Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling.

Pairing: Hermione Granger & Marcus Flint.

Rating: T


Tahun kedua Hermione Granger, tahun kelima Marcus Flint.

Lapangan latihan Quidditch, Sekolah Sihir Hogwarts.

"Oh, lihat. Penyerbuan lapangan."

Serentak, seperti dikomando, seluruh anggota Quidditch Slytherin dan Gryffindor menoleh ke arah Hermione Jean Granger dan Ronald Bilius Weasley yang tergesa-gesa menyeberangi rumput menuju lapangan.

Marcus Flint, Kapten tim Quidditch Slytherin menatap dua murid tahun kedua itu dengan mata berkilat. Pandangan intensnya tak pernah lepas dari rambut cokelat lebat Hermione yang berkibar-kibar diterpa angin. Mulutnya membentuk seringai tipis saat melihat pipi Hermione merona kemerahan karena berlari-lari kecil.

"Well, well, well. Siapa lagi kalau bukan Princess Gryffindor dan penjaga setianya, si kacung rambut merah Ron Weasley yang berani mengganggu konfrontasi ini," Flint berbisik rendah di dekat kuping Wakil Kapten Slytherin, Adrian Pucey yang mendengus bosan.

Sepanjang adu mulut antara Ron Weasley dan Seeker baru Slytherin, Draco Malfoy, wajah Flint tetap tak berubah. Penyihir berpostur tinggi besar itu terus-menerus menampakkan senyum sinis.

Sesekali, bola mata abu-abu pucatnya melirik Hermione yang tampak berjuang hebat memikirkan kata-kata tajam untuk melawan arogansi Malfoy.

"Paling tidak, tak seorang pun anggota tim Gryffindor harus menyuap untuk bisa masuk," sindir Hermione pedas, memicingkan mata sebelum kembali berceloteh.

"Mereka dipilih karena memang mampu."

Ahh, batin Flint, tanpa sadar menyeringai senang. Singa kecil Gryffindor akhirnya mengaum dan menampakkan taring tajamnya.

"Tak ada yang minta pendapatmu, Darah Lumpur kotor!" bentak Malfoy berapi-api.

Untuk sesaat, emosi liar dan janggal meluap di benak Flint mendengar umpatan rasis tersebut. Kepalan tangannya kian kencang setelah genangan air mata membayang di pelupuk mata cokelat Hermione.

Namun, dahsyatnya kekacauan pasca ejekan tak berperikemanusiaan itu membuat Flint tak mampu memikirkan perasaan aneh yang meremang di hati. Kurang dari sedetik, ia harus bertindak cepat membentengi Malfoy dari terjangan ganas si kembar Weasley.

Kehebohan brutal berubah menjadi gelak tawa saat Mantra Pemuntah Siput yang ditembakkan Ron memantul balik pada dirinya. Jatuh terduduk di rumput basah, putra bungsu keluarga Weasley itu bersendawa keras sambil memuntahkan puluhan siput hidup penuh lendir.

Melihat kejadian menggelikan itu, Flint terbahak-bahak sampai terbungkuk-bungkuk di sapu balap baru, Nimbus Dua Ribu Satu. Sapu balap keren hadiah dari ayah Malfoy, Lucius Malfoy.

Tawa Flint baru teredam ketika Hermione memapah bahu kanan Ron yang lunglai tak berdaya. Mata kelabu pucatnya menyipit segaris, mengawasi tanpa henti hingga Hermione dan kedua teman akrabnya menghilang di ujung jalan. Kelokan kecil yang berujung ke pondok pengawas binatang liar Sekolah Sihir Hogwarts, Rubeus Hagrid.

Flint terhenyak dan mengalihkan perhatian setelah lengan kanannya dicekal Adrian Pucey. "Ada apa denganmu, Flint?" suara Pucey terdengar penuh peringatan. Dari intonasi suara yang menyentak, tampak jelas kalau pemuda tampan berambut cokelat keemasan itu tak menyukai tatapan Flint yang menerawang.

"Tidak. Tak ada apa-apa," Flint mengangkat bahu, acuh tak acuh menanggapi ekspresi tak percaya di wajah Wakilnya. Dengan lagak arogan, Flint memutar badan, berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya, Kapten Quidditch Gryffindor, Oliver Wood.

Selama beberapa menit, kedua Kapten yang sudah terlibat persaingan sengit sejak zaman batita itu saling berpandang-pandangan, berlomba-lomba melontarkan tatapan membunuh. Percikan amarah terlihat jelas hingga membuat rumput lapangan nyaris hangus terbakar.

