Title : Beloved Moment / Chapter 1

Cast and Pair : Sungmin, YeWook (Yesung & Ryeowook) – Cast dan pair akan bertambah dan mungkin berubah seiring waktu

Warning : Genderswitch, OOC, typo bertebaran dimana-mana, umur tidak sesuai, tema umum

Disclaimer : Cast milik dirinya sendiri (namun masih tanggung jawab orang tua dan dibawah naungan Tuhan), Super Junior teken kontrak sama SM Entertainment. Saya hanya pinjam nama dan karakter.

Please do not bashing the chara!

Thank you ^^

Okay! Gidaehaedo joha, Let's Go !

Happy reading ^^

.

.

"Hah..."

Desahan keras bernada lega keluar dari mulut seorang gadis manis berambut kuncir kuda.

Bruk

Tas besar yang sedari tadi dipegangnya terlepas begitu saja. Bukan hanya itu, bahkan ransel yang sedari tadi melekat dipunggungnya pun dengan perlahan dilepasnya dan diletakkan disamping tas besar itu.

Jara-jarinya yang kurus memanjang merogoh sesuatu dari saku celana panjang jeansnya. Secarik kertas. Setelah membacanya sekilas dan menyocokkannya dengan nama gedung yang ada didepannya, gadis itu menyeret kedua tasnya mendekati pos satpam didepan gedung besar itu.

"Permisi," sapa gadis itu.

Sesosok pria berbadan tegap keluar dari pos satpam itu. "Ya?"

"Maaf. Saya Lee Sungmin. Saya pindahan kelas XI disekolah ini."

Satpam itu tersenyum ramah. "Tunggu sebentar ne."

Satpam itu berbalik dan terlihat sedang menelpon seseorang. Gadis itu, Lee Sungmin, membenarkan pakaian yang dikenakannya dan mengusap wajahnya yang berhiaskan peluh serta debu.

Tak lama satpam tersebut kembali dan meminta Sungmin untuk mengikutinya. Security itu membawa Sungmin melewati gedung besar yang sedari tadi menarik perhatian Sungmin dan memasuki sebuah gedung yang tak kalah besarnya yang ada dibelakang gedung itu. Setelah membuka gerbang besar yang membatasi antara kedua gedung itu, security menyerahkan Sungmin pada salah seorang wanita yang sudah berdiri didepan pintu.

"Lee Sungmin?" tanya wanita itu.

Sungmin mengangguk. "Ne."

"Mari ikut saya," pinta wanita itu sedangkan sang security memohon pamit untuk kembali ke pos jaganya.

Cukup lama mereka berjalan melewati lorong-lorong dengan ruang-ruang besar dan taman indah ditengahnya. Gedung bertingkat itu sepi. Tak banyak orang yang berlalu lalang disana. Sembari berjalan, wanita itu menjelaskan, bahwa siang ini seluruh penghuni gedung itu sedang berada disekolah. Apa kalian tahu ini gedung apa?

Sapphire Blue International High School

Tulisan itulah yang ada didepan gedung mewah didepan sana. Sebuah sekolah bertaraf internasional yang memiliki asrama didalamnya. Gedung yang sedang Sungmin masuki ini merupakan gedung asramanya. Sedangkan gedung sekolahnya adalah gedung yang tadi dilewati Sungmin.

Lantai 1 gedung ini merupakan aula-aula besar yang menjabat sebagai ruang music, gym, perpustakaan, dan aula serbaguna. Lantai 2 merupakan aula ruang makan, dapur dan tempat bersantai sehingga dilantai 2 lebih banyak diisi dengan sofa-sofa yang nyaman untuk diduduki.

Sampailah Sungmin di lantai 3.

"Disini adalah kamar-kamar siswa. Tiap kamar terdiri dari 2 orang." Wanita itu menunjuk salah satu kamar. "Ini kamarmu. Semoga kau senang bersekolah disini ne." Wanita itu beranjak meninggalkan Sungmin di depan kamarnya.

