Haaaai~

Vi-Chan kembali dengan menghadirkan FIC baru yang gaje dan gak bermutu*PLAK!*. FIC lama Vi-Chan sudah Vi-Chan hapus dikarena FFN yang lagi jahat sama Vi-Chan, sampai-sampai banyak kata-kata yang hilang dari FIC Vi-Chan _ _|||

OK, tanpa banyak bacot, kita mulai saja. FIC 'Juragan Senguji menyambut kematian' terambil dari drama Imlek tahun macan yang Vi-Chan lihat di vihara. Judul aslinya 'Juragan Acang menyambut kematian'.

Sekian dulu penjelasannya, RnR ya please~

Anime: Inazuma Eleven GO

Main Chara: Senguuji Yamato, Matsukaze Tenma, Seto Midori, Yamana Akane,dll

Disclaimer: Inazuma Eleven GO punya Level-5 yang mungkin tahun depan akan naik level jadi level-10(?) *Digebukin*

Di suatu kota, terdapat sebuah rumah yang mewaaaaah bangeeeet *Lebay!*. Rumah mewah tersebut ditinggali oleh seorang jurangan, eh juragan yang pelit, galak, sok imut(?), dll bernama Senguuji Yamato. Dia punya anak sayur, eh anak buah yang (tidak) setia bernama Matsukaze Tenma. Dan disinilah hari-hari gaje sang juragan dimulai.

Pada siang hari, diruang tamu sang juragan Senguuji memanggil anak buahnya itu, "TENMA!"?

"Ada apa juragan? Gak usah teriak-teriak begitu. Kan kita hanya beda jarak berdiri 33 KM(?)," Jawab Tenma yang teryata daritadi sudah ada disebelah sang majikan tercinta, tersayang, MUACH! (?)

"Tenma, coba kamu cek berapa jumlah kekayaanku sekarang?" Perintah Senguuji

"Lapor juragan, menurut catatan saya, jumlah kekayaan juragan sudah mencapai…10 MILIAR RUPIAH(?)!" Jawab Tenma sambil membuka buku catatannya yang sudah sobek disana-sini, tulisan-tulisan kasar bin jorok juga disana-sini termasuk di tangan yang punya buku.

Sang juragan bahagia,kemudian berdiri (Emang tadi dia duduk?), mengarahkan tangannya di atas dan memutarkannya di udara, sementara kakinya sibuk berloncat-loncat mengikuti irama soundtrack 'Ayu LonTong-Gigi Palsu(?)'.

Sang anak buah yang diperkirakan masih waras 20% (Sisanya silahkan tebak sendiri) kemudian menenangkan sang juragan.

"Sadar gan, sadar!" Ujar Tenma sambil menepuk-nepuk bahu juragan gajenya itu yang masih sibuk berloncat-loncatan ala kodok kecarunan.

Sang juragan pun sadar dari aksinya(?), "Duh, sorry! Kelepasan, harus bayar pajak nih!" Sang juragan pun duduk di sofa ruangan itu. Tiba-tiba…

"PAAAPIIIII~ PAAAAPIIIII~" Nada manja dari sang istri alias Seto terdengar dari balik pintu. Nada suaranya terdengar (sok) manja, gerakan tangannya persis kayak orang lagi renang di kali dan gerakan kakinya persis kayak ibu-ibu lagi fashion show.

Senguuji yang mulai gak nyaman pun menjawab,"Jangan sok mesra! Ada apa? Kamu yang bermulut manis begitu pasti ada maunya!"

"Papi, kok tahu sih? Jadi malu deh," Seto menutup mukanya pakai kipas kertas yang dibawanya, berharap sang suami mau mengabulkan keinginannya.

"TIDAK BISA!" Jawab sang suami aka Senguuji. Padahal permintaan aja belum dikasih tahu loh

"Apanya yang tidak bisa, pi?"Tanya Seto bingung.

"Kamu pasti mau belanja, kan? Jawaban papi ya TIDAK BISA!"

"Iiih! Papi, besok kan udah mau lebaran(?). Masa mami tidak boleh belanja? Kita ini apapun belum beli. Baju baru aja belum beli," Ujar Seto kecewa.

"Ngapain pake baju baru? Pake aja baju yang lama," Jawab Senguuji santai.

"Tapi, minuman sama makanan untuk tamu gimana?" Tanya Seto

"Kasih air putih(Hah?)!" Jawab Senguuji lagi dengan SANTAI dan TAK BERPERASAAN.

"Ih, papi! Masa mami musti kasih air putih sih? Mami kan malu sama family mami yang datang bertamu,"

Senguuji mulai kesal, "Kalau begitu, suruh familymu enggak sudah datang!"

Seto juga gak kalah kesal, akhirnya berdiri(?), "IIKH! DASAR PELIIT! Garam tukuk! Garam tukuk!(Sebuat Seto buat suaminya)!"

