Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling.

Pairing: Hermione Granger & Marcus Flint.

Rating: T


"Kita harus segera mengeluarkan Granger dari sana."

Pansy Parkinson dan Draco Malfoy memelototi Flora Carrow seakan-akan penyihir tinggi ramping itu memiliki lubang hidung lebih dari empat.

"Kau ini sinting apa? Kita sudah sejauh ini. Kalau kerja, jangan tanggung-tanggung!"

Saking jengkelnya, Malfoy menghardik keras. Lupa bahwa bentakan gahar menggelegar tersebut bisa menarik perhatian satpam sekolah, Argus Filch dan kucing kurus bawel, Mrs Norris.

"Jika dibiarkan terlalu lama, dia bisa terbunuh. Kalau itu sampai terjadi, kita bakal berakhir di sel pengap Azkaban. Aku tidak mau dicium Dementor menjijikkan," Flora meringis histeris. Dari detik ke detik, wajah pualam cantik Flora memucat, seakan-akan darah dipompa habis dari pembuluh tubuh.

"Ya Tuhan, Flora. Jangan lebay begitu. Aku yakin komunitas sihir malah berterima kasih karena kita berhasil mengurangi populasi Darah Lumpur sekaligus menekan polusi pemandangan," Pansy tersenyum sinis, cakar runcingnya yang melekuk seperti pisau kait tak berhenti memutar-mutar tongkat sihir milik Hermione.

"Ayo, Pans. Sudah cukup semua omong-kosong ini. Lebih baik kita kembali ke asrama," Malfoy membalikkan badan dan melangkah pergi.

Namun sebelum kaki sombong Malfoy beranjak lebih jauh, kilatan cahaya disertai semburan rapalan kalimat Petrificus Totalus menghantam sosok atletisnya.

Sedetik setelah mantra menyeruduk raga, pemuda berambut pirang keperakan itu membeku dan tersungkur mulus mencium bumi.

Pansy yang berdiri di samping Malfoy memekik kaget saat tubuh cekingnya tergantung terbalik di udara usai diterjang Mantra Levicorpus. Tongkat sihir Hermione yang dipegangnya terjatuh dan menggelinding di lantai batu.

Meski bibir beracun Pansy terkuak lebar, tak ada suara sekecil apapun yang keluar dari rongga mulut. Rupanya, si penyerang telah menambahkan Mantra Silencio untuk membungkam lengkingan panik Pansy.

Melihat semua kejadian tak terduga itu, Flora Carrow hanya bisa terbelalak ngeri. Tubuhnya semakin menggigil ketakutan setelah matanya mengenali identitas si penyerang yang bergerak keluar dari balik bayangan.

Bergerak dengan kesunyian menyeramkan, Flint memandang tegak lurus, berjuang hebat mengendalikan hasrat menghabisi nyawa Flora dan dua bajingan sialan yang masih terjebak dalam belenggu mantra.

Jika tak mengingat ancaman menetap sampai berkarat di penjara sihir paling mengerikan sedunia, Azkaban, Flint pasti sudah melafadzkan salah satu Kutukan Tak Termaafkan, Mantra Avada Kedavra. Jampi-jampi mematikan yang dalam satu detak jantung dipastikan langsung mengirim tiga adik kelasnya ke ujung neraka.

Melangkah tegas bak predator, Flint melambaikan tongkat sihir, menggumamkan Mantra Mufliato. Mantra peredam suara yang bertujuan mencegah seseorang dalam radius beberapa ratus kilometer mendengar raungan pilu mangsanya.

Dengan satu gerakan kasar, Flint membenturkan kepala Flora ke dinding batu. Tongkat sihirnya menancap dalam di batang tenggorokan teman sejak kecilnya tersebut.

"Kata kuncinya!" suara gagah Flint terdengar parau, campuran antara rasa benci dan amarah.

"Aku... Marcus, kita bisa bicara baik-baik," erangan putus-putus Flora terdengar menyedihkan. Titik-titik bening mulai bergulir dari kedua bola mata hijau zamrud sempurna yang memucat. Jari-jemari Flora yang dimanikur rapi menggelepar menggeliat, mencoba membebaskan diri dari bekapan tak berbelas kasihan.

"Kata kuncinya, Flora! Katakan segera!" Flint menghardik kasar, menekankan ujung tongkat sihir keras-keras hingga memercikkan buliran nyala api.

