Sasuke tahu bahwa pertunangan ini hanya sandiwaranya dengan Sakura .

Mengalami kesamaan nasib yang mengharuskan mereka saling memanfaatkan.

Sasuke yang menghindari orangtuanya untuk segera memiliki penerus laki-laki dengan calon pilihan mereka sebagai pengganti Itachi yang hanya mampu menghasilkan penerus perempuan.

Sakura yang sangat enggan harus tinggal kembali bersama orangtuanya di apartemennya yang mungil akibat sang ayah yang sedikit frustasi dengan usahanya kini mengacaukan apartemennya.

Tapi semua berubah ketika orangtua Sasuke ingin menginap di apartemen Sasuke.

Terpaksa sandiwara yang mereka lakukan harus bermain semakin jauh.

Tradisi, Bisnis dan Cinta.

.

.

Fake Fiance

Disclaimer : Naruto selalu milik Masashi Kishimoto.

Genre : Romance, drama, family, hurt/comfort.

Rated : T

Warning : OOC, AU, typo(s) dan hal-hal lain yang terlewatkan oleh Author.

Sasuke : 27 tahun

Sakura : 23 tahun

.

.

.

.

.

'Bayi perempuan? Lagi?' Dahi seorang pria tegap berambut raven yang sedang membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kantornya sambil mengapit ponsel di antara telinga dan bahunya itu sedikit mengernyit. Sejenak memberhentikan kegiatannya agar sedikit fokus terhadap sang penelpon. Kini ponsel touchscreen itu berpindah dari apitan bahunya ke tangan kanannya sehingga ponselnya lebih nyaman untuk digunakan.

"Setidaknya kau tahu bahwa Konan-nee dan si bayi dalam kondisi sehat, Itachi," ucap Sasuke menenangkan sang kakak.

"Aku memang sudah tidak mengkhawatirkan kondisi mereka. Namun tou-san dan kaa-san lah yang jadi masalah. Mereka berdua memang sangat menyayangi keluargaku — termasuk kedua putriku. Tapi mereka tetap mendesakku untuk memberikan seorang cucu laki-laki." Nada suara berat khas seorang pria mapan di seberang sana terdengar gusar.

"..."

"Sasuke... kau mendengarkanku kan?" tanya Itachi yang tidak mendapatkan respon dari sang adik.

"Hn"

"Kau mengerti maksud dari pembicaraan ini bukan?"

"Hn. Tapi Itachi—"

"Sasuke." Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, suara tegas Itachi sudah memotongnya terlebih dahulu membuat pemuda yang selalu memasang wajah stoic tersebut terdiam.

"Mereka mengharapkanmu. Untuk. Memberikan. Penerus laki-laki. Agar nama klan Uchiha tidak lenyap." Itachi mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh penekaan dalam tiap suku katanya.

Sasuke lebih memilih diam, ia sudah cukup sering mendengar orangtuanya yang menelpon dirinya tiap weekend dalam beberapa bulan ini. Isinya selalu saja sama — tidak jauh berbeda dengan yang diucapkan Itachi barusan. Hanya mengingatkannya tentang menikah, menerima calon tunangan yang disodorkan kepadanya, memiliki penerus dan mengembangkan perusahaan agar lebih sukses. Mengingat sampai sekarang Sasuke masih tidak mau bekerja di perusahaan besar milik keluarganya dan lebih memilih menikmati pekerjaannya saat ini sebagai General Manager di perusahaan sahabat sejak kecilnya — Ino Yamanaka yang bergerak di bidang retail. Sebuah perusahaan besar walau tidak menempati posisi teratas dalam dunia bisnis seperti halnya perusahaan Uchiha.

Sasuke berpikir itu semua hanyalah omong kosong. Ia tidak suka hidup dengan penuh kekangan dan segala aturan yang mengikat. Apalagi menghasilkan pewaris untuk mempertahankan nama dan tradisi merupakan bagian masa lalu. Di jaman sekarang sudah tidak berlaku aturan konvensional seperti itu. Siapapun sang penerus pasti yang terbaik bagi klannya nanti.

