ALOHA*BUAGH!*

VI-CHAN BAAACK~ Maaf ya kalo udah kelamaan nunggu, maklum Vi-chan males*plak!*. Daaan, dari pada kelamaan nunggu kita mulai saja FICnya

JURAGAN SENGUUJI MENYAMBUT KEMATIAN

"Wah gawat!" Minamisawa melihat hasilnya, "Hidupmu tidak lama lagi,"

"APA?!" Juragan syok

"Dok, jangan ngomong sembarangan. Juragan saya cuma sakit di ketiak aja," Ujar Tenma

"Itu dia! Juragan, kamu mengindap penyakit kanker ketiak(?)," Kata Minamisawa entah serius atau tidak.

"APA? Kanker ketiak? Omong kosong! Mana ada penyakit seperti itu!" Bantah sang juragan karena mengira dokternya ngaco.

"Eh, anda jangan salah. Sekarang ini penyakit aneh macam apapun ada. Buktinya sekarang sedang heboh-hebohnya flu kucing," Minamisawa ngaconya kumat.

"Dokter, yang benar itu flu burung atau flu babi. Mana ada flu kucing," Manto memberitahu dokternya.

"Oh, sorry. Tapi siapa tau, cepat atau lambat pasti ada flu kucing. Sekarang kan penyakit apapun ada,"

"Aduh, kepala saya pusing! Kamu dapat dokter gila ini dari mana?" Tanya Senguuji pada Tenma yang saat ini sedang memijat sang juragan (Enak banget dipijitin ==")

"Juragan, ingatlah umur anda hanya tinggal hari ini. Sebelum tengah malam, anda sudah DEAD," Ucap Minamisawa

"Benar-benar dokter gila! Saya masih sehat begini kamu billing saya sudah mau mati?" Senguuji gak terima

"Gak percaya ya udah, emang gw pikirin. Iya gak pembaca?" Minamisawa Tanya ma pembaca. Apa jawaban pembaca silahkan jawab sendiri di REVIEW*plak!*

"Dasar sinting! Cepat kamu pergi dari sini!" Usir Senguuji.

Minamisawa mulai kesal, "Dasar keras kepala. Daripada layani kamu, mendingan saya siap-siap buat lebaran besok. Ya udah, suster, ayo kita pergi," Minamisawa berjalan kearah pintu. Tapi…

"Aduh dok, bukan lewat sana! Tapi lewat sini!" Kata Manto memperingatkan.

"Ah, salah ya," Minamisawa tersadar dan berjalan keluar bersama Manto melewati pintu yang benar(?).

"Dasar dokter gila! Pergi kamu jauh-jauh. Jangan sampai aku melihatmu lagi!" Bentak Senguuji.

Hening sempat melanda. Tiba-tiba Tenma ingat sesuatu.

"Juragan, jangan-jangan…jangan-jangan kutukan si Shindou itu menjadi kenyataan. Juragan benar-benar akan meninggal malam ini," Tangis Tenma.

Senguuji tambah kesal dan kemudian mendorong Tenma, "Dasar bego! Kamu juga jadi ikut-ikutan sinting seperti dokter gila itu. Kamu juga pergi!"

"Ta-tapi kan…"

"PERGI!"

"Juragan…" Tenma masih berharap.

"PERGI!" Nada Senguuji semakin meninggi.

"Ah, iya iya. Aku pergi, aku pergi!" Tenma langsung pergi, tapi jalannya persis kek jalan bebek.

Hening kembali melanda…

"Aduh, capek sekali," Senguuji masuk kekamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Senguuji memutuskan untuk tidur dikarena capek dengan semua situasi gaje yang menimpanya. Tiba-tiba ruangan menjadi gelap, asap-asap gajelas darimana asalnya membubungi seisi ruangan. Senguuji kaget. Di balik asap tersebut, terlihat 2 orang memakai pakaian hitam dan putih. Dan ralat, mereka bukan orang melainkan…SETAN!

"HA HA HA HA HA HA, Ohok ohok," Ups, 2 setan tersebut malah keselek asap mereka sendiri. Sungguh nasib. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan keselek apa enggak.

Senguuji terkejut dan ketakutan, "Hah, si-siapa kalian?"