Lolongan ketakutan Flora membelah udara. Kendati gadis tanggung di depannya terisak-isak bersimbah air mata, Flint tak bergeming. Mata abu-abu pucat Flint yang sekelam awan di kala badai menyala-nyala dalam keremangan koridor, menatap tak berbelas kasihan rembesan air mata besar-besar yang mengaliri pipi teman sejak kecilnya itu.

Sebagai penghuni Slytherin, Flint paham betul taktik permainan penuh muslihat ala gadis-gadis Slytherin. Sudah bukan rahasia lagi jika siswi asrama ular gemar memakai tipu daya air mata buaya untuk mendapatkan semua keinginan mereka.

Sadar rengekan palsu berjalan sia-sia, ekor mata Flora memindai gelisah, mencoba mencari bala bantuan. Pelajar bandel pelanggar jam malam atau penjaga sekolah Argus Filch yang setiap tengah malam rutin berpatroli keliling sekolah.

Sayangnya, seperti tengah malam sebelumnya, koridor lantai tujuh sunyi senyap. Tak ada satu suara pun yang mengalir masuk. Keheningan keras, nyata dan mutlak yang secara langsung membuktikan kalau Mantra Mufliato bekerja dengan sempurna.

Di dekat kaki Flint, Malfoy terbaring kaku tak bergerak. Meski tak berdaya, Malfoy masih sepenuhnya sadar. Mata bulan purnama Malfoy melotot ke atas, ke arah Pansy yang tergantung terbalik di udara. Terjungkir di angkasa, kedua kaki Pansy menendang-nendang liar tanpa kenal lelah, mencoba melepaskan diri dari jeratan kutukan yang mendera.

"Kesempatan terakhir, Flora! Sebutkan kata kuncinya dan aku pastikan kau tidak akan berakhir di keranda jenazah," tangan kekar Flint mencekik leher korbannya, pelan tapi pasti menghisap habis sirkulasi udara.

Sadar dirinya kalah total, Flora berbisik lemah, dengan lirih menggaungkan kata kunci yang diucapkan Malfoy saat menciptakan ruang pembalasan dendam untuk Hermione.

"Troll... gunung... hutan... Albania."

Setelah Flora selesai membocorkan rahasia, Flint melepaskan tangan, membiarkan gadis secantik matahari pagi itu menghisap oksigen dengan susah payah. Membungkuk sekejap, Flint menyambar tongkat sihir Hermione yang tergeletak di lantai berdebu.

Mengira dirinya sudah selamat, Flora mencoba memasang topeng menggoda. Kedok menjijikkan yang langsung runtuh seketika tatkala tongkat sihir Flint teracung tepat ke dahinya.

"Obliviate."

Sementara itu, di dalam Ruang Kebutuhan...

Langkah berat dan berdentam-dentam membangunkan Hermione Granger dari alam ketidaksadaran. Membuka kelopak mata perlahan-lahan, Hermione berhati-hati memandangi situasi di sekelilingnya.

"Pantat Babon! Apa yang terjadi?" Hermione geragapan kalut saat menyadari dirinya tak lagi berada di koridor sekolah.

Sejauh mata memandang, terbentang belantara liar tak bertuan. Pohon-pohon besar menjulang tegak mengancam. Sulur-sulur daun berlumut dan batang-batang besar yang berbonggol-bonggol menghalangi jatuhnya sinar mentari, menyisakan bayangan-bayangan hitam mengerikan yang menari-nari suram di rumpun semak belukar.

Hermione semakin kalang-kabut saat menyadari tongkat sihir kesayangannya hilang. Belum pulih dari keterkejutan, Hermione dikagetkan dengan geraman buas berbau sebusuk toilet penuh bangkai.

Ragu-ragu, Hermione membalikkan tubuh, hanya untuk bertatap muka dengan Troll buruk rupa bermata tiga. Menyeringai lebar, menampakkan deretan geligi tajam berkilat yang bisa merobek tulang manusia dalam sekejap, raksasa gunung itu berdentum menghampiri Hermione yang menggigil jeri.

Menjerit nyaring, Hermione secara refleks menghindari ayunan pentungan berduri. Meraung frustrasi, Troll berjari delapan itu berjuang melepaskan pentungan baja berduri dari jeratan tanah hitam yang basah dan lunak.

