DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive & Ojamajo Doremi 16 Turning Point (light novel) © Kodansha, 2011-2012. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini, dan semua lagu yang judulnya tercantum dalam fic ini juga bukan punya saya.

Catatan Author: Chapter 16 disini!

Bisa dibilang, chapter yang satu ini akan jadi chapter pendinginan, jadi kemungkinan, chapter satu ini tidak akan sepanjang chapter-chapter sebelumnya.

Selamat membaca!

.

Intro: Hampir sama seperti apa yang terjadi di intro chapter 15, hanya bedanya, kali ini di dalam mobil tersebut hanya ada dua orang yang duduk di kursi depan. Sang pemuda pemilik mobil duduk di sebelah kursi pengemudi, sedang memberikan instruksi kepada seorang gadis yang sekarang sedang mengemudikan mobil tersebut.

Lambat laun, mobil itu melaju dengan sangat mulus, membuat kedua orang didalamnya terlihat sangat gembira.

'Akhirnya… Akhirnya, ada sesuatu yang bisa kulakukan dengan benar…'

.

(Opening Song 'Ojamajo Girlband': 'Egao no Mirai he' by MAHO-Do – Original Version by Yuki Matsuura)


Ojamajo Girlband

.

Our Driving License and the Personal Bus


Doremi's POV

"Boleh boleh saja kalau sekarang, kita pakai bus Maho-dou untuk berpergian kemana saja…"

"Eh? !" seru keempat sahabatku setelah mendengar pendapatku, "Ta-tapi kan, kita…"

"Daripada kita harus menanggung resiko dengan mengendarai sapu terbang seperti tadi, lebih baik kita menggunakan bus itu saja," ujarku, "Lagipula, kasihan kalau supir keluarga Onpu-chan harus terus-terusan mengantar-jemput kita kemana-mana, dan kalau mobil Onpu-chan sedang tidak bisa digunakan seperti sekarang, bagaimana?"

Ya, sejak hari ini, sebelas hari setelah gerombolan preman suruhan Akihiro Tara mendatangi Sweet House Maho-dou, kami berlima sudah tidak bisa lagi mengandalkan mobil Onpu sebagai sarana transportasi untuk mengantar-jemput kami kemanapun kami harus tampil sebagai MAHO-Do. Setidaknya, itu yang kupikirkan setelah mengetahui apa yang terjadi malam ini, setelah kami tampil live di Misora Music Club and Cafe sepulangnya kami dari sekolah…

Flashback

"Eh? Jadi, hari ini kau tidak bisa…"

Onpu sedang berbicara lewat ponselnya, sementara aku dan yang lain memperhatikan gerak-geriknya, penasaran dengan apa yang dibicarakannya.

"Ah, baiklah. Aku akan memberitahukan kepada yang lain kalau kami terpaksa pulang sendiri. Ah, tidak, tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir. Kami bisa mencari taksi disini. Ya, sampaikan saja salamku kepada mama, dan katakan padanya bahwa aku akan baik-baik saja. Iya. Baiklah, kau urus saja mobilnya ya? Terima kasih."

Saat Onpu mengakhiri pembicaraannya, aku tidak segan-segan bertanya padanya, "Onpu-chan, doushita no? Apa ada masalah dengan mobilmu?"

"Supirku bilang, mesin mobilku sedang bermasalah. Mungkin karena kami sudah memakai mobil itu sejak lama, makanya… sekarang mobilku sedang berada di bengkel."

"Oh, no," keluh Momoko, "Jadi, bagaimana sekarang? Kita harus pulang ke Maho-dou naik apa?"

"Shoganai na. Mau tidak mau, kita harus pulang dengan menggunakan sapu terbang sore ini," sahut Aiko. Iapun menghela napas, lalu menunjuk kearah sebuah tempat tertutup yang letaknya dekat dengan sebuah tempat sampah, "Kurasa kita akan aman kalau kita berubah disana. Takkan ada yang bisa melihat kita."

