Author: Shfllyy3424

Title: { CHaptered} Trust me! I'm Sorry part 4

Genre: GenderSwitch, Romantic, Drama, SchoolLife, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

Cast:

Do Kyungsoo (Exo K D.O or Dio)

Kim Jongin (Exo K Kai)

Other cast:

EXO K's Other Member

SM's Member

Cari sendiri

Ps: KAISOOO LOPELOPE walau saya harus pusing, kenapa KaiSoo -_- kenapa harus bangKai wkwk.

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

fb: athiya almas

wp: .com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading

"Ayo masuk!" ajak Jongin lembut, ia menggenggam tangan Kyungsoo yang hangat masuk ke ruang latihan dance yang sepi. "Jongin, aku malu." Kyungsoo berbisik. "Tidak ada siapa-siapa, ayo masuk."

Jongin segera menuju ke sebuah cd player yang disambungkan ke sound lalu perlahan terdengarlah sebuah lagu dengan nada yang lembut dan pelan. Jongin mendekati Kyungsoo, membawa gadis itu lebih dekat dengannya. "May i?" tanya Jongin, Kyungsoo mengangguk sekilas. Lelaki itu meletakkan tangannya di pinggang ramping Kyungsoo.

"Bryan Adams?" Kai mengangguk, ia menggerakkan badannya sembari merangkul pinggang Kyungsoo. Kyungsoo memeluk pundak Kai, "Everything i do, i do it for you." Kai mengikuti reffrain lagu itu, sembari menatap mata hitam Kyungsoo. "Aku tidak menyangka akhirnya bisa sedekat ini padamu, sedari dulu aku menyukaimu dan berharap memilikimu. Namun kini semua jadi kenyataan." Kai berkata dengan pelan, kemudian ia mengulurkan tangannya dan Kyungsoo yang mengerti bergerak memutar. Lalu Kai memeluk tubuh Kyungsoo lagi. "Kai, kau tahu aku membencimu sebelum ini."

"Aku tahu, itu wajar." Kai menyimpan wajah cantik Kyungsoo di dadanya yang bidang. "Aku akan melakukan apapun untukmu, jangan khawatir. Aku tidak akan pergi, bukankah aku sudah berjanji?" Kyungsoo hanya mengangguk. "Jonginnie, kita sedang berdansa ya?" tanya Kyungsoo polos, Kai terkekeh pelan. "Tentu saja, bukankah kita akan pergi ke malam dansa itu?"

"Kalau aku menginjakmu katakan saja ya, aku benar-benar bodoh." Kai mengusap rambut Kyungsoo. "Tidak, kau pintar. Gerakanmu tidak kaku sayang.." mereka masih saja berdansa dengan gerakan sederhana bergerak lembut mengikuti alunan musik. "Kenapa, kau suka padaku?" tanya Kyungsoo.

"Karena kau sempurna bagiku, kau indah dan nyata. Figur wanita yang kusukai adalah wanita lembut, keibuan dan yeah melakukan pekerjaan wanita dengan baik. Kau juga cerdas dan ceria, rasanya tidak ada hal yang menghalangiku untuk jatuh cinta padamu." Jawab Kai, Kyungsoo menyandarkan kepalanya di dada Kai. "Seperti itu?" Kai menggumam dan mengangguk.

"Lalu kau, mengapa setelah semua ini kau masih bisa jatuh cinta padaku? Kau tahu seberapa brengseknya aku Kyungsoo." Lagu yang mengiringi mereka berakhir, "Entahlah, cinta datang secara tiba-tiba Kai. Namun aku suka kepribadianmu, kau gentle dan konyol. Dan meski pada awalnya aku sangat tidak ingin berurusan denganmu lagi, namun tak dapat kupungkiri ada debaran aneh setiap aku dekat denganmu." Kai tersenyum lembut, "Semoga semua yang telah kita jalani selama ini tidak akan pernah rusak lagi, semoga kita selalu seperti ini."

