My Wishes

Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.

Main Cast : Luhan, Sehun, JongIn and Kyungsoo

Rated : T

Chapter : 2/21?

Musim salju masih saja mengguyur kota Seoul membuat sebagian besar penduduknya lebih memlilih diam dirumah, berkumpul bersama keluarganya didepan perapian dan saling membagi cerita. Lain halnya dengan seorang wanita berparas cantik yang mempunyai rambut bergelombang dengan warna coklat yang selalu dibiarkan terurai, wanita satu ini lebih memilih keluar dari rumahnya dan pergi ketaman yang berada tepat di pusat kota Seoul. Bukan tanpa alasan kenapa dia lebih suka pergi ketaman dibandingkan diam dirumahnya yang bak istana dari dunia dongeeng itu.

Satu alasannya adalah dia ingin bertemu pria yang dulu pernah menyelamatkannya dari pria – pria mabuk yang hampir mencelakainya. Siapa lagi kalau bukan Sehun. Tanpa Luhan sadari kalau ternyata selama beberapa hari ini pria itu telah mencuri sebagian perhatiannya. Tanpa Luhan sadari juga, dirinya selalu tiba – tiba merindukan pria itu dan memikirkan pria bernama lengkap Oh Sehun itu.

Seperti hari ini, dia kembali berpakaian tebal dan berdandan sangat cantik karena dia akan pergi ketaman kota untuk bertemu dengan Sehun. Sebenarnya walaupun tidak berdandan sama sekali Luhan sudah sangat cantik, namun entah kenapa belakangan ini dia selalu ingin berdandan. Luhan menaburkan beberapa polesan bedak kewajahnya dan memoleskan lipstik berwarna pink yang sangat menyatu dengan bibirnya itu. Setelah memastika kalau dirinya sudah siap diapun keluar dari kamarnya.

"Luhan nyonya" Panggil seseorang.

"Ya?" Tanya Luhan samba tersenyum. Sungguh saat ini Luhan benar – benar sedang berbunga – bunga.

"Wah, Luhan nyonya mau kemana?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Baekhyun.

"Sudah kubilang jangan panggil aku nyonya, Baekhyun."

"Joesonghaeyo, tapi sepertinya tidak enak jika tidak memakai nyonya." Ucap Baekhyun denan sofan.

"Baiklah terserah padamu." Jawab Luhan sambil turun dari tangga.

"Mana priamu?" Tanya Luhan mulai menggoda Baekhyun.

"Ye? Siapa? Memangnya siapa priaku?" Tanya Baekhyun berusaha berkelit.

"Siapa lagi kalau bukan Chanyeol, tolong panggilkan dia." Ucap Luhan disambut dengan anggukan oleh Baekhyun. Luhan terkekeh pelan saat dia melihat Baekhyun tengah merona. Tak lama kemudian datanglah Chanyeol dan Baekhyun bersamaan. Mereka terlihat sangat serasi membuat Luhan menatap mereka dengan intens.

"Mencari saya?" tanya Chanyeol

"Ya. Chanyeol apa kau tau jika kalian terlihat cocok?" Luhan kembali menggoda Baekyeol couple ini.

"Nyonya. Apa yang anda bicarakan?" tanya Baekhyun dengan malu.

"Lihat saja dicermin kalian sangat cocok, seharusnya kalian cepat menikah." Luhan senang sekali dalam urusan menggoda Baekhyun dan Chanyeol atau Minseok dan Jongdae.

"Nyonya, sudah lebih baik saya kembali kebelakang." Ucap baekhyun sambil menuju kebelakang.

"Dia lucu sekali bukan?" Tanya Luhan pada Chanyeol.

"Ya." Tapi kemudian Chanyeol mengerjap. "Apa? Tidak." Chanyeol tak sengaja mengatakan kata 'Ya' dan membuat dia gelagapan.

"Haha. Sudah kubilang juga apa. Sudahlah, ayo antarkan aku ketaman kota." Ucap Luhan.

"Tentu." jawab Chanyeol langsung, dia tak mau Luhan kembali membahas tengang dirinya dan Baekhyun.

~My Wishes~

"Hey… kau datang lagi?" tanya seorang pria yang diketahui namanya adalah Sehun.

"Tentu saja." Jawab Luhan menghampiri Sehun yang duduk di kursi yang biasa mereka tempati.

"Bogoshipo." Bisik Sehun tepat saat Luhan duduk disampingnya. Membuat wanita satu ini merona.

"Sehun-ah. kau ada – ada saja." Ucap Luhan.

"Itu benar. Walaupun 2 hari kemarin aku tak bertemu denganmu aku sangat merindukanmu." Ucap Sehun yang kini menatap Luhan.

"Norak." Ucap Luhan yang kini benar – benar tersipu.

"Haha. Jika kau sedang tersipu seperti itu, kau semakin lucu saja." Ucap Sehun sambil mencubit pipi Luhan.

