Minna-san! hiks...hiks...hiks...maafin suki karena telat meng-update chapter baru fic ini. minna-san tetep mau baca kan? Gomenasaaaaiii! *nangis meraung-raung*

ya udah, minna makasih kalau mau tetep baca dan memberi review...^^


Sekaiichi Hatsukoi

Disclaimer : Nakamura Shungiku, but Ritsu is mine. *Takano kill me*

Warning : Sho-Ai. GeJe. dll.

I DO NOT OWN SEKAIICHI HATSUKOI! DON'T READ IF YOU DON'T LIKE!


CHAPTER 2

The Rival is Coming!

By : Sukikawai-chan


"Ya, ya…sekarang kan baru saja jam 10. Ya, jam sepuluh lebih dua puluh menit, oh terserah lah! Oh, gomen Takano-san, kereta-nya sudah datang. Selamat malam." Ritsu menutup flap handphone-nya dengan keras. kedua iris mata hijaunya menatap handphone di tangannya dengan pandangan jengkel. Ya ampun! Sebenarnya ada apa sih dengan atasannya itu? Hari ini orang yang bernama Masamune Takano sudah di luar batas kewajaran mengganggu ketenangan hidupnya. Bagaimana tidak? Setiap hari saja orang itu sering menggodanya, apalagi apartemen Takano tepat sekali bersebelahan dengannya—hanya tinggal berjalan beberapa langkah—setelah itu tampat dimana mereka bekerja juga sama, berperan sebagai atasan dan bawahan, apakah itu tidak cukup untuk mengganggu kehidupan tenang Ritsu? Dan sekarang…. Orang itu bersikap overprotective padanya! Bayangkan! Jika mereka sedang tidak bersama-sama, Takano selalu menelepon dirinya setiap lima menit sekali. Apalagi jika sedang di kantor, saat Ritsu keluar dan tidak kembali-kembali ke tempat duduknya, Takano langsung mengontaknya dan menanyakan dirinya ada dimana atau menyuruhnya untuk cepat kembali.

Atau jika tidak pulang bersama ke apartemen, Takano langsung meneleponnya dan menyuruhnya untuk segera pulang, dan lebih parahnya ia pernah dipaksa menyebutkan tempat dimana dirinya berada, maka Takano akan langsung menjemputnya.

Ritsu menghela napas pelan. Takano bersikap seolah-olah kakak laki-laki baginya, atau lebih tepatnya, seorang pacar. Eh? Tunggu, pacar…? Sejak kapan…Astaga! Ada apa dengan dirinya ini? Jangan katakan kalau dirinya ini sudah terbuai dengan sikap Takano akhir-akhir ini padanya. Ritsu langsung menghapus pikiran itu dari benaknya.

Suara pintu kereta yang terbuka membuyarkan lamunan Ritsu. Ia berjalan memasuki kereta, dan duduk dekat dengan pintu kereta agar lebih mudah untuk keluarnya. Hari ini Takano tidak pulang bersamanya. Laki-laki itu harus menemui setiap author untuk mendiskusikan komik yang akan diterbitkannya. Ritsu menghela napas pelan, ia teringat kembali saat beberapa menit lalu Takano meneleponnya.


Flashback mode on

Kriingg!

Dengan malas Ritsu mencari-cari handphone yang berada di dalam tasnya. Entah mengapa hari ini handphone-nya terus berdering minta dijawab. Dan orang yang meneleponnya tidak lain adalah…

"Hai, moshi-moshi. Onodera-desu!"

"Ini aku…"

Masamune Takano.

"Ada apa lagi Takano-san? Dari tadi kau terus menerus meneleponku!"

"Kau ada dimana sekarang?! Kenapa belum pulang-pulang juga?!"

Ritsu sedikit menjauhkan handphone-nya saat suara Takano meninggi menjadi 1 oktaf. Ck! Ada apa sih dengan orang itu? begitu ditanya langsung marah.

"Aku sedang berada di stasiun, dalam perjalanan untuk pulang." Jawab Ritsu ketus.

"Kau sendirian?"

"Tentu saja! Memang aku harus mengajak siapa?" 'Haruskah Takano bertanya tidak penting seperti itu?' gerutu Ritsu dalam hati. Lalu, terdengar helaan napas lega dari Takano.

"Kenapa baru pulang sekarang?"

"Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Jawab Ritsu asal,

"Cepatlah pulang, jangan pedulikan orang yang tidak dikenal. Jangan menjawab telepon orang selain dariku. Dan jika dalam 30 menit kau belum kembali ke apartemenmu, maka kau akan merasakan marah dariku!"

"Hah? Sejak kapan kau bersikap seolah-olah kau adalah ibuku? Bahkan Ibuku saja tidak seperti itu! aku bukanlah seorang aak kecil lagi, Takano-san!" terdapat nada tegas dalam kalimat terkahir yang diucapkan Ritsu.

"Kau pikir ini jam berapa?! Aku mencemaskanmu!"

Deg! Ritsu tertegun. Perasaan ini datang kembali padanya. Jantungnya berdebar-debar dua kali lebih cepat. Benarkah apa yang didengarnya? Takano mencemaskan dirinya?

"Oi! Onodera?"

Ritsu mengerjapkan matanya sekali. Dengan cepat ia mencari alasan tepat untuk mengakhiri pembicaraan di handphone-nya.

"Ya, ya…sekarang kan baru saja jam 10,"

"Salah! Jam sepuluh lebih dua puluh menit!"

"Ya, jam sepuluh lebih dua puluh menit, oh terserah lah! Oh, gomen Takano-san, kereta-nya sudah datang. Selamat malam."

Saat itu Ritsu hanya menghela napas lega sedangkan ia tidak tahu Takano mendengus kesal karena langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja.

Flashback mode off


Ting!

Suara pintu terbuka pelan kembali membuyarkan lamunan Ritsu. Ya ampun! Ada apa dengan dirinya ini? Pikirannya sama sekali tidak fokus. Ia bahkan tidak tau kalau kereta sudah sampai di stasiun berikutnya. Dengan malas Ritsu bangkit lalu berjalan ke arah pintu keluar. Hahh… mala mini sungguh melelahkan baginya. Kembali disuguhkan oleh bertumpuk-tumpuk naskah yang harus dieditnya.

"Oh, bukankah kau Onodera-kun?"

Merasa dirinya dipanggil, Ritsu menolah. Kedua bola matanya sontak membulat ketika mengetahui orang yang telah memanggilnya.

"Ha…Haitani-san?"

"Oh, syukurlah kau masih mengingatku." Ujar Shin sambil berjalan mendekati Ritsu. Ritsu merutuk dalam hati, ia berharap permuan ini tidak memakan waktu lama. Dan mengapa harus orang itu yang ada dihadapannya saat ini?

"Baru pulang kerja?" tanya Shin sambil tersenyum lebar,

"Ya,"

"Selarut ini?"

"Kau pasti tahu. Banyak naskah yang harus aku edit."

Shin manggut-manggut mengerti. Ia mengamati Ritsu dari bawah sampai atas. Merasa di tatap seperti itu, Ritsu menjadi risih dibuatnya. Yang penting ia harus cepat-cepat pergi dari sini.

"Kau terlihat sangat lelah. Apa kau baik-baik saja?"

"Eh? Ah, ya tenang saja. Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit stress menghadapi tumpukkan naskah yang harus ku edit." Sahut Ritsu sambil memaksakan seulas senyum.

"Pasti gara-gara si Takano itu?" Ritsu tertegun. Terdapat nada suara yang tidak disukainya saat Shin berkata seperti itu.

"Ya, begitulah." Ujar Ritsu sambil melihat jam tangannya. Glek! Dia sudah telat dari waktu yang dijanjikan Takano padanya.

"Ah, Haitani-san. Maaf, sepertinya aku harus pulang sekarang." Ritsu berbasa-basi, berusaha cepat pergi dari tempatnya sekarang ini.

"Oh? Kau…mau kuantar?"

"Tidak!" sela Ritsu cepat, "Terima kasih atas tawaranmu. Aku bisa sendiri, kalau begitu selamat malam." Ritsu membungkukkan badannya, dan segara berbalik untuk pergi.

Grep!

Langkahnya tiba-tiba berhenti saat tangan besar mencengkeram erat lengannya. Lebih tepatnya, tangan Shin yang mencengkeram erat lengannya. Kedua bola mata Ritsu sontak membulat.

"Kau tidak boleh seenaknya pergi seperti itu, Onodera-kun." Ujarnya santai,

"Eh? Tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Jadi, kau bisa melepaskanku sekarang?"

"Kalau aku tidak ingin bagaimana?"