Memaksakan kaki untuk bergerak secepat mungkin, Hermione terengah-engah berlari menerobos pepohonan, tak memedulikan sama sekali semak besar berduri dan cabang pohon tajam yang menggores dan mengoyak jubah sekolah.

Setelah terbirit-birit tak tentu arah, Hermione meringkuk gemetar di balik bonggol kayu keropos. Menciutkan diri sekecil mungkin, Hermione terisak saat pengalaman traumatis akibat serangan Troll yang terjadi di tahun pertama mulai mengapung di alam pikiran.

"Tenang, Hermione. Jangan menangis. Semua pasti baik-baik saja," Hermione berbisik kalut, mencoba menguatkan diri sendiri.

Celakanya, sekeras apapun Hermione mensugesti batin, otak geniusnya tetap memahami bahwa hidupnya bakal berakhir sia-sia.

Dulu, di tahun pertama, saat malam perayaan Halloween, ada Harry dan Ron yang menyelamatkannya dari serbuan Troll di toilet anak perempuan. Tapi, sekarang berbeda. Tak ada orang lain di tempat asing ini. Dengan kata lain, dirinya harus berjuang sendirian di tengah hutan rimba sialan ini.

"Ya Tuhan... aku tak mau mati konyol di sini. Harry... Ron... seseorang, tolong aku," Hermione bernapas berat dan tersengal-sengal, merintih lirih seraya memegangi dada yang berdekut takut.

Ratapan Hermione terhenti tatkala bayangan hitam jatuh di atas kepala. Mendongak, Hermione menatap pasrah saat monster beringas bermata tiga tersebut berancang-ancang mengayunkan senjata pembunuh yang mematikan.

"REDUCTO!"

Kilatan cahaya membentur raksasa gempal bertengkoral tebal tersebut. Sebelum Troll mengerikan itu pecah berkeping-keping akibat hantaman Mantra Penghancur, latar belakang pemandangan berubah sekejap mata. Belantara mencekam berganti dengan padang rumput hijau yang dipenuhi bunga aneka warna.

"Hermione... Princess..."

Berlari cepat seperti dikejar mayat berjalan kelaparan, Flint menghampiri Hermione yang bersimpuh tak berdaya di tengah padang bunga. Tanpa membuang waktu, Flint langsung mendekap Hermione di dalam pelukan.

Rangkulan posesif dan bantuan tak terduga itu membuat Hermione tak bisa mengendalikan rasa syukur yang membuncah. Bahu mungil Hermione yang dipenuhi percikan darah dan sisa-sisa ranting patah pun bergetar lega menahan gelombang tangis haru.

"Sssh, rileks Princess. Semua sudah berlalu," Flint berbisik di dekat telinga Hermione, mengelus-elus punggung gemetar Hermione dengan gerakan menenangkan.

Hermione memejamkan mata rapat-rapat, masih tak memercayai keajaiban yang menghampiri. Getaran menyelubungi jiwa Hermione saat napas hangat Flint membelai halus rambut dan ujung telinga.

Hermione melayang ke nirwana sewaktu aroma maskulin Flint yang sehangat pancaran sinar matahari musim semi menerpa indra penciuman. Usapan tangan Flint yang terasa lembut layaknya belaian mesra seorang kekasih membuat angan Hermione kian terbang ke awang-awang.

Merangkul erat Hermione, Flint menarik napas dalam-dalam dengan cepat, mencoba meredakan detak jantung yang menderu. Flint benar-benar bersyukur masuk tepat waktu ke Kamar Kebutuhan.

Jika terlambat sedikit saja, Troll Albania bermata tiga yang dirancang sesuai keinginan bengis Malfoy pasti sudah menghabisi Hermione. Bayangan akan kehilangan sang gadis pujaan membuat Flint mengeratkan pelukan.

Setelah merasa lebih baik, Hermione mengangkat tatapan. Dengan kedua lengan masih terkunci di pinggang Hermione, Flint menatap balik dengan sorot mendamba. Manik abu-abu Flint yang serupa kabut pagi mengamati rembesan arteri sungai air mata yang membanjiri pipi Hermione.

Menyadari arah penglihatan Flint, Hermione tersenyum goyah, merasa tak percaya diri dengan penampilan kumal yang menyedihkan. Hermione yakin, dengan rambut kusut awut-awutan dan jubah sobek, dirinya pasti terlihat seperti baru keluar dari padang rawa penuh sampah.