"Sehun-ah sakit." Rengek Luhan sambil memegang pipinya.

"Oh ya? Kalau begitu biar aku sembuhkan supaya tidak sakit." Ucap Sehun dan tiba – tiba.

Tanpa diduga dan dengan seenaknya Sehun mencium pipi Luhan. Membuat sang wanita membulatkan matanya.

"Ya! Sehun apa yang kau lakukan?" tanya Luhan yang kini benar – benar merona.

"Mencium pipimu, tentu saja, memangnya apa lagi?" Tanya Sehun dengan ekspresi seolah – olah tak ada sesuatu yang baru saja terjadi.

"Se-sehun- kau-baru-saja-mencium-pipiku." Ucap Luhan terputus – putus.

"Dan?" Tanya Sehun masih dengan ekspresi yang sama.

"Seharusnya yang bisa mencium pipiku itu hanya kekasihku saja." Kesal Luhan. Sehun menatapnya dengan intes seolah – olah sedang mencoba masuk kedalam diri Luhan lewat tatapan matanya.

"Aku tau aku bukan pria yang bisa menyusun sebuah kata – kata yang manis, aku juga bukan pria yang bisa bersikap layaknya pria romantis yang banyak pria selalu lakukan dan aku juga bukan pria yang sempurna untukmu tapi biarkanlah kali ini aku mengatakan kalau aku sangat mencintaimu. Saranghaeyo Luhan. Jika ada sebuah kata yang melebihi kata Cinta maka aku akan memilih kata itu untukku berikan padamu." Ucap Sehun panjang lebar tapi dengan sebuah pancaran keyakinan dan ketulusan dalam hatinya.

Sang wanita hanya bisa menatap Sehun tanpa berkedip, dia terlalu terkejut dengan apa yang diucapkan Sehun, bagaimana pria yang dia cintai bisa sama juga mencintai dirinya?

"Dan biarkan aku bertanya satu hal yang sedari dulu ingin aku tanyakan. Luhan, Would you be my girlfriend?" Tanya Sehun. Luhan masih dalam posisinya membeku dan menatap Sehun dengan tatapan yang seakan – akan tak percaya apa yang baru saja pria itu katakana. "Oh-Aku mengerti, mungkin kau belum bisa mene…."

Luhan memeluk Sehun sebelum pria itu bisa menyelesaikan katanya.

"Nado Saranghae Sehun." Bisik Luhan tanpa melepasakan pelukannya.

Sehun terkejut dengan jawaban Luhan, dia mengira kalau Luhan akan menolaknya tapi ternyata dugaannya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Sehun membalas pelukan Luhan dan membawa wanita itu kedalam dekapannya. Merengkuh tubuh mungil itu semakin rapat berusaha menyalurkan kehangatan dan cinta yang begitu besar pada wanita yang kini menjadi kekasihnya itu. Tidak lama kemudain mereka melepaskan pelukannya.

"Kenapa kau-" Tanya Sehun sambil menatap Luhan dalam – dalam.

"Satu alasannya, karena kau mencintaimu." Sela Luhan sambil tersenyum, Sehun yang gemas hanya mengacak – acak poninya.

"Sehun nanti poniku rusak." Keluh Luhan dengan manjanya.

"Sini biar aku rapikan." Luhan memiringkan posisi duduknya dan Sehun dengan segera menyusun rambut Luhan dengan tangannya. Luhan mendongakan kepalanya sedikit dan menatap Sehun yang serius membenarkan poninya.

"Aku tau aku ini tampan tapi jangan mentapku seperti itu." Ucap Sehun sambil mengedipkan nakal matanya pada Luhan yang sedang merona. "Haha. Kau tau, kau semakin manis jika sedang merona." Ucap Sehun sambil menyentuh pipi Luhan yang memerah.

"Tidak-ini-bukan karena-merona. Aku hanya kedinginan saja." Luhan mencoba berdalih.

"Jangan berbohong, jika memang kau kedinginan kenapa pipimu baru memerah barusan, huh?" Luhan gelagapan menjawab pertanyaan satu itu akhirnya dia hanya mengerucutkan bibirnya membuat Sehun semakin gemas dan pria itu kembali mencium Luhan di pipinya

"Luhan, sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Sehun. Luhan menatapnya dan berpura – pura berpikir.

"Sejak barusan? sejak kau menjadi temanku?-Oh bukan" Luhan meletakan telunjuknya berpura – pura berpikir.

"jadi sejak kapan huh?" Tanya Sehun yang tak sabar.

"Sejak kau datang kedalam hidupku, sejak kau menyelamatkan diriku, sejak kau menjadi teman dalam hidupku sejak kau mengenalkan bunga Snowdrop ini padaku, semenjak itu dan selamanya." Jawab Luhan sambil tersenyum dengan sangat tulusnya. Sehun yang menatap Luhan langsung saja memasang wajah senangnya.