Deg! kenapa sikap Shin menjadi berubah seperti ini? Sambil mencengkeram lengannya pula. Atau jangan-jangan….tidak-tidak! Ia tidak boleh berprasangka buruk pada orang yang baru saja dikenalnya. Mungkin, laki-laki itu merasa tersinggung dengan sikapnya tadi yang langsung pergi.

"Err…tapi aku harus cepat-cepat berada di rumah." Sahut Ritsu mencari alasan yang tepat,

"Tidak perlu terburu-buru seperti itu. Aku hanya ingin mengantarmu, apa itu tidak boleh?"

Tidak! Sangat tidak boleh! apa jadinya kalau Takano melihat dirinya berasama dengan orang yang diperingatkan Takano untuk jangan pernah mendekatinya?!

"Tapi—"

"Oh ya, kita belum sempat minum waktu itu. Kau tidak menerima ajakan ku waktu itu. jadi bagaimana kalau sekarang saja?" tanya Shin masih dengan tangan yang mencengkeram lengan Ritsu.

"Demo, aku…"

"Tidak ada penolakkan untuk hari ini! Ayo pergi!" dengan seenaknya, Shin langsung menyeret Ritsu pergi. Tidak mempedulikan rontaan Ritsu untuk melepaskan lengannya. Namun, di saat itu pula…

Grep!

Seseorang melepaskan cengkeraman Shin di lengan Ritsu dan membawa Ritsu ke belakang punggungnya.

"Kalau dia tidak ingin, kau tidak perlu memaksanya seperti itu."

Su…suara itu? jangan katakan kalau suara itu…

Senyum Shin mengembang licik saat melihat siapa yang melepaskan secara paksa tangannya tadi.

"Oh, ternyata kau, Takano-san."

Ritsu membelalak. Di satu sisi ia bingung mengapa Takano berada di sini, tapi di sisi lain ia senang karena Takano datang yang secara tidak langsung menyelamatkannya. Beberapa menit Takano dan Shin hanya saling pandang, tidak berbicara atau pun tidak beranjak pergi. Dapat Ritsu rasakan ada aura menegangkan di sekitar mereka. Setelah itu, Takano menoleh dan menatap Ritsu tepat di kedua iris matanya dengan tajam.

"Kenapa kau lama sekali? Kau pikir sudah berapa lama melewatkan waktu 30 menit yang sudah kuperingatkan? Kau harus menerima hukumannya nanti!" sahut Takano mengancam. Ritsu menelan ludah dengan susah. Entah mengapa dirinya yang suka melawan menjadi sulit untuk meluncurkan kata-kata seperti 'Hah! Memangnya kau ibuku? Seenaknya saja mengatur waktu ku!' atau apa pun yang berhubungan dengan sikap Takano saat ini.

"Hei, Takano-san. Tidak perlu keras padanya, kau terlalu menuntut pada bawahanmu. Awalnya, aku dan Onodera-kun akan pergi untuk meinum-minum, bukan begitu Onodera-kun?" tanya Shin dengan kedua matanya yang menatap Ritsu seperti 'kau-harus-menjawab-iya'

"Aku…"

"Tapi kan ia tidak menginginkannya. Itu hanya kau yang menyeretnya paksa, Haitani"

"Kalau begitu…"

"Maaf, orang yang melakukan pekerjaanya belum benar dan setengah-setengah tidak diizinkan untuk bersenang-senang. Apalagi yang mengerjakan proposal saja tidak benar." Ujar Takano sambil menatap Ritsu. Sedangkan Ritsu hanya mendengus pelan, menyebalkan sekali!

"Kalau begitu, kami pergi duluan." Sambil berkata begitu, Takano meraih pergelangan tangan Ritsu dan menyeretnya pergi. Meninggalkan Shin yang berada di tengah-tengah kerumunan ramainya stasiun. Sedangkan Shin, ia hanya tersenyum licik dan kedua bola matanya tidak lepas dari sosok Ritsu yang mulai menjauh.

"Semakin kau melindunginya, maka semakin besar pula keinginanku untuk merebutnya darimu. Takano,"


"Taka…no-san?"

Hening. Takano masih tetap menggenggam erat tangan Ritsu, tapi kepalanya tidak menoleh sedikit pun pada Ritsu. Bahkan mengeluarkan suara pun tidak. Akhirnya, Ritsu pun menyerah dan tetap diam, membiarkan tangan Takano menggenggamnya erat sampai di depan pintu apartemen mereka.