"Hei, Sasuke." Itachi mulai melunakan nada bicaranya. "Kau tahu? Kaa-san sekarang mulai dekat lagi dengan Uzumaki Karin. Katanya ia sering menanyakan kabarmu tiap mereka bertemu. Kau senang, Otouto?" tanyanya dengan sedikit menggoda. Ia paham bahwa Sasuke memang tidak bisa diajak membahas hal yang tidak dia sukai.

Sasuke mendengus keras sebagai pengganti jawaban yang cukup terdengar oleh Itachi. Membuat lelaki yang berperawakan hampir menyerupai sang adik semata wayangnya itu terkekeh.

"Kau tidak akan selalu mendapatkan seorang pengagum fanatik seagresif dia Sasuke. Bukankah itu sangat menarik, eh? Dia bisa melayanimu dengan baik di ranjang ketika sudah menikah nanti," ucapnya tak berdosa.

"Itachi! Kau mau merusak hariku yang tenang dengan menyebut hal-hal itu lagi, hah?! Dan satu hal lagi, jangan sebut-sebut nama wanita menjijikan itu," gerutu Sasuke kesal yang kini tengah menyeruput kopi hitamnya, memandang liquid hitam itu dengan ekspresi seakan-akan aku-benci-kafein. Padahal faktanya dia sangat menyukai minuman wajibnya tiap bekerja.

"Well, itu kenyataannya. Lagipula hubungan kalian sebelum ini kan lumayan akrab."

"Tapi tidak ketika dia seperti orang setengah, oh bahkan tidak waras, menggelayuti dan menggerecoki hariku yang seharusnya sangat sempurna."

Sasuke teringat hari-harinya ketika masih berada di Paris. Wanita berambut merah marun penyandang nama Uzumaki di bagian belakangnya itu entah kenapa sangat agresif, tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu yang terlihat seperti malu-malu kucing. Dan dirinya langsung merasa muak dengan kepribadian palsu seperti itu. Maka dari itu ia memutuskan untuk menjauh dari negara yang terkenal akan fashion dan romance-nya dan memilih Jepang yang merupakan kampung halamannya.

"Aa... tapi kedua keluarga bisa saling melengkapi."

"Maksudmu, perusahaan Uzumaki adalah salah satu penghasil financial terbesar setelah kita. Dengan menggabungkan bisnis keluarga mereka dan kita, kita bisa sama-sama memonopoli pasar. Aku mengerti Itachi, tapi aku tidak suka dengan cara berpikir kolot seperti itu"

Itachi tersenyum simpul mendengar penuturan adik satu-satunya itu. Tentu saja ia menginginkan kebahagiaan Sasuke. Jadi keputusan apa pun, dia akan tetap mendukung sang adik.

"Baiklah, terserah kau saja. Aku sih hanya ingin bercerita."

Itachi berhenti sejenak kemudian menghela napas. Matanya terpejam sambil meneruskan ucapannya, "Hariku buruk karena segala omongan orangtua kita yang sudah bisa ku prediksi. Hal pertama yang tou-san tanyakan saat pertama kali kami mengabarinya tentang si kecil adalah apakah bayinya laki-laki. Dan kaa-san? Tengah dilanda depresi saat mengetahui dirinya harus menambah koleksi baju pink. Apalagi tadi Konan bilang ini anak terakhir. Menurutnya sudah cukup mempunyai tiga anak perempuan. Jadi aku bersungguh-sungguh tentang kau harapan terakhir. Jadi bersiap-siap saja akan serangan mendadak dari mereka. mengingat tak lama lagi mereka akan berkunjung kesini."

Sasuke memejamkan matanya kuat-kuat, menahan segala kejengkelannya. "Kau memperingatkanku lagi."

