Disclaimer : Kuroshitsuji punya Yana Toboso, saya cuma minjem chara"nya

Warning : AU, OOC, OC, aneh, typo(s) and mistypo(s), dll, shounen-ai, DLDR


Terima kasih banyak buat yang mau membaca fic saya selama ini, juga untuk yang bersedia mereview chap" sebelumnya ^u^

~Dukungan kalian sangat berarti buat saya~

Last chapter, hope you like it !


Sebastian merutuki dirinya setelah ketahuan menyusup. Dari atas sampai bawah, memang hampir seluruh tubuhnya terbalut warna hitam. Mungkin lain kali saat turun salju ia bisa memilih pakaian bertema putih agar tidak terlalu mencolok.

"SEBASTIAN?!" teriak semua orang kecuali Marchioness, kaget.

'Ternyata orangnya banyak juga ya diluar?' tanyanya dalam hati sambil meneguk ludah. Tadi ia hanya melihat satu orang, rupanya yang lain tertutupi mobil.

"Siapa Sebastian?"

"Itu teman kami, Bu," jawab Lizzie ragu.

Alois berpikir sebentar, 'Hmm... mungkin dengan cara itu Nyonya Frances bisa cepat pergi.'

"Ah iya, bibi. Dia itu teman kami," tambah Alois.

"Salam kenal, saya Sebastian Michaelis, senang bisa berkenalan dengan anda," kata Sebastian ikut bersandiwara.

"Oh, halo Michaelis, saya Marchioness Frances Midford," balasnya memperkenalkan diri.

"Kalau begitu saya pulang dulu, cepat pulang ya Elizabeth," lanjutnya.

"Iya."

Sang Frances pun masuk mobil lalu melesat pergi. Kini semua mata tertuju pada Sebastian. Termasuk mata Ciel.

Lagi-lagi di mata yang berkilat marah itu terselip kesedihan. Lalu Ciel berlari pergi, begitu Sebastian ingin mengejarnya, langkahnya ditahan.

Melihat siapa yang menahan, Sebastian memilih untuk berkata singkat, "Terimakasih un—"

"Mau apa kau kemari, Sebastian?" tanya Lizzie tajam.

"Apa kau belum puas menyakiti Ciel?" desis Alois. "Bukankah dia sudah memerintahkanmu untuk tidak muncul lagi dihadapannya?" lanjut Alois.

"Aku…cuma ingin bicara sebentar saja dengan Ciel. Aku sudah berusaha tidak bertemu lagi dengannya—dengan menggunakan surat, tapi tidak kunjung menerima jawaban."

Samar-samar Ciel yang sedang berlari mendengar kata surat.

'Surat?'

"Kalau tidak ada jawaban, berarti Ciel tidak menerimamu lagi, mengerti?"

"Alois, mengapa kau menjawab seperti itu? Memangnya kau tahu apa isi suratnya?" tanya Lizzie.

"Ti-tidak Lizzie...hanya s-saja i-itu itu 'kan umm..mudah di-tebak!"

"Hei, tidak perlu gugup begitu jawabnya! Membuatku jadi curiga saja."

Alois sweatdrop. "Kau mencurigaiku?"

"Hahaha, tentu saja tidak, pirang! Aku 'kan cuma ber—"

"Kau juga pirang!" seru Alois tidak mau kalah.

"Sudahlah, sekarang kembali ke masalah. Sebastian, Ciel mau bicara atau tidak padamu adalah pilihannya," kata Lizzie melanjutkan kalimatnya yang dipotong.

"Kalau begitu bisakah kau menanyakannya?" pintanya ringan.

"Hm, sudah berani memerintahku ya?" tanya Lizzie sambil tertawa sinis. "Tapi baiklah. Ayo, kita masuk."

"Bolehkah aku masuk juga?"

"Jawabannya tentu saja tidak, Sebastian sayang."

Claude yang sejak tadi diam akhirnya berekspresi juga mendengar kata 'sayang'. Wajahnya langsung menatap tidak enak pada Sebastian.

"Apa?" tanya Sebastian sambil menatap Claude balik.

"Tidak," jawabnya cepat lalu menyusul Alois.

