Summary: sebuah fict gaje berisikan legenda dan dongeng-dongeng yang diperankan oleh para character inazuma eleven dan inazuma eleven go. My first fict for this fandome

Disclaimer: Inazuma eleven dan inazuma eleven go hanya milik level 5

Warning: gaje, typo, genre yang tidak bermutu, alur yang tak menentu

.

.

.

Chapter 1:

Masaki Kandang

.

.

Alkisah di desa nan jauh dimato (?) hiduplah seorang bocah ingusan bernama Masaki Kandang. Mau tahu alasan namanya itu? Itu karena… aku juga gak tahu, waktu itu asal aja bikin nama kayak gitu #ketoprak!

Masaki kandang adalah kakak dari adik gaje super polos miliknyanya yaitu, Hikaru kandang. Awalnya, Hikaru tidak terima dengan nama aslinya, karena nama aslinya itu Minang Kandang (WHAT!?) Terus, karena Author baik… (huekk…) jadinya diubah deh XD

~Back To The Story~

Masaki dan Hikaru tinggal bersama kedua ortunya yang miskin, mlarat dan peot yaitu, Midorikawa dan Hiroto. Midorikawa hanyalah seorang tukang pijit refleksi, sedangkan Hiroto adalah seorang sopir dirumah RT sebelah.


Kehidupan mereka terus dilanda dengan kesenangan, hingga akhirnya…

"Honey! Aku mau jadi TKI di Arab boleh ya?" ujar Hiroto teriak-teriak.

"apa!? Hani!? Abang! Siapa cewek ganjen yang namanya Hani itu!?" kaget Midorikawa yang teriak lebih kencang dari Hiroto.

"aduh, bukan honey yang itu… yang bahasa inggris itu lho…" ujar Hiroto sambil memonyongkan bibirnya.

"oh, madu… kalo madu ambil aja di kulkas, masih ada segalon kok." Jawab Midorikawa dengan sungguh lola.

*Plok! Hiroto yang tak kuat dengan kebodohan istrinya itu pun akhirnya malah menimpuk kepalanya pake beton.

"aduh, honey… kamu itu tahu gak sih arti Honey? Artinya itu "sayang"…" ucap Hiroto berteori ria.

"APA!? Kamu lebih sayang hani si mantan pacarmu itu, dibanding aku yang juga mantan pacarmu!?" teriak Midorikawa histeris layaknya bumi mau kebelah dua.

Kini ia menyanyi-nyanyi lagu yang sering dinyanyikan pengamen jalanan sambil memainkan alat musik kicik-kicik (ha?)

Hiroto sweatdrop melihat reaksi istrinya itu, ia sempat berpikir, sebenarnya nilai bahasa inggris istrinya itu berapa sih?

"yaudah deh, abang minta maaf. Jadi, aye boleh jadi TKI di Arab ya?" Tanya Hiroto dengan puppy eyes (KYAAA!)

"apa!? TKI!? Berarti abang bakalan ninggalin aku bareng Masaki, dan Hikaru, si duo anak bekicot itu dirumah sendirian!? Masaki dan Hikaru kan masih kecil, kalo misalnya mereka lupa wajahnya abang gimana?" marah Midorikawa sambil membelah diri, eh… maksud saya membela diri.

"ah… soal itu gampang! Tiap bulan aku bakalan kirim foto-fotoku yang paling keren buat mereka. Lagipula muka mereka dan aku kan gak beda jauh-jauh amat kan? Sering disangka kembar malah (siapa bilang!?) Soal duit, tiap bulan aku kirim deh… pokoknya don't worry lah!" ucap Hiroto dengan begitu narsisnya.

"haa… yaudah deh apa mau dikata, asalkan jangan selingkuh ya, nanti aku jadi janda beranak dua lagi…" jawab Midorikawa sambil geleng-geleng.

Hiroto yang terlalu seneng dengan jawaban istrinya itu langsung jingkrak-jingkrak dan menyebabkan gempa yang membuat kedua anak bekicot miliknya bangun.