"Tidak juga." Itachi reflek menggelengkan kepalanya secara tak sadar.

"Kecuali—" Dirinya menggantungkan kalimatnya.

"Kecuali apa?"

"Kecuali kau mencintai Karin sebagai kekasihmu."

"ITACHI!" Sasuke benar-benar merasa jengkel kepada makhluk di seberang sana yang kini tertawa menggelegar. "HA HA HA HA HA...! Sasuke, Sasuke. Sungguh aku sangat senang menggodamu."

"Asal kau tahu Baka Aniki. Aku sangat mencintai kekasihku di sini tahu!" ucap Sasuke geram tanpa berpikir panjang.

Kekasih? Sejak kapan pria stoic yang sangat digandrungi para wanita itu mempunyai seorang kekasih, eh?

Setelah ia menyadari ucapannya, ia langsung terdiam dan berpikir bahwa ketololan atas berita palsu barusan merupakan ide cemerlang yang keluar secara spontanitas. Tentu saja kalau Sasuke berpura-pura memiliki seorang kekasih di sini maka ia tidak akan mendengar rengekan dari orangtuanya lagi. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk melanjutkan kebohongannya ini.

"Apa?! Apa aku tidak salah dengar? Kau punya kekasih?" tanya Itachi tidak percaya kalau ia ketinggalan berita besar. Siapa wanita yang bisa membuat adiknya itu bertekuk lutut? Itachi bahkan sampai mengorek-ngorek lubang telinganya, memastikan tidak ada kotoran yang menempel sehingga menggangu pendengarannya.

"Lebih daripada itu. Kami sudah bertunangan."

"Wouw~ wouw! Bagaimana bisa kalian sudah bertunangan tapi aku sebagai kakakmu ini tidak tahu. Bahkan seluruh keluarga kita tidak ada yang tahu." Itachi berdecak antara kaget bingung dan tidak percaya. Ia masih sangsi atas berita yang keluar dari mulut Sasuke.

"Aku tidak bermaksud menutupinya. Hanya saja ia bukanlah seseorang dari keluarga kelas atas seperti kita," ucap Sasuke semakin bersemangat melanjutkan kebohongannya. "selain itu, sebenarnya kami sudah tinggal bersama."

Itachi benar-benar terkejut. Sungguh banyak kejutan hari ini yang ia dapatkan dari Uchiha bungsu itu. Tunangan? Tinggal bersama? Entah apalagi yang akan membuatnya speechless.

Beberapa detik tidak ada pembicaraan dan Sasuke terus menunggu reaksi dari sang kakak. Sambil berdoa dalam hati supaya Itachi percaya padanya. Kalau Itachi sudah bisa percaya maka langkah berikutnya untuk membohongi orangtuanya akan lebih mudah. Benarkah? Siapa yang tahu? Yang penting ia berusaha dulu sekarang.

"Baiklah. Lalu siapa wanita itu?" Suara Itachi terdengar normal dan antusias membuat Sasuke menjentikkan jarinya. Gotcha!

"Kau mendukungku kan Itachi?" tanya Sasuke sambil mengulur-ulur waktu untuk menemukan nama wanita calon kekasih — tunangan palsunya. Bodohnya ia tidak memikirkannya dari awal sehingga ia harus kebingungan sekarang.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu ruang kerjanya. Pintu yang terbuka sedikit itu menampilkan sesosok wanita berwajah manis dengan rambut merah mudanya yang tergerai indah menjuntai hingga ke punggungnya. Sasuke sangat mengenalnya. Haruno Sakura — salah satu staff keuangannya.

Sakura yang melihat Sasuke sedang menerima telpon, mengangguk sopan dan mengacungkan laporan yang diminta Sasuke sekitar satu jam yang lalu padanya. Sasuke mengisyaratkannya untuk masuk dan meletakkan laporan itu di meja kerjanya. Sakura yang mengerti segera melangkah masuk.

