Sinopsis:
Terbuang. Aku, kau dan dia, pertemuan kita terjadi karena itu. Kita hanya marah, meraka hanya marah. Egois… bolehkah kami memilih bersikap begitu?

.

Judul: Terbuang

Pengarang: JK Rowling

Penulis fanfiksi: Dyn Whitleford

Jenis: Petualangan, Persahabatan, Keluarga dan Roman

Tokoh: Harry Potter, Draco Malfoy dan Ronald Weasley

NB: Umur mereka bertiga sekitar 10 tahun, sebelum masuk Hogwart.

Peringatan: Saat kamu berniat membaca kamu sudah menanggung resiko akan kekurangan fiksi ini (terutama perihal sedikit yaoi-nya dan ke-OCC-annya). So… Don't Read if You Don't Like.


Beauty in The Bis Presents:

"TERBUANG"


Seorang anak berambut merah terang –yang memang ciri khas keluarga mereka-, berdiri tegak dan tegap di depan pintu dapur, wajahnya merah padam menahan amarah, menatap dengan tatapan membunuh pada saudara-saudaranya.

"Ron? Kenapa kau berdiri disitu? Ayo duduk, makan malam sudah siap," seru Molly –ibu Ron-.

Ron menunjuk tangannya pada kakaknya yang kembar –masih dengan tatapan garang yang sama- "Apa yang kalian lakukan pada Querel!" bentaknya murka.

Querel, tupai yang dipelihara Ron yang didapatnya saat berjalan-jalan bersama Athur –ayahnya- musim panas lalu di taman muggle. Sekarang ia tengah terbaring kaku di kamar Ron, bernapas tapi terambat lambat, kondisi yang mengkhawatirkan.

Si kembar menatap Ron dengan pandangan mengolok-olok, merasa tak bersalah.

"Katakan!" amuk Ron makin menjadi.

Arthur dan Molly hanya diam melihat pertengkaran –meski hanya sepihak- anak-anaknya, mungkin menunggu waktu yang tepat untuk menenangkan Ron. Karena bagaimanapun Ron selama ini tidak pernah marah, paling hanya merajuk sebentar atau menangis, menangispun sudah lama tidak ia lakukan.

Ginny, anak perempuan satu-satunya dikeluarga ini menarik-narik lengan baju ayahnya, terus menanyakan kenapa kakaknya, Ron bisa marah. Percy membaca buku sambil makan, sama sekali tidak perduli. Sedangkan kedua kakak tertua, Bill dan Charlie menatap Ron dengan pandangan tertarik, Ron yang marah itu lucu –menurut mereka-, bukannya seram mukanya malah imut, seperti perempuan yang merajuk.

Setelah mendapat lirikan tajam dari ibu tersayang, barulah di kembar menjawab.

"Well…"

"Kami hanya mencoba-"

"Barang baru hasil kreasi kami-"

"Permen Sekarat-"

"Jadi kau yang makan akan pingsan beberapa jam-"

"Dan tenang saja, tupaimu itu-"

"Tidak akan mati."

Perkataan yang diucapkan bergantian tanpa menarik napas itu, diakhiri dengan cengiran menyebalkan kedua kakaknya.

Ron terbelalak, "Kalian…" nada suaranya menjadi lebih rendah, serak dan berat, terang saja hal ini membuat perhatian yang lain menjadi terpaku padanya, termasuk Percy.

"Kalian menjadikan Querel sebagai tupai percobaan? Belum puas kalian jadikan diriku jadi barang percobaan mainan kalian? Kalian tidak puas kalau belum melihatku menangis?"

"Hei, barang buatan kami bukan maina- hmmpp."

Dengan cepat mulut Fred dibekap kembarannya, saat saudara berwajah identiknya melihat tatapan mengancam dari ibu mereka.

Ron menarik napas panjang, sekilas ingatan berputar kembali pada kenakalan kakaknya yang selalu saja terarah padanya. Ia sudah bertekad untuk tidak menangis lagi sejak mendapat Querel, karena ada yang harus ia lindungi, ia juga tak ingin di ejek cenggeng saat masuk Hogwart nanti.

"Querel milikku, milikku. Jangan sakiti dia, BAJ*****!"

BRAK!

Arthur menggebrak meja, sebagai ayah ia juga harus bertindak untuk menghentikan pertengkaran tidak berguna ini.

"Hentikan Ron. Berhentilah marah untuk hal tidak jelas begini dan jaga bahasamu!"