"Mak, Bapak pingin kemana?" Tanya Hikaru dengan super duper hyper incredible polosnya.

"Bapak bakalan pergi kerja ke Arab, Masaki sama Hikaru bakalan tinggal bareng emak dirumah." Jawab Midorikawa sambil sok netesin air mata.

"Hikaru, kamu tahu apa itu ARAB?" Tanya masaki dengan tak kalah polosnya.

"Itu lho… yang sepupunya rendang. Masa gak tahu sih?" Tanya Hikaru dengan nada sedikit mengejek.

"Berarti yang sering emak bikin ya…" jawab Masaki dengan kurang nyambung dengan jawaban aslinya.

"Aduh, itu mah URAP. ARAB itu nama sebuah Negara." Jelas Midorikawa dengan rada sweatdrop.

Masaki dan Hikaru terlalu asyik dengan oh ria milik mereka dan anggukan gaje mereka.

"Terus, kalo bapak pulang kerja bapak bakalan beliin aku permen gak?" Tanya Masaki ikut-ikutan rada lola.

"Kak Masaki kurang konek deh… bapak kan tadi katanya keluar negeri, jadinya gak mungkin lah ngebeliin kita permen." Marah Hikaru yang mulai konek.

"Lho… terus, nasib (?) kita gimana?" Tanya Masaki sok panik.

"Kan, yang namanya orang keluar negeri itu berarti orangnya mulai kaya, berarti kita harus minta yang banyak dan mahal. Contohnya, tikus mainan yang buat nakutin orang-orang, urap yang banyak, dan lain-lain." Jelas Hikaru dengan anehnya. (perasaan yang dia sebutin tadi gak begitu mahal deh)

"Oh, berarti aku boleh minta di beliin permen loli milkita!?" Tanya masaki dengan super antusiasnya.

"Tentu bisa!" jawab Hikaru cepat.

Hiroto dan Midorikawa tertawa sambil sweatdrop yang ngalir terus gara denger penjelasan Hikaru yang gak ada benernya.

"Bapak bakalan kerja disana dan bakalan nggak pulang. Makanya Mal–"

"Masaki dan Hikaru pak, bukan Maling dan Minang." Marah Masaki dengan wajah yang sungguh jelek walaupun tak melebihi kejelekan Author (Hey!)

"Oh, iya… Masaki dan Hikaru ya…" ucap Hiroto sambil agak sweatdrop lagi.

Malam berganti menjadi pagi dengan ditemani dengan kata-kata polos yang terus terlontar dari duo anak bekicot.


Hirotopun pergi menjadi TKI di Arab dan tanpa memberi kabar dan foto setiap bulannya. Seiring berjalannya waktu, Masaki dan Hikaru tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Tapi, disbanding dengan Hikaru yang baik dan penurut, Masaki lebih ke badung dan tidak penurut. Saking badungnya aja, waktu dia nyoba malingin ayamnya emaknya (buat apa coba?) tanpa sengaja dia kesandung batu dan membuat luka berbekas yang gak tahu kenapa ngebentuk tulisan "jandaku, jandamu"


Disaat umurnya menjadi sekitar 16 tahun, Hikaru yang baik, pinter, penurut, gampang disuruh-suruh, mendapat beasiswa untuk belajar di Okinawa sedangkan, Masaki yang badung dan gak minat buat belajar tetap tinggal dirumah bersama emak peotnya *TUNG! (Midorikawa: bisa gak sih berhenti ngomong gue itu peot!?) ampun… TAT

Dan begitulah kisah mereka saat umur 16 tahun. Owari... wait a minute here...

ini belum selesai Tante!


Akhirnya karena semakin bertambah umur dan semakin peotnya Midorikawa *plak, Masaki terpaksa (?) bekerja sebagai tukang tarik gerobak padahal gak tahu alasan narik gerobak itu.