Menyadari kegundahan Hermione, Flint tersenyum menenteramkan. Mengusap lembut pipi Hermione yang bersimbah jejak air mata, Flint merapikan anak rambut Hermione yang melesak keluar. Tatapan mesra Flint yang menyiratkan pemujaan dan cinta kasih membuat Hermione tak bisa berpikir jernih.

"Err... terima kasih, Flint. Aku benar-benar berutang nyawa padamu," ujar Hermione pelan, menyembunyikan wajah di balik jubah Flint untuk meredam gejolak malu yang memburu.

"Tidak apa-apa, Princess," Flint membelai semakin dalam, menekankan ciuman manis di puncak kepala Hermione yang bersimbah rerumputan. Puas mengecup mesra rambut Hermione, Flint bergerak turun. Bibirnya dengan lembut menggoda dan merayu, menghujani pelipis Hermione dengan ciuman selembut beludru.

"Sudah tugasku untuk menjaga dan melindungimu sebaik mungkin."

Wajah Hermione seakan terbakar menerima perlakuan intim tersebut. Hermione benar-benar tak mengira diperlakukan semanis ini oleh penyihir yang sudah lama diidam-idamkan. Tak ingin terbuai fantasi, Hermione mencubit lengan kanan, berniat menguji kesadaran diri.

"Aduh."

Flint tampak panik sewaktu mendengar jeritan pelan itu. Menangkup wajah Hermione dengan telapak tangan, Flint menatap intens dengan pandangan bertanya-tanya.

"Princess, ada apa? Apa kau terluka?" cecar Flint gundah, bersumpah bakal menggoreng Malfoy di atas api kecil karena berani menyakiti gadis yang paling dicintainya.

Hermione yang malu dengan aksi mencubit diri sendiri mencoba mengalihkan perhatian Flint dengan meneliti panorama seindah taman surgawi yang terbentang luas.

Tak makan waktu lama, keindahan padang rumput itu langsung membius mata kepala Hermione. Sejauh indra penglihatan memandang, hamparan rumput hijau dan kelopak bunga lembayung bergoyang anggun. Angin segar dan wangi bunga-bungaan seakan menawarkan undangan untuk berbaring menikmati hangatnya sinar mentari.

"Uhm, di mana kita?"

Flint tersenyum tipis dan mengangkat Hermione untuk berdiri tegak. Sisa-sisa kekalutan akibat upaya menghindari sergapan makhluk buas bermata tiga membuat tungkai Hermione sedikit gontai. Untungnya, cengkeraman lembut lengan Flint di lingkar pinggang efektif mencegah Hermione tersungkur ke rerumputan.

"Ini padang rumput yang terhampar di belakang Flint Palace. Setiap liburan sekolah, aku biasa bermain Quidditch di sini," jawab Flint lugas, menyeringai samar sewaktu kerutan heran menghiasi dahi Hermione.

"Kenapa kita bisa ada di belakang rumahmu? Bukankah Hogwarts sudah dipasang Mantra Anti Apparition?"

"Sebenarnya, kita masih ada di Hogwarts, Princess. Kita ada di Ruang Kebutuhan yang menyediakan tempat sesuai dengan keinginan pemakai. Dengan kata lain, padang rumput ini hanya replika semata," Flint menjawab sabar, terus menelusuri garis rahang Hermione dengan ibu jari.

"Oh, aku baru tahu kalau ada kamar ajaib yang bisa berubah bentuk seperti itu. Kenapa hal sefantastis ini tak dicantumkan di buku Sejarah Hogwarts?" Hermione mengamati dengan mata berkilau, tampak takjub sekaligus kesal karena tak mengetahui keberadaan bilik semenarik Ruang Kebutuhan.

"Tak semua murid tahu tentang ruangan ini, Princess. Tak heran jika ruangan ini sering disebut sebagai Kamar-yang-Tak-Bisa-Diketahui-Banyak-Orang," Flint berbisik perlahan, terus mengusap lembut pipi Hermione dengan belaian selembut empasan angin surga.

Setelah terdiam beberapa saat, Hermione terlonjak saat kenangan terakhir menyeruak ke permukaan ingatan.

"Ketika menyusuri koridor lantai tujuh, seseorang menyerang dengan Mantra Bius. Saat tersadar, aku ada di hutan rimba penuh raksasa gunung. Itu artinya, ada bajingan tengik yang berniat mengerjaiku!" Hermione berteriak tak terima, menghentak-hentakkan kaki di rerumputan basah yang dipenuhi bunga tanah dan buluh ilalang.

