Disclaimer: I don't own Naruto and its properties.
A result from all of my stress. Enjoy!


Bittersweet Memoir of Haruno Sakura
by Yuuto Tamano

.

.

me·mo·ar /mémoar/ n 1 kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yg ditulis dng menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yg dialami dan tt tokoh yg berhubungan dengannya; 2 catatan atau rekaman tt pengalaman hidup seseorang. [Kamus Besar Bahasa Indonesia]

.

.

.

Aug 30

Seluruh tubuhku beku melihatnya.

Aku tak percaya dengan kedua mataku. Apa yang mereka tangkap adalah hal terakhir yang ingin kulihat.

Tubuh yang bersimbah darah, tergeletak tak berdaya pada permukaan tanah yang tak lagi rata. Orang awam yang melihat itu pasti akan merasa mual, tapi aku bukanlah orang awam, dan tubuh yang kulihat itu jelas bukanlah orang yang asing bagiku.

Aku ragu; haruskah aku mendekatinya?

Kulirik ke kiri dan ke kanan; tak ada siapa-siapa. Aneh, sungguh aneh. Dengan langkah pelan dan gemetar aku mendekati tubuh itu. Langkah demi langkah membuat bahuku bergetar dan pandanganku berkaca-kaca. Aku tak kuat. Langkahku semakin lama semakin berat. Seperti sebuah gunung terpikul di kedua bahuku.

Aku tak ingin melihatnya, tapi aku melihatnya. Itu benar-benar dia.

Apakah dia sudah meninggal?

Kusentuh kulit lehernya dan dapat kurasakan hangat yang menjalar dan detak jantung yang lemah tapi ada.

Lalu aku merasa sangat, sangat lega.

Aku menghela napasku. Siapa yang telah membuatnya begini? Apakah Naruto? Tapi aku tak melihat sedikitpun batang hidungnya di tempat ini.

Lagipula kenapa dia bisa tergeletak di tempat seperti ini hanya sendirian?

Apa yang telah terjadi?

Aku menggelengkan wajahku, sekarang bukan saatnya berpikir seperti itu. Dia masih hidup dan terluka parah. Setelah kuperiksa, lima tulang rusuk dan tulang kakinya patah, kulit di kedua tangannya mengelupas, banyak lebaman di seluruh tubuhnya, terutama di perutnya.

Namun yang paling parah adalah... kedua matanya. Mereka terus mengeluarkan darah dan... aku tak dapat mendeskripsinya.

Lalu aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

Baikkah jika aku membawanya dan merawatnya? Aku tak tahu lagi apa yang ada dalam pikiranku saat aku perlahan mengangkat tubuhnya ke punggungku dan melompat pergi menjauhi tempat itu.

:::

Sept 1

Sudah dua hari berlalu sejak aku menemukannya di tempat itu dan membawanya ke tempat ini—sebuah gubuk kayu tak berpenghuni yang kutemukan di tengah hutan sebelah luar tenggara perbatasan Tsuchi no Kuni.

Sekarang dia masih terbaring di atas tempat tidur. Pakaiannya telah bersih terganti dan terdapat balutan-balutan gipsum di dada dan kakinya, serta perban di nyaris seluruh tubuh dan kedua matanya. Dia masih belum sadar.

Dari balik meja kayu ini aku hanya menatapnya, menunggu kesadarannya untuk muncul sambil meneguk segelas teh di tanganku.

Tapi benarkah aku ingin dia untuk bangun?

:::

Sept 2

Dia masih belum sadar.

:::

Sept 3

Dia masih belum sadar.

:::

Sept 4

Dia masih belum sadar.

:::

Sept 5

Dia masih belum sadar dan aku sudah mulai kehilangan harapan.

:::

Sept 8

Dia telah bangun!

Ketika aku baru saja pulang dari desa terdekat untuk membeli beberapa keperluan hidup dan masuk ke kamar untuk memeriksa keadaannya, betapa terkejutnya aku melihat pemandangan tak biasa.