Sakura yang terkenal akan lenggak lenggoknya ketika bergerak yang paling menarik di antara semua wanita yang pernah dilihat. Sikap dan gerakan badannya tidak pernah dibuat-buat namun dapat membuat para pria yang melihatnya berdecak kagum. Cukup untuk membuat mereka berimajinasi. Salah satunya Uchiha Sasuke kita. Mungkin ia mudah sekali dekat dengan para wanita, namun ia sendiri tidak pernah tertarik melebihi ketertarikannya pada seorang Haruno Sakura. Satu-satunya wanita yang mampu membuatnya berdebar-debar dalam sekali kejap.

"Aku permisi dulu," ucap Sakura setengah berbisik.

"Tunggu," ucap Sasuke tanpa suara sambil memegang pergelangan tangan Sakura. Sakura sendiri mengernyitkan dahinya yang cukup lebar. Memandang pergelangan tangannya yang sedang digenggam oleh sang atasan dan juga temannya walau tidak terlalu akrab. Tangan Sasuke yang menggenggam pergelangan tangannya itu merenggang namun digantikan dengan ditautkannya telapak tangan mereka.

Sontak Sakura blushing. Rona merah menjalar di wajahnya, membuatnya terlihat semakin manis. Ia tidak menyangkal bahwa pria di hadapannya ini sungguh menawan. Walau ia tidak pernah memikirkan soal kekasih untuk saat ini karena masih fokus pada pekerjaannya, tapi bukan berarti ia tidak bisa menyukai seorang pria.

Sakura berganti memandang Sasuke yang masih serius menanggapi pembicaraan melalui ponselnya. Membuat Sakura berpikir 'Apakah ini masih lama?' mengingat detak jantungnya yang sudah mulai berdebar kencang.

Sasuke menyeringai senang mendapati ocehan kakaknya dan tentu saja kondisinya yang sedang menggenggam tangan Sakura tanpa merasakan adanya penolakan.

"Aku masih tidak percaya ada seorang wanita berhasil menjerat adikku yang paling dingin! Padahal kau selalu bilang kalau dibutuhkan seorang wanita penggoda yang paling lihai untuk melepas masa lajangmu itu. Kau itu sangat sangat tidak mudah untuk diraih. Aku jadi membayangkan bagaimana rupa kekasihmu itu Sasuke," ucap Itachi menggebu-gebu. Sangat penasaran. Itulah kata yang paling sesuai dengan gejolak pikirannya.

"Hn. Satu langkah semakin dekat untuk mengakhiri masa lajangku dan rengekanmu beserta orangtua kita." Sasuke berbicara dengan tegas. Tetap bertahan pada kebohongan yang semakin lama semakin gila.

"Hei. Tapi kau belum menyebutkan siapa namanya Sasuke."

"Hn. Dia ada di sini." Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah Sakura. Onyx dan emerald saling memandang. Membuat keduanya terpikat.

"Sakura, coba kau ucapkan salam kepada calon kakak iparmu ini," ucap Sasuke dengan tatapan yang tidak pernah terlepas dari emerald yang menyita pandangannya.

Sakura yang juga masih memandang Sasuke kini mengernyit heran. 'Calon kakak ipar? Apa maksudnya?'

Namun suara Sasuke memecahkan lamunannya. "Sakura sayang, kau cukup mengatakan hai. Itachi ingin mendengar suaramu," ucap Sasuke setengah memaksa padanya dengan menyodorkan ponsel hingga menempel di telinganya. Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi walau agak ragu Sakura menuruti perintah Sasuke.

"Hai, Itachi." Suara Sakura yang mengalun lembut tertangkap dengan jelas oleh indra pendengar Itachi. Membuat dirinya langsung membayangkan bagaimana wajah Sakura kalau dari suaranya saja sudah sangat halus dan menggoda. Padahal hanya mengucapkan kalimat pendek seperti itu.

Sasuke sudah mengembalikan posisi ponselnya ke dekat telinganya kembali.