"APA? KAMU TIDAK MENGENAL KAMI?" 2 setan itu kaget, "Kami adalah setan yang paling tampan, gagah, kiyut, imut-imut lagi," (Author GUBRAK!)

Senguuji cengo, authornya juga ikutan cengo.

"Saya, Gamma si setan putih!"

"Dan saya, Zanak si setan hitam!"

"Kami berdua adalah…" Kedua setan tersebut memasang pose, "…PAHLAWAN BERTOPENG! HA HA HA,"

SIIIIIIIIIIIIIING…Heniiiing…

"Loh, kok pahlawan bertopeng sih? Salah," Ucap Gamma pada Zanak.

"Iya ya. Kalau begitu ulang saja. Kami berdua adalah…(JRENG JRENG! JRENG JRENG!) 2 SETAN PENCABUT NYAWA! HA HA HA!"

Senguuji cengo dan tersadar, "2 setan pencabut nyawa? Mau apa kalian kesini?"

"Ya buat cabut nyawa dong. Masa main kelereng sih," Jawab Zanak santai.

"Nyawa siapa yang mau kalian cabut?" Tanya Senguuji takut.

"Heh, nanya lagi. Ya nyawa kamu, memang siapa lagi?" Ujar Gamma

"Apa? Nyawa saya?" Senguuji syok.

"He he, sudah siap peti mati belum?" Tanya Gamma menggoda(?).

"Cepat disiapkan. Nanti enggak keburu," Ujar Zanak.

Senguuji turun dari tempat tidurnya dan berlutut dihadapan mereka.

"Kalian berdua…tolonglah saya. Saya belum mau mati…" Pinta Senguuji.

"Heh? Masalah mati mana bisa bilang mau gak mau. Kalau sudah saatnya mati ya harus mati," Jelas Zanak.

"Tidak ada satupun yang bisa menolongmu. Kamipun tak bisa," Tambah Gamma.

"Tolonglah saya. Saya belum siap mati, atau begini saja, saya akan berikan apapun yang kalian mau. Bagaimana?" Tawar Senguuji.

"Hei, kamu manusia, memangnya apa yang bisa kau berikan untuk kami?" Tanya Gamma.

"Hmm… bagaimana kalau mobil yang bagus? Saya akan berikan mobil mewah keluaran terbaru(?),"

"WAAW," Gamma dan Zanak ber-WAW ria.

"Atau saya buatkan kalian rumah yang sebesar istana?"

"WAAAAW," Zanak-Gamma masih ber-WAW.

"Atau… kalau kalian masih tak mau, saya akan berikan separuh hartaku buat kalian," Tawar Senguuji.

"WAAAAAAAAAW,"

"Atau seluruh hartaku deh, kuberikan pada kalian!"

"WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAW," Baik, WAWnya cukup sampai disini.

"Jadi bagaimana? Bisa kan?" Tanya Senguuji yakin.

"TIDAK BISAAAA," Jawab Gamma dan Zanak bersamaan.

"Apa? Seluruh hartaku kuberikan pun masih tidak bisa?"

"Aduh, dasar manusia, memang naif," Gamma geleng-geleng, "Kamu kira punya duit banyak, terus apapun bisa dibeli? Didunia kalian, banyak orang yang tidak jujur. Jadi bisa kau sogok, tapi jangan kau samakan dengan kami!"

"Terus, sekarang saya harus bagaimana?" Tanya Senguuji.

"Ya mau bagaimana lagi? Tunggu mati saja!" Jawab Zanak santai.

"Aduuuh… nasibku memang tragis," Senguuji meratapi nasib.

"Kasian deh lu," Ejek(?) Zanak-Gamma bersamaan.

"Kamu akan mati jam 12 malam. Nanti kami akan menjemputmu," Kata Zanak, "Sekarang kami mau nonton sinetron dulu~"

"Sinetron faforit kami, PUTIH ABU-ABU~" Tambah Gamma sambil menghilang bareng Zanak buat nonton sinetron.

"TIDAAAAAAAAAAAK!" Jerit Senguuji.

Ruangan kembali terang seakan tidak terjadi apa-apa. Mendenger jeritan sang juragan, Tenma kembali lagi dan kaget melihat juragannya jatuh terduduk.