Manik mata Sungmin mendapati namanya dan nama teman sekamarnya terpajang disamping pintu coklat itu.

ROOM 134

KIM RYEOWOOK
LEE SUNGMIN

Dengan kunci yang tadi diberikan wanita yang mengantarnya, Sungmin membuka pintu kamarnya. Terlihatlah sebuah kamar yang tak terlalu besar disana. 2 tempat tidur single bed, 2 meja belajar di ruangan berAC itu menjadi penghuni kamarnya.

"Lelahnya."

Seiring ucapan itu keluar, Sungmin merebahkan tubuhnya disalah satu tempat tidur. Kenapa Sungmin memilih tempat tidur itu? Karena tempat ridur berseprei hijau diseberangnya sudah ada yang memiliki. Terlihat dari beberapa boneka jerapah dan Winnie the pooh yang menghuni tempat tidurnya.

Tak mau berlama-lama, Sungmin membongkar tasnya dan mengambil baju ganti serta peralatan mandi. Tak lebih dari 15 menit, yeoja manis itu keluar dan mulai berniat menata barang bawaannya.

"Eh, dimana lemarinya?"

Kepala Sungmin menoleh kanan dan kiri. Namun benda besar bernama lemari tak kunjung didapatinya. Hingga akhirnya matanya tertuju pada laci-laci yang ada dibawah tempat tidurnya. "Disini rupanya."

Setelah dirasanya cukup rapi, tak perlu menunggu waktu lama, yeoja itu merebahkan badannya dan terlelap.

.

.

Siang berganti malam.

Cklek!

Pintu kamar itu terbuka. Sungmin yang sedang duduk bersantai sembari memainkan smartphonenya diatas ranjang menolehkan kepalanya.

"Sungmin-ssi?"

Seorang yeoja berperawakan tubuh mungil masuk kedalam kamar seraya menyunggingkan senyuman dibibirnya yang tipis.

"Ne." Sungmin balas tersenyum. "Kim Ryeowook?"

Yeoja yang masih mengenakan seragamnya itu tersenyum lebar dan mendudukkan dirinya diranjang Sungmin. "Ne. Aku Kim Ryeowook. Senang berkenalan denganmu, Sungminnie. Aku harap kau mau menjadi temanku."

Raut wajah Sungmin sedikit berubah mendengar ucapan Ryeowook. "Seharusnya aku yang mengatakan itu Ryeowook-ssi."

Ryeowook tersenyum tipis. Tapi Sungmin sempat melihat sesuatu yang tersamarkan disana. Sungmin yak yakin. Ada kepedihan disenyum itu?

"Ah!"

Sungmin tersadar karena pekikan kecil Ryeowook. "Ada apa?"

"Sungminnie! Kau suka menatap langit dimalam hari?" tanya Ryeowook antusias. Matanya berbinar-binar dan kakinya melangkah kecil menuju jendela kamar mereka. Jendela besar hingga sebatas betis yang memang belum Sungmin tutup tirainya, memperlihatkan gelapnya langit malam.

"Ne." Sungmin beranjak mendekati Ryeowook. "Aku menyukainya. Aku suka menatap bintang-bintang dilangit malam."

"Kau sama denganku! Aku juga suka menatapnya. Mereka cantik sekali."

Kemudian kedua yeoja itu terdiam. Sungmin yang merasa tak nyaman berniat memulai kembali pembicaraan.

"Ryeowook-ssi."

Ryeowook menoleh, tetapi bibirnya menyunggingkan pout lucu. "Jangan terlalu formal padaku, Sungminnie."

"Ah, mian. Ryeowookie, sebelum aku, siapa teman sekamarmu?" tanya Sungmin penasaran. Detik berikutnya, Sungmin merutuki pertanyaannya itu. Kenapa? Lagi-lagi Sungmin melihat kepedihan diwajah manis teman sekamarnya itu.

"Sebelum kau, seorang yeoja murid kelas X. baru sehari dia dikamar ini, esoknya dia pindah kekeamar lain."