"Nah, Wood. Silahkan cari tempat lain untuk berlatih. Sesuai surat instruksi Profesor Snape, Slytherin akan berlatih hari ini. Tapi, tak apa-apa juga sih jika kalian bersikeras bertahan di lapangan ini. Toh, kami butuh sasaran hidup untuk bola Bludger," cemooh Flint kasar, melambaikan tangan ketika gemuruh tawa meledak di sekelilingnya.

Sinisme dan sindiran tersebut membuat keributan jilid dua kembali meletus. Setidaknya, di tengah-tengah pertikaian menahun dan berkelanjutan itu, Flint bisa melupakan semua imajinasi nakalnya. Gairah liar dan primitif yang berkutat seputar anggota Trio Emas Gryffindor, Hermione Jean Granger.

Penyihir kelahiran Muggle yang sudah mengusik perhatiannya sejak setahun silam...

Sementara itu, di kabin kayu Hagrid...

Setelah beberapa saat, suara muntahan dan degukan menyedihkan Ron mulai berkurang. Jumlah siput hidup yang meluncur mulus dari liang tenggorokan pun semakin menyusut.

Meringkuk pucat pasi, Ron yang terduduk lemas di bangku bertangga memegangi ember kedua di pangkuan. Di tegel penuh lendir, anjing raksasa telat mikir milik Hagrid, Fang mengendus-endus penuh minat ember kuningan besar yang dipenuhi ratusan siput hidup.

Terdiam lesu di pojok ruangan, Hermione memandang murung Hagrid yang susah-payah menarik kepala Fang keluar dari ember. Di kursi tengah, Harry tak mengucapkan sepatah kata pun semenjak menyantap kue karang dan gulali tengik buatan Hagrid. Tampaknya, camilan sekeras beton irigasi itu sukses meremukkan semua gigi dan deretan rahang Harry.

Untuk keseribu kalinya siang itu, Hermione mendesah pelan, merenungkan pergolakan emosi yang berkecamuk di lipatan batin. Sejujurnya, kata-kata penghiburan Hagrid dan pengorbanan Ron tak mampu meredakan kepiluan jiwanya saat ini.

Bagi Hermione, rasa sakit karena dihina Malfoy sebagai penyihir najis berpembuluh lumpur tak ada apa-apanya dibandingkan tawa mencemooh serta roman muka merendahkan yang diperlihatkan Marcus Flint.

Kakak kelas yang sudah menyita perhatiannya sejak setahun terakhir...

Memang, dari segi penampilan, Flint tak tergolong tampan. Dengan badan tegap penuh otot, rambut sehitam arang serta perangai beringas, Flint tak ubahnya seperti Raja Troll sakit jiwa. Momok menakutkan bagi sebagian penghuni Hogwarts, terutama awak Quidditch Gryffindor yang sering dijadikan sasaran tembak tinju kosongnya.

Namun, di mata Hermione, semua arogansi itu merupakan ciri khas Flint. Watak khas yang mampu membuatnya terkagum-kagum. Sejak melihat kepiawaian Flint di lapangan Quidditch, Hermione diam-diam menyimpan perasaan istimewa untuk seniornya itu. Senior yang ternyata tak menyimpan emosi serupa untuk dirinya...

Menahan guncangan air mata, Hermione memejamkan mata rapat-rapat, berjuang memblokir ledekan tawa Flint yang terus terngiang-ngiang di ingatan dan indra pendengaran. Cercaan pedih yang membuktikan bahwa seperti penyihir berdarah murni lainnya, Flint hanya menganggapnya sebagai bahan lelucon semata.

Menyadari fakta menyakitkan itu, Hermione perlahan-lahan menutup pintu hati. Diam-diam meratapi cinta pertamanya yang harus layu sebelum berkembang...


Tahun ketiga Hermione Granger, tahun keenam Marcus Flint.

Asrama Slytherin, Sekolah Sihir Hogwarts.

"Darah Lumpur keparat!"

Teriakan lantang Draco Malfoy bergaung membahana di ruang bawah tanah Slytherin yang sore itu dipadati sejumlah siswa kurang kerjaan. Dua pelajar tahun pertama yang sedari tadi berdiam di dekat pendiangan buru-buru melarikan diri setelah asap amarah mengepul dari lubang telinga dan hidung Malfoy. Sisanya, sejumput murid tahun kedua memberanikan diri mendekam di tempat, memandang takut-takut dari balik tabloid Quidditch edisi terbaru.

Kengerian tersebut berbanding terbalik dengan reaksi gadis-gadis Slytherin. Seperti paku karatan tersedot besi berani, lima anak perempuan teman sekelas Malfoy yang sedari tadi berjongkok malas-malasan langsung mendatangi sang idola.