Gerobak yang berisi kayu-kayu (tunggu, tadi katamu gak atahu apa yang dia bawa. Gimana sih!?) yang baru ia tebang dari rumah tetangga Author (hayo! ketahuan sekarang siapa malingnya) terus ia tarik hingga ia melewati pelabuhan kurang kerja yang Author munculkan supaya ngisi ide author yang kelewat payahnya

Ditengah petualangannya (?) di gurun pasir yang dekat dengan pelabuhan (?) itu, seorang atau lebih tepatnya sebuah atau bisa juga kita sebut seekor dan jangan lupakan untuk menggunakan kata seberkas da- (udah setoooopppp!)

oke, kita lupakan Author super bego satu ini (oi!) jadi singkat saja, seekor (?) Masaki yang tengah menarik gerobak roda 1.000 itu (?) bertemu dengan seorang mas-mas kurang kerja yang dengan bego bahkan kurang kerjanya ngebuat rambut yang agak di bagian depan miliknya itu digulung kayak mie gulung (?) yang kita sebut saja dengan nama Ban TenG *di side kick Tenma

Maaf, Author mulai khilaf, maksudnya tadi Tenma.

Karena merasa dipanggil oleh Allah (!?) maaf, maksud saya karena merasa dipanggil sama mas Ban TenG tadi, Masaki pun dengan ogah-ogahan mendatangi orang tersebut.

"Ngapain lo kesini?" bingung Ban TenG *plak maksud saya Tenma

"Lho? bukannya ente tadi manggil ane?" bingung Masaki setelah mendengar ucapan gaje Tenma

"Jyah, Ge er! gue kan manggilin bapak yang lagi ngangkat karung pete di belakang elo." Ucap Tenma sinis.

Masaki melihat kebelakang sejenak.

Seorang preman yang dengan kurang kerjanya kok bisa muncul disini, menatap Masaki dengan puppy eyes no jutsu yang sempat membuat Masaki bergidik, dan Author pingsan ditempat.


kalau Author mati, siapa yang lanjutin fict ini? maaf, kita ulang saja


"Gue kan manggilin bapak yang ngangkat karung pete di belakang elo!" ucap Tenma sinis.

Masaki melihat sejenak kebelakang. Begitu kagetnya dia sampai menimbulkan efek pheronomes yang memberi arti dia sedang jatuh hati sama kuntilanak belakang pohon nangka di atas gunung itu


sekali lagi kita salah scent. Maaf, mari kita ulangi kembali


"Gue kan manggilin bapak yang ngangkat karung pete di belakang elo!" ucap tenma sinis sambil sedikit kelelahan.

Dengan bosannya, Masaki melihat kebelakang.

#GUBRAK!

lho? kenapa jatuh? Gimana mau gak jatuh? Toh, ternyata orang yang ngangkatin tuh karung pete yang beratnya 20 ton (!?) itu ternyata seorang atau mungkin seekor, atau lebih tepatnya sebuah dan mu- maaf, saya kembali khilaf, maksud saya seorang Hamano.

"Lho? Kariya jadi si Maling ya? peran yang cocok!" teriak Hamano seneng (oi! kelewatan dari skrip coy!)

~Back to the Story~

"Oh iya, ngomong-ngomong, Ten... kok ente bisa jadi tajir dengan kemampuan sendiri sih? Ape ente pake pelet?" tanya Masaki kepo

"Astaga naga mencari lobang di dalam tanah kebon pak umar yang banyak cacing ceria yang senantiasa membuat tanahnya subur! istighfar, Masaki! ngomong apaan lo barusan!? mana mungkin lah gue pake pelet!" marah Tenma sampai berkali-kali membuang kuah dengan enak seenak kaki gajah

Berkat Tenma yang baik hati, tidak sombong, dan dermawan itu, Masaki terpaksa mencuci mukanya dengan tanah liat sampe 7 kali, 7 malam (?)