"Sebastian, kau boleh ikut masuk. Diluar 'kan dingin," putus Lizzie. "Kau ini kejam sekali, Alois," lanjutnya.

"Masa sih? Aku kejam ya, Sebastian? Tapi aku tidak merasa. Maaf ya..."

Sebastian berdecih pelan.

Mereka berdelapan masuk kedalam mansion, lalu Alois, Sebastian, dan Claude duduk di ruang tamu. "Kau tunggu disini sebentar," kata Lizzie, lalu ia pergi.

"Baik. Terimakasih, Lady."

"Sama-sama," jawab Lizzie sedikit teriak, agar terdengar.

-di kamar Ciel-

"Ciel…"

"..."

"Ada orang diluar. Katanya ia mau bicara sebentar denganmu." Ciel tahu orang itu pasti Sebastian.

"Kau membiarkan orang itu masuk?" suaranya terdengar bergetar.

"Ehh.. ya."

"Kenapa?"

"Diluar itu dingin, jadi selama menunggu jawa—"

"Usir dia keluar."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi. Usir dia keluar."

"Ciel, jadi kau ti—"

"Lizzie! Kubilang usir! Kalau kau tak mau biar aku saja yang usir!"

"Ciel!"

Dengan langkah lebar-lebar Ciel pergi ke ruang tamu. Begitu matanya menangkap apa yang ia cari, ia segera berkata, "Sebastian! Orang sepertimu tidak pantas menginjakkan kakinya disini! Aku juga sudah pernah bilang kalau kau tidak boleh manampakkan wajah lagi padaku, jadi kuminta kau angkat kaki dari sini!"

"Aku hanya meminta waktumu seben—"

"Kau perlu cara kasar, Sebastian?" potong Ciel emosi.

"Tidak."

"Kalau begitu pergi."

"Ciel, aku—"

"PERGI!"

'Kau mengusirku dua kali, Ciel? Membentakku seperti itu?' lirihnya sedih dalam hati.

Teriakkan tersebut cukup memekakan telinga. Seketika itu juga mata Ciel terpejam erat, bahunya pun bergetar hebat karena amarah (sebenarnya sedih), air mata sudah mengantri di pelupuk matanya untuk segera mengalir—namun ditahan. Mau taruh dimana mukanya kalau menangis gara-gara Sebastian?

Rasa bahagia dan sedih menghampiri Sebastian sekaligus, Ia bahagia melihat Ciel yang hampir menangis untuknya dan ia juga sedih melihat Ciel menangis, karena ia tak suka melihat pemandangan buruk seperti itu. Cielnya harus terus tersenyum. Ironis sekali ya, padahal kan dia salah satu orang yang menyebabkan kesedihan Ciel saat ini.

Sebastian tidak mau melihat Ciel menangis, jadi ia memutuskan untuk keluar. "Kutunggu jawabanmu, Ciel."

Cielpun menghempaskan tubuh mungilnya ke sofa. Matanya dipejamkan—lagi. Untuk melepas penat karena perasaannya yang campur aduk.

Dengan cepat Alois duduk tepat disebelahnya, melancarkan kata-kata 'menenangkan'.

"Hei, Ciel, lupakan saja orang itu. Dia sudah membuat perusahaanmu terbengkalai beberapa waktu, untung saja ada keluarga Lizzie. Nah, sekarang aku sudah kembali. Kita bertiga akan kembali seperti dulu lagi 'kan? Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Akan kuurus orang itu," bisik Alois sambil mengelus lembut kepala Ciel.

"Bagaimana kalau kita kembali ke Denmark untuk mengakui semuanya? Mengakui kalau kau ini belum berumur 17 tahun?" tawar Alois.

Ciel berpikir keras. "Ya, Alois..."

Ciel's POV

'Siapa orang itu?'

'Memeluk erat tubuhnya di tengah badai salju seperti ini. Apa yang dia pikirkan? Harusnya sekarang dia sedang menghangatkan tubuhnya dekat perapian, tapi malah berdiri teguh disana.'

Ciel tetap memperhatikan orang setengah waras itu. 'Hei! Dia melepas pakaiannya satu-persatu!? Dan i..itu…Sebasti…..'

