Disclaimer: Inazuma Eleven yang asli punya Level-5. (dan nggak main basket ^^v)

Warning: AU, OOC, shounen-ai, gaje, bad diction, EYD tidak sesuai, alur ngebut, terlalu banyak monolog, typo, dsb.

Pair: HirotoxMidorikawa


Kantoku Daisuki

- The Day We Met -

.

.

.

Hari ini sebenarnya aku malas masuk, karena ada pelajaran olahraga. Oke, mungkin ini aneh, tapi sebenarnya yang tidak kusukai adalah materi olahraganya.

Namun sayangnya aku tidak bisa tidak masuk karena Hitomiko-nee selalu setia membangunkanku setiap pagi.

Yah, seperti pagi ini, ia membangunkanku, mulai dari cara halus.

"Ryuuji~ bangun …."

Semi halus.

"Ryuuji …. bangun .…"

Sampai akhirnya seperti ini.

"MIDORIKAWA RYUUJI! BANGUN!"

Suara Hitomiko-nee yang melengking itu menggema di gendang telingaku dan langsung membuatku terlonjak bangun.

"Ngghh …. Neechan …. Tidak perlu membangunkanku sedahsyat itu kan …." ujarku dengan suara serak, sambil mengucek mata karena masih mengantuk.

"Aku tidak akan berteriak kalau kau tidak sulit dibangunkan, Ryuuji! Nah sekarang ayo mandi!" Hitomiko-nee menepuk-nepuk punggungku untuk mengusir kantuk dan menggiringku ke kamar mandi.


Setelah siap segalanya, aku pergi ke sekolah dan memulai hariku di sana. Semuanya terasa baik-baik saja sampai pelajaran olahraga dimulai.

Ugh baiklah kalau kalian menganggapku aneh karena aku tidak menyukai materi olahraga yang sedang dipelajari saat ini, sementara mungkin kalian menganggapku jago olahraga karena aku merupakan mantan anggota Aliea Academy, begitu kan?

Begini, Aliea Academy itu mempelajari sepak bola, hanya sepak bola. Jadi olahraga yang kukuasai juga hanya sepak bola. Oke oke aku bisa olahraga lain, misalnya lari, salto, koprol, backroll, push-up, sit-up, pull-up, skipping, dan sebagainya. Namun ada satu yang benar-benar aku tidak bisa,

Basket.

Entah kenapa walaupun sama-sama menggunakan sebuah bola seperti sepak bola, aku tidak bisa bermain basket.

Yah, itulah sebabnya aku malas ikut olahraga hari ini.

.

.

"Ryuuji!" Kazemaru melempar bolanya padaku.

Begitu menerimanya aku langsung melempar bola sewarna labu itu ke ring.

"Yeah masuk!" seruku riang.

Kazemaru dan teman satu timku menatapku dengan sweatdrop.

"Ryuuji, kau melempar kemana?" tanya Endou, masih dengan sweatdrop yang menghiasinya.

"Eh, tentu saja ke ring." jawabku polos.

Endou semakin sweatdrop, "Iya, tapi …."

"…. Itu kan ring kita sendiri."

.

Tik.

.

Tik.

.

Tik.

.

"HEE?!"

Entahlah, aku mungkin benar-benar tidak bisa main basket.

.

.

"Baiklah, minggu depan akan diadakan turnamen basket antar kelas." ucap Kudou-sensei, guru olahraga.

Mendengarnya, anak-anak kelasku langsung riuh rendah, kemudian Kudou-sensei melanjutkan pembicaraan.

"Setiap kelas dibagi dua tim, dan saya sudah mengundi nama-namanya." jelas beliau.

Setelah kejadian aku melakukan gol bunuh diri tadi, aku santai-santai saja karena merasa namaku takkan masuk dalam undian itu. Namun di luar dugaan Kudou-sensei memanggil namaku

"Midorikawa Ryuuji, kau masuk dan menjadi kapten Tim A." ujar beliau.

Dan mengklaim diriku sebagai kapten.

"Wha-what the ….?!"

"Ada masalah, Midorikawa?" tanya Kudou-sensei.

"E-etto …. Sa-saya kan .…" aku kebingungan sendiri harus menjawab apa. Sensei ini sebenarnya masih waras tidak sih?

"Kamu pasti bisa. Saya rasa kamu punya skill dalam olahraga ini, dan kamu cukup bertanggung jawab sebagai kapten." ucap Kudou-sensei kemudian.

Anda …. Bercanda, kan, Sensei?

"Wah, ternyata Sensei juga melihat skill-mu ya, Ryuuji!" ucap Kazemaru, tersenyum.

"Eh? Ka-kau meledekku ya?" sanggahku.

"Tidak, bukan begitu. Sebenarnya kau itu jago, Ryuuji, hanya saja …. Agak ceroboh." kata anak berponytail di hadapanku ini.

"Ya, kau pasti bisa, Ryuuji!" sambung Endou.

Really? Hontou ni? Sungguh?

"Huh baiklah, lihat nanti saja." kataku tak bersemangat.