Perban yang menutupi kedua matanya telah rusak—sepertinya dirobek dengan paksa—dan tercecer di sampingnya.

Siapa lagi selain dirinya sendiri yang merobek perban itu? Karena aku tak merasakan sedikitpun sisa-sisa keberadaan orang lain selain kami berdua.

Meski saat itu kulihat pula dia masih tertidur.

Jantungku pun mulai berdetak tak karuan.

:::

Sept 9

Cangkir di kedua tanganku jatuh pecah ketika aku mendapatinya dalam posisi duduk, memandangi kedua telapak tangannya.

Lalu dia menoleh ke arahku.

Jantungku berdetak begitu kencang. Kapan terakhir kali aku melihat iris mata merah kebanggaan klannya itu?

"Kau... Sakura,"

Suaranya... tak berubah.

"kenapa aku masih hidup?"

Aku ingin menjawab pertanyaannya tapi suaraku tak mau keluar.

"...kau benar-benar menyebalkan. Tak seharusnya kau membiarkanku hidup..."

Aku tak mampu berkata-kata.

Lalu kusadari satu hal.

Ia memang melihat ke arahku, tapi ia tak melihatku.

:::

Sept 10

Dia tak bisa melihat. Dia buta. Dia hanya bisa merasakan keberadaan chakra-ku.

Namun dia menganggapku seolah-olah aku tak ada.

:::

Sept 13

Sudah tiga hari ia mengacuhkanku, tak berbicara padaku, dan hanya menghabiskan waktunya terbaring di tempat tidur. Aku tahu ia masih belum bisa menggerakkan seluruh tubuhnya karena luka-lukanya.

Dia menolak untuk kusentuh; dengan kasar dia memukul tanganku ketika aku hendak memeriksa dan mengganti perbannya. Dia juga menolak untuk makan. Dia malah melemparkan piring dan makanan itu hingga pecah dan berserakan di lantai setiap kali aku menawarinya.

Dia sangat keras kepala.

Begitu juga diriku.

:::

Sept 17

Apa yang harus kulakukan?

Sudah 7 hari ini dia menolak untuk makan.

Sekarang apa yang harus kulakukan?

Tubuhnya begitu kurus dan pucat. Luka-lukanya lama untuk sembuh. Jika dia terus begini, dia bisa mati.

Tapi seminggu yang lalu dia bilang dia memang ingin mati.

Tapi aku takkan membiarkannya.

:::

Sept 18

Aku memaksanya untuk makan. Dia masih tetap menolak dan malah memukulku jauh darinya. Aku tersentak menubruk dinding kayu, menciptakan memar baru di punggungku. Meski sedang terluka dan tanpa energi, dia masih mampu melukaiku.

Di tubuh dan hatiku.

Aku tak tahan dan menangis. Seberapapun kuat aku tumbuh, penolakan dan perlakuannya setiap hari terhadapku membuat hatiku hancur. Aku benar-benar tak tahan lagi. Aku ingin menyerah. Tak seharusnya aku membawa dan merawatnya ketika aku menemukannya saat itu. Seharusnya aku membiarkannya mati saja seperti yang dia inginkan.

Dadaku terasa semakin sesak.

Tangisku semakin menjadi-jadi. Aku merasa frustasi. Frustasi akan sebagian dari diriku yang masih menginginkan dirinya untuk hidup.

Frustasi akan diriku yang sampai saat ini pun masih mencintainya. Frustasi karena aku tahu sampai kapan pun ia takkan mencintaiku balik, meski aku telah menyelamatkan dirinya dari kematian.

"Kau menyebalkan."

Aku terkejut mendengar suaranya lagi sejak terakhir aku mendengarnya ketika aku pertama kali menemukannya terbangun. Aku mengangkat daguku, menoleh ke arahnya.

Dia tak melihatku meski melihat ke arahku.

Raut wajahnya tak terbaca.

:::

Sept 19

Aku tak tahu apa yang tengah terjadi.

Hari ini aku melihatnya memakan makanan yang kubuat untuknya.

Meski aku tak mengerti, aku hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia.

Akhirnya...