"Iye, oke setop! cukup untuk kuahnya! jadi ente ngapain aje sampe jadi tajir gitu?" tanya Masaki dengan Kepo tingkat atas dan bahkan mengalahkan kekepoan temen Author.

"Gue jualan sate kambing di Jakarta sono!" ucap Tenma dengan bangganya.

"Pembohong!" teriak Masaki menggema sampe keujung antartika sono.

Tenma yang udah kelewat budek gara-gara teriakan Masaki barusan, terpaksa dilarikan kerumah sakit terdekat dan langsung bangun lagi setelah dikasih pernapasan buatan sama suster ngesot yang baik hati mau ngasih itu ke Tenma.

"Oi! TEREAKNYA GAK USAH BERLEBIHAN NGAPE!? Telinga gue hampir pecah nih! (telinga bisa pecah ya?)" teriak balik Tenma dengan toa mesjid sebelah rumah tetangga dari tetangga-tetangganya tetangga Author.

Masaki yang sudah tahu akan hal yang akan terjadi itu, sudah mengantisipasikan diri dengan mengenakan headphone jadoel milik kakek buyut dari buyutnya temen Author (?)


Kami kembali melenceng...

"Author! bagian tadi udah bagus jangan di skip dunds!" teriak marah TenMas ngegebuk Author

"Ampun TAT"


"Jadi... hanya dengan menjual sate kambing ente jadi kaya? Ini pasti ada kesalahan! Ente pasti meras pembelinya dengan ngejual satenya 3000/tusuk iya kan?" tanya Masaki dengan kecurigaan tingkat tinggi.

"jyah! jangan salah sangka dulu! orang sana pada demen sate kambing, ape lagi kalo dicampur pete! makin semangat tuh yang makannya!" tegas Tenma dengan cemungut '45

"Ten, kamu nyadar gak seberapa gak nyambungnya omonganmu? Kamu ngomong tentang warung satemu layaknya restoran kelas kakap (emangnya buronan?)" ujar Masaki sambil sweatdrop.

"Yee, jangan sembarangan, coba lu tanya ke sono. Tanya sate kambing paling enak dimana, tuh orang pasti ngomong 'Sate kambing kek Tenma-lah yang terbaik'. gue yakin 1.000.000% deh soal itu!" ucap Tenma dengan kepedean tingkat atas

Mendengar ucapan tenma yang sebenarnya kurang bisa dipercaya itu, Masaki malah nyiumin tangannya Tenma layaknya ngemohon sesuatu.

"Ih! Masaki! lu kena sakit ape!? jijay! ngerti gak sih!?" teriak Tenma sambil injit-injit semut (?)

"Tenma yang baik hati, tidak sombong, imut-imut padahal bagi gue amit-amit, dermawan, de es be! tolongin gue! tolong kasih gue perkerjaan. Jadi karyawan elo boleh ya? plisss, pele-acek, pleaseeeeeeee... ya, ya, ya?" pinta Masaki sambil nyium-nyium tangan Tenma yang sebenarnya bau pete.

"iye iye gue ijinin! lepasin tangan gue dong! jijay nih!" teriak Tenma tidak tahan.

Masaki langsung sujud syukur sambil joget berhasil ala dora (gimana coba?)

"makasih banyak Tenma!" teriak Masaki dengan sungguh senangnya.

"Lu gak minta izin sama emak lu yang peot itu? *ditendang Midorikawa* Kan bisa gawat kalo lu belum izin ke emak lu." ujar Tenma mengingatkan.

Masaki pun menepukkan kedua tangannya dan langsung kabur ke rumahnya.

"Masaki! besok kesini jam 6 kalo mau jadi karyawan gue!" teriak Tenma saat Masaki belum berada terlalu jauh.


setelah mencoba merengek dengan penuh puppy eyes, perang mulut dan kuah, cubit-cubitan antar emak-anak, akhirnya Masaki mendapat izin untuk kerja jadi karyawan Tenma.