"Ini bukan pelit. Ini PENG-HE-MA-TAN!" Bela Senguuji.

"Menyesal aku menikah denganmu! Aku mau minggat!" Kata Seto

"Wah, bagus(?), hemat beras saya dong," Kata Senguuji senang, "Segera ya, lebih cepat, lebih baik,"

"LANJUTKAN!" Tambah Tenma tiba-tiba ala pak SBY.

"Kalau begitu selamat tinggal, garam tukuk!" Seto berjalan pergi keluar, membuka pintu keluar dan…

BRAK!

BRUK!

…Membanting pintunya hingga roboh. Tenma cengo, Senguuji pasang tampang 'EGP (Emang Gw Pikirin)'

"Juragan, nyonya sudah pergi tuh. Tidak apa-apa ya?" Tanya Tenma

"Huh! Emangnya gw pikirin. Saya juragan Senguuji punya 10 miliar! Orang terkaya di kota ini! Hua ha ha ha ha ha…ohok ohok!" Senguuji yang tadinya bangga akan prestasinya(?) itu kemudian batuk-batuk gajelas. Tenma menepuk-nepuk punggung juragan gajenya itu.

Di tengah aksi(?) tersebut, 2 orang wanita entah cantik atau tidak, tergantung dari mata anda masing-masing*plak!*, dan teryata 2 wanita itu ialah Akane dan Yukie

"Permisii~" Kata Akane sambil masuk kedalam ruangan, "Selamat siang, pak,"

Senguuji jengkel,"Pak pak! Emangnya aku bapakmu? Siapa kalian?"

"Ini pak, kami dari panti asuhan. Kedatangan kami bermaksud untuk meminta sumbangan kepada bapak," Jawab Yukie sopan.

"Sumbangan? IIKH! Badanku merinding mendengar kata sumbangan!" Ujar Senguuji yg bulu kuduknya langsung berdiri mendengar kata 'sumbangan'.

"Pak, sumbangan dari bapak akan sangat berarti untuk anak yatim piatu yang membutuhkan," Kata Yukie lagi.

"Enak aja! Emangnya anak-anak itu siapa sampai aku musti nyumbang buat mereka?" Tanya Senguuji (sok) angkuh.

"Memangnya juragan saya ini berjuang sosial? Iya gak juragan?" Tenma mulai angkat(?) berbicara.

"Betul betul betul," Jawab Senguuji setuju(?).

"Jangankan sama orang lain, sama anak sendiri aja pelit. Betul gak juragan?" Tambah Tenma.

"Betul betul betul,"

"Juragan saya ini, manusia paling pelit didunia! Manusia tak berperasaan! Julukannya, GARAM TUKUK! Iya gak juragan?"

"Bet-… Eeeh, kok kamu malah menghina saya sih?" Senguuji langsung menusuk punggung Tenma pake kipas(?), sementara Tenma sujud-sujud minta maaf.

"Pak, bantulah sedikit," Pinta Akane, "Menolong anak yatim piatu besar loh pahalanya,"

"Betul, pak. Ini akan menjadi amal pahala setelah kita meninggal nanti," Tambah Yukie.

"Huh! Amal pahala apaan? Aku gak percaya! Duitku banyak, gak mungkin cepat meninggal!" Senguuji tetap ngotot(?).

"Betul, gak mungkin bosku cepat meninggal. Paling juga cepat mati," Tambah Tenma, Senguuji nusuk punggung Tenma lagi.

"WOI! Kamu ini bukannya belain juragan juga!"

"Maksud kami bukan begitu pak. Maksudnya-…" Sebelum Yukie berbicara lagi, Senguuji udah keburu motong perkataannya.

"Sudah sudah! Kepala saya pusing! Pergi, PERGI!" Usir Senguuji.

Yukie dan Akane nyerah, "Baiklah kalau bapak tidak bersedia. Kami juga tidak akan memaksa. Kalau begitu, kami permisi dulu ya pak,"

"Gak usah permisi juga enggak apa-apa! Cepat pergi sana!" Usir Senguuji lagi. Padahal mereka berdua udah pergi. Senguuji kembali duduk di sofa.

"Duh, pusing aku. Orang-orang disini bisanya mintaaa terus!" Keluh Senguuji.

"Ten, utangnya si Shindou itu sudah kamu tagih belum?" Tanya Senguuji yang baru saja ingat soal hutang.

"Sudah,gan. Katanya dia masih belum sanggup bayar. Jadi rencananya rumah beserta barang-barangnya akan saya sita," Jawab Tenma.

"Hn! Pokoknya saya tidak mau tau. Sita semua barang-barangnya hari ini juga! Dia sudah telat bayar terlalu lama!" Perintah Senguuji

"Siap juragan!" Sebelum Tenma hendak berjalan keluar, ada lagi yang mau masuk masuk.