"Juragan? Juragan, anda kenapa?" Tanya Tenma cemas.

"Tenma… habislah aku, aku benar-benar habis! Aku sudah mau matiii," Senguuji berbaring dipangkuan Tenma.

"Cup cup cup. Uuuh, sayaaang. Udah, jangan nangis ya. Nanti aku belikan permen. Okay?" Tawar Tenma sambil menepuk-nepuk Senguuji layaknya bapak-bapak lagi nenangin anaknya.

"Gak mau! Aku maunya es krim!" Tolak Senguuji manja.

"Idih, dasar anak bandel. Ya udah nanti kubelikan es krim. Mau yang rasa apa?" Tanya Tenma

"Aku maunya rasa coklat," Jawab Senguuji. Sedetik kemudian ia langsung tersadar, "Woi, kurang ajar! Kamu kira saya anak kecil?"

"Maaf deh juragan…" Tenma memandu juragannya ke ruang tamu.

"Tapi aku sedih sekali, Tenma. Aku sudah mau mati!" Ujar Senguuji sedih, "Tenma, sekarang sudah jam berapa?"

"Lapor juragan, sekarang sudah jam 10," Jawab Tenma

"Waaah, gawat. Hidupku tinggal 2 jam lagi. Tenma, sekarang juga kamu pergi dan kumpulkan anggota keluargaku. Katakan pada mereka bahwa aku sudah mau mati. Oh iya, panggil juga pengacaraku. Cepat!" Pinta Senguuji

"SIAP! Segera dilaksanakan!" Tenma langsung berlari keluar.

Diruang tamu tinggallah Senguuji seorang. Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka dan muncullah…

"PAPIIIII~ PAPIIII~" Teryata seseorang itu ialah Seto yang kembali dengan gaya tangan seperi orang berenang di kolam ikan belut(?) dan cara berjalannya persis kayak emak-emak ikut audisi fashion show.

Senguuji berdiri dan, "MAMIIII~ MAMIII~ MAMIIII~" Entah turunan, atau ketularan sang suami mengikuti gaya berjalan sang istri. Setelah aksi 'agak' waras itu selesai, mereka berdua duduk disofa ruang tamu.

"Papi, benarkah yang kudengar ini, katanya papi sudah mau meninggal," Tanya Seto

"Benar, mi. Hidup papi sudah tidak lama lagi," Jawab Senguuji sedih, "Ehm, ngomong-ngomong tadi katanya mau minggat. Kok kembali lagi?"

"Gak jadi deh, pi. Pending dulu. Mami gak tahan sih hidup susah diluar," Seto menjadi malu akan jawabannya. Senguuji sweetdrop.

"Tapi, pi, kenapa papi sudah mau meninggal? Kenapa mendadak sekali, mami sedih sekali. Hiks hiks," Seto sedih.

"Jangan sedih, mi. Sebelum papi mati, ada hal penting yang akan papi sampaikan," Hibur Senguuji sambil merangkul sang istri.

Ditengah adegen mesra tersebut, datang si penganggu, eh maksudnya si Tenma.

"Juragan, anak-anak juragan sudah kumpul," Lapor Tenma dan mempersilahkan anak-anak itu masuk.

"PAPIIII~ PAPII~ PAPIII~" Ketiga anak juragan tersebut masuk dengan gaya SAMA PERSIS kek mami mereka.

"Mami, kamu lihat, kelakuan anak-anak kita mirip sekali denganmu," Ujar Senguuji, "Anakku, Hikaru, Kariya, dan Aoi,"

"Papi, benarkah papi sudah mau mati?" Tanya Hikaru sedih.

"Secepat inikah papi akan meninggalkan kami?" Kariya menangis sedih.

"Anakku, sulit untuk mengatakannya. Tapi, papi memang sudah mau mati,"

"HUAAA! TIDAK MAU TIDAK MAU! Aoi tidak mau papi mati!" Jerit Aoi

"TIDAAAK! Aku tidak bisa hidup tanpa papi!" Ucap Kariya

"Jangan tinggalkan kami!"