"Benarkan?" Tanya Sehun.

"Ya, tentu saja." Jawab Luhan.

"LUHAN NYONYA!" Teriak seseorang membuat kedua orang itu tersentak kaget.

"Jongdae." Desis Luhan.

"Sepertinya sudah saatnya tuan putri untuk pulang." Canda Sehun.

"Tidak mau, aku masih ingin bersamamu." Ucap Luhan dengan manjanya.

"Haha, jangan manja bergitu, bukankah kita masih bisa bertemu besok?"

"Tapi- baiklah." Luhan menyerah. Dia bergitu kesal pada bodyguardnya satu itu, kenapa dia harus datang bergitu cepat?

"Hey, jangan cemberut seperti itu, kecantikanmu berkurang 1% kau tau?"

"Arraseo." Jawab Luhan.

"Kalau begitu tersenyumlah untukku." Ucap Sehun. Luhan menatapnya dan memberikan senyuman terbainya untuk Sehun.

"Nah, itu lebih baik."

"Luhan NYONYA!" Sekarang giliran Chanyeollah yang berteriak.

"Sepertinya kau benar – benar harus kembali." Ucap Sehun saat mendengar suara lain memanggil wanitanya.

"Kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Luhan.

"Luhan. " Ucap Sehun sambil menarik tangan Luhan.

"Ya?"

"Saranghae Luhan, Jeongmal Saranghamnida." Luhan kembali tersipu malu karena perbuatan Sehun.

"Nado Saranghae." Ucap Luhan.

"Pulanglah. Aku akan sangat merindukanmu, datanglah lagi kesini besok." Ucap Sehun melepaskan genggamannya.

"Okay, bye." Ucap Luhan sebelum dia berjalan menghampiri Chanyeol dan Jongdae yang ada dipinggir jalan sedang mencarinya.

.

.

.

.

.

.

Tak terasa waktu bergulir begitu cepat 2 hari lagi adalah yang penting untuk seorang Luhan, kenapa? Karena 2 hari lagi adalah ulang tahunnya. Orang tua Luhan yang tak lain adalah Yi Fan dan Zi Tao mulai mempersiapkan diri mereka untuk pulang dari New York. Mereka berdua sengaja tak memberi tau Luhan kalau mereka akan pulang dan mereka juga berpura – pura kalau mereka lupa akan ulang tahun anak kesayangannya itu.

"Yeobo. Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Tao pada sang suami.

"Entahlah, tapi kalau tidak seperti ini bukan kejutan namanya." Jawab sang Suami sambil merangkul tubuh mungil istrinya. Dia membelai surai hitam tao yang indah.

"Benar juga, tapi kita besok jadi pulang ke Seoul kan?" Tanya sang istri.

"Tentu saja, aku sudah merindukan Seoul walaupun sebenarnya aku juga merindukan China kota kelahiran kita." Jawab Kris.

" Kalau saja Luhan mau tinggal di China pasti sekarang kita akan kembali ke china." Bingung? Jadi begini, Luhan memutuskan untuk berada di Seoul dan tinggal disana saat tau orang tuanya akan selalu meninggalkan dirinya, Luhan lebih menyukai keadaan kota Seoul dari pada China jadi sampai sekarang Luhan tinggal di Seoul.

"Mungkin nanti setelah ulang tahun Luhan kita bisa mengajaknya berlibur ke china, kita sudah lama tidak berlibur bersama." Tao mengusulkan, Kris terlihat memikirkan usulan Tao sejenak sebelum dia mengangguk.

"Benar, mungkin kita bisa mengajak Luhan berlibur kesana, sesekali anak itu harus menghabiskan waktunya di tempat kelahirannya sendiri." Ucap Kris menyetujui.

"Sepertinya ini akan menjadi liburan yang menyenangkan." Ucap Tao sambil merapatkan tubuhnya pada sang suami.

"Benar, kalau begitu sekarang kita tidur, beso kita harus bangun pagi untuk pulang ke Seoul." Ucap Kris membawa istrinya untuk tidur dan akhirnya merekapun terlelap sambil saling memeluk satu sama lain.

.

.

.

.

.

Di lain tempat Luhan mengendus kesal karena dia mendapatkan kabar kalau orang tuanya tidak bisa pulang yang lebih parah lagi adalah orang tuanya tidak ingat kalau tak lama lagi dirinya ulang tahun. Beberapa kali dia menghentak – hentakan kakinya dan membanting bantalnya.

Terdengar suara pintu diketuk dari luar.

"Mugu?" Tanya Luhan masih dengan kesalnya.

"Ini aku, Baekhyun dan Minseok." Jawab Baekhyun dari luar.

"Masuk saja pintunya tidak dikunci." Jawab Luhan. Baekhyun dan Minseok pun masuk dan melihat keadaan kamar Luhan.