"Kau sudah dengar kan? Tadi itu adalah Haruno Sakura. Kekasih dan juga tunanganku. Jadi sekarang kau tutup dulu telponnya karena aku tidak ingin kau makin lama mengganggu kegiatanku setelah ini dengan Sakura. Oiya jangan lupa memberitahukan hal ini kepada ayah dan ibu. Dan... mengingat situasi apartemenku sekarang, sebaiknya mereka menginap di hotel saja. Bye, Itachi." Tanpa menunggu jawaban dari sana Sasuke sudah memutuskan sambungannya duluan.

Sakura tetap terdiam di tempat dan bola mata emeraldnya yang indah melebar menatap iris onyx pria yang baru saja membicarakan hal aneh yang menyangkutpautkan dengan dirinya. Nyaris tidak ada warna di wajah Sakura kecuali rona merah di kedua pipi ranumnya. Tubuhnya terlihat menegang. Semua reaksi yang ditunjukkannya merupakan pencampuran semua emosi yang membuncah pikiran dan hatinya dalam waktu bersamaan.

Gawat. Sasuke baru merasakan kebingungan melandanya kembali. Setelah berhasil menghadapi kakaknya, tapi ia belum tentu berhasil menghadapi Sakura. Sasuke yang tetap menahan ekspresi datarnya sedikit menelan ludah. Ia meyakinkan dirinya bahwa Sakura tidak akan menolaknya. Siapa sih yang dapat menolak permintaan si Uchiha bungsu ini? Walaupun permintaan itu konyol pasti akan ada yang mau melakukan untuknya. Jadi tidak ada salahnya mencoba berkompromi dengan Sakura.

Sasuke melepaskan genggaman tangannya yang masih saja terpaut hingga detik ini. Beralih meraih tumpukkan laporan yang dibawa Sakura. Sasuke berdeham sedikit untuk mengurangi rasa bimbangnya.

"Ehem. Terima kasih telah mengantarkan laporan ini, Sakura."

"Itu sudah tugasku," ucap Sakura tegas. Kini Sakura sudah dapat menguasai dirinya kembali. Ia ingin mendapatkan penjelasan atas segala hal aneh yang dilakukan atasannya itu.

"Hn. Langsung saja, sebenarnya aku ada sedikit masalah." Sasuke menunggu reaksi Sakura, tapi ia hanya melihat Sakura yang menunggu dirinya melanjutkan omongannya. "jadi, karena kau berada di sini pada saat yang mungkin sangat tepat untukku dan sangat tidak tepat untukmu, kuharap kau mau membantuku untuk menyelesaikan masalahku."

"Aa... tadi aku mendengar kau menyebutku sebagai kekasih dan juga tunanganmu. Apa itu benar Tuan Uchiha?"

Sasuke berjalan mengitari meja kerjanya perlahan supaya tidak membuat Sakura merasa curiga hingga berdiri tepat di hadapan wanita yang identik dengan musim semi di negara ini.

"Hn. Itulah yang kukatakan."

"Apa ada hal lain yang belum kuketahui yang telah kau katakan kepada kakakmu itu?"

'Damn! Wanita ini memang pintar sekali menebak,' pikir Sasuke.

Sakura tidak merasa canggung melontarkan berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya walau yang ia hadapi sekarang merupakan atasannya. Tentu saja karena ini sudah menyangkut namanya. Kalau tidak, untuk apa ia harus seberani ini?

"Memang benar. Ada hal lain yang aku katakan tentang dirimu — maksudku diri kita." Sakura mengernyit mendengarnya.

"Aku bilang bahwa kita bukan hanya sepasang kekasih atau tunangan, tapi juga kita telah hidup bersama di apartemenku." Kini giliran bibir Sakura yang terbuka dan mulutnya perlahan-lahan menganga.

"APA?!" seru Sakura tanpa bisa mengontrol nada suaranya. Namun sebelum sempat Sakura meluncurkan aksi protesnya. Sasuke segera melanjutkan ceritanya.