Tanpak ada seseorang yang memaksa ingin masuk, namun ditahan sama 2 ekor, eh 2 orang pengawal berpakaian ala preman ndeso di Jakarta (Yang namanya preman kan emang ndeso. Sendal aja gak bisa beli, musti malak).

"JURAGAAAAN! Saya ingin bertemu juragaaaan~" Orang gajelas itu akhirnya berhasil masuk meskipun dia masih ditahan 2 pengawal preman ndeso tadi (Pengawal: Tsurugi dan Hakuryuu).

"Hei, ada apa ribut-ribut?" Tanya Senguuji yang merasa terganggu

"Ini, gan. Orang ini memaksa ingin bertemu denganmu!" Jawab Tsurugi.

"Juragan, itu dia si Shindou, orang yang ingin kita tagih hutangnya," Ujar Tenma.

"Kalau begitu biarkan dia masuk!" Perintah Senguuji. Kedua pengawal itupun melepaskan dan membiarkan Shindou mendekati sang juragan.

"Juragan, saya mohon belas kasihan anda. Tolong semua punya saya jangan disita…" Pinta Shindou dengan penuh harap.

"Heh, orang miskin! Coba lihat! Di surat ini sudah ada perjanjianmu. Sesuai perjanjianmu, kalau kau tidak membayar hutangmu, maka semua barangmu saya sita. Apa salahnya?" Tanya Senguuji sambil memperlihatkan surat perjanjian tersebut.

"Memang benar, dulu saya pernah meminjam uang padamu. Tapi kau juga menipuku!" Ujar Shindou, "Kamu bilang bunganya cuma 3%. Tapi kamu licik! Suratnya kamu ubah sehingga bunganya menjadi 30%. Mentang-mentang aku buta huruf(?), kau malah menipuku. KAMU KETERLALUAN!"

"Kamu keterlaluan, kamu punya simpanan
Maka maafin aku I'm sorry say goodbye
Kamu keterlaluan, kamu duain aku
Maka maafin aku Ku harus tinggalin kamu,"

Shindou langsung nyayi plus joget gajelas setelah mengucapkan kata 'KETERLALUAN' dan disertai musik entah darimana, Shindou langsung menyayikan lagunya abang-abang(?) Teh POTRET(?). Juragan Senguuji cengo, Tenma, Tsurugi dan Hakuryuu malah ikut-ikutan joget mengikuti irama.

Setelah lagu dan aksi gaje nan nista tersebut selesai, semua kembali ke tempat. Senguuji marah

"Heh, kamu! Udahlah suaramu jelek, lagunya gak nyambung lagi!" Komentar Senguuji sok angkuh, padahal itu aslinya lagu ringtone HP Strawberry(?)nya Senguuji.

"Tenang saja Juragan. Kita sita saja semua barangnya, maka habis deh masalahnya," Ujar Tenma santai. Padahal tadi dia ikutan joget =="

"Betul. Tenma, apakah kamu sudah menyelidiki, barang apa saja yang bisa kita sita?" Tanya Senguuji.

"Lapor gan. Menurut catatan saya, orang ini punya sebidang tanah,"

"Kalau begitu SITA!" Shindou mundur selangkah dengan cara ngesot saat tau tanahnya disita.

"Terus sebuah rumah yang agak reyot(?),"

"Sita juga!" Shindou mundur lagi dengan cara ngesot(?)

"Lalu seekor kambing,"

"SITA!" Shin ngesot lagi

"Seekor anjing betina?"

"SITA!" Shin masih ngesot kebelakang.

"Celana kembang Miki Mouse(?),"

"SITA!" Shin ngesot setengah panik(?)

"Dan setengah kilo jengkol(?),"

"Sita sita SITA!" Shindou yang udah ngesot sampe sejauh 44 km(?) tersebut kembali lagi(Hebat amat tuh? Caranya gimana?)

"Ke-ter-la-lu-aaan! Celana miki mouse pun kau sita. Kau tak berperasaan!" Ujar Shindou tak terima.

"Kasihan deh lo~" Tenma dengan Senguuji mengucapkan itu dengan kompak. Maklum majikan-anak buah gaje.

"Bahkan jengkol pun kau sita. Itukan makanan kesukaanku. KAMU BUKAN MANUSIA!" Setelah kata-kata tersebut keluar dari mulut Shindou, Shindou langsung pingsan disitu. Sisanya bengong.

"Heh, kenapa kau?" Tanya Senguuji pada Shindou yang lagi pingsan disitu.

Tenma membuka catatan buruknya itu lagi. Ekpresinya berubah horror,"Juragan, orang ini mengindap penyakit jantung. Jangan-jangan…"

"Hoi, kamu jangan mati disini. Kalau mau mati di luar aja," Kata Senguuji yang mulai kumat. Mayat kok diusir?