Sontak aku menutup mataku dengan telapak tangan, tidak mau melihatnya. Tapi aku mendengar derap langkahnya yang cepat. Mungkin ia berlari, lalu…

DUKK

BRUAKK

'Apa? Suara apa?' Akupun membuka mataku. Disana, kulihat pecahan tubuh manusia tergeletak di sekitar gerbang. Hebatnya, wajah dari kepala putus itu menghadap ke arahku. Ya, Sebastian menatapku tajam dengan matanya yang terbuka. Dia...telah meni—

"TIDAK!"

Nafasku tidak beraturan. Mataku juga baru separuh terbuka, masih belum sadar sepenuhnya. Aku melihat ada dua makhluk berambut pirang menatapku dengan tatapan cemas.

"Ciel? Kau mimpi apa?"

'Mimpi? Jadi hanya mimpi. Oh, ya! Aku ingat. Tadi Alois membelai rambutku, lalu aku terlelap. Berarti Sebastian masih hidup? Dia tidak terkena hipotermia akut seperti pfow dan frostbite? Ah, bukan urusanku. Tapi memalukan sekali ya mimpi seperti itu. Dia pasti sudah pulang, tidak mungkin Sebastian masih disini. Jadi, akulah yang terlalu banyak berharap

Berharap? .-.'

End Ciel's POV

"Permisi, Tuan Alois! Dia tidak mau pergi juga, padahal saya sudah menyuruhnya pergi sejak tadi," lapor Maylene.

"Kami juga sudah—"

"Alasan! Bilang saja tidak tega!" bentak Alois.

'Dia itu, itu..Sebastian ya?' Ciel masih mencerna... 'Sebastian! Dia ada diluar? Benarkah?'

Begitu Ciel cukup sadar, matanya membuka sempurna, bahkan terlalu lebar. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berlari cepat ke jendela terdekat. Dia melihat, orang itu...benar-benar ada!

Alois dan Elizabeth berjalan cepat menuju gerbang. "Kau harus pulang sekarang! Untuk apa berdiri disana kalau Ciel sendiri tidak mau bertemu denganmu?"

"Iya. Lagipula kalau kau pingsan kami yang repot,' tambah Lizzie.

"Dia pingsan? Mana mungkin!" kata Alois pada Lizzie.

Sekarang dia beralih ke Sebastian. "Terserah kau saja deh, tapi kalau kau benar-benar pingsan, aku akan jadi yang pertama untuk menertawakanmu, dahh..."

Sebastian sama sekali tidak menghiraukan perkataan mereka. Yang ia tunggu hanya Ciel. Ia berharap Ciel mau bicara secepatnya, karena ia mulai merasa semakin lemah.

'Udara disini sangat dingin, bodohnya aku tadi tidak makan sebelum pergi,' rutuknya dalam hati. Ia pun merapatkan coatnya. Badannya sudah gemetaran, giginya bergelemetukan, bibirnya membiru, buku-buku jarinya mulai kaku karena sedikit membeku, begitu juga ujung-ujung tangan dan kakinya. Warna kulitnya juga semakin memucat.

Ciel sudah duduk di sofanya dengan nyaman, seolah tidak peduli dengan keadaan diluar. Lalu ia menyadari teman-temannya kembali. Ia pura-pura tidak lihat.

"Dia memang keras kepala. Abaikan saja lah. Yang penting aku tidak mau tahu kalau dia pingsan atau apa."

'Dari kata-kata Alois, sepertinya Sebastian belum mau pergi.'

"Sekarang kita istirahat di kamar, yuk!" ajak Alos.

"Aku disini saja," gumam Ciel pelan.

"Kalau begitu aku juga disini saja," timpal Lizzie.

"..."

Alhasil mereka menghangatkan diri dalam diam.

Satu jam...

Dua jam...

Tiga jam...

Alois sudah tidak tahan lagi. Ia benar-benar merasa bosan. Jadi ia memutuskan untuk memulai leluconnya.

Tapi tiba-tiba ada suara Finny yang berteriak histeris. "Michaelis-san pingsan!"