"Orangtuaku mendesakku untuk segera menikahi wanita yang tidak ku cintai untuk segera mendapatkan cucu laki-laki. Seorang wanita baik-baik — itu anggapan orangtuaku padahal sesungguhnya sangat berkebalikannya, namun keluarganya baik-baik dan salah satu koneksi yang bagus. Tapi aku benar-benar tidak menyukainya. Tadi secara spontanitas aku mengarang cerita mengenai kekasihku di sini, di Jepang. Segalanya mengalir lancar dengan sedikit bumbu di dalamnya. Hingga ke bagian kita tinggal bersama."

"Hn." Sakura mendengus keras. "Benar-benar pendongeng yang ulung," ejek Sakura.

"Terpaksa. Tidak ada pilihan lain pada saat kau terdesak. Orangtuaku akan berkunjung kemari setelah menemui Itachi di Hokkaido. Mungkin mereka akan membawa serta si putri bungsu Uzumaki pilihan orangtuaku," tutur Sasuke sedikit bergidik ngeri membayangkan wanita dengan make-up tebal dan lipstik merah menyala menggelayut di sampingnya.

"Astaga... dan kau membawa-bawa namaku Tuan Uchiha bahkan kalau aku tidak salah dengar dan ingat lagi, kau menyuruh kakakmu itu untuk memberitahukan hal ini kepada orangtuamu juga kan?" Lutut Sakura terasa lemas. Tangan kirinya memegang dahinya. Pikiran dan perasaan cemas bercampur aduk. Khawatir dan takut.

"Kau tidak serius kan Sasuke? Ini pasti bercanda," ucap Sakura tertawa hambar.

Sasuke merangkul pundak Sakura, menuntunnya menuju sofa empuk yang biasa disediakan untuk menyambut para klien bisnisnya. Sasuke dan Sakura duduk berhadapan dalam satu sofa panjang. Jarak mereka cukup dekat. Tangan yang dipergunakan Sasuke tadi untuk merangkul Sakura sekarang beralih untuk menggenggam kedua telapak tangan yang jauh lebih kecil darinya. Ibu jarinya mengelus lembut punggung telapak tangan Sakura. Berusaha menyalurkan ketenangan.

"Sakura, dengarkan aku. Aku akan menjelaskan ini perlahan-lahan. Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu."

"Ini konyol."

"Hn, aku tahu. Tapi aku tidak punya banyak waktu. Satu minggu lagi orangtuaku akan datang mengunjungiku. Aku mohon kau mau berpura-pura jadi kekasihku, tunanganku. Kau bisa menginap di apartemenku besok atau malam ini, pokoknya secepatnya agar kau bisa membiasakan diri denganku. Kau tinggal sendiri bukan?" tanya Sasuke.

"Dengar. Aku belum memutuskan bersedia menjadi tunangan palsumu Sasuke. Ini bukanlah suatu permainan. Apalagi mendengar bahwa orangtuamu menginginkan seorang menantu yang sepadan dengan keluargamu." Sakura menggelengkan kepalanya tidak yakin, membuat rambutnya yang sedikit bergelombang di bagian bawah berayun ringan.

"Sakura—"

"Tuan Uchiha. Aku tegaskan. Kau memilih seorang wanita yang salah. Aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tidak ada kesan kelas atas dalam keluargaku, dalam hidupku. Jadi sudah dapat dipastikan orangtuamu tetap tidak akan setuju dan akan tetap memaksamu untuk menikahi calon dari orangtuamu," ucap Sakura tegas sambil menggerakan jarinya. Dari gerakan menunjuk dirinya sendiri sampai membuat sebuah tanda silang menunjukkan ketidaksetujuannya.