"Aoi sayang papa…"

Seto tersenyum sedih, "Papi, kamu lihat betapa kami sangat menyayangimu. Kami tidak bisa hidup tanpamu. Kamu adalah suami yang baik. Meskipun kadang kamu agak…" Seto berdiri, "Egois, pemarah, brensek, jahat, tak berperasaan, tak tau malu, munafik, penipu, pelit, dan garam tukuknya luar biasa minta ampuuun~ Hosh hosh," Seto atur nafas dan kembali duduk.

"Tapi, kamu suami yang baik kok. Benar, suer(lho?),"

Senguuji sweetdrop, "Kamu ini! Udah maki gw habis-habisan, baru bilang aku baik!"

Tenma awalnya juga sempat sweetdrop. Tiba-tiba ia menyadari ada seseorang yg datang.

"Juragan, pengacara sudah datang~"

Lagu yang menjadi opening acara TAKE ME OUT terdengar dari seluruh sisi ruangan. Masuklah seorang pengacara berambut ungu pendek. All sweetdrop kecuali Tenma dan si pengacara.

"Aduuh, didunia ini masih banyaka aja orang aneh!" Senguuji mulai pusing dengan semua kejadian gaje hari ini.

"Nah pria single, silahkan perkenalkan diri anda," Ujar Tenma ngaco.

"Terima kasih coky(?). Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Alpha, umur XX ta'on. Saya single, pekerjaan saya seorang pengacara," Pengacara yang bernama Alpha itu memperkenalkan dirinya.

"Nah, tentukan pilihanmu bagi yang tidak berminat silahkan matikan lampunya sekarang juga," Kata Tenma ngaco part 2.

"WOOOI! MEMANGNYA INI ACARA TAKE ME OUT?!" Senguuji ngamuk, Tenma tersadar, "Silahkan duduk, pak Alpha~"

Suasana gaje barusan kemudian kembali menjadi suasana yang menyedihkan(?).

"Papi, setelah papi meninggal kami harus bagaimana lagi?" Tanya Aoi sambil menangis

"Jangan tinggalkan kami, KAMI MOHON!" Pinta Hikaru sedih, "Papi adalah tumpuan harapan kami. Kami sayang papi…"

Seto ikut sedih, "Pi, mami juga sayang kok sama papi. Kami semua sedih kalau papi harus meninggalkan kami…"

"HUAAA~" Terpecahlah tangisan Aoi, "Aoi tidak tahaaan! Sedih sekali rasanya!"

Senguuji pun menghibur anak-anaknya, "Anak-anakku yang baik, kalian jangan bersedih. Sebelum papi mati, papi akan membuat surat wasiat. Kalian semua akan mendapatkan harta warisan dari papi.

"Haaah? Harta warisan? YUHUUU~" Ketiga Anak tersebut yang tadinya sedih sampe ada yang nangis kemudian langsung loncat-loncat plus nari gaje karena senang.

Semuanya (kecuali anak-anaknya Senguuji) cengo.

"Keterlaluan! Tadi sedihnya minta ampun, setelah dengar harta langsung gembira!" Ujar Senguuji yang merasa dicampakkan(?) anaknya.

"ANAK-ANAK!" Mereka langsung berhenti nari saat mendengar ibunya meneriaki mereka.

"Papi kalian sudah mau meninggal. Mana boleh kalian joget-joget begitu!?" Ujar Seto memperingatkan.

"Seharusnya ajak mami juga dong~" Jawab Aoi

"YUHUU~ Kita dapat warisan~" Anak-anak tadi plus Seto langsung joget. Senguuji ngamuk.

"BERHENTI!" Teriaknya, "Kalian ini ibu-anak sama saja! Kalau begitu suratnya kuubah. Hartaku akan kubawa ke peti mati daripada harus kuberikan pada kalian!"

"Yaah, kok gitu sih, pi?" Kariya kecewa.

"Pergi kalian semua! Pergi!" Usir Senguuji.

"Papi, jangan marah dong~" Nada Seto kembali manja.

"Kamu juga pergi! Istri tak berguna. Pergi kalian semua. PERGI!" Seto beserta anak-anaknya langsung keluar.

"Sabar, gan. Sabar," Tenma menenangkan sang juragan.

"Tenma, sekarang sudah jam berapa?"