"Sssh, tenang Princess. Aku sudah mengurus pelajar lancang itu. Kau sudah aman sekarang," Flint mendekap Hermione, mencoba memberi perlindungan dan kenyamanan melalui pelukan kuat mantap yang hangat memabukkan.

"Kau apakan mereka?"

Flint terdiam sejenak mendengar pertanyaan lugu tersebut. Bola mata tajam Flint yang serupa warna kabut pagi hari secara perlahan menelusuri garis muka Hermione.

Dipandangi dengan intens dan penuh perasaan seperti itu jelas membuat Hermione gugup. Pelan tapi pasti, warna merah tua pekat menghiasi kedua pipi. Semburat merah apel yang membuat Flint tak bisa mengekang hasrat dan gairah lebih lama lagi.

"Dear Lord, kau manis sekali," ucap Flint pelan, menciumi dan memuja setiap bintik cokelat yang menghiasi hidung Hermione.

Hermione tercekat diterkam hasrat saat Flint tak menghentikan tarian bibir yang panas menghanyutkan. Setelah puas menaburkan ciuman hangat, panjang dan menggairahkan di puncak hidung, Flint menyapukan bibir di kedua pipi dan pelipis Hermione.

Perut Hermione berdesir menerima curahan kasih sayang itu. Hermione benar-benar tak menyangka jika pemuda yang didambakan setengah mati tengah memuja wajahnya dengan hasrat terang-terangan. Kasih sayang blak-blakan yang mendorongnya untuk mengusapkan telapak tangan di jubah Flint.

Rabaan polos itu membuat Flint menggila. Meletakkan tangan di belakang kepala Hermione, Flint menatap gadis idamannya dengan sorot bergairah. Ujung jempolnya menelusuri lekuk sensual bibir bawah Hermione, menegaskan niat kuat untuk melakoni aksi lebih lanjut lagi.

Sebagai gadis puber yang sekamar dengan dua remaja tanggung pencinta novel erotis romantis seperti Lavender Brown dan Parvati Patil, Hermione tahu pasti apa keinginan Flint.

Disertai deburan jantung bertalu-talu, Hermione perlahan-lahan memejamkan mata, mengizinkan Flint untuk menuntaskan semua keinginan.

Penerimaan total itu membuat Flint tak kuasa menahan desahan lega. Akhirnya, salah satu mimpi besarnya akan menjadi kenyataan. Akhirnya, dirinya bisa menyalurkan seluruh gelombang cinta kasih yang selama ini dipendam dan dirasakan melalui sepotong ciuman membara.

Menangkup tengkuk Hermione, Flint memagut lembut bibir Hermione. Perlahan-lahan, Flint membuai Hermione dalam ciuman lambat, perlahan dan dalam. Merengkuh Hermione dalam kehangatan pelukan, Flint menjilat dan mengulum antusias, bersikap seakan-akan dirinya tengah mengisap sari bunga paling manis sedunia.

Sewaktu bibir mereka saling bertaut, kelegaan tak terkira melingkupi Hermione. Akhirnya, salah satu mimpi besarnya telah menjadi kenyataan. Akhirnya, ia bisa mendapatkan ciuman pertama yang manis, kuat dan mendebarkan dari seorang pemuda yang benar-benar dicintainya.

"Hermione... Princess," Flint mendesah dan menyurukkan kepala di rambut indah Hermione yang tergerai bergelombang. Dekapan eratnya semakin protektif, mengisyaratkan keengganan untuk melepaskan diri.

Untuk sesaat, kedua insan itu pun terdiam sambil berpelukan, saling meresapi dan menghayati keromantisan yang baru saja terjadi.

"Yah, sebenarnya aku tak keberatan bermalam di sini. Tapi, nanti pagi teman-temanmu pasti kelabakan mencari," Flint mengeluh rendah, dengan berat hati melepaskan belitan rangkulan posesif.

Menggandeng Hermione, Flint membawa Hermione pergi meninggalkan Ruang Kebutuhan. Selama meniti tangga menuju asrama Gyrffindor, Flint berbaik hati memperbaiki jubah sekolah Hermione dengan Mantra Reparo.