Kamipun kemudian berjalan menuju ke tempat tersembunyi yang dimaksud Aiko tadi dan berubah menjadi majominarai disana. Kamipun bergegas menuju ke Maho-dou dengan menggunakan sapu terbang…

End of Flashback

"Jujur saja, aku masih ragu. Aku takut kalau ada yang melihat kita terbang dengan menggunakan sapu tadi," jelasku, "Baik, aku tahu kalau kita sudah menghilangkan kutukan kodok sihir hampir enam tahun yang lalu, tapi ini bukan berarti… kita boleh-boleh saja mengungkapkan rahasia kita sebagai majominarai. Sekarang ini… hubungan antara Majokai dan Ningenkai masih belum terjalin lagi, dan… diluar sana, pasti masih banyak orang yang menganggap kalau penyihir itu… jahat. Itulah sebabnya, aku berpikir kalau sebaiknya, kita menggunakan bus Maho-dou seperti saran Mirai-san."

Mengetahui apa yang terjadi pada kami, Mirai memang langsung menyarankan pada kami untuk menggunakan bus Maho-dou saat kami harus berpergian kemana saja, tentu saja, dengan dikemudikan oleh kami sendiri, dan jujur saja, aku sudah siap dalam hal itu, karena itulah, aku menyetujui usulnya tersebut.

"Mungkin dalam hal itu, kami sependapat denganmu, Doremi-chan," sahut Hazuki, "Masalahnya… diantara kita semua, tidak ada satupun yang bisa mengemudikan mobil."

"Aku bisa," jawabku cepat, yang kemudian direspons oleh keempat sahabatku dengan seruan bernada tak yakin, "Eh? !"

"Kalian tak percaya?" tanyaku. Mereka mengangguk.

Aku lalu mulai menjelaskan, "Kalian ingat kan, saat pertama kali Tetsuya membawa mobilnya kesini dan mengajakku pergi berjalan-jalan bersamanya?"

"Koreksi, Doremi-chan. Seingatku saat itu, Kotake bilang kalau itu adalah mobil ayahnya," sahut Aiko, "Setidaknya, kami ingat apa yang terjadi pada saat itu disini. Kalian pergi berjalan-jalan…"

"Yah, sebenarnya sih, saat itu, kami tidak hanya sekedar berjalan-jalan. Iseng-iseng, aku meminta kepada Tetsuya untuk mengajariku menyetir dan… dia menyarankan padaku untuk mulai belajar menyetir saat itu juga."

"Ngg… memangnya, saat itu, kau langsung bisa menyetir mobil, Doremi-chan?" tanya Onpu.

"Awalnya sih, tidak. Aku terus saja mengerem disaat yang tidak tepat, dan aku hampir saja menabrak sebuah tiang listrik, tapi pada akhirnya, aku bisa melakukannya dengan benar."

"I'm still not sure…"

"Percayalah padaku, Momo-chan, minna. Aku sudah bisa menyetir sekarang," ujarku, mencoba meyakinkan mereka, "Kalau kalian masih belum yakin, kalian bisa mengetesku sekarang juga."

"Baik, kami percaya, kau jujur pada kami, Doremi-chan," Aiko mengangguk-anggukan kepalanya, "Tapi tentu saja, kami perlu bukti darimu."

"Jadi, bagaimana? Apa aku harus membuktikannya dengan cara mengemudikan mobil taksi ayahmu, Ai-chan?" tantangku.

"Tentu saja tidak. Otouchan menggunakan mobil taksinya itu untuk bekerja sepanjang hari. Kita tidak bisa menggunakannya untuk mengetes kemampuan menyetirmu."

"Jadi?"

"Besok, kita akan ke rumahmu untuk mengetes kemampuan menyetirmu dengan menggunakan mobil keluargamu. Bagaimana?"

"Tidak bisa, Ai-chan," kali ini, giliranku yang tidak menyetujui usul Aiko, "Kemarin otousan bilang padaku, kalau besok, teman-temannya mengajaknya memancing ke laut. Otousan juga bilang kalau dia akan membawa mobilnya, jadi kita juga tidak bisa menggunakan mobil itu untuk mengetesku."