Ciel yang sedang duduk dengan tegangnya, mendengar berita itu dan bertambah tegang. Ia tahu manusia itu cepat atau lambat pasti akan rubuh juga. Hatinya sudah berteriak—mendesaknya untuk bertindak, jantungnya berdetak tidak keruan. Segera ia membuka pintu dengan kasar, lalu berlari tanpa menggunakan jacket menuju gerbang. "Jangan biarkan dia pingsan! Gawat !"

Ciel berlari kencang tanpa memedulikan hempasan angin dan salju yang seperti ingin menjatuhkannya ke hamparan salju luas. Di terus menerobos kencangnya angin salju.

Begitu sampai ke depan pintu gerbang, Ciel baru menyadari kalau ia tidak membawa kunci. "KUNCI!"

Para pelayannya segera membawakan kunci dan membukakannya. Selepas itu Ciel segera mencoba untuk mengangkat Sebastian, tapi tidak kuat. Jadi ia menyuruh pelayannya untuk membawa Sebastian masuk.

Kemudian Sebastian dibaringkan di sofa dekat perapian. Ciel menatap Sebastian.

"Ahahahahaha!"

"Hey! Bangun! Setidaknya gemetarlah!" teriaknya sambil mengguncangkan tubuh Sebastian.

...

"Cih! Tidak bangun juga." Ciel mendengar suara tawa, ia menoleh kebelakang. Disana ia melihat Alois sedang menertawakan Sebastian yang pingsan, lalu Lizzie yang diam mematung.

"Apa yang kalian lakukan disitu!? Cepat bantu aku!"

Tidak ada respon. Ciel menggebrak meja. Lalu menatap mereka dengan tatapan 'terbaiknya'.

Merekapun pergi secepat kilat. Ciel menatap Sebastian yang tidak berdaya itu.

'Kupikir kau sudah benar-benar mencintaiku. Mengetahui kebenaran bahwa kau memanfaatkan dan membohongiku...sangat membuatku kecewa.'

Tak lama kemudian mereka kembali membawa air hangat dan kain serta selimut.

Alois berdeham kecil, "Ciel, kau bersikap terlalu berlebihan tau! Katanya sudah tidak peduli."

"..."

"Alois!" tegur Lizzie.

"Jadi sekarang kau berpihak juga pada Sebastian?"

"..."

Ciel melepas jacket Sebastian, lalu membasuh tubuh dinginnya dengan kain hangat. Setelah itu ia menyelimutinya. Dan tetap duduk disebelahnya. Ia melihat warna wajah Sebastian berangsur-angsur kembali. Tapi masih agak pucat.

Elizabeth menarik Alois pergi. "Sebaiknya jangan ganggu Ciel," bisik Lizzie.

"Apa sih yang ada di pikiranmu itu?" tanya Alois heran.

Setelah cukup jauh, Lizzie menjawab. "Hh… begini, Alois. Aku sadar dia memang bukan straight, dan aku tak bisa memaksanya. Aku sudah memberikan kesempatan kecil padanya untuk bisa bersama denganmu, sekarang dia bersama Sebastian, dan aku kurasa ia serius. Bukan karena ia 'istrinya' tapi memang karena ia benar-benar mencintai Sebastian..." Lizzie memberi jeda.

"Sebagai tunangan aku sedih juga. Karena itu hanyalah status, tidak lebih."

Alois diam sebentar. 'Kasihan juga ya Lizzie, tapi mau bagaimana lagi? Tidak semua orang menyukai lawan jenis, kan?'

"Umm... Lizzie, ayo kita lihat keadaan mereka."

Mereka kembali ke ruang tamu. Di sana Ciel masih tetap bergeming dari posisinya tadi.

"Ciel," panggil Lizzie pelan.

Ciel yang masih mengguncang tubuh Sebastian tanpa perasaan itu tidak menjawab. Lizzie berkata lagi, "Bawa Sebastian ke kamar, tidak terlalu baik disini. Kita bisa memasang pemanas ruangan untuknya, tidak perlu pakai perapian untuk menghangatkan."

'Eh? Benar juga ya. Aku baru sadar. Kenapa aku menghangatkannya disini?'

"Bantu aku membawanya ke dalam," katanya pelan.

Berhubung tidak ada yang kuat untuk menggendongnya, jadi mereka memapahnya. Claude tidak membantu (merasa masih orang luar). Pelayan-pelayannya pun tidak berani mendekat.