"Astaga, ada apa ini?" Tanya Baekhyun menatap kasur Luhan yang berantakan. Boneka, bantal, selimut, dan segala macam yang ada disana terlihat sangat berantakan.

"Biar nanti aku bereskan sendiri, ada apa?" Tanya Luhan.

"Ah, itu ada yang mencari nyo-."

"Luhan." Potong Luhan sebelum Minseok menyebut kata nyonya.

"Ada yang mencari Luhan dibawah." Lanjut Minseok. Luhan sangat heran karena tidak mungkin ada yang mencarinya, jika ada yang berani datang ke rumahnya pasti itu Dyo yang tak lain adalah sahabatnya, tapi mana mungkin? Dia sedang berada di rumahnya dan Luhan berani bertaruh kalau Dyo tidak mau keluar rumah saat musim dingin seperti ini, kalau bukan menghabiskan waktu dengan Kai yang tak lain adalah kekasihnya.

"Nugu?" Tanya Luhan sambil bangkit dari kasur.

"Dia pria, kalau tidak salah namanya itu, Hun… Se… Seh…" Baekhyun mencoba mengingat nama pria itu.

"SEHUN?" Teriak Luhan.

"Ya. itu dia Sehun." Ucap Baekhyun.

"BENARKAH?" Luhan kembali berteriak.

"waeyo luhan-ah?" Tanya Baekhyun dan Minseok yang kebingungan dengan tingkah wanita satu itu.

"Otteoke?" Tanya Luhan yang langsung berlari kecil menuju lemarinya dan membuka pintu lemari itu selebar – lebarnya.

"Aku tidak mungkin memakai baju ini saat bertemu dengan Sehun." Ucap Luhan. Melihat apa yang dipakainya sekarang adalah sebuat T-shirt dan celana jins dan beberapa helai rambut yang tidak pada tempatnya.

"Wae? Wae? Sebenarnya ada apa Luhan-ah?" tanya Minseok. Luhan baru sandar kalau masih ada Baekhyun dan Minseok disini.

"kalian berdua!" Ucap Luhan sambil menunjuk Baekhyun dan Minseok. "Kemari dan cepat bantu aku memilih baju." Lanjutnya. Minseok dan Baekhyunpun segera menghampirinya tanpa bertanya lagi.

"Pilihkan aku baju." Ucap Luhan. Baekhyunpun segera bergerak memilih beberapa baju untuk Luhan begitu juga dengan Minseok. Setelah beberapa menit diputuskanlah kalau Luhan akan menggunakan sebuah dress berwarna coklat yang menjuntai panjang dan sebuah cardigan yang lumayan tebal dan indah tapi simple jadi masih masuk akal kalau dia menggunakan dirumah. Dia menyisir rambutnya dibantu oleh Minseok sedangkan Baekyun sibuk membereskan pakaian yang tidak jadi dipakai oleh Luhan.

"Aku mengandalkan kalian untuk membereskan ini semua. Gomawo." Ucap Luhan sebelum turun kebawah. Demi semua koleksi boneka yang dia punya, jantung Luhan kini benar – benar tidak karuan. Jantunya bertalu cepat saat dia tau kalau Sehun sang kekasih mengunjungi rumahnya. Saat sampai dibawah Luhan bisa melihat kalau Sehun sedang duduk sambil memperhatikan rumahnya dan detik berikutnya pandangan mereka bertemu. Luhan masih saja dan akan selalu tersipu malu saat pandangannya bertemu dengan mata hitam milih Sehun.

"Annyeong." Ucap Sehun sambil bangkit dari duduknya dan membungkukan badan kemudian senyuman manis menghiasi wajah tampannya membuat Luhan tidak akan pernah berhenti memuji karya tuhan satu ini.

"Annyeong." Jawab Luhan membungkukan badan, kemudian berjalan mendekati sang pria yang mengulurkan tangannya.

"Bogoshipo." Ucap Sehun sambil membawa Luhan kedalam pelukannya, Luhan membenamkan wajahnya didada bidang Sehun dan membalas pelukannya.

"Nado." Jawab Luhan masih dalam pelukan Sehun.

"Padahal kita tak bertemu denganmu 3 hari tapi aku sangat – sangat merindukanmu." Ucap Sehun masih saja tak melepaskan pelukannya.

"Hahaha… karena aku memang selalu bisa membuatmu merindukanku." Kekeh Luhan. Sehun melepaskan pelukannya dan menatap Luhan.

"Sejak kapan kau menjadi sangat narsis huh?" Tanya Sehun sambil menaikan sebelah alisnya.

"sejak aku menjadi kekasihmu." Ucap Luhan sambil tertawa dan memeluk tubuh Sehun erat.

"Saranghae Jeongmal saranghae." Bisik Sehun ditelinga Luhan kemudian dia mengangkat wajahnya gar bisa bertatapan dengan Luhan.

