Chapter 3 : Back to the past

Yo! ketemu lagi dengan saya.. :)

What?! Updatenya lama?! Oh sorry ! Kemarin-kemarin saya agak sibuk#Sok# ...

Ya, disini saya masih belajar buat nanganin TYPO.
Tapi, yah ...
Semoga saja sudah benar-benar terbaiki ... ^w^

Dan buat para readers yang sudah memberitahu saya dalam mengetik kata, saya ucapkan banyak-banyak terimakasih ...

Itu sangat membantu ...

Baiklah! Langsung ke cerita saja ya! :")

Disclaimer : masashi kishimoto

Pair : Naruto x Rookie 12

.
Genre : Adventure and Fantasy

.
Warning : Typo,OOC(maybe),Time travel,AR(Alternative Reality),CANON,Salah satu jurus buatan sendiri.

Ket :

Naruto : Naruto masa depan (Umur 22 Tahun)

Naru atau 'Naruto' : Naruto masa lalu (Umur 12 tahun)

'Sakura' : Karakter lain masa lalu (Umur 12 tahun)

The story by : Visca Julianti or Uzumaki Julianti - san

Don't like?Don't READ!

Tap. Tap.

"Hei, tadi aku dengar ada suara ledakan dari kantor Hokage loh ... "

"Heh?! apakah Hokage-sama tak apa?"

Mata amethsytnya terlalu sendu untuk dieskpresikan. Terlalu khawatir dengan keadaan sang kekasih. Sayup-sayup ia mendengar jika kekasihnya tersebut terluka parah. Sayup-sayup jugalah ia mendengar jika sang kekasih telah menang. Ia bingung, sungguh bingung. Kepalanya ia tundukkan. Agar tak dapat dilihat orang dan cepat keluar dari kerumunan ini untuk segera menemui kekasihnya. Membawa kotak makan untuk sang kekasih juga. Sang gadis lavender tahu, sangat tagu jika sang kekasih akan melupakan makan siangnya tatkala kekasihnya itu disibukkan oleh tugasnya. Dan untuk itu, sudah menjadi rutinitasnya untuk membawa makan siang untuk sang kekasih.

"Uzumaki-sama, mengunjungi Hokage-sama lagikah ?" tanya pedagang disana. Membuat Hinata kaget setengah mati.

Uzumaki-sama?

Blush

"A, aku be, belum menikah dengan Naruto-kun ..." bela Hinata panik. Wajahnyapun tak luput dari semburat merah. Mendengar itu, sang pedagang hanya terkikik geli.

"Walaupun baru tunangan, cepat atau lambat Hinata-sama akan menikah dengan Hokage-sama ... " balas pedagang tersebut yang membuat Hinata memanas. Hinata hanya mengangguk kaku seraya tersenyum lembut. Iapun meninggalkan sang pedagang yang nantinya akan membuatnya semakin memanas dan akhirnya pingsan. Namun, belum sang gadis cantik itupun melangkah. Tak sengaja ia mendengar obrolan dari para penduduk yang membuatnya tersentak kaget.

"Hei! kudengar Hokage-sama terluka parah ..."

"Hee?! yang benar?!"

Set!

Tanpa menunggu waktu lagi, Hinata langsung melompat menuju atap dan melompat kembali dari atap ke atap. Panik, sungguh panik. Tak menghiraukan makanan yang berada digenggamannya. Pikirannyapun kosong. Hanya terfokus kepada pujaan hatinya sekarang.

Dan telah sampailah ia kepada tempat yang ia tuju. Tanpa menunggu waktu lagi, sang gadis cantik itupun langsung berlari bak maraton menuju kantor Hokage. Menyusuri beberapa koridor yang semula sepi dan senyap. Ia langkahkan kakinya cepat semaksimal mungkin. Membuka pintu kantor Hokage yang sudah berada didepannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

BRAK!

"Naruto-kuunnn!" teriak Hinata seraya memeluk sang kekasih yang masih syok dengan keadaan barusan.

Apakah tunangannya itu tertular juga seperti Sakura-chan yang membuka pintu#atau lebih tepatnya mendobrak# tak mengetuk pintu terlebih dahulu?