. . .

Chen menggandeng lengan Xiumin lembut ke dalam gedung bioskop, beberapa orang menatap Xiumin. "Pasti mereka mengira aku Sohee WonderGirls lagi, aku sudah bilang wajah kami berbeda kan." Xiumin mengerucutkan bibirnya, Chen tertawa kecil. "Itu artinya kau cantik, berpotensi jadi seorang visual girlband lagi. Dan juga, tenang saja kau lebih imut chagi." Chen mencubit pipi tembam Xiumin sekilas. "Gumawo."

"Chen, menurutmu si Kkamjong itu bakal menang tidak ya?" Chen mengangkat bahu. "Mana aku tahu, tapi aku mengenalnya. Jika ia berambisi maka hal paling tidak mungkin akan menjadi mungkin, lihatlah ia berlatih basket bersama dengan Chanyeol beberapa hari. Aku yakin jika si Kris itu tidak curang Kai mungkin sudah menjadi pemenang. Dan, ia adalah seorang pembalap ulung, perlu kau ketahui ayah Kai adalah salah satu pengusaha sukses. Kai kaya, demi apapun ia akan tetap kaya meski ia tidak bekerja. Dan sewaktu ia masih kecil, ayahnya sudah mengajari ia bagaimana mengemudikan mobil bahkan helycopter milik ayahnya. Lalu saat SMP ia bahkan sudah ikut berbagai balapan liar, Kai adalah seseorang yang sangat membenci kekalahan."

"Begitu? Tapi si Kris juga multitalented sih, bagi banyak orang tidak ada yang tidak bisa dilakukannya. Well, menari adalah pengecualian, ia bisa menari tapi tidak sebaik yang lain. Dan dulu aku adalah teman satu angkatannya di China, aku pernah melihat ia memenangkan balapan juga."

"Ya kalau begitu kita lihat saja hasilnya nanti, sepertinya akan lebih menarik daripada basket, karena dalam hal ini mereka berdua sama-sama lebih jago. Dan, kenapa kita membicarakan mereka? Kenapa tidak membahas kehidupan kita saja?" goda Chen, Xiumin membaringkan kepalanya di lengan Chen. "Aku galau, galau kalau harus berpisah denganmu nanti."

"Memang, terkadang aku menyesal mengapa aku lebih muda darimu? Mengapa aku tidak loncat kelas saja dulu? Setelah ini tidak ada Xiuminku yang bisa menyapaku di pagi hari, bisa kuajak ke kantin bersama, bisa mendengarkan segala keluh kesahku. Tapi hanya setahun, setahun lagi aku akan menyusulmu." Chen menghibur Xiumin. "Chen.." panggil Xiumin, Chen menatap Xiumin lembut. "Apa?"

"Jangan tertawa ya, tapi.. kau tidak akan melupakanku kan? Ugh aku terdengar sangat galau, tapi aku benar-benar memikirkannya lho." Chen meletakkan sebelah lengannya di bahu Xiumin, melindungi gadisnya itu. "Menurutmu? Apa setelah lama aku menjalani segalanya bersamamu aku akan berselingkuh? Kalau aku ingin berselingkuh mungkin sudah dari dulu kulakukan, tentu saja tidak."

"Tapi, orang bisa jatuh cinta secara tiba-tiba.." kalimat Xiumin menggantung, "Mungkin, tapi aku memiliki seseorang yang sudah mengerti aku selama ini. Apa aku terlihat setega itu untuk berkhianat? Aku yang harusnya bertanya padamu, apa kau tidak malu berpacaran denganku? Hmm, aku kan tidak setampan Kris sunbae, Sehun, Chanyeol bahkan si Kkamjong dan mantan ketua OSIS itu. Apalagi kau lebih tua dariku, biasanya seorang gadis akan malu mengakui bila pacarnya lebih muda."