:::

Sept 24

Luka-lukanya sudah mulai menghilang satu persatu, mungkin karena dia telah makan dengan teratur. Dia juga tak menolak ketika aku hendak mengganti perbannya dan membantunya ke kamar mandi.

Aku benar-benar merasa bahagia.

Walaupun ia masih menolak untuk berbicara padaku.

:::

Sept 30

Pagi ini aku melepaskan seluruh perban dan gipsum di tubuhnya, ia telah 90% sembuh. Tanpa perintah dariku dia mencoba sendiri untuk berjalan. Dia sudah dapat berjalan lima langkah, sebelum akhirnya terjatuh.

Dia menolak untuk kubantu berdiri. Sepertinya dia marah. Aku lalu membiarkannya melakukan apa yang dia mau dan hanya mengawasinya. Butuh waktu lama bagi dirinya untuk merangkak balik ke tempat tidur.

Dan dia masih tak mau berbicara padaku.

:::

Nov 5

Aku terkejut melihatnya berdiri di luar rumah, memandang ke atas dan bermandikan sinar matahari yang menelusup melewati rangkaian pepohonan.

Aku tersenyum. Dia belajar dengan sangat cepat.

:::

Nov 8

Hari ini adalah hari yang mengejutkan bagiku.

"Kau darimana?" tanyanya tiba-tiba.

Butuh waktu lama bagiku untuk menjawab pertanyaannya karena begitu terkejut dengannya yang tiba-tiba saja mau berbicara padaku.

"A-Aku baru saja dari desa membeli ba-bahan makanan. Jaraknya 20 km dari sini..."

Dia lalu tak merespon apa-apa dan kembali berbaring di tempat tidur.

:::

Dec 20

Siang ini aku baru saja selesai dengan shift kerja sambilanku sebagai perawat di klinik desa dan hendak pulang ke rumah, ketika aku tak sengaja melihat dua orang ANBU Konoha baru saja keluar dari sebuah bar minuman.

Sontak aku segera bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari mereka dan menyembunyikan chakra-ku. Jantungku berdebar sangat kencang dan keringat dingin mengalir di pelipisku.

Mereka tidak boleh tahu keberadaanku.

Mereka tidak boleh tahu tentang dia!

Setelah mereka menghilang dari pandanganku, aku segera berlari. Pikirkanku fokus menuju ke rumah. Aku tak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah.

Aku nyaris kehabisan napas ketika akhirnya aku merebahkan diriku di atas tempat tidurku. Jantungku masih berdetak sangat kencang. Kutepuk-tepuk dadaku, berusaha untuk menenangkan diriku.

Lalu aku merasakan keberadaannya di pintu kamarku.

"Sasuke-kun," kupanggil namanya namun dia tak merespon. Dia hanya menatap ke arahku dalam diam. Auranya menyuruhku untuk mengatakan mengapa aku membanting pintu rumah dan menguncinya seperti yang baru saja aku lakukan.

Aku pun menghela napas.

"Tadi aku melihat dua orang ANBU Konoha di desa," tuturku dan aku melihat tubuhnya mendadak menegang. Saat itulah aku baru ingat kalau dia adalah seseorang yang amat membenci Konoha. Dan aku baru saja menyebutkan nama desa shinobi tempat kami menghabiskan masa kecil kami itu di depannya. Aku benar-benar bodoh. Bodoh. Bodoh!

Meskipun dia masih memperlakukanku dengan dingin, namun kini dia bersikap 'lebih baik' dari sebelumnya. Tak pernah sekalipun dia menyinggung tentang dendamnya, kebenciannya, ataupun Konoha. Aku juga tak pernah melihatnya sekalipun melakukan ninjutsu atau apapun yang mencirikan dia adalah seorang shinobi. Selama dua bulan ini aku hidup dengannya, dia menjalani hidup layaknya manusia biasa. Dia seperti Sasuke yang... terlahir kembali.

Lalu apakah sekarang dia akan kembali seperti dia yang dulu? Dia yang begitu haus kekuatan dan dia yang akan melakukan apapun untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan Konoha?

