikin iri, tapi Midorimacchi kan judes. Aku penasaran kenapa Takaocchi bisa naksir."

"Eh? Malu, ah!"

"Ceritaaa!" Momoi ikut-ikutan dari samping. Cerita cinta selalu jadi topik yang menarik perhatian anak perempuan.

Karena desakan orang-orang, Takao pun terpaksa mulai bercerita (padahal aslinya dia juga ingin cerita). "Setahun yang lalu..."

.

.

.

(365 HARI YANG LALU)

Waktu itu musim semi. Musim di mana banyak hal baru tumbuh; kuntum bunga baru, rerumputan baru, dan cinta yang baru.

Takao Kazunari, yang saat itu masih menjadi anak SD biasa dan bukan seorang superstar, baru pulang dari sekolah. Suasana mulai senja, sehingga warna-warni kota terpercik merah dan jingga. Karena ingin cepat pulang, ia mengambil jalan pintas melewati taman.

Taman itu penuh dengan bunga sakura yang mekar berguguran. Saat ia berjalan santai sambil menikmati pemandangan, ia melihat...

APA ITU RAMBUTNYA HIJAU?

... ia melihat seorang anak berambut hijau yang tengah duduk sendirian di bangku taman. Karena tertarik, Takao mengintip dari balik pohon.

Anak itu membuka kacamatanya...

... dan pelangi terbias di bola mata serona zamrud...

Takao tercekat.

Baru kali ini... kulihat mutiara seindah itu. Di tengah proses jatuh cinta, dia menjadi seorang pujangga.

Adegan itu berlangsung lambat, seperti di film-film. Si anak yang tengah menangis itu mengusap air matanya dengan pedih, hingga Takao ikut terenyuh, lalu ia berdiri. Saat itu, kedua mata mereka tak sengaja beradu. Sepasang permata hijau yang basah dan kelereng hitam yang terbelalak. Bulir-bulir air berpegangan pada bulu mata yang lentik (di bagian bawah) itu.

Ada pelangi... di bola matamu

Seakan memaksa, 'tuk bilang

Aku sayang padamu...

Terkejut, anak berambut hijau itu langsung meraih tas ranselnya, dan berlari pulang.

"TUNGGU!" Takao berusaha memanggilnya dengan tangan terentang ala telenovela, tapi itu semua sia-sia, karena sang terkasih telah hilang ditelan senja. Tangannya hanya bisa menggapai bunga sakura.

Takao resmi mengalami Jatuh Cinta Pada Air Mata Pertama.

(tamat)

.

.

.

"KYAAAA ROMANTISNYA!" Kise dan Momoi langsung heboh. "Aku tidak menyangka sejarahnya semanis itu! Lalu kalian bertemu di bimbingan belajar Shuutoku?"

"Iya."

"Itu pasti takdir!"

"Bukan, Ki-chan, itu nasib!"

"Takdir!"

"Nasib!"

"Takdir!"

"Nasib!"

"Takdir sama nasib bukannya sama?"

"Oh iya, ya." Mereka berdua mencapai mufakat.

"Terus, bagaimana?" Keduanya makin semangat. Takao berdehem, wajahnya merah. Manisnya.

"Yah, lalu aku berteman dengan Shin-chan, dan kami jadi akrab. Tapi semenjak aku bermain band, kami jadi jarang bersama, jadi aku buatkan lagu untuk ulang tahun Shin-chan."

"WAH ROMANTIS!"

"Single Pelangi di Matanya itu? Aku suka lagu itu, loh! Aku punya albumnya." puji Momoi.

"Aku juga! Aku sering konser di kamar mandi pakai lagu itu." puji Kise tak mau kalah, tanpa sengaja memberi informasi tidak penting.

"Makasih, semuanya."

"Takaocchi sudah menyatakan cinta, belum?"

Takao berdehem lagi. Midorima tengah pergi ke toilet."... Belum, sih."

"EH KENAPA?" Semuanya kaget. "Sudah buat lagu tapi belum menyatakan cinta?"

"Habisnya—"

"Bukan habisnya! Kamu harus cepat-cepat menyatakan cinta, Takao-kun!"

"E-Eh?"

"Iya! Nanti Midorimacchi keburu diambil orang, loh! Nanti kalau dia ditunangkan paksa dan jadi istri orang, bagaimana?" Kise panik sambil mengguncang bahu Takao, padahal itu bukan urusan dia.