Waktu berlalu, Masaki yang mulai bekerja itu pun semakin rajin nabung. kini ia telah menjadi seorang sailor moon (?) eh, maksud saya kini ia sudah memiliki sebuah super market yang bernama angin ribut.

Banyak kisah terjadi, seperti Masaki dikejar anjing homo (?), Masaki jatuh ke comberan gara-gara ngejar koin yang gelinding (?) dan masih banyak lagi. Beberapa minggu setelah menderita dari kejadian ababil itu, Masaki jatuh hati pada anak dari Camat disana. Nama gadis (?) itu adalah Kirino Ranmaru.

Kadang gara-gara merhatiin Ranmaru yang dengan asyiknya jalan dengan biasa aja, Masaki sempat nabrak tiang listrik dan masih banyak lagi.

Kini dia membulatkan tekadnya, dia akan melamar gadis jadi-jadian itu *Dimutilasi Kirino*


Dengan semangatnya yang pasti gak sesemangat Endou Mamoru. Dengan elitnya padahal gak se-elit Author. Masaki berlari-lari seperti Heli di lagu anak-anak Indonesia ke arah rumah Pak Camat kita yang terkenal, Shindou Takuto.

"Assalamualaikum! Kirino oh, Kirino!" teriak Masaki menirukan upin dan ipin.

dengan wajah garang, padahal gak garang sama sekali, Sindou muncul sambil menanyakan banyak hal kepada tamu tercinta kita ini. Mulai dari nama, alamat, nama ortu, dan masih banyak lagi.

"emm, pak... Kirino-san ada?" tanya Masaki agak gugup.

"oh, ada sebentar. Ranmaru! ada juragan pete dan jengkol!" teriak Sindou menggema.

"emm, pak... saya... pemilik supermarket angin ribut, bukan juragan pete dan jengkol" bantah Masaki masih dengan nada malu-malu kebo.

Terlihatlah Sindou hanya ber-oh ria sambil menggut-manggut gaje.

"Apa? ada Kariya ya pak? bilang tunggu sebentar! aku lagi bersemedi di toilet" teriak balik Kirino.

Masaki yang kebingungan dengan ucapan Kirino yang bermutu itu pun akhirnya angkat bicara

"emm, pak... bersemedi di toilet itu artinya apa?" tanya Masaki kebingungan.

"masa gak tahu sih... itu tuh artinya... psst psst psst..." ucap Sindou yang sebenarnya juga gak ngerti maksud dari anak gajenya itu.

setelah berpincang-pincang eh, maksud saya berbincang-bincang secara santai, Kirino keluar dari rumahnya lengkap dengan pakaian biasanya yang ada di GO dan lengkap juga dengan dandanannya yang super menor.

Masaki sempat ngakak sampe 3 abad ngeliatin muka Kirino yang udah kayak badut itu. Setelah puas tertawa, dia pun menyanyikan lagu "Janji Suci". Yang lagunya Yovie and Nuno itu lho... gak tahu? NDESO! (padahal Author awalnya gak tahu)

Di ujung akhir lagu singkat, padat, gaje tersebut, Masaki langsung berposisi berlutut.

"Kirino-san... will you marry me?" tanya Masaki sok Inggris.

"Jyah! di zaman kayak gini belum pake bahasa Inggris, Ki." timpal Kirino agak ketus.

"udah, jawab aja... cepet, iya atau tidak?" tanya Masaki ngotot.

Kirino mikir sejenak dan langsung blushing berat.

"I-iya deh..." ujarnya malu-malu.

"Yesss! Yipee! akhirnya gue dapet mantu tajir! Ya Allah makasih buat hadiahnya!" teriak Sindou kegirangan


di akad nikah Masaki-Kirino, seluruh kenalannya pada datang, kecuali emak dan bapak gaje mereka yang memang gak tahu.

Sesekali mereka bercanda ria seperti saat sebelum kepergian bapak gajenya untuk menjadi TKI di Arab. Terkadang, Masaki yang kelewat ngantuknya sampe tidur padahal lagi acara salam-salaman.