-di kamar Ciel-

"Ugh, ternyata Sebastian berat juga ya!"

"Seme...biasanya lebih berat...," gumam Lizzie ngelantur.

"Kau bilang sesuatu?" tanya Alois kesal.

"Sama sekali tidak," dustanya.

"Bagus."

...

'Aneh, Ciel kok tidak komentar sama sekali ya? Biasanya kalau berisik dia pasti komentar.' pikir Lizzy dan Alois dalam hati masing-masing. Akhirnya mereka memutuskan untuk diam.

Ciel kembali menatap Sebastian.

'Melihatmu berbaring tak berdaya di ranjang itu, hatiku sesak. Bangunlah! Lama sekali sih tidurnya! Di mana Sebastian yang tidak lemah seperti ini? Aku berjanji, akan memaafkanmu dan memperbaiki hubungan kita.'

Tes tes

'Ahh…hangat, tapi apa itu ya?' Sebastian merasakan sesuatu jatuh ke pipi porselennya. Ia ingin membuka mata tapi terlalu berat. Jadi ia memutuskan kembali istirahat.

.

Dari mulai masuk ke kamar sampai sekarang, Ciel tidak melepaskan genggaman tangannya yang menyalurkan sedikit kehangatan. Jujur saja Alois dan Elizabeth tidak menyukai pemandangan itu. Lalu mereka memilih keluar.

Beberapa jam kemudian, Lizzie masuk lagi. "Makanlah Ciel, ini sudah malam."

Perkataannya itu tidak digubris sama sekali.

"Kalau kau tidak makan, lalu sakit, siapa yang menjaga Sebastian? Dia bukan tanggung jawabku ataupun yang lainnya," kata Lizzie melanjutkan.

"Hh.. baiklah. Tolong jaga dia sebentar ya."

"Ok."

Saat Lizzie hampir duduk dipinggir ranjang ,

Cklek

"Lizzie, sudah kau istirahat saja sana," ucap Ciel cepat.

"Ci-ciel? Kau cepat sekali kembalinya?" Melihat makanan yang Ciel bawa, Lizzie mengganti pertanyaannya, "Tidak menemani mereka makan?"

"Tidak. Aku harus menjaganya."

"..."

"Baiklah, aku pergi dulu."

"Lizzie, aku minta maaf," kata Ciel sambil menundukkan kepala.

"Tidak apa-apa," balas Lizzie yang berusaha mati-matian untuk tidak menangis. Setelah itu ia pergi begitu saja. Ciel tahu pasti Lizzie sedih, bukan tidak apa-apa.

Blam!

"Maafkan aku," ulangnya.

.

Pada dasarnya Sebastian memang orang yang tidak lemah, jadi tidak butuh waktu lama untuk sadar. Sebastian membuka perlahan matanya yang masih malas terbuka itu. Biarpun suhu di sana cukup hangat, tapi ia kembali mengigil kedinginan.

Karena merasa Sebastian bergerak, refleks Ciel melepaskan genggamannya.

Setelah sadar sepenuhnya, Sebastian melihat dirinya ada di kamar yang asing untuknya, dan di sebelah ranjang tempat ia berbaring ada anak —mungkin laki-laki— yang berdiri membelakangi dirinya. Cara berdirinya sangat tidak nyaman, terlihat seperti...ketakutan.

Tiba-tiba ia ingat kejadian sebelum ia disini. Tadi itu dia pingsan karena kedinginan.

Lalu, ini kamar siapa? Atau mungkin ini kamar Ciel?

"Terimakasih sudah menolongku. anda siapa?" tanyanya hati-hati.

'Kau sadar juga.'

Dengan ragu Sebastian beranjak dari kenyamanannya dan mendekati anak itu. Masih agak lemas dan terasa dingin di beberapa bagian, tapi Sebastian ingin berterimakasih.

"Terimakasih…saya ini ada dima— Ciel!? Ini benar-benar Ciel?"

Sebastian menarik bahu Ciel untuk memperjelas. Dengan cepat Ciel menepis tangannya.

"Jangan sembarangan menyentuhku!"