"Eh?"

"Iya! Midorin bisa diambil orang!" Momoi ikut mengompori. "Kalau sudah besar, Midorin pasti banyak penggemarnya, loh! Tsundere cakep itu bikin termehek-mehek!"

Didesak hingga ke ujung ring, Takao pun mulai percaya. "BENAR JUGA!"

.

.

Setelah diprovokasi sedemikian rupa, Takao menyusul Midorima ke toilet umum. Wajahnya tampak begitu serius saat ia menggenggam erat tangan Midorima. "Shin-chan, kita harus bicara."

"Tunggu Bakao, aku belum cuci tang—"

Midorima diseret keluar menuju bagian taman yang sepi.

Mereka pun berjalan berduaan ke suatu tempat yang sepi. Bunga-bunga sakura menaburi mereka dengan nuansa pink, membuat suasana jadi romantis. Keduanya hanya ingin berbicara berdua saja….

Walau pada kenyataannya, mereka diintip orang-orang.

Tak jauh dari kedua tokoh utama, dari balik pohon besar para personil STK48 mengintip sambil memberi dukungan moril. Mulai dari 'Ayo Takao kamu bisaaa', 'Tunjukkan merahmu Takao!','sampai 'Takao itu restletingnya tutup dulu!'

Di balik pohon yang lain, para anggota tim drama sendiri tengah menggelar bandar judi ilegal. Hitung-hitung menang dan menambah uang jajan, yang penting usaha.

"Taruhan 500 yen Midorima menampar Takao." Aomine memasang taruhan dengan senyum licik. Di tangannya, uang koin 500 yen (yang boleh pinjam dari Momoi) itu berkilau penuh dosa.

"Taruhan 500 yen Midorimacchi kabur dari Takaocchi." Kise ikut memasang taruhan karena terbawa suasana.

"Oke, oke. Kise-chin 500 yen, Mine-chin 500 yen." Murasakibara berperan menjadi bandar judi sambil mencatat uang taruhan di sebuah buku kecil milik Momoi. Saking menghayati perannya, ia jongkok dengan sangar sambil mengisap rokok coklat, kacamata hitam bertengger di hidung. Tinggal pakai tato naga, dia bisa diringkus aparat. "Aku juga taruhan 500 yen Mido-chin jual mahal dan menolak Taka-chin."

Tidak ada yang bertaruh Takao akan diterima. Semua terlalu sayang uang.

Akashi sendiri sedang merekam momen dengan kameranya.

.

.

"Aku sayang kamu, Shin-chan."

Kali ini, Takao serius. Ia menatap Midorima dalam, seakan ingin menegaskan pengakuan itu. Kelopak bunga sakura berterbangan, lima senti per detik sebelum menyentuh tanah, persis adegan film. Dunia seakan jadi milik berdua, padahal kenyataannya mereka dilihat orang lewat.

"Aku tidak membencimu." Midorima mengakui. Takao mulai melayang di udara. "Tapi kita tidak bisa bersatu." Takao jatuh terhempas ke jurang terdalam.

"Kenapa? Karena kita laki-laki dan nggak bisa buat bayi?" Sang vokalis memegang kedua bahu Midorima dan menatapnya lurus untuk memberi penekanan. Yang bersangkutan menjatuhkan pandangan ke bawah, setengah wajah tersembunyi bayangan. "Anak bisa adopsi! Yang penting cinta sejati!"

"..."

"Kenapa, Shin-chan? Kenapa? Padahal kamu tahu aku sayang kamu?"

"..."

"Shin-chan!"

"Tidak bisa, Takao." Untuk pertama kalinya, Midorima tampak terluka. Terlihat jelas betapa ia mulai bimbang. Dinding pertahanannya runtuh. Para pengintip di balik pohon sempat menahan napas melihat perkembangan cerita. "Kita tidak ditakdirkan bersama."

"Apa yang kamu tidak suka dariku? Katakan, aku akan merubahnya."

Angin bertiup. Kepala Midorima menunduk. Murasakibara dan Aomine berbagi popcorn.

"Itu... tidak bisa dirubah."

"Kenapa...?" Takao mulai frustasi. Ada pelangi di bola mata Midorima, membuat lidah Takao gugup tak bergerak. Cengkraman kedua tangannya di bahu Midorima menguat hingga tubuhnya bergetar. Apakah yang membuat Midorima begitu ragu? Apakah cinta saja tidak cukup? Mengapa mereka tidak bisa bersatu?