"Naruto-kun, aku takut ... hiks ... aku takut kehilanganmu Naruto-kun!" ujar Hinata disela isak tangisnya. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang Hokage. Mendengar itu, Naruto hanya tersenyum lembut seraya mengeratkan pelukannya dari sang gadis. Ternyata, karena itu ia mendobrak pintu yang sepertinya harus dibenarkan lagi. Iapun bernafas lega karena sang kekasihnya tak tertular sifat sahabatnya. Jika benar tertular, entah apa nasib Naruto setelah menikah dengan Hinata.

"Hime, memangnya ada apa denganku?" tanya Naruto super lembut. Membuat Hinata sedikit lebih tenang.

"Banyak yang bilang kau terluka Naruto-kun! karena itu aku khawatir!" ujar Hinata yang membuat Naruto terkekeh geli.

"Lalu, kau percaya begitu saja?" tanya Naruto yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Hinata. Naruto kembali terkikik geli. Sungguh, kekasihnya ini sangat lugu dan polos. Apa dia tak pernah memikirkan jika Naruto takkan mudah dikalahkan?

"Ehem!" ya, suara itu membuat sang kedua sejoli tersebut telah kembali ke alamnya.

"Maaf mengganggu Anda Hokage-sama. Tapi, bukankah Anda yang mengundang kami kesini?" intrupsi Shizune dengan ragu-ragu. Walaupun mengasyikkan melihat adegan telenovela gratisan, dia tetap pada tujuannya untuk datang ke kantor Hokage ini.

Gadis cantik itu tetap tak bergeming dari dekapan sang kekasih. Bukan karena apa-apa, tapi karena wajahnya lebih memerah sekarang. Dia sangat malu, sungguh!

Oh! kami-sama! kenapa dia begitu paniknya sampai tak sadar bahwa ada Shizune Nee-san, Kakashi-sensei, dan Gai-sensei?!

Mengetahui sang gadis yang tak kunjung bergeming. Narutopun dengan ragunya melepaskan dekapan dari sang kekasih. Ia menundukkan kepalanya seraya melihat iris amethyst yang terlihat bersemu merah sekarang. Naruto kembali dibuat terkekeh geli melihat tingkah laku tunangannya. Iapun mulai mengusap helaian rambut indigo milik sang gadis seraya mengatakan sesuatu.

"Hime-chan, tak keberatankah jika kau keluar sebentar? ada yang harus kusampaikan kepada mereka ..." tanya Naruto dengan hati-hati. Takut melukai perasaan sang kekasih. Hinata yang mendengar itu hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.

"Iya Naruto-kun ..." jawab Hinata seraya beranjak pergi dan meninggalkan bekal makan siang sang kekasih di meja kantor Hokage. Saat pintu tersebut telah tertutup sepenuhnya, wajah sang Hokage yang semula selalu tersenyum lembut mulai serius kembali. Didudukkannya dirinya seraya menopang dagu dengan tatapan lurus kedepan.

"Jadi, ada apa?" tanya Kakashi memulai pembicaraan. Mendengar itu, Naruto langsung menghela nafas lelah seraya mengucapkan sesuatu.

"Masalah besar ..." jawab sang Hokage singkat. Membuat ketiga tamu yang dihadapannya bingung. Sebesar apa masalah tersebut sampai membuat sang Hokage sekalipun bingung?

"Apa itu Naruto?" tanya Gai yang sudah penasaran. Melupakan bahwa sekarang Naruto adalah atasannya.

"Baiklah. Aku akan menjelaskannya. Tolong dengarkan baik-baik!" perintah sang Hokage dengan penuh wibawa. Dibalas dengan anggukan ketiganya.

"Aku diserang oleh lima orang yang sepertinya seorang missing-nin ..." ujar sang Hokage. Menunda perkataannya dan memulainya kembali.

"Mereka mempunyai kekuatan ninja istimewa. Salah satunya mereka-jika digabungkan-bisa mempunyai 4 perubahan jenis chakra sekaligus. Dan yang membuatku terkejut adalah ..."