"Ah, ya maaf. Tapi terimakasih sudah menolongku. Aku juga mau minta maaf Ciel, aku menyesal. Aku sudah berusaha minta maaf secara tidak langsung, tapi tak ada balasan juga. Jadi aku terpaksa kemari. Ciel kumohon kembalilah, aku tidak —"

"Bisakah kau berhenti bicara sebentar?"

"Mm..mungkin tidak."

"Kelu- maksudku..Se-bas..tian, eh... aku..."

Sebastian berlutut di depan Ciel. "Kumohon maafkan aku..."

"Hey, tidak perlu sampai seperti itu! Berdirilah!"

"Tidak sebelum kau memaafkanku."

"Dasar keras kepala!"

Tiba-tiba saja pintu terbuka, menampakkan Alois, Claude, dan Elizabeth.

"Wah wah, sepertinya ada yang sudah bangun. Suara kalian terdengar sampai luar tahu!"

"Oh, hai.., terimakasih untuk yang tadi ya."

"Tidak perlu, tadi kami begitu supaya tidak terjadi keributan antara ibu denganmu. Sekarang kau keluar saja," balas Lizzie datar namun memaksa.

"Aku belum mendapatkan maaf dari Ciel."

Alois pun mengusulkan. "Ciel, bagaimana kalau kau bilang saja 'aku memaafkanmu' lalu mengusirnya—"

"A-aku memaafkanmu Sebastian. Kau...sungguh-sungguh menyesal 'kan? Penyesalan memang datang terakhir, tapi buatlah hal itu menjadi pelajaran untukmu agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Maukah kau berjanji padaku tidak mengulanginya lagi?" tanya Ciel sambil terisak pedih. Mukanya sudah mulai memunculkan semburat merah muda.

"Kau benar-benar memaafkanku?" Mata Sebastian mulai berbinar.

"Ya," tegasnya.

Seketika itu Sebastian memeluk Ciel erat. "Ukh! Lepaskan, jangan terlalu erat! Aku kesulitan bernafas!" Wajah Ciel memerah sempurna.

"Maaf," kata Sebastian sambil terkikik.

"Apa!?" bisik Alois kaget, "Bukan itu yang kumaksud!" serunya dan menatap geram pada mereka berdua.

"Ciel! Tadi kau sudah setuju untuk pergi ke Denmark dan mengakui semuanya! Kau lupa?! Dia itu—"

"Alois," potong Elizabeth, "Sudah cukup sifat ingin menguasai seperti itu! Biarpun aku tidak suka dengan hubungan mereka, tapi aku sadar. Mereka memang ditakdirkan untuk bersama.

Lagipula kalau dipikir lebih lanjut, akar dari permasalahan ini adalah kau, Alois."

"Kau..."

"Maafkan aku, Alois. Sebenarnya aku tidka ingin mengucapkannya. Tapi itu perlu. Ciel tidak bahagia bersamaku, tidak juga bersamamu," sambung Lizzie.

'Tidak seperti itu, Lizzie. Tidak seburuk yang kau pikirkan...' Ciel menyampaikan pikirannya lewat pandangan mata. Tapi Lizzie tidak mengerti. 'Aku bahagia bersama kalian.'

"Lebih baik kita mundur saja. Kalau Ciel bahagia, seharusnya kita juga bahagia."

Sebastian kembali angkat suara. "Tidak apa-apa nona. Kalau memang itu keinginan Alois, saya bersedia."

"Sebastian?" Ciel menatapnya tidak percaya.

"Setelah itu saya akan menunggu Ciel hingga cukup umur, lalu menikahinya kembali," lanjutnya.

Serta merta Ciel memeluk Sebastian. Ia sangat senang mendengarnya.

Alois menggeram kesal. Tangannya dikepalkan dengan kuat. "Ada apa sebenarnya dengan kalian! Kenapa kalian tidak memihakku?

Ck! Claude, aku ingin kembali ke Denmark."

"Tentu, dengan senang hati."

Alois menatap Claude, bingung. Seolah tahu apa yang ada dipikiran bocah itu, ia menjawab, "Kau akan segera tahu, tidak sekarang."

"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan," kata Alois.