Orang-orang disekitarnya yang gak bisa berbuat apapun, hanya bisa bersalaman dengan Kirino yang sebenarnya menanggung malu yang begitu besar


1 tahun silam, Masaki dan Kirino pergi ke pulau asal Masaki tinggal dulu, minatnya buat bikin vila disana.

tetapi, sesampai disana, seorang nenek peot terus-terusan menempel pada masaki.

Ia pun menjadi jijay dan membentak nenek peot itu.

"Heh! nenek peot ngapain kamu nempel-nempel terus! udah kotor, bau, ih bikin jijay aja deh" ejek Masaki dengan sinisnya.

"Ya ampun Masaki, masa kamu lupa sama emakmu? Ini aku Midorikawa Ryuuji si emakmu yang kerjanya sebagai pelayan seksi eh, maksud saya tukang pijit refleksi" ucap Midorikawa dengan ekspresi yang yah gitu deh (gak tahu mau ngedeskripsikannya dengan kalimat apa)

"Ini emak abang? Kenapa gak pernah bilang?" tanya Kirino yang nyaut tiba-tiba

"Ih, mana mungkin lah, yang. Emak abang kan mirip sama Selena Gemes, rada kayak Yoo Na, dan artis-artis luar negeri lainnya" ujar masaki dengan jijiknya.

"Tidak, aku tidak mungkin buktinya saja ada luka yang membentuk tulisan jandaku, jandamu di tanganmu. Ternyata pepatah memang benar, habis manis, pelepah dibuang. Dasar anak durhaka kukutuk kau menjadi patung alay!" teriak Midorikawa menggema.

"Huuu, kutukan palsu! mana mungkin terjadi! di legenda Malin Kundang, anaknya jadi batu gara-gara dikutuk emak kandungnya ini... masa gue dikutuk sama nenek peot yang tak berhubungan! jangan bikin ketawa deh" singgung Masaki (dia nyadar gak sih kalo fict yang dia mainin itu fict dari legenda Malin Kundang?)

Tapi hal berbeda dari yang diucapkan Masaki. Sebuah truk pembuat semen cair yang tanpa sengaja atau dengan kurang kerjanya, menumpahkan semen-semennya kepada Masaki.

Dan demi mempertahankan citranya sebagai cowok alay, dia pun berpose alay sebelum ia mengeras menjadi patung.

Dan itulah kisah akhir dari Masaki Kandang

OWARI~


Behind Scent:

Fuyuri: yeah! ochikaresama minna-san!

Masaki: capeknya! kenapa gue musti jadi semen gitu sih?

Sindou: menurut naskahnya begitu...

Fuyuri: dan aku memang membuatnya begitu

Tenma: tapi, ngomong-ngomong kenapa dongeng dan legenda?

Fuyuri: kenapa ya? entah, akupun bimbang. Lagi pingin aja, sekalian melestarikan budaya, dan mengingat masa kecil

Fei: Tapi kenapa Characternya kami?

Fuyuri: soalnya kalian paling enak dibikin sengsara (innocent)

All: *kaget dan langsung ngegebukin Fuyuri*

Kinako: cheese! Kinako disini! Kinako selaku anak baik di IE go, berharap reader-san sekalian bersedia mengirimkan review yang bermanfaat untuk Author

Kirino: hmm, agar fict ini kembali berkembang menjadi tambah bagus

Fuyuri: sedikit info... ch selanjutnya adalah Shirou White.

Taiyou: kalau penasaran dan berminat baca. silahkan ikuti kisah gaje ini

Tenma: dan jangan lupa sikat gigi sebelum tidur.

All-tenma: ...

Fuyuri: kita ini lagi ngomongin apaan sih Ten?

Tenma: bukan tentang kesehatan ya?

All-Tenma: bukan lah!

Tsurugi: ... ja, mata ne... sampai jumpa di ch. 2

All: stay tune!