" ... "

"Mereka dapat menyembunyikan chakra sampai batas titik nol sekalipun ..." ujar sang Hokage yang membuat ketiganya terkejut. Bagaimana bisa?! memang chakra dapat disembunyikan. Tapi, tak dapat mereka lakukan jika menyembunyikan chakra sampai batas chakra mereka habis.

"Lalu, kenapa?" tanya Shizune dengan keringat dingin yang membanjiri keningnya.

"Jika seperti itu, maka mereka tak akan mudah ditemukan ..." Ujar sang Hokage.

"Dan mereka, merencanakan dengan pergi ke masa lalu untuk membunuh ..." tutur sang Hokage. Menggantung perkataannya. Membuat ketiga tamu dihadapannya ini penasaran.

"Rookie 12 ..." ya, betapa kagetnya ketiga orang tersebut tatkala mendengar itu. Tetapi, masih membuat Shizune tak mengerti.

"Kenapa harus ke masa lalu?" tanya Shizune cemas.

"Itu karena para Rookie 12 di era ini terlalu kuat. Dan mereka bermaksud membunuhku dan para Rookie di masa lalu yang mungkin belum mempunyai kekuatan ... " jawab sang Hokage sendu.

"Dan dengan dibunuhnya aku di masa lalu, aku yang berada di era ini akan menghilang ..." imbuh sang Hokage dengan nada parau. Disertai ketiga tamunya yang mulai menampakkan emosinya juga.

"Cih! cara yang licik ..." geram Shizune emosi. Benar-benar! Shizune akui itu adalah cara yang jitu, tetapi tetap saja licik!

"Lantas, apa Anda punya solusi yang bagus Hokage-sama?" tanya Kakashi sesopan mungkin. Walaupun sudah Naruto bilang tak usah memakai kata-kata formal, tetapi tetap saja.

"Aku punya rencana, dan aku mendatangkan kalian kemari untuk dapat menolongku ..." usul Naruto disertai ketiga jounin itu yang mengangguk.

"Aku akan ke masa lalu untuk menyeret 5 orang benalu itu kemari. Dan kau, Kakashi-sensei. Aku ingin kau menggantikanku sementara untuk menjadi Hokage. Dan Shizune-san, aku ingin kau mengantarku kepada Shiho. Kau Gai-sensei, aku ingin kau rahasiakan kepergianku kepada semua orang. Terutama para Rookie ... " perintah sang Hokage dengan tegas.

"Tapi Hokage-sama! apa kau yakin untuk ke masa lalu sendi-"

"Aku yakin itu ..." jawab sang Hokage. Memotong selaan dari Shizune.

"Tapi-"

"Diamlah Shizune-san! apa kau tidak pernah memikirkan jika aku melakukan semua ini demi kalian semua?!" ujar Naruto sedikit membentak. Mendengar itu, Shizunepun tak bisa berkata apa-apa lagi. Memang benar, Naruto yang sekarang adalah seorang pemimpin. Jelas dia harus bertanggung jawab demi rakyatnya. Jadi, Shizune tak berhak menyela ernyataan dari sang Hokage.

"Antarkan aku kepada Shiho, Shizune-san ..." sahut Naruto seraya beranjak berdiri dari kursinya. Diikuti oleh kedua senseinya, Kakashi dan Gai.

Shizunepun hanya mengangguk pelan seraya keluar dari kantor Hokage.

'Naruto ... Kau benar - benar berubah ...'

.

.
Ckrek!

"Ah! Shizune-san!" sapa Shiho girang. Sementara Shizune hanya tersenyum simpul seraya mengatakan sesuatu.

"Shiho, aku membawa tamu kehormatan kesini ..." ujar Shizune. Awalnya, Shiho bingung sampai sosok yang dibicarakan Shizune telah masuk kedalam ruangannya.