"Karena..."

"Kenapa? Karena kita laki-laki? Kamu takut pada pandangan masyarakat?"

"Bukan itu."

"Karena aku seorang superstar? Karena aku tampan dan terkenal?" Takao tidak sengaja narsis.

"Bukan itu."

"KALAU BEGITU KARENA APA!?" Nadanya mulai naik. Dia meminta kepastian. Cinta membuatnya terluka.

"AKU TIDAK BISA!"

"KENAPA, SHIN-CHAN!? JAWAB!"

.

Midorima tak tahan lagi.

"KARENA HOROSKOP KITA NGGAK COCOK!"

.

Mari mengheningkan cipta untuk pejuang cinta yang telah gugur, Takao Kazunari.

.

.

Pasca penolakan yang tragis itu, Takao menjadi depresi. Dia duduk memeluk lutut di atas bangku taman, tidak peduli pada hari yang telah senja. Sebenarnya dia ingin menangis di bawah hujan, tapi cuacanya cerah. Ingin menangis sambil mandi, tapi di rumahnya tidak ada pancuran. Apa boleh buat, dia terpaksa menangisi nasib di bangku taman.

Melihat kondisinya yang menyedihkan, para anggota STK48 jadi jatuh kasihan. Mereka tidak jadi menertawakannya karena tidak tega. Rasanya seperti menendang anjing terbuang di tengah hujan.

"Sudah, jangan sedih." Sang ketua STK48, Otsubo, menghibur sambil menepuk punggung Takao dengan kebapakan. Takao masih terlalu berduka untuk bereaksi pada berbagai bentuk simpati. "Ini, Takao, minum ini biar ganbatte."

Otsubo memberinya Mirai Ocha.

...

"Sudah, sudah." Salah seorang anggota yang lain, Kimura Shinsuke, ikut mengusap kepala Takao. Takao begitu dicintai para rekannya. "Kalau mau, kamu boleh dandani Miyaji pakai kacamata dan maskara, lalu ajak dia jalan-jalan." Dan Kimura pun disambit nanas oleh Miyaji.

"Aku nggak mau Miyaji-senpai yang bau nanas. Aku maunya Shin-chan."

Semua hening (dan Miyaji bimbang ia harus terhina atau tidak).

Bingung rasanya menghibur orang yang putus cinta. Biasanya Takao begitu ceria seperti anak kecil kebanyakan gula, sehingga melihatnya depresi begini membuat mereka salah tingkah. Karena tidak tahu harus berkata apa, semuanya hanya duduk mengelilingi Takao. Berharap waktu bisa menyembuhkan luka. Atau berharap Takao jatuh dari kursi, kepalanya terbentur, dan dia amnesia.

Tak lama kemudian, Otsubo mulai bersenandung pelan.

"Aku tak mengerti, apa yang kau rasaaa"

Takao mulai bereaksi.

"-rindu yang tak pernah, begitu hebatnyaaa "

Kimura melanjutkan. Takao mengangkat kepalanya.

"-aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahuuuu... (uuuuu)"

Miyaji ikut bernyanyi dengan penuh penghayatan. Takao bangkit berdiri menyongsong masa depan.

Dengan air mata berkilau di bawah senja, ia menyanyi sambil meraba-raba dirinya sendiri.

"Meski kau takkan pernah tahu...!"

.

"BARU KUSADARIII, CINTAKU BERTEPUK SEBELAAAAH TANGAAAAAN!"

Semuanya bernyanyi sambil berpelukan di tengah senja. Miyaji menggenjreng gitar. Isak tangis pun pecah.

.

.

.

CUPLIKAN EPISODE SELANJUTNYA

"CIUM! CIUM! CIUM!"

"NGGAK MAU!"

"NGGAK MAU!"

"AKU NGGAK MAU PEGANG-PEGANG TANGAN DIA! NANTI DAKIAN!"

"APA? AKU NGGAK MAU PEGANG KAMU JUGA! ENTAR PANUAN!"

.

"CIUM! CIUM! CIUM!"

.

"Daiki, Ryouta, chemistry kalian kurang."

.

.

.

Saya tahu chapter ini semakin alay *terjun* Oh iya ini masih no pairing kok hahaha kan takamido nggak jadian *ditendang fansnya*

Untuk semua yang sudah review dan fave, makasih ya! :3 saya balas nanti sekalian chapter ini.

Review? :3