Yang lain hanya diam tak menanggapi, bagaimanapun jika Arthur sudah ikut campur, masalah bisa jadi sangat serius.

"Ayah bilang marah untuk hal tidak jelas?" Ron mendesis tidak terima. "Tidak jelaskah jika aku membela milikku sendiri? Satu-satunya sesuatu yang aku punya tanpa dibagi dengan mereka?!"

Molly tersentak, Ron memang benar jika barang miliknya pasti sisa dari semua saudaranya. Tapi tidak seharusnya ia berkata begitu. "Kau anak nakal, tidak seharusnya kau bicara begitu. Bukankah aku mengajarkanmu untuk berbagi dengan saudaramu?"

Ron terdiam nyaris seperti beku. Senyum asing seperti seringai tampak disudut bibirnya yang biasanya tersenyum manis. Sikapnya yang semula marah-marah beralih jadi tenang dengan dagu terangkat, memberi kesan angkuh. Sepertinya kemarahannya kali ini sudah kelewat batas sampai merubah sikapnya.

"Baiklah, jika memang kalian menanggap aku yang salah, bukan mereka. Dan kalian menganggap kemarahanku ini tidak penting, aku minta maaf. Sampai jumpa."

Ron membalikan badannya dan berjalan keluar dari ruang makan. Keluarga Weasley yang lain, terdiam sepertinya terlalu syok melihat Ron yang terlalu berubah. Sampai akhirnya Molly menghela napas panjang, "Biarkan dia, dia butuh sendiri sekarang. Dan kalian berdua, bersiaplah, liburan ini kalian akan mendapat hukuman karena telah menganggu adik kalian!"

Si kembar wealey nyaris akan mengajukan protes jika saja tidak melihat aura hitam yang menyeruak keluar dari ayah dan ibu mereka, ini neraka.

Begitu menyampai anak tangga pertama, Ron berhenti, tubuhnya bergetar dan air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Lalu dengan kecepatan tinggi ia berlari menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat kamarnya berada.

Mendobrak pintu kamarnya sendiri, anak lelaki berambut merah itu menarik ransel biru lusuh tempatnya menyimpan beberapa mainan yang dianggapnya masih bagus, lalu mengambil beberapa lembar pakaian, juga toples merah yang berisi kue kering kesukaannya, dan mengambil celengan berbentuk topi penyihir. Ia mengambil sweater merah tebal yang tergantung dibelakang pintu, mengenakan sarung tangan dan menenteng ranselnya.

Ron mengunci kamarnya, menggeser lemari pakaiannya untuk menutupi pintu. Kemudian ia mengambil sapu mainan miliknya, yang tentu saja bekas dipakai kakaknya.

"Querel…" panggilnya pada tupai yang masih terbaring dikasur. Tupai itu membuka matanya, sedikit mengejap dan menatap aneh pada tuannya yang berpakaian seperti akan berpergian.

"Kau mau ikut?" kelegaan hadir didiri Ron saat melihat tupainya berlari dengan semangat kearahnya –meski sedikit terhuyung- dan singgah diatas kepala Ron.

"Kita pergi."

Ron membuka jendela kamarnya, udara malam musim panas yang dingin membuatnya merinding seketika. Tapi niatnya sudah kuat, ia tak mau melihat saudara kembarnya dalam waktu dekat ini.

"Pegangan," perintahnya pada tupai kecil miliknya.

Entah karena tupai itu mengerti atau memang karena insting, tupai itu merunduk, menenggelamkan diri diantara rambut merah Ron dan berpenganan erat. Sementara Ron menaiki sapu terbang mainannya dan meloncat turun dari lantai tiga rumahnya.

"Untung ada sapu ini," seru Ron saat kakinya berpijak dihalaman belakang rumah mereka. Yah… setidaknya sapu ini bisa dipakai untuk terbang rendah dan mendarat dengan selamat.

Ron berlari kencang menembus padang rumput dihalaman rumahnya, ia muak selalu dinomor akhirkan.


TBC


A/N Intinya Chapter ini tentang Ron yang kabur dari rumah. Chapter depan baru tentang Harry dan Draco. Maaf untuk waktu hiatus yang sangat panjang *bows

Fic ini sebagai pengganti 'Rumah Kita', soalnya Dyn lupa plotnya *ditabok.

'Hearts and Blood' masih dalam perbaikan plot so... tunggu tanggal publishnya XD

Btw... chapter 2 akan dipublish secepatnya... oh iya... ini slash lo... (meski belum tampak)

Salam manis,

Dyn Whitleford