Jika Hermione melamun mengenang rasa ciuman pertama yang indah dan semanis cokelat, Flint dipusingkan dengan rencana masa depan. Sebagai salah satu idola Slytherin, Flint sadar hubungan cinta dengan Hermione tak bisa dipublikasikan secara terbuka.

Jika ia bertindak gegabah, posisi Hermione pasti ada di ujung tanduk. Siswa Slytherin dipastikan tak akan berpangku tangan melihat jalinan kasih terlarang tersebut. Bukan tak mungkin Draco Malfoy dan kawan-kawan akan melakukan keisengan yang jauh lebih mematikan ketimbang malam ini.

Memikirkan Malfoy menggelorakan amarah Flint. Di saat seperti ini, Flint merutuki undang-undang yang mengharamkan pembunuhan. Jika dekrit larangan pencabutan nyawa itu tak ada, Malfoy pasti sudah mati menderita.

Sayangnya, peraturan sekonyol apapun tetaplah peraturan. Pada akhirnya, ia harus berpuas diri memodifikasi ingatan Malfoy dan dua rekan kerja perempuan berhati bejat. Setelah merevisi memori, Flint memakai Mantra Usir untuk mengunci ketiga sekawan tersebut di dalam Lemari Penghilang.

Sesampainya di depan pintu Menara Gryffindor yang dijaga lukisan si Nyonya Gemuk, Flint menghentikan langkah. Sudut bibir Flint tersungging ke atas sewaktu memandangi lelehan busa air liur yang menggantung di dagu bergelambir si Nyonya Gemuk.

Mengamati keadaan sekitar yang kosong melompong, Flint meremas pundak Hermione, menyuruh gadis berambut ikal sederhana itu untuk bergegas masuk sebelum tertangkap basah oleh satpam sekolah, Argus Filch.

"Tidur nyenyak, Princess," Flint berbisik lembut, menciumi bibir dan kening Hermione dengan kasih sayang nyata. Melepaskan pelukan, Flint mengembalikan tongkat sihir Hermione yang tadi dirampas Pansy Parkinson.

Tak memedulikan panggilan Hermione, Flint beranjak pergi. Pelan tapi pasti sosok tegapnya menghilang ditelan kegelapan koridor, meninggalkan Hermione yang terpaku membisu di lubang pintu...


Lapangan latihan Quidditch, dua hari kemudian.

"Hei, Hermione. Sudah dengar kabar bagus belum?"

Ginny Weasley, adik bungsu Ron sekaligus satu-satunya anak perempuan di keluarga Weasley berlari mendatangi Hermione yang bercokol di pinggir lapangan Quidditch. Rambut merah panjang Ginny yang terjurai di punggung berkibar-kibar riang di setiap tarikan langkah kaki.

"Berita apa?" Hermione balik bertanya, dengan enggan menelengkan dagu dan mengalihkan pandangan dari Flint yang tengah sibuk meneriaki dan memaki-maki anggota timnya.

"Usai dua hari menghilang, Draco Malfoy, Pansy Parkinson dan Flora Carrow akhirnya ditemukan. Di dalam kloset penuh kotoran. Dengar-dengar sih mereka tersesat di Lemari Penghilang yang terkoneksi dengan pispot," Ginny terkekeh riang, menepuk kedua tangan dengan penuh semangat.

Hermione menghela napas tak peduli. Saat ini, pikirannya hanya terpusat pada Flint seorang, bukannya trio pendekar Slytherin yang bernasib sial ketumpahan tinja manusia itu.

Sejak kejadian di Ruang Kebutuhan, Hermione menyadari Flint terus menghindari dirinya. Jikalau bertemu, penyihir tinggi besar bersurai sehitam kopi itu buru-buru mengambil langkah seribu.

Setelah dua hari diabaikan, Hermione menegapkan hati untuk menemui Flint. Mimpi indahnya untuk menjadi kekasih dan jantung hati Flint-lah yang membuatnya nekat mendatangi latihan Quidditch Slytherin.

"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Ini kan jam latihan Quidditch Slytherin?" seru Ginny was-was. Dari gelagat kalut yang dipertontonkan, terlihat jelas kalau gadis tahun kedua itu tak nyaman berada di sekitar lapangan yang dipenuhi warga Slytherin.

Ketakutan yang patut dimengerti mengingat saat ini sejumlah siswi Slytherin dari berbagai angkatan mulai mendesis-desis mengancam sembari mengacungkan jari tengah ke arah Hermione.