"Luhan." seseorang memanggilnya dari belakang. Dia kenal suara ini, dan saat dia berbalik dia mendapati Appa dan Ummanya tengah berdiri diambang pintu.

"Umma? Appa?" Ucap Luhan kaget. Apakah umma dan appanya melihat apa yang dia lakukan dengan Sehun?

"Hey, ternyata ada teman baru Luhan, siapa dia?" Tanya Tao mendekati Luhan dan Sehun yang masih terkejut.

"Annyeong. Jeoneun Oh Sehun Imnida." Ucap Sehun membungkukan badan 90%

"Annyeong." Jawab Tao dan Kris.

"Umma, Appa kenapa kalian ada disini? Bukannya kalian sangat sibuk di LA?" Tanya Luhan sambi menakankan kalimatnya.

"Jadi kau tidak senang kami disini?" tanya Kris.

"Ani appa. Hanya saja, kenapa kalian tidak memberi tauku kalau kalian mau pulang?" tanya Luhan.

"Surprise" Teriak Tao sambil mengeluarkan sebuah tas.

"Apa ini?" Tanya Luhan kaget dan menerima tas belanjaan itu.

"Buka dan kau akan tau apa itu." Jawab Kris sambil merangkul pinggang Tao. Luhan menatap Sehuh sejenak yang sedari tadi diam tak bergerak dan kemudian dia membuka tas itu dan mendapati sebuah gaun terbuat dari sutra asli berwarna putih, gaun tanpa lengan ini memiliki potohan leher pendek dengan warna peach yang sangat indah.

"Oh Tuhan! Eomma, ini lucu sekali." Ucap Luhan sambil menaraik gaun itu keluar dari tas.

"Kau suka?" Tanya Kris.

"Tentu saja." Jawab Luhan sambil menempelkan gaun itu ke badannya dan memutar kekiri kekanan.

"Itu adalah gaun yang akan kau pakai saat pesta ulang tahun." Ucap Tao.

"Oh" Luhan mengangguk tanpa melepaskan padangannya dari gaun itu tapi- "APA? PESTA ULANG TAHUN?" Tanya Luhan yang baru sadar. Tentu saja itu membuahkan tawaan dari Kris, Tao dan Sehun yang menatapnya geli.

"Kami akan merayakan pesta ulang tahunmu chagi." Ucap Kris.

"Tapi-"

"Tenang saja, kami yang akan mempersiapkan semuanya. Oh ya, Sehun nanti kau juga datangkan?" Tanya Tao pada Sehun.

"Ya, saya pasti datang." Jawab Sehun.

"Baguslah, oh ya kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian kami akan istirahat terlebih dahulu." Ucap Tao.

"Ya, sebaiknya appa dan umma istirahat dulu saja." Timpal Luhan. Kris pun merangkul Tao masuk kedalam kamarnya sedangkan semua barangnya dibawakan oleh maid yang ada dirumahnya. Setelah memastikan kalau Appa dan Ummanya sudah masuk kekamar serta para maid sudah tak ada Luhan menghempaskan tubunnya kesofa, dia masih memegang gaun pemberian dari umma dan appanya itu. Sehun melihat kalau Luhan sepertinya tak suka kalau ulang tahunnya dirayakan.

"Wae?" Tanya Sehun ikut duduk disamping Luhan. Sang Wanita tak bergeming dia malah menutup wajahnya dengan gaun. Dengan lembut Sehun menarik gaun yang menutupi Luhan dan menaruhnya kembali kedalam tas.

"Kau tak suka ulang tahunmu dirayakan?" tanya Sehun yang akhirnya membuay Luhan membuka mata dan menatapnya.

"Bagaimana kau mengetahuinya?" Tanya Luhan kaget dengan apa yang dikatakan kekasih.

"Tentu saja, aku kekasihmu babo! aku pasti tau itu." Jawab Sehun mencubit hidung Luhan.

"Aku suka pesta tapi tidak jika diadakan oleh Umma dan Appa, aku berani taruhan kalau nanti saat ulang tahunku mereka akan membuatnya sangat glamor dan meriah." Jawab Luhan setelah beberapa detik.

"Haha… itu berarti mereka ingin orang lain memandangmu sebagai orang terpandang dan bukan wanita biasa dan beruntungnya wanita itu sekarang menjadi milikku."

"Berhentilang menggodaku." Ucap Luhan sambil menatap Sehun yang sedang terkekeh.

"Maaf. Tapi aku tidak bercanda dengan perkataanku yang tadi."

"Perkataan yang mana?" Tanya Luhan.

"Soal orang tuamu yang ingin orang memandangmu sebagai wanita terpandang." Jawab Sehun.

"Aku tau, tapi sayangnya aku tak suka dengan hal itu." Jawab Luhan.

"Maksudmu?" Luhan menghembuskan nafas berat.