"Lalu?" sahutnya keras, membuatku kembali dari lamunanku.

Aku menelan ludahku sendiri.

"A-Aku tak ingin mereka menemukan kita disini, Sasuke-kun! Aku tak ingin mereka menemukanmu dan menjauhkanmu dariku! Aku tak ingin mereka merusak apa yang kita miliki sekarang!"

Aku lalu menangis. Dadaku terasa sesak.

"Aku tak ingin kau mati, Sasuke-kun..."

Dia tak merespon dan aku menangis semakin keras, tak tahu apa yang harus kulakukan.

Aku hanya mendengar dirinya mendecih dan melangkah menjauh.

:::

Dec 21

Kami menjalani kehidupan seperti biasanya: kami bangun pagi-pagi, aku menyiapkan sarapan untuknya, berangkat kerja sambilan di desa, siangnya kembali ke rumah, memasakkan makan siang untuk kami berdua, mengawasinya berjalan-jalan di luar sambil membaca buku, membuatkan makan malam untuknya, menghangatkan air untuknya mandi, dan pergi tidur.

Kejadian kemarin seolah-olah tak pernah terjadi. Aku juga tak melihat lagi kedua ANBU Konoha itu di desa.

Mungkin aku terlalu paranoid.

Aku juga merasa dia semakin mengabaikan dan menjauhiku.

Agak.

:::

Dec 23

Tak terjadi apapun yang tak diinginkan hari ini. Aku juga tetap tak melihat dua orang shinobi Konoha itu lagi di desa.

Walaupun hubunganku dan dia tak membaik, namun aku merasa sangat lega.

Setidaknya, sekali lagi, tak terjadi apa-apa.

:::

Dec 25

Hari ini tak terjadi apa-apa.

:::

Dec 27

Aku merasa ada yang mengikutiku!

Di tengah jalan aku berhenti, lalu menolehkan wajahku ke kiri dan ke kanan untuk mencari siapa yang berani mengikutiku. Aku berkonsentrasi mencari keberadaan chakra lain yang asing di dekatku.

Aku mengangkat kedua alisku dalam kekecewaan.

Tidak ada.

Nihil.

Apa aku tengah berhalusinasi? Tapi tadi itu aku benar-benar merasa diikuti!

Menggelengkan wajahku, dengan cepat aku kembali berlari menuju ke rumah.

:::

Dec 30

Apa yang kutakutkan selama ini terjadi—keberadaan kami diketahui!

Dua orang ANBU Konoha sialan itu tiba-tiba datang tak diundang ke rumah kami. Aku tak mengenal siapa mereka, kedua topeng ANBU itu tak pernah kulihat sebelumnya.

"Kami tak menyangka akan menemukan dua orang yang tak terduga di tempat ini; Haruno Sakura, kunoichi medis yang dikabarkan menghilang dua bulan lalu, dan... Uchiha Sasuke,"

Nada salah seorang ANBU itu berubah sinis.

"aku tak mengira kau masih hidup. Aku pikir kau sudah mati saat dikalahkan oleh pahlawan perang kami."

Aku mendengar Sasuke mengutuk di antara helaan napasnya.

"B-Bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?" tanyaku gugup namun sedikit menyentak.

"Kami tak sengaja melihatmu di desa dan mengikutimu kemari, Nona Haruno."

Mengikuti? Berarti kemarin itu? Ya ampun. Tapi, kenapa bisa?

"Kami harus membawa kalian berdua kembali ke Konoha. Nona Hokage kelima selama ini mencarimu, Nona Haruno, dan aku yakin hukuman mati juga menunggumu di Konoha, Uchiha," ucap ANBU yang seorang lagi.

"Tidak! Jangan mendekat!" Aku berteriak.

"Sepertinya tak ada cara lain selain dengan kekerasan."

Ketika kedua ANBU itu mendekati kami, sontak aku berdiri membelakangi Sasuke-kun, membentangkan lengan kiriku melindunginya dan tangan kananku menggenggam erat sebuah kunai. Keringat dingin mengalir deras membasahi kedua pipiku.