"Lapor juragan, sekarang sudah hampir jam 12,"

"Waktu berlalu dengan sangat cepat," Kata Senguuji, "Tenma, kamu tau kan, saat kita masih hidup kita tidak bisa menebak hati orang. Karena aku kaya, orang-orang baik padaku. Tapi, ketika kita sudah mau mati, keserakahan manusia langsung keluar!"

Hening melanda seisi ruangan. Dari balik keheningan itu, tiba-tiba terdengar sebuah lagu buat lebaran dari tetangga sebelah.

"Tenma, kalo gak salah, ini malam menjelang lebaran kan?" Tanya Senguuji

"Betul juragan," Jawab Tenma, "Besok sudah mau lebaran. Itu lagu yang diputar tetangga sebelah,"

"Gak nyangka ya Tenma, ini lebaran terakhirku. HUAAAA!" Senguuji langsung nangis dan meluk Tenma.

"HUAAA, jangan nangis juragan. Saya juga ikutan nangis," :'(

Senguuji tiba-tiba merasawan wajahnya basah, "Ya ampuun," Senguuji langsung melepaskan pelukannya, "Jangan nangis terlalu dekat. Air liur kamu nyembur!"

Alpha yang merasa sudah saat ia beraksi(?) kemudian mendekati juragan serta anak buah gajenya itu, "Juragan, surat wasiatnya gimana? Jadi dibuat tidak?"

Terdengar lagi suara do'a dari sebuah mesjid.

"Tenma, ini…"

"Kan besok sudah mau lebaran, jadi orang-orang akan pergi ketempat sembahyang mereka masing-masing,"

"Tempat ibadah? Benar juga, aku sudah lama tidak beribadah. Selama ini aku malah asik mengumpulkan harta. Sekarang sudah mau mati, menyesalpun tiada gunanya," Senguuji seddih.

"Juragan, tidak ada terlambat kalau ingin menyesali semuanya," Ujar Tenma (sok) bijak.

"Tenma, kamu tau selama ini aku pelitnya minta ampun," Senguuji ngaku, "Sudah begitu, hatiku makin lama makin kejam! Tapi entah kenapa mendengar lagu ini dan melihat orang-orang beribadah, hatiku serasa sejuk,"

Senguuji mendekati pengacara, "Pengacara…"

"Ya juragan?"

"Aku ingin mati dengan hati yang sejuk! Aku ingin mati dengan hati nurani yang sadar cemerlang! Pengacara, tuliskanlah, setelah aku meninggal, aku wariskan hartaku pada para fakir miskin, anak-anak yatim piatu dan mereka semua yang kekurangan!"

"APA!?" Tenma kaget, "Juragan akan memberikannya pada orang lain? Anda tidak menyesal?"

"Tidak!" Jawab Senguuji, "Hartaku tidak bisa kubawa mati. Kalau tau begini, buat apa aku mengumpulkan harta setengah mati?"

Tenma merespon sebentar, "Benar kata orang-orang. Manusia menjadi bijak ketika sudah mau mati.

Tiba-tiba…

"Tenma…Tenma!"

"Ada apa juragan?"

"Aku merasa sudah saatnya aku aku pergi ke dunia sana. Selamat tinggal semuanya…"

"JURAGAAAAN~" Tenma langsung nangis sedih kehilangan sang juragan tercinta(?).

Seperti keadaan yang diatas-diatas, seisi ruangan kembali dibubungi asap yang berasal dari kedua setan pencabut nyawa tersebut.

"HUA HA HA HA HA HA-…Ohok ohok!" Udah datang 2 kali masih aja keselek.

"Wahai setan, kalian sudah datang. Cepat cabut nyawaku sekarang," Minta Senguuji.

Kedua setan itu saling bertatapan dan bengong, "Lho? Ngapain kamu mau mati?"

"Lha? Bukannya aku akan mati?" Tanya Senguuji ikutan bingung.

"Betul. Tapi tak jadi," Ujar Zanak

"Tidak jadi?"

"Tadinya kami diutus untuk mencabut nyawamu karena kamu terlalu kejam dan pelit! Dosamu banyak!" Jawab Gamma.