Ucapan Ryeowook membuat Sungmin terkejut. "Pindah? Kenapa?"

"Entahlah."

Kedua yeoja itu kembali terdiam.

"Sungminnie, kau sudah mandi?"

Sungmin mengangguk. "Ne."

Ryeowook terkekeh. "Berarti ini bau keringatku ya? Aku mandi dulu ne. sebentar lagi waktunya makan malam. Kau bersiap-siaplah Sungminnie. Mau ke aula denganku?" tawar Ryeowook. Yeoja itu mengambil baju ganti dan masuk kekamar mandi.

"Tentu saja. Jangan lama-lama mandinya Ryeowookie!"

Sungmin beringsut mendekati lemari pakaiannya. Berniat mengaganti celana pendeknya dengan jeans panjang.

Baru saja memasukkan kakinya ke slahsatu sisi jeansnya, yeoja itu terkejut dan jatuh terduduk. "Ya Tuhan!"

Secepat kilat Sungmin merangkak mendekati jendela dan menutup tirainya.

"Ada apa Sungminnie?" Ryeowook berteriak dari kamar mandi. Mungkin yeoja itu penasaran dengan seruan Sungmin saat terkejut tadi.

Sungmin yang masih mengatur nafasnya bersandar pada jendela. Bahkan jeansnya pun belum dipakainya dengan terlalu kalut hingga lebih memilih untuk menennagkan jantungnya yang berdetak cepat. "Tidak ada apa-apa Ryeowookie."

Sungmin berbalik dan mengintip sedikit dari tirai jendela yang disingkapnya.

Deg!

"Eomma…," yeoja manis itu meringis dan menutupi kembali jendelanya. "Namja itu masih disana."

Sungmin terkejut bukan main. Manic matanya tak sengaja bersibobrok dengan seseorang yang sedang berdiri dibalkon lantai 4 saat dia sedang berganti celana tadi. Tentu saja yeoja itu malu. Saat bagian bawahmu hanya memakai sepotong underwear berwarna merah, ada seseorang yang tak kau kenal melihatmu.

Yeoja yang tadi siangmengantar Sungmin sepertinya lupa menjelaskan bahwa masih ada kamar siswa dilantai 4. Ada 4 kamar dengan lampu menyala –terlihat dari jendela kamarnya yang terbuka- dilantai 4 itu. Sungmin mengernyitkan dahinya bingung. Gedung asrama mereka berbentuk kotak dengan pintu-pintu kamar yang menghadap taman yang ada di tengah-tengah gedung. Itu artinya, seluruh jendela kamar pasti akan langsung berhadapan dengan lingkungan luar karena posisi pintu dan jendela yang saling berlawanan. Tapi mengapa masih ada kamar disisi lain gedung ini yang terlihat dari jendela kamar Sungmin yang ada dilantai 3?

Ah, berhenti memikirkan arsitektur gedung asrama mereka yang membingungkan itu. Yang masih mengganjal dihati Sungmin adalah kejadian beberapa menit yang yang sedikit menyentil harga dirinya sebagai seorang wanita.

Siapa yang harus disalahkan disini? Seorang namja berdiri dibalkon kamarnya dilantai 4. Tanpa sengaja -mungkin- dia melihat kearah jendela kamar Sungmin yang ada dilantai 3. Slahkan mata namja itu yang jelalatan.

Tapi, Sungmin berganti pakaian padahal dia tahu jendela kamarnya masih tebuka. Oh, salahkan juga kecerobohan yeoja ini.

Sekali lagi, Sungmin kembali mengintip dari tirai jendelanya. Mereka kembali bertemu pandang. Namun detik berikutnya, namja itu memanglngkan wajahnya dan masuk kekamar. Sungmin bernafas lega. Yeoja itupun kembali berpakaian dengan tenang.

"Sungminie," panggil Ryeowook. Masih dari dalam kamar mandi.

"Ne?" Sungmin yang sedang duduk diatas ranjangnya menoleh kearah pintu kamar mandi.