Tak lama kemudian aku dan kedua ANBU itu terlibat pertarungan sengit. Aku meninju permukaan tanah di bawahku, menciptakan retakan besar yang membuat rumah kami terbelah dua, dikerumuni debu yang lebat. Aku membawa Sasuke-kun keluar dari rumah, berusaha untuk membawanya kabur dari tempat ini. Namun, seorang ANBU menarik lenganku, membuatku tersentak dan melepaskan genggamanku pada Sasuke-kun. Kuciptakan kagebunshin dan bayanganku itu menendang jauh sang ANBU menjauh dariku.

ANBU yang seorang lagi melemparkan ratusan shuriken dan kunai-nya serentak padaku. Aku berusaha menghindar, tapi beberapa berhasil menggores pipi, kedua lengan, dan kedua kakiku. Aku mengerang dan fokusku hilang sejenak. Saat itulah salah seorang ANBU menendangku di perut, membuatku terhempas hingga ANBU yang seorang lagi menangkapku, menjebak kedua tanganku dan tubuhku di tanah.

"Kau tak bisa melawan lagi, Nona Haruno," ucapnya dingin, lalu ia melirik pada rekannya, "biar aku yang mengurus gadis ini, kau cepat tangkap Uchiha itu! Dari yang kuperhatikan dia takkan bisa melawan!"

Oh tidak! Sasuke-kun!

Tetes demi tetes air mataku turun. ANBU itu benar, dengan kondisinya yang sekarang Sasuke-kun tak akan bisa bertahan. Dia pasti akan tertangkap.

Mau tak mau kami akan kembali ke Konoha, menerima takdir kami berikutnya.

Kenapa aku begitu lemah dan tak berdaya?

"Tenang saja Nona Haruno, hukuman untuk orang yang membantu menyembunyikan kriminal kelas S tidak akan begitu berat," ucap sang ANBU sarkastis. Aku menatapnya tajam.

Kudengar langkah-langkah kaki mendekati kami.

"Oh, kau berhasil menangkapnya? Bagus sekali! Sekarang kita—"

Aku menutup kedua mataku.

Hingga kudengar bunyi yang begitu familiar itu; bunyi kicauan seribu burung yang begitu nyaring dan kilatan cahaya yang begitu menyilaukan.

ANBU yang menjebakku terhempas cukup jauh.

Lalu aku melihatnya, sang Uchiha Sasuke, menatap ke arahku dengan tangan kanannya diselimuti chidori dan di tangan kirinya terseret tubuh seorang ANBU yang bersimbah darah.

Astaga!

"Sasuke-kun!" Aku bangkit mendekatinya. Lalu kuperiksa tubuh ANBU itu. Seperti apa yang kutakutkan, ia sudah tak bernyawa.

"Sasuke-kun, kenapa kau membunuhnya?"

Dia tidak menjawab. Dia melempar tubuh ANBU yang tadi digenggamnya. Lalu hanya bermodalkan insting penciuman, pendengaran, dan kemampuannya melacak chakra, dia menerjang ke arah musuh yang seorang lagi. Meghajarnya dengan tinjuan dan tendangan, serta chidori-nya yang mematikan.

"SASUKE-KUN HENTIKAN!"

Dari belakang aku memeluk pinggangnya, berusaha untuk menghentikan dirinya. Aku tak ingin dia kembali lagi seperti dirinya dulu, seseorang yang penuh akan amarah dan dendam, seorang pembunuh.

Dia menjadi tenang; kicauan chidori di tangan kanannya lenyap dan napasnya biasa. Aku menghela napasku lega. Dengan perlahan kulepaskan dirinya.

Aku segera menghampiri sang ANBU yang diserangnya. Tubuhnya terbaring di tanah tak bergerak. Jantungku memacu cepat, cemas sekaligus berharap agar ANBU Konoha tersebut masih dapat diselamatkan.

Seluruh tubuhku melemas ketika tak kudapatkan detak jantung yang kucari-cari di tubuhnya.