"Bagus," Aiko menghela napas, "Jadi, mobil siapa yang bisa kita gunakan?"

"Bagaimana dengan bus Maho-dou yang akan kalian gunakan," usul Mirai, "Lagipula, bus itu selalu terparkir disini setiap kali kalian membuka toko ini."

"Hmm, boleh saja, Mirai-san," sahutku menyetujui perkataan Mirai, "Ayo, kita mulai tesnya sekarang."

"Tidak bisa begitu, Doremi-chan. Ini sudah malam," Onpu menyilangkan lengannya, "Ini sudah malam, dan besok masih hari Jumat. Sebaiknya, kita melakukannya besok, sepulang sekolah."

"Kurasa itu ide yang bagus," sahutku sambil bertolak pinggang, "Baiklah, lagipula… kita tidak punya jadwal untuk tampil dimanapun besok, dan jujur saja, aku sudah mengantuk."

Aiko lalu berkata saat ia melihatku mulai menguap, "Kau tidak sedang menghindari kenyataan kalau sebenarnya kau masih belum bisa menyetir mobil kan, Doremi-chan?"

"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku berbohong kepada kalian," bantahku yang kemudian mulai berjalan mendekati tangga, "Baiklah, sekarang waktunya kita tidur. Oyasumi."

"Oyasumi," sahut keempat sahabatku yang akhirnya mengikutiku menaiki tangga. Kamipun memasuki kamar masing-masing, sementara Mirai juga memasuki kamarnya yang berada di lantai dasar.

'Aku memang sudah bisa menyetir kok. Kalian lihat saja besok.'

.

"Kalian bisa lihat sendiri kan, kalau aku tidak berbohong?"

"U-usou!" seru keempat sahabatku, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Aku sedang mengemudikan bus Maho-dou.

"Usou janai yo. Aku benar-benar bisa mengemudikan bus ini," ujarku, "Yah, berhubung sekarang kita sudah berada di jalan, bagaimana kalau hari ini, kita berjalan-jalan saja? Ada yang punya usul tentang kemana kita akan pergi sekarang?"

"Justru, melihatmu bisa menyetir begini membuatku ingin bisa menyetir juga," sahut Aiko.

"Aku juga," ujar Hazuki, "Jujur saja, aku juga merasa kalau… akan lebih bagus kalau kita semua bisa menyetir mobil, supaya kita semua bisa bergantian mengemudikan bus ini."

"Aku setuju dengan usul Hazuki-chan," sahut Onpu, "Doremi-chan, kalau kita hanya bergantung padamu saja, tidak adil namanya. Kita semua harus bisa menyetir mobil, supaya kita bisa mengatur jadwal giliran untuk mengemudikan bus ini."

"Jadi intinya, mulai hari ini, kalian ingin belajar menyetir?" tanyaku. Mereka mengangguk.

"Doremi-chan, kau bisa ajari kami kan?" tanya Momoko, "Kita benar-benar harus bisa menyetir sekarang. Kalau bisa, kita mulai belajar sekarang juga."

"Tentu saja bisa," jawabku sambil terus menyetir dengan fokus, "Aku tahu, tempat yang cocok bagi kita untuk berlatih menyetir."

"Demo ne, minna, kurasa… bukan hanya itu saja yang harus kita lakukan," ujar Hazuki, "Kurasa, kita juga harus punya… surat izin mengemudi."

"Eh, benar juga ya?" sahutku sweatdrop, "Saat itu saja, Tetsuya berani membawa mobil ayahnya karena… dia baru saja mendapatkan SIM…"

Seketika, aku teringat bahwa sampai sekarang, aku masih belum punya SIM…

"Gawat! Aku kan belum punya SIM!" seruku panik, "Kalau nanti kita bertemu dengan polisi yang sedang mengadakan razia, bagaimana?"