Sasuke yang sedari tadi terdiam mendengarkan, memberikan Sakura kesempatan untuk meluapkan emosinya. Hingga akhirnya ia tidak tahan lagi setelah merasa cukup mengambil intinya. Sasuke mencengkram bahu Sakura dengan tegas namun lembut.

"Sakura. dengarkan aku. Aku yakin orangtuaku akan menyukaimu. Kau adalah wanita yang tepat dan baik untuk menjadi tunanganku," ujar Sasuke tegas. Ia berkata jujur. Sasuke tahu Sakura selalu menjaga setiap tingkah lakunya dimanapun dia berada, tidak seperti wanita-wanita yang biasanya bersikap centil.

Sakura tertawa mengejek. "Itu ucapan ketika seseorang menjodohkanmu."

"Kau hanya perlu berpura-pura beberapa hari dan aku berjanji setelah itu kita akan berpisah. Pokoknya kau harus mau. Titik."

Sasuke menatap Sakura dengan tegas dan tajam namun menyiratkan permohonan. Udara dalam ruangan yang entah mengapa terasa panas meskipun air conditioner menyala dengan baik, kini malah terasa semakin panas. Inner Sakura mengatakan ingin menyetujui rencana konyol sang pria tampan, namun ia harus berpikir realistis.

Sakura mengipasi leher jenjangnya dengan sebelah tangan, kemudian beranjak dari duduknya. "Aku akan memikirkannya. Sebaiknya kita bicarakan ini di luar kantor," ujar Sakura.

Sasuke ikut bangkit dari duduknya. "Hn. Setelah pulang kerja kita akan membicarakan ini lagi. Kita akan bertemu di C'est la Vie Cafe." Sasuke mengangguk setuju. Setelah mendapatkan persetujuan dari Sasuke, Sakura segera melengos pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah Sakura tidak terlihat dan pintu ruang kerjanya telah tertutup rapat. Sasuke merosot duduk menjatuhkan dirinya ke sofa. Menyenderkan punggungnya dengan nyaman, ditutupi wajah tampannya dengan punggung lengan kirinya.

"Gila. Aku benar-benar gila sekarang," gumamnya. Apapun keputusan wanita manis tadi harus berakhir dengan kata IYA.

Hei, Tuan muda Uchiha. Kau hanya belum tahu apa akibat yang akan terjadi nanti. Jadi bersiaplah memasuki kehidupan yang tidak dapat kau prediksi bersama tunangan palsumu itu.

To Be Continued

A/N:

Wahhh akhirnya Cha berhasil menyelesaikan Chap.1 ini XD...!

Entah kenapa kepengen banget bikin fic yang punya ruang lingkup kerja. Lagipula Cha juga selalu berada dalam lingkungan kerja retail dan bergelut dengan uang. Terus kayanya dari fic sebelumnya yang "Mask in My Life" Cha selalu saja fokus ke masalah perjodohan dan bisnis. =.=a. Hei, dulu ini impian Cha waktu sekolah loh. Punya ortu pebisnis terus dijodohin sama anak dari koleganya. Karena teringat hal itu terus makanya cerita yang Cha buat jadi menjerumus ke situ mulu. H h h. Lol.

Tapi Cha pengen banget bikin fic yang ada sangkutpautnya dengan masalah bayi. Kayanya seru aja ngributin tentang bayi yang bakalan lahir.

Oiya, di sini Uchiha Mikoto yang biasanya bersikap baik mungkin akan sangat OOC karena perannya antagonis di awal.

Gomenasai buat yang udah nungguin dan nagih fic yang sebelumnya. Cha bener-bener minta maaf malah ngbuat fic baru lagi. Tapi cha juga lagi ngerjain chap selanjutnya dar fic2 yang terbengkalai itu.

Yap! Cha mau ngucapin makasih banyak buat dukungan dari Voila Sophie my Imouto-chan :D. Love u dear!

Segitu aja deh. Jadi... Cha minta Reviewnya Minna-san... :D

Cilacap, 23 November 2012.

Cha KriMoFe Doujinshi.