"Tentu saja tidak, buat apa aku malu? Kau hanya berbeda setahun di bawahku, kalau perbedaan kita sudah 25 tahun baru aku mungkin malu. Lagipula umur kan bukan penghalang yang tepat untuk mencintai seseorang, dan.. kau tampan Chen. Kau saja yang tidak menyadari betapa gondoknya aku menatap gadis-gadis yang mengagumimu, apalagi kalau sudah festival sekolah dan kau bernyanyi di hadapan umum dengan suara merdumu itu. Rasanya aku ingin mematikan lampu dan menutup rapat-rapat wajahmu, agar tak seorangpun tahu siapa yang sedang bernyanyi, agar tidak ada yang mengagumimu lebih dari batas wajar."

"Aigoo, ternyata kekasihku posesif sekali haha. Tidak apa-apa aku senang, artinya kau menganggapku benar-benar ada noona. Jangan khawatir, kau kan takdirku." Chen tersenyum jahil, "Eww Chen, itu menjijikan!" seru Xiumin. "Sst! Bisakah kalian diam?" tegur seseorang. "Ya, benar! Film baru saja dimulai dan kalian sudah seribut ini."

"M-mianhae." Balas Chen, ia lupa kalau mereka berada di dalam gedung bioskop. "Chen, aku malu." Bisik Xiumin. "Sudahlah, nikmati saja filmnya hehe. Aku juga lupa kalau kita masih di dalam gedung bioskop." Kata Chen, akhirnya mereka berdua menikmati film romantis yang diputar itu dengan tenang.

. . .

"Jiejie, gwaenchana? Jiejie.." Tao mengguncang-guncang bahu Kyungsoo lembut, sementara Kyungsoo hanya diam sembari memegang dahinya. "Jiejie sakit? Mau aku antar ke UKS?" tawar Tao. Kyungsoo menggeleng, "Kepalaku hanya pening biasa."

"Tapi wajah jiejie terlihat agak pucat, jangan dipaksakan nanti jiejie drop lho." Tegur Tao, entah mengapa Kyungsoo merasa kepalanya sangat pening dan juga perutnya bergejolak. Padahal ia sudah sarapan tadi, atau mungkin efek dari panas kelas? AC kelas mereka memang sedang tidak berfungsi dengan baik, dan Kyungsoo tidak menyukai udara yang panas dan pengap. Mungkin Tao benar, lebih baik ia ke UKS saja.

"Tao, temani jiejie ke UKS ya?" Tao mengangguk, ia menggandeng Kyungsoo lembut. Saat berada di luar kelas dan udara segar berhembus Kyungsoo mulai merasa lebih baik. Namun perutnya tak juga berhenti bergejolak, seperti sedang diaduk-aduk. "Hey, bukannya itu kekasih Kai dan Kris? Masih bisa saja berteman ya, padahal kekasihnya bermusuhan." Bisikan itu masih bisa ditangkap Tao dan Kyungsoo dengan baik. Tao menunduk, merasa bersalah.

"Iya, si Kyungsoo mau aja gitu maafin Kris? Berteman dengan kekasihnya lagi. Padahal kan, kemarin Kris mempermalukan Kai di lapangan. Tampan sih, tapi curang." Tao menghentikan langkahnya. Kyungsoo berbalik, dua teman mereka. Ahreum dan Suzy, yang dilihat kaget karena Kyungsoo menatap mereka balik. Mereka segan juga, Kyungsoo kan cukup terkenal. "Masalah Kris dan Kai, itu urusan mereka. Aku dan Tao sudah bersahabat sejak lama, apa kemudian aku harus tiba-tiba memutuskan persahabatan kami karena kekasih kami bertengkar? Lagipula yang bertengkar Kris dan Kai, bukan Kai dengan Tao, apalagi aku dan Tao. Jadi.. tolong jangan mengaitkannya, Tao tidak bersalah sama sekali." Bela Kyungsoo.