"Tapi karena kamu sudah bertobat, dan menyumbangkan hartamu untuk yang membutuhkan, maka, umurmu DI-PER-PAN-JANG!" Tambah Zanak

"Hah, jadi…saya tak jadi mati?" Tanya Senguuji lagi.

"Tidak! Kamu belum saatnya mati. Ingatlah untuk berbuat lebih banyak kebaikan. Supaya kamu dapat umur yang lebih panjang!" Jelas Zanak

"Dan juga supaya kamu tidak usah ikut kami ke neraka," Tambah Gamma, "Kami ini sudah bawa banyak orang ke neraka loh. Kamu mau ikut?"

"Tidak! Aku tidak mau ke neraka!" Tolak Senguuji.

"Kalau begitu, baik-baiklah jadi orang. Nah, sudah ya. Kami sibuk," Pamit Gamma.

"Masih banyak film yang mau kami nonton. Ada SAO(?), Chibi*Devi, Inazuma 11(?), dll. Bye bye~" Kedua setan gaje tersebutpun menghilang. Suasana kembali terang.

Senguuji terbangun, Tenma dan Alpha langsung tersadar.

"Tenma, aku tidak jadi mati!" Ujar Senguuji bahagia.

"Hah? Yang benar? Tenma juga tanpak senang.

"Benar, rupanya karena ini aku diberikan umur yang panjang. Saya masih ada kesempatan!"

"Wah, bagus sekali~"

"Jadi, surat wasiatnya gimana?" Tanya Alpha

"Karena aku belum mati, jadi dipending dulu. Tapi seterusnya aku tidak akan pelit lagi!" Ujar Senguuji, "Tenma, ayo kita ketempat ibadah. Sudah lama aku tidak pergi kesana,"

"Ibadah? Ayoo~"

"Eh, aku ikutan dong!" Pinta Alpha, "Masa aku gak diajak?"

Tenma-Senguuji bertatapan, "Kasihan deh loh!"

"Bercanda," Tawa Senguuji, "Ayo kita pergi sama-sama,"

Dan semenjak saat itu, juragan Senguuji yang terkenal pelit, kikir, dll kini menjadi juragan yang baik hati dan tidak sombong dan mereka pun hidup selamanya hingga akhir hayat*plang!*

END

HUAAA! GAJE GAJE GAJE GAJEEE!

Btw, cerita ini bukan 100% punya saia. Anime nya punya Level-5 dan ceritanya punya anak-anak vihara XDD

Maaf kalo kurang memuaskan A"

Jawaban REVIEW:

Kariya Masaki10

Hadooh, kok kek saia aja ya, gaplok temen pake sepatu*plak!*. Btw, makasih udah baca ya~

Mori Kousuke18

Itu meja kenapa gak sekalian dihancurin aja?*PLAK!*. Habis bingung enaknya siapa yang jadi orang miskin, ya udah pake Shindou aja*plak!*. Ho ho ho, soal preman mah mereka udah dari sananya cocok XD
Makasih dan baca~

Squaredoll20

Maaf ya, tp jujur, nulis nama kamu susah*BUAGH!*. Ho ho ho, si juragan sudah tobat, jadi anda minta saja ke dia(?). Yukie itu salah satu chara IE GO, teman masa kecilnya Mahoro dan Amagi :3
Kenapa bukan Hikaru? Soalnya bagi saya dia cocok dapat peran anak XD

Core Abyss

Ini ganti nama atau akun yang lain? Hua~ Makasih FLAMEnya. Ini di FLAME juga ya*plang!*. Iya-iya, saya lagi belajar ngilanginnya, tapi kek nya bukan untuk FIC ini deh. Di FIC yang lain saya coba kurangi tandanya deh XD
Eto… maksudnya deskripsinya itu apa ya? Maklum newbie jadi blom tau XD
Tenma memang sesat, harap maklumi*buagh!*. Makasih dah baca, kutunggu FLAMEmu(?)

Kuroka

Anda fans Yamato? Saya malah ngfans ma Kurosaki*gananya*. Bagi saya Shindou jadi orang miskin juga cocok*Diinjek Shindou*.
Hakuryuu main PSPnya anak juragan(?), karena dimainkan pada saat lagi tugas makanya disuruh matiin XD
Makasih dah baca