"Lizzie, aku pergi dulu. Aku akan segera kembali." Alois memutar tubuhnya dan berjalan keluar kamar.

"Alois..." panggil Lizzie sedih.

Setelah berjalan sebentar, ia menghentikan langkahnya. "Ciel...asal kau tahu saja. Aku tidak akan melupakanmu. Suatu saat nanti kita pasti kembali seperti dulu," katanya pelan.

...

"Aku mencintaimu, Ciel. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Drap drap drap drap

Alois dan Claude pun tidak terlihat lagi.

xxx

Beberapa waktu setelah kejadian itu...

Ciel sedang menyesap Chamomile tea bersama Sebastian di taman belakang. Sekarang mereka sudah benar-benar terlihat seperti sepasang suami-istri yang bahagia. Yuki tidak lagi berusaha mendekati Ciel. Ia juga sadar kalau Ciel adalah milik Sebastian, dan sampai kapanpun juga akan begitu. Jadi, Yuki memutuskan untuk sedikit membuka diri pada yang lain. Kemungkinan pada Pluto?

Lizzie juga mempunyai kabar yang lumayan bagus. Ia akan segera tunangan dengan Edgar Redmond dari Weston College. Walaupun ia tidak benar-benar menyukainya, tapi ia sudah berbohong pada Ibunya bahwa ia tidak lagi menyukai Ciel. Bahkan ia juga berkata dengan santainya kalau ia sudah bosan dengan Ciel. Yah, begitulah cara Lizzie untuk melupakan Ciel. Tapi itu pasti sangat sulit untuknya.

Sementara itu, ada berita yang sedikit mencengangkan dari rekan Alois. *saya lagi ga bawain berita ..v*

Oke, saya ganti. Kabarnya, Alois tengah menjalani hubungan yang cukup serius dengan...Claude. Hubungan itu adalah semacam um... pacaran, dan sepertinya akan segera naik tingkat menjadi suami-'istri' beberapa bulan lagi. Entahlah, itu masih belum bisa dipastikan.

Intinya, masing-masing sudah cukup bahagia sekarang. Biarpun tidak seutuhnya. Tapi memang tidak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini bukan? Di dalam kehidupan, kesedihan dan kebahagiaan adalah dua hal yang tidak pernah lepas dari kita.

Jadi, cobalah untuk tetap tersenyum.

.

Smile is the best medicine in the world, so keep smiling XD

-Anonymous

.

Marriage is something sacred and holy. Don't sham or fake it, or you'll make it real.

.

.

.

-FIN-


Balasan review buat friz yg ga log in : makasih ya uda mo ngereview, tp Sebastiannya ga bisa dibikin lebih kalang kabut, soalny ini fic hrs segera tamat ^^ sekali lg thanks. Maaf tidak memuaskan...

Akhirnya fic ini selesai ! :DDDDD *nari"gaje*

Saya mengucapkan terimakasih banyak bagi readers sekalian (Silent readers and Reviewers) CHUUU~~~ #PLAKK

Tanpa dukungan kalian, fic ini tidak akan saya selesaikan *BOW*

Gomen endingnya terkesan bahagia, dan tidak jelas pastinya ;-;

Sekedar info, memang tidak baik terlelap atau tidak terjaga saat kedinginan, terutama saat benar" dingin, karena akan menyebabkan sesuatu yang disebut 'Tinggal Nama'. Itupun kalau punya nama ^^

Suhu tinggi membuat manusia pada umumnya mudah terlelap, jadi usaha kecil yang bisa dilakukan adalah menggigil. Itu akan cukup membantu.

Oh, ya! Jangan pura" atau memalsukan hubungan—apapun itu, karena biasanya akan berujung menjadi nyata (hati" aja ketika hendak memilih pura" musuhan ;P)

-Saya kebanyakan ngomong ya ._.-

Dan terimakasih banget buat Gia_XY, earlgreysan bernvoureth, kak Mitsuki Ota, dan Ayumi Phantomhive yang sudah review chap sblmnya~

Makasi juga buat yang sudah nge-follow dan nge-fav

Review lg ya ;)

Akhir kata,

Mind to C&C? Flames are welcome ^-^

Tertanda,

One hell of a fujoshi