"M-mianhae Kyungsoo." Kata Suzy, Kyungsoo hanya mengangguk sekilas. Berkata panjang membuat kepalanya tambah pening, ia hampir saja limbung kalau Tao tidak menangkap tubuhnya. "Jiejie, lebih baik kita segera ke UKS."

Bau UKS yang khas merasuk pada indera penciuman keduanya, Kyungsoo langsung menuju kotak obat. "Jiejie mencari obat apa?" tanya Tao, Kyungsoo menghela nafas. "Entahlah, dibilang maag aku tidak sedang maag, dibilang masuk angin aku tidak sedang masuk angin bahkan kekurangan angin karena AC kelas mati. Tapi, perutku seperti diaduk-aduk dan aku mual.."

"Mungkin ini, obat untuk pencernaan." Tao menyerahkan sebotol obat berbentuk sirup ke Kyungsoo, gadis itu menerimanya. Lalu membuka tutup obat itu, dan begitu aroma obat itu tercium.. "Hoekk! T-Tao pegang ini, jiejie mau muntah." Kyungsoo berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam UKS itu, lalu berusaha memuntahkan isi perutnya ke wastafel.

"Jie, gwaenchanayo? Jiejie benar-benar sakit ya?" Kyungsoo berusaha mengeluarkannya, namun tak satupun yang keluar. "Entahlah, bau obat tadi menambah mual. Lebih baik jiejie beristirahat saja."

.

..

Saat ini Kyungsoo ada di kamarnya, wajahnya pucat dan sedikit berantakan. "Apa jangan-jangan?" gumamnya, lalu ia menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Tidak, tidak." Ia menggeleng-geleng resah. "Apa lebih baik aku mengetesnya? Mungkin aku harus membelinya besok."

Kemudian ia mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya, ia mengintip dari jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. BMW sedan berwarna hitam milik Kai, tadi Kai memang menghubungi ponselnya, bilang kalau ia akan ke rumah. Sehun menyambut Kai ke depan, dua orang itu nampaknya kembali akrab. "Syukurlah." Kata Kyungsoo.

"EH? KAI? TIDAK!" Kyungsoo segera bergegas menuju lemari dan berencana berganti baju, apa kata Kai nanti kalau melihatnya seperti baru saja terkena terjangan badai?

Beberapa saat setelah masuk kamar mandi, ia terlihat lebih rapi dan lebih segar. Kyungsoo menguncir rambutnya rapi, dan bergegas turun bergabung bersama Kai dan Sehun di bawah. Dua orang lelaki itu sedang mengotak-atik mobil kesayangan milik Kai.

"Hei Jongin, kau tidak pernah membawa mobilmu ke tempat servis ya?" tanya Sehun, Kai mengangkat bahu. "Tidak sempat." Jawab Kai acuh. "Ck, pantas kotor sekali. Menjijikan, bagaimana mobilmu bisa melaju cepat jika keadaannya saja mengenaskan seperti ini." Kepala Sehun menyembul dari balik kap mobil Kai ia menatap Kai tajam, yang ditatap hanya nyengir. "Untung aku punya teman baik sepertimu." Seloroh Kai.

"Serius sekali." Kyungsoo mengagetkan adiknya, Sehun yang terkejut terantuk kap mobil Kai. "Aish noona, bisa tidak muncul tiba-tiba?" Sehun meringis, Kyungsoo panik. "Ups, mianhae Hun-ah! Tidak apa-apa? Apa kau terluka?" Kyungsoo mengelus kepala Sehun yang baru saja terantuk. "Tidak apa-apa kok." Sehun menenangkan noonanya yang panik sambil tersenyum.