"Tunggu disini, biar aku ambilkan minum dulu untukmu." Tapi sayang Sehun menarik tangannya sebelum Luhan pergi.

"Dan setelah itu kau akan menceritakan semuanya?" tanya Sehun. Luhan mengangguk pasrah, bukankah sekarang Sehun adalah kekasih jadi tak salah kalau dia ingin tau apa masalah pada kekasihnya sendiri. 5 menit kemudian Luhan kembali dengan mambawa dua cangkit coklat panas yang masih menggempul dan beberapa potong kue kering.

"Ini ambilah, maaf aku baru ingat kalau kau belum aku beri minum, karena biasanya hanya Dyo yang datang kerumahku dan dia juga dengan semaunya memakan apapun yang ada dirumah ini." Kekeh Luhan saat menceritakan sahabatnya.

"Jadi siapa sebenarnya Dyo ini?" Tanya Sehun sambil menyeruput coklat panasnya.

"Dia sahabat baikku." Jawab Luhan enteng.

"Apa hanya Dyo yang pernah datang kesini?" tanya Sehun sambil menyeruput coklat panasnya.

"Ya." Jawab Luhan singkat.

"Yang lainnya?" Tanya Sehun. Luhan diam, dia hanya menatap coklat panas yang ada ditangannya.

"Aku tak mempunyai teman selain Dyo dan Kai yang tak lain adalah kekasihnya sendiri." Betapa kagetnya Sehun saat mendengar sebuah fakta baru dari kekasihnya ini.

"Mworago? Wae keuraeyo?" Luhan kembali menghembuskan nafas panjangnya dan terlihat berpikir keras sebelum menjawab.

"Yang lainnya, mereka… aku tak suka cara hidup mereka yang terlalu glammor. Aku tau mereka itu mempunyai banyak harta dan uang yang tidak sulit dicari untuk mereka, tapi setidaknya-" Luhan mendengus pelan.

"Mereka itu menyebalkan dan mereka menjadi seperti itu hanya karena uang. Di kampus hanya Dyo dan Kai yang sependapat denganku, mereka juga memiliki orang tua yang mapan dan terhormat tapi hidup mereka jauh dari kata glammor, mereka hidup sederhana layaknya orang biasa dan itulah alasannya kenapa hanya DO dan Kai yang menjadi temanku." Jelas Luhan tanpa menatap Sehun. Tanpa disadari Sehun melingkarkan tanganya di pinggang Luhan dan Sehun mencium pipi bulat Luhan.

"Aku bangga padamu sayang, aku tidak menyangka wanita manja sepertimu mempunyai pikirkan seperti itu." Ucap Sehun yang bangga dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Luhan.

"Berhentilah menciumku Oh Sehun, bagaimana kalau Umma dan Appa liat? Biasa – biasa kau akan berubah menjadi molekul jika Umma melihatnya."

"Mianhae. Baiklah. bukannya kau sudah berjanji akan menceritakan segalanya tadi?" Ternyata Sehun mempunyai daya ingat yang baik, tidak seperti Luhan yang lupa akan janjinnya beberapa menit yang lalu. Luhan mengembusakan nafas berat sebelum berbicara.

"Apa yang ingin kau dengar Hun?"

"Segalanya, kenapa kau tidak suka dengan pesta yang akan diadakan?" Luhan kembali menghembuskan nafas panjang, entah kenapa udara disekitarnya menjadi sangat berat.

"Appa dan Umma terlalu melebih – lebihkan, aku tak suka itu. Sudah aku jelaskan tadi kalau aku tak suka sesuatu yang terlalu glamor dan meriah, jujur saja aku sudah muak hidup seperti ini. Kau tau kenapa ?" Sehun hanya menggeleng pelan.

"Aku muak karena mereka selalu berpikiran semua bisa dibeli dan diselesaikan dengan uang, tapi mereka salah, aku benci sekali dengan gagasan itu. Apakah mereka tidak berpikir kalau aku kesepian disini? Tanpa mereka di sisiku? Aku selalu iri jika melihat keluarga yang menghabiskan akhir pekannya bersama, walaupun sekedar pergi belanja ke swalayan atau berkumpul di taman bersama, aku selalu tersenyum miris saat melihatnya, kenapa mereka bisa terlihat begitu bahagia sedangkan aku ? Satu hal lagi yang mereka tak mengerti, Cinta tak dapat di beli oleh apapun bahkan oleh semua harta yang mereka punya." Kata – kata terakhir dari Luhan terdengar seperti sebuah bisikan angin tapi Sehun yang peka masih bisa mendengarnya. Setetes air mata jatuh dari mata Luhan, Sehun yang melihatnya segera merengkuhnya dan membawanya kedalam pelukannya.

"Uljima… Aku mengerti apa yang kau rasakan, jangan menangis aku mohon, jika kau menangis maka hatikupun ikut menangis bersamamu. Aku berjanji akan selalu ada untukmu." Ucap Sehun membuat Luhan menengelamkan wajahnya didada Sehun.