"Mungkin sebentar lagi akan ada namja yang datang. Tak apa. Biarkan saja dia masuk."

"Apa namjachingumu?" goda Sungmin.

Terdengar kekehan dari dalam kamar mandi. "Begitulah."

"Baiklah."

Cklek!

Baru saja percakapan itu terhenti, pintu kamar mereka terbuka. Sungmin menyunggingkan senyumnya saat ternyata memang seorang namja dengan matanya yang sipit masuk kekamar mereka. "Mencari Ryeowook? Dia sedang mandi."

Dahi Sungmin mnegernyit tak senang kala dia tak mendapati respon atau jawaban apapun dari mulut namja itu. Namja itu malah melangkahkan kaki menuju ranjang Ryeowook dan duduk disana. Membuat mereka saling berhadapan.

Sungmin menelan salivanya gugup saat dia merasakan ketegangan diantara mereka. Namja itu tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan diam. Wajah namja itu datar. Sangat datar. Tak ada satupun ekspresi disana. Namun tatapan matanya menatap Sungmin dingin, tajam dan menusuk. Hingga Sungmin merasa dirinya sedang ditelanjangi. Padahal Sungmin yakin, pakaiannya sudah cukup tertutup dengan celana jeans panjang dan kaos yang terbalut cardigan panjang.

Cklek!

Untunglah pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka. Menampakkan sosok Ryeowook yang sudah berpakaian rapi.

"Oppa sudah datang?" tanya Ryeowook seraya mendekati dan mengecup pipi namja itu singkat.

Namja itu mengangguk. Matanya terus mengekori Ryeowook yang berdiri didepan cermin yang digantung didinding kamar mereka.

"Sungminnie, kenalkan. Dia Kim Jongwoon. Tapi panggil saja Yesung. Oppa, dia Lee Sungmin. Teman sekamarku yang baru," ucap Ryeowook disela-sela menyisir rambut panjangnya.

Sungmin melirik nama yang baru saja dikenlkan Ryeowook, Yesung. Namja itu menatap Ryeowook intens. Tetap dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Hanya saja tidak dengan tatapan mata dingin, tajam dan menusuk. Namun tak pula dengan tatapan hangat. Datar tanpa ekspresi lengkap menghiasi wajah dan mata itu. Membuat Sungmin heran dan penasaran dengan sosok seorang Yesung.

"Baiklah. Aku sudah siap. Kita turun sekarang?" ucap Ryeowook riang dan menggandeng tangan Yesung yang sudah berdiri disampingnya.

"Err…," Sungmin menggaruk tengkuknya bingung. "Kalian duluan saja ya. Aku lupa harus menemui kepala asrama." Ya. Sungmin memang harus menemui kepala asrama saat ini.

"Oke. Sampai ketemu nanti Sungminnie." Ryeowook melangkah keluar kamar bersama Yesung.

Sungmin bernafas lega saat pasangan itu sudah pergi. Entah apa ada yang salah dengannya, tapi tatapan Yesung yang menurut Sungmin tidak bersahabat itu cukup membuatnya panas dingin.

.

.

Hari pertama disekolah Sungmin lewati tanpa ada hambatan. Tak disangka ternyata dia sekelas dengan Ryeowook dan Yesung.

Banyak hal baru yang Sungmin tahu mengenai Yesung. Namja itu hampir setiap saat selalu bersama Ryeowook. Pergi sekolah, istirahat, pulang, mereka selalu bersama. Pulang sekolahpun Ryeowook tidak ada dikamar. Bisa Sungmin tebak, dia sedang bersama Yesung.

Dan lagi. Saat malam, smartphone milik Yesung akan Ryeowook bawa. Terlalu banyak fans Yesung yang mengganggunya saat malam. Ryeowook tidak meminta. Tapi Yesung yang dengan sengaja meminta Ryeowook membawa smartphonenya. Untuk menghubungi Yesung dimalam hari, Yesung memiliki satu handphone lain. And you know what? Dengan titah si muka datar itu, hanya Ryeowook yang boleh tahu nomor handphone super duper pribadi itu.