"Sehun, selain menari dan menjadi tukang servis apalagi yang bisa kau lakukan?" tanya Kyungsoo. "Hmm, banyak. Aku pernah menjadi pelayan kedai kopi, pernah jadi DJ juga, bahkan sampai mencopet. Meski itu satu kali dan aku mengembalikan uangnya lagi." Sehun tersenyum, Kyungsoo tertawa. "Pencopet paling baik itu mungkin kau, masa dikembalikan lagi?"

"Ya, aku tidak tega noona. Dan sekembalinya ke panti asuhan aku disiksa habis-habisan.." Sehun menerawang jauh ke masa itu, Kyungsoo menepuk pundak Sehun lembut. "Seandainya kita tahu di mana orangtua kandungmu dikuburkan Hun-ah."

"Kau mau balapan di mana Kai?" tanya Sehun, "Mungkin di daerah yang biasa kugunakan dulu sewaktu SMP." Jawab Kai, "Bukankah tempatnya licin? Ini masih sering hujan." Kata Sehun sambil mengotak-atik mobil Kai lagi.

"Iya sih, tapi di situ adalah medan terbaik yang pernah aku gunakan." Kyungsoo menatap Kai, "Kai, ganti saja dengan medan lain. Jangan menambah kekhawatiranku.." ucapnya pelan. "Tidak apa-apa sayang, jangan memikirkan masalah ini. Biar aku saja yang memikirkannya dan hey.. kau kenapa? Wajahmu pucat."

"Tidak, entahlah badanku lemas karena AC kelas sedang tidak baik tadi. Dan ketika mencium bau obat rasa pusing dan mualku menjadi-jadi, akhirnya aku menghabiskan waktu di UKS sepanjang pelajaran terakhir." Kai menempelkan punggung tangannya di dahi Kyungsoo, "Badanmu hangat, lebih baik kau beristirahat saja sayang."

"Annio, eh Kai mau antarkan aku ke apotik tidak?" Kyungsoo memberi pandangan memohon, "Boleh saja sih, Sehun aku pinjam mobil ya?" mengingat mobilnya yang diperbaiki Sehun Kai memutuskan memakai mobil Audy putih Sehun saja. "Kuncinya ada di atas laci noona, dan kalian tidak berencana kencan kan? Aku kutuk kau jadi gorila kalau kau meninggalkan aku dengan mobil-tak-layak-pakai milikmu ini untuk berkencan Jongin!"

"Haha, santai saja Sehun-ah. Masa aku tega meninggalkan calon adik iparku sendiri?" Sehun mendecih, "Tutup mulut, siapa juga yang mau jadi adik ipar orang sepertimu? Aku tampan masa calon kakak iparku sepertimu sih?" canda Sehun. "Ya, kau ini! Awas kalau aku menikah dengan kakakmu nanti ya?" Kyungsoo tertawa menatap pertengkaran lelaki-lelaki yang lebih muda darinya itu. "Sudah Jongin, ayo!"

.

..

Kyungsoo menatap tas plastik yang ia genggam, jantungnya berdebar cukup keras ia berdoa saja semoga Kai yang sedari tadi menunggu di mobil tidak akan mendengarnya. Ia membuka pintu mobil itu dan duduk di sebelah Kai. "Kau beli obat apa?" tanya Kai. "E-eh itu, obat maag dan vitamin daya tahan tubuh." Jawab Kyungsoo terbata, Kai mengangguk ringan.

Padahal, ada satu benda lagi yang belum ia sebutkan. "Jongin, kita libur semester berapa hari?" Kai mengangkat alis, bukannya libur semester mereka selalu sama? "Sebulan lah sayang, memang kenapa?" tanya Kai. "Tidak, dan sekarang hari ke berapa kita masuk?" tanya Kyungsoo lagi. "Entahlah, kalau tidak salah sih ke 11, memang kenapa?"