"Berjanjilah kau akan selalu ada disampingku… karena aku butuh penompang untuk melewati kehidupan ini." Ucap Luhan disertai isakan – isakan kecil. Sehun mengangguk dan membelai surai coklat milik Luhan.

"Tentu saja, aku akan selalu ada disampingmu, apapun yang terjadi… aku akan selalu bersamamu." Ucap Sehun membuat Luhan setidaknya berhenti menangis dan membuat hati wanita satu itu sedikit lebih tenang.

.

.

.

.

.

Hari ulang tahun Luhanpun datang, sekarang dia tengah bersiap menyambut 'pesta'nya. Jujur saja Luhan tidak tau siapa saja yang akan hadir di pestanya karena semua urusan menyangkut pesta telah diselesaikan oleh kedua orang tuanya. Mereka bilang kalau mereka mengundang semua teman Luhan kepestanya tapi Luhan berani taruhan kalau yang dia tau hanyalah Dyo, Kai dan Sehun sang kekasih. Orangtuanya tak tau kalau Luhan hanya memiliki 3 teman selama 5 tahun berada dikorea, lucu bukan? Seharusnya wanita cantik seperti Luhan tidak akan sulit mendapatkan banyak teman, ditambah dia memiliki harta yang bergelimpangan tapi semua itu berbanding terbalik dengan kenyataannya. Kadang Luhan menertawai kehidupannya sendiri yang begitu aneh ini.

"Sudah selesai Nyonya." Ucap Baekhyun.

"Sudah kubilang jangan panggil aku nyo.."

"Aku janji jika Tuan dan Nyonya besar sudah kembali ke LA aku akan memanggil nyonya dengan Luhan lagi." Potong Baekhyun sambil melihat kembali rambut Luhan yang baru saja dia tata.

"Baiklah, Minseok-ah mana pakaianku?" tanya Luhan bangkit dari tempat duduk didepan meja riasnya.

"Ini dia, gaun yang indah." Ucap Minseok.

"Iya memang gaun yang indah, andai aku punya satu yang seperti itu." Timpal Baekhyun sambil terkekeh.

"Aku akan memberikan gaun itu jika nanti kau bertunangan dengan Chanyeol." Goda Luhan membuat Baekhyun diam tak menjawab.

"Aku serius." Ucap Luhan sambil membawa gaun itu. Baekhyun hanya diam saja tak berkata apapun.

"Tapi aku dan chanyeol… kami tidak ada…"

"Kalau begitu aku akan jodohkan Chanyeol dengan teman wanitaku saja." Luhan memang senang sekali mengerjai kedua maidnya itu, rasanya lucu jika mereka sedang di goda. Begitulah pikir Luhan.

"Mwo? Di… di.. jodohkan?" tanya Baekhyun kaget. Yang benar saja, satu – satunya teman wanita Luhan adalah Dyo dan sedang dia sudah mempunyai Kai jika Luhan menjodohkan Chanyeol dengan Dyo yang akan terjadi adalah Chanyeol akan dipanggang bagaikan sapi guling oleh Kai. Luhan tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.

"Ne. aku menjodohkannya, bukannya kalian tidak mempunyai hubungan apapun? Lagi pula aku yakin teman wanitaku satu ini akan menyukai Chanyeol, bagaimana tidak? Chanyeol itu tampan dan memiliki badan yang bagus dijuga bisa memperlakukan wanita dengan baik, otomatis dia bisa menjaga kekasihnya dengan baik, bukan?" Luhan masih saja terus berceloteh seolah – olah dia benar – benar akan menjodohkannya.

"Nyonya… tidak seriuskan?" tanya Baekhyun.

"apa aku terlihat bercanda?" Tanya Luhan menatap Baekhyun sambil berjalan kembali kedepan cermin dan mengamati bayangan dirinya yang sudah sangat sempurna jika harus dikatakan.

"Kau tidak keberatan bukan? Ah… tentu saja. Kaliankan tidak ada hubungan." Luhan kembali berceloteh ria.

"St… katakana saja, kalau tidak kau mati." Bisik Minseok yang masih bisa terdengar oleh Luhan. Sungguh saat itu juga Luhan ingin tertawa sekeras – kerasnya hanya saja dia masih mau melanjutkan pekerjaan 'menggoda Baekhyun'.

"kau bilang sesuatu Minseok? Oh… apa kau juga mau kalau Jongdae'mu' itu aku jodohkan dengan temanku yang lain?" sekarang bukan hanya menggoda Baekhyun tetapi Minseok juga ikut dibawa.

"Mwo?" Tanya Minseok kaget, dia merutuki dirinya karena telah berbisik pada Baekhyun.