"Doremi-chan…" ujar Aiko sambil melirikku tajam. Ia menghela napas, "Baiklah, sekarang kita semua sadar kalau hanya bisa menyetir saja belum cukup untuk memecahkan masalah. Kita juga harus punya SIM."

"Oh, oke," sahutku, mencoba menenangkan diri, "Begini, kurasa sekarang… kita masih bisa berlatih mengemudi, dan besok, kita coba test drive sekalian kita mencoba mengikuti ujian untuk mendapatkan SIM. Bagaimana?"

"Boleh saja. Lebih cepat kita mendapatkannya, lebih baik," Onpu menyetujui saranku, "Jadi, Doremi-chan, apa kita sudah sampai di tempat yang kaumaksud tadi?"

"Belum," jawabku, "Tapi kita sudah dekat sih…"

'Mudah-mudahan tidak ada polisi lalu-lintas yang sedang mengadakan razia hari ini…'

.

Normal POV

Sabtu pagi…

Doremi, Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko sedang berada di tempat ujian menyetir, sedang berusaha supaya bisa mendapatkan SIM yang mereka butuhkan untuk mengemudikan bus Maho-dou yang akan mereka gunakan. Tanpa membuang waktu, mereka langsung mendaftarkan diri sebagai peserta ujian menyetir.

Tak lama setelah mereka mendaftar, para petugas yang bekerja disana lalu memerintahkan mereka, juga beberapa peserta ujian menyetir lainnya untuk mengikuti ujian tulis mengenai rambu-rambu lalu-lintas. Mereka dapat mengikuti ujian tulis tersebut dengan baik, karena setidaknya, mereka sudah terbiasa melihat rambu-rambu lalu-lintas di jalan-jalan yang biasa mereka lewati.

Setengah jam setelah ujian tulis diadakan, para petugas memanggil para peserta ujian yang lulus ujian tulis untuk mengikuti ujian praktek menyetir satu persatu, sesuai urutan huruf yang berlaku di Jepang (a-i-u-e-o-ka-ki-ku-ke-ko-dst) berdasarkan nama keluarga dari para peserta.

Dari kelima orang personil MAHO-Do, Momoko adalah yang pertama mengikuti ujian praktek tersebut, disusul dengan Onpu, Aiko, Doremi dan Hazuki.

Dan saat ujian tersebut selesai, mereka berlima pulang ke Maho-dou dengan senang hati, karena mereka berlima berhasil memperoleh SIM.

"Yeah, I got it! I got it!" seru Momoko sambil memperlihatkan SIM miliknya, "This is my driving license!"

"Semua ini berkat latihan yang kita lakukan kemarin," ujar Onpu, "Doremi-chan, ini juga berkat kau yang mengajari kami kemarin."

"Ya… sebenarnya sih, itu juga karena kalian sendiri juga. Kalian cepat mahir mengemudi," sahut Doremi sedikit merendah, "Yang penting sekarang, kita semua sudah punya SIM."

"Se na. Dengan begitu, sekarang kita tidak perlu ragu lagi untuk menggunakan bus Maho-dou," ujar Aiko, "Kita bisa menggunakan bus itu sekarang."

"Satu masalah kecil akhirnya terpecahkan," Hazuki menghela napas lega. Mereka berlima pun tersenyum senang.

"Sekarang, waktunya menyusun jadwal giliran menyetir bus!"

.

(Ending Song 'Ojamajo Girlband': 'Zutto Friend' by MAHO-Do – Original Version by Nakatsukasa Masami)


Catatan Author: Yah, seperti yang sudah saya bilang, chapter ini lumayan pendek…

Oke, pasti sekarang… ada beberapa dari readers sekalian yang bertanya-tanya, kenapa di chapter-chapter belakangan ini, saya tidak mencantumkan FLAT 4 dalam cerita, ya kan?

Tapi soal ini, readers nggak perlu khawatir. Di chapter selanjutnya, saya pasti nggak akan lupa mencantumkan FLAT 4 juga, jadi… tunggu chapter selanjutnya ya?