'Berarti, empat puluh tiga hari? Ditambah dengan jadwalku yang dua minggu sebelum liburan? Berarti lima puluh tujuh hari.. apa masih dibilang wajar?' batin Kyungsoo berkecamuk, "Sayang.. kau memikirkan apa?" Kyungsoo menggeleng, biarlah untuk saat ini ia 'melenyapkan' keberadaan Kai untuk sementara.

. . .

"Jiejie! Geumanhae! Yaaaa!" tidak memperdulikan adik kelas mereka yang berteriak seperti orang gila kedua orang gadis cantik itu terus saja melanjutkan kegiatannya, Sehun yang mendengar teriakan kakaknya itu lama-lama iba juga. Apa sih yang dilakukan teman kakaknya di atas sana? Batin Sehun.

"LAY JIEJIE!" teriak Kyungsoo lagi. "Dua orang itu benar-benar liar." Gumam Sehun, takut kalau keras ia akan jadi santapan terakhir bagi Lay dan Xiumin. Beberapa puluh menit setelahnya, Lay dan Xiumin turun dari tangga rumah mereka. Sehun menatap keduanya bingung, "Mana noona?" tanya Sehun, apa mungkin anggota badan noonanya itu sudah tidak lengkap lagi? Mendengar teriakannya sih 'mutilasi' adalah salah satu dari hal yang mungkin dilakukan Lay dan Xiumin tadi. Tapi selama ini meski galak, belum ada tanda-tanda kalau dua teman kakaknya itu termasuk dalam salah satu dari spesies predator langka di dunia.

"Jangan memandang kami seperti itu, tunggu saja. Nanti kalau si Kkamjong hitam itu datang baru deh suruh noonamu turun." Kata Xiumin, 'Sudah Kkamjong, pakai hitam pula. Apa si Kai terlihat seperti arang pembakaran?' batin Sehun geli. "Keundae, noonaku baik-baik saja kan? Aku.. khawatir, ya tadi ia berteriak-teriak begitu." Sehun bertanya dengan wajah datarnya. "Tentu saja, belum saatnya kami menjadikan ia sebagai hidangan utama." Jawab Lay lalu tertawa cekikikan, Sehun sweatdropped. 'Danger! Danger!' otaknya menyerukan tanda bahaya.

"Kalau begitu kami pulang dulu, nanti kami malah yang terlambat ke prom night ini. Bye Sehun! Jangan lupa jemput si cantik Luhan itu ya." Sehun membungkukkan badan, beberapa saat kemudian dua orang itu keluar dari rumahnya. Sehun memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan berganti baju, "Luhan baby i'm coming! Mumumu~" Sehun mengecup lembut foto Luhan yang ia pasang dengan rapi di pigora, sedikit memalukan memang..

.

..

"Noonamu mana?" Sehun melirik Kai yang tiba-tiba sudah datang di hadapannya, sepertinya lelaki itu benar-benar memiliki kemampuan teleportasi. Datang tak diundang, pulang tak diantar sebelas dua belas dengan cerita mitos asal Indonesia. Apa jadinya nanti kalau Kai benar-benar menikahi kakaknya?

Ia memandang Kai dari atas hingga bawah, lelaki itu mengenakan kemeja biru laut yang dua kancing teratasnya sengaja dibuka (maklum, alergi pakaian *author ditabok) dan juga celana ketat yang membalut kaki jenjangnya. Benar-benar kelihatan tampan dan berwibawa, jauh dari kesan Kai yang biasanya. "Di atas, habis diserang singa betina tadi." Kai menautkan alis tidak mengerti.

"NOONAA! KKAMJONGMU DATANG!" jerit Sehun, Kai menutup telinganya. 'Suara Sehun bisa lebih dahsyat dari suara Chen hyung juga ya kalau berteriak?' batin Kai, ia masih ingin keluar dengan telinga yang normal.