"Kau juga mau kalau…"

"Andwe! Jongdae hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku." Ucap Minseok terdengar kalau ia sedikit berteriak, sadar apa yang telah dia katakana Minseok menutup mulutnya dan merutuki apa yang barusan dia katakan.

"Hahaha… Tidak susah bukan? Kau hanya tinggal mengakuinya dan aku tak akan menjodohkan Jongdae dengan temanku." Ucap Luhan sambil tertawa dan tiba – tiba tawanya lenyap saat menatap Baekhyun yang masin menunduk.

"Em…" Baekhyun berdeham membuat Luhan menatapnya lebih dalam.

"Ada yang ingin kau sampaikan Baekhyun?" Tanya Luhan dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.

"Anu itu… aku dan Chanyeol…. Kami… sebenarnya… akan tunangan, dia sudah mengatakan bahwa dia akan menikahiku…" Luhan tercengang. sudah sejauh itukah hubungan mereka berdua? Pikir Luhan.

"Kalian? Sudah sejauh itukah? Kenapa tak memberi tauku huh?" Tanya Luhan menatap Baekhyun tak percaya.

"Kami baru akan memberi tau Nyonya setelah Tuan dan Nyonya besar kembali ke New York." Jawab Baekhyun dengan nada yang ciut. Untuk sesaat tak ada percakapan apapun diantar mereka, jujur saja Minseok terutama Baekhyun takut kalau dirinya tiba – tiba dipecat karena diam – diam mereka berhubungan dengan bodyguard dan supir Luhan.

"Chukaeyo." Ucap Luhan memecahkan keheningan sekarang wajahnya itu dipenuhi dengan senyuman yang membuat siapa saja bisa luluh karenanya.

"Luhan… tidak marah?" Tanya Baekhyun.

"Tentu saja. aku sama sekali tidak marah, kalau begitu aku ingin kau memakai gaun ini saat pertunanganmu nanti. Oh… satu lagi, aku bisa jamin Appa dan Umma tidak akan mendengar berita ini, kalian tidak maukan kalau Appa dan Ummaku mendengar kalau kau akan bertunangan dengan Chanyeol?" Baekhyun langsung mengangguk.

"Baiklah. Sebaiknya kalian bantu yang lain dibawah, jika terlalu lama disini Umma akan merecoki kalian." Usul Luhan disambut dengan anggukan Baekhyun dan Minseok. Luhan meninggalkan mereka berdua dan masuk kedalam kamar mandinya yang bisa dibilang sangat luas ini. bathtub bulat yang cukup menampung 2 sampai 3 orang sekaligus ditambah dengan interior yang sangat menakjubkan menambah kesan kalau tempat satu ini memang mewah. Saat sampai di kamar mandi Luhan tertawa terbahak – bahak karena telah mengerjai kedua maidnya itu dan membuat mereka yang biasanya tidak mau mengakui hubungannya bersama Jongdae dan Chanyeol kini mengaku. Luhan benar – bena puas mengerjai kedua maidnya itu. Dengan segera dia memakai gaun yang sudah dibelikan oleh Umma dan Appanya dari LA itu. Sekilas Luhan menatap bayanganya sendiri dicermin. Wajahnya yang mulus dan putih ditambah dengan rambut coklat hitamnya yang dikepang sederhana dan ditaruh di bahu sebelah kananya mempercantik dirinya belum lagi gaun putihnya yang glamor tapi terkesan sederhana itu membuat penampilannya benar – benar bisa memikat laki – laki manapun untuk memujinya. Luhan keluar dari kamar mandi tepat ketika Appanya masuk.

"Appa, ada apa?" tanya Luhan kaget saat mendapati appanya menembul dari balik pintu.

"Dari tadi appa mengetuk pintu tapi kau tidak menjawab jadi sudah saja appa masuk." jawab Kris, sang appa.

"Ah… mianhae, tadi aku sedang berada di kamar mandi. Ada apa? Bukannya acara baru mulai 5 menit lagi?" Tanya Luhan memandang jam yang terletak di dinding kamarnya.

"Appa dan Umma punya sesuatu untukmu." Ucap Kris masuk kedalam kamar Luhan.

"Apa itu?" Tanya Luhan penasaran, jujur saja dia suka sekali menerima hadiah.

"Kita tunggu ummamu dulu ya. Dia sedang membawakannya." Ucap Kris. Tidak lama kemudian sang umma yang tak lain adalah Tao masuk dengan membawa sebuah kota beludru berwarna biru tua.

"Yeobo cepatlah sedikit, sebentar lagi acaranya akan mulai." Ucap Kris menyuruh Tao mempercepat langkah kaki mungilnya.

"Ne, Ne. kau itu tak sabaran sekali. "

"Apa itu?" Tanya Luhan. Tao menatapnya dengan berbinar – binar dan detik berikutnya dia membuka kotak itu dan nampaklah…

.

.

.

~To Be Continued~