Kedua ANBU itu telah meninggal dunia.

Aku menangis keras. Aku bangkit dari posisiku dan menghadap kepadanya. Kupeluk dirinya, meski ia tak membalas pelukanku.

Aku hanya bisa menangis di dadanya.

:::

Dec 31

Tangisku masih sering jatuh ketika mengingat kejadian kemarin.

Ketika terbangun tadi pagi aku berharap bahwa apa yang terjadi kemarin hanyalah sebuah mimpi buruk belaka, dan ketika terbangun, semuanya akan kembali seperti semula.

Namun, melihat pemandangan kamarku yang berbeda, aku tahu bahwa kemarin itu nyata.

Dan menyadari hal itu air mataku pun turun.

Aku dan Sasuke-kun telah pindah ke sebuah rumah di Taki no Kuni yang tak berpenghuni dan tak kalah terpencil dari rumah kami sebelumnya. Kami hanya membawa barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Kali ini aku membuat rangkaian semak-semak mengelilingi rumah kami agar tak dapat lagi terlacak. Tak jauh dari tempat kami juga terdapat sebuah sungai dan sebuah desa, meski tak semaju dan tak selengkap desa sebelumnya. Aku akan mencari pekerjaan sambilan baru di tempat itu untuk menghidupi kebutuhan kami berdua.

Lalu bagaimana dengan kedua ANBU itu? Aku menguburkannya dengan baik di dekat rumah kami sebelumnya yang telah hancur.

Mengingat hal itu membuatku miris. Bahkan untuk tersenyum pun sulit.

Malam ini malam tahun baru.

Aku berdoa semoga saja di tahun berikutnya akan menjadi tahun yang baik bagi kami.

Aku lalu melirik ke dalam kamarnya, mendapati dia tengah terbaring menatap langit-langit. Suasananya begitu hening, yang terdengar hanya suara napasnya yang naik dan turun.

Dia menyadari keberadaanku.

"Kau tidak apa-apa, Sasuke-kun?" tanyaku sambil mendekatinya.

Dia tak merespon apa-apa.

Pertarungan kemarin membuat luka dalamnya kembali terbuka. Chidori-nya pun membuat kulit-kulit di pergelangan kanannya sedikit terkelupas. Dengan chakra-ku aku memeriksa keadaan luka dalamnya. Tepat seperti yang kuduga, perutnya sekarang sudah baik-baik saja. Dia telah sehat seperti sedia kala.

"Sakura," panggilnya tiba-tiba, mengagetkanku, "kenapa kau masih mau melakukan ini padaku?"

Aku menggigit bibir bawahku.

Kenapa aku masih mau tinggal bersamanya, merawatnya, mengurus dirinya yang adalah seorang pembunuh?

"Sesungguhnya aku tidak tahu," jawabku jujur, "aku hanya ingin terus bersamamu, Sasuke-kun, selama mungkin."

Tak ada respon lagi darinya. Dan aku telah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.

Namun, kali ini di luar perkiraanku, ia menarik lenganku, merebahkanku di kasur dengan dia berada di atasku.

Jantungku berdebar begitu kencang, terutama ketika dia meraba-raba keberadaan bibirku.

Dan menciumnya.

Bibirku, pipiku, leherku, dadaku... semuanya.

Malam ini malam tahun baru.

Ketika aku menemukan sisi lain dari seorang Uchiha Sasuke; sisi yang penuh dengan gairah dan kenikmatan duniawi.

To be continued


Next:

"Aku merasa seperti ada sesuatu yang berbeda dari diriku.

Aku merasa sangat dominan, seperti baru saja memasuki dunia yang baru. Dunia yang tak pernah kau jelajahi sebelumnya. Dan di dalam duniamu itu, kau menjadi seorang ratu, semua orang tunduk padamu. Dan layaknya sebuah surga, duniamu tampak bersih berkilau penuh dengan warna, persis seperti yang kau inginkan.

Sehingga kau menjadi sangat sensitif dibuatnya.

Ironinya, kau tak tahu mengapa."