Tiba-tiba terdengar suara stilletto beradu dengan anak tangga, Kai menoleh ke arah tangga hampir bersamaan dengan Sehun. Dua orang itu terbelalak, Sehun bahkan mengucek matanya. Mengecek apa mereka masih di alam nyata atau negeri dongeng? Mengecek itu masih orang yang dekat dengan mereka atau salah satu dari permaisuri kerajaan yang hilang?

"Err, aku aneh ya?" Kai menepuk pundak Sehun. "Hey!" protes Sehun karena Kai terlalu keras. "Aku tidak mimpi kan?" Sehun menjitak Kai. "Sakit kan? Tentu saja nyata bodoh!" Kai meringis, ingin rasanya ia memutar salah satu lagu SHINee lalu ikut menari bersama Sehun.

'NOONA NEOMU YEPPEOOOOOO.' Batin Kai berseriosa, bahkan bernyanyi opera. "Kalian, kenapa?" suara itu menyadarkan Kai, tidak ia tidak berada di negeri dongeng. Itu kekasihnya, Do Kyungsoo-nya! Hanya saja Kyungsoo memang sudah cantik dari dulu, tapi hari ini seperti kadar kecantikannya bertambah dan mencapai titik 100%. "Yeppeuda, jinnjha yeppeuda." Kata Kai, Kyungsoo tersenyum malu.

"Err, kukira aku aneh. Ini eksperimen Lay jie dan Xiumin jie, baguslah kalau kau bilang aku cantik." Kai mengulurkan tangan, Kyungsoo turun dan menggenggam tangan Kai. "Noona, ini kedua kalinya kau terlihat sangat cantik di mataku. Yang pertama saat kau datang dan mengangkatku jadi adikmu, saat itu tidak perduli bagaimana dandananmu kau adalah malaikat tercantik yang Tuhan kirim padaku, eh setelah Luhan sih hehe. Dan hari ini, entah apa yang temanmu lakukan kau terlihat seperti putri dari negeri dongeng. Neomu yeppeo! Yang begini baru benar-benar noona Oh Sehun yang tampan."

"Haha gumawo Sehunna, dan kau rapi sekali. Cepat segera jemput Luhan jie, nanti kalian telat lagi." Perintah Kyungsoo. "Baiklah, kita keluar bersama saja. Kai, aku titip noonaku, ingat jaga baik-baik! Atau kau mau kupukul lagi sih?" Kai tertawa. "Tenang saja, oh ya Sehun aku rasa kau berbakat jadi montir terkenal. Mobilku sudah melaju lebih baik sekarang."

"Hmm, bagus kalau begitu. Belum sepenuhnya selesai, dan hey apa maksudmu jadi montir terkenal?" geram Sehun, Kyungsoo segera memisahkan keributan konyol antara dua orang itu. Lalu ia menyuruh Sehun agar cepat-cepat berangkat, setelah itu ia dan Kai masuk ke dalam mobil Kai.

Kyungsoo menatap Kai yang ketahuan sedang memandanginya, lama-lama Kyungsoo tak tahan untuk tidak melihat pantulan dirinya di spion mobil Kai. "Kau tahu, rasanya aku harus berterima kasih pada Lay dan Xiumin sunbae. Dan harus ekstra keras untuk melindungimu dari pandangan orang lain di pesta nanti." Kata Kai sembari memasangkan sabuk pengaman Kyungsoo, wajah Kyungsoo memerah mendengar perkataan Kai. "Berhenti membuat aku merasakan ada marching band lagi Kai." Kai tertawa, mengapa kekasihnya itu suka sekali mengumpamakan berdebar-debar dengan 'Konser marching band?' Kai mengacak rambut Kyungsoo yang ditata sedikit menggelombang dan dibiarkan terurai rapi. Kai mengecup lembut dahi Kyungsoo, kalau boleh ia ingin berlama-lama dengan kekasihnya ini.