"Juragan Senguuji… Aku mengutukmu! Hari ini juga sebelum jam 12 malam, kamu akan mati menggenaskan," Kutuk Shindou yang sempat sadar, kemudian balik pingsan lagi (Pingsan apa mati tuh?)

"Kurang ajar! Kamu menyumpahiku?!" Senguuji tidak terima. Tapi percuma dia ngomong kek gitu.

Tenma mendekati Shindou untuk melihat kondisinya, "Juragan, dia sudah matiiii,"

"Aduuuh! Benar- benar merepotkan! Kenapa mati disini? PENGAWAAL!" Panggil Senguuji.

"Ada apa bos?" Tanya Hakuryuu sambil main PSP(?).

"Matikan dulu PSPmu,"

"Baik, maaf," Hakuryuu matiin PSPnya, "Sudah,"

"Baiklah, bawa mayat orang ini. Cincang dagingnya, lalu kasih makan buaya(?)," Perintah Senguuji sok sadis.

"Siap bos!" Baru saja Tsurugi dan Hakuryuu mau menggotong Shindou, tau-tau itu orang udah bangun.

"Jangan jangan! Ya udah deh, aku mati dirumah aja deh ketimbang dimakan buaya. Ampuun ampun," Shindou serta kedua pengawal tersebut meninggalkan ruangan.

Si Senguuji mulai capek dengan semua kegajean yang terjadi. Mana sampe dikutuk lagi. Awalnya Senguuji cuek-cuek aja sama kutukan itu. Tapi lama-kelamaan ia mulai merasakan sakit.

"AUUUUU, eh salah(?) AUUUUCH," Jerit Senguuji tiba-tiba. Tenma kaget.

"Juragan, ada apa?" Tanya Tenma saat mendengar juragannya menjerit.

"Aduuh, kenapa ketekku(?) jadi sakit begini?" Keluh Senguuji sambil memegang keteknya yang sakit.

"Wah, ini pasti gara-gara juragan lupa pake REXONA*PLAK!*," Tebak Tenma ngaco, "Biar saya panggilkan dokter dulu," Tenma kemudia langsung mengambil HP Nokia N70nya (Wiih, HP lama mami saya*PLAK!*)

"Halo, dokter. Segera datang kesini, juragan sedang sakit. Segera ya!" Tenma mulai menelepon.

"OK, saya datang," Sang dokter yang ditelepon Tenma tadi langsung masuk kedalam ruangan dalam keadaan MASIH MENJAWAB DAN MEMEGANG HPNYA. Dokter tersebut ialah Minamisawa disertai sang suster bernama Manto(?)

"Kenapa cepat sekali? Kamu dokter apa setan?" Tanya Senguuji kaget.

"Oh, saya memang begitu. Saya ini adalah (JRENG JRENG! JRENG! JRENG!) Dokter Super!" Kata Minamisawa sambil bergaya ala Superman disertai dengan soundtrack musiknya. Setelah soundtrack nista tersebut selesai ia mulai kembali memeriksa…

"Baiklah, mana yang tidak enak?" Tanya Minamisawa sambil bersiap memeriksa Tenma

"Bukan saya, tapi juragan!" Jawab Tenma sambil sweetdrop.

"Oh, salah ya. Sorry," Minamisawa berjalan mendekati sofa dimana sang juragan Senguuji duduk, "Baiklah, mana yang tidak enak?" Bukannya memeriksa dengan baik, Minamisawa malah menampar Senguuji bolak-balik.

"WOOOI! SAKIIT! JANGAN KASAR BEGITU!" Teriak Senguuji.

"Baiklah, periksa detak jantung dulu ya," Bukannya menempelnya stetoskop di dada, malah ditempel di kepala Senguuji. Seisi ruangan (Kecuali Minamisawa) sweetdrop

"WOOOI! Mana ada yang periksa detak jantung di kepala!" Senguuji marah.

"Salah dok, jantungnya disini," Manto mulai angkat bicara dan menunjuk tempat dimana jantung berada.

"Wah, sorry," Kata Minamisawa innocent

"Dokter apa sih ini? Gak bermutu banget!" Keluh Senguuji

"Sssst! Tenang dikit, aku lagi mendengar detak jantungmu," Ujar Minamisawa sambil memeriksa detak jantung sang juragan

Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Begitulah suara detak jantung sang juragan saat diperiksa tadi(?).

"Wah gawat!" Minamisawa melihat hasilnya, "Hidupmu tidak lama lagi,"

"APA?!" Juragan syok

BERSAMBUNG

Karena bagi saya sudah panjang banget, jadi apa boleh buat dibikin multichapter aja.

REVIEW ya, kalau gak mau juga gak apa-apa =w="