Sungmin cengo parah saat mendengar cerita Ryeowook mengenai Yesung. Yesung? Namja muka datar itu memiliki banyak fans? Oh Tuhan. Rahang Sungmin hampir jatuh saat itu.

.

.

Kamar itu kini gelap. Tapi 2 yeoja penghuni kamar itu belum tidur walaupun sudah berbaring diranjang masing-masing. Terlihat dari Sungmin yang masih membuka jejaring sosial dari smartphonenya dna Ryeowook yang terkikik geli seraya menatap layar smartphone Yesung. Ringtone 'you get one new message' terdengar berulang kali dari smartphone milik namja seram –menurut Sungmin- itu.

"Fans Yesung?"

"Ne."

"Kenapa mereka masih mengirimi Yesung email dan pesan kalau mereka tahu Yesung tidak memegang smartphonenya?" tanya Sungmin bingung.

"Mereka tidak tahu Sungminnie."

"Hah?"

"Mereka tidak tahu kalau aku yang memegang smartphone Yesung," jelas Ryeowook.

"Aku heran kenapa kau bisa tahan dengan Yesung itu."

"Hehehe. Rahasia Sungminnie."

Kedua yeoja itu kembali dengan kesibukannya. Sungmin meletakkan smartphonenya dan bersiap tidur.

"Minnie-ah."

"Ne?"

"Kau punya headphone?"

"Punya. Wae?"

"Bisakah kau memakainya saat tidur? Mendengarkan lagu mungkin?"

"Eh?" Sungmin merasa ada yang ganjil dengan permintaan Ryeowook. "Wae?"

"Aku tidak mau kau mendengar hal aneh nantinya."

"Aneh?" Dahi Sungmin mengernyit.

"Tolong Sungminnie. Tolong kenakan headphonemu," mohon Ryeowook.

Sungmin berdecak sebelum menyamankan tubuhnya dan kembali bersiap tidur. "Kau yang aneh Ryeowookie. Sudahlah. Aku tidur duluan ne. Jaljayo."

.

.

"Enghhh… Opp… Ppahh… Ah… Ahh… Ahh… Oppaahh…"

Sungmin terbangun dari tidurnya saat mendengar suara yang menurutnya tak lazim itu. Benarkah itu suara desahan?

"Ahh… Ahh… Ah… Ah… Oppaahh…"

"Baby…"

Suara-suara itu nyata! Dan sangat dekat! Suara namja dan yeoja. Menyingkirkan kata 'mimpi' yang tadi sempat terpikir oleh Sungmin.

Penasaran, perlahan Sungmin memutar wajah dan membuka matanya. Yeoja itu tercekat. Nafasnya hampir saja terhenti. Walaupun lampu kamar mereka tak menyala, namun bias-bias cahaya dari lampu lorong yang masuk lewat ventilasi diatas pintu kamar cukup terang untuk memperlihatkan seisi kamar mereka.

Sungmin yang gemetar perlahan membalikkan badan dan wajahnya menghadap dinding. Memunggungi apa yang baru saja dilihat olehnya.

Diranjang lain selain milik Sungmin dikamar itu, tubuh dua orang anak manusia sedang menyatu.

Yesung dan Ryeowook.

To Be Continue

.

.

Annyeonghaseyo ^^

Kiki Hanni imnida. Satu lagi persembahan saya untuk reader ffn. Sebuah fic yang saya buat sepenuh hati dengan kemampuan yang saya dimiliki. Walaupun begitu, ga menutup kemungkinan masih banyak kesalahan yang menghalangi fic ini untuk menjadi fic yang sempurna.

Apapun itu, saya harap reader bersedia menyampaikan semangat untuk saya melalui review. Betapa senangnya saya saat tahu bahwa apa yang sudah saya buat mendapatkan respon yang bagus ^^

Sign,

Kiki Hanni

Review?