Dipimpin Pansy Parkinson, penyihir jelek paling cerewet sepanjang sejarah Hogwarts, rombongan siswi kegatelan itu mengerjap-ngerjapkan bulu mata palsu mereka, berharap bisa melumerkan kejengkelan yang diidap si pirang platina.

"Ooh, Draco Sayangku, Cintaku, Manisku. Ada apa?"

Pansy, si muka anjing pesek yang selalu merasa dirinya secantik Ratu Sejagat melingkarkan lengan di bahu Malfoy. Menyeringai licik, Pansy tanpa permisi nangkring di pangkuan Malfoy. Bergelung manja layaknya ular beludak culas.

Malfoy yang keberatan ditindih tubuh ceking Pansy langsung menjulang mendadak, menjungkalkan gadis kurus kering berambut bob sebahu itu ke hamparan karpet tak berbulu. Keempat gadis lainnya meringkik kegirangan, mensyukuri keapesan nasib pemimpin geng mereka.

"Astaga, Draco! Sinting! Gila! Miring! Apa-apaan sih kamu ini!"

Rentetan omelan tak bermutu Pansy langsung terhenti setelah dara bertemperamen tinggi itu menyadari lebam kebiruan di dekat hidung pemuda idamannya. Goresan mengenaskan yang pastilah terlahir dari sisa-sisa jotosan bertenaga tinggi.

"Draco, hidung antikmu kenapa?" cicit Pansy panik, menelusuri guratan memar dengan jari lentik yang seruncing kuku Mantikora, hewan mitologi Persia yang gemar melahap manusia tanpa sisa.

"Pelakunya si Darah Lumpur Granger. Ia meninju Draco saat kami berniat menonton eksekusi hukuman mati Hippogriff sialan milik Hagrid, Buckbeak," Vincent Crabbe, salah satu tangan kanan Malfoy berbaik hati menjelaskan, tanpa basa-basi melesakkan pantat berlemaknya di sofa empuk terdekat.

Tak butuh waktu lama, jeritan melengking Pansy yang setara dengan ledakan satu kontainer Skrewt-Ujung-Meletup menggetarkan seisi ruangan. Pekikan beroktaf tinggi itu membuat Marcus Flint yang baru memasuki ruang rekreasi mendelik dan buru-buru menutup rapat-rapat gendang telinga dengan bilah tangan.

Keempat sobat perempuan Pansy tak seberuntung Flint. Menahan dengingan di kuping, kuartet tak beradat itu melesat terbirit-birit ke Ruang Kesehatan untuk memeriksakan kondisi indra pendengaran mereka.

"Berani-beraninya jalang kasta rendah itu meletakkan tangan kotornya di wajahmu! Ini penghinaan namanya! Pembunuhan karakter! Kita harus membalasnya, Draco! Harus! Harus!" Pansy dengan liar menghentak-hentakkan kaki, merontokkan permadani bermotif jenggot pendiri asrama Slytherin, Salazar Slytherin dengan kibasan tapak sepatu.

"Tenang, Pans. Aku bersumpah untuk menghabisi si Darah Lumpur, si Gembel Weasley dan si Jidat Pitak Potter. Untuk saat ini, si Darah Lumpur dulu yang kita bereskan," mata kelabu perak Malfoy berpijar mengerikan, mengingatkan Pansy akan sorot mata dedemit yang sering ditontonnya di bioskop layar tancap.

"Apa itu, Draco? Katakan padaku," rayu Pansy tak tahu malu, melompat-lompat kegirangan seperti nenek sihir yang habis ketiban sekarung keping emas Galleon.

"Begini skenarionya," Malfoy mendekatkan bibir tipisnya ke lubang telinga Pansy, berkasak-kusuk pelan penuh konspirasi.

Tanpa diketahui Malfoy dan sekutunya, Flint mendengar semua plot jahat tersebut. Kemampuan ilmu sihirnya yang jauh lebih tinggi dari junior-juniornya memungkinkan dirinya menguping diam-diam tanpa ketahuan.

Seiring dengan setiap bisikan keji Malfoy, urat leher Flint berdenyut-denyut. Mengepalkan buku jari, Flint menahan dorongan memutilasi dua adik kelasnya yang tengah tertawa terburai-burai.

Saat Malfoy selesai mengakhiri penjelasan kejamnya, diiringi cengiran puas Pansy, Flint mengambil keputusan final. Apapun yang terjadi, apapun konsekuensinya nanti, ia bertekad menggagalkan agenda busuk tersebut.

Agenda yang jika dibiarkan bisa membahayakan kelangsungan hidup satu-satunya gadis yang paling disayanginya...

BERSAMBUNG