Malam ini seperti yang tadi dijelaskan lewat ekspresi Kai dan Sehun, Kyungsoo looks so adorable! Gaun hitam tanpa lengan dan hanya sebatas paha membuat kulit putih Kyungsoo terlihat indah, make up yang sederhana dan tatanan rambutnya sangat pas. Siapapun mungkin tidak akan menolak pesona gadis itu malam ini.

. . .

"Aku gugup." Sehun menepuk setir mobilnya kesal, ia kesal mengapa jalanan sangat macet dan ia harus lebih lama menuju rumah Luhan. Ia membaca pesan Luhan lagi.

From: Lulu Baby :*

Hunnie, aku menunggu di rumah. Mampirlah sebentar, papa baru saja datang dan ingin bertemu denganmu.

Bukannya Sehun pengecut, tapi.. ini pertama kalinya ia bertemu dengan calon mertua (amin). Dan masalahnya ia belum juga sampai rumah Luhan, calon menantu apa yang datangnya selama ini? Sehun menginjak pedal gasnya lagi, tak lama ia memasuki komplek perumahan Luhan. Dan memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan megah yang didominasi warna cokelat tua.

Ia segera turun, 'Duh, harus bilang seperti apa? Ya Tuhan ini pertama kali aku bertemu ayah Luhan, bagaimana kalau beliau tidak menyukaiku?' batin Sehun berkecamuk, rasanya ia lebih memilih keliling namsan tower sepuluh kali daripada bertemu ayah Luhan. Ia melangkahkan kakinya dengan pelan, teramat pelan hingga hampir seperti mengendap-endap.

Cklek!

Sehun hampir melonjak, ia kira ada hantu atau maling atau semacamnya. Namun yang ia lihat di depannya bukan hantu, tapi malaikat! Well mungkin ia sekarang sudah meninggal saking deg-degannya. "Sehun?" bukan malaikat, itu kekasihnya.

'Luhan? APA? CANTIKKK!' batin Sehun berteriak, ia bahkan bersumpah Luhan lebih cantik dari Kyungsoo tadi. "Sehun? Halo?" Luhan mendekati Sehun, Sehun menguasai dirinya. "Ehm, ya baby. A-apa ayahmu di dalam?" Luhan mengangguk riang, ia mengajak Sehun masuk rumahnya.

Tak lama Luhan memanggil ayahnya, ayahnya keluar dari kamar. Ayah Sehun terlihat tampan dan rapi sekali, beliau menurunkan kacamatanya. Sehun buru-buru membungkukkan badan "Annyeonghasseyo, cheoneun Oh Sehun imnida." Luhan tertawa kecil, tak lama keluarlah beberapa patah kata dari mulut mungilnya dalam bahasa China yang sama sekali tidak ia mengerti. Ayah Luhan membalas perkataan putrinya tersebut.

"Papa Cuma bilang 'Jadi, ini yang namanya Sehun? Ternyata anaknya tampan juga.' Begitu." Luhan menjelaskan, Sehun tersenyum lagi-lagi karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan Sehun membungkukkan badan. Ayah Luhan menepuk pundak anak gadisnya sembari menunjuk ke arah jam dinding dan berkata dalam bahasa Mandarin lagi. "Shi, wo shidao baba."

"Papa bilang, ini sudah malam sebaiknya kita segera pergi." Sehun tersenyum, lalu menjabat tangan ayah Luhan. Lelaki paruh baya itu meletakkan telapak tangannya di pundak Sehun, membuat Sehun menatap matanya. "T-Tolong jaga anakku baik-baik, aku.. percaya padamu." Meski terbata-bata dan tidak terlalu jelas, namun untungnya Sehun menangkap dengan baik bahasa Korea ayah Luhan.

"Ne ahjussi, agasshimnida," jawab Sehun. "Kajja Sehunnie!" dan mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam mobil Sehun.

TBC!

Yeah, sorry late update._. mianhae ;-; uas ini membunuhku, ya tuhan -_-v eh yaudah ya :) review please :') i really need ur support guys. kamsahamnida ^^