Belum sempat Hermione mengemukakan alasan mendatangi latihan Slytherin, bentakan menggelegar terdengar dari samping kanan lapangan.

"Lihat, ada mata-mata cilik rupanya! Si Darah Lumpur dan Si Darah Pengkianat. Mau apa kalian ke sini, gembel tengik? Mau mengintip rahasia latihan Slytherin?" Lucian Bole, salah satu Beater Slytherin yang paling ditakuti menghardik ganas.

"Aku mau bicara dengan Flint," Hermione memberanikan diri untuk menjawab, mencoba tak memedulikan anggota Quidditch Slytherin yang menjulang tinggi besar, mengepung rapat dari berbagai sisi.

"Flint? Ada urusan apa dengan Kapten kami?" Adrian Pucey, penyihir berwajah kharismatik bertanya tegas, manik cokelat kuningnya yang berkilat laksana emas cair memandangi Hermione tanpa berkedip.

"Err... itu," Hermione tergagap jengah, mencoba memutus kontak mata dengan Pucey. Meski terbilang kalem dan tak banyak bicara, Pucey bisa mengintimidasi siapapun semudah menjentikkan jari.

Contohnya saja kali ini. Hanya dengan satu tatapan, Hermione langsung lumer tak berdaya. Hampir kehilangan nyali untuk mengatakan tujuan kedatangan yang sebenarnya.

"Ada apa ini ribut-ribut? Kenapa kalian tak berlatih? Brengsek Pucey, kan sudah kubilang untuk mengambil-alih kendali sementara aku mengambil sapu baru di ruang ganti!" Flint mendadak muncul, menyikut keras lengan Pucey si Wakil Kapten yang memberengut gusar.

"Si Darah Lumpur ini ingin bertemu denganmu, Kapten," jawab Pucey kesal, tak melepaskan pandangan panas membakar dari sosok Hermione.

Hermione menahan napas sewaktu Flint menoleh pelan-pelan, menghunjamkan tatapan sedingin lubang kuburan. Ekspresi beku yang terpahat jelas di rahang tegas Flint mengirimkan getar kewaspadaan ke penjuru nadi Hermione.

"Usir mereka keluar. Aku tak mau direpotkan dengan badut idiot maupun fans maniak."

Perintah Flint memudarkan cahaya harapan di wajah Hermione. Telinga Hermione berdenging, mencoba menyangkal ultimatum menyakitkan yang baru saja terlintas.

"Tunggu, Flint. Aduh!" Hermione terjerembab ke tanah setelah Bole mendorong keras-keras. Melihat peristiwa tak manusiawi itu, suporter perempuan Slytherin memekik bersemangat, menyumpahi dan meludahi Hermione dengan berbagai julukan nista yang dihafal luar kepala.

Yang membuat hati Hermione hancur berantakan bukanlah gemuruh ejekan yang mengudara melainkan pandangan dingin Flint. Sorot merendahkan yang mengisyaratkan bahwa dirinya tak lebih dari sekadar seonggok kotoran kelelawar busuk penuh belatung.

Tanpa mengucapkan satu kalimat pun, Flint berbalik meninggalkan Hermione, diikuti gerombolan anak buah Quidditch Slytherin yang terbahak menghina.

"Hermione, kau tak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja. Tak usah cemas, Gin," Hermione dengan tidak sabar menyeka air mata yang menitik deras seperti air hujan. Pupil cokelat Hermione mengabur mengawasi Flint yang tengah menerima handuk dari salah satu penggemar perempuan yang sedari berjam-jam lalu duduk manis di pinggir lapangan.

Memalingkan muka, Hermione mencoba meredam kesedihan yang menyayat hati. Benaknya terus bertanya-tanya apakah semua peristiwa dua hari lalu hanya imajinasi dan khayalan semu semata.

"Tidak... itu semua bukan mimpi," Hermione berkata lirih, terus menatap Flint yang menghilang di balik pintu ruang ganti Slytherin.

Membelai bibirnya, Hermione berkeyakinan kalau kehangatan Flint bukan ilusi atau fatamorgana semata.

Ya, semua bukti kehangatan itu ada di rekah bibirnya.

Bibir yang sampai sekarang masih menyisakan jejak ciuman posesif murni yang diberikan Flint padanya...

BERSAMBUNG