Sepulang sekolah aku berjalan menyusuri aspal yang membentang, sambil pikiranku melanglang buana.

Hari ini benar-benar sesuatu! Kenapa aku bisa masuk ke dalam Tim A, menjadi kaptennya pula? Padahal membedakan ring sendiri dengan ring lawan saja aku tidak bisa, tapi kenapa Ryuuga-sensei malah berkata aku punya skill? Apa beliau sedang memberi semacam tes untukku karena tahu kalau aku tidak bisa bermain dengan benar?

Langkahku terhenti saat aku melewati sebuah lapangan basket yang kelihatan tidak terurus. Semak-semak tampak melingkari lapangan berbentuk kotak itu seperti pagar. Dua buah ring basket yang mulai berkarat menjulang di kedua sisi lapangan tersebut.

Sepertinya ini akan jadi tempat yang bagus untuk latihan.

Aku bergegas pulang, kemudian mengganti seragamku dengan jersey lalu kembali lagi ke lapangan itu sambil membawa sebuah benda bulat sewarna labu.

"Baiklah, kita selesaikan ini!" seruku pada diri sendiri dan mulai mendribble bola.


"Aaahh!" teriakku kesal sambil melempar bola ke arah ring.

Ini sudah hari ketiga aku latihan, namun aku tak merasakan hasilnya. Permainanku sama saja seperti hari-hari sebelumnya malah semakin buruk.

Kurasa pikiranku benar, Kudou-sensei hanya ingin mengetesku saja. Beliau tidak serius akan menjadikanku kapten, lihat saja diriku sekarang ini.

Aku pun jatuh terduduk dan terisak-isak agak lama sampai aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku.

"Jadi segitu saja usahamu, lalu kau menyerah?" tanya seseorang.

Aku mendongak, kulihat seorang anak laki-laki berambut merah terang berdiri di hadapanku.

Ia lalu mengulurkan tangannya, bukan untuk mengajak berkenalan tapi membantuku berdiri.

"Sepertinya kau butuh bantuan untuk memperdalam skill-mu." katanya sembari mengambil bolaku lalu men-shootnya ke ring dan masuk.

Aku menatap ke arah ring dengan terpana, lalu ganti menatapnya, "Siapa kau ini?" tanyaku bingung seraya menyeka air mata yang membekas di pipiku.

"Kiyama Hiroto, tapi kalau kau mau panggil saja aku Hiroto, Ryuuji." ucapnya diiringi senyuman.

Aku terperanjat, "Da-darimana kau tahu namaku, Kiyama-san?" tanyaku heran dan makin bingung.

"Panggil Hiroto saja. Ya pasti aku tahu, apa sih yang tidak ku tahu?" katanya sedikit ngetroll.

Aku hanya memutar bola mataku, "Baiklah, kau mau membantuku?"

Dia mengangguk, "Dengan senang hati, oke langsung saja kita mulai."

Hiroto mengajariku dari awal sekali, ia mulai dengan teknik dasar seperti dribble, shoot, chest-pass, lay-up shoot dan lainnya. Setelah aku paham, ia mengajari cara merebut bola yang tidak melanggar aturan, dan cara melakukan three-point-shoot yang tepat di saat terdesak.

.

.

"Kau hebat sekali, Hiroto, apa kau seorang pemain basket?" tanyaku saat kami berdua sedang duduk melepas lelah.

Hiroto terlihat mengulum senyum sembari mencabuti rumput yang mencuat dari semen lapangan yang retak, "Dulu …. Iya." jawabnya,

"Sekarang?"

Hiroto menggeleng, "Tidak lagi."

"Kenapa begitu?" tanyaku penasaran.

"Yah, karena memang harus begitu." jawab orang beriris zamrud itu, seraya tertawa.

"Ugh kau ini, aku serius .…" ucapku merajuk sambil menggembungkan pipi.

"Hahaha .… nanti juga kau akan tahu, Ryuuji. Hmm sepertinya sudah sore, kau masih mau di sini?" katanya.

Aku mendongak menatap langit senja di atas sana, "Ya tidak juga, kurasa aku harus pulang sebelum Hitomiko-nee mencariku."

"Hitomiko-nee? Hmm …." Hiroto bergumam sendiri.

"Ada apa?" tanyaku.

Hiroto menggeleng lalu beranjak dari duduknya, "Oke kalau begitu aku juga pulang, jaa .…" ia melambaikan tangannya sekilas lalu berlari pergi.

Aku mengangkat sebelah alisku melihat tingkah orang yang barusan menjadi pelatihku itu, kemudian aku tersenyum, kuambil bola basketku yang tergeletak lalu aku berlari pulang ke rumah.

- To Be Continued -


note: hahaha~ I'm back, minna~ *dilempar sendal*

akhirnya setelah stagnan di satu pair, saya mencoba menjamah pair lain dan hasilnya ... *nunjuk-nunjuk ke atas*

entahlah saya penasaran aja sama pair satu ini, walau jarang keliatan hints-nya (atau mungkin saya yang kurang peka) tapi saya rasa dua sejoli ini cocok ^w^

anw, readers-sama, review please? ;;)