"Ah! Hokage-sama ..." ujar Shiho seraya membungkukkan tubuhnya hormat. Benar-benar tak bisa diduga. Sudah beberapa tahun lebih Shiho tak pernah melihat sosok pemuda tersebut. Dikarenakan dia sibuk di ruangannya dan sang hokagepun sama sekali tak pernah kemari. Paling-paling, jika ada hal yang penting, sang Hokage menyuruh bawahannya untuk datang kemari. Terakhir kalinya ia melihat Naruto saat dia berpidato untuk pelantikannya menjadi Hokage. Dan sekarang? sumpah! pantas saja penduduk banyak yang berbicara tentang dirinya. Fisik maupun sifatnya itu berubah drastis hampir 180°. Rambut blondenya yang dulu pendek kini telah memanjang menyerupai ayahnya. Tubuhnya yang ehm-seksi-ehm. Dan goresan yang menyerupai kucing itu mulai memudar dan hampir tak terlihat diwajah tannya. Benar-benar ...

Tampan ...

"Kau tak perlu melihatku dengan tatapan seperti itu Shiho ..." ujar sang Hokage yang membuat Shiho tersentak kaget.

"Ma, maaf Hokage-sama ..." maaf Shiho pada Naruto. Naruto hanya tersenyum simpul seraya melangkahkan kakinya.

"Ah! maaf, apa ada yang Anda butuhkan Hokage-sama?" tanya Shiho kepada Naruto. Sedangkan yang ditanya hanya diam tak bergeming. Mata saphirenya menatap intens kearah rak buku yang berjumlah kurang lebih 10 ribu buku tersebut. Beberapa menitpun sang Hokage tak bergeming sedikitpun hingga tangan kekarnya mulai bergerak meraih sebuah gulungan yang berada di rak buku paling bawah. Seketika parasnya mulai terhiasi seringaian dan mulai berbalik kearah Shiho. Kakinyapun mulai melangkah kearah Shiho dan disodorkannyalah gulungan tersebut yang sukses membuat Shiho kaget.

"I, ini ... "

"Aku butuh 5 orang untuk membuka segel yang kupelajari beberapa tahun lalu. Dan dari segel yang kudapatkan dari para ANBU, mereka menggunakan segel ini ..." ujar Naruto panjang lebar. Shiho yang membaca tulisan kanji tersebut hanya menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti.

"Juu?" tanya Shiho yang dibalas dengan anggukan dari sang Hokage.

"Jika diartikan dalam segel, maka mereka kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Berarti saat aku berumur 12 tahun ... " tutur Naruto gelisah. Jika benar mereka ke masa lalu saat usianya masih 12 tahun, berarti saat itu dia masih genin.

Atau belum ...

"Ini memang keadaan darurat ..." ujar Shiho gelisah, dia sudah membaca laporan yang dibawa oleh sang ANBU. Dan dia tahu ini bukan masalah yang bisa disepelekan.

"Karena itu, bantu aku untuk membuka segel ..." sahut sang Hokage seraya merapal segel dan menapakkan tangannya ke lantai. Melihat sang Hokage yang sudag menyiapkan segel, Shizune, Kakashi, Gai dan Shihopun bergerak membentuk persegi. Dan juga merapal segel yang sama dengan sang Hokage.

"Ichifuin"

"Nifuin"

"Sanfuin"

"Yonfuin"

"Gofuin"

"Rokufuin"

"Shichifuin"

"Hachifuin"

"Kyuufuin"

"Juufuin ..." ujar sang Hokage mengakhiri. Seberkas cahaya dapat terlihat membungkus tubuh sang Hokage. Lama-kelamaan membuncah dan hampir menelan tubuh sang Hokage sepenuhnya.

"Kalian ingat! rahasiakan ini dari siapapun ..." sahut sang Hokage seraya menghilang dari tempat tersebut. Sementara kedua lelaki dan kedua gadia tersebut hanya diam seraya tersenyum.

'Semoga kau berhasil,membawa mereka tanpa luka sedikitpun. Hokage-sama ...'

TBC

Yeyeyey! XD

Chapter 3 selesai juga! :)

Dan maaf, sepertinya chapter ini saya tak bisa membalas review dari para readers.

Tapi, tetap review para readers membuat saya semangat untuk melanjutkan cerita.

So, Mind To Review?

Jaa! ;)