"Takano-san, kau bisa melepaskanku sekarang." Ritsu menggerak-gerakkan tangannya. Berusaha melepaskan tangannya dari Takano. Tapi, sepertinya Takano tidak ingin melepaskannya.

"Takano—UWWAAHH!"

Clek! BLAM!

"Apa—apa yang kau lakukan? Aku ingin kembali ke apartemenku!"

Tanpa di duganya, Takano menyeret Ritsu ke dalam apartemennya. Dan agar Ritsu tidak kabur, kedua tangan Takano di tempelkan di daun pintu, mengapit tubuh Ritsu dengan tubuhnya. Kedua matanya menatap Ritsu dengan tajam.

"Sudah kubilang berapa kali, jangan pernah mendekati orang itu!" seru Takano setengah berteriak, RItsu sempat mematung mendengarnya.

"Aku hanya bertemu dengan Haitani-san secara tidak sengaja."

"Lalu, kenapa kau malah mengobrol dengannya?! Kau tahu berapa lama aku menunggumu, kau tidak pulang-pulang selama lebih dari 30 menit!"

Ritsu mencelos mendengarnya. Takano menunggunya? Mengapa Takano menunggunya? Mengapa Takano begitu marah saat dirinya tidak pulang-pulang dari waktu yang diperingatka Takano padanya? Dan mengapa jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dua kali lebih cepat? Mengapa wajahnya terasa panas?

"Kenapa kau—mmpphh!"

Dengan cepat Takano mengunci bibir Ritsu dengan bibirnya. Tangan kiri Takano melingkar di pinggang Ritsu sedangkan tangan kanannya menekankan bagian belakang kepala Ritsu. Memperdalam ciuman mereka. Ritsu berusaha melawan, tapi Takano semakin mengeratkan pelukannya dan semakin ganas mencium Ritsu. Bahkan, bagian dalam mulut Ritsu berhasil dikuasai Takano. Dan saliva pun menetes dari pinggir bibir Ritsu yang sudah merah dan bengkak.

"Mmmpphh!"

Merasa pasokan udaranya mulai berkurang, dengan berat hati Takano menghentikan ciumannya. Keduanya terengah-engah untuk mengambil napas. Ritsu yang merasa pusing karena kehabisan oksigen, ambruk dan terjatuh ke dalam pelukan Takano.

"Su…dah…cu…kup. Ta…ka…no-san." Ujar Ritsu terengah-engah, kedua tangannya menggenggam baju Takano dengan erat. Seperti kedua tangan Takano yang memelukanya erat.

"Kau adalah milikku Ritsu. Ku peringatkan sekali lagi, jangan—jangan pernah—bertemu dengan orang yang bernama Haitani Shin. Karena aku tahu sisi lain dari dirinya yang tidak kau ketahui, maka dari itu tetaplah di sisiku!" sahut Takano dengan memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. Ritsu hanya terdiam. Ia tidak mengerti mengapa Takano begitu melarang keras dirinya untuk bertemu dengan Shin. Entah masalah apa yang pernah terjadi di antara mereka. Yang penting itu adalah masalah yang buruk. Jadi, secara sadar, Ritsu mengangguk.

Takano menghela napas, sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh bagian belakang kepala Ritsu. Membenamkan kepala Ritsu ke dalam dada bidangnya.

"Ritsu, I love you."

Ritsu terpana. Entah mengapa nalurinya tidak berusaha menghindar dari Takano, ia biarkan kepalanya terbenam di dada bidang Takano, ia biarkan Takano memelukanya erat, ia biarkan perasaannya hangat berada di pelukan Takano. Ia biarkan mengikuti apa kata hatinya dibandingkan dengan kata pikirannya.

Takano-san khawatir padamu, karena ia takut kalau kau jatuh sakit seperti waktu itu. Secara tidak langsung Takano-san sedang menjagamu, kau tahu itu kan?

Ritsu memejamkan kedua matanya, benarkah itu Kisa-san?


Minna! akhirnya selesai juga chap ini. oh iya, makasih ya buat Raiu-senpai yang tetap me-review fic gj ini, Rikaggi Fujiyama-senpai yang telah memberikan saran dan senang karena ada yang memperebutkan Ritsu, hehehe, dan buat Ice-cy salam kenal jugaaaa! makasih review nya. Dan yang udah nge-fave. hehehe...

jadi, buat cerita ini, TBC atau END?

hehehehe, don't forget to review minna! ^^

Ja Nee... _